( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB IX


__ADS_3

Matahari sudah


tepat berada di atas kepala. Ritual TAPA BRATA YOGA SAMADHI, memang akan


dilakukan malam nanti sehabis Imsyak, namun, aku dan yang lain sudah mengemasi


barang – barang. Sementara itu, Joan tampak duduk bersila di lantai kamar,


keningnya berkerut, wajahnya menegang sementara matanya terpejam rapat. Akulah


satu – satunya orang yang memahami apa yang ada di dalam benaknya. Aku pernah


menyaksikannya saat ia berada di dalam sebuah pertandingan Taekwondo saat


menghadapi musuh yang lebih kuat darinya. Dalam keadaan seperti itu, siapapun


tidak berani mengganggunya, demikian pula aku. Semenjak pulang dari rumah Pak


Sujar, ia langsung mengemasi barang – barangnya tanpa banyak bicara. Sementara


Bag Knife atau tas pisau pesanan khususnya sudah terpasang di badannya.


Jantungku


berdetak kencang sekali saat ia membuka matanya perlahan, sepasang mata itu


bagaikan memercikkan bara api, wajahnya mendadak merah padam.


“AKU BERSUMPAH


!! SEKALIPUN HARUS BERTARUH NYAWA, AKU AKAN SELALU MELINDUNGI TEMAN – TEMANKU


!!! MEREKA BUKAN MANUSIA !!! TAPI IBLIS !!” serunya sambil menghujamkan kepalan


kanannya ke lantai.


Joan yang sekarang


kulihat, bukanlah Joan yang ramah tamah dan rendah hati, bara api dendam sudah


merambati sekujur tubuhnya. Aku paham sekali, terlebih mengingat perlakuan


warga pada Bianca.


“Kemana Hudi


dan yang lain ?” tanyanya padaku kemudian.


“Mereka sedang


mengemasi barang,” kataku.


“Bagus. Setelah


itu kita akan mencari cara agar bisa enyah dari desa terkutuk ini,”


“Sudah kuatur.


Mereka akan mencari kendaraan milik penduduk yang akan digunakan nanti,”


“Baguslah kalau


begitu. TAPA BRATA YOGA SAMADHI akan dilangsungkan setelah imsyak, sebaiknya,


kita tidak usah menunda setelah semuanya selesai, kita akan menuju Sendang,”


ujar Joan.


“Jo, apa tidak


sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin ?” usulku.


“Kau,


tenanglah, Cel ... aku tahu apa yang harus kulakukan. Sama sekali tak kusangka,


kita terdampar di desa terkutuk ini sehingga harus mengalami kejadian yang tak


mengenakkan. Maukah kau memaafkanku, Cel ?”


“Kau bicara


apa, Jo... tak perlu ada yang dicemaskan selama kita bersatu dan bersama – sama,”


kataku.


Joan menghela


nafas, selama ini aku mengenalnya sebagai seorang wanita yang tegar, tangguh


dan tabah dalam menghadapi apapun. Akan tetapi, hari ini ia kelihatan berbeda


sekali. Wajahnya tampah syahdu / memelas seolah ia akan menghadapi sesuatu yang


membuatnya putus asa. Mungkin baru pertama kalinya ini, ia merasakan itu. Aku


sendiri merasa aneh, entahlah, apa itu yang jelas sesuatu yang menyedihkan.


“Jika terjadi


apa – apa dengan aku, kalian segeralah pergi dari desa ini cepat – cepat,”


katanya sementara sepasang matanya yang tadi tajam tampak berkaca – kaca.


“Jo, tak ada


yang perlu dicemaskan... aku dan yang lain berusaha sebisa mungkin menghadapi


apa yang bakal terjadi nanti. Kalau kau mati, maka kami pun akan menemanimu,”


kataku tak kalah putus asanya. Aku memeluk Joan, dia pun memelukku dengan erat,


kami tenggelam dalam pikiran masing – masing.


“Kita harus


berusaha keluar dari sini dengan selamat !” seruan itu mengejutkan kami, Hudi


dan yang lain muncul di ambang pintu kamar.


“Jo, kami pun berniat


melakukan hal yang sama... tapi, kita tidak boleh menyerah sampai disini, kita


kuat bila bersatu,” sambung Yulia.


“Hei daripada


kalian bersedih, cepat masukkan barang – barang kalian ke bagasi,” mendadak


Akhmad muncul sambil tersenyum simpul.


“Apakah kau


sudah menemukan kendaraan untuk kita ?” tanyaku.


Akhmad menarik


tanganku dan menyeretku menuju halaman depan, disana sebuah mobil Jeep


diparkir, ditutupi oleh semak belukar.


“Bagaimana


menurut kalian ?” tanya Akhmad.


“Darimana kau


mendapatkan mobil itu ?” tanyaku.


“Itu sebenarnya


milik wanita yang bernama Bu Midar itu. Karena pemiliknya sudah meninggal dan


mangkrak di gudang, maka, kuambil saja. Memang, tadi sempat kesulitan


menyalakannya, tapi, setelah kubenahi sedikit, selesai. Siap mengantar kita


meninggalkan desa jahanam ini,” jelas Akhmad, “Di dalam juga ada sepeda motor,


kuambil saja sekalian. Toh, tidak ada yang menanyakan ataupun menggunakannya,”


Yah, Bu Midar.


Aku memanggilnya dengan sebutan Bi Midar. Beliau adalah salah satu warga yang


telah menjaga dan merawatku saat pertama kali kami terdampar di desa ini,


hingga sembuh. Aku tak bisa melupakan kebaikan hatinya dan sangat


menghormatinya. Dia kuanggap sebagai ibuku sendiri, tapi, siapa sangka selama


aku dalam perawatannya, beliau memberikan daging manusia kepadaku. Celakanya,


daging yang kumakan adalah daging teman – temanku yang dikorbankan untuk ritual


konyol itu. Mengingat itu, aku merasakan perutku diaduk – aduk, mual dan hendak


muntah. Tetapi, kekecewaan telah menahan perasaan tidak enak pada perutku. Yang


bisa kulakukan saat itu adalah menangis dalam hati. Tapi, tangis takkan mungkin


mengembalikan mereka yang sudah meninggal. Hingga akhirnya, Joan dan yang lain


keluar dan melihat itu semua dengan perasaan bercampur aduk tak keruan. “Aku


dan Cella akan menuju ke Sendang sekarang. Aku ingin tahu apa yang mereka


lakukan pada Bianca. Perasaanku tidak enak sekali,”


“Jarak Sendang


dengan tempat ini, lumayan jauh. Sebaiknya, kalian kuantar,” ujar Hudi, “Lebih


cepat, lebih baik ...”


***


Sore itu, alam seakan


tidak bersahabat.


Mendung


bergulung – gulung di langit desa Nakampe Gading, cahaya kilat seakan mencabik


– cabik awan – awan hitam tersebut sambil sesekali terdengar suara guntur


menggelegar. Angin berhembus dengan kencang, seakan hendak memporak porandakan


jalanan yang kami lewati menuju Kali Kidul. Sore itu, Kali Kidul dan sekitarnya


tidak lagi seindah saat aku dan Joan pertama kali menginjakkan kaki di tempat


itu.


Saat kami tiba


di tempat Mbah Buluk, dari jauh tampak barisan cahaya – cahaya api berjalan


berarak dan menghilang tepat di dalam bangunan yang disebut Sendang itu.


“Ritual TAPA


BRATA YOGA SAMADHI, sebentar lagi akan dimulai,”


Suara berat itu


mengejutkan kami, mendadak saja Mbah Buluk sudah berdiri di belakang kami.


“Edan !” seru


Joan, “Apakah Mbah Buluk selalu muncul tiba – tiba seperti ini ?” tanyanya


dengan nada kesal.


Mbah Buluk


seakan tidak mendengar perkataan Joan itu, ia berjalan menghampiriku dan


menatapku tajam walau sepertinya tatapannya itu seakan tidak tertuju pada satu


titik. “Nduk, kalian pergilah ke dalam Sendang itu. Apapun yang terjadi, Mbah


Buluk harap kalian bisa mengendalikan diri. Jangan bertindak nekad, tunggu


sampai Mbah Buluk dan Mbah Joglo tiba disana. Berhati – hatilah,”


“Baik, Mbah...”


kataku.


“Satu hal


lagi,” kata Mbah Buluk, “Mbah Abang masih menjagamu. Jika kau bisa bertemu


dengannya, bantulah kami untuk menghadapi Mbah Jauhari itu. Sekalipun


kepandaian kami setara dengannya, tapi, bila kita bersatu, dia akan lebih mudah


ditundukkan,”


“Bagaimana


caranya, Mbah ? Saya tidak memiliki kemampuan untuk bertemu dengan sosok –


sosok gaib itu,”


“Kemarilah,


Mbah Buluk akan memberitahukan caranya,”


Aku menurut dan


kakek berbaju hitam itu membisikkan sesuatu ke telingaku.


“shang hyang cipto gumono, rawuhaken


sejatining Mbah Abang kang aperojo hing songgobuono rawuh, rawuh, rawuh mijil


ono ing pangarsaningsun”


( Mantra ini


tidak serta merta bisa digunakan oleh orang yang belum melalui proses lelaku,


puasa atau memang menjalani sebuah ilmu kebatinan. Singkatnya, tidak sembarang


orang bisa melakukannya tanpa seijin langit / TUHAN ).


“Kau bisa


melakukannya nanti, nduk,” Mbah Buluk kemudian menepuk bahuku tiga kali,


setelah itu membalikkan badannya dan setelah sampai di ujung ruangan, ia


berbelok dan tubuhnya menghilang. Joan dan yang lain terpaku, sebagian dari


mereka menanyakan apa yang telah dibicarakan Mbah Buluk padaku, aku memilih


untuk diam.


Joan menoleh ke

__ADS_1


arah Hudi dan teman – teman lain.


“Kalian tunggu


disini, biar aku dan Joan yang masuk ke Sendang. Aku tak ingin terjadi apa –


apa pada kalian,” tegasnya.


“Andai kami


bisa membantumu,” ujar Bella lemah, hal itu ditanggapi Joan hanya dengan


senyuman.


“Kalian berhati


– hatilah,” ujar Yulia, “Cepatlah kembali dan pergi dari sini,”


“Kalian juga,


berhati – hatilah,” kata Joan sambil memeluk mereka. Kami segera meninggalkan


tempat itu dan melangkah menuju Sendang.


***


“WARNING !!!


UNTUK 21 +   KE ATAS


PADA BAGIAN INI TERDAPAT UNSUR YANG MUNGKIN BISA MEMPENGARUHI SISI PSIKOLOGIS,


SEPERTI : KEKERASAN FISIK, KEKERASAN SEKSUAL, MUTILASI DAN LAIN SEBAGAINYA.


HARAP PARA PEMBACA YANG BUDIMAN MENYIKAPINYA SECARA BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA


KASIH ATAS KERJA SAMA DAN PENGERTIANNYA,”


SEPTEMBER, 2012


Saat memasuki


Sendang, ruangan yang berbentuk lorong memanjang itu tampak gelap gulita.


Dengan berbekal lampu senter di tangan, kami menyusuri lorong itu sambil


meningkatkan kewaspadaan kami.


“Hai, takkan


kubiarkan kalian pergi sendiri, ijinkanlah aku menemani kalian,”


Seruan itu


mengagetkan kami, Hudi sudah berada di belakang kami, wajah Joan merah padam.


Entah kami harus senang atau sedih dengan munculnya Hudi itu.


“Bagaimana


dengan Bella dan Yulia ?” tanya Joan.


“Akhmad bisa


diandalkan, kok. Sudahlah, lagipula aku penasaran dengan apa yang disebut


sebagai patung angkara murka oleh Mbah Buluk,”


“Kalau sampai


terjadi apa – apa pada mereka kaulah yang harus bertanggung jawab,” ancam Joan,


Hudi hanya menanggapinya dengan senyuman.


Sekian lama


kami berjalan menyusuri lorong itu, sayup – sayup terdengar jeritan dari arah


depan. Jeritan ketakutan di sela – sela tangis dan lantunan kidung. Dari arah


depan tercium aroma wangi yang aneh. Aroma yang selalu kucium saat memasuki


wilayah - wilayah yang disakralkan oleh warga Nakampe Gading. Tapi, aroma


tersebut lebih menyengat dan 20 meter di ujung sana, kami bisa melihat ruangan


itu terang. Teriakan itu semakin lama semakin jelas saat kami mulai mendekati


ruangan tersebut.


Pemandangan


tidak manusiawi segera terpampang di hadapan kami, darah kami bergolak bagaikan


kawah gunung berapi. Tubuh Bianca dibaringkan pada lantai yang basah oleh


genangan darah. Tangan dan kakinya terikat kuat pada empat pasak tiang besi dan


tubuhnya tidak tertutup sehelai kain pun. Telanjang bulat. Sementara itu, para


penduduk, khususnya laki – laki berdiri telanjang sambil menatap Bianca yang


meronta – ronta.


‘TINGGG....”


Dua batang besi


pipih itu dibenturkan satu sama lain, pria yang berdiri paling depan membungkuk


di hadapan Bianca, setelah mengatupkan kedua belah tapak tangannya di dada, ia


melakukan hubungan intim dengan Bianca. Wanita itu meronta, menjerit dan


menangis memohon untuk dikasihani, tapi, tak seorang pun mempedulikannya.


Lima menit


sudah, Bianca harus berjuang menahan sakit pada alat vitalnya. Namun, ternyata


derita itu tidak juga berakhir, saat Mbah Jauhari membenturkan dua batang besi


pipih di tangannya, pria kedua melakukan hal yang sama. Demikian pula pria


ketiga, keempat dan seterusnya hingga sepuluh pria.


Saat pria


kesebelas hendak melakukan ritual yang sama, terdengar seruan keras dari


kerumunan penduduk yang duduk menghadap PATUNG ANGKARA MURKA.


“Hentikan !!”


Joan muncul dan


hendak melangkah menghampiri Mbah Jauhari, tapi, Pak Udin, Pak Rusli dan Pak


Sujar menghadangnya.


“Jangan bodoh,


Mbak Joan... ini memang harus dilakukan untuk ....” ucapan Pak Udin ditutup


dengan kepalan tinju kiri Joan. Laki – laki itu terkejut, hidungnya patah dan


berlumuran darah.


“Kalian kira


kami bodoh, ha ? Ritual macam apa ini menodai wanita secara bergiliran, dasar


warga bejat tak bermoral !!” bentak Joan sambil kembali mendaratkan tinjunya ke


“Kalian !”


sahut Pak Sujar pada yang lain, “Jangan diam saja, tangkap perempuan tak tahu


adat ini !!”


Beberapa laki –


laki bertubuh gempal segera menghadang dan menyerang Joan. Joan kali ini tidak


main – main, tangan dan kakinya bergerak kesana – kemari menghempaskan para


penyerangnya sambil melangkah maju berniat menuju ke arah Bianca yang masih


lemas tak berdaya itu. Tapi, tertahan oleh warga.


Melihat situasi


yang tidak memungkinkan itu, Joan melompat mundur. Di hadapannya para warga


sudah berdiri, mencegah Joan untuk masuk lebih ke dalam.


Joan tersenyum


sinis dan dingin, “Hm... inilah sifat asli penduduk NAKAMPE GADING. Baiklah,


aku tak akan sungkan – sungkan lagi,” katanya sambil mencabut dua buah


pisauyang terselip di pinggangnya. Aku dan Hudi yang masih menyusup diantara


kerumunan penduduk ngeri sekali melihat penampilan Joan saat itu. Ia seperti


bukan Joan yang kukenal, tapi, lebih mirip bidadari pencabut nyawa dengan


pakaian hitam dan pisau tajam berkilat – kilat pada kedua tangannya.


“AAAKKKHHH


.....”


Bunyi teriakan


itu mengejutkan semua orang, saat mereka membalikkan badan, Mbah Jauhari telah


membelah dada hingga bagian bawah Bianca. Darah menyembur keluar. Tubuh Bianca


berkelojotan, sepasang matanya terbelalak lebar, mulutnya ternganga. Setelah


Mbah Jauhari mengeluarkan seluruh organ dalam di tubuh Bianca, ia mencampakkan


tubuh yang sudah dibelah itu ke dalam kolam. Air kolam yang semula jernih


perlahan – lahan memerah dan para penduduk wanita satu persatu menceburkan diri


ke dalam kolam itu.


Tak dapat


kulukiskan bagaimana perasaan kami saat itu, terlebih Joan. Joan berteriak


nyaring dan tubuhnya bergerak cepat sementara pisaunya berkelebat menyambar


kesana – kemari. Ia kalap. Setiap mata pisau berkelebat, korban berjatuhan


dalam keadaan mengerikan. Sasaran Joan adalah leher para penduduk Nakampe


Gading, tidak peduli pria ataupun wanita.


Suasana Sendang


hiruk pikuk, darah berceceran dimana – mana. Beberapa warga berusaha meringkus


Joan dengan segala cara, tapi, Joan terlalu tangguh untuk mereka. Aku dan Hudi


memandangi kejadian itu dari tempat agak tersembunyi. Tapi, mendadak kepalaku


seperti dihantam sesuatu yang cukup keras, pandanganku kabur dan kesadaranku perlahan


– lahan menghilang.


Saat aku


membuka pelupuk mataku, aku merasakan punggungku seperti tertahan oleh sesuatu


yang cukup dingin dan aroma aneh menggelitik hidung, tangan dan kakiku terikat,


dan pertama kali yang kulihat adalah Joan dan Hudi. Mereka juga terikat,


sementara wajahnnya babak belur, menunduk ke lantai ruangan. Di sisi lain,


penduduk desa tampak duduk bersila, mulutnya komat – kamit, matanya terpejam


dan wajahnya menunduk.


“TAPA BRATA


YOGA SAMADHI, siap dilakukan,” pemilik suara berat itu adalah Mbah Jauhari yang


berdiri tidak jauh di samping kami, “Beruntung hari ini kita memiliki 3 orang


yang siap dijadikan tumbal untuk LELEPAH,” katanya sambil diiringi tepuk tangan


dan yel – yel dari para penduduk yang ternyata juga dihadiri oleh penduduk


asing, kami tak mengenal mereka.


“Tiga muda –


mudi ini sangatlah cocok untuk lelepah yang telah memakmurkan NAKAMPE GADING


ini,” Mbah Jauhari memulai pidatonya saat para hadirin mulai tenang.


Joan mulai


sadar dari pingsannya, ia tampak lemas sekali, tubuhnya basah oleh darah dan


keringat, sementara Hudi tampak ketakutan.


“Apa yang harus


kita lakukan sekarang ?” bisik Hudi.


“Kita sudah


gagal menyelamatkan Bianca. Aku juga gagal melindungi kalian, tinggal menunggu


mati.” kata Joan putus asa, dua titik bening mengalir dari sudut matanya.


Aku terdiam


seribu bahasa, mataku menerawang jauh sekali ke langit – langit ruangan.


Sebagian asap dari dupa dan obor, menutupinya, mendadak aku teringat oleh


ucapan Mbah buluk. Bibirku bergetar dan antara sadar dan tidak terucap, “Jangan


khawatir, kita masih memiliki orang yang bisa mengeluarkan kita dari sini,”


Joan menatapku,


sebelah matanya bengkak dan membiru, “Siapa ? Mbah Buluk, Mbah Joglo, Bella


atau yang lain ? Mereka tak mungkin bisa menyelamatkan kita, Cel. Sekalipun aku


menyandang gelar juara satu pada pertandingan internasional Taekwondo, tapi,


nyatanya aku adalah sampah,”


“Jo, selama ini

__ADS_1


... aku mengenalmu sebagai wanita yang tegas, tegar dan berani... tak pernah


ada dalam kamusmu kata menyerah... jadi, cobalah untuk bertindak demikian. Aku


yakin kita pasti bisa pergi dari tempat ini,” hiburku.


Baru saja aku


menutup mulutku, mendadak seisi ruangan serasa bergetar hebat, sekalipun hanya


beberapa menit, cukup membuat suasana panik dan tegang. Mbah Jauhari pun tampak


terkejut, “Gempa Bumi,” desahnya perlahan nyaris tak terdengar, namun kami yang


terikat tak jauh dari tempatnya berdiri, dapat mendengarnya dengan jelas


sekali.


“Kakek tua !!”


seru Joan tiba – tiba, “Kalau kau ingin membunuh kami... bunuh saja tak usah


banyak bacot !! Dasar munafik !!”


“Plak !”


Pak Sujar


menampar keras pipi Joan, membuat bibirnya pecah dan menambah luka pada wajah


Joan. Joan tertawa tawar, “Kau pun bukan orang baik – baik ! Hatimu busuk penuh


dengan iri hari, kepura – puraan dan dendam, masih saja berlagak ramah ! Aku


takkan melepaskanmu sekalipun jadi hantu !!”


“Bicaralah


seenak perutmu, bocah bau kencur ... toh, sebentar lagi kau takkan bisa


mengoceh karena kami akan mencincang dan memakan dagingmu,” kata Pak Sujar.


Baru saja


menutup mulutnya, mendadak terdengar suara raungan keras dan menggema.


“RRRROOOOAAAARRRR


!!!”


“Mungkin, kami


datang terlambat. Tapi, jangan khawatir, Mbah Buluk akan memberimu tanda agar


kau bersiap – siap meminta bantuan Mbah Abang. Kami akan melumpuhkan mereka


semua, kalian segeralah pergi dari desa ini. Masalah, Mbah Jauhari, serahkan


pada kami, nduk....” itulah nasihat yang diberikan oleh Mbah Buluk tadi sewaktu


hendak memasuki Sendang. Aku memejamkan mata dan menundukkan wajahku dalam –


dalam, pada saat itulah terlintas wajah Mbah Abang, dan aku segera membacakan


mantra untuk memanggil Mbah Abang.


***


Sekelebat


cahaya putih menerpaku dan di hadapanku sudah berdiri seorang wanita tua


bongkok dan berbaju merah. Ia menaruh kedua tangannya di punggung sementara


sepasang bola matanya yang putih menatap ke arahku. Sekalipun wajahnya tampak


menyeramkan, namun, aku merasakan aura yang cukup besar di dalam dirinya, tanpa


sadar aku menganggukkan kepala dan dia membalasnya dengan anggukkan kepala. Ia


menyeringai mengalihkan pandangannya ke arah Mbah Jauhari.


Mbah Jauhari


tampak terkejut hingga melompat kaget. Kedua lututnya serasa tak bertenaga,


tubuhnya bergetar hebat sekali. Terlebih munculnya 2 ekor harimau di tengah –


tengah ruangan. Harimau Hitam dan Harimau Putih.


Mendadak angin


berhembus kencang, dari arah lubang udara, gumpalan – gumpalan asap putih tipis


bergerak masuk, melayang – layang di udara dan entah kemana perginya tali –


temali yang mengikat tangan dan kaki kami. Asap putih tipis itu meliuk – liuk


bagaikan menari di udara, membentuk siluet – siluet aneh. Mengelilingi semua


orang yang berada di tempat itu.


Tubuh Joan


melorot ke bawah, ia tampak lemas sekali. Sekalipun ia menyandang juara nomor


satu taekwondo dunia, tapi apalah gunanya menghadapi puluhan orang. Ia


mengalami cedera yang cukup parah. Buru – buru aku dan Hudi memegangi tubuh


Joan sebelum ia menyentuh lantai. Udara di sekitar ruangan serasa menyesakkan


dada, seakan di dalam ruangan itu dipenuhi oleh hawa aneh.


Mbah Abang


mengalihkan pandangannya ke arahku, bagai digerakkan oleh sebuah kekuatan tak


kasat mata, kami beranjak meninggalkan tempat itu. Beberapa warga berusaha


menghalangi kami, namun, mendadak mereka terpental ke belakang beberapa tindak.


Tatapan mata mereka mendadak liar dan beringas, menggaruk – garuk tangan kaki


dan tubuh, menjambak rambut dan membentur - benturkan kepala ke dinding sambil


sesekali menangis, sesekali pula tertawa tak terkendali. Mereka bagaikan orang


yang kerasukan.


Kejadian yang sama


dialami oleh penduduk lain, mereka menjambaki rambutnya sendiri, bergulingan di


tanah, menggaruk – garuk tangan, kaki dan tubuh, membentur – benturkan kepala


di lantai ataupun  tembok hingga pecah


sambil sesekali tertawa, sesekali pula menangis. Suasana jadi kacau balau.


Salah satu kejadian yang membuat kami tak bisa melupakannya adalah kepala Mbah


Jauhari terpisah dari tubuhnya saat 2 harimau itu mengepung dan mencabik –


cabik tubuhnya dan Mbah Abang membakar semua yang ada di dalam Sendang itu


dengan cahaya obor. PATUNG ANGKARA MURKA seakan tak bergeming memandangi


kejadian itu. Malam itu juga, kami meninggalkan NAKAMPE GADING dalam kekacauan


dan perasaan bersalah karena tak mampu menyelamatkan Bianca, Pedro, Parto dan


Ikbal.


***


E P I L O G :


Pada Tanggal 17 Oktober 2012


Aktivitas vulkanik Gunung Raung meningkat. Status Gunung Raung dari normal


naik menjadi waspada. Sehari kemudian, pada 22 Oktober 2012 statusnya kembali


naik menjadi siaga dan membawa dampak di daerah sekitarnya.


8 Kecamatan di tiga kabupaten masuk dalam peta terdampak erupsi Gunung


Raung. Ke-8 Kecamatan tersebut berada di Kabupaten Banyuwangi, Jember dan


Bondowoso. Data tersebut diambil dari peta potensi bencana Pos Pengamatan


Gunung Api Raung di Banyuwangi.


Dari tiga Kabupaten, Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang paling banyak


miliki wilayah terdampak. Ada 5 Kecamatan, yakni, Genteng, Sempu, Songgon,


Glenmor dan Kalibaru. Disusul 2 kecamatan di Kabupaten Bondowoso. Di antaranya,


Sumber Ringin dan Sukosari.


Banjir lahar panas telah meluluh lantakkan desa NAKAMPE


GADING yang dulunya disebut Desa SINUHUN PANGAYOMAN dan sekitarnya. Adat


istiadat dan kultur budaya  mereka hilang


dari ingatan desa – desa tetangga. Sebagian besar penduduknya, tewas tersapu


awan panas.


Kami adalah saksi. Saksi dari sekian banyak saksi yang


tersisa, yang pernah hidup berdampingan dengan warga disana. Sekelompok pemuja


berhala dan gemar sekali menjadikan daging sebagai makanan favoritnya. DAGING


MANUSIA.


E P I L O G 2 :


Sekelompok arkeolog berhasil menemukan benda yang


terkubur selama puluhan tahun di bawah tanah, sebuah patung


raksasa berwarna hitam legam bentuknya aneh dan mengerikan. Patung itu tampak


hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya. Bertanduk empat, sepasang


mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka, memperlihatkan deretan


gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna merah darah. Bertangan


sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam benda, 2 diantaranya


diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala manusia, jantung,


pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir.


Beberapa orang


pekerja lari terbirit – birit saat memandangi patung itu, tapi tidak bagi


seorang laki – laki paruh baya berlepotan debu pada pakaian dan keringat diatas


permukaan kulitnya yang sudah membentuk peta kota. Hawa mistis keluar dari


tubuh patung tersebut. Laki – laki itu tersenyum sambil berkata, “PATUNG


ANGKARA MURKA, akhirnya ... aku menemukannya,”


Ia tertawa.


Tawanya menggema, menyebar ke segala penjuru tempat itu. Dari kejauhan sayup –


sayup terdengar raungan beberapa ekor harimau seakan merasa resah dan gelisah,


seakan tak mengijinkan patung itu jatuh ke tangan manusia.


T A M A T


( Selasa, 07 Feb


2023 )


SALAM DARI PENULIS


:


Akhirnya,


cerita ( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading ... setelah melalui berbagai proses


yang cukup panjang dan melelahkan, selesai juga. Begitu banyaknya kendala yang


ditemui oleh penulis, membuat cerita ini tertunda cukup lama. Tapi, memang


itulah yang harus saya jalani demi memberikan yang terbaik bagi para pembaca /


penggemarnya.


Saya menyadari,


dari sekian banyak bab yang ditulis masih jauh dari harapan para pembaca, jauh


dari sempurna. Tapi, saya berharap, para pembaca bisa menikmati alur cerita ini


dari awal hingga akhir, walau ada kesan kurang greget atau terburu – buru.


Itulah sebabnya, saya tidak bosan – bosannya menunggu kritik dan saran para


pembaca sekalian agar dalam penulisan kisah – kisah selanjutnya, lebih berbobot


tak mudah dilupakan banyak orang.


Sebenarnya,


masih banyak kejadian yang dialami Cella dan teman – teman selama di NAKAMPE


GADING, tapi, itu justru membuka luka lama mereka, mengulang kepedihan hati


mereka dan nantinya akan memperburuk masa – masa pemulihan pasca traumanya.


Jadi, penulis hanya menceritakan sebagian saja pengalaman mereka itu, kelak


nantinya bisa dipetik hikmahnya oleh para pembaca.


Jika ada hal –


hal yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian, saya mohon maaf sebesar


– besarnya. Terima kasih atas kesediaan pembaca dalam membaca kisah ini dari


awal hingga akhir. Sampai jumpa lagi dalam kisah – kisah saya selanjutnya.


Salam Dari


Penulis


( Selasa, 07


Februari 2023 )

__ADS_1


__ADS_2