
———————
"Kita gak jadi ikut, anjrit!"
(Namakamu) mendongak, ia menatap Zidny yang berucap dengan sangat kencang membuat hampir seisi kelas menatapnya. Gadis cantik itu duduk disamping (namakamu) dengan wajah BT-nya, membanting dengan kelas tote bag miliknya diatas meja.
"Baru tau lo?" Tanya (namakamu) menatapnya yang memasang wajah lucu.
"Kesel banget, (nam). Gue udah dandan juga, kali aja nemu cogan disana, udah bawa liptint, bedak, penjepit bulu mata, asli dan kesel banget gue sama nenek lampir. Kenapa sih?" Dumel Zidny yang asal ceplos seperti ibu-ibu.
(Namakamu) terkekeh, "Lagian ngapain sih repot banget lo."
"Bodo, hari ini gue gak mood banget, tau gini mending gak usah sekolah."
(Namakamu) menoyor pipi Zidny pelan. "Emang dasarnya lo males, lebay tau gak!"
"Bodo." Katanya. "Eh, tau gak, masa pas gue jalan sama Karel kemarin, dia nanyain lo terus, bikin gue sebel." Curhat Zidny masih dengan mempertahankan wajah BT-nya.
"Emang iya? Kok bisa?"
"Gara-gara gue pake motor lo kemarin, terus gue jawab aja lo lagi jalan sama Iqbaal."
"Biar apa?"
"Biar sakit hati si Karel. Au ah, gue gak mau deketin Karel lagi, bocahnya boyot."
(Namakamu) terkekeh kecil. "Gak boleh gitu, kali aja dia jodoh lo."
"Gue mau yang lain aja, masih banyak koncian gue mah, tenang."
(Namakamu) bergidig. "Dasar cabe-cabean lo."
Zidny hanya cuek, ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan mulai memainkannya. (Namakamu) menatap Zidny, teman yang sudah satu sekolah selama SMP sampai dengan SMA, teman atau bahkan sahabat yang sangat tidak bisa mengontrol ucapan dan tingkah laku, absurd, tapi ia sangat nyaman berteman dengan Zidny yang sangat pandai menjaga rahasianya dan menjadi penasihat paling the best!
"Eh, gue mau cerita." Ucap (namakamu) menahan tangan Zidny yang ingin memasang headset pada telinganya.
"Penting gak? Kalo masalah soal Iqbaal gue males ah," Jawab Zidny.
"Enggak, soal Devano."
Zidny menaruh headset-nya diatas meja, ia memutar duduknya menjadi menghadap (namakamu). Ia menatap gadis itu dengan kening berkerut. "Devano?"
"Iya, masa kemarin dia nelfon gue."
"Ngapain?"
"Pertamanya gak gue angkat, soalnya ada Iqbaal disitu. Terus semalem dia nelfon lagi, baru gue angkat. Gue gak ngerti mau dia apa, pokoknya dia bilang mau ketemu gitu, gue tolak lah gila udah malem. Eh, Minggu ini dia malah ngajak gue jalan," Tutur (namakamu) seraya memainkan jemarinya.
"Lo mau?"
"Mangkanya gue bingung, gue gak enak sama Iqbaal, nanti kalo dia tau pasti ngedumel."
Zidny menggelengkan kepalanya pelan. "Lo kalo udah punya cowok jangan banyak-banyak konciannya, kalo gue sih gapapa, gue kan jomblo."
(Namakamu) berdecih, ia menatap Zidny dengan datar.
"Mangkanya jomblo aja, (nam)." Bisik Zidny yang diakhiri dengan tawa oleh gadis itu.
"Stress lo! Gak mau gue, Iqbaal itu istimewa, gak mau gue lepas." Ucap (namakamu) yang membuat Zidny menatapnya dengan geli.
"Tapi, gue mau jalan sama Devano." Tambah (namakamu) pelan.
"Stress lo!" Timpal Zidny mengikuti ucapan (namakamu) tadi.
"Ih, gue pusing. Iqbaal juga mau pergi nanti minggu ke Bogor, ngurusin futsalnya tuh." Ucap (namakamu) dengan nada tak suka.
"Brutal juga lo. Tapi, jangan deh, nanti kalo lo CLBK sama Devano gimana? Kasian Iqbaal, masa lo buang."
"Yang mau buang dia siapa? Lagian juga gue cuma mau silaturahmi sama mantan, jalan sebentar doang gak ngapa-ngapain." Balas (namakamu) dengan nada santai.
Zidny memutar kedua bola matanya. "Terserah lo."
"Tapi, lo tutup mulut."
"Ogah juga gue ngomong sama Iqbaal, nanti gue disalah-salahin yang ada."
"Devano ngechat gue mulu *****, gue udah bilang jangan ngechat, nanti kalo ketauan kan bahaya. Berapa kali gue end chat nih, ngechat lagi ngechat lagi."
Zidny menatap temannya dengan senyum kagum, ia bertepuk tangan dengan pelan. "Gila ya, hebat banget, salut gue sama lo. Bisa juga lo mempermainkan Iqbaal."
(Namakamu) menyerit. "Apa sih."
"Jangan cari penyakit, (nam). Lo kayak gak tau Iqbaal aja kelakuannya gimana, nanti kalo dia marah gimana?"
"Dia gak pernah marah."
"Gak pernah marah bukan berarti gak bisa marah, kayak gak tau aja dia kalo marah gimana."
(Namakamu) menggeleng cepat. "Gue cuma main doang, gak bakalan ngapa-ngapain sama Devano juga."
"Kalo ketauan? Terus Iqbaal bales, dia jalan sama mantannya mau lo? Jangankan liat Iqbaal jalan sama cewek, liat Iqbaal ngechat cewek aja udah kebakaran jenggot lo!" Balas Zidny yang menurut (namakamu) sangat ngena, jleb.
(Namakamu) berdecak. "Lo mah gitu."
"Mangkanya mikir."
(Namakamu) menyerutkan bibirnya sebal, ia memilih merogoh tasnya untuk mengambil novel dan membacanya, daripada kembali cerita dengan Zidny dan terkena semburan nyelekit dari gadis itu.
Tapi, Zidny ada benarnya.
Tapi, apa dia juga salah? Diakan cuma sekedar main, gak akan sampai cinlok lagi sama Devano, ish.
Udah lah, semakin dipikirkan malah semakin rumit.
*****
Iqbaal berdiri ditengah lapangan dengan membawa handuk kecil yang ia taruh dibahunya. Kedua sorot matanya memperhatikan beberapa siswa/i yang tengah berkumpul dan berbaris di lapangan, bukan lapangan depan, tetapi lapangan yang ada disamping sekolah, yang digunakan untuk ekskul futsal biasanya.
Iqbaal menghitung beberapa anak yang ada dalam ekskul ini, kebanyakan lelaki, meski ada juga yang gadis-gadis manis dari kelas 10 yang baru masuk 2 bulan lalu.
"Segini doang, Gus?" Tanya Iqbaal menatap Gusti yang tengah memainkan bola didekat gawang.
"Belum, ada lagi. Tunggu aja sebentar, sekalian nungguin Bastian."
Iqbaal hanya diam, ia membalik tubuhnya untuk duduk dibangku yang ada ditepi lapangan, beberapa pria dari kelas 10 datang dan langsung menghampiri Iqbaal, mengajaknya ber-tos-an, adat dalam ekskul ini.
"Sorry, kak, telat. Baru keluar kelas," Ucap salah satu dari ketiga anak kelas 10 dengan sopan.
"Eh, iya, gapapa, santai." Jawab Iqbaal.
Tak lama, Bastian datang dengan Kipe yang ada disampingnya. Mereka berdua langsung menghampiri Iqbaal dan memberi tos-an.
"Gue gak bisa cabut *****, ada ulangan tadi." Ucap Bastian.
"Ini juga baru dateng bocah-bocahnya." Balas Iqbaal dengan santai.
"Anjing, baal. Yang pake topi tuh tengil banget gayanya, anak kelas 11." Ucap Kipe tiba-tiba seraya menepuk-nepuk bahu Iqbaal.
Iqbaal tersenyum miring, "Emang. Udah gue perhatiin tuh anak dari awal masuk, telat terus, latihan sesuka dia, gak ikutin aturan, kadang juga suka males disuruh. Gedek gue liatnya."
"Gak ada hormatnya juga sama kakak kelas, semaunya dia aja. Beda sama anak yang lainnya." Timpal Bastian yang dihadiahi kekehan ringan dari Iqbaal.
"Baal, udah yuk mulai, kesian yang ceweknya kepanasan." Ucap Gusti yang menghampiri Iqbaal dkk.
"Gue yang ngomong sekarang." Kipe beranjak dan berdiri didepan anak-anak kelas 10 dan 11 yang masih aktif mengikuti ekskul futsal.
Iqbaal, Bastian dan Gusti hanya diam dibelakang Kipe. Mereka juga mendengarkan apa yang Kipe sampaikan, mengenai latihan dan beberapa turnamen yang akan diadakan/diikuti.
"Barisnya yang bener dong, anak futsal gak boleh loyo, masa sama matahari doang takut. Kalo barisan udah mentok buat barisan baru aja," Ucap Kipe memerintah.
Bastian turun tangan untuk membenarkan barisan anak cewek, ya biasa, modus. Sedangkan Gusti membenarkan barisan kelas 10 yang laki-laki. Iqbaal memperhatikan dengan tajam satu per satu anak laki-laki yang ada, sama sekali tidak terfokus pada bagian cewek.
"Nanti Pak Hadi dateng, udah gue pilihin beberapa anak yang ikut turnamen. Kalo buat yang cewek, nanti dipilih langsung sama Pak Hadi ya, soalnya gue gak tau." Tutur Kipe menjelaskan.
Iqbaal melangkahkan kakinya menuju barisan belakang anak laki-laki yang terlihat tak benar, ia menatap datar adik kelas yang baru saja Kipe katakan tengil itu. Ya, memang tengil.
"Hp-nya kantongin dulu, dengerin apa yang Kipe omongin, hargain." Ucap Iqbaal masih datar dan santai.
"Mau dihargai berapa, kak?" Tanya anak ini dengan nada seenaknya, entah ingin mengajak bercanda Iqbaal atau bukan, namun bagi Iqbaal ini garing, sangat.
"Lucu lo. Maju ke depan," Suruh Iqbaal.
"Enggak ah," Tolak anak itu dengan santainya.
Iqbaal menatapnya beberapa detik, lalu mulai kembali berucap. "Maju ke depan, bikin barisan baru."
"Udah cukup, kak."
Iqbaal menepuk bahu pria itu, "Maju."
"Apaan sih, kak, santai dong!" Balas adik kelas itu dengan sedikit ngegas.
"Lo disuruh maju gak mau. Mending bikin barisan baru apa keluar dari barisan?"
"Santai kek, yang lain banyak, kenapa gue doang yang disuruh?" Tanya pria itu dengan angkuh.
Iqbaal melongo, gila ya, baru kali ini adik kelas se-songong ini padanya. Apa ia tidak tahu siapa Iqbaal? Aseq.
"Oke, anak-anak, apa kabar?"
Iqbaal meredam emosinya, ia memilih mundur dan memperhatikan adik kelas ini dari belakang saat Pak Hadi, pemimpin dan pelatih ekskul futsal sekaligus guru olahraga kelas 12 itu datang. Iqbaal memilih menghampiri Bastian yang ada dibarisan paling belakang bagian para wanita.
"Songong banget asli." Gumam Iqbaal yang tak percaya.
"Diapain lo?"
"Gue suruh malah ngelawan, masih ada aja adek kelas begitu."
Bastian terkekeh. Lalu, ia menepuk bahu Iqbaal dan sedikit mencondongkan tubuhnya, berbisik pada Iqbaal. "Barisan dua, baris ke tiga, cewek yang dikuncir itu mukanya mirip mantan lo yang pertama, baal. Siapa namanya? Gue lupa."
Iqbaal menyerit. "Alexa?"
"Iya, mirip. Kecilnya juga sama, cantik lagi. Pas gue tanya, namanya Vanesha, kelas 11 IPA 2. Baru tau gue ada cewek se-imut itu di kelas 11." Celoteh Bastian.
"Baru masuk ekskul ini ya?"
"Iya, kayanya."
Iqbaal mengangguk, ia kemudian menatap Pak Hadi yang memberikan arahan. Ia dan Bastian sama-sama terdiam, sesekali mereka berbincang mengenai anak tengil itu yang entah siapa, mereka pun juga tak tahu.
"Baal, gimana, siap?" Teriak Pak Hadi dari depan membuat semua sedikit menoleh untuk menatap Iqbaal yang hanya mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi.
Sekilas, Iqbaal menatap gadis yang dimaksud Bastian, memang, gadis itu manis, cantik. Mirip sekali dengan mantannya yang meninggalkannya begitu saja tanpa sebab, Iqbaal tersenyum.
"Asli, Bas, mirip banget." Pekik Iqbaal kegirangan.
Bastian terkekeh. "Bener kan? Cakepan ini malah."
"Wah, kacau."
*****
Iqbaal menyandarkan punggungnya pada sandaran gawang, ditemani Bastian yang ada disampingnya. Keduanya sama-sama mengamati anak-anak gadis bermain bola, diamanatkan oleh Pak Hadi.
"Eh, doi jadi kiper." Ucap Bastian menyenggol lengan Iqbaal, Bastian langsung berpindah tempat menjadi disamping gadis itu yang datang dengan wajah bingung dan kaku.
"Jadi kiper?" Tanya Bastian, modus.
"Iya, kak." Jawabnya pelan.
"Kenapa gak jadi penyerang?" Tanya Bastian, lagi.
"Enggak, kak. Gak kuat larinya, soalnya aku rada lemah orangnya."
"Terus kok ikut futsal?" Kini gantian, Iqbaal yang bertanya.
Vanesha langsung menoleh, ia sedikit degdegan ditanya langsung oleh pria yang menjadi incaran sejuta umat. "Soalnya mau cari kegiatan yang kayak gini, kak. Sekalian olahraga." Jawabnya malu-malu.
Iqbaal mengangguk kecil. "Tapi, gak akan kenapa-kenapa kan?"
"Enggak, kak. Mangkanya aku pilih jadi kiper."
"Kuat kan kalo kegebok bola?" Tanya Iqbaal, nanya mulu-,-
Vanesha menutup mulutnya saat ia terkekeh kecil mendengar pertanyaan aneh Iqbaal.
Bastian melongo. "Persis Alexa banget, kalo ketawa tutup mulut."
Iqbaal sedikit tersenyum, ini kenapa sih? Alexa ya ampun :(
"Alexa siapa?" Tanya Vanesha yang menatap Bastian dan Iqbaal bergantian.
Bastian menggeleng. "Ada lah, cewek cantik, kayak lo."
Vanesha meresponnya dengan tersenyum malu.
__ADS_1
"Udah dah, gue keluar aja dari futsal, gak kuat anjing.." Lirih Iqbaal pelan, kan jadi gamon, gagal move on.
—Sekilas, Alexa Indriani, mantan Iqbaal yang pertama. Gadis yang pertama kali berhasil membuat Iqbaal bucin, Iqbaal tergila-gila. Bahkan, Alexa adalah gadis yang menjadi cinta pertama Iqbaal, mereka menjalin hubungan hanya 3 bulan karena tiba-tiba Alexa harus pergi dan meninggalkan Iqbaal. Entah kemana. Sudah lama, itu jamannya SMP kelas 2.—
"Dih, gak usah salting, ***." Ledek Bastian dengan tawa jahatnya.
Vanesha menyerit, ia sama sekali tidak mengerti, namun ada rasa senang tersendiri dalam dirinya karena bisa berbicara dengan kakak kelas most wanted ini, apalagi Bastian memujinya cantik.
"Lo mirip mantan terindahnya dia, mirip banget. Kenal Alexa Indriani gak?" Tanya Bastian menatap Vanesha yang seketika langsung menatap Iqbaal.
Degh'
Vanesha langsung menunduk malu saat Iqbaal menatapnya dengan senyum tipis, ugh.. gak kuat.
"Enggak kenal." Jawab Vanesha pelan.
Iqbaal maju selangkah untuk menendang Bastian, namun dengan sigap pria itu mundur selangkah dan tertawa.
"Gak terindah, anjing, biasa aja, cuma emang cantik sih." Tutur Iqbaal jujur.
"Cieee.." Goda Bastian menunjuk Iqbaal dan Vanesha secara bergantian.
"Bacot." Ucap Iqbaal.
"AWAS DONG WOI JANGAN GANGGUIN KIPERNYA. MAU KENA BOLA LO BERDUA?!" Teriak Kipe pada kedua temannya itu.
"Pe, mirip Alexa!" Pekik Bastian menunjuk Vanesha.
Kipe menyipitkan kedua matanya untuk memperhatikan Vanesha secara inci. Namun, Iqbaal tiba-tiba berdiri dihadapan Vanesha membuat Kipe berdecak.
"Gak boleh, Pe! Haram lo liat-liat." Ucap Iqbaal dengan kekehannya.
Kipe berdecih. "Mentang-mentang mantan, lebay lo!"
"Sayang akuu.." Ucap Iqbaal sedikit lebay dan gemas membuat beberapa gadis yang ada di lapangan itu terkekeh kecil dan gemas.
"Awas, baal, bas! Jangan ganggu." Ucap Kipe.
Bastian berjalan mendekati Iqbaal, ia menarik baju Iqbaal. "(Namakamu) ***."
"Mana anjing?" Tanya Iqbaal mendadak diam dan mengikuti Bastian yang menariknya ke pinggir lapangan.
"Dipojok, jangan nengok, pura-pura gak tau aja." Bisik Bastian pelan.
"Serius gak? Gue juga gak berani nengok, udah lama dia ada disitu?" Tanya Iqbaal pelan.
"Dari gue cie-ciein lo sama Vanesha."
Iqbaal spontan menjitak kening Bastian membuat pria itu mengaduh kencang.
"Tolol, kenapa gak bilang!"
*****
"Ribet deh, repot, rempong sendiri. Emang enak!"
(Namakamu) menyerutkan bibirnya saat Zidny terus mencacinya, (namakamu) berjalan menuju gerbang sedangkan Zidny pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. (Namakamu) duduk disebuah bangku yang ada dipos satpam, ia tetap memasang wajah kesalnya. Kesal dengan apa yang baru ia lihat tadi, tambah kesal lagi saat Zidny selalu mengomporinya.
(Namakamu) menggulung rambutnya dan menjepitnya dengan jedai. Ia memakai sweaternya dan kembali menggendong tote bag miliknya, menunggu Zidny yang tak datang-datang. Bodoamat, dia pulang sama Zidny aja..
(Namakamu) memasang wajah sinisnya saat segerombolan gang Iqbaal lewat didepan gerbang, ia memilih menunduk. Pasti deh, kalau se-gang sudah lewat, pasti berisik, mulutnya berisik dan juga suara motornya berisik, kayak mau pawai.
"Ayo, (nam)."
(Namakamu) menoleh, "Apa sih, orang mau sama Zidny." Jawabnya sewot.
"Zidny mulu. Dia aja lama banget ngeluarin motornya, nanti telat loh."
"Dih, garing." Seru (namakamu) dengan datar dan wajah yang sinis.
Iqbaal tersenyum, ia mencubit hidung mancung (namakamu) dengan gemas, membuat sang empu menepisnya dengan kasar.
"Yaila, masih aja. Bastian cuma bercanda, dibawa serius banget."
(Namakamu) hanya diam, pandangannya tertuju pada gerbang, menunggu Zidny. Lama juga ya gadis itu, apa lagi godain cowok dulu?
"(Nam), ah. Gitu aja marah, cuma bercanda doang. Ayo, bareng gak?" Tawar Iqbaal.
"Bareng aja sana sama si 'sayang aku'." Ucap (namakamu) ketus.
"Ih, ya ampun, bercanda doang. Ini sayang aku mah.." Ucap Iqbaal seraya menopang pipi (namakamu) dengan satu tangannya.
(Namakamu) berdecak, ia menepis lengan Iqbaal. "Sakit!" Kesalnya. Ia melihat beberapa siswa/i yang masih ada disana dan menatapnya, ah jadi malu.
"Ayo, (nam)." Iqbaal dan (namakamu) menoleh ke samping saat Zidny sudah ada disana dengan motornya, tepat disamping motor Iqbaal.
(Namakamu) bangkit dari duduknya, ia berniat jalan ke arah Zidny, namun Iqbaal menahan tasnya. "Udah lah, gak usah sama Zidny."
"Ih, apaan sih, jangan maksa." Ucap (namakamu) sebal.
Zidny menatap keduanya dengan datar. "Buset, mau berantem dulu nih?" Tanyanya.
Iqbaal menoleh. "Udah sana lo balik."
"Enggak, apaan sih." Seru (namakamu) cepat.
"Ayo, Zid, jalan." Ucap Bastian yang tiba-tiba datang dan duduk dimotor Zidny dengan gaya duduk miring.
"Kaget gue sialan!" Dumel Zidny.
"Cepetan pulang sama gue, gak usah Zidny mulu." Ucap Iqbaal yang menatap (namakamu).
"Gue mau ke rumah Zidny, Iqbaal." Kesal (namakamu) memegang tangan Iqbaal yang terus menahan tasnya.
"Boong. Zidny aja mau pergi," Ucap Iqbaal.
"Perginya sama gue."
"Dia mau jalan sama cowoknya," Sahut Iqbaal cepat.
"Ya gue ikut."
"Ngapain sih jadi nyamuk? Sama gue aja," Ucap Iqbaal yang terdengar memaksa.
"Bodo."
"Udah naik ah, disuruh naik aja susah. Mau naik apa dinaikin nih?"
(Namakamu) berusaha menahan tawanya, ia merengek sebal dan mencubit pinggang Iqbaal pelan. "Diem ah, lagi kesel."
(Namakamu) dan Iqbaal sama-sama menoleh ke arah seorang gadis yang ditunjuk oleh Zidny. Tau suara Zidny? Ya, suaranya yang gacor membuat semua yang ada disana langsung menoleh ke arahnya dan gadis yang ditunjuk Zidny.
"Mirip ya, Zid?" Tanya Bastian.
"Iya, mirip. Dih, hahaha!" Zidny tertawa kencang disusul Bastian dengan tawa kecilnya.
Iqbaal menoleh menatap kedua temannya yang sangat tidak ada otak. Lalu, menoleh ke arah gadisnya yang menatapnya sensi.
"Mereka yang ngomong, gue diem." Ucap Iqbaal yang sudah bisa membaca pikiran (namakamu).
"Yaudah pulang aja sana sama dia!"
"Gue ngobrol sama dia aja lo marah gimana gue balik sama dia, nanti lo bisa kayak orang stress." Celetuk Iqbaal.
(Namakamu) berdecih. "Lo tuh stress."
"Udah ayo ikut gue, buang-buang waktu gue lo pake acara ngambek gak jelas."
"Lo nya."
"Lo lebay, cemburunya masih kayak anak SD." Ucap Iqbaal menatap (namakamu) yang hanya mendumel gak jelas.
"Cepetan naik ah, drama mulu lo." Ucap Iqbaal yang mulai menyalakan motornya dan menegakkan tubuhnya.
"Lo sama Iqbaal?" Tanya Bastian menatap (namakamu).
"Iya."
"Yaudah gue sama Zidny." Ucap Bastian.
(Namakamu) mulai naik ke atas motor Iqbaal, duduk disana seperti biasa. Kedua matanya tertuju pada layar ponselnya yang menampakkan chat singkat dari seseorang yang pernah singgah.
———————
Hari ini.. seperti biasa, minggu-minggu mendekati turnamen futsal, Iqbaal dkk semakin giat mengawasi adik-adik kelas yang mengikuti dan diikuti lomba, rata-rata dari kelas 11.
"Baal, yang ceweknya suruh istirahat aja kali ya? Kasian." Ucap Bastian yang menghampiri Iqbaal ditengah lapangan tengah memantau yang laki-laki berlatih.
"Yaudah, suruh aja." Ucap Iqbaal yang menyipitkan matanya saat menatap Bastian karena sinar matahari yang langsung menerpa wajah tampannya.
"Yaudah." Jawab Bastian yang langsung menyuruh anak perempuan meninggalkan lapangan.
"Gusti, kapan istirahatnya yang cowok?" Tanya si anak tengil, masih ingat kalian dengan adik kelas yang tidak ber-attitude kalau kata Iqbaal ini?
"Nanti, latian dulu." Jawab Gusti begitu sabar.
Iqbaal memberikan perhatian lebih pada anak itu, si tengil. Iqbaal memperhatikannya yang semakin hari semakin menjadi tingkahnya, lihat saja menyebut nama Gusti tanpa embel-embel 'kak' padahal Gusti adalah kakak kelasnya. Kurang ajar. Belum lagi sifatnya yang susah diatur dan semaunya dia.
"Baal, minum sini." Teriak Bastian ditepi lapangan seraya menyeruput air yang dibawakan kekasihnya, Shafa.
Iqbaal berlarian kecil menghampiri Shafa dan Bastian, "Mau dong, haus." Pinta Iqbaal.
Shafa memberikan air miliknya untuk Iqbaal. "Nih, abisin."
"Makasih." Iqbaal meneguk air itu sampai habis setengah. Saat ingin memberikan ke Shafa, tiba-tiba—
Bruk'
Iqbaal dan Shafa sama-sama terkejut saat bola begitu kencang mengenai tangan Iqbaal yang tengah memberikan air dan menyebabkan sebagian celana Iqbaal dan baju Shafa basah. Spontan, Iqbaal langsung menoleh dan memasang tatapan datar.
Terlihat si anak tengil yang belum ia tahu namanya itu menghampirinya dan mengambil bola itu, "Kan belum istirahat, jangan minum dong." Ucapnya yang langsung kembali ke lapangan. Terdengar seperti sindiran.
"Anjing, bukannya minta maaf." Gumam Iqbaal menatapnya tajam.
Bastian yang ingin mencaci, bahkan ingin meninju itu dihalangi oleh Shafa. Bastian dibawa Shafa untuk pergi menemaninya duduk ditepi lapangan. Iqbaal? Pria itu menghampiri adik kelas itu dengan wajah datar.
"Nama lo siapa?" Tanya Iqbaal datar.
"Penting?"
"Nama lo siapa?" Ulang Iqbaal dengan nada terdengar sabar.
"Jafar."
Iqbaal terkejut saat Gusti menepuk bahunya dan menariknya pergi menuju gawang. "Jangan buat macem-macem, dia kapten."
"Najis, siapa yang milih dia jadi kapten?"
"Pak Hadi."
Iqbaal bergidig. "Gak ada yang lain?"
"Dia doang yang jago diantara yang lain, baal."
"Demi apapun gue gak rela kalo penerus gue itu dia." Ucap Iqbaal dengan rasa tidak terimanya.
Gusti menepuk-nepuk pelan punggung Iqbaal. "Sabar, gue juga gak suka sama dia. Lo gak sendirian, baal."
"Satu kali lagi bikin kesalahan, gue gak ada ampun buat dia deh. Kelewatan banget jadi bocah."
*****
(Namakamu) duduk disebuah bangku panjang dengan beberapa cemilan yang ada hadapannya, tentu berdua dengan Zidny. Zidny yang ada disampingnya hanya fokus pada ponselnya saja, sesekali tangannya mengambil makanan untuk ia masukkan kedalam mulutnya.
"Zid, lo udah lama kenal sama Alexa mantan Iqbaal itu?" Tanya (namakamu) penasaran, entah lah ia hanya ingin tahu saja, ia sama sekali tidak tahu tentang mantan Iqbaal yang satu itu.
"Lumayan, dia dulu temen TK gue. Udah itu doang yang gue tau." Jawab Zidny seadanya.
(Namakamu) mengangguk paham, ia kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Mereka pacaran lama?"
"Gak sampe 5 bulan kayaknya, gue gak tau sih soal itu, cuma Alexa waktu itu ke rumah gue sama Iqbaal, nah disitu deh gue kenal sama Iqbaal pertama kali. Hampir setiap hari Alexa ke rumah gue sama Iqbaal, ada lah sebulan. Terus gue gak tau lagi mereka gimana," Tutur Zidny.
"Terus gue kenalin Iqbaal sama lo. Eh, malah lo yang dapet si Iqbaal, padahal gue udah ngincer dia pas gue tau dia putus sama Alexa." Sambung Zidny diakhiri mengerutkan bibirnya.
(Namakamu) mengusap wajah Zidny pelan. "Lo sih ganjen waktu itu."
"Lo tuh yang centil sama Iqbaal," Balas Zidny tak mau kalah.
"Biarin, dia ganteng sih."
"Seharusnya gue dulu."
"Gue gak mau bekasan lo, Zid. Udah gak bener pasti," Ucap (namakamu) seenaknya.
"Anjrit. Liat aja, lo putus sama Iqbaal, abis itu Iqbaal buat gue."
__ADS_1
"Tunggu aja sampe nenek, gak mau gue putus." Balas (namakamu) dengan menjulurkan lidahnya meledek Zidny.
"Lo nya gak mau, Iqbaal pasti mau lah. Secara gitu loh, lo tepos gak berisi, ew!"
(Namakamu) yang tengah minum langsung tersedak, ia menatap Zidny dengan datar, lalu meninju pelan tangan Zidny. "Gue gede tau."
"Masih gedean gue."
"Gimana gak gede, koncian lo nafsunya gede semua mangkanya setiap ketemu harus megang."
"HEH! ANJING!" Pekik Zidny yang langsung menutup mulut (namakamu) dengan tangannya, ia menjitak kening (namakamu) berulang-ulang sampai gadis itu kesakitan.
"Lo mah gitu, gue bocorin nih lo sama Iqbaal pernah anu." Ucap Zidny menatap sinis (namakamu).
"Pernah apa? Gue mah gak pernah, lo jangan asal nuduh, fitnah itu jatohnya."
"Sok lupa! Waktu hujan-hujan, di rumah gue ngapain emang lo berdua?"
(Namakamu) menyerit, ia memperhatikan Zidny dengan serius, masih belum ingat apa yang dimaksud dengan Zidny. Kapan? Dan ngapain?
"Ngapain?" Tanya (namakamu) bingung.
"Masak mie." Jawab Zidny enteng yang membuat (namakamu) menoyor pipinya, udah panik juga.
"Panik. Berarti pernah kan lo?" Tuding Zidny dengan kekehan kecil, (namakamu) hanya diam dan memilih tidak menjawab, daripada makin ngelantur yakan.
"Geser, kak."
(Namakamu) terkejut saat seorang duduk disampingnya dengan membawa bakso ditangannya dan langsung ditaruh dimeja. Pria itu sama sekali tidak (namakamu) kenal, namun ia tahu pria itu adalah adik kelasnya.
"Geser, kak. Malah diem aja." Ucapnya sekali lagi.
(Namakamu) menggeser duduknya membuat Zidny tersenggol. "Ih, ngapain sih lo!" Ketusnya.
"Ada orang disamping." Jawab (namakamu) biasa, ia memaklumi, kantin tengah ramai dan penuh karena Bell baru saja berbunyi.
(Namakamu) dan Zidny kembali bercerita lagi, bercanda dengan hal-hal sepele. Terkadang kembali lagi membicarakan hal yang ambigu. Aduh, dua gadis ini sangat tidak jelas, bahkan tertawa mereka sampai membuat beberapa murid menoleh, saking besar dan gelinya. Terlihat bahagia sekali mereka berdua.
"Aduh, panas!" Pekik (namakamu) spontan saat mangkuk bakso milik adik kelas itu tumpah, sehingga mengenai tangan kanannya. Ia bangkit dari bangkunya dan memegang tangannya yang baru saja terguyur air panas.
"Sakit." Ringis (namakamu) dengan mimik wajah yang kesakitan dan menahan panas dengan langsung mengelapnya dengan tangan yang satunya.
"Eh, goblok. Makan yang bener dong lo," Caci Zidny yang ikut bangkit juga dan menatap orang itu yang telah terkejut.
"Lah, gue gak tau. Mangkanya jangan ketawa-ketawa terus, lo berdua gak bisa diem, bakso gue juga tumpah. Gantiin." Tuntut pria itu yang menatap Zidny (namakamu) bergantian.
"Tolol, lo yang salah juga malah minta ganti rugi. Bego ya, gak ada otak.." Sahut Zidny yang menarik (namakamu), agar ia lebih leluasa manatap adik kelas itu yang sama sekali tidak ada rasa bersalahnya.
"Temen lo tuh yang gak ada otak, gue udah minta geser gak geser juga."
"Heh, gue geser ya!" Balas (namakamu) tidak terima, seraya ia memegangi tangannya yang terasa nyeri.
"Gue gak mau berantem sama cewek, cewek cabe sok hitz kayak kalian. Intinya gantiin aja bakso gue ceban." Tuntutnya.
"***. Makan nih bakso!" Zidny mengambil air jeruk yang pria itu punya, lalu mengguyurnya tepat diwajahnya pria itu.
Sontak, itu membuat seluruh yang ada di kantin langsung menatapnya. Ah, ini yang tidak (namakamu) sukai sama sekali, menjadi pusat perhatian. Setelah itu, Zidny langsung menarik tangannya dan pergi meninggalkan kantin dan pria itu yang masih terpaku dengan wajah datar cool-nya, menahan malu luar biasa.
"Nyeri banget," Gumam (namakamu).
"Kita ke UKS aja, biar diperban sekalian atau apalah itu namanya, gue gak paham."
(Namakamu) hanya mengikuti Zidny saja, tangannya terlihat memerah, berbeda dengan yang satunya lagi. Mereka menuruni anak tangga untuk ke UKS yang berada dilantai satu dekat ruang kepala sekolah.
(Namakamu) berdecak, ia ingin menangis rasanya sekarang. HUAAAA.
*****
Setelah kejadian tadi, sama sekali tidak ada mood yang membuat (namakamu) senang. Ia memakai sweaternya, menutupi tangannya yang memerah itu. Lalu, menggendong tote bag-nya, berjalan keluar dari kelas sendirian karena Zidny sudah lebih dulu pergi dengan alasan dijemput oleh sang gebetan, entah gebetan yang keberapa, namanya juga Zidny banyak konciannya.
(Namakamu) menuruni satu per satu anak tangga, ia sudah janjian diparkiran dengan Iqbaal. Tidak ada wajah riang ataupun senyum kecil diwajahnya, hanya tatapan datar saja yang ia berikan, meski begitu, (namakamu) tetap cantik dan selalu mencuri perhatian karena kecantikannya itu.
"(Namakamu)." Panggil seseorang yang ia hafal sangat suaranya, itu Iqbaal. Pria itu berlarian kecil menghampirinya. Ciri khas Iqbaal, membawa handuk kecil dibahunya, ganteng...
"Ayo, buruan." Ucap Iqbaal yang berjalan cepat saat sudah ada disamping (namakamu).
"Apaan? Jangan buru-buru."
"Gue sakit perut, pengen banget boker dari tadi." Jawab Iqbaal dengan nada yang tersengal, ia memegangi perutnya dengan satu tangan.
(Namakamu) sama sekali tidak ada mood untuk tertawa, padahal biasanya melihat Iqbaal tersiksa seperti ini adalah bahagianya. HEHEHE :)
"Boker aja dulu disini, daripada di jalan nanti cepirit."
"Emang gue anak bocah, mangkanya jalannya yang cepet," Ucap Iqbaal yang tiba-tiba langsung berlari menuju parkiran.
(Namakamu) menatapnya dengan datar, ada-ada saja Tuhan:')
"Eh, temen lo mana?"
(Namakamu) berdecak saat seorang menarik kasar bahunya dari belakang dengan bertanya dengan pertanyaan aneh. (Namakamu) ingat, itu pria yang tadi di kantin, yang membuat moodnya hancur hari ini.
(Namakamu) tidak menjawab ia kembali melanjutkan jalannya.
"Eh jangan songong dong."
"Bukannya lo yang dari tadi songong?" Tanya balik (namakamu) dengan cepat.
"Gue nanya, temen lo mana? Gak usah ngegas deh, udah salah bukannya minta maaf."
"Bacot." Balas (namakamu) dengan ketus dan kembali lagi berjalan.
"Gila ya, sok jual mahal banget sih lo, cabe."
(Namakamu) tidak menjawab, ia terus berjalan dan diikuti pria itu dengan terus mencaci makinya membuat kuping serta matanya memanas.
"Lo jangan kayak *** deh."
(Namakamu) memberhentikan langkahnya, ia menatap sinis pria itu. "Bacot lo tuh kayak ***, bau!"
"Gak lucu— aduh." Pria itu meringis saat sebuah motor menabraknya dari belakang. Ya, itu Iqbaal.
"Ah, kak. Lo resek, kan jadi kotor." Dumel pria itu.
Iqbaal menatapnya datar. "Kotor? Iya, sama kayak lo."
"Ngeselin lo, kak."
"Ngeselin mana sama lo, kapten?" Tanya Iqbaal balik dengan sedikit menyindir sang kapten futsal itu. Sudah tau siapa? Ya, Jafar.
"Gue gak ada urusan sama lo, kak." Ucap Jafar pada Iqbaal. Lalu, Jafar beralih menatap (namakamu). "Gue tunggu besok lo sama temen lo," Ujarnya seraya menunjuk (namakamu).
"Dasar cabe sok hitz." Gumamnya yang berjalan meninggalkan keduanya.
Namun, baru dua langkah, Iqbaal menyelengkat kaki Jafar sehingga pria itu tersungkur ke tanah cukup keras membuat (namakamu) terkejut. Ia lebih terkejut bercampur takut saat Iqbaal tiba-tiba men-standar motornya dan turun dari sana.
"Bangun lo." Iqbaal menarik kerah baju Jafar, membawa pria itu menjauh dari (namakamu).
"Ngomong apa lo barusan?" Tanya Iqbaal mulai dengan nada tak santai.
"Gue gak ada urusan sama lo." Jawab Jafar dengan santai, namun tetap tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.
"Tapi, lo punya urusan sama cewek gue dan itu tandanya lo juga punya urusan sama gue." Ucap Iqbaal tajam, membuat Jafar menelan ludahnya sendiri.
"Masalah ini doang lo gedein, bocah." Ucap Jafar.
Bugh'
Satu tinjuan lumayan keras mendarat dengan mulus dipipi Jafar membuat pria itu terjatuh di tanah dengan memegangi pipinya. Iqbaal menatapnya tajam.
"Bocahan mana sama lo, anjing. Gak punya sopan santun, seenaknya, beraninya sama cewek, tolol. Jangan lo pikir gue gak tau kejadian di kantin tadi, ***." Ucap Iqbaal penuh penekanan.
"Apa kabar sama lo? Gak ada aturan, hidup semau lo. Kakak gue juga bad!"
"Terus lo mau ngadu? Aduin aja. Bilang sini, siapa nama Abang lo? Gue samperin, punya adek kok gak dididik begini. Sehari dua hari gue diemin, sekali dua kali masih bisa gue tahan, kelakuan lo makin jadi. Sama temen-temen gue lo gak sopan, sekarang cewek gue mau lo lawan. Banci lo," Tutur Iqbaal sengit.
Jafar masih diam, ia memegang pipinya yang sangat sakit seperti dihantam kayu balok, uuh pukulan Iqbaal memang bukan main-main.
"Siapa nama Abang lo?" Tanya Iqbaal yang membuat Jafar terdiam, Jafar merasa ketakutan sekarang. Ia melihat parkiran ada banyak beberapa orang, mereka hanya menyaksikan saja, tidak ada niatan membantunya. Apa semuanya juga takut dengan Iqbaal? Jawabannya, sangat. Sangat takut.
"Baal, weits, santuy!" Entah datang dari mana, tiba-tiba Kipe menahan bahunya saat emosinya dengan Jafar sudah dipuncak.
"Udah lah, nanti dia baper, futsal gimana.." Ucap Kipe pelan.
"Dih, gak pantes jadi anak futsal, keluar aja sekalian." Ucap Iqbaal menatap Jafar dengan hina.
"Dia kapten kita—"
"Jadi anak futsal aja gak pantes apalagi jadi kapten. Mana ada kapten begini, mau jadi apaan yang lain? Goblok, siapa sih yang milih dia? Pak Hadi?" Tanya Iqbaal yang diberi anggukan dari Kipe.
"Emang bocah setan ini mah," Sahut Bastian yang baru datang dan memperhatikannya.
"Udah, balik sana." Gusti datang, ia menyuruh Jafar untuk pergi dan dituruti oleh Jafar.
"Kesel gue, **." Teriak Iqbaal dengan lantang.
"Paling besok ngadu ama Pak Hadi, ama BK, ama emak bapaknya." Ucap Bastian seraya naik ke atas motornya.
"Penasaran gue, Abangnya jagoan mana sih?" Tanya Iqbaal yang masih memperhatikan Jafar yang pergi.
"Abangnya jagoan? Jagoan neon kali." Ucap Bastian dengan kekehan.
"Karena abangnya jagoan, dia jadi semena-mena, menurut dia kalo dia dinakalin ada abangnya yang ngelindungin." Ucap Gusti.
Iqbaal mengangkat kedua bahunya. "Gue tunggu deh abangnya kesini." Ucapnya santai, ia kembali berjalan menuju motornya yang tak jauh dari sana.
Iqbaal naik ke atas motornya, membenarkan spion miliknya. "Ayo, (nam), naik." Ucapnya sudah kembali menjadi Iqbaal yang biasa.
"Tadi kenapa?" Tanya (namakamu) polos seraya naik ke atas motor Iqbaal dengan perlahan.
"Ya gitu. Anjrit, gara-gara tuh bocah, gue pengen boker jadi gak jadi." Ucap Iqbaal yang menyalakan motornya.
(Namakamu) tersenyum, aduh, moodnya balik.
"Bisa gitu?"
"Gak tau, udah gak mules." Ucap Iqbaal yang langsung melajukan motornya meninggalkan sekolah.
"Emang tangannya gak bengkak ya kalo ditutupin pake sweater gitu?" Tanya Iqbaal tiba-tiba, membuat (namakamu) tersentak.
Eh, Iqbaal tau dari mana? Perasaan tadi Iqbaal gak ada pas di kantin, Zidny dan (namakamu) pun belum memberitahukan Iqbaal tentang hal ini.
"Gak tau," Jawab (namakamu).
"Masih bisa digandeng kan?" Tanya Iqbaal yang tiba-tiba.
(Namakamu) terkekeh. "Enggak."
"Yah. Berarti gue harus cari yang bisa digandeng lagi." Ucap Iqbaal spontan mendapat wajah kesal dari (namakamu).
(Namakamu) mencubit pinggang Iqbaal dengan kedua tangannya membuat pria itu mengaduh.
"Masih bisa nyubit sih?"
"Bisa kalo buat lo mah, nyebelin."
Iqbaal terkekeh, "Zidny tadi nyiram dia pake apa?"
"Pake air jeruk."
"Kenapa gak pake air panas?"
(Namakamu) terkekeh kecil. "Gak ada soalnya, kalo ada juga disiram nanti."
Iqbaal berdecak. "Ambil dong, gimana sih cabe sok hitz."
(Namakamu) menyerutkan bibirnya, ia menutup mulut Iqbaal dengan tangannya membuat laki-laki itu berontak.
"Anjrit, tangan lo bau bakso." Ucap Iqbaal.
(Namakamu) menyerit, ia menatap Iqbaal dengan posisi pipinya yang ditempelkan dibahu pria itu. "Emang iya? Kan belum gue cuci soalnya, gak ada sabun dikamar mandi."
"Sabunnya bolong semua, abis dipake sama Bastian."
"Sama lo kali." Celetuk (namakamu) menuding.
"Idih, ngapain amat. Ngapain di sekolah coba kalo di rumah lebih bebas."
(Namakamu) terkekeh, ia menepuk pipi Iqbaal pelan berulang-ulang. "Dasar idiot."
Iqbaal hanya membalasnya dengan tawaan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG