( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB VIII


__ADS_3

“GROWL ....


GGRROOWWLL ... GGGRRROOOWWWLLL....”


Suara itu


terdengar memekakkan telinga. Buru – buru aku menerobos kerumunan warga yang


memadati halaman rumah. Namun, saat melangkah masuk, Pak Sujar mendadak menahan


langkah – langkahku.


“Mbak Cella,


Mbak Joan, jangan masuk dulu, berbahaya...”


“Sebenarnya ada


apa ini, pak ?” tanya Joan tidak sabaran, ia memaksa masuk namun, beberapa


warga memegangi tangannya.


“Maaf, mbak


Cella, Mbak Joan... kami melakukan ini semua demi keselamatan kalian,” kata Pak


Sujar.


“Kami ?


Melakukan apa ?” tanya Joan, “Harap Pak Sujar menjelaskannya; kami tidak


mengerti,” kataku.


Pak Sujar menghela


nafas panjang, membuat kami semakin penasaran apalagi air mukanya tampak


memelas.


“GGRR ...


GGGRRROOOWWWLLL...”


Suara itu


terdengar lebih keras. Bagi kami suara itu mirip makhluk yang kesakitan. Wajah


Bianca mendadak  terlintas di benak kami.


Joan yang sudah kesal dan geram dengan perlakuan warga menjadi lepas kendali.


Ia menepiskan tangan – tangan para warga, mengirimkan tendangan memutar dan


mendarat telak di kepala. Mereka hilang keseimbangan dan jatuh terjungkal. Ia


menarik lenganku dan menerobos masuk ke dalam tanpa menghiraukan Pak Sujar


lagi.


Pemandangan


yang tersaji di depan kami cukup mengejutkan. Lantai penuh dengan genangan


darah dan gumpalan – gumpalan daging, menebarkan aroma amis menyengat,


“Mungkinkah


Bianca berubah menjadi makhluk bernama lelepah lagi ?” tanya Joan padaku.


Aku tidak bisa


berkata apa – apa, sementara mataku menyapu ke sekeliling dan apa yang kami


cemaskan, terjadi ...


Genangan darah


itu berasal dari dalam kamar, tempat Bianca, Bella dan Yulia tidur. Pintu rusak


berantakan, begitu pula perabotan – perabotan di dalamnya. Dinding kamar yang


terbuat dari anyaman bambu jebol dan sesosok tubuh pria mandi darah tergeletak


di luar.  Dia sudah tak bernyawa, bagian


perut seperti dicabik – cabik oleh benda tajam. Kami tidak mengenalinya, sebab,


wajahnya pun hancur. Mungkin dia adalah salah seorang warga desa ini. Bella dan


yang lain tidak ada di tempat.


“GGGRRROOOWWWLLL..."


Kami segera


bergegas menuju ke halaman belakang, disana tampak lebih kurang 10 orang


membawa bambu dan tongkat besi berwarna hitam dan panjang berdiri mengelilingi


sesosok makhluk tinggi, kurus, bermata lebar. Ia menyeringai memperlihatan


deretan gigi – giginya yang runcing. Pakaiannya compang – camping, itu adalah


pakaian yang dipakai Bianca sebelum kami pergi ke MAKAM KERAMAT, akulah yang


memakaikan itu pada Bianca. Di hadapan makhluk itu, seorang kakek berbaju merah


membawa jala, berdiri sambil memandanginya dengan tajam.


“Kalau dilihat


dari ciri – cirinya, pastilah dia yang bernama Mbah Jauhari. Mau apa dia ?”


tanya Joan.


“Malam ini


adalah malam purnama,” kata Pak Sujar yang sudah mengikuti kami dari saat kami


masuk.


“Apa


hubungannya dengan Bianca ?” tanyaku.


“Dia ... Mbah


Jauhari, kemungkinan akan membawa lelepah itu ke Sendang untuk dijadikan tumbal


dalam ritual nanti,” jelas Pak Sujar.


“TAPA BRATA,


YOGA SAMADHI ?” tanyaku. Pak Sujar menganggukkan kepala.


“Bedebah !!”


seru Joan, “Aku takkan membiarkannya menyakiti Joan,” sambil berkata demikian


ia melangkah menuju ke arah Mbah Jauhari tak lagi menghiraukan teguran Pak


Sujar.


“Hai, Bandot


tua ?” seru Joan, “Aku takkan membiarkanmu menyakiti teman – temanku lagi !”


sambil berkata demikian, kaki kanannya bergerak cepat, menyambar dada Mbah


Jauhari.


Laki – laki tua


itu sama sekali tidak menduga datangnya serangan kilat itu, segera saja dadanya


yang busung menjadi sasaran telak telapak kaki Joan yang sudah dilatihnya sejak


masih kanak – kanak itu.


“DASH !!”


Mbah Jauhari


terjungkal dan para warga yang melihat kejadian itu terkejut. Mereka segera


mengepung Joan sementara yang lain membantu Mbah Jauhari berdiri.


“Hei, berani


sekali kau menendang Mbah Jauhari ! Siapa kau ?!” tanya salah seorang dari mereka.


“Jangan banyak


bicara, dia pastilah salah satu dari mahasiswa kota yang tersesat di desa ini.

__ADS_1


Simbah bilang, siapa saja yang memasuki desa ini harus ditumbalkan demi


menghindarkan dari balak / malapetaka,” sahut yang lain.


Perkataan warga


itu membuat Joan semakin geram, “Bedebah !! Jaga ucapanmu !!” sahut Joan sambil


menerjang ke arah mereka. Ada tiga orang bersenjatakan bambu menghadang


serangan Joan. Tapi ....


“KKRRAAKK ....”


Bambu – bambu


kuning itu tak sanggup menahan laju tendangan Joan, yang kuat bagai hempasan


ombak Laut Kidul. Penduduk itu terjengkang ke belakang, bambunya patah menjadi


dua bagian. Melihat temannya roboh, yang lain tidak tinggal diam, mereka


menyerang Joan.


Salah satu


ujung bambu penduduk terjulur mengarah ke wajah Joan, dengan gesit Joan


menyambar bambu itu memutar tubuhnya dan lagi – lagi kaki kanannya bergerak


bagaikan kilat melancarkan dua tendangan ke arah dada warga. Mereka tak mampu


menduga kemana tubuh Joan bergerak, tahu – tahu tubuhnya terdorong ke belakang


sambil meringis kesakitan.


3 orang


berhasil dijatuhkan, Joan berdiri kokoh sambil melemparkan potongan bambu ke


arah kerumunan warga yang mulai jeri melihatnya. Namun, masih ada saja warga


yang penasaran dan ingin merobohkan wanita yang memiliki tinggi nyaris 170 cm


itu. Namun, Mbah Jauhari dan Pak Sujar segera turun tangan.


“Kalian semua


mundur ! Biarkan aku yang menghadapi wanita ini,” seru Pak Sujar.


“Tetaplah pada


tugas kalian ! Jangan biarkan lelepah itu lolos,” sambung Mbah Jauhari.


“Hei, bandot


tua !” seru Joan, “Apa yang kau lakukan pada teman – teman kami ?!” sambungnya


sambil berkacak pinggang.


“Tenanglah,


nduk ... mereka semua kami ungsikan ke tempat yang lebih aman daripada menjadi


korban keganasan Lelepah ini,” kata Mbah Jauhari.


Joan


menyipitkan matanya, “Maksudmu, mereka kau tahan untuk dijadikan tumbal juga,


begitu ?! Tunjukkan pada kami dimana mereka sekarang berada, setelah itu kami


segera enyah dari tempat ini,”


“Kami tidak


akan membiarkanmu pergi dari tempat ini ! Karena telah membawa malapetaka di


desa ini !” celetuk salah seorang warga.


“Kau pikir, kau


siapa ? Berani benar menghalangi kami pergi dari sini ! Dengarlah, kalianlah


yang pertama kali mencari gara – gara dengan  kami ! Semula kami baik – baik saja, berniat menyelesaikan tugas kami.


Tetapi, setelah berada di tempat terkutuk ini ... kami semua tercerai berai.


Apakah kalian hendak memutar balikkan fakta ?! Manusia macam apa kalian ini ?!”


“Sudah ...


sudah ... tak perlu diperdebatkan lagi,” kata Mbah Jauhari, ia menoleh ke arah


Joan lalu berkata, “Nduk, mari kuantar kalian menemui mereka. Sebelum itu, Mbah


Jauhari harus menangkap makhluk ini. Dia telah membunuh banyak warga penduduk


sini. Maka, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya,”


“Tidak !”


sanggah Joan, “Biar bagaimana pun juga, dia adalah teman kami. Biarkan Mbah


Joglo yang menanganinya, karena kami lebih mempercayainya daripada dedengkot


busuk macam kau !!”


“Hei, jaga


ucapanmu ! Mbah Jauhari adalah salah satu panatua desa ini, hormatilah beliau,”


ujar salah seorang warga.


“Kalian hormati


dia sendiri ! Aku tidak akan bertekuk lutut padanya, karena dia adalah biang


keladi segala kekacauan ini !”


“Kurang ajar


!!” sahut warga lain hendak menampar pipi Joan, tetapi, Mbah Jauhari


mencegahnya, “Sudahlah... biarkan saja dia mau bicara apa,”


Baru saja Mbah


Jauhari menutup mulutnya, terdengar teriakan pilu bercampur ngeri. Warga yang hendak


menampar Joan menjerit keras, makhluk itu mendadak sudah berada di dekatnya dan


menyambar kepalanya. Tubuhnya terangkat ke atas, perlahan – lahan tubuhnya yang


gemuk itu masuk ke dalam mulut makhluk itu. Darah menyembur keluar, menyebar ke


segala penjuru dan sebagian memercik ke wajah Mbah Jauhari. Aku sempat melihat,


kakek tua itu menyeringai, memejamkan mata seolah membiarkan darah itu


membasahi wajah dan tubuhnya.


Semua orang


lari pontang – panting sambil berteriak – teriak ketakutan. Saat di tempat itu


hanya tinggal beberapa orang saja, Mbah Jauhari menebar jalanya, makhluk itu


meraung keras, berontak hendak melepaskan diri. Tetapi, semakin kuat ia


berontak, semakin kuat pula jala yang melilit tubuhnya.


Raungan itu


semakin lama semakin lemah, dan akhirnya, tubuhnya mengecil dan kembali menjadi


sosok Bianca. Mendapati dirinya berada di dalam jala, ia ketakutan sekali, berteriak


histeris hingga sebuah pukulan keras mendarat pada pelipis yang membuatnya


roboh tak sadarkan diri, darah merah kehitaman mengalir dari pelipisnya. Joan


yang sempat melihat siapa penyerang itu, marah sekali, dengan gerakan yang tak


bisa diikuti oleh mata biasa, tubuhnya berkelebat dan melancarkan tendangan


beruntun ke arah warga yang ternyata adalah seorang laki – laki gondrong, kumis


dan jenggotnya panjang berwarna kelabu.


“Dash...


dash... dash...”


Tiga empat kali

__ADS_1


tendangan mendarat di tubuh laki – laki itu hingga membuatnya jatuh terduduk.


Sebelum dia sempat berdiri, Joan sudah mengangkat kaki kanan tinggi – tinggi ke


udara, dan ....


“PRAKK !!”


Sebuah bambu


kuning yang dimaksudkan untuk melindungi kepala pria berusia 45 tahunan itu


patah jadi dua, tak mampu menahan laju tumit Joan yang segera saja mendarat


telak pada batok kepalanya. Laki – laki gondrong dan gemuk itu tersungkur di


bawah kaki Joan. Entah pingsan atau tewas seketika, yang jelas pria itu tidak


bergerak – gerak lagi.


Pak Sujar dan Mbah


Jauhari menundukkan kepala, mereka sama sekali tidak menghendaki peristiwa itu


terjadi.


“Maaf, nduk


.... kami terpaksa membawa temanmu yang bernama Bianca itu. Nah, kau bisa


bertemu dengan teman – temanmu di rumah Pak Sujar,” kata Mbah Jauhari, “Percayalah,


kami akan berusaha menyembuhkan temanmu ini. Roh jahat yang bersemayam di dalam


dirinya harus segera diusir,” sambungnya.


Joan masih tak


mau mempercayai kata – kata Mbah Jauhari itu, ia tidak bisa membiarkan Bianca


dibawa olehnya. Tapi, aku dan Pak Sujar berusaha membujuknya, ia akhirnya


menurut juga. Sekalipun berhasil meredam kemarahan Joan, akan tetapi, kami tahu


apa yang harus kami lakukan. Inilah puncak dari kejadian yang mungkin tidak


bisa dilupakan oleh kami semua sampai akhir hayat kami; Puncak dari segala


peristiwa yang terjadi selama kami berada di Nakampe Gading; Puncak dimana kami


terpaksa harus kehilangan hati nurani kami sebagai manusia.


***


Seperti yang


sudah dikatakan oleh Mbah Jauhari ....


Bella, Yulia,


Hudi dan Akhmad memang berada di rumah Pak Sujar. Mereka duduk di teras dengan


perasaan tegang dan cemas. Setelah melihat kedatangan kami, mereka semua


menyambut dengan perasaan haru.


“Syukurlah,


kalian baik – baik saja,” kata Bella yang masih lemah.


“Katakan


padaku, bagaimana Bianca bisa berubah menjadi makhluk mengerikan itu lagi


?  Bukankah kalian sudah diberi


peringatan  oleh Mbah Joglo tentang


pantangan – pantangan supaya dia tidak berubah lagi ?” tanyaku.


“Kau benar,


Cel... kami sudah melakukannya, tapi, entah siapa yang mengolesi pintu kamar


dengan darah ayam,” ujar Yulia.


“Lalu, apa


kerja kalian ?!” tukas Joan yang masih terbakar oleh amarah kepada Hudi dan


Akhmad, “Kalian harusnya menjaga rumah itu, bukan melakukan hal – hal lain,”


“Kami ...”


ucapan Akhmad terputus, Hudi menyikut perutnya.


“Sepertinya,


kalian menyembunyikan sesuatu ....” ujar Joan, sepasang matanya yang tajam tak


berkedip menatap mereka.


“Waktu itu,


kami sedang berunding untuk segera pergi dari tempat ini, tapi, mendadak


terdengar jeritan dari arah kamar ... Bella dan Yulia yang saat itu sedang


membersihkan ruangan terkejut melihat Bianca mengerang – ngerang kesakitan,”


jelas Hudi, “Tak lama setelah itu, Bianca bergerak aneh, seperti ....


seperti...”


“Seperti apa ?”


bentak Joan.


“Ku... kucing.


Dan saat tiba di pintu keluar, ia menjilat – jilat selasar pintu dan mendadak


sudah berubah. Ia menyerang seorang penduduk yang entah kebetulan, entah


sengaja datang ke kamar dan melemparkannya keluar. Pada saat itulah, para warga


berdatangan dan mencoba untuk menyerang makhluk itu. Hingga Pak Sujar dan kakek


tua muncul di hadapan Makhluk itu,”


“Tampaknya,


Mbah Buluk harus segera menemui Mbah Joglo,”


Suara itu


muncul dari belakang kami.


“Edan,” Joan


tersentak hingga melompat kaget.


Mendadak saja


Mbah Buluk sudah berdiri sementara matanya yang sebesar biji kelereng seakan


tidak terfokus pada satu tujuan. Ia kemudian memandang ke arah langit lalu


berkata, “Malam ini adalah malam purnama, ritual TAPA BRATA, YOGA SAMADHI akan


dilakukan oleh Mbah Jauhari. Bianca pastilah dikorbankan sebagai tumbal,”


“Aku takkan


membiarkan itu terjadi,” sahut Joan.


“Kalau hanya


kita sendiri, kita tak mungkin bisa keluar dari sini,” sahutku.


“Kembalilah


kalian ke rumah penginapan. Disana lebih aman. Kalian segeralah susun rencana,


setelah selesai, kita akan bertemu lagi diSendang,” kata Mbah Buluk sambil


membalikkan badannya, berjalan tertatih – tatih dan menghilang di balik semak –


semak.


Bersambung


Babak Kesembilan


( Sabtu, 04 Feb

__ADS_1


2023 )


__ADS_2