•MY BOYFRIENEMY•

•MY BOYFRIENEMY•
PAKSAAN


__ADS_3

———————


Bugh'


Satu pukulan sangat mulus mengenai rahang seorang pria yang memakai seragam pramuka, pria itu tersungkur dan memegangi pipinya secara spontan. Ia bisa merasakan betapa perihnya, belum lagi ada sebercak darah yang keluar dan mengenai telapak tangannya juga.


"Bangun lo, gak usah jadi pengecut. Badan doang gede, otak kosong!" Sengit pria yang baru saja memberinya pukulan, pria berhidung mancung yang sangat terkenal.


"Lo beraninya sama anak bocah sih, bang? Gue salah apa sih sama lo? Gue—"


"Gak usah drama, anjing. Maksud lo ngejelekin gue apa? Lo pikir gue gak tau, semua yang lo lakuin dibelakang gue juga gue tau. ***,"


Pria ini hampir mengangkat kembali tangannya, sebelum beberapa orang datang untuk menengahinya.


"Udah, baal, tahan. Cabut aja, Pak Marno mau kesini." Ucap pria bermata sipit yang langsung mendorong bahu Iqbaal untuk menjauh dari musuhnya.


"Awas lo, urusan lo sama gue belum selesai." Ucap Iqbaal sengit, ia memberikan tatapan tajamnya yang sangat ditakuti.


Sedangkan pria yang menjadi lawannya tadi hanya diam, ia memilih pergi dari sana sebelum guru itu datang dan memintanya menjelaskan apa yang terjadi, nanti kena lagi dia sama Iqbaal si most wanted itu.


Huh.


Sekilas, seorang Iqbaal Dhiafakhri, siapa sih yang tak mengenal pria yang sudah dijuluki pentolan sekolah sejak kelas 10? Pria yang baru masuk sudah berani melawan 3 kakak kelas yang terkenal bad, maka dari itu julukan itu diberikan untuknya. Namun, Iqbaal sama sekali tidak merasa seperti itu, ia termasuk pria yang cuek dan tidak perduli dengan ketenaran, walau faktanya mengatakan bahwa ia sangat tenar sampai keluar sekolah.


Bisa dikatakan, Iqbaal adalah pria yang tidak mempunyai rasa takut. Ia menjalani hidup dengan caranya sendiri, hebatnya, ia selalu bisa menempatkan diri. Iqbaal juga banyak diincar oleh gadis-gadis manis disekitarnya, namun Iqbaal tidak peduli akan hal itu, toh ia juga sudah mempunyai kekasih yang selama ini menemaninya selama hampir 1 tahun lebih. Ya, meski masalah setiap hari ada, Iqbaal sama sekali tidak ambil pusing, ia mencintai gadisnya, sehingga ego sebesar apapun, selalu ia kesampingkan.


Selain banyak gadis yang mendekat, ia juga memiliki banyak masalah yang mendekat. Paling sering masalah seperti tadi, masalah dengan teman. Iqbaal tidak akan langsung menyerang, ia memantau dulu lawannya sampai habis kesabarannya barulah ia berulah yang membuatnya harus keluar masuk BK.


Sudah jangan bicarakan Iqbaal, nanti kalian suka!


hehehe..


*****


"Asik, besok kita nemenin adik-adik kelas lomba Saman!" Pekik seorang gadis dengan senang.


"Siapa aja?" Tanya temannya.


"Gue, lo, (Namakamu) sama Caitlin." Jawab gadis ini dengan kedua matanya membaca kertas yang ditempel di madding.


"Gue?" Tanya (namakamu) yang langsung mendongak, karena ia sedaritadi hanya diam dan memainkan ponselnya.


"Iya."


"Kapan?" Tanya (namakamu) yang mulai mengubah sorot matanya menjadi menatap madding.


"Besok anjrit. Fokus napa fokus, main handphone terus!" Semprot Zidny, ya, namanya Zidny, gadis yang sedari tadi berbicara.


(Namakamu) berdecak, ia menatap lekat madding, membaca dengan teliti siapa saja yang akan ikut lomba Saman besok. Untungnya ia hanya mengawasi adik-adik kelas 10 saja, jadi agak sedikit bebas dan tidak harus latihan segala.


"Kita awasin mereka latihan nanti, bilangin si Caitlin juga." Ucap Salsa yang sedari tadi hanya diam saja, ya, Salsa memang terkenal jutek. Sedetik kemudian, ia pergi meninggalkan (namakamu) dan Zidny.


Zidny melirik (namakamu), lalu tersenyum. "Pulang nebeng ya?"


"Lo yang bawa motornya."


"Oke. Tapi, nongski dulu lah.." Ajak Zidny dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


(Namakamu) ikut tersenyum. "Dasar licik! Udah janjian sama gebetan ya?" Terkanya.


Zidny tertawa. "100 buat lo!"


"Jajanin gue."


"Beres.."


(Namakamu) dan Zidny sama-sama berjalan menyusuri koridor untuk menuju kelas mereka, keduanya tak henti berbicara, terutama Zidny yang terus membahas tentang gebetan barunya yang bersekolah di SMA terpopuler kedua setelah sekolah ini. (Namakamu) hanya menimpali dengan kata-kata yang sedikit, tak jarang itu membuat Zidny kesal.


"Pokoknya gue bakalan jadian, gue gak mau ditikung kayak yang udah-udah!" Prinsip Zidny tegas.


(Namakamu) tersenyum sedikit. "Semoga, Zid. Semoga.."


"Nanti lo gue kasih pajaknya 2 kali lipat, oke?" Ucap Zidny dengan senyum, kemudian ia masuk ke dalam kelas.


(Namakamu) berdecih, ia ikut masuk, namun sesuatu membuatnya meng-aduh dan spontan memegang pinggangnya. Ia menatap tajam seseorang yang telah melakukan hal konyol itu padanya.


"Sakit!" Pekiknya kesal dan membalasnya dengan memukul pelan bahu orang itu.


"Apaan sih, lebay. Mana bukunya?" Tanya pria itu yang menyenderkan punggungnya pada pintu kelas yang tertutup sebelah.


"Tunggu." Ucapnya.


Namun, saat ingin masuk, seseorang itu mencekal tangannya dan langsung meraih ponselnya. (Namakamu) hanya berdecak kecil, lalu masuk ke dalam, sedangkan pria itu menunggunya diluar dengan memainkan ponsel (namakamu).


Siapa?" Tanya Zidny.


(Namakamu) mengambil sebuah buku ditasnya, lalu menyerutkan bibirnya menatap Zidny. "Laki gue." Jawabnya.


Zidny berdecih. "Najis."


(Namakamu) terkekeh, lalu pergi keluar untuk memberikan buku itu. "Nih," Ucapnya.


"Oke." Pria itu menerimanya dengan senyuman tipis.


"Kok lo bawa motor sih?" Tanya pria itu dengan menyerutkan keningnya.


"Disuruh Mama, soalnya semalem ada yang bilang katanya mau jemput tapi ditungguin sampe jam setengah 7 gak dateng-dateng. Yaudah, daripada telat mending bawa motor." Tutur (namakamu) sedikit menyindir secara halus.


"***, gak gitu. Tapi, nanti ikut kan?" Tanyanya.


"Gak, si Zidny ngajakin duluan buat nongski sama gebetannya."


"Ah apaan sih, dari kemarin Zidny mulu. Jalan mulu sama Zidny, keluyuran gak jelas, lo berdua lesbian ya?"


(Namakamu) spontan menoyor pipi pria itu, "Punya mulut kalo ngomong suka sembarangan, siapa yang lesbi? Lagian baru juga mau main sama Zidny, gabung aja sih."


Ogah, gue tau gebetan Zidny anak SMA Pansil. Pokoknya ini gue bawa, awas lo!" Pria itu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi, ia memasukkan ponsel milik (namakamu) ke dalam saku celananya.


"Aelah, Iqbaal!"


*****


(Namakamu) keluar dari kelasnya bersamaan dengan Zidny. Keduanya sama-sama berjalan menuju lantai satu untuk menuju ruang seni, tempat biasa mereka melaksanakan pertemuan atau latihan ekskul Saman.


"Nih, kunci motor lo aja yang pegang." Ucap (namakamu) menyerahkan kunci motor pada Zidny yang langsung diambil dan dikantungi.


"Gue gak tau ikut apa enggak, si Iqbaal gak mau," Ucap (namakamu), lagi.


"Ih, ngapain ajak Iqbaal? Kan gue maunya sama lo doang." Balas Zidny menunjukkan tatapan protes.


"Dia nyuruh gue ikut nongski sama temen-temennya, gue bingung, gue ajak aja eh dianya gak mau. Malah handphone gue dibawa," Tutur (namakamu).


"Segitunya banget, udah gak lo kasih jatah berapa hari sih?" Tanya Zidny sewot.


(Namakamu) memutar kedua bola matanya, ia menoyor kening Zidny yang selalu tidak pernah diayak setiap berbicara, makhluk paling gacor adalah Zidny!


Lo bawa aja deh motor gue nanti, gue ikut Iqbaal. Nanti lo balikin aja motor gue ke rumah gue," Ucap (namakamu).


"Tapi, lo anterin gue pulang." Pinta Zidny.


"Iya, bawel."


Mereka berdua sama-sama memasuki ruang seni saat semua sudah berkumpul disana, sudah ada Salsa dan Caitlin juga. (Namakamu) dan Zidny sama-sama duduk disebuah bangku, memperhatikan Salsa dan Caitlin yang memberi arahan untuk adik kelas lomba besok.


(Namakamu) sedikit risih dengan beberapa adik kelas yang selalu menatapnya dengan aneh, seakan ingin menerkamnya, apakah ada yang salah?


(Namakamu) memilih menyandarkan kepalanya di bahu Zidny, matanya melirik Zidny yang tengah mengetik sesuatu disana, rupanya ia sedang chattingan dengan sang gebetan.


"Itu Karel OSIS bukan sih?" Tanya (namakamu) saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel Zidny.


"Dulu sempet jadi OSIS, sekarang udah keluar."


"Demi apa?"


"Iya. Kenapa? Lo kenal?"


"Dia pernah deketin gue, pernah ngasih coklat gitu."


"Serius?" Tanya Zidny mendadak syok.


"Iya. Cuma udah lama, pas SMP."


"Gila lo ya, jangan diambil, (nam)! Gue pengen banget sama Karel, tolong.."


"Lo yang gila, mau diamuk Iqbaal gue?" Balas (namakamu).


Zidny tersenyum. "Lo anteng-anteng aja sama Iqbaal, jangan lirik cowok lain, soalnya lo cantik dan pasti cowok banyak yang ngantri buat lo."


"Gila lo!" Ucap (namakamu).


"Tapi, lo pacaran sama Karel?"


"Pacaran dulu, satu hari doang."


"Ih!" Desis Zidny kesal sendiri.


"ASSALAMU'ALAIKUM."


Semua yang ada didalam sontak langsung menjawab salam dan menoleh pada dua orang pria yang berdiri diambang pintu. Semua menatap bingung, hanya Salsa saja yang masih memasang wajah jutek, bahkan sangat jutek sekarang.


(Namakamu) bangkit dari duduknya saat orang itu mengisyaratkannya untuk keluar. (Namakamu) tercengir pada semua, lalu berlarian kecil keluar diikuti dengan Zidny yang sangat kepo.


"Apa sih?" Tanya (namakamu) yang sudah ada diluar.


"Ayo buruan, ngapain sih Saman mulu," Ucap ... Ya, benar, Iqbaal.


"Latihan doang sebentar." Jawab (namakamu).


"Latian mulu, (nam). Pernah menang juga kaga," Sahut seorang pria yang ada disebelah Iqbaal dan sontak mengundang tawa remeh Iqbaal.


"Bacot lo, Bas."


"Udah lah gak usah Saman, ada si nenek lampir ini." Ucap Iqbaal asal seraya melirik Salsa yang ada didalam.


"Sebentar doang, kalo mau duluan yaudah, nanti gue nyusul. Sini handphonenya, biar gampang." Pinta (namakamu).


"Handphone apaan sih?" Tanya Iqbaal agak ngegas.


"Dih oon banget sih, handphonekan sama lo, siniin biar gue gampang nanti tinggal chat—"


"Ngomong apaan sih lo." Potong Iqbaal dengan cepat.


(Namakamu) berdecak, kebiasaan. Iqbaal itu tipe cowok yang kalau mau sekarang ya sekarang, tidak bisa dibantah sama sekali. Sifatnya keras. (Namakamu) kadang capek kalau sifat ini keluar dari dalam diri Iqbaal. Mengalah selalu solusinya.


"Cabut, Pe." Iqbaal menepuk bahu Kipe sekali, lalu membalik tubuhnya untuk segera pergi.


(Namakamu) dengan cepat menarik ujung seragam Iqbaal, ia memasang wajah kesalnya. "Balikin dul—"


"Ih, apaan sih, gak boleh tau megang-megang bukan mahram nih dosa." Iqbaal menepis pelan tangan (namakamu), lalu kembali berjalan disusul Kipe yang hanya tertawa jahat.


(Namakamu) berdecak. "Iqbaal."


(Namakamu) memutar tubuhnya, ia langsung disuguhi Zidny yang menahan tawanya. "Seneng lo?"


"Enggak kok. Lo mau pergi sekarang?" Tanya Zidny yang sebisa mungkin tidak tertawa.

__ADS_1


"Liat aja sendiri, orangnya udah begitu."


Zidny terkekeh. "Semangat!"


*****


(Namakamu) berjalan menghampiri Iqbaal yang duduk diatas motornya. Ia mau tak mau jadi harus mengikuti kemauan Iqbaal, meminta izin dengan Salsa bukanlah hal yang mudah, tatapan sinis dan ketus ia dapatkan demi seorang Iqbaal. Hmz.


(Namakamu) yang tidak mau basa-basi langsung naik ke atas motor Iqbaal, namun lelaki itu kembali menahan lengannya.


"Apa lagi sih, ya ampun?" Tanya (namakamu) yang wajahnya sudah BT.


"Beliin rokok dulu, sebentar." Suruh Iqbaal yang merogoh saku seragamnya.


"Gak!" Tolak (namakamu) sarkas.


"Sebentar doang elah, disana, sebungkus aja nih.." Iqbaal menyerahkan uangnya pada (namakamu) yang justru berdecak.


"Jangan lah, rokok gak bagus." Ucap (namakamu) dengan malas.


Iqbaal terkekeh kecil, "Kalo disuruh males banget sih lo, ayo lah."


(Namakamu) berdecih, ia melihat uang yang diberikan Iqbaal. "Duitnya pas, tambahin goceng lagi."


"Buat apaan?"


"Jajan."


"Kayak bocah banget sih dikit-dikit jajan, dikit-dikit jajan." Ucap Iqbaal yang kembali merogoh sakunya.


"Nih," Iqbaal menyerahkan selembar uangnya.


"Masa 2 ribu? Dapet apa?"


"Beli dulu, sayang.."


(Namakamu) menyerutkan bibirnya, "Tapi—"


"Beli dulu, nyet. Nanya mulu," Potong Iqbaal dengan kesal.


(Namakamu) diam, sedetik kemudian ia menarik leher Iqbaal sehingga menempatkan wajah Iqbaal di


kaca spion.


"Apaan sih, tolol." Gumam Iqbaal yang menepis tangan (namakamu).


"Liat gak lo?"


"Apaan sih."


"Muka lo jelek, kayak monyet." Ledek (namakamu) yang langsung melangkah meninggalkan Iqbaal.


"***." Gumam Iqbaal pelan.


"Mom's calling"


'Hallo ,pulang dulu kak. Jagain dulu si adek, Mamah sama Ayah mau ke acara temen Ayah.'


"Ajak aja sih adeknya."


'Ih, kamu tuh kalo disuruhnya.'


"Aku lagi diluar."


'Kesini aja, buruan, kak, Mamah buru-buru.'


"Iya deh ah, sebentar, kakak pulang."


'Ya.'


Tutt.. Tut...


(Namakamu) mematikan saluran telfonnya, ia mendongak, menatap Iqbaal yang tengah asik menghisap rokoknya dengan teman-temannya seraya membicarakan sesuatu yang entah apa, (namakamu) gak ngerti pokoknya itu urusan laki-laki.


(Namakamu) bangkit dari duduknya, ia menghampiri Iqbaal. "Baal, sini dulu."


Iqbaal menyerit. "Apaan?"


"Sini.."


Iqbaal mau tak mau berdiri, menghampiri (namakamu). "Apaan? Mau makan lagi? Pesen aja."


"Enggak. Gue disuruh balik, Mamah sama Ayah mau pergi, disuruh jagain alien." Ucap (namakamu).


Iqbaal terdiam, ia melirik teman-temannya sejenak, lalu kembali menatap (namakamu). "Yaudah, ayo. Lagian juga udah kelar." Jawab Iqbaal seraya mematikan rokoknya diasbak dan membuangnya.


Iqbaal berjalan menuju teman-temannya untuk pamit. Sedangkan (namakamu) menatap juga beberapa gadis yang termasuk temannya pula, ada Deandra pacar Kipe, Shafa pacar Bastian, dan Erica pacar dari Aldi. Sama halnya dengan Iqbaal, ia berpamitan untuk pergi terlebih dahulu.


(Namakamu) langsung pergi saat Iqbaal sudah berjalan lebih dahulu keluar dari sebuah kedai kecil yang menjadi tempat tongkrongannya. (Namakamu) mengikat rambutnya seraya menunggu Iqbaal yang sibuk memakai jacketnya.


"Aduh," Ringis (namakamu) spontan saat Iqbaal, entah sengaja atau tidak, ia memakai jacket begitu ribet membuat tangannya mengenai wajah (namakamu).


"Jangan disitu." Kata Iqbaal dengan santai seraya naik ke atas motornya.


(Namakamu) ikut naik ke atas motor Iqbaal dengan posisi miring dan langsung menutupi pahanya dengan sweater yang ia bawa.


"Baal," Seru Aldi dari dalam yang berjalan menghampirinya.


"Apa lagi?" Tanya Iqbaal heran.


"Handphone lo, bego." Aldi menyerahkan handphone milik Iqbaal yang membuat pemiliknya tercengir.


"Lupa."


"Aki-aki." Ledek (namakamu) dengan asal ceplos.


"Bacot. Nih, pegang." Iqbaal menyerahkan ponselnya yang langsung diambil oleh (namakamu).


Setelah itu, Iqbaal mulai menyalakan motornya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat. Uwuu..


*****


"Bang Iqbaallll."


Iqbaal yang baru membuka sepatu langsung menoleh saat seorang anak laki-laki menyerukan namanya dengan sangat semangat. Anak kecil berusia 5 tahun itu langsung mendekatinya dan tercengir membuat siapapun gemas melihatnya, terkecuali (namakamu), mungkin.


"Nah loh, baru dateng udah disambut sama anak gue." Ucap Iqbaal yang langsung mengacak rambut anak kecil itu.


"Itu apa, kak?" Tanya anak itu pada (namakamu) yang datang dengan membawa sekantung belanjaan.


"Kepo." Jawab (namakamu) yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Ih, gak jelas." Balas anak itu.


"Emang. Itu dia bawa makanan banyak banget, pintain sana, minuman semua isinya." Ucap Iqbaal mengompori.


"Masa?"


"Iya."


"Kok bang Iqbaal tau?"


"Kan belinya sama Iqbaal." Jawab Iqbaal yang mulai berjalan masuk dengan adik (namakamu) yang ada disampingnya.


"Kakak, mau minumannya." Pinta adik lelaki satu-satunya, si Fajri.


"Gak, apa sih lo!" Sinis (namakamu) seraya membuka satu minuman susu yang baru ia beli, ia menjatuhkan tubuhnya disofa yang ada diruang tamu.


Iqbaal ikut duduk disamping (namakamu), ia menatap Fajri yang masih memegang tangannya. "Ini anak gay apa gimana sih, (nam)? Dipegangin mulu gue."


(Namakamu) mendengar itu langsung memukul pelan tangan Fajri agar tidak memegang Iqbaal lagi. "Kamu jangan pegang-pegang. Masa cowok pegang cowok."


"Apa sih, kakak." Ketus Fajri. "Bang, aku punya topi baru, sama kayak punya Abang waktu itu."


"Masa?"


"Iya, aku ambil, sebentar." Fajri langsung berlarian kecil menuju kamarnya, huh se-exited itu memang Fajri bila bertemu Iqbaal, sudah cocok lah Iqbaal jadi kakak ipar yang baik. Hehe..


"Adek lo kesambet apa sih, heboh sendiri gitu." Ucap Iqbaal yang mulai memainkan ponselnya.


(Namakamu) terkekeh, "Ya gitu."


"Abang.." Teriak Fajri yang berlarian seraya membawa topi hitam ditangannya.


"Anjing!" Pekik Iqbaal spontan saat Fajri yang terlalu bersemangat itu berlari dan tanpa sengaja menginjak kakinya.


(Namakamu) berdecak, ia menatap sinis Iqbaal. "Baal, ah, jangan gitu." Katanya.


"Jangan ngagetin ya, Fajri. Abang suka gini, omongannya gak pernah ke kon—" Iqbaal berhenti sejenak, ia berdeham.


"Ke kon-trol." Ucap Iqbaal hati-hati, kalau salah sebutkan bahaya.


(Namakamu) hanya tersenyum, dasar lelaki ini, minta sekali disebor.


"Topi aku sama kayak Abang, aku pake ini." Fajri memakai topinya.


"Terus?" Tanya Iqbaal.


"Sama kayak Abang kan?" Tanya Fajri dengan senyumnya.


"Gak penting, ***." Gumam Iqbaal pelan dengan kekehannya, diikuti tawa geli dari (namakamu).


"Aku ada lagi topi, Abang pake itu ya?"


"Mana?"


Fajri kembali lari ke dalam kamarnya, mengambil topi yang ia maksud.


"(Nam), adek lo ada masalah apa sih dihidupnya? Gila sendiri." Ucap Iqbaal yang mendapat tinjuan kecil dari (namakamu) ditangannya.


"Maklumin, namanya juga bocah. Mangkanya jangan diladenin, nanti dia tambah suka sama lo." Ucap (namakamu) dengan kekehan.


"Gila lo."


"Nih, Bang." Fajri kembali berlarian kecil menghampiri Iqbaal dengan membawa topi yang membuat Iqbaal melongo.


"Anjrit, apaan nih?" Tanya Iqbaal melihat Fajri yang ternyata membawa animal hat berwarna hijau.


"(Nam), yang bener aja. Masa gue disuruh pake ginian," Ucap Iqbaal memperlihatkan topi yang Fajri bawa, (namakamu) terkekeh.


"Eh, gapapa, pake coba." (Namakamu) mengambilnya, memakaikannya pada Iqbaal yang hanya bisa diam pasrah.


Fajri tertawa. "Bang Iqbaal kayak anak kecil." Katanya.


"Lucu kan?" Tanya Iqbaal dengan tersenyum lebar.


(Namakamu) terkekeh, ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera. "Sini, foto dulu."


"Sama aku." Fajri seketika langsung naik ke atas sofa dan duduk dipangkuan Iqbaal.


"Astaga, ini anak brutal amat." Ucap Iqbaal.


"Fajri apaan sih, kakak mau foto Iqbaal doang. Ah, lo mah memperjelek aja!" Protes (namakamu) mendorong Fajri agar pergi, namun justru Fajri malah memeluk Iqbaal.


"Fajri gak boleh gitu dong, ih najong." Kesal (namakamu).

__ADS_1


"Sumpah, calon gay ini." Ucap Iqbaal asal ceplos.


"Fajri jangan gitu, nanti kamu suka sama Iqbaal aja, bahaya." Peringat (namakamu) yang menarik lengan adiknya.


"Emang aku suka."


Damn.


(Namakamu) dan Iqbaal sama-sama melotot. (Namakamu) seketika langsung menarik adiknya dari pangkuan Iqbaal, "Fajri kamu jangan aneh-aneh." Ucapnya.


"Apa sih, aku mau sama Bang Iqbaal ih!" Kekeh Fajri.


"Fajri kakak bilangin Mamah ya, udah mulai suka-sukaan sama orang." Ancam (namakamu) yang membuat Fajri terdiam.


"Turun gak!" Suruh (namakamu) yang dituruti Fajri, meski dengan wajah kesal.


"Aku mau sama Bang Iqbaal, Bang Iqbaal aja jarang kesini. Kalo kakak kan ketemu terus sama Bang Iqbaal, aku enggak." Tutur Fajri dengan nada merajuk.


"Fajri, dengerin Abang. Kalo cowok sama cewek gapapa, masih sah aja, enak juga dilihatnya. Lagian masa kamu sama Bang Iqbaal, gak enak, masa batang ketemu batang."


(Namakamu) yang semula mendengar dengan baik, kini mulai berdesis dan menatap Iqbaal datar, ia menutup mulut Iqbaal dengan sebelah tangannya.


"Jangan gitu, Fajri masih kecil." Kesal (namakamu) sedikit berbisik.


"Fajri gak punya batang." Celetuk Fajri polos yang mengundang tawa dari Iqbaal, seketika (namakamu) langsung melepaskan tangannya dari mulut Iqbaal.


(Namakamu) memutar kedua bola matanya, ia bangkit dan menarik Fajri untuk duduk dibawah, diatas karpet berbulu. "Kamu disini, jangan deket-deket Bang Iqbaal!"


Iqbaal yang masih terkekeh ikut duduk dibawah, ia menatap Fajri. "Sini sayang, kamu jadi anak didik aku." Ucapnya menatap Fajri, Iqbaal membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Fajri.


(Namakamu) memukul tangan Iqbaal. "Gue tampol lo ya!" Ancamnya menatap tajam Iqbaal.


Iqbaal tersenyum. "Fajri sini."


"Enggak! Fajri duduk, gak boleh deketin Bang Iqbaal, dia punya kakak."


Iqbaal tersenyum tipis saat (namakamu) duduk dihadapannya dengan posisi membelakanginya, ya, (namakamu) tengah menjadi penghalang antara Fajri dan dirinya. Duh, kebayang gak sih mereka kalau nikah dan punya anak wkwkw.


"Ih, kakak juga aku bilangin Mamah, suka-sukaan sama Bang Iqbaal."


"Bodoamat." Jawab (namakamu) asal.


"Dasar kakak jelek." Ucap Fajri sebal, ia memilih berbaring diatas karpet.


"Dasar tukang ngompol." Tambah Fajri.


"FAJRI APAAN SIH LO, PERGI SANA AH, MAIN KE TETANGGA AJA, ILANG JUGA BODOAMAT!"


Iqbaal bergidig. "Pantesan bau pesing dari tadi."


"Enggak, gue udah mandi tadi pagi." Jawab (namakamu) yang langsung duduk setengah menghadap Iqbaal.


"Emang beneran ngompol lagi?" Tanya Iqbaal tak percaya.


"Aaaaaaa!" (Namakamu) menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia merengek kesal sekaligus malu, meski bukan hal baru bagi Iqbaal mengetahui ini.


"Astaga, (namakamu). Udah bangkotan masih aja ngompol gitu, ih." Ucap Iqbaal sok kaget.


(Namakamu) menatap Iqbaal dengan senyumnya yang ditahan. "Gak gitu, kan keceplosan. Sedikit doang gak banyak."


"Mau sedikit, mau banyak, yang namanya ngompol itu jorok. Lagian udah gak seharusnya ngompol, anjrit." Ucap Iqbaal diakhiri dengan memukul kening (namakamu) pelan.


(Namakamu) menyerutkan bibirnya. "Itukan gara-gara minum es kebanyakan, lagi juga cuma sekali."


Iqbaal menatapnya dengan rasa geli, jijik, tapi sayang. Jadi, tatapannya sulit diartikan. (Namakamu) yang ditatap langsung tercengir salting dan menutup wajah Iqbaal dengan kedua tangannya.


"Udah ah, ngapain sih bahas." Ucap (namakamu) yang kembali menarik tangannya, ia memasang wajah datar cuek.


Iqbaal menggelengkan kepalanya. "Tau jorok gak?"


"Tau *** gak?" Tanya balik (namakamu) yang membuat Iqbaal diam.


"Gak usah minum susu lagi deh, nanti malah ngompol terus."


"Emang kenapa sih gak boleh? Sombong amat." Balas (namakamu) yang menatap layar ponselnya karena menampakkan chat masuk dari Zidny.


"Kalo dibilanginnya. Pantesan Zidny kalo disuruh nginep gak pernah mau, takut kebanjiran kali ya."


(Namakamu) reflek terkekeh dan memukul paha Iqbaal. "Baal, jangan berlebihan." Rengeknya.


"Fakta. Jangankan Zidny, Fajri aja gak mau kan?" Tanya Iqbaal.


"Guenya yang gak mau," Bela (namakamu).


"Tapi jangan deh, nanti kalo lo berdua tidur bareng bukan banjir lagi tuh kamar, bikin pulau lo berdua di kamar." Celetuk Iqbaal asal.


(Namakamu) terkekeh, lagi. "Gak mau. Gak ngompol gue tuh kalo gak minum es banyak-banyak, setiap hari aja gak pernah ngompol."


"Masa?"


"Bener. Tidur sama gue mangkanya biar tau," Ucap (namakamu) asal, ia menatap Iqbaal yang juga menatapnya beberapa detik. Lalu, keduanya tertawa bersamaan.


"Jangan mancing." Ujar Iqbaal.


"Enggak," Ucap (namakamu) yang menyandarkan kepalanya di dada Iqbaal seraya matanya yang berpaling dari chat Zidny.


"Push rank enak nih kayaknya, sinyal kenceng." Ucap Iqbaal tiba-tiba.


"Enggak," Ucap (namakamu) menimpali.


"Dih, lo juga main hp."


"Bales chat Zidny doang, dia mau kesini nganterin motor." Jawab (namakamu) yang langsung mematikan handphone-nya.


"Sama siapa?"


"Sendiri lah, masa mau se-RT."


"Idih, lucu lo bego."


"Gue gak ngelawak."


Iqbaal terkekeh. "Gue bisa ngeramal nih." Ucapnya.


"Apaan?" Tanya (namakamu) yang kembali menegakkan tubuhnya.


Iqbaal merentangkan kedua tangannya. "Sini."


"Ngapain?"


"Sini dulu, cepetan, mau diramal."


(Namakamu) mendekat, ia memeluk Iqbaal yang juga memeluknya. Entah apa maksudnya, ia juga tidak mengerti.


"Udah, jangan nafsu." Ucap Iqbaal yang melepaskan pelukannya.


"Apa sih."


"Gue ramal nih, pasti berat badan lo nambah, bener gak?" Tanya Iqbaal langsung.


(Namakamu) menyerit. "Emang ngaruh?"


"Iya apa enggak?"


"Kayaknya iya, tapi emang bisa apa?"


"Bisa lah, udah banyak yang gue ramal begitu." Ucap Iqbaal yang langsung menghadirkan tatapan datar dari (namakamu).


"Terus?" Tanya (namakamu).


"Terus pada nyaman." Jawab Iqbaal dengan senyum simpul.


(Namakamu) berdecak, ia menjitak kening Iqbaal. "Kenalin." Katanya.


"Jangan ah, nanti berantem. Gak lucu kalo berantem ngerebutin gue," Ucap Iqbaal dengan nada percaya diri.


"Idih, emang cowok lo doang?!" Balas (namakamu) sengit.


"Bener?" Tanya Iqbaal yang membuat (namakamu) berdecak dan kembali memeluknya, menyandarkan kepalanya di bahu Iqbaal dengan manja.


Iqbaal tersenyum, ia melirik Fajri yang entah sejak kapan sudah tertidur. Ia membalas pelukan (namakamu) dengan sayang. Uuuh.


"Tapi ramalannya bener, gue naik 5 kilo." Ujar (namakamu) tiba-tiba, tanpa ada niat berpindah posisi sedikitpun.


"Gapapa, sehat." Jawab Iqbaal asal.


(Namakamu) tersenyum, ia memainkan jemarinya dipunggung Iqbaal. Kini ia sedikit mengubah posisi kepalanya, menempelkan dagunya dibahu Iqbaal.


"Ku ingin diet, tapi bsjajaonslsmalanajaoam... Kau ingin putih, tapi wkkwwkwnjwnakak—"


"Nyanyi apa sih, anjing?" Tanya Iqbaal yang mendorong tubuh (namakamu) agar melihat wajah gadis itu.


(Namakamu) terkekeh geli, ia menepuk pelan bahu Iqbaal. "Lagunya Fiersa Besari, norak deh.."


"Gak gitu lagunya, lo ngarang. Nyanyi kayak kumur-kumur."


"Bagus tapi suara guenya."


"Kalo mau nyanyi, lehernya—"


"Shh.."


(Namakamu) berdesis kegelian saat Iqbaal menyentuh lehernya dengan sebelah tangannya, (namakamu) langsung menepis tangan Iqbaal.


"Geli, tolol, idiot."


Iqbaal menyerit. "Apa sih, lebay."


(Namakamu) bangkit dari duduknya, ia menghampiri Fajri yang sepertinya sudah asik dialam mimpi. (Namakamu) menggendongnya, namun tidak bisa, terlalu berat.


"Iqbaal gendongin, pindahin ke kamar." Ucap (namakamu) meminta tolong.


"Suruh jalan sendiri."


"Mana bisa, cepet pindahin."


Iqbaal bangkit dari duduknya, ia menggendong Fajri dan mengikuti (namakamu) pergi ke kamar bernuansa Transformer. Iqbaal menggeletakkan(?) Fajri diatas ranjang berukuran kecil, lalu berjalan lagi keluar, namun langkahnya terhenti.


"Dih, *****, Fajri punya koleksi ini?" Tanya Iqbaal yang sedikit norak saat melihat satu lemari berisi mainan lengkap toy story'.


"Norak deh ah, ayo." Ajak (namakamu) yang berjalan keluar dari kamar Fajri, namun Iqbaal masih saja disana.


(Namakamu) duduk kembali disofa, ia mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja dan berbunyi, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang.


'Devano's Calling'


Wajahnya berubah menjadi tegang, ia dengan cepat mematikan handphone-nya, sama sekali tidak menjawab panggilan dari lelaki itu. (Namakamu) menggigit bibir bawahnya, seketika detak jantungnya menjadi cepat.


'Kenapa sih suka gak tepat gini,' Gumamnya dalam hati.


.


.


BERSAMBUNGG

__ADS_1


__ADS_2