( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB IV


__ADS_3

Pencarian atas


teman-teman kami yang menghilang, berlanjut ke desa bagian Selatan. Kami masih


ditemani oleh Pak Rusli, Pak Yunus, Pak Toni dan Pak Udin sebagai perambah


jalan. Namun, Yulia dan Bella tidak ikut, mereka menjaga Bianca yang masih


belum bisa diajak berkomunikasi.


Di lokasi ini,


kami menemukan suatu hal yang berbeda dengan lokasi sebelumnya. Sejauh mata memandang


yang tampak adalah hutan belantara. Para perambah jalan memimpin di depan


sambil sesekali membabatkan parang memotong ujung-ujung tanaman yang tumbuh


liar di depan, membersihkan jalanan dari ilalang dan tanaman liar. Begitu


seterusnya dan akhirnya, di depan mata kami membentang sebuah padang rumput


hijau dengan latar belakang gunung dan perbukitan. Udaranya begitu segar dan


sejuk dan sayup – sayup terdengar aliran sungai dari kejauhan.


“Kami menamai


tempat ini, KALI KIDUL. 10 meter di depan sana ada sebuah sungai kecil, berarus


tenang dan airnya jernih. Air itulah yang mengairi sawah – sawah di desa kami,


tapi tidak bisa langsung mengalir begitu saja, karena sekalipun berair tenang


namun, pada saat – saat tertentu, arusnya bisa menakutkan. Jadi, kami membuat


sebuah kolam yang dipergunakan untuk menampung air. Kolam itu kami beri nama


SENDANG. Itu...” jelas Pak Udin sambil menunjuk ke sebuah bangunan terbuat dari


batu bata bercat hitam.


Bulu kudukku


merinding seketika melihat bangunan itu. Mirip sekali dengan bangunan dalam


mimpiku. Hanya bangunan itu satu-satunya yang ada di Kali Kidul ini. Sebuah


gapura yang disusun dari batu kali setinggi 2 kali tinggi orang dewasa itulah


pembatas daerah tempat kami berdiri dengan bangunan itu. Lengkap dengan pernak-pernik


terbuat dari janur kuning dan lentera; sajen berisi kembang tujuh warna,


jajanan, dupa dan kopi hitam kental diletakkan di sudut-sudut tertentu. Asap


tipis melayang – layang di udara menjadi permainan hembusan angin semilir,


menebarkan aroma harum yang aneh.


“Cel, ada apa


denganmu ?” tanya Joan yang melihatku sesekali berhenti dan menepuk-nepuk  bahu yang serasa kebas dan berat, padahal aku


hanya membawa sebuah tas kecil diisi dengan beberapa cemilan yang beratnya


tidak sampai 15 gram.


Aku tersenyum,


menggelengkan kepala perlahan lalu kembali berjalan. Tidak seperti hari-hari


kemarin, hari ini, saat menginjakkan kaki di tempat ini, bahuku seperti kebas


sekali sementara, kaki-kakiku seperti diberi bandul besi yang cukup berat.


Kepalaku pening, pandanganku berkunang-kunang, seisi perutku seperti


diaduk-aduk. Dan...


“Hoekh...”


Aku menumpahkan


hampir setengah isi perutku, Joan terkejut begitu pula yang lain.


“Kenapa, kau,


Cel...” tanya Joan cemas.


Aku mengangkat


tangan kananku, “A... Aku Cuma butuh duduk sebentar,” kataku sambil mengurut


tengkukku.


“Kalau kurang


enak badan, mumpung belum jauh, kita kembali saja,” celetuk Hudi.


“Tanggung ...”


ujarku, “Sudah separuh jalan. Aku tidak apa-apa. Entahlah tubuhku mendadak


tidak bisa diajak kerja sama,” sambungku.


“Wajahmu, pucat


sekali, Cel,” kata Joan.


“Sudahlah, aku


tidak apa – apa,” bantahku sementara sepasang mataku tertuju pada sesosok


bayangan laki-laki tua serba hitam memegang tongkat bambu kuning, berdiri di


atas sebuah batu 15 meter dari tempat kami berada, menatapku iba.


“Pak Udin,”


panggilku pada Pak Udin yang berdiri paling depan. Ia menoleh lalu berkata,


“Ada apa, nak Cella,”


“Siapakah pria


berbaju hitam yang berdiri di seberang sungai sana, pak ?” tanyaku sambil


menunjuk ke arah kakek tua itu. Akan tetapi, saat Pak Udin dan yang lainnya


menoleh, ia menghilang.


“Tidak ada


siapa – siapa disana, nak,” ujar Pak Udin.


“Tidak mungkin,


pak... baru saja saya melihat di sana ada laki – laki tua berpakaian serba


hitam dan membawa tongkat bambu kuning, pak ?” jelasku.


Pak Udin

__ADS_1


menggeleng – gelengkan kepala, “Nak Cella, di Kali Kidul ini, tidak ada seorang


penduduk pun tinggal. Ini adalah salah satu tempat yang sakral bagi kami. Dan,


seberang sungai itu, bukanlah wilayah kami, hanya orang bodoh saja yang nekad


memasuki kawasan tersebut,”


“Cel... ora


usah mikir macem – macem. Piye, kowe sido melu opo ora ?” celetuk Akhmad.


“Kalau kau


sudah tidak apa – apa, mari kita lanjutkan perjalanan, keburu gelap,” ajak Pak


Udin.


Aku


menganggukkan kepala. Baru saja aku berdiri, mendadak tubuhku limbung. Joan


dengan gesit menyambarku sambil berkata, “Kita urungkan dulu pencarian hari


ini. Cel, kondisimu tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan,”


Perkataaan Joan


ini merontokkan dinding karang dalam diriku. Aku mengangguk dan kamipun segera


kembali ke rumah penginapan. “Ada apa dengan diriku ? Tidak seperti hari – hari


kemarin,” keluhku dalam hati. Anehnya, saat meninggalkan tempat itu, rasa kebas


dan berat itu hilang, tubuhku kembali stabil.


*


Pagi itu, aku,


Yulia dan Hudi diajak oleh Pak Sujar menuju ke rumah Panatua Desa Nakampe


Gading. Namanya, Mbah Joglo. Diantara rumah – rumah penduduk desa, rumah Mbah


Joglo yang terletak lebih kurang 200 meter dari rumah tempat kami menginap,


boleh dibilang, lebih bagus dan luas. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu,


aroma wangi cendana tercium saat kaki – kaki kami menapak halaman rumah


tersebut. Disana, tepatnya di teras, seorang laki – laki tua dan kurus duduk


bersila sambil menghisap sebuah cerutu. Usianya, sekitar 88 tahun. Sekalipun sudah


berusia kepala 8, namun, tak bisa kuingkari, beliau masih tampak awet muda.


Saat melihat kedatangan kami, sepasang matanya yang kecil tak berkedip


memandangi kami, tanpa ekspresi. Dingin dan tajam. Dipandangi seperti itu, kami


merasa tak enak sendiri, terlebih saat tapak – tapak kaki kami, menginjak tikar


daun pandan yang membentang di sepanjang teras. Ada hawa dingin mengalir dari


telapak kaki hingga ke ubun – ubun dan rasanya sejuk sekali.


“Kenalkan, ini


Mbah Joglo, anak – anak. Beliau adalah penduduk paling tua di desa ini.


Beliaulah yang menjaga desa ini, nak,” kata Pak Sujar. Kami pun satu persatu


memperkenalkan diri dan menyalaminya, untuk kemudian duduk.


“Mbah tahu,


datang ke desa ini,” kata Mbah Joglo.


“Ngapunten,


Mbah... memang semenjak kami datang, kami sudah dihadapkan pada peristiwa –


peristiwa di luar nalar,” kataku, “Mulai dari teman – teman saya yang


menghilang, perilaku salah satu teman saya yang linglung dan banyak hal lagi,”


“Apa yang


terjadi pada teman – teman kalian, hanya awalnya saja. Mbah tidak berharap


kalian menemui kejadian yang lebih mengerikan dari ini,”


“Sebenarnya,


apa kesalahan kami, hingga mengalami kejadian seperti ini, mbah ?”


Mbah Joglo


terdiam sesaat, ia menatapku dalam-dalam, pandangannya seakan menembusi kulit


dan dagingku, wajahku memerah karena tak biasa dipandangi oleh laki-laki


apalagi berusia lanjut itu. Kami semua merasa gelisah. Beliau memandangku tidak


kurang dari lima menit, tapi, serasa berjam-jam. Setelah itu ia memberi hormat


padaku sambil berkata.


"Ngapunten,


Nyai... Putumu Iki mboten ngertos menawi panjenengan tansah ngancani saking


kita dhateng papan menika. Keparenga, Kulo njlentrehaken kados pundi


sejatosipun, sampun kedadasan dhateng kanca-kancanipun ing papan menika,"


( Maaf, nyai...


Cucumu ini tidak mengerti kalau Anda menemaninya sejak dari kota ke tempat ini.


Ijinkan saya, untuk menjelaskan apa yang terjadi pada teman-temannya di tempat


ini ).


Setelah berkata


demikian, Mbah Joglo meletakkan dua tapak tangannya di dahi, "Injih,


Nyai... Kulo ngertos. Matur nuwun,"


"Maaf,


nduk. Tadi Mbah berbicara dengan dia yang menjagamu... Mohon ijin untuk


menjelaskan apa saja yang telah terjadi pada teman-teman kalian. Kini dengarlah...


Empat teman kalian : Pedro, Parto, Ikbal sudah meninggal, sementara, Bianca...


Sukmanya terjebak di sebuah tempat di desa ini. Mbah hanya bisa menyarankan,


jangan sampai jasadnya yang kosong itu mencium bau darah selama tiga hari ke


depan. Kalau tidak, dia dikuasai oleh sosok yang oleh para penduduk desa ini

__ADS_1


disebut lelepah, kecil kemungkinannya untuk bisa selamat," jelas Mbah


Joglo.


"Lelepah


?" tanyaku.


"Mbah...


Apa benar makhluk yang bernama lelepah itu ada ? Bukan cuma mitos ?" tanya


Yulia.


Aku memberi


isyarat pada Yulia untuk tidak berbicara sembarangan, "Maaf, Mbah... Yulia


bicara sembarangan," kataku sambil kembali berbicara, "Apakah Bianca


bisa disembuhkan ?"


"Untuk


masalah itu, Mbah akan coba sebisa mungkin... "


Pada saat


itulah, seorang pria datang, wajahnya tampak cemas dan bingung. Ia berbisik


kepada Pak Sujar dan laki-laki yang menjadi kepala desa Nakampe Gading itu


membelalakkan matanya, "Celaka !"


"Mbak


Cella...maaf, ini mengenai teman Anda yang bernama Bianca itu," kata Pak


Sujar.


"Ada apa,


pak ?"


"Sebaiknya,


kita segera kembali... Sekarang juga. Mbah, saya mohon Mbah juga ikut,


ya..." kata Pak Sujar.


*


Saat kami tiba


di rumah, halaman sudah banyak orang berkerumun. 3 orang penduduk tergeletak di


tanah dalam keadaan tubuh seperti dicabik-cabik oleh benda tajam, tubuhnya


berlumuran darah. Salah satunya bisa kami kenali, Bi Midar. Tubuh mereka


terbujur kaku, di sudut lain Bella berteriak-teriak minta tolong dan berusaha


menjatuhkan Bianca yang berada di atas punggungnya.


Keadaan Bianca


tampak mengerikan.


Kepala


membesar, kulit dahi berkerut-kerut seperti lipatan kain sementara urat nadi


bertonjolan keluar mirip cacing berwarna biru kehitaman. Sepasang matanya


terbelalak lebar, seakan hendak keluar, sementara, bola matanya menghitam. Ia


membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi yang panjang, runcing


dan senantiasa mengeluarkan air liur.


Bagi kami, itu


bukanlah Bianca yang kami kenal, dia berubah menjadi sesosok makhluk bertubuh


kurus kering, hanya berupa tulang dibungkus dengan kulit. Kuku-kukunya hitam


panjang mencengkeram kuat pada bahu Bella.


"Auw,


sakit ! Lepaskan !" teriak Bella, darah menyembur keluar, memercik ke


wajah Bianca.


Bianca


menyeringai mengerikan, ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seakan tidak


ada tulang. Sepasang matanya yang lebar dan aneh itu menatap ke leher Bella.


Aku bergidik, manakala melihat mulutnya terbuka lebar dan bergerak menyambar


batang leher Bella.


Bella memejamkan mata, pasrah akan apa yang bakal terjadi, tapi, mendadak...


"Krep !!"


Gigi-gigi itu


menancap pada sebatang bambu berwarna hitam, leher Bella berhasil diselamatkan.


Makhluk itu tampak gusar sekali, Mbah Joglo sudah berdiri sambil memandang ke


arahnya. Raungannya seakan memberitahukan bahwa ia tidak terima dengan tindakan


kakek itu. Hanya sebentar. Cengkeramannya mengendur dan sebuah gebukan ringan


pada tengkuk membuatnya lemas tak berdaya.


Bella meringis


kesakitan saat kuku-kuku makhluk itu dicabut dari bahunya, darah segar masih


mengalir keluar dari luka-lukanya. Begitu Mbah Joglo menaburkan serbuk-serbuk


putih di permukaan kulit hingga menutupi luka menganga itu. Bella menjerit


pilu, bahunya seperti terbakar. Tak tahan dengan rasa panas itu, Bella roboh


pingsan di pelukanku.


Bersambung


Babak Kelima


( Rabu, 28 Des


2022 )


update by


author

__ADS_1


Senin, 16


Januari 2023


__ADS_2