( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB III


__ADS_3

"Srok...


srok... srok..."


Suara itu


terdengar tepat berada di depan pintu rumah dimana kami menginap. Aku


terbangun. Bella, Yulia dan Joan masih tertidur pulas. Berhubung yang terdekat


denganku adalah Joan, maka, kucoba untuk membangunkannya.


"Jo...


Jo... Joan, bangun,"


Ia menggeliat,


tampaknya ia mendengarku tapi hanya aku kecewa, bukannya bangun tapi, malah


merubah posisi tidurnya.


"Jo...


Joan, bangun," sapaku untuk kedua kali, bunyi itu semakin jelas terdengar.


"Srok....


srok... srok..."


"Joan,


bangun !" kataku setengah berteriak membuat wanita itu melompat bangun,


"Ada apa, Cel ?!" tanyanya nyaris berseru. Ia tampak kesal sekali,


namun, aku memberi isyarat agar menurunkan nada bicaranya, "Sstt,


tenanglah, apa kau tidak mendengar sesuatu ?"


Joan menghela


nafas, mencoba fokus...


"Srok...


srok.... srok....."


"Suara apa


itu ?" tanya Joan.


"Entahlah,


makanya temani aku untuk mencari tahu. Suara itu berasal dari luar,"


kataku.


"Kenapa


kamu selalu mendengar suara-suara aneh, sich ?" desah Joan kesal.


"Kalau kau


tidak mau menemaniku, biar aku sendiri yang melihatnya," ancamku.


"Baiklah...


baiklah, ayo," sahut Joan.


Kamipun turun


dari pembaringan dan perlahan-lahan menuju ke ruang depan. Ruangan itu hanya


diterangi oleh beberapa cahaya lampu minyak. Terbatas. Suara itu kembali


terdengar, kami ragu-ragu sejenak, bulu kuduk merinding namun, kalah oleh rasa


penasaran kami.


"Kelihatannya,


seperti orang mengais-ngais tanah," bisik Joan sambil meraih sebuah lampu


minyak, "Untungnya, hampir semua rumah penduduk desa ini, terbuat dari


anyaman bambu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kita


mengintip saja dari celah-celah dinding bambu ini," sambungnya sambil


mendekatkan matanya ke dinding, akupun ikut mengintip....


Tampak oleh


kami, sesosok tubuh duduk membelakangi, kurus, pakaiannya yang berwarna biru


itu compang-camping dan Kumal.


"Lho,


bukankah pakaian yang dikenakannya itu adalah seragam khas Universitas L


?" tanya Joan.


"Benar,"


sahutku, "Perawakan tubuhnya mirip dengan.... Bianca," sambungku


seraya hendak membuka pintu, tapi, Joan mencegah.


"Jangan


gegabah, Cel... tidak mungkin Bianca datang kemari, apalagi selarut ini. Kau


tahu sendiri, Bianca itu penakut,"


"Itu


Bianca, Jo..." selaku, "Kita harus menolongnya,"


"Coba kau


pikir, Cel... " tukas Joan, "Teman-teman kita sudah menghilang nyaris


seminggu, kalau itu Bianca, okelah.... tapi, kalau bukan ?" Joan meyakinkan.


"Memangnya,


siapa ? Jin, setan, dedemit ?!" kataku sambil membuka pintu dan


menghampiri sosok itu.


Aku tersentak,


sosok itu memang Bianca. Ia sedang mengais-ngais tanah. Badannya penuh debu dan


bau, rambutnya kusut, ia tampak seperti orang linglung dan tak menyadari


kehadiranku. Dia terus mengais-ngais tanah, sepertinya sedang mencari sesuatu.


"Bi...

__ADS_1


Bianca, kemana saja kau selama ini," sapaku. Dia tidak menjawab, tangannya


terus mengais dan mengais seakan tidak peduli tangannya menghitam, " Hentikan,


Bi... kenapa kau ini ?!" seruku.


Tidak ada


jawaban, ia benar-benar tidak mengenaliku rupanya, "Jo... Jo, kemarilah,


dia benar-benar Bianca," seruku, "Tampaknya dia mengalami


amnesia,"


Joan segera


keluar dan menghampiri kami, membantu Bianca berdiri dan memapahnya masuk.


Keributan kecil


itu membangunkan Bella, Yulia dan yang lain. Mereka terkejut, heran bercampur


senang sebab, kami sudah mencarinya kemana-mana, namun, tidak menemukannya


setelah nyaris 1 Minggu menghilang.


Mereka


mengajukan berbagai macam pertanyaan secara beruntun, tapi, Bianca bagai


kehilangan rohnya. Aku jadi frustasi sendiri.


"Kalian,


diamlah ! Apa kalian tidak bisa melihat kondisi Bianca ?!" bentakanku itu


cukup untuk mendiamkan cowok-cowok cerewet itu, khususnya, Akhmad yang bicara


sembarangan.


"Cel...,"


sapa Yulia, "Mungkin sebaiknya kau basuh dia dulu, dia begitu kusut sekali


dan maaf, tubuhnya kotor dan bau sekali,"


"Kau


benar, Yulia... bantu aku memasak air, ya ?" pintaku. Yulia mengangguk


lalu bergegas ke dapur.


*


"Jo, tubuh


Bianca, banyak sekali bekas sayatan," kataku pada Joan.


Bianca sudah


tertidur. Joan, Yulia dan Bella saling pandang.


"Aku tak


habis pikir, apa yang membuatnya jadi seperti orang tolol dan hilang ingatan...


padahal kita tahu sendiri bagaimana Bianca sewaktu di sekolah. Cerdas dan penuh


dengan ide-ide kreatif," sahut Yulia.


Kami beriringan


masuk ke dalam kamar dimana ia berbaring. Bianca tertidur pulas, rongga dada


Nafasnya memburu.


"Dengan


kondisinya yang seperti ini, kita tidak bisa mengetahui apa yang terjadi


padanya juga teman-teman..." ujar Bella.


"Aku kok


jadi teringat dengan ucapan Pak Udin tentang lelepah dan Bajang. Apakah memang


makhluk itu ada di tempat ini ?" tanya Yulia.


"Jangan


bodoh, Yul... itu cuma mitos saja," sanggah Joan.


"Lalu,


bagaimana dengan sesajen yang nyaris ada hampir di setiap sudut rumah dan


luka-luka bekas sayatan di tubuh Bianca ?" tanyaku, "Patut kalian


ketahui, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, aku merasa


aneh," sambungku.


"Aneh,


bagaimana ? Toh, kamu pertama kali berada di tempat ini, kau pingsan selama 2


hari," ujar Joan.


Aku menatap


Joan dalam-dalam, seakan tak ingin beralih dari Si Lucy Lawless versi universitas


L. Banyak kejadian aneh yang menimpaku saat memulihkan diri dan tak ingin


menceritakannya pada mereka karena takut membuat mereka cemas, khawatir ataupun


ketakutan. Termasuk, Joan. Tapi, tampaknya, aku harus menjelaskan semuanya pada


mereka.


Aku memberi


isyarat pada mereka untuk mengikutiku ke ruang tamu. Setelah memastikan tidak


ada orang lain lagi yang mendengar, mengintip atau melihat kami


berbincang-bincang, aku mulai bercerita tentang apa sebenarnya yang telah


kualami.


Aku bercerita


tentang pertemuanku dengan sosok mengerikan yang tengah memakan daging manusia


dan juga pertemuanku dengan Pedro. Sekalipun hanya mimpi namun seperti nyata.


Joan dan yang hanya memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, tanpa respon


atau komentar apapun, bagiku tanggapan mereka biasa-biasa saja. Akan tetapi,


inilah yang membuat mereka serius untuk mendengarkan.

__ADS_1


*


Pada hari


keempat, setelah aku sadar dari pingsanku Bi Mindar pernah mengatakan padaku


kalau Bianca, Ikbal, Parto dan Pedro meninggal. Tapi, pada kenyataannya, Bianca


mendadak muncul kembali dalam keadaan linglung. Dia tak mengenali siapapun


termasuk dirinya sendiri, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan bekas luka


sayatan. Ini belum bisa diketahui penyebabnya. Banyak misteri yang menyelimuti


menghilang dan kembalinya Bianca. Aku berharap, Bianca bisa pulih seperti sedia


kala, agar kami tahu peristiwa yang menimpanya.


Namun, yang


membuatku merasa tidak betah berada di tempat ini adalah ....


kemanapun aku


pergi, bagian tengkuk dan bahuku serasa berat dan kebas. Itu terjadi saat aku


berada di lokasi tempat kami mengalami kecelakaan, juga, tempat-tempat yang


terdapat sesajen.


Hingga pada


suatu malam, saat aku sedang berbaring. Ada sepasang tangan membelai-belai


rambutku. Belaian itu begitu dingin, sampai sekarang pun masih terasa. Hawa


dingin merayapi ubun-ubun hingga ujung jari- jemari kakiku, padahal itu sudah


lewat beberapa hari yang lalu.


Saat aku


membuka mata, tampak seorang wanita tua bertubuh bongkok, berkebaya merah


dengan jarik mengikat pinggangnya. Sebuah tusuk konde berwarna kuning keemasan


dengan ukuran burung merpati menancap di rambutnya yang kelabu dan digelung. Ia


tampak anggun, tapi, aku merasa tidak nyaman adalah tidak ada bola mata di


dalam kelopak matanya yang putih. Ia menatapku, entah marah, entah senang atau


apa dan kedua tapak tangannya memegang pipi kanan-kiriku, dan....


Sebuah cahaya


putih menyilaukan, membuatku harus menutup mataku untuk beberapa detik dan saat


membuka mataku, aku sudah berada di tempat asing.


Di hadapanku,


lebih kurang 10 meter dari tempat aku berdiri, tampak sebuah bangunan persegi


panjang dengan dinding batu kali. Nenek tua itu mendadak sudah berdiri di


hadapanku dengan kedua tangan di punggungnya. Dia berjalan tertatih-tatih,


sesekali memandang ke arahku, seakan menyuruhku untuk mengikutinya. Maka, bagai


digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, kaki- kaki ini melangkah


perlahan. Langkah kakiku terhenti di sebuah pintu setinggi dua meter terpampang


di hadapanku. Bercat hitam legam dan ada hawa aneh mengalir dari permukaannya.


Pintu


terpentang lebar. Di dalam ruangan tersebut aku melihat, ada lebih kurang 20


orang, pria dan wanita mengenakan baju tipis berwarna putih tengah menyembah


sebuah patung raksasa berwarna hitam legam bentuknya aneh dan mengerikan.


Patung itu


tampak hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya. Bertanduk empat,


sepasang mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka, memperlihatkan


deretan gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna merah darah.


Bertangan sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam benda, 2


diantaranya diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala manusia,


jantung, pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir.


Namun, aku


bergidik saat orang-orang di dalam ruangan tersebut memalingkan wajah,


memandangiku dengan tatapan hampa dan kosong.


Cairan kental


berwarna merah membasahi mulut dan pakaian mereka. Masing-masing membawa


segumpal daging dan anggota tubuh manusia dimana terdapat bekas gigitan dan


cabikan. Bau amis, anyir dan busuk menggelitik hidungku, membuat perutku serasa


diaduk-aduk. Lututku serasa lemas tak bertenaga, kepalaku pening dan


pandanganku kabur. Akupun roboh tak sadarkan diri, begitu membuka mataku, aku


sudah berada di kamar tidur, nenek tua itu hanya memandangiku dengan kedua


tangan tersembunyi di balik punggungnya.


"Nduk,


mumpung isih ana wektu ... Kowe lan kanca- kancamu, kudu enggal lunga saka


papan Iki. Mbebayani,"


( Nduk, selagi


masih ada waktu, kau dan teman-temanmu harus segera pergi dari tempat ini.


Berbahaya).


Itulah


kata-katanya, sebelum nenek itu menghilang dari pandanganku.


Beberapa hari


kemudian Hudi datang dan menyampaikan hal yang sama seperti yang diperlihatkan


oleh nenek tersebut.

__ADS_1


____ Bersambung ____


__ADS_2