•MY BOYFRIENEMY•

•MY BOYFRIENEMY•
BYE BYE IQBAALLLLL


__ADS_3

———————


Hari ini adalah hari Kamis dan itu tandanya sudah 4 hari Iqbaal tak ada disamping (namakamu) membuat gadis itu merasakan sepi luar biasa dihidupnya. Biasanya, Iqbaal selalu melakukan sesuatu yang membuat mereka ujung-ujungnya harus beradu bacot dan diakhiri dengan saling sayang-sayang gemas. Duh, jadi makin rindu saja.


Menghadapi situasi ini bukanlah hal sulit bagi (namakamu), toh dalam setahun mereka menjalin hubungan sudah beberapa kali Iqbaal pergi meninggalkankannya demi futsal, entah futsal sekolah ataupun luar. Tak apa, daripada meninggalkannya karena perempuan lain, mending futsal, yakan?


Tapi, hari ini (namakamu) mendadak tidak ada mood sama sekali. Bahkan dari kemarin, (namakamu) mendadak resah dan gelisah sendiri karena sudah 2 hari lamanya Iqbaal tidak ada kabar, kalau sampai hari ini tidak ada kabar juga sudah 3 hari jadinya. Huh, kenapa pria itu? Sedang apa? Dimana? Dan ada apa?


(Namakamu) berjalan menyusuri koridor bersama dengan Zidny hari ini, bukan hari ini saja tetapi memang setiap hari pun ia selalu bersama Zidny.


"Lo cemberut aja sih dari kemarin, ada apa lagi?" Tanya Zidny bingung menghadapi sikap (namakamu) yang selalu murung.


(Namakamu) menggeleng pelan tanpa mau membuka mulutnya. Ia tetap menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong tanpa mau memberhentikan langkahnya sebelum benar-benar sampai ke depan pintu kelas.


Zidny memberhentikan langkahnya, ia menyentakkan kakinya sebal. "Harus cari tau nih, pasti ada hubungannya sama si Iqbaal." Gumamnya. Zidny langsung membalik tubuhnya dan berjalan pergi kembali ke koridor lantai satu.


(Namakamu) sama sekali tidak peduli akan hal itu, ia saja tidak melirik Zidny dan tidak tahu kalau Zidny sudah tak lagi bersamanya.


Haduh Iqbaal.. jangan membuat (namakamu) seperti mayat hidup gini dong. Kemana sih kamu, sayang?!


*****


(Namakamu) mengunyah bakso dengan kedua matanya terfokus pada layar ponsel yang menampakkan sebuah chat dari seseorang dan yang pasti orang itu bukan Iqbaal. (Namakamu) berulang kali membalas pesan singkat itu dengan cepat, untuk pelarian mungkin.


"Hot news parah!"


(Namakamu) tersentak saat Zidny yang memekik begitu kencang dan duduk disampingnya dengan menggebrak meja membuat beberapa siswa/i yang ada di kantin ikut menoleh sejenak. Zidny tidak perduli, ia tetap menatap (namakamu) dengan wajahnya yang terlihat kaget dan tak sabar untuk bercerita.


"Gue males gibah dan gue lagi gak mood buat ngomong—"


"Ini soal Iqbaal." Potong Zidny cepat yang membuat (namakamu) terdiam sejenak.


"Apa?" Tanya (namakamu) pelan.


Zidny mengeluarkan handphone-nya, mengutak-atik sebentar sebelum benar-benar diberikan pada (namakamu). Ia menggelengkan kepalanya pelan disertai decakan.


"Gila ya, adek kelas yang mirip Alexa foto bareng sama Iqbaal terus diupload disnapgramnya. Baru 5 jam yang lalu," Ucap Zidny.


[LOOK PICT YAK]


"Terima kasih segala lagi, abis ngapain mereka ya?" Ucap Zidny bingung juga.


Ia berdeham panjang. "Ini yang bikin lo gak mood ya hari ini? Eh—" Zidny terkesiap saat (namakamu) menaruh handphone-nya begitu saja dan langsung pergi dari sana.


Zidny menyerit, ia segera mengambil ponselnya dan berlari mengejar (namakamu). Zidny mulai menyamakan langkahnya dengan (namakamu) saat dikoridor, ia bisa melihat wajah (namakamu) jadi tambah murung. Salah dia?


"(Nam), gue minta maaf kalo buat lo tambah sedih. Gue cuma ngasih tau doang, bukan ngomporin. Ya—sedikit ngomporin sih tadi, cuma gue gak maksud gitu." Tutur Zidny menatap wajah temannya itu.


"Yah, lo mah baper sama gue." Tambah Zidny jadi merasa bersalah sendiri.


"(Namakamu)." Seru Zidny yang ikut masuk ke kelas, ia duduk disamping (namakamu) yang menatap kesal ke arah depan.


"Gue salah ya? Gue tau deh, gak seharusnya ya gue ngasih tau foto itu? Maafffff.." Mohon Zidny dengan sangat.


"Berisik lo, gapapa. Gue gak baper sama lo, tapi sama Iqbaal." Jawab (namakamu) datar, hanya menoleh sedetik ke Zidny.


"Kenapa?"


(Namakamu) diam beberapa detik sebelum akhirnya memutar duduknya menghadap Zidny. (Namakamu) merubah tatapannya menjadi sendu.


"Gue kesel, Iqbaal sama sekali gak ada kabar 2 hari sampe hari ini. Semua sosmednya off, gue telfon biasa juga gak aktif." Ucap (namakamu) dengan wajah sebal dan bahunya yang naik turun, entah karena emosi atau ingin menangis. Sepertinya keduanya.


Zidny tak berkedip, ia cukup kaget. "Tapi, bukannya lo bilang Iqbaal gak boleh main handphone?"


"Terus itu si adek kelas centil ngapain upload snapgram gitu? Boleh main handphone dong. Gue juga ngechat Kipe sama Gusti masih bisa, cuma gak dibales sama dua orang laknat itu, Bastian juga gak dibales, tapi kata Shafa mereka masih chattan. Ahhhhhh, gue jadi nethingkan!!"


Zidny menyerit. "Nething kenapa?"


"Ya.. gue ngerasa mereka cowok-cowok biadap itu sengaja, mereka sekongkol sama Iqbaal biar si Iqbaal itu ngedeketin siapa sih tuh namanya gue gak tau.."


"Yang mirip Alexa?"


"Iya!!! Ih, ngebelin banget. Awas aja gue mah, liat aja, sampe sini gue bakalan marah." Ucap (namakamu).


Zidny menghela nafasnya. "Udah lah, gak usah dipikirin. Mending pulang sekolah kita beli baju, yuk? Buat acara pensi sekolah lusa, jangan bilang lo lupa!"


(Namakamu) menatap Zidny dengan menyerutkan bibirnya. "Gue gak peduli, gak mau ikut pensi."


"Heh jangan gitu!! Biar lo lupain Iqbaal dulu sebentar, pas pensi kita nyanyi-nyanyi uuuuuuu.. pasti seru apalagi cowoknya ganteng-ganteng. Ayolahhhhhh.." Bujuk Zidny.


(Namakamu) berdecak, "Iya."


"Yesss! Yaudah jangan mikirin Iqbaal mulu, lagian juga adek kelas itu gak ada apa-apanya sama lo."


(Namakamu) berdeham, ia menyandarkan kepalanya diatas meja dengan ditatak oleh tasnya. (Namakamu) membuka ponselnya, ia mengetikkan sesuatu yang berisi;


'ya, Dev. Nanti malem aja'


(Namakamu) sudah tidak perduli, untuk apa ia menjaga hatinya sedangkan Iqbaal disana asik-asiknya dengan adik kelas yang wajahnya mirip dengan mantan pertamanya itu, hah?!


(Namakamu) juga bisa!!


*****


Seperti rencana, (namakamu) dan Devano ingin pergi malam ini guna mencari kado untuk kakak Devano. (Namakamu) sudah siap dan rapih, ia menarik nafasnya dalam sebelum keluar dari rumahnya. Ia sudah siap dengan resiko yang akan ia dapatkan, soal Iqbaal.... salah pria itu sendiri.


(Namakamu) membuka pintu dengan menggendong sling bag miliknya, ia memakai flatshoes dan langsung pergi keluar gerbang rumahnya yang sudah ada Devano dengan motornya disana. (Namakamu) tersenyum hangat menyambutnya.


"Lama ya?" Tanya (namakamu) sekedar basa-basi, sebenarnya ia juga Devano baru datang.


Devano menggeleng. "Enggak. Sekarang aja yuk, keburu kemalaman."


(Namakamu) mengangguk, ia menunggu Devano yang menyiapkan motornya, lalu naik ke atas motor pria yang sekarang memakai baju kaos berwarna biru dongker dengan celana pendek berwarna putih gading.


"Mau cari apa emang?" Tanya (namakamu).


"Nah itu, gue bingung. Gue kemarin ke kamar Salsa semuanya dia udah punya." Ucap Devano.


(Namakamu) berdeham. "Baju?"


"Aduh, lemarinya dia udah penuh. Kalo nambah satu baju lagi kayaknya bakalan meledak." Jawab Devano asal.


(Namakamu) berdeham, lagi. "Apa dong? tas?"


Kini gantian, Devano yang berdeham. "Kalo itu kayanya cowoknya udah mau ngasih."


"Lo emang gak ada rencana apa gitu?" Tanya (namakamu).


"Ada sih, mau beliin dia high heels, soalnya diakan bogel."


(Namakamu) terkekeh kecil, lalu spontan memukul bahu Devano pelan. "Gak boleh gitu, tau deh yang tinggi.."


Devano tersenyum geli. "Lagian juga ulang tahunnya udah lewat," ujarnya.


"Gapapa, kan late birthday gitu." Ucap (namakamu).


"Lagian lo baru bisanya sekarang, emang kemarin-kemarin kenapa?" Tanya Devano kepo.


(Namakamu) terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa, ya.. meski ia yakin Devano sudah tau apa alasannya.


"Gak boleh sama Iqbaal?" Tebak Devano langsung saat (namakamu) tak kunjung ada suara untuk menjawab.


(Namakamu) berdeham kecil, "Gitu.. gue aja gak bilang apa-apa sama Iqbaal."


"Loh, kok gitu? Bilang dong, nanti dia salah paham." Ucap Devano mewanti-wanti.


(Namakamu) berdecak. "Bodo, gue kesel. Udah lah, nanti gue malah jadi curhat."


"Yailah, kayak sama siapa aja sih lo. Emang lo kesel kenapa? Iqbaal buat ulah apa?" Tanya Devano.


(Namakamu) menghela nafasnya pelan, ia sedikit memajukan wajahnya agar suaranya terdengar oleh Devano karena sekarang mereka sudah memasuki jalan raya besar.


Selama perjalanan, Devano hanya diam mendengarkan semua ocehan (namakamu) yang menurutnya memang terlihat emosi sekali gadis itu. Devano hanya menimpali beberapa part saja, takutnya ia salah omong dan malah membuat mood gadis itu tambah buruk.

__ADS_1


Sampailah mereka didepan mall kawasan Jakarta, (namakamu) masih terus bercerita dan Devano masih setia mendengarkan. (Namakamu) sesekali mengechek handphone-nya, siapa tau Iqbaal memberinya kabar namun, nihil. Tidak ada sama sekali, hanya ada beberapa chat yang belum dibaca dari grup dan teman-temannya.


"Gue kayanya pernah denger nama Alexa deh, cukup terkenal dulu dia pas pacaran sama Iqbaal terus dia pergi ke Belanda kalo gak salah."


"Ah, gue gak perduli. Gue gak masalahin Alexa-nya, tapi adek kelasnya itu loh.." Timpal (namakamu) dengan wajah sewot.


Devano terkekeh kecil, ia mengusap wajah (namakamu) pelan. "Udah ih, cepet tua loh marah-marah terus."


"Lagian nguras batin banget sih, awas aja sampe kesini gue unyeng-uyeng."


"Siapa?"


"Iqbaal lah, siapa lagi."


Devano tersenyum kecil. "Lo masih posesif banget sih sama cowok." Cicitnya.


(Namakamu) terdiam, ia melirik Devano sekilas yang memasang senyum tipisnya. Duh, ia jadi malu sendiri.


"Gak gitu, cuma.. masa lo gak ngerti sih." Gumam (namakamu).


Devano berdeham. "Ya, gue tau. Cuma jangan terlalu lah, jujur.. rasanya gak enak."


(Namakamu) menatapnya dengan tatapan yang hanya ia sendiri yang mengerti artinya. Lalu, menunduk. Apa iya?


"Terlalu posesif banget emang?" Tanya (namakamu) kembali mendongak menatap pria jangkung itu.


"Ya.. begitu lah, gue gak bisa terlalu nilai. Cuma kalo untuk keadaan tertentu kadang posesif emang perlu, kayak sekarang misalnya, Iqbaal deket sama adek kelas itu." Tutur Devano entah menasihati atau mengompori.


(Namakamu) menyerutkan bibirnya kesal, seketika saja rasa takut luar biasa keluar dari dalam dirinya. Ia menjadi takut Iqbaal akan berpaling, apalagi seminggu disana dan mereka kenal sudah sejak beberapa minggu akhir-akhir ini.


"Gak usah dibahas, mending langsung cari heels aja yuk? Daripada mood lo keburu jelek." Ajak Devano dengan tetap mempertahankan senyum manisnya.


(Namakamu) hanya mengangguk dan berjalan disamping Devano, menyusuri mall yang besar ini untuk mencari tempat sepatu. Kaki mereka berbelok saat melihat sebuah sepatu cantik berwarna kuning, Devano memilih itu tanpa basa-basi karena itu adalah saran dari (namakamu). Biarlah itu urusan perempuan yang penting Devano sudah memberikan hadiah untuk kakak tersayang sekaligus dapat bonus jalan dengan mantan tersayang. Eh?


Setelah selesai dengan tujuan utama, mereka kembali membelokkan kaki ke Starbucks untuk melepas dahaga. (Namakamu) tinggal duduk dan Devano yang akan memesan. (Namakamu) menatap layar ponselnya, sama sekali tidak ada kabar. Sudahlah, hari ini juga tidak ada kabar apapun dari Iqbaal, sudah 3 hari jadinya Iqbaal menghilang.


Jemarinya menari, mengetikkan sesuatu pada seseorang yang baru saja mengirim gambar yang membuatnya semakin berdecak kesal.


Line on—


Zidnylthfa


•[PICT DIATAS]


Me


•ngapain sih lol


Zidnylthfa


•kalo mau berantem nanti biar ada bukti


Me


•bgst


•seneng lo!!


Zidnylthfa


•seneng sih


•cuma ngeliat lo murung jd iba


Me


•guguk lo


Zidnylthfa


•gue lg diluar


•mau mampir ke home lo


Me


•gue jg lg diluar keleusss


Zidnylthfa


•sama?


•fajri anak setan?


Me


•Devano


Zidnylthfa


•jing, lo jd?!!!!


•mau bls dendam ya sm Iqbaal?


Me


•enggak, ngapain bgt.


Zidnylthfa


•jgn kebanyakan modus


Me


•bodo


Zidnylthfa


•dikasih taunyaaa!!!!!


Line off—


(Namakamu) mengeluarkan aplikasi Line-nya saat Devano datang membawa minumannya. Ia langsung menyedotnya dengan lahap.


"Santai kali, buru-buru banget." Ucap Devano sebelum menyesap minumannya dengan pelan.


(Namakamu) cuek. Ia tetap menghisap minumannya sampai habis setengah, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, ia menatap keluar dengan tatapan polos.


"Apa lagi? Kok badmood banget keliatannya." Ucap Devano memperhatikan (namakamu) yang entah mengapa semakin cantik saja selepas putus.


(Namakamu) mengotak-atik ponselnya, lalu menyerahkannya pada Devano. "Cantik gak?" Tanyanya.


Devano menyerit, ia memperhatikan foto seorang gadis berpakaian cukup terbuka dengan jumpsuit berpose dipinggir pantai.


"Siapa?"


"Adek kelas itu."


"Liat dari muka apa body?" Tanya Devano.


(Namakamu) mendengus, "Biasanya cowok ngeliat dari apanya dulu sih emang?"


"Ya tergantung, kan ada yang liat dari body juga."


"Dua-duanya deh."


"Body-nya sih oke banget, mukanya juga cantik, imut. Ya?" Devano terdiam beberapa detik, lalu berdeham saat melihat ekspresi wajah (namakamu) menjadi kurang enak dipandang saat ia memuji gadis itu.


"Sorry, kan lo nyuruh gue jujur."


"Makasih banget." Jawab (namakamu) dengan nada ketus.


Devano terkekeh garing. "Lo kenapa? Minder?"

__ADS_1


"Idih, ngapain! Geli gue liatnya malah."


Devano tersenyum. "Lo jangan gitu," Tuturnya.


"Udah ah, gue gak mood."


Devano meletakkan kedua tangannya diatas meja dengan sikap siap, ia menatap (namakamu) dengan senyum tipis. "Ngapain minder? Ngapain geli? Cakepan lo kemana-mana kok."


(Namakamu) menatap Devano dengan datar, "Tapi—"


"Lo jangan nething. Lo sempurna kok, siapa bilang lo gak sempurna? Lo cantik, manis, yang terpenting adalah muka lo tuh gak ngebosenin malah sekali liat bikin nagih, kayak candu.."


(Namakamu) spontan tersenyum, lalu terkekeh kecil. "Jangan gitu, gue gampang salting!"


"Salting aja gapapa, lucu kok."


(Namakamu) menyerutkan bibirnya sebal, mencoba menahan senyumnya yang ingin terbentuk.


"Lucuuu!" Gemas Devano mengulurkan sebelah tangannya untuk mencubit pipi chubby (namakamu) membuat gadis itu meringis pelan.


"Ih! Sakit.." Ringisnya.


"Ulululu, maaf.." Devano yang tadi mencubit berubah menjadi mengusap pipi (namakamu) dengan pelan— atau dengan sayang? UPS.


"Resek! Males." Rajuk (namakamu).


"Yah, ngambek. Payah.." Ucap Devano menarik tangannya ke posisi semula.


(Namakamu) menyerut sebal seraya membuang wajahnya kesembarang arah, Devano hanya terkekeh dan terus menatapnya dengan senyum manis yang membuat (namakamu) tidak kuat dan tersenyum malu.


"Devano apaan sih!" Gumamnya seraya menutup kedua mata Devano yang memperhatikannya, ya itu lah (namakamu), lemah kalau ada cogans menatapnya begitu dalam.


"Cantik banget. Gue kira mitos, ternyata emang bener, kalo udah jadi mantan itu kadang jadi cantik."


(Namakamu) berdecak, entah lah se-malu apa ia sekarang. (Namakamu) bangkit dan mengambil es miliknya, "Males gue sama lo, ih nyebelin." (Namakamu) jalan keluar dengan menjulurkan lidahnya meledek Devano.


Devano terkekeh, "Ah, jangan khilaf dong Devano.. tahan."


*****


"(Nam), ayooo!"


"Sabar!!"


(Namakamu) berjalan keluar dari rumah dengan memakai seragam muslim sekolah, lalu naik ke atas motor milik Abidzar. Ya, hari ini ia bersama pria itu. Zidny? Jangan tanya, gadis itu diantar oleh cowok yang entah keberapa ia dekati.


"Iqbaal belum pulang juga?" Tanya Abidzar seraya menyalakan motornya.


(Namakamu) naik keatas dengan duduk miring. "Belum. Eh Bi, dia gak ada sama sekali ngechat lo apa?" Tanyanya seraya membenarkan kerudung segiempatnya.


Abidzar menggeleng. "Enggak, lagian ngapain juga chattan sama cowok."


"Ih! Lo sebagai temannya gimana sih." Dumel (namakamu).


"Lah lo ceweknya gimana? Masa gak tau laki sendiri.." Balas Abidzar seraya meng-gas motornya untuk pergi menuju sekolah.


(Namakamu) berdecak, benar juga sih Abidzar. (Namakamu) memasukkan ponselnya ke dalam tote bag yang ia bawa, lalu diam menatap jalanan yang ia lewati sesekali menimpali pertanyaan Abidzar yang pasti ujung-ujungnya soal cewek. Aduh punya temen kok yang cewek ngomongin cowok terus, yang cowok ngomonginnya cewek terus, kayak tidak ada topik lain aja.


Sampai mereka di sekolah, banyak tatapan adik kelas yang menatap keduanya, cih (namakamu) benci itu. Pasti mereka semua menganggap (namakamu) murahan yang mau dengan siapa saja, (namakamu) sudah tahu itu. Dasar adik kelas iri!!


"Bi, nanti pulang bareng lagi." Ucap (namakamu) yang turun dari motornya saat sudah sampai diparkiran.


"Lo mau nungguin gue Jum'at-an?" Tanya Abidzar.


"Jangan lama-lama."


"Sesuai imamnya dong, masa gue."


"Maksudnya langsung pulang, jangan nongkrong dulu."


"Bawel lo, gue cium ntar."


"Ih!!" (Namakamu) meninju tangan Abidzar cukup kencang membuat laki-laki itu mengaduh.


"Pedofil!" Pekik (namakamu) yang kemudian berlarian kecil menuju koridor sebelum Abidzar mengamuk.


(Namakamu) menghela nafasnya saat menaiki anak tangga, sampai ia berpapasan dengan geng-an anak-anak hitz yang cukup terkenal.


"Jablay.." Ucap salah satu dari mereka yang menarik kerudung (namakamu) pelan.


"Ih, *** lo!" Balas (namakamu) kesal dan kembali membenarkan kerudungnya.


"Nongkrong lah, sombong amat sih." Ucap orang itu yang memakai lipstik tebal dan pensil alis berwarna hitam.


"Ih, masa gue main sama tante-tante." Ucap (namakamu) bergidig geli.


"Yeuuu sombong!"


(Namakamu) menjulurkan lidahnya dan kembali melanjutkan langkahnya, ia sudah biasa berhadapan dengan mereka, bahkan (namakamu) sempat bermain dan masuk ke dalam geng yang diketuai oleh gadis tadi, Cassie namanya. Namun, tak berlangsung lama karena keadaannya waktu itu ia sedang dekat dengan Iqbaal dan saat mereka jadian, Iqbaal menyuruhnya untuk berhenti main dengan geng alay katanya.


Aduh, berbicara Iqbaal, laki-laki itu sudah menghilang cukup lama. (Namakamu) sampai malas membuka ponsel kalau bukan Devano yang ngechat juga ia takkan membuka ponselnya. Dari Iqbaal ke Devano, dua laki-laki itu sukses sekali bersatu membuat pikirannya menjadi kacau dan perasaannya campur aduk.


Ia menahan semua rasanya untuk Devano karena Iqbaal, namun kenapa Devano seakan-akan menghipnotisnya agar memberikan semua rasanya tanpa harus memperdulikan Iqbaal. Iqbaalllll cepat pulang, tahan semua rasa (namakamu) untuk Devano!! Jangan sampai (namakamu) jatuh hati untuk yang kedua kalinya dengan Devano. :(


(Namakamu) masuk ke dalam kelasnya dan duduk ditempatnya tanpa mau menyapa teman-temannya. Ia memilih memainkan ponselnya saja, tetap dengan pesan dari Devano yang tertera dilayar ponselnya.


"(Namakamu)!!!" Pekikan seorang Zidny dengan mulut bebeknya itu terdengar seisi kelas.


Zidny menghampiri (namakamu) dan menaruh tasnya diatas meja. "Eh gila, tadi gue liat Steffi. Tambah cantik parah tuh orang, makin putih, makin mancung tuh idung, bulu mata makin badai, rambutnya juga bagus dan yang bikin gue kaget... DIA KURUS (NAMAKAMU)!!"


(Namakamu) berdecak, ia melirik sinis Zidny. "Lo mau bikin gue tambah panas?! Yang kemarin aja belum selesai masalahnya." Sinisnya.


Zidny diam, ia mendengus. "Gue cuma bilang doang kok panas sih?" Gumamnya.


"Lo tau kan gue gak suka sama Steffi—"


"Emang sejak kapan lo suka sama cewek-cewek yang pernah deket sama Iqbaal?!" Tanya dan potong Zidny cepat.... cukup jleb.


(Namakamu) diam, menatap Zidny masih dengan tajam. "Lo tau tapi lo terus manas-manasin gue."


"Gue cuma bilang gue ketemu Steffi, udah gak lebih. Gak ada maksud ke Iqbaal juga."


"Tapi gue gak suka lo bahas dia didepan gue!" Ketus (namakamu).


"Kenapa?! Lo cemburu?!"


(Namakamu) berdecak. "Sama sekali bukan urusan lo."


Zidny berdecih. "Awas lo mewek-mewek sama gue!! Awas aja sampe minta gue buat nemenin lo pas lagi galau."


"Berisik. Jangan bikin gue unmood deh!!" Kesal (namakamu) yang sudah mencapai level akhir.


"Lo kemarin kok jalan sih sama Devano? Punya nyawa berapa lo?!" Tanya Zidny mengalihkan pembicaraan.


"Zid please, kenapa sih lo tuh kepo banget. Kalo ada apa-apa juga gue cerita sama lo, gue gak suka ah ditanya-tanya." Ucap (namakamu) pelan karena sudah terlalu jengah menanggapi Zidny si gacor.


Zidny menyerutkan bibirnya. "Yaudah, besok pensi bareng gue ya berangkatnya?"


"Iya ah."


"Bawa semua make-up, harus cantik gue."


"Bawel Zid!!"


Zidny berdecih. "Tau ah, gak asik lo kalo lagi galau!" Zidny beranjak, ia pergi begitu saja meninggalkan (namakamu) yang merasa lega saat si gacor itu pergi.


"Bodoamat!" Gumam (namakamu) pelan.


.


.


BERSAMBUNGGG...

__ADS_1


__ADS_2