
"Srok...
srok... srok..."
Suara itu
terdengar tepat berada di depan pintu rumah dimana kami menginap. Aku
terbangun. Bella, Yulia dan Joan masih tertidur pulas. Berhubung yang terdekat
denganku adalah Joan, maka, kucoba untuk membangunkannya.
"Jo...
Jo... Joan, bangun,"
Ia menggeliat,
tampaknya ia mendengarku tapi hanya aku kecewa, bukannya bangun tapi, malah
merubah posisi tidurnya.
"Jo...
Joan, bangun," sapaku untuk kedua kali, bunyi itu semakin jelas terdengar.
"Srok....
srok... srok..."
"Joan,
bangun !" kataku setengah berteriak membuat wanita itu melompat bangun,
"Ada apa, Cel ?!" tanyanya nyaris berseru. Ia tampak kesal sekali,
namun, aku memberi isyarat agar menurunkan nada bicaranya, "Sstt,
tenanglah, apa kau tidak mendengar sesuatu ?"
Joan menghela
nafas, mencoba fokus...
"Srok...
srok.... srok....."
"Suara apa
itu ?" tanya Joan.
"Entahlah,
makanya temani aku untuk mencari tahu. Suara itu berasal dari luar,"
kataku.
"Kenapa
kamu selalu mendengar suara-suara aneh, sich ?" desah Joan kesal.
"Kalau kau
tidak mau menemaniku, biar aku sendiri yang melihatnya," ancamku.
"Baiklah...
baiklah, ayo," sahut Joan.
Kamipun turun
dari pembaringan dan perlahan-lahan menuju ke ruang depan. Ruangan itu hanya
diterangi oleh beberapa cahaya lampu minyak. Terbatas. Suara itu kembali
terdengar, kami ragu-ragu sejenak, bulu kuduk merinding namun, kalah oleh rasa
penasaran kami.
"Kelihatannya,
seperti orang mengais-ngais tanah," bisik Joan sambil meraih sebuah lampu
minyak, "Untungnya, hampir semua rumah penduduk desa ini, terbuat dari
anyaman bambu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kita
mengintip saja dari celah-celah dinding bambu ini," sambungnya sambil
mendekatkan matanya ke dinding, akupun ikut mengintip....
Tampak oleh
kami, sesosok tubuh duduk membelakangi, kurus, pakaiannya yang berwarna biru
itu compang-camping dan Kumal.
"Lho,
bukankah pakaian yang dikenakannya itu adalah seragam khas Universitas L
?" tanya Joan.
"Benar,"
sahutku, "Perawakan tubuhnya mirip dengan.... Bianca," sambungku
seraya hendak membuka pintu, tapi, Joan mencegah.
"Jangan
gegabah, Cel... tidak mungkin Bianca datang kemari, apalagi selarut ini. Kau
tahu sendiri, Bianca itu penakut,"
"Itu
Bianca, Jo..." selaku, "Kita harus menolongnya,"
"Coba kau
pikir, Cel... " tukas Joan, "Teman-teman kita sudah menghilang nyaris
seminggu, kalau itu Bianca, okelah.... tapi, kalau bukan ?" Joan meyakinkan.
"Memangnya,
siapa ? Jin, setan, dedemit ?!" kataku sambil membuka pintu dan
menghampiri sosok itu.
Aku tersentak,
sosok itu memang Bianca. Ia sedang mengais-ngais tanah. Badannya penuh debu dan
bau, rambutnya kusut, ia tampak seperti orang linglung dan tak menyadari
kehadiranku. Dia terus mengais-ngais tanah, sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Bi...
__ADS_1
Bianca, kemana saja kau selama ini," sapaku. Dia tidak menjawab, tangannya
terus mengais dan mengais seakan tidak peduli tangannya menghitam, " Hentikan,
Bi... kenapa kau ini ?!" seruku.
Tidak ada
jawaban, ia benar-benar tidak mengenaliku rupanya, "Jo... Jo, kemarilah,
dia benar-benar Bianca," seruku, "Tampaknya dia mengalami
amnesia,"
Joan segera
keluar dan menghampiri kami, membantu Bianca berdiri dan memapahnya masuk.
Keributan kecil
itu membangunkan Bella, Yulia dan yang lain. Mereka terkejut, heran bercampur
senang sebab, kami sudah mencarinya kemana-mana, namun, tidak menemukannya
setelah nyaris 1 Minggu menghilang.
Mereka
mengajukan berbagai macam pertanyaan secara beruntun, tapi, Bianca bagai
kehilangan rohnya. Aku jadi frustasi sendiri.
"Kalian,
diamlah ! Apa kalian tidak bisa melihat kondisi Bianca ?!" bentakanku itu
cukup untuk mendiamkan cowok-cowok cerewet itu, khususnya, Akhmad yang bicara
sembarangan.
"Cel...,"
sapa Yulia, "Mungkin sebaiknya kau basuh dia dulu, dia begitu kusut sekali
dan maaf, tubuhnya kotor dan bau sekali,"
"Kau
benar, Yulia... bantu aku memasak air, ya ?" pintaku. Yulia mengangguk
lalu bergegas ke dapur.
*
"Jo, tubuh
Bianca, banyak sekali bekas sayatan," kataku pada Joan.
Bianca sudah
tertidur. Joan, Yulia dan Bella saling pandang.
"Aku tak
habis pikir, apa yang membuatnya jadi seperti orang tolol dan hilang ingatan...
padahal kita tahu sendiri bagaimana Bianca sewaktu di sekolah. Cerdas dan penuh
dengan ide-ide kreatif," sahut Yulia.
Kami beriringan
masuk ke dalam kamar dimana ia berbaring. Bianca tertidur pulas, rongga dada
Nafasnya memburu.
"Dengan
kondisinya yang seperti ini, kita tidak bisa mengetahui apa yang terjadi
padanya juga teman-teman..." ujar Bella.
"Aku kok
jadi teringat dengan ucapan Pak Udin tentang lelepah dan Bajang. Apakah memang
makhluk itu ada di tempat ini ?" tanya Yulia.
"Jangan
bodoh, Yul... itu cuma mitos saja," sanggah Joan.
"Lalu,
bagaimana dengan sesajen yang nyaris ada hampir di setiap sudut rumah dan
luka-luka bekas sayatan di tubuh Bianca ?" tanyaku, "Patut kalian
ketahui, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, aku merasa
aneh," sambungku.
"Aneh,
bagaimana ? Toh, kamu pertama kali berada di tempat ini, kau pingsan selama 2
hari," ujar Joan.
Aku menatap
Joan dalam-dalam, seakan tak ingin beralih dari Si Lucy Lawless versi universitas
L. Banyak kejadian aneh yang menimpaku saat memulihkan diri dan tak ingin
menceritakannya pada mereka karena takut membuat mereka cemas, khawatir ataupun
ketakutan. Termasuk, Joan. Tapi, tampaknya, aku harus menjelaskan semuanya pada
mereka.
Aku memberi
isyarat pada mereka untuk mengikutiku ke ruang tamu. Setelah memastikan tidak
ada orang lain lagi yang mendengar, mengintip atau melihat kami
berbincang-bincang, aku mulai bercerita tentang apa sebenarnya yang telah
kualami.
Aku bercerita
tentang pertemuanku dengan sosok mengerikan yang tengah memakan daging manusia
dan juga pertemuanku dengan Pedro. Sekalipun hanya mimpi namun seperti nyata.
Joan dan yang hanya memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, tanpa respon
atau komentar apapun, bagiku tanggapan mereka biasa-biasa saja. Akan tetapi,
inilah yang membuat mereka serius untuk mendengarkan.
__ADS_1
*
Pada hari
keempat, setelah aku sadar dari pingsanku Bi Mindar pernah mengatakan padaku
kalau Bianca, Ikbal, Parto dan Pedro meninggal. Tapi, pada kenyataannya, Bianca
mendadak muncul kembali dalam keadaan linglung. Dia tak mengenali siapapun
termasuk dirinya sendiri, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan bekas luka
sayatan. Ini belum bisa diketahui penyebabnya. Banyak misteri yang menyelimuti
menghilang dan kembalinya Bianca. Aku berharap, Bianca bisa pulih seperti sedia
kala, agar kami tahu peristiwa yang menimpanya.
Namun, yang
membuatku merasa tidak betah berada di tempat ini adalah ....
kemanapun aku
pergi, bagian tengkuk dan bahuku serasa berat dan kebas. Itu terjadi saat aku
berada di lokasi tempat kami mengalami kecelakaan, juga, tempat-tempat yang
terdapat sesajen.
Hingga pada
suatu malam, saat aku sedang berbaring. Ada sepasang tangan membelai-belai
rambutku. Belaian itu begitu dingin, sampai sekarang pun masih terasa. Hawa
dingin merayapi ubun-ubun hingga ujung jari- jemari kakiku, padahal itu sudah
lewat beberapa hari yang lalu.
Saat aku
membuka mata, tampak seorang wanita tua bertubuh bongkok, berkebaya merah
dengan jarik mengikat pinggangnya. Sebuah tusuk konde berwarna kuning keemasan
dengan ukuran burung merpati menancap di rambutnya yang kelabu dan digelung. Ia
tampak anggun, tapi, aku merasa tidak nyaman adalah tidak ada bola mata di
dalam kelopak matanya yang putih. Ia menatapku, entah marah, entah senang atau
apa dan kedua tapak tangannya memegang pipi kanan-kiriku, dan....
Sebuah cahaya
putih menyilaukan, membuatku harus menutup mataku untuk beberapa detik dan saat
membuka mataku, aku sudah berada di tempat asing.
Di hadapanku,
lebih kurang 10 meter dari tempat aku berdiri, tampak sebuah bangunan persegi
panjang dengan dinding batu kali. Nenek tua itu mendadak sudah berdiri di
hadapanku dengan kedua tangan di punggungnya. Dia berjalan tertatih-tatih,
sesekali memandang ke arahku, seakan menyuruhku untuk mengikutinya. Maka, bagai
digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, kaki- kaki ini melangkah
perlahan. Langkah kakiku terhenti di sebuah pintu setinggi dua meter terpampang
di hadapanku. Bercat hitam legam dan ada hawa aneh mengalir dari permukaannya.
Pintu
terpentang lebar. Di dalam ruangan tersebut aku melihat, ada lebih kurang 20
orang, pria dan wanita mengenakan baju tipis berwarna putih tengah menyembah
sebuah patung raksasa berwarna hitam legam bentuknya aneh dan mengerikan.
Patung itu
tampak hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya. Bertanduk empat,
sepasang mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka, memperlihatkan
deretan gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna merah darah.
Bertangan sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam benda, 2
diantaranya diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala manusia,
jantung, pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir.
Namun, aku
bergidik saat orang-orang di dalam ruangan tersebut memalingkan wajah,
memandangiku dengan tatapan hampa dan kosong.
Cairan kental
berwarna merah membasahi mulut dan pakaian mereka. Masing-masing membawa
segumpal daging dan anggota tubuh manusia dimana terdapat bekas gigitan dan
cabikan. Bau amis, anyir dan busuk menggelitik hidungku, membuat perutku serasa
diaduk-aduk. Lututku serasa lemas tak bertenaga, kepalaku pening dan
pandanganku kabur. Akupun roboh tak sadarkan diri, begitu membuka mataku, aku
sudah berada di kamar tidur, nenek tua itu hanya memandangiku dengan kedua
tangan tersembunyi di balik punggungnya.
"Nduk,
mumpung isih ana wektu ... Kowe lan kanca- kancamu, kudu enggal lunga saka
papan Iki. Mbebayani,"
( Nduk, selagi
masih ada waktu, kau dan teman-temanmu harus segera pergi dari tempat ini.
Berbahaya).
Itulah
kata-katanya, sebelum nenek itu menghilang dari pandanganku.
Beberapa hari
kemudian Hudi datang dan menyampaikan hal yang sama seperti yang diperlihatkan
oleh nenek tersebut.
__ADS_1
____ Bersambung ____