( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB VII


__ADS_3

 “Sring .... Ssrriinngg....


Sssrrriiinnnggg...”


Suara itu


terdengar dari halaman belakang, telingaku seperti dimasuki sebilah benda tajam


menembus gendang telinga, membuat bulu tengkukku seakan dibelai – belai sesuatu


yang dingin dan aneh. Merinding. Suara itu mengganggu sekali, padahal ini masih


subuh. Memang, hari ini aku dan Joan berencana untuk menuju ke MAKAM KERAMAT,


tapi, ini terlalu pagi untuk berangkat dan aku perlu istirahat untuk


mengembalikan tenagaku beberapa jam lagi.


Dengan malas


aku bangun, turun dari pembaringan dan berjalan berjingkat – jingkat menuju ke


halaman belakang.


“Ssssrrrriiiinnnngggg


.....”


Suara itu makin


lama, makin terdengar kencang, terlebih saat kaki – kaki ini terhenti di depan


pintu bambu yang terbuka sedikit. Aku mendorong pintu itu. Titik api pada sumbu


lampu minyak yang sesekali membesar tertiup angin ditambah lagi cahaya lampu


minyak tak jauh dari sumur, cukup bagiku untuk melihat suasana di halaman


belakang.


Tak jauh dari


sumur, ada sebuah meja kayu. Di atasnya banyak sekali pisau – pisau dengan


berbagai macam bentuk dan ukuran. Mata pisaunya tampak tajam berkilat – kilat


dan Joan duduk pada salah satu sisi meja sambil mengasah sebuah pisau panjang


mirip parang. Sekalipun mata pisau sudah tampak tajam berkilat – kilat, Joan


masih terus mengasahnya. Ia sepertinya tak mendengar kedatanganku. Tapi ....


“Mengapa kau


bangun, Cel ? Kita berangkat setelah adzan... masih beberapa jam lagi,” kata


Joan, ia masih terus mengasah.


 “Kau sendiri, apa yang akan kauperbuat dengan


pisau – pisau itu ?” tanyaku.


“Perbuatan para


penduduk desa ini kepada Bianca dan teman – teman ... kejam sekali,” kata Joan


sementara sepasang matanya tetap mengamati mata parang yang membuatnya tampak


mengerikan.


“Joan, jangan


macam – macam. Kita ini Cuma tamu,” kataku, “Istighfar, Jo ... Istighfar.


Jangan sampai hatimu dibakar oleh perasaan dendam,”


“Istighfar,


katamu ?!!” ujar Joan dengan nada tinggi, sementara parang yang dipegangnya


diayunkan ke salah satu sisi meja. Mata pisau menancap dalam sekali, ia benar –


benar tampak geram, “Bagaimana dengan mereka itu ? Bukankah kau tahu sendiri,


apa yang terjadi di tempat bernama Sendang itu. Bagaimana jika nasib Bianca itu


menimpa teman – teman yang lain ? Masihkah kita berpikir tentang Istighfar, ha


?! Tidak. Mereka harus turut merasakan apa yang dirasakan Bianca dan yang lain


? Dan, pisau – pisau inilah yang akan meminta keadilan untuk Bianca dan yang


lain,”


“Tapi ...


haruskah kita berbuat nekad ?” tanyaku.


“Jika


seandainya mereka tidak mencari masalah dengan kita terlebih dahulu, aku tak


akan nekad. Tapi, mereka telah mencari perkara dengan kita, haruskah kita


berdiam diri saja ?! Tidak, aku harus menuntut pertanggungan jawab pada mereka.


Hutang nyawa dibayar dengan nyawa," tandas Joan sambil mencabut parangnya.


Setelah itu


ditatapnya aku dengan tatapan dingin, "Aku melakukan ini demi untuk


keselamatan kita semua. Aku tak ingin kalian pun menjadi kebiadaban orang-orang


desa terkutuk ini. Nah, jika kau jadi ikut aku berangkat ke Makam Keramat,


kembalilah tidur. Aku masih harus mengasah beberapa pisau lagi," katanya.


"Aku


takkan memperbolehkan mu berangkat ke Makam Keramat tersebut jika hatimu masih


diliputi oleh rasa dendam," sanggahku.


"Pengecut


! Sekalipun kau mencegahku, aku akan tetap pergi !" bentak Joan sambil


meraih pisau-pisau yang tertata di meja itu dan memasukkannya ke dalam tas


khusus dan hendak melangkah meninggalkan halaman belakang, namun aku


menghadangnya.


"Tunggu,


Jo..."


Joan


menghentikan langkah-langkahnya, ia menatapku tajam sekali, "Minggir, kau,


Cel..."


"Jo... Aku


tak ingin berdebat ataupun membiarkan kita semua celaka. Tapi, tolong gunakan


akal sehatmu,"


Keributan itu


membangunkan teman-teman, mereka semua berdiri di ambang pintu sambil menatap


kami.


"Jika kau


pergi dan celaka .... Siapa yang akan melindungi dan menjaga kami, Joan ?"


Yulia berjalan menghampiri, "Diantara kami, kaulah yang paling


berpengalaman dalam menghadapi situasi yang genting, seperti sekarang ini. Kami


membutuhkanmu, Jo,"


"Kemampuan


Taekwondo -mu, sudah terkenal seantero dunia... Kami semua tahu itu. Tapi, kami


.... Tidak tahu menahu mengenai taekwondo, pencak silat atau sejenisnya,"


sambung Bella dengan suara gemetar. Ia masih lemah, wajahnya pucat bak kertas.


Luka yang didapat dari Bianca, nyaris merenggut nyawanya.


"Semisal


kau pergi sekarang... Jika terjadi apa-apa padamu, bagaimana nasib kami yang


diibaratkan domba dikelilingi oleh sekawanan serigala kelaparan ? Apa tidak

__ADS_1


mungkin jika mereka menjadikan daging kami sebagai lauk pauknya ?" sambung


Akhmad.


Pandangan


memelas dari teman-teman, tampaknya meluluhkan kekerasan hati Joan, ia terdiam


seribu bahasa.


"Sorry,


guys... Membuat kalian khawatir. Bianca sudah kuanggap seperti adik sendiri,


tidak terima atas apa yang menimpanya juga Pedro, Parto dan Ikbal. Mereka semua


bagai keluarga, tapi, harus mengalami nasib naas. Mengapa orang baik selalu


terkena musibah ?!" ujar Joan dengan suara gemetar. Dalam hati aku


bersyukur, teman-teman bisa melunakkan hatinya yang terbakar dendam. Aku tahu


persis, jika ia nekad, ia akan celaka... Terlebih-lebih kami semua.


***


"Mereka


yang sudah terluka parah, kritis ataupun meninggal saat kecelakaan itu terjadi,


dianggap pembawa malapetaka atau sial oleh penduduk desa ini. Sementara, yang


mengalami luka ringan, dianggap sebagai manusia yang lolos dari Kematian.


Itulah biasanya yang dijadikan tumbal untuk Angkara Murka. Upacara atau ritual


TAPA BRATA, YOGA SAMADHI di desa ini berbeda dengan desa lain. Ritual itu pasti


menumbalkan seseorang. Entah itu para pendatang, gadis muda ataupun ibu hamil.


Dilakukan saat malam purnama tiba. Karena para gadis muda, ibu hamil dan para


pendatang sudah tidak ada, maka, yang dijadikan tumbal adalah hewan ternak.


Mbah Buluk khawatir, mereka memperlakukan kalian dengan sangat baik dan ramah


bisa jadi kelak kalianlah yang akan dijadikan tumbal seperti yang menimpa


teman-teman kalian itu,"


Penjelasan Mbah


Buluk tersebut membuat kami ingin segera pergi dari desa ini, tetapi, sebelum


itu... Kami harus memastikan apakah yang dikatakan Mbah Buluk, benar adanya.


Kalau benar, maka, kami akan membawa serta abu jenazah Pedro, Parto dan Ikbal.


MAKAM KERAMAT,


terletak di sebelah Utara desa ini. Selain rerumputan hijau tumbuh menyebar di


sepanjang jalan, kanan-kiri berjejer pohon-pohon randu yang berukuran raksasa.


Tingginya bahkan mencapai lebih dari 80 meter. Bentuknya pun aneh-aneh. Bagian


perut pohon sampai akar penopangnya seperti dibelah-belah menjadi beberapa


bagian. Sebagian akarnya tumbuh tak beraturan, melingkar dan menjorok masuk ke


dalam tanah...  Mirip seekor ular raksasa


yang menyembunyikan sebagian badannya ke dalam tanah.


Bentuk pohon


yang aneh dan seakan menebarkan hawa aneh itu membuatku dan Joan seakan berada


di dunia lain. Tak heran para penduduk menyebut wilayah bagian Utara adalah


lokasi yang paling keramat diantara lokasi lain. Terlebih di depan sana,


jalanan masih tertutup oleh kabut tebal melayang-layang di udara membawa


sisa-sisa udara malam yang dingin dan menyelimuti Nakampe Gading dan


sekitarnya. Berbekal senter di tangan, kami menelusuri jalanan berumput hijau


itu.


Kami berhenti


kali bercat merah darah. 2 janur kuning terikat pada sisi kanan dan kiri gapura


itu. Beberapa nampan berisi kembang tujuh warna, secangkir kopi kental berwarna


hitam pekat, beberapa makanan tradisional, buah-buahan dan batangan-batangan


dupa diletakkan pada sisi kiri gapura. Asap putih tipis bercampur kabut


menyebar ke berbagai penjuru mata angin, menebarkan aroma aneh, menggelitik


rongga hidung membuat bulu kudukku merinding.


"Jangan


sekali-kali kalian memasuki wilayah Utara desa ini, tidak ada apa-apa disana


selain makam. Kami menamai daerah itu Makam Keramat, hanya para panatua desa


ini yang diijinkan memasukinya,"


Ucapan Pak


Sujar itu mendadak terngiang-ngiang di telingaku, membuatku ragu sejenak.


Aku mengalihkan


pandanganku ke sekeliling. Jalanan itu hanya rerumputan berwarna hijau,


bagaikan permadani. Di depan sana masih berselimutkan kabut tebal, seolah


menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh sembarangan orang tahu. Hingga sebuah


tepukan keras pada bahu kanan membuatku tersentak.


"Hei, apa


yang kau lamunkan. Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi, kau seakan tidak


mendengarnya. Kita sudah sampai di pintu masuk Makam Keramat. Kenapa mendadak


kau jadi ragu-ragu, Cel ? Bagaimana ? Dilanjutkan atau tidak ?" tanya


Joan.


"Kita


sudah sampai di tempat ini, tidak boleh putus di tengah jalan," kataku.


Kami kembali


melangkah, jalanan yang kami lalui semakin lama semakin menanjak. Apapun yang


terjadi, itulah resiko yang harus kami tanggung demi menyelamatkan teman-teman.


Di tempat


ini....


Tak ada satupun


rumah penduduk, pohon randu sudah tidak ada lagi digantikan dengan pohon


Kamboja. Sejak memasuki pintu masuk, tubuh bagian belakangku mulai terasa panas


dan berat. Aku berusaha mengabaikannya. Dalam keadaan seperti itu, perjalanan


serasa lama dan panjang sekali.


Aku menghela


nafas panjang saat, 5 meter di depan, tampak gundukan-gundukan tanah dengan


patok-patok batu nisan terbuat dari marmer. 3 diantaranya dibungkus dengan kain


berwarna merah, berukuran lebih kecil, mirip makam bayi dibandingkan dengan


ketujuh puluh yang lain. Hatiku terenyuh melihatnya.


"Tak ada


waktu untuk berduka, Cel..." hibur Joan, "Ayo, lakukan tugas kita,


jangan buang-buang waktu lagi," sambungnya sambil menoleh kesana kemari,


memastikan kalau tak ada orang lain lagi di tempat itu, "Gali, ambil dan


segera pergi dari sini," ia menurunkan tas punggungnya dan mengeluarkan


beberapa alat penggali tanah. Dengan cekatan ia mulai menggali makan itu,

__ADS_1


akupun membantunya.


"Ooeekk...


Oooeeekkk.... Ooooeeeekkkk...."


Suara itu


terdengar menggema, seakan memenuhi Makam Keramat dan sekitarnya, aku


menghentikan pekerjaanku tetapi, Joan memberi isyarat agar aku mengabaikan


suara tersebut.


"Ooeekk...


Oooeeekkk.... Ooooeeeekkkk...."


Suara itu makin


lama makin keras, terdengar dekat sekali tapi jauh... Jauh tapi dekat, memecahkan


konsentrasiku. Joan menatapku dalam-dalam lalu berkata, "Pergunakan logikamu,


Cel... Di tengah makam ini tidak ada rumah penduduk satu unit pun, mungkinkah


ada bayi disini ? Jangan sampai kau terpengaruh,"


Namun, suara


tangis bayi itu terdengar lebih keras lagi dan di sela-sela suara itu terdengar


pula suara seperti Geraman harimau. Geraman itu  terdengar tepat di belakang kami, menghentikan suara tangis tersebut.


Setelah suara bayi itu menghilang, menghilang juga suara Geraman harimau


tersebut.


Baik aku dan


Joan tercekat, kami mencoba mengabaikannya hingga kami merasakan peralatan kami


menyentuh sesuatu. Sebuah guci tertutup kain putih kecoklatan. Kami segera


membukanya dan ...


Guci itu


menyimpan sebuah abu dan beberapa sisa-sisa tulang belulang.


"Kita


sudah menemukannya," kata Joan girang, "Jangan sampai orang-orang


tahu bahwa makam ini dibongkar. Kita harus segera merapikannya,"


Pekerjaan kami


kembali terhenti manakala mendengar suara harimau menggeram lagi. Aku yang tak


bisa menahan rasa penasaran, buru-buru membalikkan badan. Dan....


"Ha....


Ha.... Ha... Harimau Kumbang," kataku terbata-bata, lututku lemas seketika


dan jatuh terduduk.


"Besar


sekali. Darimana datangnya ?!" seru Joan tak kalah kagetnya.


"Tamatlah


riwayat kita," kataku putus asa.


Harimau


berwarna hitam itu berdiri sambil memandang tajam ke arah kami, mulutnya


menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya yang putih dan runcing. Kami tak


bisa berbuat apa-apa hanya waspada bersiap menghadapi segala kemungkinan yang


ada terlebih saat ia berjalan mendekat.


Joan menarikku


ke punggungnya, memasang kuda-kuda guna mempertahankan diri jikalau harimau itu


menyerang tiba-tiba.


Di luar dugaan,


saat hewan itu berada di dekat kami, ia mengendus guci-guci yang tertutup oleh


kain kafan itu satu persatu. Ia menginjak-injak tanah tempat dimana 3 guci itu


terkubur dengan kaki-kakinya.


Heran, makam


yang kami gali mendadak saja kembali ke asal, seperti saat sebelum kami gali.


Harimau kumbang itu duduk sementara sepasang matanya menatap ke arah guci dan


perlahan-lahan kepalanya terangkat, berhenti pada tas punggung kami. Aku meraih


guci-guci itu dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah guci-guci tersebut


tersimpan rapi, harimau kumbang itu berdiri. Begitu berada di dekat kami, ia


merendahkan tubuhnya. Gerakannya seakan memberi isyarat pada kami untuk naik ke


punggungnya. Seumur hidup kami, kami selalu menjaga jarak pada binatang buas


terlebih hewan berkaki empat. Itulah sebabnya, tubuh kami gemetar tak keruan


manakala ada hewan berkaki empat mengikis jarak dengan kami. Kami ketakutan.


Harimau itu


menggeram keras, seakan ia tidak ingin kemauannya kami tolak. Tak dapat


dibayangkan bagaimana perasaan kami waktu itu. Kami tak bersuara demikian pula


harimau itu, yang terdengar hanyalah detak jantung diatas normal dan nafas


memburu. Sunyi mencekam itulah yang terjadi.


Namun,


kesunyian itu pecah oleh suara menggema dari kejauhan... Suara tangis bayi


terdengar lagi. Kali ini suaranya bagaikan lolong kesakitan dan sepasang tatap


mata harimau kumbang itu kali ini lebih tajam ke arah kami... Ia kembali


menggeram saat dari jauh tampak titik-titik hitam aneh mendekat. Harimau itu


tampak resah sekali, melihat keraguan kami sementara wujud titik-titik hitam


itu makin terlihat dengan jelas. Kami harus segera pergi dari sini.


"Apa boleh


buat, Jo... Coba kita naiki saja punggung harimau ini daripada menambah masalah


lebih rumit," kataku.


Joan mengangguk


setuju, kamipun segera naik ke punggung harimau kumbang itu dengan berbagai


macam perasaan bercampur aduk jadi satu, terlebih saat harimau itu berdiri.


Raungan keras


menggema, aku meraba leher harimau itu, tanpa sengaja jari-jemariku memegang


sesuatu, seperti tali atau kalung... Aku mencengkeramnya kuat-kuat saat harimau


itu melompat dan berlari meninggalkan Makam Keramat. Joan memelukku erat-erat


pula dan kami melihat pepohonan di kanan-kiri seakan saling berkejaran, begitu


cepatnya hingga menyerupai seberkas cahaya. Mata kami terpejam, tak mampu lagi


melihat sekeliling. Saat mata kami terbuka, kami sudah tiba di sekitar rumah


tempat kami tinggal. Disana sudah banyak orang berdatangan dan dari dalam


terdengar suara ribut-ribut.


Bersambung


Babak Kedelapan


( Kamis, 25 Jan


2023 )

__ADS_1


__ADS_2