•MY BOYFRIENEMY•

•MY BOYFRIENEMY•
LDR & BENCANA


__ADS_3

———————


Sudah beberapa hari ini, Iqbaal disibukkan dengan kegiatan mengajar futsal untuk persiapan turnamen besok. Kalau boleh jujur, sebenarnya ini adalah hal termalas bagi Iqbaal untuk melatih si tengil itu. Namun, amanah dan kecintaannya pada sepak bola membuatnya mau tidak mau harus mau. Belum lagi karena kesibukannya mengurus segala macam itu membuatnya sama sekali tidak ada waktu lebih untuk sang kekasih, untuk mengabari saja susah. Untunya gaya pacaran mereka tidak begitu rumit, (namakamu) juga mengerti Iqbaal sedang sibuk dan gadis itu untungnya bukan gadis rewel yang setiap saat harus tau Iqbaal ada dimana, sedang apa, dan dengan siapa. Tiga kali berkabaran, itu sudah lebih cukup bagi (namakamu).


Kasus antara Iqbaal dan juga Jafar sudah tercium dan membuat konflik-konflik kecil yang mengakibatkan Iqbaal mendapatkan ceramah secara gratis dari Bu Ani—guru BK kelas 12. Belum lagi, surat peringatan yang diterima laki-laki itu pertama kalinya di kelas 12, kalau dihitung dari kelas 10 mungkin saja itu adalah surat kesekian yang Iqbaal terima.


Iqbaal mengabaikannya, toh bila orang tua mau dipanggilkan sekolah punya nomor bundanya. Bukan hal baru pula bagi Rike, bundanya, untuk mampir ke sekolah ini demi menyelesaikan dan mendengarkan baik-baik apa saja yang anak lelaki satu-satunya itu lakukan. Bahkan, sampai banyak yang sudah mengenal wanita paruh baya yang cantik itu, ada yang menyebutnya 'mama mertua' , haduh.


Malam ini, (namakamu) fokus dengan buku dan juga ponsel untuk menyalin beberapa tugas yang Zidny kirimkan melalui pesan singkat berupa gambar. Lalu, data ia matikan untuk menghemat baterai, toh tidak ada yang perlu dikabari lagi. Ia sudah tahu Iqbaal pasti sibuk mencari baju, sepatu, atau apapun itu untuk lomba besok. Iqbaal juga sudah mengabarinya tadi sekitar jam 4 sore, itu sudah cukup bagi (namakamu).


(Namakamu) menoleh sebentar saat pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok lelaki kecil membawa susu kotak ditangannya. Laki-laki yang terlihat rapih itu menghampirinya dengan plastik ditangan satunya lagi.


"Nih, kak. Yang ketan gak ada," Ucap Fajri menyerahkan plastik itu.


(Namakamu) menaruh pulpennya, menerima plastik dari adik kecilnya. "Terus ini apa?"


"Kacang."


"Dih, oon.." Protes (namakamu) menatap adiknya yang sangat mengesalkan, semakin besar semakin menjadi saja kelakuannya.


Fajri tersenyum polos, ia naik keatas ranjang (namakamu) dengan mengambil sebuah buku journey relationship milik kakaknya. Sedangkan (namakamu) hanya diam, ia kembali melanjutkan menulisnya tanpa memperhatikan adiknya yang pasti akan mengacak kamarnya dalam hitungan detik, lihat saja...


Beberapa menit, (namakamu) melirik Fajri yang tampak asik membolak-balik buku miliknya. (Namakamu) beranjak dari duduknya dengan gerasak-gerusuk, merampas dengan cepat buku itu yang hampir semua fotonya adalah dirinya dengan Iqbaal.


"Jangan buka-buka!" Pekik (namakamu) heboh sendiri, ia memeluk buku itu dan menatap adiknya tajam.


"Apa yang kamu liat?" Tanya (namakamu) sinis sekaligus ketakutan sendiri.


"Foto Kakak sama Abang." Jawab Fajri polos.


(Namakamu) kembali duduk dengan perasaan tenang, untung Fajri belum membukanya sampai halaman akhir, kalau iya mati sudah dirinya. Bisa-bisa Fajri dengan mulut lemes itu ngadu dengan Yuni, Mamah mereka. Kayak tidak tahu saja isi foto yang sudah dibelakang adalah foto yang mengandung isi 17+, dimana Fajri tidak boleh melihatnya. Melihat saat kakak satu-satunya itu melakukan adegan yang..... kalian tau sendiri!


(Namakamu) menaruh bukunya ditempat yang tinggi agar Fajri tidak bisa menjangkaunya. Ia melirik sinis adiknya dan langsung kembali menulisnya. Ada-ada saja akh!


Pintu kamar kembali terbuka, menampakkan sosok wanita muda dengan roll rambut berwarna pink dan membawa handphone.


"Kak, ada pacar kamu tuh."


(Namakamu) menyerit, "Hah?"


"Itu ada Iqbaal, keluar dulu kamu, pake baju yang bener." Ucap Yuni, lalu kembali pergi menuju kamarnya.


(Namakamu) bangkit dari duduknya, ia membuka lemarinya. Kebiasaannya kalau sudah menjelang tidur adalah hanya mengenakan celana pendek dan tangtop saja. Ah, lagian pake datang! Tapi, gapapa, uuuu sayang.


Fajri langsung turun dari tempat tidur, ia mengambil plastik berisi martabak kacang yang sama sekali belum (namakamu) sentuh. Tanpa sepengetahuan (namakamu), Fajri langsung ngacir keluar begitu saja.


(Namakamu) segera memakai cardigan saja dan langsung keluar dari kamarnya seraya menjepit rambut hitamnya dengan jedai. Bahkan, gadis ini tidak sadar kalau adiknya sudah mendahuluinya.


(Namakamu) menghentikan langkahnya didepan pintu utama rumahnya saat Fajri sudah disana dan tengah berbincang dengan Iqbaal yang hanya memakai kolor bola dan baju oblong.


"Fajri masuk udah malem." Suruh (namakamu) yang menghampiri keduanya, (namakamu) menarik tangan Fajri sehingga Fajri langsung jatuh terduduk dipangkuannya yang duduk diatas bangku kayu.


"Ah, kakak mah!" Gumam Fajri tidak terima.


(Namakamu) menyentil hidung kecil Fajri, "Bilangin Mamah nih." Ancamnya.


Fajri berdecak kecil, ia merengut didalam pangkuan (namakamu). "Minjem HP."


(Namakamu) menyerahkan handphone-nya pada Fajri agar anak itu anteng. Fajri masih dalam pangkuan (namakamu) saat memainkan ponsel kakaknya itu.


"Baru pulang?" Tanya (namakamu) menatap Iqbaal yang asik mengunyah makanan.


"Keliatannya?" Tanya balik Iqbaal dengan santai.


(Namakamu) mendengus, "Besok berangkat jam berapa emang?"


"Siangan." Jawab Iqbaal enteng. Pria itu berdeham, "Gue disana seminggu."


(Namakamu) menyerit. "*** kali, kemarin ngomongnya sehari doang."


"Beneran seminggu, kan megang team cowok sama cewek." Jawab Iqbaal yang mendongak menatap (namakamu). Jadi guys, Iqbaal itu posisinya duduk dibawah sedangkan (namakamu) duduk dibangku kayu.


"Gak selama itu kali," Ujar (namakamu) heran.


"Lama dong. Gak megang handphone juga, gak cukup waktu."


"Boong!!" Ucap (namakamu) cepat.


"Dih, apa sih? Beneran, telfon aja nih Pak Hadi, tanya sama dia."


(Namakamu) berdecih. "Gak percaya."


"Batu. Kalo dibilangin laki tuh jangan ngeyel apa," Ucap Iqbaal pelan, tangannya seraya membuka grup futsalnya di Line.


"Nih, baca. Bisa baca gak?" Iqbaal memperlihatkan layar ponselnya yang menyala. (Namakamu) menyipitkan matanya dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memperjelas isi dari layar ponsel Iqbaal itu.


"Sini ngapa, buset." Pekik Iqbaal yang membuat (namakamu) berdecak.


"Bangun, Jri." Suruh (namakamu), Fajri bangkit dari duduknya dan terduduk diatas bangku sendiri. Sedangkan (namakamu) langsung turun kebawah duduk tepat disamping Iqbaal dengan posisi berhadapan.


(Namakamu) langsung menyambar handphone Iqbaal dan membaca pesan dari Pak Hadi di grup. Ia berdecak, "Kayak masuk pesantren aja, gak boleh main handphone." Gumamnya, terdengar seperti nada protes.


"Mangkanya, selamat ya seminggu tanpa gue." Ucap Iqbaal terkesan meledek.


(Namakamu) mendengus. "Harus unduh aplikasi ojol nih."


"Bareng Zidny aja sih."


"Males. Super males banget, dia tuh apa-apa cowok mulu, kesel."


"Bagus dong, normal berarti."


(Namakamu) berdecak. "Kalo cowoknya satu, dua, tiga ya gapapa. Masa sehari bisa sampe sepuluh cowok. Itu namanya kelainan!"


Iqbaal terkekeh kecil. "Kuat juga peletnya."


"Bilangin Zidny napa baal, jangan suka ngasih nomor gue sama terang-terongannya dia. Kesel tau gak, gak sopan semua." Gerutu (namakamu).


"Masa sih? Kenapa?"


"Waktu itu katanya Zidny dikejar sama anak SMK, dimintain nomornya. Eh, dia malah ngasih nomor gue ih bete. Mangkanya gue blok WhatsApp-nya Zidny, belum gue buka sampe sekarang."


"Dichat?"


"Iya lah, malah gak sopan lagi. Masa nanyain gue gini 'butuh duit gak, mbak?' gitu *****, apa coba maksudnya." Dumel (namakamu) dengan wajah sebal.


"Mau dikasih duit kali lo, siapa tau dia emang mau bagi-bagi duit."


"Idih, ogah!!" Samber (namakamu) dengan cepat dengan bergidig.


"Ya.. siapa tau aja, namanya rejeki mah dateng dari mana aja."


"Tapi, gak dari dia juga, gue juga gak terima sumpah duit haram."


"Cuma nanya gitu doang?" Tanya Iqbaal.


"Yang ngechat tuh banyak banget, kayaknya satu gerombolan anak SMK itu. Sumpah, isinya cabul semua, benci banget gue mau ganti nomor tau gak rasanya."


"Cabul gimana?" Tanya Iqbaal kepo.


"Masa gue mau dibeliin apapun katanya, asal gue mau 'itu'." Tutur (namakamu) menatap Iqbaal lekat, memberi kode lewat tatapan mata, tanpa perlu diperjelas karena ada Fajri disini.


Iqbaal menyerit, ia tidak paham. Kata 'itu' memiliki makna luas. "Apa sih?" Tanyanya.


"Ih!" (Namakamu) berdecak, pura-pura polos dasar! Ia menatap Iqbaal yang masih men-translate arti dari tatapan (namakamu), kemudian ia mengangguk paham.


"Iya tau, blok aja."


"Udah dari pas dia begitu. Langsung gue blok, pas gue tanya Zidny, Zidny juga gak tau kalo ternyata orang itu pada pedofil gila."


"Apaan banget sih, ada lagi?"


"Ada sih, cuma gak seburuk dua orang itu, gak tau namanya juga soalnya dia gak ada namanya. Untung pas dia ngechat, gue gak pake DP."


Iqbaal memasang wajah jijik, ia bergidig. "Ganti nomor aja."


"Rencananya, gue mau pindahin nomor dulu."


"Gak sopan itu namanya."


"Emang." Sahut (namakamu) seraya menyerutkan bibirnya.


"Minta duluan, iming-iming dikasih duit. Gue aja pacarnya belom." Ucap Iqbaal tiba-tiba.


(Namakamu) berdecak, ia merengek kesal. "Gak mau marah," Ucapnya lirih.


Iqbaal menyerutkan bibirnya gemas, ia mengelus pipi (namakamu) dengan sayang. "Jangan marah, nanti kita mau LDR."


"Tapi, omongannya mancing emosi." Balas (namakamu) masih dengan nada merengek.


"Emmm.." Balas Iqbaal gemas.


(Namakamu) memperhatikan Iqbaal yang sibuk dengan makanan ditangan sebelahnya. "Astaga itu punya gue!" Ucapnya yang baru sadar makanan yang Iqbaal makan sedari tadi.


"Dikasih Fajri, katanya lo gak mau." Ucap Iqbaal membela diri.


"Kakak kan gak mau kacang tadi, aku kasih Abang aja." Ucap Fajri tanpa menoleh, pandangannya masih fokus pada games diponsel (namakamu).

__ADS_1


(Namakamu) berdeham kecil. Ia menoleh kembali ke arah Iqbaal.


"Mau gak? Enak."


"Gak, nanti jerawatan lagi, kapok." Ucap (namakamu) menolak.


"Gapapa."


"Gak, sakit. Bekasnya bikin jelek."


"Kamu jelek juga aku mah tetep stay, aw!" Iqbaal berucap dengan nada dibuat-buat, diakhiri dengan mencolek pinggang (namakamu) yang membuat gadis itu terkejut dan memukul tangannya spontan.


"Jijik ah!" Kesal (namakamu) dan langsung terkekeh saat Iqbaal terkekeh.


"Dengerin ya, kita harus sayang-sayangan dulu sebelum kita jauh. Siapa tau pas gue pulang kesini, gue bawa cewek. Gak ada yang tahu, (nam)..." Ucap Iqbaal dengan nada santai dan senyum yang mengundang tangan (namakamu) menggamparnya!


Iqbaal tersenyum manis, astaga manis! Ia menopang pipi (namakamu) dengan satu tangannya membuat mulut gadis itu seperti ikan. Aduh baal, gadismu ini imut sekali.


"Mau bawa cewek berapa ratus?" Tanya (namakamu) dengan sedikit tidak jelas karena tangan Iqbaal masih memainkan pipinya.


"Aduh, satu aja udah repot apalagi beratus-ratus. Repot di elo-nya, nanti ngamuk kayak singa lepas." Jawab Iqbaal dengan kekehan.


(Namakamu) berdelik kesal, "Didalem aja yuk ah, disini banyak nyamuk."


(Namakamu) bangkit dari duduknya, menarik tangan Iqbaal untuk berdiri dan masuk ke dalam dengan menggandeng kekasihnya itu. Tak lupa juga mengajak Fajri untuk masuk dan membawa martabak itu ke dalam. Didalam, Fajri kembali melanjutkan memainkan ponselnya seraya berbaring disofa panjang.


"Mau minum gak?" Tanya sekaligus tawar (namakamu).


"Kayak biasa."


"Bentar."


Iqbaal menatap (namakamu) yang berjalan ke belakang... kenapa gadis itu selalu aduhai sekali sih?! Apa karena ini malam hari? Ah, gak juga!! Iqbaal tersenyum miring, ia menatap Fajri.


"Fajri jangan kemana-mana, disini aja." Titah Iqbaal yang hanya diberi dehaman kecil saja oleh anak kecil yang sedang asik dengan gadgetnya.


Iqbaal berjalan menghampiri gadisnya yang tengah mengambil gelas dan menaruhnya dimeja makan. Iqbaal tersenyum tipis. "(Nam).." Serunya.


(Namakamu) berdeham. "Apa? Mau seberapa panas nih airnya?" Tanyanya tanpa menoleh.


"Sepanas lo."


(Namakamu) berdecak, ia menyenggol perut Iqbaal dengan sikutnya. "Serius ah!"


"Serius."


(Namakamu) menoleh, menatap Iqbaal dengan sedikit mendongak karena pria itu lebih tinggi darinya. Iqbaal memasang wajah tenang dengan senyum tipis, "Aduh lo tuh... aduh.." Ucapnya.


"Apa sih!" Gumam (namakamu) mendadak malu, ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyumnya.


"Kalo malem tuh suka bikin.. ah!" Ucap Iqbaal ugh.


(Namakamu) mendengus, ia mendongak. "Lo tuh gila—"


Cup!


Satu kecupan manis mendarat dibibir gadis itu membuat ucapannya terhenti begitu saja. Iqbaal memasang wajah sok kagetnya itu, "Eh?" Katanya polos.


(Namakamu) mencubit spontan pinggang Iqbaal, "Masih pagi!"


"Jatah seminggu."


"Gila!" Ucap (namakamu) mengacak poni rambut Iqbaal yang memanjang.


Iqbaal melingkarkan tangannya di pinggang (namakamu) erat, membuat jarak mereka terkikis. (Namakamu) berdecak, ia memukul pelan dada bidang Iqbaal pelan.


Ya, jangan salahkan saya. Salahkan Iqbaal yang tiba-tiba tanpa izin maupun aba-aba langsung kembali menyambar bibir tipis milik (namakamu). Membiarkannya menempel beberapa detik, lalu memberi lumayan kecil yang membuat (namakamu) memejamkan matanya. Gadis itu selalu menikmati momen ini, jarang sekali ini terjadi, Iqbaal bukanlah pria yang gede nafsu atau gampang terpancing, tapi ia masih normal guys. Hanya saja, Iqbaal sangat dan sangat menghormati gadisnya, jadi Iqbaal tidak terlalu sering melakukan hal ini. Sekali melakukan, Iqbaal bukan menggunakan nafsu, tetapi hati. Cieee.


(Namakamu) membuka matanya kembali saat Iqbaal sudah melepaskan ciuman mereka, ia melihat jelas pria itu melumat bibirnya sendiri dan kembali menyerang dirinya dengan kecupan ringan bertubi-tubi.


"Baal!!!" Sebal (namakamu) membuat Iqbaal terkekeh kecil.


Iqbaal kembali memberi lumatan dibibir bagian bawah (namakamu) sebentar, namun ada lah sampai 3-4 kali ia melakukan itu. (Namakamu) yang kesal hanya bisa memukul pelan dada Iqbaal.


Iqbaal spontan melepaskan pelukannya saat terdengar suara pintu yang terbuka, (namakamu) juga langsung menjauhkan dirinya dengan Iqbaal dan kembali menyeduh sesuatu untuk Iqbaal.


Iqbaal terkekeh, ia berjalan pergi meninggalkan (namakamu) yang hanya bisa menahan rasa degdegan, girang dan malu saat melakukan itu. Iqbaal melihat seorang pria yang keluar dengan mengusap matanya.


"Malam, om." Sapanya baik.


"Eh baal, darimana?"


Iqbaal menyerit, ia tahu pasti pria ini masih dialam mimpinya dan bangun hanya untuk pergi ke kamar mandi. "Dari kamar mandi, om."


"Oh iya." Jawab Harris, Ayah (namakamu) yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Iqbaal terkekeh.


*****


Hari ini, (namakamu) sudah sampai di sekolah sejak 5 menit lalu bersama dengan sang Ayah. Ia berjalan sendirian menyusuri koridor yang belum terlalu ramai, rasanya malas sekali untuk ke kelas bertemu dengan Zidny. Namun, ia ingin menghajar gadis itu detik ini juga mengingat Zidny lah dalang dari pencabulan (namakamu) melalui sosial media.


"(Nam), pagi."


(Namakamu) menoleh, menatap seorang pria tampan yang menyapanya dengan senyum menawan. Sayang, senyum itu sama sekali tidak bisa mengoyahkan iman (namakamu).


(Namakamu) berdeham kecil, "Pagi, Bi."


"Pagi-pagi suntuk banget, ditinggal Iqbaal?" Tebak Abidzar yang berjalan berdampingan dengannya.


"Enggak, emang lagi gak mood aja."


"Faktornya karena Iqbaal pergi juga kan?"


"Hmm.. iya iya."


Abidzar terkekeh kecil, ia menepuk pelan bahu (namakamu) bertubi-tubi. "Sabar ya, duluan." Ucapnya yang melangkahkan kakinya ke kelasnya.


(Namakamu) hanya diam, ia melanjutkan jalannya menuju kelasnya yang berada dilantai dua. Tatapan datar dan senyum kecut yang hanya ia tampilkan.


"(Namakamu)!!"


(Namakamu) berdecak, ia mengabaikan panggilan itu karena orang itu lah salah satu faktor (namakamu) malas sekolah.


"(Namakamu), gue minta maaf, gue khilaf." Zidny berdiri didepan (namakamu) dengan nafasnya yang memburu, ia memegang bahu (namakamu) dan menampakkan tatapan menyesal.


"Males gue sama lo. Udah lah, awas." Ketus (namakamu) menepis tangan Zidny dan memilih berjalan.


"Yah, gue gak sengaja. Kalo gue gak ngasih nomor lo nanti gue pasti diapa-apain sama mereka. Tau sendiri, gue jomblo, gue gak ada cowok buat tempat berlindung. Sedangkan lo ada Iqbaal, kalo mereka macem-macem ada Iqbaal yang langsung sigap—"


"Emang temen cewek lo cuma gue?! Lo pikir gue bakalan biarin Iqbaal berantem sama orang-orang gak jelas itu?! Terus, lo bilang lo jomblo? Hello, sadarrr, cowok lo segudang cantik!" Sembur (namakamu) dengan nada yang tak suka dan menyindir secara frontal.


Zidny menyerutkan bibirnya. "Maaf, lo ganti kartu deh, gue beliin kartunya. Mau kartu apa?"


(Namakamu) menatap Zidny dengan datar, sedangkan gadis itu menatapnya polos. Lama bertatapan, Zidny tercengir. "Kalo udah ganti kartu, gak akan gue kasih nomor lo sama orang lain tanpa seizin lo, janji." Katanya dengan mengangkat jari telunjuk dan tengah secara bersamaan.


"Yaaaaa, pleaseeeee..." Lirih Zidny sangat bermohon.


"Yaudah, iya. Kalo lo lakuin itu lagi, gue bakalan nyuruh Iqbaal ngasih nomor lo ke om om pedofil." Ucap (namakamu) mengancam.


"Ah, *****! Gak akan terjadi, gue janji."


"Awas lo!" Sinis (namakamu).


"Iya." Ucap Zidny yang langsung bergelayut manja di lengan (namakamu), berjalan berdampingan menyusuri koridor. "Lo ngadu sama Iqbaal ya?"


"Iya lah. Laki gue harus tau kalo bininya dicabulin."


Zidny memalingkan wajahnya, lalu berekspresi seolah jijik dengan perkataan (namakamu). "Ew!" Gumamnya.


"Apa lo, iri?!" Samber (namakamu) langsung.


"Harus dipertanyakan lagi?" Tanya Zidny balik.


"Dasar!"


"Apa katanya?"


"Katanya dia mau labrak lo, mau ngacak-ngacak lo! Puas?!"


Zidny tak takut, ia langsung terkekeh dan tersenyum manis. "Gapapa kalo diacak-acak sama Iqbaal, aku rela."


(Namakamu) berdecih. "Pelakor!"


*****


SKIP YA!!


(Namakamu) memasukkan semua buku kedalam tote bag-nya. Hanya menyisakan ponselnya saja untuk berkomunikasi dan memesan ojol untuk pulang. Setelah semua selesai, ia bangkit dari duduknya.


"(Nam), temenin gue ke kedai dong." Pinta Zidny yang juga bangkit dari duduknya dengan membawa kunci motor ditangannya.


"Mau ngapain? Nge-date sama cowok yang mana lagi, hm?"


"Astaga pikiran lo cowok terus. Gue mau ngerjain tugasnya bahasa Indo nih yang waktu itu gue gak ngerjain, lo kan lumayan pinter, bantuin gue lah." Tutur Zidny.


"Pulang anterin gue."

__ADS_1


"Iya."


"Jajanin gue disana."


"Bawel, tot. Udah ayo," Ajak Zidny yang berjalan keluar dari kelas disusul dengan (namakamu) yang juga keluar kelas dengan memainkan ponselnya.


"Lo yang bawa motornya, gue mager."


(Namakamu) tak menjawab, ia masih sibuk menarikan jemarinya dilayar ponsel, membalas pesan-pesan singkat dan tidak jelas dari Iqbaal sebelum pria itu mulai sibuk seminggu ini dan pasti akan sulit dihubungi dan mengabari, sudah khatam ia yang seperti ini.


"Hp terusssssss!" Sindir Zidny.


(Namakamu) mendongak, ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantung baju. "Mana sini kuncinya?"


Zidny melempar kunci motor yang langsung ditangkap oleh (namakamu). Keduanya sama-sama naik ke atas motor dengan (namakamu) yang akan membawanya. (Namakamu) mulai menyalakan motor.


"Pegangin HP gue," Ucap (namakamu) menyerahkan handphone-nya pada Zidny.


Zidny membenarkan rambutnya, mengaca pada handphone (namakamu) yang mati. Namun, tiba-tiba menyala dan menampakkan chat dari Iqbaal yang dinamai  ibayi🖤  oleh (namakamu). Spontan, itu juga membuat layar kunci handphone (namakamu) terlihat, foto mereka berdua yang tengah disebuah puncak dengan posisi (namakamu) yang digendong Iqbaal dibelakang.


"Ah, bikin sakit hati aja nih notif sama wallpaper-nya!" Pekik Zidny kencang dan langsung mematikan ponsel (namakamu).


(Namakamu) membenarkan spion untuk menatap Zidny dari sana, ia tertawa puas. "Dibales apa sama laki gue?"


"Katanya 'mau ngapain?' gitu."


"Biarin aja, jangan dibales."


"Gue bales, 'mau cari laki baru, bosen sama lo' gitu."


"Mulai deh, seneng banget lo kalo gue berantem sama Iqbaal."


"Seneng lah, kan nantinya Iqbaal bakalan jomblo." Jawab Zidny asal.


(Namakamu) terkekeh. "Kata siapa?"


"Kata gue barusan."


"Ada masalah aja yang ngalah Iqbaal, mana mungkin dia mutusin atau mau diputusin. Guenya juga gak mau mutusin kali."


"Nah itu, kalo ngalah mulu lama-lama capek terus bisa pindah hati."


(Namakamu) tertawa. "Enggak akan gue biarin, enak aja."


Zidny bergidig, ia memilih diam dan menatap setiap jalanan yang ia lewati. Sedangkan (namakamu) fokus pada jalanan yang ada didepannya. Sampai akhirnya mereka sampai didepan kedai mini yang hanya diisi beberapa orang saja, Zidny turun dari motor dan langsung masuk ke dalam.


(Namakamu) berdecak, ia mencabut kunci motor. Berkaca sebentar pada spion untuk membenarkan rambutnya, sebelum mengikuti Zidny masuk. Baru beberapa langkah, tubuh kecilnya terdorong oleh seorang pria jangkung yang mau keluar.


"Aduh." Ringisnya spontan.


"Sorry— eh, (namakamu)?"


(Namakamu) menoleh, ia terdiam untuk beberapa detik sebelum benar-benar memasang senyum malu. "Eh, Devano."


"Kok ada disini? Udah pulang sekolah?" Tanya Devano, pria tampan yang tadi menabraknya.


"Udah lah, kalo belum ya masih di sekolah berarti."


"Sama siapa?"


"Zidny doang berdua."


Devano mengangguk, ia menatap (namakamu) kemudian tersenyum malu. "Kirain sama Iqbaal, kemana emang dia?"


"Lagi ada tugas sekolah, biasa futsal."


Devano mengangguk paham, ia menatap sekeliling lalu tersenyum tipis. "Duduk sebentar yuk, mau ngomong."


"Buru-buru banget, mau kemana?" Tanya (namakamu) kepo, namun ia ikut Devano yang duduk dibangku panjang depan kedai.


"Mau pulang sih, udah ada janji sama Mamah. Oh iya, nomor lo udah gak aktif lagi?"


"Gue mau ganti nomor sih rencananya, jadi untuk sementara ya pake Line dulu."


"Pantesan, gue cuma mau tanya soal waktu itu. Jadi, kapan lo ada waktu?" Tanya Devano menatapnya dengan intens.


(Namakamu) terdiam, ia kemudian tersenyum. "Minggu-minggu ini bisa, tapi ya rada sorean. Emang ulang tahun kakak lo kapan dan mau ngadoin apa?"


"Beberapa hari lagi. Gue bingung mau ngadoin apa, mangkanya gue minta temenin lo kali aja lo tau."


(Namakamu) terkekeh, "Yaudah gampang lah."


"Oke. Nanti gue kabarin lagi deh, gue balik ya!"


"Oke, bye"


(Namakamu) ikut bangkit saat Devano juga bangkit, ia melambaikan tangan pada Devano saat pria itu sudah diatas motor dan siap meluncur pergi. Aduh, sayang. Eh?


(Namakamu) masuk ke dalam dengan senyum malu saltingnya yang merekah, disana ia sudah menerima tatapan tajam dari Zidny yang menunggunya.


"Gila lo ya? Belum ada sehari ditinggal Iqbaal udah mepet-mepet sama mantan." Ucap Zidny datar.


"Apa sih? Cuma bahas ultah kak Salsa doang." Jawab (namakamu) seraya duduk didepan Zidny.


"Hati-hati, nanti sampe kekuping Iqbaal nih berita, mati lo."


"Lo awas aja ya sampe ngadu gue mau jalan sama Devano! Gue cincang abis gila!!" Ancam (namakamu) tajam.


"Yaa gue sih gak bakalan cepu, segilanya gue juga gak bakalan berani sama Iqbaal. Gue kan cuma wanti-wanti aja, tau sendiri si Iqbaal itu mata-matanya banyak." Tutur Zidny.


"Gue mainnya jauh ah, lagian juga gue mau ke mall. Pasti gak ada yang mantau." Ucap (namakamu) santai.


"Lupa deh, cewek-cewek alias adek kelas itu rata-rata ngegebet Iqbaal, kalo sampe ketauan lo main belakang aduh abis deh diaduin sama adek-adek kelas.." Ucap Zidny seraya membuka buku tebal miliknya.


"Jangan bikin gue mikir deh Zid, gue cuma mau nemenin Devano cari kado buat kakaknya, udah gak lebih." Ucap (namakamu) mendadak kesal sendiri.


"Terus iseng-iseng nonton bioskop, belanja, makan bareng. Aduh, udah khatam gue sama sifat licik lo.."


"Gue gak begitu!"


"Halah, waktu jamannya PDKT sama Iqbaal juga gitu. Alasannya mau beli kado buat Fajri, eh tau-tau malah ke puncak berdua. ***!"


"Gue gitu ke Iqbaal doang." Sahut (namakamu) cepat dengan pelan.


"Gue bilangin nih, jangan main-main sama Iqbaal. Kalo lo mau mainin Iqbaal, mending Iqbaal-nya buat gue aja."


(Namakamu) berdecak, "Gue gak mainin. Gue cuma nemenin ya ampun gak ada niat apapun lagi, lo mah suka kompor sih Zid!"


"Terserah. Gue mah gak mau terlibat pokoknya, jangan sangkut-pautkan gue."


(Namakamu) berdeham panjang. "Najis, gak akan mau gue sebut nama lo!"


"Waktu itu lo berantem sama Iqbaal ngapain bawa-bawa gue, heh?! Lo yang centil sama cowok terus gue yang dituduh-tuduh, apa maksudnya?! *** kau!"


(Namakamu) terkekeh kecil. "Itu kepepet, dari pada Iqbaal makin marah sama gue yaudah gue bawa nama lo aja."


"Awas lo bawa-bawa nama gue, gak mau lagi gue. Gue sendiri yang bakalan cerita sama Iqbaal sayang."


"Laki gue jangan dipanggil sayang!!" Kesal (namakamu) menendang kaki Zidny.


"Bodo! Kesayangan gue, dia masuk list cowok yang akan gue deketin kalo jomblo." Balas Zidny dengan menjulurkan lidahnya meledek.


(Namakamu) berdecak, ia menunduk melihat satu panggilan masuk dari Iqbaal. Ia segera mengangkatnya.


"Hah?" Ucap (namakamu) membuat Zidny menatapnya.


"Yaudah."


"Iya."


(Namakamu) menatap Zidny yang terus memperhatikannya.


"Iya, sayangku. Semangat semoga menang!!" Ucap (namakamu) membuat Zidny berubah menjadi kecut. Zidny kembali pada tugasnya, ah (namakamu) membuatnya panas.


"Iya."


"Awas aja kalo berani, sampe sini gak ada sayang-sayangan!"


"Bodo."


"***."


"Iya, cinta. Bye-bye."


(Namakamu) menutupnya dan menaruh kembali ponselnya diatas meja. Tidak ada reaksi apapun dari Zidny selain wajah cemberutnya yang membuat (namakamu) terkekeh tanpa suara. Ia menopang kedua pipinya seraya memperhatikan layar ponselnya yang menampakkan foto dirinya dan Iqbaal.


Ada rasa sedih saat melihat itu, satu tahun menjalin kasih dengan cobaan yang selalu ada membuatnya sempat merasa wanita paling beruntung, bukan sempat, tapi memang sangat beruntung. Seperti yang ia katakan tadi, s'etiap ada masalah pasti Iqbaal yang mengalah'. Namun, ucapan Zidny yang berkata 'orang yang selalu mengalah pasti akan capek dan akan berpindah hati' itu membuatnya berpikir keras.


Apakah Iqbaal suatu hari akan capek? Lalu, meninggalkan dirinya?


Kan, pasti deh setiap mau jalan atau berdekatan dengan cowok manapun, selalu terbesit nama Iqbaal yang membuatnya harus berpikir ribuan kali untuk berani macam-macam dibelakang pria itu. Pria yang dinilai keras dan egois, padahal pria itu sangat penyayang, yang keras dan kasar hanya ucapannya saja.


Aduh, jadi mikir 1000 kali untuk rencananya menemani sang mantan itu. Ah, udahlah, toh Iqbaal di Bandung, jauh darinya.


(Namakamu) cinta Iqbaal 3000 kok.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG..


__ADS_2