
Pencarian atas
teman-teman kami yang menghilang, berlanjut ke desa bagian Selatan. Kami masih
ditemani oleh Pak Rusli, Pak Yunus, Pak Toni dan Pak Udin sebagai perambah
jalan. Namun, Yulia dan Bella tidak ikut, mereka menjaga Bianca yang masih
belum bisa diajak berkomunikasi.
Di lokasi ini,
kami menemukan suatu hal yang berbeda dengan lokasi sebelumnya. Sejauh mata memandang
yang tampak adalah hutan belantara. Para perambah jalan memimpin di depan
sambil sesekali membabatkan parang memotong ujung-ujung tanaman yang tumbuh
liar di depan, membersihkan jalanan dari ilalang dan tanaman liar. Begitu
seterusnya dan akhirnya, di depan mata kami membentang sebuah padang rumput
hijau dengan latar belakang gunung dan perbukitan. Udaranya begitu segar dan
sejuk dan sayup – sayup terdengar aliran sungai dari kejauhan.
“Kami menamai
tempat ini, KALI KIDUL. 10 meter di depan sana ada sebuah sungai kecil, berarus
tenang dan airnya jernih. Air itulah yang mengairi sawah – sawah di desa kami,
tapi tidak bisa langsung mengalir begitu saja, karena sekalipun berair tenang
namun, pada saat – saat tertentu, arusnya bisa menakutkan. Jadi, kami membuat
sebuah kolam yang dipergunakan untuk menampung air. Kolam itu kami beri nama
SENDANG. Itu...” jelas Pak Udin sambil menunjuk ke sebuah bangunan terbuat dari
batu bata bercat hitam.
Bulu kudukku
merinding seketika melihat bangunan itu. Mirip sekali dengan bangunan dalam
mimpiku. Hanya bangunan itu satu-satunya yang ada di Kali Kidul ini. Sebuah
gapura yang disusun dari batu kali setinggi 2 kali tinggi orang dewasa itulah
pembatas daerah tempat kami berdiri dengan bangunan itu. Lengkap dengan pernak-pernik
terbuat dari janur kuning dan lentera; sajen berisi kembang tujuh warna,
jajanan, dupa dan kopi hitam kental diletakkan di sudut-sudut tertentu. Asap
tipis melayang – layang di udara menjadi permainan hembusan angin semilir,
menebarkan aroma harum yang aneh.
“Cel, ada apa
denganmu ?” tanya Joan yang melihatku sesekali berhenti dan menepuk-nepuk bahu yang serasa kebas dan berat, padahal aku
hanya membawa sebuah tas kecil diisi dengan beberapa cemilan yang beratnya
tidak sampai 15 gram.
Aku tersenyum,
menggelengkan kepala perlahan lalu kembali berjalan. Tidak seperti hari-hari
kemarin, hari ini, saat menginjakkan kaki di tempat ini, bahuku seperti kebas
sekali sementara, kaki-kakiku seperti diberi bandul besi yang cukup berat.
Kepalaku pening, pandanganku berkunang-kunang, seisi perutku seperti
diaduk-aduk. Dan...
“Hoekh...”
Aku menumpahkan
hampir setengah isi perutku, Joan terkejut begitu pula yang lain.
“Kenapa, kau,
Cel...” tanya Joan cemas.
Aku mengangkat
tangan kananku, “A... Aku Cuma butuh duduk sebentar,” kataku sambil mengurut
tengkukku.
“Kalau kurang
enak badan, mumpung belum jauh, kita kembali saja,” celetuk Hudi.
“Tanggung ...”
ujarku, “Sudah separuh jalan. Aku tidak apa-apa. Entahlah tubuhku mendadak
tidak bisa diajak kerja sama,” sambungku.
“Wajahmu, pucat
sekali, Cel,” kata Joan.
“Sudahlah, aku
tidak apa – apa,” bantahku sementara sepasang mataku tertuju pada sesosok
bayangan laki-laki tua serba hitam memegang tongkat bambu kuning, berdiri di
atas sebuah batu 15 meter dari tempat kami berada, menatapku iba.
“Pak Udin,”
panggilku pada Pak Udin yang berdiri paling depan. Ia menoleh lalu berkata,
“Ada apa, nak Cella,”
“Siapakah pria
berbaju hitam yang berdiri di seberang sungai sana, pak ?” tanyaku sambil
menunjuk ke arah kakek tua itu. Akan tetapi, saat Pak Udin dan yang lainnya
menoleh, ia menghilang.
“Tidak ada
siapa – siapa disana, nak,” ujar Pak Udin.
“Tidak mungkin,
pak... baru saja saya melihat di sana ada laki – laki tua berpakaian serba
hitam dan membawa tongkat bambu kuning, pak ?” jelasku.
Pak Udin
__ADS_1
menggeleng – gelengkan kepala, “Nak Cella, di Kali Kidul ini, tidak ada seorang
penduduk pun tinggal. Ini adalah salah satu tempat yang sakral bagi kami. Dan,
seberang sungai itu, bukanlah wilayah kami, hanya orang bodoh saja yang nekad
memasuki kawasan tersebut,”
“Cel... ora
usah mikir macem – macem. Piye, kowe sido melu opo ora ?” celetuk Akhmad.
“Kalau kau
sudah tidak apa – apa, mari kita lanjutkan perjalanan, keburu gelap,” ajak Pak
Udin.
Aku
menganggukkan kepala. Baru saja aku berdiri, mendadak tubuhku limbung. Joan
dengan gesit menyambarku sambil berkata, “Kita urungkan dulu pencarian hari
ini. Cel, kondisimu tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan,”
Perkataaan Joan
ini merontokkan dinding karang dalam diriku. Aku mengangguk dan kamipun segera
kembali ke rumah penginapan. “Ada apa dengan diriku ? Tidak seperti hari – hari
kemarin,” keluhku dalam hati. Anehnya, saat meninggalkan tempat itu, rasa kebas
dan berat itu hilang, tubuhku kembali stabil.
*
Pagi itu, aku,
Yulia dan Hudi diajak oleh Pak Sujar menuju ke rumah Panatua Desa Nakampe
Gading. Namanya, Mbah Joglo. Diantara rumah – rumah penduduk desa, rumah Mbah
Joglo yang terletak lebih kurang 200 meter dari rumah tempat kami menginap,
boleh dibilang, lebih bagus dan luas. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu,
aroma wangi cendana tercium saat kaki – kaki kami menapak halaman rumah
tersebut. Disana, tepatnya di teras, seorang laki – laki tua dan kurus duduk
bersila sambil menghisap sebuah cerutu. Usianya, sekitar 88 tahun. Sekalipun sudah
berusia kepala 8, namun, tak bisa kuingkari, beliau masih tampak awet muda.
Saat melihat kedatangan kami, sepasang matanya yang kecil tak berkedip
memandangi kami, tanpa ekspresi. Dingin dan tajam. Dipandangi seperti itu, kami
merasa tak enak sendiri, terlebih saat tapak – tapak kaki kami, menginjak tikar
daun pandan yang membentang di sepanjang teras. Ada hawa dingin mengalir dari
telapak kaki hingga ke ubun – ubun dan rasanya sejuk sekali.
“Kenalkan, ini
Mbah Joglo, anak – anak. Beliau adalah penduduk paling tua di desa ini.
Beliaulah yang menjaga desa ini, nak,” kata Pak Sujar. Kami pun satu persatu
memperkenalkan diri dan menyalaminya, untuk kemudian duduk.
“Mbah tahu,
datang ke desa ini,” kata Mbah Joglo.
“Ngapunten,
Mbah... memang semenjak kami datang, kami sudah dihadapkan pada peristiwa –
peristiwa di luar nalar,” kataku, “Mulai dari teman – teman saya yang
menghilang, perilaku salah satu teman saya yang linglung dan banyak hal lagi,”
“Apa yang
terjadi pada teman – teman kalian, hanya awalnya saja. Mbah tidak berharap
kalian menemui kejadian yang lebih mengerikan dari ini,”
“Sebenarnya,
apa kesalahan kami, hingga mengalami kejadian seperti ini, mbah ?”
Mbah Joglo
terdiam sesaat, ia menatapku dalam-dalam, pandangannya seakan menembusi kulit
dan dagingku, wajahku memerah karena tak biasa dipandangi oleh laki-laki
apalagi berusia lanjut itu. Kami semua merasa gelisah. Beliau memandangku tidak
kurang dari lima menit, tapi, serasa berjam-jam. Setelah itu ia memberi hormat
padaku sambil berkata.
"Ngapunten,
Nyai... Putumu Iki mboten ngertos menawi panjenengan tansah ngancani saking
kita dhateng papan menika. Keparenga, Kulo njlentrehaken kados pundi
sejatosipun, sampun kedadasan dhateng kanca-kancanipun ing papan menika,"
( Maaf, nyai...
Cucumu ini tidak mengerti kalau Anda menemaninya sejak dari kota ke tempat ini.
Ijinkan saya, untuk menjelaskan apa yang terjadi pada teman-temannya di tempat
ini ).
Setelah berkata
demikian, Mbah Joglo meletakkan dua tapak tangannya di dahi, "Injih,
Nyai... Kulo ngertos. Matur nuwun,"
"Maaf,
nduk. Tadi Mbah berbicara dengan dia yang menjagamu... Mohon ijin untuk
menjelaskan apa saja yang telah terjadi pada teman-teman kalian. Kini dengarlah...
Empat teman kalian : Pedro, Parto, Ikbal sudah meninggal, sementara, Bianca...
Sukmanya terjebak di sebuah tempat di desa ini. Mbah hanya bisa menyarankan,
jangan sampai jasadnya yang kosong itu mencium bau darah selama tiga hari ke
depan. Kalau tidak, dia dikuasai oleh sosok yang oleh para penduduk desa ini
__ADS_1
disebut lelepah, kecil kemungkinannya untuk bisa selamat," jelas Mbah
Joglo.
"Lelepah
?" tanyaku.
"Mbah...
Apa benar makhluk yang bernama lelepah itu ada ? Bukan cuma mitos ?" tanya
Yulia.
Aku memberi
isyarat pada Yulia untuk tidak berbicara sembarangan, "Maaf, Mbah... Yulia
bicara sembarangan," kataku sambil kembali berbicara, "Apakah Bianca
bisa disembuhkan ?"
"Untuk
masalah itu, Mbah akan coba sebisa mungkin... "
Pada saat
itulah, seorang pria datang, wajahnya tampak cemas dan bingung. Ia berbisik
kepada Pak Sujar dan laki-laki yang menjadi kepala desa Nakampe Gading itu
membelalakkan matanya, "Celaka !"
"Mbak
Cella...maaf, ini mengenai teman Anda yang bernama Bianca itu," kata Pak
Sujar.
"Ada apa,
pak ?"
"Sebaiknya,
kita segera kembali... Sekarang juga. Mbah, saya mohon Mbah juga ikut,
ya..." kata Pak Sujar.
*
Saat kami tiba
di rumah, halaman sudah banyak orang berkerumun. 3 orang penduduk tergeletak di
tanah dalam keadaan tubuh seperti dicabik-cabik oleh benda tajam, tubuhnya
berlumuran darah. Salah satunya bisa kami kenali, Bi Midar. Tubuh mereka
terbujur kaku, di sudut lain Bella berteriak-teriak minta tolong dan berusaha
menjatuhkan Bianca yang berada di atas punggungnya.
Keadaan Bianca
tampak mengerikan.
Kepala
membesar, kulit dahi berkerut-kerut seperti lipatan kain sementara urat nadi
bertonjolan keluar mirip cacing berwarna biru kehitaman. Sepasang matanya
terbelalak lebar, seakan hendak keluar, sementara, bola matanya menghitam. Ia
membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi yang panjang, runcing
dan senantiasa mengeluarkan air liur.
Bagi kami, itu
bukanlah Bianca yang kami kenal, dia berubah menjadi sesosok makhluk bertubuh
kurus kering, hanya berupa tulang dibungkus dengan kulit. Kuku-kukunya hitam
panjang mencengkeram kuat pada bahu Bella.
"Auw,
sakit ! Lepaskan !" teriak Bella, darah menyembur keluar, memercik ke
wajah Bianca.
Bianca
menyeringai mengerikan, ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seakan tidak
ada tulang. Sepasang matanya yang lebar dan aneh itu menatap ke leher Bella.
Aku bergidik, manakala melihat mulutnya terbuka lebar dan bergerak menyambar
batang leher Bella.
Bella memejamkan mata, pasrah akan apa yang bakal terjadi, tapi, mendadak...
"Krep !!"
Gigi-gigi itu
menancap pada sebatang bambu berwarna hitam, leher Bella berhasil diselamatkan.
Makhluk itu tampak gusar sekali, Mbah Joglo sudah berdiri sambil memandang ke
arahnya. Raungannya seakan memberitahukan bahwa ia tidak terima dengan tindakan
kakek itu. Hanya sebentar. Cengkeramannya mengendur dan sebuah gebukan ringan
pada tengkuk membuatnya lemas tak berdaya.
Bella meringis
kesakitan saat kuku-kuku makhluk itu dicabut dari bahunya, darah segar masih
mengalir keluar dari luka-lukanya. Begitu Mbah Joglo menaburkan serbuk-serbuk
putih di permukaan kulit hingga menutupi luka menganga itu. Bella menjerit
pilu, bahunya seperti terbakar. Tak tahan dengan rasa panas itu, Bella roboh
pingsan di pelukanku.
Bersambung
Babak Kelima
( Rabu, 28 Des
2022 )
update by
author
__ADS_1
Senin, 16
Januari 2023