
Setelah
kejadian itu, Bella jatuh sakit. Tubuhnya panas namun, ia menggigil seperti
kedinginan. Teman-teman yang mendengar cerita tentang berubahnya Bianca menjadi
sosok mengerikan itu membuat terheran-heran tidak .. Tapi, apa yang menimpa
Bella, itu adalah bukti tak terbantahkan. Satu yang kuingat pesan Mbah Joglo.
"Nduk...
Ojo Sampek bocah Iki mambu getih, telinga Dina Iki lek kepingin areke
waras,"
( Tiga hari ke
depan, anak ini jangan sampai mencium bau darah, jika ingin sembuh ).
Penjelasan Mbah
Joglo tentang perubahan pada diri Bianca adalah karena mencium bau darah atau
daging mentah. Penjelasan itu beralasan karena sebelum kejadian, sewaktu Bella
mengupas buah apel untuk diberikan pada Bianca, tanpa sengaja jarinya tersayat
pisau. Darah yang mengucur dari lukanya tanpa sengaja tercium oleh Bianca.
Entah mengapa mendadak saja, Bianca menjadi agresif dan menyerang Bella.
Sementara,
Pedro dan yang lainnya belum berhasil ditemukan.
"Sebenarnya,
apa yang telah terjadi di tempat ini ?" tanya Yulia.
"Kalau
terus-menerus seperti ini... KKN kita jadi terhambat, terancam batal bahkan
bisa jadi kita tidak lulus," sambung Akhmad.
"Lalu,
harus bagaimana lagi ? Kalau tidak ada Ikbal dan yang lainnya, kira-kira bisa
berhasil atau tidak ?!" ujar Joan.
"Sebenarnya,
kita ini salah apa ? Mengapa harus terjebak dalam situasi yang kacau balau
begini ?" tangis Yulia pecah.
"KKN ini,
Ikbal dan kawan-kawan kuncinya. Tanpa mereka, kita tidak bisa apa-apa,"
kata Joan, “Menurutmu bagaimana, Cell ? Kok diam saja ?”
“Hei !”
Tepukan pada
bahu kanan, membuyarkan lamunanku, buru – buru aku menoleh ke arah Joan dan
yang lain, “Ya, Ada apa ?” tanyaku.
“Awakmu kuwi
ngelamun opo, to ? Diajak ngomong meneng wae,” seru Hudi.
“Kita sudah
terhenti di tempat ini selama satu minggu. Teman – teman kita menghilang entah
kemana. 3 orang penduduk tewas mengenaskan gara – gara Bianca yang kerasukan
makhluk aneh. Dan, masih banyak kejadian aneh selama kita berada disini. Sempat
terlintas di benakku, kita pergi saja dari desa ini tanpa Ikbal dan yang lain,”
kataku.
“Bagaimana kau
bisa berpikir demikian ?” sahut Hudi, “Dimana hati nuranimu ?”
“Hud,” tukas
Joan, “Kita sudah mengaduk-aduk seluruh desa ini bersama dengan para penduduk
desa ... tapi, Ikbal dan yang lain tidak ditemukan. Apa kau bisa melihat
keadaan Bianca dan Bella ? Dengar, Kita sudah cukup dipusingkan dengan
banyaknya kejadian yang tak masuk akal. Aku khawatir akan terjadi hal – hal
yang tidak diinginkan,”
“Kalian jangan
ribut lagi. Sebaiknya kita cari jalan keluar yang baik dan aman,” sahutku.
“Kita akan
membagi tugas, berharap saja tugas ini bisa rampung beberapa hari ke depan. Aku
dan Joan, akan menuju ke arah Selatan dimana aku bertemu dengan kakek berbaju
hitam, tampaknya, beliau mengetahui sesuatu. Hudi dan Akhmad melanjutkan
pencarian ke titik terakhir. Berharap saja, mudah – mudahan mereka bisa
ditemukan di tempat itu. Yulia menjaga Bella dan Bianca,”
***
Sungai itu
panjang, berkelok – kelok bagaikan ular raksasa. Arusnya begitu tenang dan
berair jernih, begitu jernihnya hingga dasar sungai kelihatan.Aku dan Joan
berjalan menyusuri tepian sungai yang terdiri dari bebatuan setinggi orang
dewasa sebagai pembatas daratan dan badan sungai. Berdiri berjejer bagaikan
barisan raksasa penjaga daerah yang oleh para penduduk setempat disebut dengan
nama Kali Kidul itu.
Hari masih pagi
saat kami tiba di tempat ini. Sinar matahari menerobos celah – celah dedauhan,
dahan dan ranting membentuk garis – garis sinar indah, menyapu perlahan kabut –
kabut tipis yang sudah semalaman melingkupi seantero tempat itu. Kehangatan sinarnya,
mengembalikan kehidupan pagi yang sempat terhenti oleh dinginnya malam.
Asri, tenang
dan damai. Kira – kira itulah yang bisa kukatakan saat tiba di Kali Kidul.
Suasana alami yang semacam itulah membuat kami merasa enggan untuk meninggalkan
tempat itu. Terlebih suara gemericik air, menggoda kami untuk mandi atau
sekedar membasuh muka, paling tidak bisa merasakan segarnya air sungai
tersebut. Aku tidak tahu dimana sumber mata airnya atau dimana bermuara...
tapi, yang jelas masih bersih alami bahkan layak untuk diminum tanpa direbus
terlebih dahulu. Aroma harum dan segar itulah yang menyebabkanku dapat dengan
mudah menarik kesimpulan demikian.
Bagiku, juga
Joan .... menyusuri tempat ini, seakan kembali ke alam liar, aku menyukainya,
terlebih Joan yang memiliki kegemaran Hiking.
Jika kemarin
datang ke tempat ini, aku merasakan berat pada bahu dan bagian belakang
tubuhku.... tapi, kali ini, tidak, sehingga kami bisa menyusuri tempat ini
walau sedikit terganggu karena medan yang sepertinya kurang bersahabat.
Setelah sekian
lama berjalan, tibalah kami di tempat yang disebut SENDANG. Sebagian kabut
masih menutupi badan bangunan bercat hitam itu.
__ADS_1
“Joan, kita
sudah tiba di Sendang. Apa kita harus memasuki bangunan itu ?” tanyaku.
Pandangan Joan
menyapu ke sekeliling, hanya padang rumput hijau dengan latar belakang gunung
dan perbukitan. Sendang adalah bangunan satu – satunya yang berdiri di tempat
itu.
“Jika kita
menyusuri sungai ini, akan tiba dimana, ya ?”
“Sungai itu
sepertinya tak berujung, Joan. Akan memakan waktu lama sekali bila kita mencari
hilir sungai. Kita tidak tahu ada apa disana karena kita bukan penduduk
setempat. Lebih baik jika ada sebuah rumah atau penduduk yang bisa kita mintai
keterangan,” kataku.
“Kau melihat
kakek berbaju hitam itu dimana ?”
“Di seberang
sungai 10 meter di depan sana,”
“Kalau begitu,
kita coba berjalan 10 meter lagi. Kita berdua rasanya tak mampu melakukan
pekerjaan ini,” Joan mengusulkan.
Kami kembali
melangkah, hingga akhirnya di depan kami membentang tanah lapang yang cukup
luas. Sebuah gapura terbuat dari susunan batu – batu berwarna hitam berdiri di
tengah – tengahnya. Angin semilir berhembus perlahan, tercium oleh kami aroma
wangi aneh, berasal dari sesajen yang diletakkan di bagian tengah gapura.
Di tempat ini ....
Kembali aku
merasakan tubuhku berat, kepalaku pusing dan pandanganku berkunang – kunang.
“Cel, kau
kenapa ?” tanya Joan cemas yang melihatku berdiri sempoyongan.
“Tampaknya, aku
butuh istirahat sejenak,” kataku sambil menaruh pantatku di rerumputan hijau.
Aku menatap ke sekeliling sambil memijiti kening dan bahuku, berharap ada rumah
penduduk atau minimal orang lewat. Sejauh mata memandang, hanyalah rerumputan
dan tanah kosong.
“Cel, aku tak
habis pikir ... kau hanya melihatnya sekilas, tapi, kau nekad ingin menemuinya
tanpa peduli dengan keadaanmu. Sudah sejauh ini kita tak menemukan apapun.
Apakah kau tidak salah ?” tanya Joan.
“Dia tidak salah,”
Suara berat itu mengejutkan kami, berasal dari rimbunan
pepohonan, 5 meter di depan. Seorang kakek tua berpakaian serba hitam
dengan tongkat bambu kuning di tangan
kanannya. Sekalipun Joan disebut gadis pemberani, akan tetapi, kemunculannya
yang tiba – tiba juga penampilan kakek itu, membuatnya mundur beberapa tindak manakala
melihat sepasang sorot mata yang tersembunyi di antara alis putih, menatap
penuh selidik. Bola mata kakek itu seukuran kelereng, tajam berkilat-kilat
"Edan," seru Joan tanpa sadar, "Dia muncul
tiba-tiba, padahal dari tadi disana tidak nampak apapun. Mengapa sekarang ada
sebuah gubuk ?" gumamnya lirih.
"Mbah Buluk sudah menunggu kedatanganmu,
nduk..." kata kakek tua itu padaku. Ia mengalihkan pandangannya ke arah
Joan, "Bawa temanmu itu masuk sebelum mereka membuatnya tak sadarkan
diri,"
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu, Mbah ?"
tanya Joan.
Aku memberi isyarat agar Joan menuruti perkataan kakek
tua itu.
"Serius ?" tanya Joan.
Aku mengangguk. Joan membantuku berdiri, memapah dan
berjalan menuju gubuk sederhana beratap ijuk / rumbiah itu.
"Kau ini kurus, tapi, mengapa bobotmu semakin lama
semakin berat ... Ada apa denganmu, Cel ?" tanya Joan sambil
membaringkanku di balai-balai bambu.
Setelah aku berbaring, kakek itu mengurut bahu, tengkuk,
ubun-ubun dan setelah menaruh telunjuk kanannya pada keningku, aku merasakan
adanya hawa hangat mengalir dari ujung jari-jemari kaki menyebar ke setiap
aliran pembuluh darah dan nadi hingga ke kepala. Seketika itu, tubuhku kembali
ringan. Seringan kapas. Kakek yang ternyata bernama Mbah Buluk itu duduk
bersila sambil menundukkan kepala, mulutnya komat-kamit dan ....
***
Sebuah cahaya putih menyilaukan, membuatku harus
memejamkan mata. Saat membuka kelopak mataku... Aku, Joan dan Mbah Buluk sudah
berada di sebuah tempat asing.
Sebuah tanah pemakaman...
Ada kira – kira 73 patok batu nisan disana, 3 diantaranya
ditutupi dengan kain berwarna merah tua terletak paling ujung.
“Kita sebenarnya berada dimana, Mbah ? Mengapa mengajak
kami kemari ?” tanyaku.
“Kita berada di gerbang dua dimensi. Tempat yang kalian
lihat ini adalah dunia, dimana orang biasa menyebutnya DUNIA TAK KASAT MATA.
Mbah Buluk akan membawa kalian melintasi lorong ruang dan waktu untuk menjawab
semua pertanyaan yang ada di benak kalian, termasuk bagaimana salah seorang
teman kalian yang bernama Bianca itu bisa berubah liar dan beringas, sesekali
pula berubah menjadi seperti orang linglung,” jelas Mbah Buluk.
Aku menatap ke sekeliling, selain kami bertiga ada pula
seorang wanita tua, bongkok, menaruh kedua tangannya di punggung, sementara,
rambutnya yang kelabu disanggul, mengenakan baju kebaya berwarna merah. Wanita
itu pernah kutemui dalam mimpiku.
Sepasang bola matanya yang putih menatapku tanpa
ekspresi. Ia membalikkan badan, berjalan ke arah makam, kami mengikutinya dari
belakang sementara, Mbah Buluk kembali berkata, “Beliau bernama NYAI SEKAR ABANG.
__ADS_1
Kau bisa memanggilnya dengan sebutan Mbah Abang. Beliaulah yang selama ini
menjaga dan melindungimu. Tanpa beliau, mungkin kau takkan bisa bertahan sampai
detik ini. Kau sering merasakan bahu kanan dan tubuh bagian belakang berat, itu
karena Mbah Abang mencegah sosok – sosok gaib penghuni tempat ini merasukimu,”
jelas Mbah Buluk.
Kami sudah sampai di pemakaman itu. Hanya makam biasa,
tapi, yang membuat kami tertarik adalah 3 Patok Batu Nisan dibungkus dengan
kain merah. Mbah Buluk mulai bercerita ....
***
Dulu
penduduk desa ini, hidup rukun, tenang dan damai; selalu berpegang teguh pada
kebudayaan leluhur, dengan demikian mampu menangkal pengaruh buruk kebudayaan
asing. Setiap jengkal tanah ini, tidak luput dari kentalnya budaya nenek moyang
dan dianggap sakral. Setiap kali terjadi bencana alam, NAKAMPE GADING yang
dulunya bernama SINUHUN PANGAYOMAN, selalu terhindar dari bencana tersebut. Mereka
meyakini, adanya kekuatan besar tak kasat mata yang melindunginya termasuk
letusan dahsyat Gunung Raung, beberapa tahun silam. ( pertama kali tahun 1586. Letusan
pertama tersebut tercatat sebagai letusan hebat, hingga mengakibatkan wilayah
di sekitarnya rusak dan memakan korban jiwa. Masuk tahun dekade 2010, Gunung
Raung pernah meletus pada tahun Oktober 2012, lalu Juni 2015 dan Januari 2021 ).
Hingga...
Pada masa kependudukan Jepang ( 1942 – 1945 ).
Desa ini menjadi tempat penampungan para pengungsi dari kota yang jelas
memiliki kultur budaya berbeda. Memang, tidak semua budaya kota itu buruk, akan
tetapi, perlahan tapi pasti, merusak keselarasan yang sudah ada sejak dulu.
Ditambah lagi masuknya kebudayaan Jepang. Semua itu bertolak belakang dengan kebudayaan
desa SINUHUN PANGAYOMAN.
Banyak
para gadis di desa ini diperlakukan tidak manusiawi, mereka dibawa ke kota
untuk dijadikan Jugun Ianfu ( PSK ), sehingga mereka harus menanggung malu
seumur hidupnya. Bagi mereka yang bernasib baik, akan menjadi seorang yang
dihargai dan dihormati di negara Matahari terbit tersebut. Akan tetapi, bagi
yang bernasib sial dan nekad kembali ke kampung halaman, konsekuensinya, MATI.
Kebrutalan
dan kebengisan DAI NIPPON, membuat apa yang selama ini diyakini, dipegang teguh
oleh para penduduk desa, boleh dibilang sirna. Setiap jengkal tanah yang
disakralkan, menjadi tempat genangan air mata, darah dan keringat penduduk ini.
Dimana – mana wabah penyakit menjalar dan membuat sebagian para penduduk
mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di
tempat yang baru, para panatua desa bersepakat untuk melakukan TAPA BRATA, YOGA
SAMADHI. Melakukan penyucian diri, perenungan dan berpuasa untuk mengembalikan
kedamaian Desa. Sayangnya, perbedaan paham, juga beban mental dan psikologis
yang ditebarkan oleh DAI NIPPON, membuat
para panatua seringkali berselisih paham. Mbah Joglo dan Mbah Buluk adalah
panatua yang selalu berpegang teguh pada budaya leluhur, tetapi, Mbah Jauhari
mencoba menerapkan budaya baru yang diyakininya berasal dari SANG MAHA
PENCIPTA. Inilah yang ditakutkan oleh berbagai pihak, sebab, selama ini
perselisihan pendapat jarang bahkan tidak pernah terjadi.
Mbah
Jauhari menyatakan, untuk mengembalikan ketentraman dan kedamaian desa perlu
adanya tumbal. Tumbal tersebut diambil dari daging dan darah para pendatang,
khususnya gadis muda. Setelah dia dikorbankan, hendaknya para penduduk memakan
daging dan meminum darahnya, untuk kemudian dimakamkan di tanah keramat. Di
sebelah Utara desa ini. Sedangkan, para gadis yang menjadi korban pelecehan
seksual DAI NIPPON dan hamil tua juga dikorbankan untuk membersihkan aib yang
sudah melanda desa selama masa penjajahan Jepang. Jenazahnya, dimakamkan di
sebelah Barat, DESA BAJANG.
Entah
kebetulan atau bukan, saran Mbah Jauhari ini membuahkan hasil. Beberapa bulan
setelah ritual itu dilangsungkan, langit sebelah Timur tampak sebuah bola
raksasa yang cukup besar, diiringi gumpalan – gumpalan awan menyerupai wedhus
gembel membumbung tinggi ke udara. Tersiar berita bahwa 2 jantung kota Matahari
terbit itu, Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh tentara Amerika memakan
korban lebih dari 140,000 jiwa, melumpuhkan Jepang di segala bidang.
Mbah
Jauhari dianggap berjasa besar bagi penduduk, maka, untuk menghormati dan
membalas jasanya dibuatlah sebuah patung raksasa yang berwujud Makhluk
mengerikan dan diletakkan di dalam ruangan sebuah bangunan bernama SENDANG.
Sementara, ke- tujuh puluh makam itu adalah pemakaman para gadis yang dijadikan
tumbal dan juga pemakaman untuk orang asing yang secara sengaja atau tidak
sengaja datang dan meninggal di desa ini.
SENDANG,
sebenarnya adalah kolam untuk memandikan jenazah yang dijadikan tumbal tolak
balak selama masa kependudukan Jepang.dan di hari – hari tertentu dijadikan
tempat berkumpulnya para penduduk untuk melakukan ritual TAPA BRATA, YOGA
SAMADHI. Saat ritual itu diadakan, pastilah ada seseorang yang ditumbalkan. Darahnya
diminum dan dagingnya dimakan bersama – sama. Sejak adanya ritual itu, DESA
SINUHUN PANGAYOMAN diubah namanya menjadi NAKAMPE GADING.
Mbah
Buluk dan Mbah Joglo adalah 2 dari sekian banyak panatua yang tersisih dan
senantiasa memegang teguh kebudayaan Desa Sinuhun Pangayoman. Mereka berusaha
mengembalikan kultur kebudayaan yang sudah ada selama ribuan tahun dan mencoba
untuk mengungkap identitas Mbah Jauhari dan atas dasar apa yang membuatnya
melakukan hal – hal mengerikan di desa ini.
3 Patok
Batu Nisan yang ditutupi kain merah, menandakan bahwa, orang yang berada di
makam itu adalah pendatang yang meninggal kurang dari 40 hari. Di dalam makam
itu, terkubur jenazah Pedro, Parto dan Ikbal.
Bersambung
Babak Keenam
( Kamis, 19 Jan
__ADS_1
2023 )