
“GROWL ....
GGRROOWWLL ... GGGRRROOOWWWLLL....”
Suara itu
terdengar memekakkan telinga. Buru – buru aku menerobos kerumunan warga yang
memadati halaman rumah. Namun, saat melangkah masuk, Pak Sujar mendadak menahan
langkah – langkahku.
“Mbak Cella,
Mbak Joan, jangan masuk dulu, berbahaya...”
“Sebenarnya ada
apa ini, pak ?” tanya Joan tidak sabaran, ia memaksa masuk namun, beberapa
warga memegangi tangannya.
“Maaf, mbak
Cella, Mbak Joan... kami melakukan ini semua demi keselamatan kalian,” kata Pak
Sujar.
“Kami ?
Melakukan apa ?” tanya Joan, “Harap Pak Sujar menjelaskannya; kami tidak
mengerti,” kataku.
Pak Sujar menghela
nafas panjang, membuat kami semakin penasaran apalagi air mukanya tampak
memelas.
“GGRR ...
GGGRRROOOWWWLLL...”
Suara itu
terdengar lebih keras. Bagi kami suara itu mirip makhluk yang kesakitan. Wajah
Bianca mendadak terlintas di benak kami.
Joan yang sudah kesal dan geram dengan perlakuan warga menjadi lepas kendali.
Ia menepiskan tangan – tangan para warga, mengirimkan tendangan memutar dan
mendarat telak di kepala. Mereka hilang keseimbangan dan jatuh terjungkal. Ia
menarik lenganku dan menerobos masuk ke dalam tanpa menghiraukan Pak Sujar
lagi.
Pemandangan
yang tersaji di depan kami cukup mengejutkan. Lantai penuh dengan genangan
darah dan gumpalan – gumpalan daging, menebarkan aroma amis menyengat,
“Mungkinkah
Bianca berubah menjadi makhluk bernama lelepah lagi ?” tanya Joan padaku.
Aku tidak bisa
berkata apa – apa, sementara mataku menyapu ke sekeliling dan apa yang kami
cemaskan, terjadi ...
Genangan darah
itu berasal dari dalam kamar, tempat Bianca, Bella dan Yulia tidur. Pintu rusak
berantakan, begitu pula perabotan – perabotan di dalamnya. Dinding kamar yang
terbuat dari anyaman bambu jebol dan sesosok tubuh pria mandi darah tergeletak
di luar. Dia sudah tak bernyawa, bagian
perut seperti dicabik – cabik oleh benda tajam. Kami tidak mengenalinya, sebab,
wajahnya pun hancur. Mungkin dia adalah salah seorang warga desa ini. Bella dan
yang lain tidak ada di tempat.
“GGGRRROOOWWWLLL..."
Kami segera
bergegas menuju ke halaman belakang, disana tampak lebih kurang 10 orang
membawa bambu dan tongkat besi berwarna hitam dan panjang berdiri mengelilingi
sesosok makhluk tinggi, kurus, bermata lebar. Ia menyeringai memperlihatan
deretan gigi – giginya yang runcing. Pakaiannya compang – camping, itu adalah
pakaian yang dipakai Bianca sebelum kami pergi ke MAKAM KERAMAT, akulah yang
memakaikan itu pada Bianca. Di hadapan makhluk itu, seorang kakek berbaju merah
membawa jala, berdiri sambil memandanginya dengan tajam.
“Kalau dilihat
dari ciri – cirinya, pastilah dia yang bernama Mbah Jauhari. Mau apa dia ?”
tanya Joan.
“Malam ini
adalah malam purnama,” kata Pak Sujar yang sudah mengikuti kami dari saat kami
masuk.
“Apa
hubungannya dengan Bianca ?” tanyaku.
“Dia ... Mbah
Jauhari, kemungkinan akan membawa lelepah itu ke Sendang untuk dijadikan tumbal
dalam ritual nanti,” jelas Pak Sujar.
“TAPA BRATA,
YOGA SAMADHI ?” tanyaku. Pak Sujar menganggukkan kepala.
“Bedebah !!”
seru Joan, “Aku takkan membiarkannya menyakiti Joan,” sambil berkata demikian
ia melangkah menuju ke arah Mbah Jauhari tak lagi menghiraukan teguran Pak
Sujar.
“Hai, Bandot
tua ?” seru Joan, “Aku takkan membiarkanmu menyakiti teman – temanku lagi !”
sambil berkata demikian, kaki kanannya bergerak cepat, menyambar dada Mbah
Jauhari.
Laki – laki tua
itu sama sekali tidak menduga datangnya serangan kilat itu, segera saja dadanya
yang busung menjadi sasaran telak telapak kaki Joan yang sudah dilatihnya sejak
masih kanak – kanak itu.
“DASH !!”
Mbah Jauhari
terjungkal dan para warga yang melihat kejadian itu terkejut. Mereka segera
mengepung Joan sementara yang lain membantu Mbah Jauhari berdiri.
“Hei, berani
sekali kau menendang Mbah Jauhari ! Siapa kau ?!” tanya salah seorang dari mereka.
“Jangan banyak
bicara, dia pastilah salah satu dari mahasiswa kota yang tersesat di desa ini.
__ADS_1
Simbah bilang, siapa saja yang memasuki desa ini harus ditumbalkan demi
menghindarkan dari balak / malapetaka,” sahut yang lain.
Perkataan warga
itu membuat Joan semakin geram, “Bedebah !! Jaga ucapanmu !!” sahut Joan sambil
menerjang ke arah mereka. Ada tiga orang bersenjatakan bambu menghadang
serangan Joan. Tapi ....
“KKRRAAKK ....”
Bambu – bambu
kuning itu tak sanggup menahan laju tendangan Joan, yang kuat bagai hempasan
ombak Laut Kidul. Penduduk itu terjengkang ke belakang, bambunya patah menjadi
dua bagian. Melihat temannya roboh, yang lain tidak tinggal diam, mereka
menyerang Joan.
Salah satu
ujung bambu penduduk terjulur mengarah ke wajah Joan, dengan gesit Joan
menyambar bambu itu memutar tubuhnya dan lagi – lagi kaki kanannya bergerak
bagaikan kilat melancarkan dua tendangan ke arah dada warga. Mereka tak mampu
menduga kemana tubuh Joan bergerak, tahu – tahu tubuhnya terdorong ke belakang
sambil meringis kesakitan.
3 orang
berhasil dijatuhkan, Joan berdiri kokoh sambil melemparkan potongan bambu ke
arah kerumunan warga yang mulai jeri melihatnya. Namun, masih ada saja warga
yang penasaran dan ingin merobohkan wanita yang memiliki tinggi nyaris 170 cm
itu. Namun, Mbah Jauhari dan Pak Sujar segera turun tangan.
“Kalian semua
mundur ! Biarkan aku yang menghadapi wanita ini,” seru Pak Sujar.
“Tetaplah pada
tugas kalian ! Jangan biarkan lelepah itu lolos,” sambung Mbah Jauhari.
“Hei, bandot
tua !” seru Joan, “Apa yang kau lakukan pada teman – teman kami ?!” sambungnya
sambil berkacak pinggang.
“Tenanglah,
nduk ... mereka semua kami ungsikan ke tempat yang lebih aman daripada menjadi
korban keganasan Lelepah ini,” kata Mbah Jauhari.
Joan
menyipitkan matanya, “Maksudmu, mereka kau tahan untuk dijadikan tumbal juga,
begitu ?! Tunjukkan pada kami dimana mereka sekarang berada, setelah itu kami
segera enyah dari tempat ini,”
“Kami tidak
akan membiarkanmu pergi dari tempat ini ! Karena telah membawa malapetaka di
desa ini !” celetuk salah seorang warga.
“Kau pikir, kau
siapa ? Berani benar menghalangi kami pergi dari sini ! Dengarlah, kalianlah
yang pertama kali mencari gara – gara dengan kami ! Semula kami baik – baik saja, berniat menyelesaikan tugas kami.
Tetapi, setelah berada di tempat terkutuk ini ... kami semua tercerai berai.
Apakah kalian hendak memutar balikkan fakta ?! Manusia macam apa kalian ini ?!”
“Sudah ...
sudah ... tak perlu diperdebatkan lagi,” kata Mbah Jauhari, ia menoleh ke arah
Joan lalu berkata, “Nduk, mari kuantar kalian menemui mereka. Sebelum itu, Mbah
Jauhari harus menangkap makhluk ini. Dia telah membunuh banyak warga penduduk
sini. Maka, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya,”
“Tidak !”
sanggah Joan, “Biar bagaimana pun juga, dia adalah teman kami. Biarkan Mbah
Joglo yang menanganinya, karena kami lebih mempercayainya daripada dedengkot
busuk macam kau !!”
“Hei, jaga
ucapanmu ! Mbah Jauhari adalah salah satu panatua desa ini, hormatilah beliau,”
ujar salah seorang warga.
“Kalian hormati
dia sendiri ! Aku tidak akan bertekuk lutut padanya, karena dia adalah biang
keladi segala kekacauan ini !”
“Kurang ajar
!!” sahut warga lain hendak menampar pipi Joan, tetapi, Mbah Jauhari
mencegahnya, “Sudahlah... biarkan saja dia mau bicara apa,”
Baru saja Mbah
Jauhari menutup mulutnya, terdengar teriakan pilu bercampur ngeri. Warga yang hendak
menampar Joan menjerit keras, makhluk itu mendadak sudah berada di dekatnya dan
menyambar kepalanya. Tubuhnya terangkat ke atas, perlahan – lahan tubuhnya yang
gemuk itu masuk ke dalam mulut makhluk itu. Darah menyembur keluar, menyebar ke
segala penjuru dan sebagian memercik ke wajah Mbah Jauhari. Aku sempat melihat,
kakek tua itu menyeringai, memejamkan mata seolah membiarkan darah itu
membasahi wajah dan tubuhnya.
Semua orang
lari pontang – panting sambil berteriak – teriak ketakutan. Saat di tempat itu
hanya tinggal beberapa orang saja, Mbah Jauhari menebar jalanya, makhluk itu
meraung keras, berontak hendak melepaskan diri. Tetapi, semakin kuat ia
berontak, semakin kuat pula jala yang melilit tubuhnya.
Raungan itu
semakin lama semakin lemah, dan akhirnya, tubuhnya mengecil dan kembali menjadi
sosok Bianca. Mendapati dirinya berada di dalam jala, ia ketakutan sekali, berteriak
histeris hingga sebuah pukulan keras mendarat pada pelipis yang membuatnya
roboh tak sadarkan diri, darah merah kehitaman mengalir dari pelipisnya. Joan
yang sempat melihat siapa penyerang itu, marah sekali, dengan gerakan yang tak
bisa diikuti oleh mata biasa, tubuhnya berkelebat dan melancarkan tendangan
beruntun ke arah warga yang ternyata adalah seorang laki – laki gondrong, kumis
dan jenggotnya panjang berwarna kelabu.
“Dash...
dash... dash...”
Tiga empat kali
__ADS_1
tendangan mendarat di tubuh laki – laki itu hingga membuatnya jatuh terduduk.
Sebelum dia sempat berdiri, Joan sudah mengangkat kaki kanan tinggi – tinggi ke
udara, dan ....
“PRAKK !!”
Sebuah bambu
kuning yang dimaksudkan untuk melindungi kepala pria berusia 45 tahunan itu
patah jadi dua, tak mampu menahan laju tumit Joan yang segera saja mendarat
telak pada batok kepalanya. Laki – laki gondrong dan gemuk itu tersungkur di
bawah kaki Joan. Entah pingsan atau tewas seketika, yang jelas pria itu tidak
bergerak – gerak lagi.
Pak Sujar dan Mbah
Jauhari menundukkan kepala, mereka sama sekali tidak menghendaki peristiwa itu
terjadi.
“Maaf, nduk
.... kami terpaksa membawa temanmu yang bernama Bianca itu. Nah, kau bisa
bertemu dengan teman – temanmu di rumah Pak Sujar,” kata Mbah Jauhari, “Percayalah,
kami akan berusaha menyembuhkan temanmu ini. Roh jahat yang bersemayam di dalam
dirinya harus segera diusir,” sambungnya.
Joan masih tak
mau mempercayai kata – kata Mbah Jauhari itu, ia tidak bisa membiarkan Bianca
dibawa olehnya. Tapi, aku dan Pak Sujar berusaha membujuknya, ia akhirnya
menurut juga. Sekalipun berhasil meredam kemarahan Joan, akan tetapi, kami tahu
apa yang harus kami lakukan. Inilah puncak dari kejadian yang mungkin tidak
bisa dilupakan oleh kami semua sampai akhir hayat kami; Puncak dari segala
peristiwa yang terjadi selama kami berada di Nakampe Gading; Puncak dimana kami
terpaksa harus kehilangan hati nurani kami sebagai manusia.
***
Seperti yang
sudah dikatakan oleh Mbah Jauhari ....
Bella, Yulia,
Hudi dan Akhmad memang berada di rumah Pak Sujar. Mereka duduk di teras dengan
perasaan tegang dan cemas. Setelah melihat kedatangan kami, mereka semua
menyambut dengan perasaan haru.
“Syukurlah,
kalian baik – baik saja,” kata Bella yang masih lemah.
“Katakan
padaku, bagaimana Bianca bisa berubah menjadi makhluk mengerikan itu lagi
? Bukankah kalian sudah diberi
peringatan oleh Mbah Joglo tentang
pantangan – pantangan supaya dia tidak berubah lagi ?” tanyaku.
“Kau benar,
Cel... kami sudah melakukannya, tapi, entah siapa yang mengolesi pintu kamar
dengan darah ayam,” ujar Yulia.
“Lalu, apa
kerja kalian ?!” tukas Joan yang masih terbakar oleh amarah kepada Hudi dan
Akhmad, “Kalian harusnya menjaga rumah itu, bukan melakukan hal – hal lain,”
“Kami ...”
ucapan Akhmad terputus, Hudi menyikut perutnya.
“Sepertinya,
kalian menyembunyikan sesuatu ....” ujar Joan, sepasang matanya yang tajam tak
berkedip menatap mereka.
“Waktu itu,
kami sedang berunding untuk segera pergi dari tempat ini, tapi, mendadak
terdengar jeritan dari arah kamar ... Bella dan Yulia yang saat itu sedang
membersihkan ruangan terkejut melihat Bianca mengerang – ngerang kesakitan,”
jelas Hudi, “Tak lama setelah itu, Bianca bergerak aneh, seperti ....
seperti...”
“Seperti apa ?”
bentak Joan.
“Ku... kucing.
Dan saat tiba di pintu keluar, ia menjilat – jilat selasar pintu dan mendadak
sudah berubah. Ia menyerang seorang penduduk yang entah kebetulan, entah
sengaja datang ke kamar dan melemparkannya keluar. Pada saat itulah, para warga
berdatangan dan mencoba untuk menyerang makhluk itu. Hingga Pak Sujar dan kakek
tua muncul di hadapan Makhluk itu,”
“Tampaknya,
Mbah Buluk harus segera menemui Mbah Joglo,”
Suara itu
muncul dari belakang kami.
“Edan,” Joan
tersentak hingga melompat kaget.
Mendadak saja
Mbah Buluk sudah berdiri sementara matanya yang sebesar biji kelereng seakan
tidak terfokus pada satu tujuan. Ia kemudian memandang ke arah langit lalu
berkata, “Malam ini adalah malam purnama, ritual TAPA BRATA, YOGA SAMADHI akan
dilakukan oleh Mbah Jauhari. Bianca pastilah dikorbankan sebagai tumbal,”
“Aku takkan
membiarkan itu terjadi,” sahut Joan.
“Kalau hanya
kita sendiri, kita tak mungkin bisa keluar dari sini,” sahutku.
“Kembalilah
kalian ke rumah penginapan. Disana lebih aman. Kalian segeralah susun rencana,
setelah selesai, kita akan bertemu lagi diSendang,” kata Mbah Buluk sambil
membalikkan badannya, berjalan tertatih – tatih dan menghilang di balik semak –
semak.
Bersambung
Babak Kesembilan
( Sabtu, 04 Feb
__ADS_1
2023 )