
Matahari sudah
tepat berada di atas kepala. Ritual TAPA BRATA YOGA SAMADHI, memang akan
dilakukan malam nanti sehabis Imsyak, namun, aku dan yang lain sudah mengemasi
barang – barang. Sementara itu, Joan tampak duduk bersila di lantai kamar,
keningnya berkerut, wajahnya menegang sementara matanya terpejam rapat. Akulah
satu – satunya orang yang memahami apa yang ada di dalam benaknya. Aku pernah
menyaksikannya saat ia berada di dalam sebuah pertandingan Taekwondo saat
menghadapi musuh yang lebih kuat darinya. Dalam keadaan seperti itu, siapapun
tidak berani mengganggunya, demikian pula aku. Semenjak pulang dari rumah Pak
Sujar, ia langsung mengemasi barang – barangnya tanpa banyak bicara. Sementara
Bag Knife atau tas pisau pesanan khususnya sudah terpasang di badannya.
Jantungku
berdetak kencang sekali saat ia membuka matanya perlahan, sepasang mata itu
bagaikan memercikkan bara api, wajahnya mendadak merah padam.
“AKU BERSUMPAH
!! SEKALIPUN HARUS BERTARUH NYAWA, AKU AKAN SELALU MELINDUNGI TEMAN – TEMANKU
!!! MEREKA BUKAN MANUSIA !!! TAPI IBLIS !!” serunya sambil menghujamkan kepalan
kanannya ke lantai.
Joan yang sekarang
kulihat, bukanlah Joan yang ramah tamah dan rendah hati, bara api dendam sudah
merambati sekujur tubuhnya. Aku paham sekali, terlebih mengingat perlakuan
warga pada Bianca.
“Kemana Hudi
dan yang lain ?” tanyanya padaku kemudian.
“Mereka sedang
mengemasi barang,” kataku.
“Bagus. Setelah
itu kita akan mencari cara agar bisa enyah dari desa terkutuk ini,”
“Sudah kuatur.
Mereka akan mencari kendaraan milik penduduk yang akan digunakan nanti,”
“Baguslah kalau
begitu. TAPA BRATA YOGA SAMADHI akan dilangsungkan setelah imsyak, sebaiknya,
kita tidak usah menunda setelah semuanya selesai, kita akan menuju Sendang,”
ujar Joan.
“Jo, apa tidak
sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin ?” usulku.
“Kau,
tenanglah, Cel ... aku tahu apa yang harus kulakukan. Sama sekali tak kusangka,
kita terdampar di desa terkutuk ini sehingga harus mengalami kejadian yang tak
mengenakkan. Maukah kau memaafkanku, Cel ?”
“Kau bicara
apa, Jo... tak perlu ada yang dicemaskan selama kita bersatu dan bersama – sama,”
kataku.
Joan menghela
nafas, selama ini aku mengenalnya sebagai seorang wanita yang tegar, tangguh
dan tabah dalam menghadapi apapun. Akan tetapi, hari ini ia kelihatan berbeda
sekali. Wajahnya tampah syahdu / memelas seolah ia akan menghadapi sesuatu yang
membuatnya putus asa. Mungkin baru pertama kalinya ini, ia merasakan itu. Aku
sendiri merasa aneh, entahlah, apa itu yang jelas sesuatu yang menyedihkan.
“Jika terjadi
apa – apa dengan aku, kalian segeralah pergi dari desa ini cepat – cepat,”
katanya sementara sepasang matanya yang tadi tajam tampak berkaca – kaca.
“Jo, tak ada
yang perlu dicemaskan... aku dan yang lain berusaha sebisa mungkin menghadapi
apa yang bakal terjadi nanti. Kalau kau mati, maka kami pun akan menemanimu,”
kataku tak kalah putus asanya. Aku memeluk Joan, dia pun memelukku dengan erat,
kami tenggelam dalam pikiran masing – masing.
“Kita harus
berusaha keluar dari sini dengan selamat !” seruan itu mengejutkan kami, Hudi
dan yang lain muncul di ambang pintu kamar.
“Jo, kami pun berniat
melakukan hal yang sama... tapi, kita tidak boleh menyerah sampai disini, kita
kuat bila bersatu,” sambung Yulia.
“Hei daripada
kalian bersedih, cepat masukkan barang – barang kalian ke bagasi,” mendadak
Akhmad muncul sambil tersenyum simpul.
“Apakah kau
sudah menemukan kendaraan untuk kita ?” tanyaku.
Akhmad menarik
tanganku dan menyeretku menuju halaman depan, disana sebuah mobil Jeep
diparkir, ditutupi oleh semak belukar.
“Bagaimana
menurut kalian ?” tanya Akhmad.
“Darimana kau
mendapatkan mobil itu ?” tanyaku.
“Itu sebenarnya
milik wanita yang bernama Bu Midar itu. Karena pemiliknya sudah meninggal dan
mangkrak di gudang, maka, kuambil saja. Memang, tadi sempat kesulitan
menyalakannya, tapi, setelah kubenahi sedikit, selesai. Siap mengantar kita
meninggalkan desa jahanam ini,” jelas Akhmad, “Di dalam juga ada sepeda motor,
kuambil saja sekalian. Toh, tidak ada yang menanyakan ataupun menggunakannya,”
Yah, Bu Midar.
Aku memanggilnya dengan sebutan Bi Midar. Beliau adalah salah satu warga yang
telah menjaga dan merawatku saat pertama kali kami terdampar di desa ini,
hingga sembuh. Aku tak bisa melupakan kebaikan hatinya dan sangat
menghormatinya. Dia kuanggap sebagai ibuku sendiri, tapi, siapa sangka selama
aku dalam perawatannya, beliau memberikan daging manusia kepadaku. Celakanya,
daging yang kumakan adalah daging teman – temanku yang dikorbankan untuk ritual
konyol itu. Mengingat itu, aku merasakan perutku diaduk – aduk, mual dan hendak
muntah. Tetapi, kekecewaan telah menahan perasaan tidak enak pada perutku. Yang
bisa kulakukan saat itu adalah menangis dalam hati. Tapi, tangis takkan mungkin
mengembalikan mereka yang sudah meninggal. Hingga akhirnya, Joan dan yang lain
keluar dan melihat itu semua dengan perasaan bercampur aduk tak keruan. “Aku
dan Cella akan menuju ke Sendang sekarang. Aku ingin tahu apa yang mereka
lakukan pada Bianca. Perasaanku tidak enak sekali,”
“Jarak Sendang
dengan tempat ini, lumayan jauh. Sebaiknya, kalian kuantar,” ujar Hudi, “Lebih
cepat, lebih baik ...”
***
Sore itu, alam seakan
tidak bersahabat.
Mendung
bergulung – gulung di langit desa Nakampe Gading, cahaya kilat seakan mencabik
– cabik awan – awan hitam tersebut sambil sesekali terdengar suara guntur
menggelegar. Angin berhembus dengan kencang, seakan hendak memporak porandakan
jalanan yang kami lewati menuju Kali Kidul. Sore itu, Kali Kidul dan sekitarnya
tidak lagi seindah saat aku dan Joan pertama kali menginjakkan kaki di tempat
itu.
Saat kami tiba
di tempat Mbah Buluk, dari jauh tampak barisan cahaya – cahaya api berjalan
berarak dan menghilang tepat di dalam bangunan yang disebut Sendang itu.
“Ritual TAPA
BRATA YOGA SAMADHI, sebentar lagi akan dimulai,”
Suara berat itu
mengejutkan kami, mendadak saja Mbah Buluk sudah berdiri di belakang kami.
“Edan !” seru
Joan, “Apakah Mbah Buluk selalu muncul tiba – tiba seperti ini ?” tanyanya
dengan nada kesal.
Mbah Buluk
seakan tidak mendengar perkataan Joan itu, ia berjalan menghampiriku dan
menatapku tajam walau sepertinya tatapannya itu seakan tidak tertuju pada satu
titik. “Nduk, kalian pergilah ke dalam Sendang itu. Apapun yang terjadi, Mbah
Buluk harap kalian bisa mengendalikan diri. Jangan bertindak nekad, tunggu
sampai Mbah Buluk dan Mbah Joglo tiba disana. Berhati – hatilah,”
“Baik, Mbah...”
kataku.
“Satu hal
lagi,” kata Mbah Buluk, “Mbah Abang masih menjagamu. Jika kau bisa bertemu
dengannya, bantulah kami untuk menghadapi Mbah Jauhari itu. Sekalipun
kepandaian kami setara dengannya, tapi, bila kita bersatu, dia akan lebih mudah
ditundukkan,”
“Bagaimana
caranya, Mbah ? Saya tidak memiliki kemampuan untuk bertemu dengan sosok –
sosok gaib itu,”
“Kemarilah,
Mbah Buluk akan memberitahukan caranya,”
Aku menurut dan
kakek berbaju hitam itu membisikkan sesuatu ke telingaku.
“shang hyang cipto gumono, rawuhaken
sejatining Mbah Abang kang aperojo hing songgobuono rawuh, rawuh, rawuh mijil
ono ing pangarsaningsun”
( Mantra ini
tidak serta merta bisa digunakan oleh orang yang belum melalui proses lelaku,
puasa atau memang menjalani sebuah ilmu kebatinan. Singkatnya, tidak sembarang
orang bisa melakukannya tanpa seijin langit / TUHAN ).
“Kau bisa
melakukannya nanti, nduk,” Mbah Buluk kemudian menepuk bahuku tiga kali,
setelah itu membalikkan badannya dan setelah sampai di ujung ruangan, ia
berbelok dan tubuhnya menghilang. Joan dan yang lain terpaku, sebagian dari
mereka menanyakan apa yang telah dibicarakan Mbah Buluk padaku, aku memilih
untuk diam.
Joan menoleh ke
__ADS_1
arah Hudi dan teman – teman lain.
“Kalian tunggu
disini, biar aku dan Joan yang masuk ke Sendang. Aku tak ingin terjadi apa –
apa pada kalian,” tegasnya.
“Andai kami
bisa membantumu,” ujar Bella lemah, hal itu ditanggapi Joan hanya dengan
senyuman.
“Kalian berhati
– hatilah,” ujar Yulia, “Cepatlah kembali dan pergi dari sini,”
“Kalian juga,
berhati – hatilah,” kata Joan sambil memeluk mereka. Kami segera meninggalkan
tempat itu dan melangkah menuju Sendang.
***
“WARNING !!!
UNTUK 21 + KE ATAS
PADA BAGIAN INI TERDAPAT UNSUR YANG MUNGKIN BISA MEMPENGARUHI SISI PSIKOLOGIS,
SEPERTI : KEKERASAN FISIK, KEKERASAN SEKSUAL, MUTILASI DAN LAIN SEBAGAINYA.
HARAP PARA PEMBACA YANG BUDIMAN MENYIKAPINYA SECARA BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA
KASIH ATAS KERJA SAMA DAN PENGERTIANNYA,”
SEPTEMBER, 2012
Saat memasuki
Sendang, ruangan yang berbentuk lorong memanjang itu tampak gelap gulita.
Dengan berbekal lampu senter di tangan, kami menyusuri lorong itu sambil
meningkatkan kewaspadaan kami.
“Hai, takkan
kubiarkan kalian pergi sendiri, ijinkanlah aku menemani kalian,”
Seruan itu
mengagetkan kami, Hudi sudah berada di belakang kami, wajah Joan merah padam.
Entah kami harus senang atau sedih dengan munculnya Hudi itu.
“Bagaimana
dengan Bella dan Yulia ?” tanya Joan.
“Akhmad bisa
diandalkan, kok. Sudahlah, lagipula aku penasaran dengan apa yang disebut
sebagai patung angkara murka oleh Mbah Buluk,”
“Kalau sampai
terjadi apa – apa pada mereka kaulah yang harus bertanggung jawab,” ancam Joan,
Hudi hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sekian lama
kami berjalan menyusuri lorong itu, sayup – sayup terdengar jeritan dari arah
depan. Jeritan ketakutan di sela – sela tangis dan lantunan kidung. Dari arah
depan tercium aroma wangi yang aneh. Aroma yang selalu kucium saat memasuki
wilayah - wilayah yang disakralkan oleh warga Nakampe Gading. Tapi, aroma
tersebut lebih menyengat dan 20 meter di ujung sana, kami bisa melihat ruangan
itu terang. Teriakan itu semakin lama semakin jelas saat kami mulai mendekati
ruangan tersebut.
Pemandangan
tidak manusiawi segera terpampang di hadapan kami, darah kami bergolak bagaikan
kawah gunung berapi. Tubuh Bianca dibaringkan pada lantai yang basah oleh
genangan darah. Tangan dan kakinya terikat kuat pada empat pasak tiang besi dan
tubuhnya tidak tertutup sehelai kain pun. Telanjang bulat. Sementara itu, para
penduduk, khususnya laki – laki berdiri telanjang sambil menatap Bianca yang
meronta – ronta.
‘TINGGG....”
Dua batang besi
pipih itu dibenturkan satu sama lain, pria yang berdiri paling depan membungkuk
di hadapan Bianca, setelah mengatupkan kedua belah tapak tangannya di dada, ia
melakukan hubungan intim dengan Bianca. Wanita itu meronta, menjerit dan
menangis memohon untuk dikasihani, tapi, tak seorang pun mempedulikannya.
Lima menit
sudah, Bianca harus berjuang menahan sakit pada alat vitalnya. Namun, ternyata
derita itu tidak juga berakhir, saat Mbah Jauhari membenturkan dua batang besi
pipih di tangannya, pria kedua melakukan hal yang sama. Demikian pula pria
ketiga, keempat dan seterusnya hingga sepuluh pria.
Saat pria
kesebelas hendak melakukan ritual yang sama, terdengar seruan keras dari
kerumunan penduduk yang duduk menghadap PATUNG ANGKARA MURKA.
“Hentikan !!”
Joan muncul dan
hendak melangkah menghampiri Mbah Jauhari, tapi, Pak Udin, Pak Rusli dan Pak
Sujar menghadangnya.
“Jangan bodoh,
Mbak Joan... ini memang harus dilakukan untuk ....” ucapan Pak Udin ditutup
dengan kepalan tinju kiri Joan. Laki – laki itu terkejut, hidungnya patah dan
berlumuran darah.
“Kalian kira
kami bodoh, ha ? Ritual macam apa ini menodai wanita secara bergiliran, dasar
warga bejat tak bermoral !!” bentak Joan sambil kembali mendaratkan tinjunya ke
“Kalian !”
sahut Pak Sujar pada yang lain, “Jangan diam saja, tangkap perempuan tak tahu
adat ini !!”
Beberapa laki –
laki bertubuh gempal segera menghadang dan menyerang Joan. Joan kali ini tidak
main – main, tangan dan kakinya bergerak kesana – kemari menghempaskan para
penyerangnya sambil melangkah maju berniat menuju ke arah Bianca yang masih
lemas tak berdaya itu. Tapi, tertahan oleh warga.
Melihat situasi
yang tidak memungkinkan itu, Joan melompat mundur. Di hadapannya para warga
sudah berdiri, mencegah Joan untuk masuk lebih ke dalam.
Joan tersenyum
sinis dan dingin, “Hm... inilah sifat asli penduduk NAKAMPE GADING. Baiklah,
aku tak akan sungkan – sungkan lagi,” katanya sambil mencabut dua buah
pisauyang terselip di pinggangnya. Aku dan Hudi yang masih menyusup diantara
kerumunan penduduk ngeri sekali melihat penampilan Joan saat itu. Ia seperti
bukan Joan yang kukenal, tapi, lebih mirip bidadari pencabut nyawa dengan
pakaian hitam dan pisau tajam berkilat – kilat pada kedua tangannya.
“AAAKKKHHH
.....”
Bunyi teriakan
itu mengejutkan semua orang, saat mereka membalikkan badan, Mbah Jauhari telah
membelah dada hingga bagian bawah Bianca. Darah menyembur keluar. Tubuh Bianca
berkelojotan, sepasang matanya terbelalak lebar, mulutnya ternganga. Setelah
Mbah Jauhari mengeluarkan seluruh organ dalam di tubuh Bianca, ia mencampakkan
tubuh yang sudah dibelah itu ke dalam kolam. Air kolam yang semula jernih
perlahan – lahan memerah dan para penduduk wanita satu persatu menceburkan diri
ke dalam kolam itu.
Tak dapat
kulukiskan bagaimana perasaan kami saat itu, terlebih Joan. Joan berteriak
nyaring dan tubuhnya bergerak cepat sementara pisaunya berkelebat menyambar
kesana – kemari. Ia kalap. Setiap mata pisau berkelebat, korban berjatuhan
dalam keadaan mengerikan. Sasaran Joan adalah leher para penduduk Nakampe
Gading, tidak peduli pria ataupun wanita.
Suasana Sendang
hiruk pikuk, darah berceceran dimana – mana. Beberapa warga berusaha meringkus
Joan dengan segala cara, tapi, Joan terlalu tangguh untuk mereka. Aku dan Hudi
memandangi kejadian itu dari tempat agak tersembunyi. Tapi, mendadak kepalaku
seperti dihantam sesuatu yang cukup keras, pandanganku kabur dan kesadaranku perlahan
– lahan menghilang.
Saat aku
membuka pelupuk mataku, aku merasakan punggungku seperti tertahan oleh sesuatu
yang cukup dingin dan aroma aneh menggelitik hidung, tangan dan kakiku terikat,
dan pertama kali yang kulihat adalah Joan dan Hudi. Mereka juga terikat,
sementara wajahnnya babak belur, menunduk ke lantai ruangan. Di sisi lain,
penduduk desa tampak duduk bersila, mulutnya komat – kamit, matanya terpejam
dan wajahnya menunduk.
“TAPA BRATA
YOGA SAMADHI, siap dilakukan,” pemilik suara berat itu adalah Mbah Jauhari yang
berdiri tidak jauh di samping kami, “Beruntung hari ini kita memiliki 3 orang
yang siap dijadikan tumbal untuk LELEPAH,” katanya sambil diiringi tepuk tangan
dan yel – yel dari para penduduk yang ternyata juga dihadiri oleh penduduk
asing, kami tak mengenal mereka.
“Tiga muda –
mudi ini sangatlah cocok untuk lelepah yang telah memakmurkan NAKAMPE GADING
ini,” Mbah Jauhari memulai pidatonya saat para hadirin mulai tenang.
Joan mulai
sadar dari pingsannya, ia tampak lemas sekali, tubuhnya basah oleh darah dan
keringat, sementara Hudi tampak ketakutan.
“Apa yang harus
kita lakukan sekarang ?” bisik Hudi.
“Kita sudah
gagal menyelamatkan Bianca. Aku juga gagal melindungi kalian, tinggal menunggu
mati.” kata Joan putus asa, dua titik bening mengalir dari sudut matanya.
Aku terdiam
seribu bahasa, mataku menerawang jauh sekali ke langit – langit ruangan.
Sebagian asap dari dupa dan obor, menutupinya, mendadak aku teringat oleh
ucapan Mbah buluk. Bibirku bergetar dan antara sadar dan tidak terucap, “Jangan
khawatir, kita masih memiliki orang yang bisa mengeluarkan kita dari sini,”
Joan menatapku,
sebelah matanya bengkak dan membiru, “Siapa ? Mbah Buluk, Mbah Joglo, Bella
atau yang lain ? Mereka tak mungkin bisa menyelamatkan kita, Cel. Sekalipun aku
menyandang gelar juara satu pada pertandingan internasional Taekwondo, tapi,
nyatanya aku adalah sampah,”
“Jo, selama ini
__ADS_1
... aku mengenalmu sebagai wanita yang tegas, tegar dan berani... tak pernah
ada dalam kamusmu kata menyerah... jadi, cobalah untuk bertindak demikian. Aku
yakin kita pasti bisa pergi dari tempat ini,” hiburku.
Baru saja aku
menutup mulutku, mendadak seisi ruangan serasa bergetar hebat, sekalipun hanya
beberapa menit, cukup membuat suasana panik dan tegang. Mbah Jauhari pun tampak
terkejut, “Gempa Bumi,” desahnya perlahan nyaris tak terdengar, namun kami yang
terikat tak jauh dari tempatnya berdiri, dapat mendengarnya dengan jelas
sekali.
“Kakek tua !!”
seru Joan tiba – tiba, “Kalau kau ingin membunuh kami... bunuh saja tak usah
banyak bacot !! Dasar munafik !!”
“Plak !”
Pak Sujar
menampar keras pipi Joan, membuat bibirnya pecah dan menambah luka pada wajah
Joan. Joan tertawa tawar, “Kau pun bukan orang baik – baik ! Hatimu busuk penuh
dengan iri hari, kepura – puraan dan dendam, masih saja berlagak ramah ! Aku
takkan melepaskanmu sekalipun jadi hantu !!”
“Bicaralah
seenak perutmu, bocah bau kencur ... toh, sebentar lagi kau takkan bisa
mengoceh karena kami akan mencincang dan memakan dagingmu,” kata Pak Sujar.
Baru saja
menutup mulutnya, mendadak terdengar suara raungan keras dan menggema.
“RRRROOOOAAAARRRR
!!!”
“Mungkin, kami
datang terlambat. Tapi, jangan khawatir, Mbah Buluk akan memberimu tanda agar
kau bersiap – siap meminta bantuan Mbah Abang. Kami akan melumpuhkan mereka
semua, kalian segeralah pergi dari desa ini. Masalah, Mbah Jauhari, serahkan
pada kami, nduk....” itulah nasihat yang diberikan oleh Mbah Buluk tadi sewaktu
hendak memasuki Sendang. Aku memejamkan mata dan menundukkan wajahku dalam –
dalam, pada saat itulah terlintas wajah Mbah Abang, dan aku segera membacakan
mantra untuk memanggil Mbah Abang.
***
Sekelebat
cahaya putih menerpaku dan di hadapanku sudah berdiri seorang wanita tua
bongkok dan berbaju merah. Ia menaruh kedua tangannya di punggung sementara
sepasang bola matanya yang putih menatap ke arahku. Sekalipun wajahnya tampak
menyeramkan, namun, aku merasakan aura yang cukup besar di dalam dirinya, tanpa
sadar aku menganggukkan kepala dan dia membalasnya dengan anggukkan kepala. Ia
menyeringai mengalihkan pandangannya ke arah Mbah Jauhari.
Mbah Jauhari
tampak terkejut hingga melompat kaget. Kedua lututnya serasa tak bertenaga,
tubuhnya bergetar hebat sekali. Terlebih munculnya 2 ekor harimau di tengah –
tengah ruangan. Harimau Hitam dan Harimau Putih.
Mendadak angin
berhembus kencang, dari arah lubang udara, gumpalan – gumpalan asap putih tipis
bergerak masuk, melayang – layang di udara dan entah kemana perginya tali –
temali yang mengikat tangan dan kaki kami. Asap putih tipis itu meliuk – liuk
bagaikan menari di udara, membentuk siluet – siluet aneh. Mengelilingi semua
orang yang berada di tempat itu.
Tubuh Joan
melorot ke bawah, ia tampak lemas sekali. Sekalipun ia menyandang juara nomor
satu taekwondo dunia, tapi apalah gunanya menghadapi puluhan orang. Ia
mengalami cedera yang cukup parah. Buru – buru aku dan Hudi memegangi tubuh
Joan sebelum ia menyentuh lantai. Udara di sekitar ruangan serasa menyesakkan
dada, seakan di dalam ruangan itu dipenuhi oleh hawa aneh.
Mbah Abang
mengalihkan pandangannya ke arahku, bagai digerakkan oleh sebuah kekuatan tak
kasat mata, kami beranjak meninggalkan tempat itu. Beberapa warga berusaha
menghalangi kami, namun, mendadak mereka terpental ke belakang beberapa tindak.
Tatapan mata mereka mendadak liar dan beringas, menggaruk – garuk tangan kaki
dan tubuh, menjambak rambut dan membentur - benturkan kepala ke dinding sambil
sesekali menangis, sesekali pula tertawa tak terkendali. Mereka bagaikan orang
yang kerasukan.
Kejadian yang sama
dialami oleh penduduk lain, mereka menjambaki rambutnya sendiri, bergulingan di
tanah, menggaruk – garuk tangan, kaki dan tubuh, membentur – benturkan kepala
di lantai ataupun tembok hingga pecah
sambil sesekali tertawa, sesekali pula menangis. Suasana jadi kacau balau.
Salah satu kejadian yang membuat kami tak bisa melupakannya adalah kepala Mbah
Jauhari terpisah dari tubuhnya saat 2 harimau itu mengepung dan mencabik –
cabik tubuhnya dan Mbah Abang membakar semua yang ada di dalam Sendang itu
dengan cahaya obor. PATUNG ANGKARA MURKA seakan tak bergeming memandangi
kejadian itu. Malam itu juga, kami meninggalkan NAKAMPE GADING dalam kekacauan
dan perasaan bersalah karena tak mampu menyelamatkan Bianca, Pedro, Parto dan
Ikbal.
***
E P I L O G :
Pada Tanggal 17 Oktober 2012
Aktivitas vulkanik Gunung Raung meningkat. Status Gunung Raung dari normal
naik menjadi waspada. Sehari kemudian, pada 22 Oktober 2012 statusnya kembali
naik menjadi siaga dan membawa dampak di daerah sekitarnya.
8 Kecamatan di tiga kabupaten masuk dalam peta terdampak erupsi Gunung
Raung. Ke-8 Kecamatan tersebut berada di Kabupaten Banyuwangi, Jember dan
Bondowoso. Data tersebut diambil dari peta potensi bencana Pos Pengamatan
Gunung Api Raung di Banyuwangi.
Dari tiga Kabupaten, Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang paling banyak
miliki wilayah terdampak. Ada 5 Kecamatan, yakni, Genteng, Sempu, Songgon,
Glenmor dan Kalibaru. Disusul 2 kecamatan di Kabupaten Bondowoso. Di antaranya,
Sumber Ringin dan Sukosari.
Banjir lahar panas telah meluluh lantakkan desa NAKAMPE
GADING yang dulunya disebut Desa SINUHUN PANGAYOMAN dan sekitarnya. Adat
istiadat dan kultur budaya mereka hilang
dari ingatan desa – desa tetangga. Sebagian besar penduduknya, tewas tersapu
awan panas.
Kami adalah saksi. Saksi dari sekian banyak saksi yang
tersisa, yang pernah hidup berdampingan dengan warga disana. Sekelompok pemuja
berhala dan gemar sekali menjadikan daging sebagai makanan favoritnya. DAGING
MANUSIA.
E P I L O G 2 :
Sekelompok arkeolog berhasil menemukan benda yang
terkubur selama puluhan tahun di bawah tanah, sebuah patung
raksasa berwarna hitam legam bentuknya aneh dan mengerikan. Patung itu tampak
hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya. Bertanduk empat, sepasang
mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka, memperlihatkan deretan
gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna merah darah. Bertangan
sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam benda, 2 diantaranya
diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala manusia, jantung,
pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir.
Beberapa orang
pekerja lari terbirit – birit saat memandangi patung itu, tapi tidak bagi
seorang laki – laki paruh baya berlepotan debu pada pakaian dan keringat diatas
permukaan kulitnya yang sudah membentuk peta kota. Hawa mistis keluar dari
tubuh patung tersebut. Laki – laki itu tersenyum sambil berkata, “PATUNG
ANGKARA MURKA, akhirnya ... aku menemukannya,”
Ia tertawa.
Tawanya menggema, menyebar ke segala penjuru tempat itu. Dari kejauhan sayup –
sayup terdengar raungan beberapa ekor harimau seakan merasa resah dan gelisah,
seakan tak mengijinkan patung itu jatuh ke tangan manusia.
T A M A T
( Selasa, 07 Feb
2023 )
SALAM DARI PENULIS
:
Akhirnya,
cerita ( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading ... setelah melalui berbagai proses
yang cukup panjang dan melelahkan, selesai juga. Begitu banyaknya kendala yang
ditemui oleh penulis, membuat cerita ini tertunda cukup lama. Tapi, memang
itulah yang harus saya jalani demi memberikan yang terbaik bagi para pembaca /
penggemarnya.
Saya menyadari,
dari sekian banyak bab yang ditulis masih jauh dari harapan para pembaca, jauh
dari sempurna. Tapi, saya berharap, para pembaca bisa menikmati alur cerita ini
dari awal hingga akhir, walau ada kesan kurang greget atau terburu – buru.
Itulah sebabnya, saya tidak bosan – bosannya menunggu kritik dan saran para
pembaca sekalian agar dalam penulisan kisah – kisah selanjutnya, lebih berbobot
tak mudah dilupakan banyak orang.
Sebenarnya,
masih banyak kejadian yang dialami Cella dan teman – teman selama di NAKAMPE
GADING, tapi, itu justru membuka luka lama mereka, mengulang kepedihan hati
mereka dan nantinya akan memperburuk masa – masa pemulihan pasca traumanya.
Jadi, penulis hanya menceritakan sebagian saja pengalaman mereka itu, kelak
nantinya bisa dipetik hikmahnya oleh para pembaca.
Jika ada hal –
hal yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian, saya mohon maaf sebesar
– besarnya. Terima kasih atas kesediaan pembaca dalam membaca kisah ini dari
awal hingga akhir. Sampai jumpa lagi dalam kisah – kisah saya selanjutnya.
Salam Dari
Penulis
( Selasa, 07
Februari 2023 )
__ADS_1