
“Sring .... Ssrriinngg....
Sssrrriiinnnggg...”
Suara itu
terdengar dari halaman belakang, telingaku seperti dimasuki sebilah benda tajam
menembus gendang telinga, membuat bulu tengkukku seakan dibelai – belai sesuatu
yang dingin dan aneh. Merinding. Suara itu mengganggu sekali, padahal ini masih
subuh. Memang, hari ini aku dan Joan berencana untuk menuju ke MAKAM KERAMAT,
tapi, ini terlalu pagi untuk berangkat dan aku perlu istirahat untuk
mengembalikan tenagaku beberapa jam lagi.
Dengan malas
aku bangun, turun dari pembaringan dan berjalan berjingkat – jingkat menuju ke
halaman belakang.
“Ssssrrrriiiinnnngggg
.....”
Suara itu makin
lama, makin terdengar kencang, terlebih saat kaki – kaki ini terhenti di depan
pintu bambu yang terbuka sedikit. Aku mendorong pintu itu. Titik api pada sumbu
lampu minyak yang sesekali membesar tertiup angin ditambah lagi cahaya lampu
minyak tak jauh dari sumur, cukup bagiku untuk melihat suasana di halaman
belakang.
Tak jauh dari
sumur, ada sebuah meja kayu. Di atasnya banyak sekali pisau – pisau dengan
berbagai macam bentuk dan ukuran. Mata pisaunya tampak tajam berkilat – kilat
dan Joan duduk pada salah satu sisi meja sambil mengasah sebuah pisau panjang
mirip parang. Sekalipun mata pisau sudah tampak tajam berkilat – kilat, Joan
masih terus mengasahnya. Ia sepertinya tak mendengar kedatanganku. Tapi ....
“Mengapa kau
bangun, Cel ? Kita berangkat setelah adzan... masih beberapa jam lagi,” kata
Joan, ia masih terus mengasah.
“Kau sendiri, apa yang akan kauperbuat dengan
pisau – pisau itu ?” tanyaku.
“Perbuatan para
penduduk desa ini kepada Bianca dan teman – teman ... kejam sekali,” kata Joan
sementara sepasang matanya tetap mengamati mata parang yang membuatnya tampak
mengerikan.
“Joan, jangan
macam – macam. Kita ini Cuma tamu,” kataku, “Istighfar, Jo ... Istighfar.
Jangan sampai hatimu dibakar oleh perasaan dendam,”
“Istighfar,
katamu ?!!” ujar Joan dengan nada tinggi, sementara parang yang dipegangnya
diayunkan ke salah satu sisi meja. Mata pisau menancap dalam sekali, ia benar –
benar tampak geram, “Bagaimana dengan mereka itu ? Bukankah kau tahu sendiri,
apa yang terjadi di tempat bernama Sendang itu. Bagaimana jika nasib Bianca itu
menimpa teman – teman yang lain ? Masihkah kita berpikir tentang Istighfar, ha
?! Tidak. Mereka harus turut merasakan apa yang dirasakan Bianca dan yang lain
? Dan, pisau – pisau inilah yang akan meminta keadilan untuk Bianca dan yang
lain,”
“Tapi ...
haruskah kita berbuat nekad ?” tanyaku.
“Jika
seandainya mereka tidak mencari masalah dengan kita terlebih dahulu, aku tak
akan nekad. Tapi, mereka telah mencari perkara dengan kita, haruskah kita
berdiam diri saja ?! Tidak, aku harus menuntut pertanggungan jawab pada mereka.
Hutang nyawa dibayar dengan nyawa," tandas Joan sambil mencabut parangnya.
Setelah itu
ditatapnya aku dengan tatapan dingin, "Aku melakukan ini demi untuk
keselamatan kita semua. Aku tak ingin kalian pun menjadi kebiadaban orang-orang
desa terkutuk ini. Nah, jika kau jadi ikut aku berangkat ke Makam Keramat,
kembalilah tidur. Aku masih harus mengasah beberapa pisau lagi," katanya.
"Aku
takkan memperbolehkan mu berangkat ke Makam Keramat tersebut jika hatimu masih
diliputi oleh rasa dendam," sanggahku.
"Pengecut
! Sekalipun kau mencegahku, aku akan tetap pergi !" bentak Joan sambil
meraih pisau-pisau yang tertata di meja itu dan memasukkannya ke dalam tas
khusus dan hendak melangkah meninggalkan halaman belakang, namun aku
menghadangnya.
"Tunggu,
Jo..."
Joan
menghentikan langkah-langkahnya, ia menatapku tajam sekali, "Minggir, kau,
Cel..."
"Jo... Aku
tak ingin berdebat ataupun membiarkan kita semua celaka. Tapi, tolong gunakan
akal sehatmu,"
Keributan itu
membangunkan teman-teman, mereka semua berdiri di ambang pintu sambil menatap
kami.
"Jika kau
pergi dan celaka .... Siapa yang akan melindungi dan menjaga kami, Joan ?"
Yulia berjalan menghampiri, "Diantara kami, kaulah yang paling
berpengalaman dalam menghadapi situasi yang genting, seperti sekarang ini. Kami
membutuhkanmu, Jo,"
"Kemampuan
Taekwondo -mu, sudah terkenal seantero dunia... Kami semua tahu itu. Tapi, kami
.... Tidak tahu menahu mengenai taekwondo, pencak silat atau sejenisnya,"
sambung Bella dengan suara gemetar. Ia masih lemah, wajahnya pucat bak kertas.
Luka yang didapat dari Bianca, nyaris merenggut nyawanya.
"Semisal
kau pergi sekarang... Jika terjadi apa-apa padamu, bagaimana nasib kami yang
diibaratkan domba dikelilingi oleh sekawanan serigala kelaparan ? Apa tidak
__ADS_1
mungkin jika mereka menjadikan daging kami sebagai lauk pauknya ?" sambung
Akhmad.
Pandangan
memelas dari teman-teman, tampaknya meluluhkan kekerasan hati Joan, ia terdiam
seribu bahasa.
"Sorry,
guys... Membuat kalian khawatir. Bianca sudah kuanggap seperti adik sendiri,
tidak terima atas apa yang menimpanya juga Pedro, Parto dan Ikbal. Mereka semua
bagai keluarga, tapi, harus mengalami nasib naas. Mengapa orang baik selalu
terkena musibah ?!" ujar Joan dengan suara gemetar. Dalam hati aku
bersyukur, teman-teman bisa melunakkan hatinya yang terbakar dendam. Aku tahu
persis, jika ia nekad, ia akan celaka... Terlebih-lebih kami semua.
***
"Mereka
yang sudah terluka parah, kritis ataupun meninggal saat kecelakaan itu terjadi,
dianggap pembawa malapetaka atau sial oleh penduduk desa ini. Sementara, yang
mengalami luka ringan, dianggap sebagai manusia yang lolos dari Kematian.
Itulah biasanya yang dijadikan tumbal untuk Angkara Murka. Upacara atau ritual
TAPA BRATA, YOGA SAMADHI di desa ini berbeda dengan desa lain. Ritual itu pasti
menumbalkan seseorang. Entah itu para pendatang, gadis muda ataupun ibu hamil.
Dilakukan saat malam purnama tiba. Karena para gadis muda, ibu hamil dan para
pendatang sudah tidak ada, maka, yang dijadikan tumbal adalah hewan ternak.
Mbah Buluk khawatir, mereka memperlakukan kalian dengan sangat baik dan ramah
bisa jadi kelak kalianlah yang akan dijadikan tumbal seperti yang menimpa
teman-teman kalian itu,"
Penjelasan Mbah
Buluk tersebut membuat kami ingin segera pergi dari desa ini, tetapi, sebelum
itu... Kami harus memastikan apakah yang dikatakan Mbah Buluk, benar adanya.
Kalau benar, maka, kami akan membawa serta abu jenazah Pedro, Parto dan Ikbal.
MAKAM KERAMAT,
terletak di sebelah Utara desa ini. Selain rerumputan hijau tumbuh menyebar di
sepanjang jalan, kanan-kiri berjejer pohon-pohon randu yang berukuran raksasa.
Tingginya bahkan mencapai lebih dari 80 meter. Bentuknya pun aneh-aneh. Bagian
perut pohon sampai akar penopangnya seperti dibelah-belah menjadi beberapa
bagian. Sebagian akarnya tumbuh tak beraturan, melingkar dan menjorok masuk ke
dalam tanah... Mirip seekor ular raksasa
yang menyembunyikan sebagian badannya ke dalam tanah.
Bentuk pohon
yang aneh dan seakan menebarkan hawa aneh itu membuatku dan Joan seakan berada
di dunia lain. Tak heran para penduduk menyebut wilayah bagian Utara adalah
lokasi yang paling keramat diantara lokasi lain. Terlebih di depan sana,
jalanan masih tertutup oleh kabut tebal melayang-layang di udara membawa
sisa-sisa udara malam yang dingin dan menyelimuti Nakampe Gading dan
sekitarnya. Berbekal senter di tangan, kami menelusuri jalanan berumput hijau
itu.
Kami berhenti
kali bercat merah darah. 2 janur kuning terikat pada sisi kanan dan kiri gapura
itu. Beberapa nampan berisi kembang tujuh warna, secangkir kopi kental berwarna
hitam pekat, beberapa makanan tradisional, buah-buahan dan batangan-batangan
dupa diletakkan pada sisi kiri gapura. Asap putih tipis bercampur kabut
menyebar ke berbagai penjuru mata angin, menebarkan aroma aneh, menggelitik
rongga hidung membuat bulu kudukku merinding.
"Jangan
sekali-kali kalian memasuki wilayah Utara desa ini, tidak ada apa-apa disana
selain makam. Kami menamai daerah itu Makam Keramat, hanya para panatua desa
ini yang diijinkan memasukinya,"
Ucapan Pak
Sujar itu mendadak terngiang-ngiang di telingaku, membuatku ragu sejenak.
Aku mengalihkan
pandanganku ke sekeliling. Jalanan itu hanya rerumputan berwarna hijau,
bagaikan permadani. Di depan sana masih berselimutkan kabut tebal, seolah
menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh sembarangan orang tahu. Hingga sebuah
tepukan keras pada bahu kanan membuatku tersentak.
"Hei, apa
yang kau lamunkan. Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi, kau seakan tidak
mendengarnya. Kita sudah sampai di pintu masuk Makam Keramat. Kenapa mendadak
kau jadi ragu-ragu, Cel ? Bagaimana ? Dilanjutkan atau tidak ?" tanya
Joan.
"Kita
sudah sampai di tempat ini, tidak boleh putus di tengah jalan," kataku.
Kami kembali
melangkah, jalanan yang kami lalui semakin lama semakin menanjak. Apapun yang
terjadi, itulah resiko yang harus kami tanggung demi menyelamatkan teman-teman.
Di tempat
ini....
Tak ada satupun
rumah penduduk, pohon randu sudah tidak ada lagi digantikan dengan pohon
Kamboja. Sejak memasuki pintu masuk, tubuh bagian belakangku mulai terasa panas
dan berat. Aku berusaha mengabaikannya. Dalam keadaan seperti itu, perjalanan
serasa lama dan panjang sekali.
Aku menghela
nafas panjang saat, 5 meter di depan, tampak gundukan-gundukan tanah dengan
patok-patok batu nisan terbuat dari marmer. 3 diantaranya dibungkus dengan kain
berwarna merah, berukuran lebih kecil, mirip makam bayi dibandingkan dengan
ketujuh puluh yang lain. Hatiku terenyuh melihatnya.
"Tak ada
waktu untuk berduka, Cel..." hibur Joan, "Ayo, lakukan tugas kita,
jangan buang-buang waktu lagi," sambungnya sambil menoleh kesana kemari,
memastikan kalau tak ada orang lain lagi di tempat itu, "Gali, ambil dan
segera pergi dari sini," ia menurunkan tas punggungnya dan mengeluarkan
beberapa alat penggali tanah. Dengan cekatan ia mulai menggali makan itu,
__ADS_1
akupun membantunya.
"Ooeekk...
Oooeeekkk.... Ooooeeeekkkk...."
Suara itu
terdengar menggema, seakan memenuhi Makam Keramat dan sekitarnya, aku
menghentikan pekerjaanku tetapi, Joan memberi isyarat agar aku mengabaikan
suara tersebut.
"Ooeekk...
Oooeeekkk.... Ooooeeeekkkk...."
Suara itu makin
lama makin keras, terdengar dekat sekali tapi jauh... Jauh tapi dekat, memecahkan
konsentrasiku. Joan menatapku dalam-dalam lalu berkata, "Pergunakan logikamu,
Cel... Di tengah makam ini tidak ada rumah penduduk satu unit pun, mungkinkah
ada bayi disini ? Jangan sampai kau terpengaruh,"
Namun, suara
tangis bayi itu terdengar lebih keras lagi dan di sela-sela suara itu terdengar
pula suara seperti Geraman harimau. Geraman itu terdengar tepat di belakang kami, menghentikan suara tangis tersebut.
Setelah suara bayi itu menghilang, menghilang juga suara Geraman harimau
tersebut.
Baik aku dan
Joan tercekat, kami mencoba mengabaikannya hingga kami merasakan peralatan kami
menyentuh sesuatu. Sebuah guci tertutup kain putih kecoklatan. Kami segera
membukanya dan ...
Guci itu
menyimpan sebuah abu dan beberapa sisa-sisa tulang belulang.
"Kita
sudah menemukannya," kata Joan girang, "Jangan sampai orang-orang
tahu bahwa makam ini dibongkar. Kita harus segera merapikannya,"
Pekerjaan kami
kembali terhenti manakala mendengar suara harimau menggeram lagi. Aku yang tak
bisa menahan rasa penasaran, buru-buru membalikkan badan. Dan....
"Ha....
Ha.... Ha... Harimau Kumbang," kataku terbata-bata, lututku lemas seketika
dan jatuh terduduk.
"Besar
sekali. Darimana datangnya ?!" seru Joan tak kalah kagetnya.
"Tamatlah
riwayat kita," kataku putus asa.
Harimau
berwarna hitam itu berdiri sambil memandang tajam ke arah kami, mulutnya
menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya yang putih dan runcing. Kami tak
bisa berbuat apa-apa hanya waspada bersiap menghadapi segala kemungkinan yang
ada terlebih saat ia berjalan mendekat.
Joan menarikku
ke punggungnya, memasang kuda-kuda guna mempertahankan diri jikalau harimau itu
menyerang tiba-tiba.
Di luar dugaan,
saat hewan itu berada di dekat kami, ia mengendus guci-guci yang tertutup oleh
kain kafan itu satu persatu. Ia menginjak-injak tanah tempat dimana 3 guci itu
terkubur dengan kaki-kakinya.
Heran, makam
yang kami gali mendadak saja kembali ke asal, seperti saat sebelum kami gali.
Harimau kumbang itu duduk sementara sepasang matanya menatap ke arah guci dan
perlahan-lahan kepalanya terangkat, berhenti pada tas punggung kami. Aku meraih
guci-guci itu dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah guci-guci tersebut
tersimpan rapi, harimau kumbang itu berdiri. Begitu berada di dekat kami, ia
merendahkan tubuhnya. Gerakannya seakan memberi isyarat pada kami untuk naik ke
punggungnya. Seumur hidup kami, kami selalu menjaga jarak pada binatang buas
terlebih hewan berkaki empat. Itulah sebabnya, tubuh kami gemetar tak keruan
manakala ada hewan berkaki empat mengikis jarak dengan kami. Kami ketakutan.
Harimau itu
menggeram keras, seakan ia tidak ingin kemauannya kami tolak. Tak dapat
dibayangkan bagaimana perasaan kami waktu itu. Kami tak bersuara demikian pula
harimau itu, yang terdengar hanyalah detak jantung diatas normal dan nafas
memburu. Sunyi mencekam itulah yang terjadi.
Namun,
kesunyian itu pecah oleh suara menggema dari kejauhan... Suara tangis bayi
terdengar lagi. Kali ini suaranya bagaikan lolong kesakitan dan sepasang tatap
mata harimau kumbang itu kali ini lebih tajam ke arah kami... Ia kembali
menggeram saat dari jauh tampak titik-titik hitam aneh mendekat. Harimau itu
tampak resah sekali, melihat keraguan kami sementara wujud titik-titik hitam
itu makin terlihat dengan jelas. Kami harus segera pergi dari sini.
"Apa boleh
buat, Jo... Coba kita naiki saja punggung harimau ini daripada menambah masalah
lebih rumit," kataku.
Joan mengangguk
setuju, kamipun segera naik ke punggung harimau kumbang itu dengan berbagai
macam perasaan bercampur aduk jadi satu, terlebih saat harimau itu berdiri.
Raungan keras
menggema, aku meraba leher harimau itu, tanpa sengaja jari-jemariku memegang
sesuatu, seperti tali atau kalung... Aku mencengkeramnya kuat-kuat saat harimau
itu melompat dan berlari meninggalkan Makam Keramat. Joan memelukku erat-erat
pula dan kami melihat pepohonan di kanan-kiri seakan saling berkejaran, begitu
cepatnya hingga menyerupai seberkas cahaya. Mata kami terpejam, tak mampu lagi
melihat sekeliling. Saat mata kami terbuka, kami sudah tiba di sekitar rumah
tempat kami tinggal. Disana sudah banyak orang berdatangan dan dari dalam
terdengar suara ribut-ribut.
Bersambung
Babak Kedelapan
( Kamis, 25 Jan
2023 )
__ADS_1