( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB V


__ADS_3

Setelah


kejadian itu, Bella jatuh sakit. Tubuhnya panas namun, ia menggigil seperti


kedinginan. Teman-teman yang mendengar cerita tentang berubahnya Bianca menjadi


sosok mengerikan itu membuat terheran-heran tidak .. Tapi, apa yang menimpa


Bella, itu adalah bukti tak terbantahkan. Satu yang kuingat pesan Mbah Joglo.


"Nduk...


Ojo Sampek bocah Iki mambu getih, telinga Dina Iki lek kepingin areke


waras,"


( Tiga hari ke


depan, anak ini jangan sampai mencium bau darah, jika ingin sembuh ).


Penjelasan Mbah


Joglo tentang perubahan pada diri Bianca adalah karena mencium bau darah atau


daging mentah. Penjelasan itu beralasan karena sebelum kejadian, sewaktu Bella


mengupas buah apel untuk diberikan pada Bianca, tanpa sengaja jarinya tersayat


pisau. Darah yang mengucur dari lukanya tanpa sengaja tercium oleh Bianca.


Entah mengapa mendadak saja, Bianca menjadi agresif dan menyerang Bella.


Sementara,


Pedro dan yang lainnya belum berhasil ditemukan.


"Sebenarnya,


apa yang telah terjadi di tempat ini ?" tanya Yulia.


"Kalau


terus-menerus seperti ini... KKN kita jadi terhambat, terancam batal bahkan


bisa jadi kita tidak lulus," sambung Akhmad.


"Lalu,


harus bagaimana lagi ? Kalau tidak ada Ikbal dan yang lainnya, kira-kira bisa


berhasil atau tidak ?!" ujar Joan.


"Sebenarnya,


kita ini salah apa ? Mengapa harus terjebak dalam situasi yang kacau balau


begini ?" tangis Yulia pecah.


"KKN ini,


Ikbal dan kawan-kawan kuncinya. Tanpa mereka, kita tidak bisa apa-apa,"


kata Joan, “Menurutmu bagaimana, Cell ? Kok diam saja ?”


“Hei !”


Tepukan pada


bahu kanan, membuyarkan lamunanku, buru – buru aku menoleh ke arah Joan dan


yang lain, “Ya, Ada apa ?” tanyaku.


“Awakmu kuwi


ngelamun opo, to ? Diajak ngomong meneng wae,” seru Hudi.


“Kita sudah


terhenti di tempat ini selama satu minggu. Teman – teman kita menghilang entah


kemana. 3 orang penduduk tewas mengenaskan gara – gara Bianca yang kerasukan


makhluk aneh. Dan, masih banyak kejadian aneh selama kita berada disini. Sempat


terlintas di benakku, kita pergi saja dari desa ini tanpa Ikbal dan yang lain,”


kataku.


“Bagaimana kau


bisa berpikir demikian ?” sahut Hudi, “Dimana hati nuranimu ?”


“Hud,” tukas


Joan, “Kita sudah mengaduk-aduk seluruh desa ini bersama dengan para penduduk


desa ... tapi, Ikbal dan yang lain tidak ditemukan. Apa kau bisa melihat


keadaan Bianca dan Bella ? Dengar, Kita sudah cukup dipusingkan dengan


banyaknya kejadian yang tak masuk akal. Aku khawatir akan terjadi hal – hal


yang tidak diinginkan,”


“Kalian jangan


ribut lagi. Sebaiknya kita cari jalan keluar yang baik dan aman,” sahutku.


“Kita akan


membagi tugas, berharap saja tugas ini bisa rampung beberapa hari ke depan. Aku


dan Joan, akan menuju ke arah Selatan dimana aku bertemu dengan kakek berbaju


hitam, tampaknya, beliau mengetahui sesuatu. Hudi dan Akhmad melanjutkan


pencarian ke titik terakhir. Berharap saja, mudah – mudahan mereka bisa


ditemukan di tempat itu. Yulia menjaga Bella dan Bianca,”


***


Sungai itu


panjang, berkelok – kelok bagaikan ular raksasa. Arusnya begitu tenang dan


berair jernih, begitu jernihnya hingga dasar sungai kelihatan.Aku dan Joan


berjalan menyusuri tepian sungai yang terdiri dari bebatuan setinggi orang


dewasa sebagai pembatas daratan dan badan sungai. Berdiri berjejer bagaikan


barisan raksasa penjaga daerah yang oleh para penduduk setempat disebut dengan


nama Kali Kidul itu.


Hari masih pagi


saat kami tiba di tempat ini. Sinar matahari menerobos celah – celah dedauhan,


dahan dan ranting membentuk garis – garis sinar indah, menyapu perlahan kabut –


kabut tipis yang sudah semalaman melingkupi seantero tempat itu. Kehangatan sinarnya,


mengembalikan kehidupan pagi yang sempat terhenti oleh dinginnya malam.


Asri, tenang


dan damai. Kira – kira itulah yang bisa kukatakan saat tiba di Kali Kidul.


Suasana alami yang semacam itulah membuat kami merasa enggan untuk meninggalkan


tempat itu. Terlebih suara gemericik air, menggoda kami untuk mandi atau


sekedar membasuh muka, paling tidak bisa merasakan segarnya air sungai


tersebut. Aku tidak tahu dimana sumber mata airnya atau dimana bermuara...


tapi, yang jelas masih bersih alami bahkan layak untuk diminum tanpa direbus


terlebih dahulu. Aroma harum dan segar itulah yang menyebabkanku dapat dengan


mudah menarik kesimpulan demikian.


Bagiku, juga


Joan .... menyusuri tempat ini, seakan kembali ke alam liar, aku menyukainya,


terlebih Joan yang memiliki kegemaran Hiking.


Jika kemarin


datang ke tempat ini, aku merasakan berat pada bahu dan bagian belakang


tubuhku.... tapi, kali ini, tidak, sehingga kami bisa menyusuri tempat ini


walau sedikit terganggu karena medan yang sepertinya kurang bersahabat.


Setelah sekian


lama berjalan, tibalah kami di tempat yang disebut SENDANG. Sebagian kabut


masih menutupi badan bangunan bercat hitam itu.

__ADS_1


“Joan, kita


sudah tiba di Sendang. Apa kita harus memasuki bangunan itu ?” tanyaku.


Pandangan Joan


menyapu ke sekeliling, hanya padang rumput hijau dengan latar belakang gunung


dan perbukitan. Sendang adalah bangunan satu – satunya yang berdiri di tempat


itu.


“Jika kita


menyusuri sungai ini, akan tiba dimana, ya ?”


“Sungai itu


sepertinya tak berujung, Joan. Akan memakan waktu lama sekali bila kita mencari


hilir sungai. Kita tidak tahu ada apa disana karena kita bukan penduduk


setempat. Lebih baik jika ada sebuah rumah atau penduduk yang bisa kita mintai


keterangan,” kataku.


“Kau melihat


kakek berbaju hitam itu dimana ?”


“Di seberang


sungai 10 meter di depan sana,”


“Kalau begitu,


kita coba berjalan 10 meter lagi. Kita berdua rasanya tak mampu melakukan


pekerjaan ini,” Joan mengusulkan.


Kami kembali


melangkah, hingga akhirnya di depan kami membentang tanah lapang yang cukup


luas. Sebuah gapura terbuat dari susunan batu – batu berwarna hitam berdiri di


tengah – tengahnya. Angin semilir berhembus perlahan, tercium oleh kami aroma


wangi aneh, berasal dari sesajen yang diletakkan di bagian tengah gapura.


Di tempat ini ....


Kembali aku


merasakan tubuhku berat, kepalaku pusing dan pandanganku berkunang – kunang.


“Cel, kau


kenapa ?” tanya Joan cemas yang melihatku berdiri sempoyongan.


“Tampaknya, aku


butuh istirahat sejenak,” kataku sambil menaruh pantatku di rerumputan hijau.


Aku menatap ke sekeliling sambil memijiti kening dan bahuku, berharap ada rumah


penduduk atau minimal orang lewat. Sejauh mata memandang, hanyalah rerumputan


dan tanah kosong.


“Cel, aku tak


habis pikir ... kau hanya melihatnya sekilas, tapi, kau nekad ingin menemuinya


tanpa peduli dengan keadaanmu. Sudah sejauh ini kita tak menemukan apapun.


Apakah kau tidak salah ?” tanya Joan.


 “Dia tidak salah,”


Suara berat itu mengejutkan kami, berasal dari rimbunan


pepohonan, 5 meter di depan. Seorang kakek tua berpakaian serba hitam


dengan  tongkat bambu kuning di tangan


kanannya. Sekalipun Joan disebut gadis pemberani, akan tetapi, kemunculannya


yang tiba – tiba juga penampilan kakek itu, membuatnya mundur beberapa tindak manakala


melihat sepasang sorot mata yang tersembunyi di antara alis putih, menatap


penuh selidik. Bola mata kakek itu seukuran kelereng, tajam berkilat-kilat


"Edan," seru Joan tanpa sadar, "Dia muncul


tiba-tiba, padahal dari tadi disana tidak nampak apapun. Mengapa sekarang ada


sebuah gubuk ?" gumamnya lirih.


"Mbah Buluk sudah menunggu kedatanganmu,


nduk..." kata kakek tua itu padaku. Ia mengalihkan pandangannya ke arah


Joan, "Bawa temanmu itu masuk sebelum mereka membuatnya tak sadarkan


diri,"


"Bagaimana kami bisa mempercayaimu, Mbah ?"


tanya Joan.


Aku memberi isyarat agar Joan menuruti perkataan kakek


tua itu.


"Serius ?" tanya Joan.


Aku mengangguk. Joan membantuku berdiri, memapah dan


berjalan menuju gubuk sederhana beratap ijuk / rumbiah itu.


"Kau ini kurus, tapi, mengapa bobotmu semakin lama


semakin berat ... Ada apa denganmu, Cel ?" tanya Joan sambil


membaringkanku di balai-balai bambu.


Setelah aku berbaring, kakek itu mengurut bahu, tengkuk,


ubun-ubun dan setelah menaruh telunjuk kanannya pada keningku, aku merasakan


adanya hawa hangat mengalir dari ujung jari-jemari kaki menyebar ke setiap


aliran pembuluh darah dan nadi hingga ke kepala. Seketika itu, tubuhku kembali


ringan. Seringan kapas. Kakek yang ternyata bernama Mbah Buluk itu duduk


bersila sambil menundukkan kepala, mulutnya komat-kamit dan ....


***


Sebuah cahaya putih menyilaukan, membuatku harus


memejamkan mata. Saat membuka kelopak mataku... Aku, Joan dan Mbah Buluk sudah


berada di sebuah tempat asing.


Sebuah tanah pemakaman...


Ada kira – kira 73 patok batu nisan disana, 3 diantaranya


ditutupi dengan kain berwarna merah tua terletak paling ujung.


“Kita sebenarnya berada dimana, Mbah ? Mengapa mengajak


kami kemari ?” tanyaku.


“Kita berada di gerbang dua dimensi. Tempat yang kalian


lihat ini adalah dunia, dimana orang biasa menyebutnya DUNIA TAK KASAT MATA.


Mbah Buluk akan membawa kalian melintasi lorong ruang dan waktu untuk menjawab


semua pertanyaan yang ada di benak kalian, termasuk bagaimana salah seorang


teman kalian yang bernama Bianca itu bisa berubah liar dan beringas, sesekali


pula berubah menjadi seperti orang linglung,” jelas Mbah Buluk.


Aku menatap ke sekeliling, selain kami bertiga ada pula


seorang wanita tua, bongkok, menaruh kedua tangannya di punggung, sementara,


rambutnya yang kelabu disanggul, mengenakan baju kebaya berwarna merah. Wanita


itu pernah kutemui dalam mimpiku.


Sepasang bola matanya yang putih menatapku tanpa


ekspresi. Ia membalikkan badan, berjalan ke arah makam, kami mengikutinya dari


belakang sementara, Mbah Buluk kembali berkata, “Beliau bernama NYAI SEKAR ABANG.

__ADS_1


Kau bisa memanggilnya dengan sebutan Mbah Abang. Beliaulah yang selama ini


menjaga dan melindungimu. Tanpa beliau, mungkin kau takkan bisa bertahan sampai


detik ini. Kau sering merasakan bahu kanan dan tubuh bagian belakang berat, itu


karena Mbah Abang mencegah sosok – sosok gaib penghuni tempat ini merasukimu,”


jelas Mbah Buluk.


Kami sudah sampai di pemakaman itu. Hanya makam biasa,


tapi, yang membuat kami tertarik adalah 3 Patok Batu Nisan dibungkus dengan


kain merah. Mbah Buluk mulai bercerita ....


***


Dulu


penduduk desa ini, hidup rukun, tenang dan damai; selalu berpegang teguh pada


kebudayaan leluhur, dengan demikian mampu menangkal pengaruh buruk kebudayaan


asing. Setiap jengkal tanah ini, tidak luput dari kentalnya budaya nenek moyang


dan dianggap sakral. Setiap kali terjadi bencana alam, NAKAMPE GADING yang


dulunya bernama SINUHUN PANGAYOMAN, selalu terhindar dari bencana tersebut. Mereka


meyakini, adanya kekuatan besar tak kasat mata yang melindunginya termasuk


letusan dahsyat Gunung Raung, beberapa tahun silam. ( pertama kali tahun 1586. Letusan


pertama tersebut tercatat sebagai letusan hebat, hingga mengakibatkan wilayah


di sekitarnya rusak dan memakan korban jiwa. Masuk tahun dekade 2010, Gunung


Raung pernah meletus pada tahun Oktober 2012, lalu Juni 2015 dan Januari 2021 ).


Hingga...


 Pada masa kependudukan Jepang ( 1942 – 1945 ).


Desa ini menjadi tempat penampungan para pengungsi dari kota yang jelas


memiliki kultur budaya berbeda. Memang, tidak semua budaya kota itu buruk, akan


tetapi, perlahan tapi pasti, merusak keselarasan yang sudah ada sejak dulu.


Ditambah lagi masuknya kebudayaan Jepang. Semua itu bertolak belakang dengan kebudayaan


desa SINUHUN PANGAYOMAN.


Banyak


para gadis di desa ini diperlakukan tidak manusiawi, mereka dibawa ke kota


untuk dijadikan Jugun Ianfu ( PSK ), sehingga mereka harus menanggung malu


seumur hidupnya. Bagi mereka yang bernasib baik, akan menjadi seorang yang


dihargai dan dihormati di negara Matahari terbit tersebut. Akan tetapi, bagi


yang bernasib sial dan nekad kembali ke kampung halaman, konsekuensinya, MATI.


Kebrutalan


dan kebengisan DAI NIPPON, membuat apa yang selama ini diyakini, dipegang teguh


oleh para penduduk desa, boleh dibilang sirna. Setiap jengkal tanah yang


disakralkan, menjadi tempat genangan air mata, darah dan keringat penduduk ini.


Dimana – mana wabah penyakit menjalar dan membuat sebagian para penduduk


mengungsi ke tempat yang lebih aman.


Di


tempat yang baru, para panatua desa bersepakat untuk melakukan TAPA BRATA, YOGA


SAMADHI. Melakukan penyucian diri, perenungan dan berpuasa untuk mengembalikan


kedamaian Desa. Sayangnya, perbedaan paham, juga beban mental dan psikologis


yang ditebarkan  oleh DAI NIPPON, membuat


para panatua seringkali berselisih paham. Mbah Joglo dan Mbah Buluk adalah


panatua yang selalu berpegang teguh pada budaya leluhur, tetapi, Mbah Jauhari


mencoba menerapkan budaya baru yang diyakininya berasal dari SANG MAHA


PENCIPTA. Inilah yang ditakutkan oleh berbagai pihak, sebab, selama ini


perselisihan pendapat jarang bahkan tidak pernah terjadi.


Mbah


Jauhari menyatakan, untuk mengembalikan ketentraman dan kedamaian desa perlu


adanya tumbal. Tumbal tersebut diambil dari daging dan darah para pendatang,


khususnya gadis muda. Setelah dia dikorbankan, hendaknya para penduduk memakan


daging dan meminum darahnya, untuk kemudian dimakamkan di tanah keramat. Di


sebelah Utara desa ini. Sedangkan, para gadis yang menjadi korban pelecehan


seksual DAI NIPPON dan hamil tua juga dikorbankan untuk membersihkan aib yang


sudah melanda desa selama masa penjajahan Jepang. Jenazahnya, dimakamkan di


sebelah Barat, DESA BAJANG.


Entah


kebetulan atau bukan, saran Mbah Jauhari ini membuahkan hasil. Beberapa bulan


setelah ritual itu dilangsungkan, langit sebelah Timur tampak sebuah bola


raksasa yang cukup besar, diiringi gumpalan – gumpalan awan menyerupai wedhus


gembel membumbung tinggi ke udara. Tersiar berita bahwa 2 jantung kota Matahari


terbit itu, Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh tentara Amerika memakan


korban lebih dari 140,000 jiwa, melumpuhkan Jepang di segala bidang.


Mbah


Jauhari dianggap berjasa besar bagi penduduk, maka, untuk menghormati dan


membalas jasanya dibuatlah sebuah patung raksasa yang berwujud Makhluk


mengerikan dan diletakkan di dalam ruangan sebuah bangunan bernama SENDANG.


Sementara, ke- tujuh puluh makam itu adalah pemakaman para gadis yang dijadikan


tumbal dan juga pemakaman untuk orang asing yang secara sengaja atau tidak


sengaja datang dan meninggal di desa ini.


SENDANG,


sebenarnya adalah kolam untuk memandikan jenazah yang dijadikan tumbal tolak


balak selama masa kependudukan Jepang.dan di hari – hari tertentu dijadikan


tempat berkumpulnya para penduduk untuk melakukan ritual TAPA BRATA, YOGA


SAMADHI. Saat ritual itu diadakan, pastilah ada seseorang yang ditumbalkan. Darahnya


diminum dan dagingnya dimakan bersama – sama. Sejak adanya ritual itu, DESA


SINUHUN PANGAYOMAN diubah namanya menjadi NAKAMPE GADING.


Mbah


Buluk dan Mbah Joglo adalah 2 dari sekian banyak panatua yang tersisih dan


senantiasa memegang teguh kebudayaan Desa Sinuhun Pangayoman. Mereka berusaha


mengembalikan kultur kebudayaan yang sudah ada selama ribuan tahun dan mencoba


untuk mengungkap identitas Mbah Jauhari dan atas dasar apa yang membuatnya


melakukan hal – hal mengerikan di desa ini.


3 Patok


Batu Nisan yang ditutupi kain merah, menandakan bahwa, orang yang berada di


makam itu adalah pendatang yang meninggal kurang dari 40 hari. Di dalam makam


itu, terkubur jenazah Pedro, Parto dan Ikbal.


Bersambung


Babak Keenam


( Kamis, 19 Jan

__ADS_1


2023 )


__ADS_2