
-------
Hari ini, seperti biasanya, (namakamu) selalu berangkat sekolah bersama dengan sang Ayah kalau Iqbaal tidak berjanji menjemputnya. (Namakamu) menyalimi sang Ayah sebelum benar-benar pergi memasuki gerbang sekolah yang sudah ditutup satu karena sudah jam setengah 7 lewat.
(Namakamu) berpapasan dengan Zidny yang berjalan santai, senyum lebar saat ditegur beberapa siswa lainnya karena gadis itu cukup terkenal di sekolah. Headset yang ada di telinganya membuat Zidny sulit menoleh saat (namakamu) menyerukan namanya berulang-ulang kali.
"Zid, ih!" (Namakamu) menarik baju Zidny membuat gadis itu tersentak kaget dan spontan melepas sebelah headset nya.
"Bolot." Pekik (namakamu) kesal.
"Ya lo ada-ada aja, orang lagi pake headset malah dipanggil." Balas Zidny ngegas.
"Ya tap—"
"Assalamualaikum...."
(Namakamu) dan Zidny sama-sama menoleh ke arah seorang pria yang menggendong tas serut dan mengenakan sweater berwarna abu-abu. Kedua gadis itu sama-sama tersenyum lebar.
"AAAA GEWRYYYY!!" Pekik keduanya bersamaan.
"Haiiii." Sapa pria itu bernama Gery dan biasa dipanggil Gewry, Ger, Baby, Inces, dll.. kenapa? Karena ia rada setengah-setengah, setengah laki-laki dan perempuan. Aslinya lelaki guys!
Zidny memeluk Gery didepan pintu kelas, ia menepuk-nepuk pipi Gery gemas. "Kemana aja? Udah ikut-ikutan Pramuka nya?" Tanyanya.
"Udah dong, gue kesana cuma foto-foto doang." Jawab Gery dengan nada gemas.
(Namakamu) tersenyum, "Kangen banget (namakamu) sama Baby, gak asik kemarin pensi gak ada lo." Ucapnya menyenggol lengan Gery pelan.
Gery terkekeh kecil. "Huuuuu, selama gue pergi ada gosip baru gak?"
"Anjrit bener-bener nih anak, otak gosipnya masih ada aja!" Pekik (namakamu) mengetuk pelipis Gery.
Gery menyerut. "Harus dong.."
"Eh tau gak sih... Masa pas pensi ada yang mojok berdua, mewek-mewek gitu.." Ucap Zidny julit.
"Waduh.. siapa itu?" Tanya Gery kepo.
"Siapa lagi sih yang suka mojok selain si cabe itu." Sindir Zidny melirik (namakamu) sedikit.
Gery menoleh, ia mencolek dagu (namakamu). "Mojok terus sih.. main atas apa bawah?" Godanya.
(Namakamu) menjitak kening Gery. "Ih, nyebelin!"
Gery terkekeh, lalu mereka masuk ke dalam kelas bersamaan. Gery mulai membuat rusuh kelas yang selama ditinggalnya menjadi adem ayem, Gery juga menggoda beberapa siswi lainnya dan menjadi bahan ledekan bagi siswa yang ada di kelas. Ini lah yang dirindukan dari sosok Gery si pencair suasana.
Baru beberapa menit, seorang pria paruh baya sudah hadir dengan membawa tas berisikan laptop. Kelas menjadi hening dan pelajaran jam pertama mulai..
(Namakamu) membuka bukunya dan siap untuk belajar, sedangkan Zidny malah pergi pindah ke bangku yang paling belakang untuk mengangkat sebuah videocall yang masuk, kebiasaan buruk jangan ditiru!
Akhirnya Gery yang pindah duduk bersama dengan (namakamu). (Namakamu) mulai memperhatikan pria paruh baya yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia itu dengan serius, sesekali melirik ke arah samping untuk melihat siswa/i yang lewat koridor karena ia duduk dipojok dekat dengan jendela.
"Diluar kotor gitu sih, siapa yang piket?!" Tanya guru itu dengan nada sedikit sewot karena memang Pak Rudi terkenal sebagai guru yang bersih.
"Piket dulu!! Sini yang piket ikut saya keluar, pungutin sampahnya." Pak Rudi kembali keluar diikuti 5 siswa/i yang piket dihari ini.
(Namakamu) berdiri, melongok ke arah yang dimaksud oleh Pak Rudi. Ia menyerit, padahal kan tidak ada yang kotor..
Tok..tok..
(Namakamu) terkejut saat ada ketukan dijendela disusul dengan seseorang yang tersenyum tipis padanya. (Namakamu) menyerit dan ia langsung duduk dengan menatap Gery yang melongo.
"Ihh, Iqbaal kok makin ganteng sih.." Puji Gery dengan tanpa berkedip saat pria yang ia maksud tadi tersenyum tipis sekejap dan berlalu.
"Ganteng banget ih.. gimana gak mau dipojokin terus." Tambah (namakamu) meremas tangan Gery dengan gemas, bayangan wajah Iqbaal terlintas seketika, uhh Gemas.
Gery memasang wajah datar dan menghempaskan tangan (namakamu) kasar. "Emang dasarnya gatel lo mah." Katanya.
(Namakamu) menyerutkan bibirnya sebal, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Gery. "Senyumnya itu loh bikin lupa daratan."
Gery menepuk jidat (namakamu). "Insafffffff ya ampun, yang ngomong gitu bukan lo doang. Kemarin pas gue Pramuka, buset dari azan subuh sampe isya ngomonginnya Iqbaal terus, sampe gedek gue laki gue diomongin terus." Tuturnya.
(Namakamu) menarik kepalanya, ia menatap Gery dengan senyuman kecut. "Laki gue ih, jangan jadi pelakor."
Gery bergidig. "Lo mah gak ada apa-apanya sama gue."
"Gue aduin Iqbaal lho."
"Jangan, (nam), bercanda doang. Gue takut ih sama dia, serem." Ujar Gery ngeri.
"Baik tau dia, nurut lagi, gak serem tau ih Gery mah." Bela (namakamu).
"Sama lo doang itu! Ya namanya sama bini masa galak sih, nanti gak dikasih jatah."
"Gewry!" Seru (namakamu) cepat saat suara Gery memenuhi kelas yang mendadak sepi, sebenarnya Gery dan Zidny itu hampir 11 12 gacor dan blak-blakannya, cuma lebih gacor lagi si Gery mulut toa!
'Berisik lo, Ry!'
'Pergi aja sana lo ah, pake ngomongin jatah segala.'
'Omongan 21+ *****.'
Gery tidak perduli, ia tetap diam dan menatap (namakamu) yang menahan tawa akibat banyak cacian untuk Gery. Ia bahagia melihat Gery tersiksa.
"Gak usah tawa lo!" Kesal Gery melirik sinis (namakamu) yang semakin lepas menertawakan dirinya.
"Awas lo." Usir Zidny seraya menaruh handphonenya dikolong meja.
Gery berdecak. "Gak."
"Dih, dateng-dateng rusuh. Gue mau duduk Gery sayang."
"Udah pw. Gue mau cerita-cerita sama (namakamu)."
"Yah, gue enggak?" Tanya Zidny sedih.
"Mau ngomongin Iqbaal."
"Yaa gue juga mau, gimana pun juga Iqbaal pacar gue." Ucap Zidny yang mendorong kasar Gery dan duduk disebelahnya.
(Namakamu) meringis saat tubuh Gery menabraknya. "Rempong banget sih lo berdua! Gak ada cerita Iqbaal."
"Yah, masa gak ada sih?" Tanya Gery lemas yang merasa kecewa.
"Gak ada." Jawab (namakamu).
"Boong!" Cicit Zidny si ratu kompor.
"Udah ah awas, mending gue duduk didepan daripada disini sama lo berdua gosip terus." (Namakamu) bangkit dari duduknya, membawa buku serta pulpen ditangannya. Melangkah meninggalkan kedua teman laknatnya itu.
"Hih, dasar!" Gumam Gery.
*****
Jam istirahat, jam yang ditunggu kedua setelah jam pulang. (Namakamu) berjalan bersama dengan Gery menyusuri koridor untuk pergi ke kantin, Zidny? Gadis itu menyusul katanya, mau videocall 'lagi' dengan pria yang sudah diklaim menjadi kekasihnya sejak semalam.
(Namakamu) sesekali bercerita dan bercanda dengan Gery, tertawa melihat kekonyolan Gery yang terkadang usil pada murid lain. Gery cukup terkenal didalam maupun luar sekolah, bisa dibilang Gery juga most wanted bagi anak diluar sekolah yang belum mengetahui sifat asli Gery yang bawel, cucok, tukang gibah, dll. Untuk wajah, Gery termasuk tampan.
"(Nam), liattttt! Gans banget." Ucap Gery menahan langkah (namakamu), menunjuk suatu objek dengan tangannya ke arah lapangan.
(Namakamu) menyipitkan kedua matanya, menatap Iqbaal yang mengalungkan handuk kecil dan tengah asik memperhatikan lawan bicaranya dengan diiringi senyum kecil diwajahnya yang tak surut. (Namakamu) berdecih, menatap lawan bicara Iqbaal yang sama sekali tidak berpaling menatap wajah tampan kekasihnya itu. Jujur, untuk itu (namakamu) sangat cemburu, ia tidak mau wajah Iqbaal dinikmati banyak orang terlebih itu kaum hawa!! Sangat tidak boleh.
"Ceweknya nyebelin." Gumam (namakamu) masih belum berpaling menatap Iqbaal.
"Jangan liat ceweknya, cowoknya aja."
"Udah ah males, gak suka gue." (Namakamu) menarik paksa Gery untuk meninggalkan tempat itu.
(Namakamu) memasang wajah masam, memasuki daerah kantin dan duduk disebuah bangku panjang yang tak jauh dari pintu kantin. Disusul dengan Gery.
"Mau apa?"
"Air."
Gery bangkit kembali, membelikan air yang dimaksud (namakamu) dan membeli beberapa cemilan dan bakso untuk dirinya. Ia kembali lagi dan melempar cemilan dimeja, menaruh air pesanan (namakamu) juga.
"Cewek itu siapa?" Tanya Gery kepo. "Kok gue baru liat."
"Adek kelas, kelas 11. Namanya Vanesha, anak futsal."
"Buset, apal." Seru Gery seraya membuka bungkus yang berisikan makaroni rasa jagung bakar.
"Tau gak sih, katanya dia itu mirip sama mantannya Iqbaal, mangkanya gue rada kurang suka sama cewek itu." Tutur (namakamu) yang mengambil makaroni itu dengan tidak santai.
"Siapa?"
"Alexa."
Gery mengangguk paham. Lalu kembali menyuapi mulutnya dengan makaroni. "Cakep tapi ceweknya, jujur."
"Banyak yang bilang begitu. Gue kesel tau waktu mereka pergi buat turnamen di Bandung, gue gak tau mereka ngapain aja soalnya disana handphone Iqbaal itu rusak. Gue jadi nething sama Iqbaal." Tutur (namakamu).
"Terus-terus?"
"Gue jalan sama Devano waktu itu."
Gery terbelakak. "Demi apa? Ih, kok gak ngajak sih.. terus-terus?"
"Gak terus-terusan!" Jawab (namakamu) kesal.
"Ulalalalalala Gewryyykuh.."
Suara berat yang buat-buat menjadi cempreng itu membuat Gery dan (namakamu) menoleh pada ambang pintu kantin, seorang pria dengan baju keluar-keluar itu masuk dan langsung menghampiri Gery, memberi cubitan kecil dipipi Gery.
"Ih, apaan sih lo, Bi. Jijik," Dengus Gery menepis tangan Abidzar.
"Gewry aku udah pulang? Babas kangen..." Bastian berucap dengan bibirnya yang dimainkan, dimaju-majukan ke depan.
"Gak jelas banget sih." Gumam Gery merasa geli.
(Namakamu) menoleh ke samping saat seseorang dengan dasi yang mengikat kepalanya masuk, pria itu langsung duduk disamping (namakamu) dan dengan usil menoyor kepala Gery.
"Ih, Iqbaal!" Kesal Gery.
"Gue kira lo ilang dihutan gak balik lagi, Ger." Ucap Iqbaal menatap Gery.
__ADS_1
"***."
Iqbaal terkekeh, ia menatap (namakamu) yang hanya diam dan asik dengan cemilannya. "Mau tau gak.." Ucap Iqbaal pelan.
"Gak." Jawab (namakamu) cepat tanpa menoleh.
Iqbaal menyerut sebal. "Serius.. ini penting banget."
"Apa?" Tanya (namakamu) masih tanpa menoleh.
"Gue udah punya hp baru."
(Namakamu) menoleh, menatapnya dengan kening menyerit. "Kapan belinya?"
"Dibeliin."
"Sama siapa?"
"Vanesha."
(Namakamu) makin menyerit, "Atas dasar apa?" Tanyanya mulai tidak suka.
Iqbaal terkekeh, "Gak deng. Dibeliin sama Pak Hadi, ucapan terima kasih karena futsal lolos ke babak final minggu depan."
(Namakamu) bernafas lega dalam diamnya, baru mau marah.. "Main dimana lagi?"
"Di Bogor, cuma sehari. Ikut ya?" Ajak Iqbaal yang terdengar seperti permintaan yang wajib dikabulkan oleh (namakamu).
"Minggu?"
"Sabtu," Jawab Iqbaal cepat.
(Namakamu) hanya berdeham menanggapinya, ia menghisap air yang tadi dipesan. Sesudahnya, ia kembali menatap Iqbaal.
"Pake dasi yang bener, jangan diikat di kepala kayak orang gila." Ucap (namakamu) dengan datar.
Iqbaal menggeleng. "Gak ah, pusing."
"Apa sih.. kayak orang jaman dulu aja lo."
"Bodo. Setting handphone gue dong."
"Mana?"
"Di kelas."
(Namakamu) berdecak pelan, "Yaudah nanti."
"Sekarang!" Paksa Iqbaal.
"Ih, nanti aja sekalian pulang."
"Yaudah minta tolong Vanesha aja."
"Yaudah sana." Ucap (namakamu) acuh, ia memang masih kesal sebenarnya dengan pemandangan yang tadi ia lihat sebelum sampai di kantin.
"Elah.." Ucap Iqbaal nampak jengah melihat (namakamu) yang sangat baper sekali, ia menatap gadisnya itu dengan datar.
(Namakamu) hanya cuek dan melanjutkan memakan cemilan yang ada, melahapnya sampai habis tanpa memperdulikan Iqbaal. Sampai akhirnya ia menoleh saat Zidny datang dengan membawa papan kecil.
"Eh kebetulan nih, lo semua ikut ke konser Sheila on 7 dong." Ucap Zidny berdiri didepan meja dan menatap semuanya satu per satu.
"Kapan?" Tanya Bastian.
"Minggu ini, ikut kek. Gue disuruh jualin tiket nih, diskon deh kalo buat lo lo pada."
"Ah, jualan. Gue kira gratis buat kita," Ucap Gery.
"Pala lo!" Ketus Zidny. "Ikut kek, Iqbaal (namakamu), Babas sama Shafa, Abidzar sama Mala, Gery sama— ah jomblo."
"*****!" Cicit Gery sebal.
"Sama lo lah Zid." Sahut Abidzar.
"Gue sama cowok gue lah, ogah banget bareng topeng monyet!"
"Awas lo ya!" Ancam Gery menatap Zidny tajam.
"Bodo. Mau ya?" Bujuk Zidny.
"Daerah mana?" Tanya Bastian.
"Senayan."
"Gue deh sama Shafa, Shafa suka nyetel lagu band itu soalnya." Ucap Bastian.
"Asik. Lo juga ya Bi?"
"Ya deh." Jawab Abidzar pasrah.
"Iqbaal sama (namakamu)? Ah, udah pasti. Wajib buat lo berdua mah." Ucap Zidny yang mulai mencatat nama-nama dipapan.
"Gue gak ditanya?" Tanya Gery.
"Lo mau sama siapa Ger?" Tanya Zidny tanpa menoleh, terkesan seperti pertanyaan ledekan.
"***** ah, males." Sengut Gery.
"Udah pas, gue mau keliling lagi, bye. Btw lo kayak pendekar aja pake dasi dikepala, baal." Ledek Zidny yang beranjak pergi.
"Anj." Gumam Iqbaal pelan.
Tring..
Satu notifikasi masuk di handphone (namakamu) membuat gadis itu menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak diatas meja. Namun, Iqbaal dengan cepat menyambarnya membuat (namakamu) spontan ingin mengambilnya dengan cepat, tetap kalah cepat dengan Iqbaal.
(Namakamu) berdecak, ia tampak marah dan langsung mengubah mimik wajahnya menjadi panik, takut bila itu chat masuk dari Devano. Kalau iya, mati saja dia.
Iqbaal menyerit, ia membaca nama pengirim yang tertera dengan jelas disana. "Mama." Gumam Iqbaal.
(Namakamu) merasa lega, ia menjadi santai meski sedikit degdegan. Iqbaal menatapnya dengan datar, namun tersirat arti dari tatapan datarnya itu yang membuat (namakamu) langsung berucap.
"Sini."
Iqbaal memberikannya dengan tenang. "Mama. Kirain siapa.." Ucap Iqbaal damai, namun membuat (namakamu) menelan ludahnya dan membuka pesan dari sang Mama dengan sedikit gemetar.
"Emang dari Mama, dari tadi cuma chat Mama doang."
"Yaudah sih santai, gak usah panik." Jawab Iqbaal.
(Namakamu) merutuki dirinya didalam hati, bodoh sekali dia. "Gak panik." Katanya menutupi grogi.
"Kalo bukan Mama, emang tadi ngiranya chat masuk itu dari siapa?" Tanya Iqbaal mulai sedikit posesif.
(Namakamu) menggeleng pelan. "Gak dari siapa-siapa."
Iqbaal diam, ia merebut kembali handphone (namakamu) yang ada ditangan gadis itu membuat (namakamu) sedikit kaget. Lalu membiarkan Iqbaal memainkannya, ia tidak berani melawan kalau Iqbaal sudah memasang wajah datar. Itu lebih menyeramkan dibanding Iqbaal memasang tatapan tajam.
(Namakamu) memilih membuka kembali makanan yang tersisa didepan, ia menatap Gery yang terlihat bingung menatap Iqbaal. (Namakamu) berganti menatap kedua pria yang ada dihadapannya, tengah asik dengan handphone masing-masing.
"Kenapa, (nam)?" Tanya Gery pelan.
"Suuutttt.." Balas (namakamu) pelan juga.
Gery mengerti, pria itu bangkit untuk membeli cemilan lagi. (Namakamu) kembali menatap Iqbaal yang sudah mengembalikan ekspresinya seperti biasa. Ia baru berani mendekat dan menatap layar ponselnya.
"Mama bales?" Tanya (namakamu) terdengar berbisik.
"Bales, katanya 'mau beli berapa' gitu."
(Namakamu) mengangguk dan diam tidak menjawab, untung Iqbaal tidak menemukan hal aneh jadi ia terlihat biasa, coba kalau menemukan hal yang berkaitan dengan Devano pasti sudah habis (namakamu) sekarang.
"Baal, disuruh latihan lagi nih bimbing anak cewek buat final." Ucap Bastian tiba-tiba.
"Yaudah nanti."
"Sekarang, kalo nanti Pak Hadi gak bisa." Ucap Bastian yang bangkit dari duduknya.
"Ah, gak bisa liat orang santai dikit apa sih," Kesal Iqbaal.
"Heh, udah dikasih handphone baru juga kok ngeluh sih?" Sindir Abidzar.
Iqbaal tercengir. "Yaudah iya, sekalian kita gak usah ikut pelajaran deh, MTK soalnya abis istirahat." Ucapnya yang ikut bangkit juga.
"Ikut dong gue juga gak mau belajar MTK." Seru Abidzar yang bangkit mengikuti Bastian yang sudah jalan terlebih dahulu.
"Tunggu ya, balik bareng berarti." Ucap Iqbaal menaruh handphone (namakamu) diatas meja.
(Namakamu) mengangguk patuh. "Jangan lama-lama."
"Sebentar.." Kata Iqbaal seraya mengacak rambut (namakamu) sebelum pergi, (namakamu) berdecak dan membenarkan rambutnya.
"Ya Tuhan kenapa sih (namakamu) gak bisa marah sama Iqbaal, Iqbaal terlalu gemesin.." Gumamnya pelan.
*****
(Namakamu) baru saja memasukkan bukunya ke dalam tas, pelajaran sudah selesai dan berganti jam untuk belajar Fisika sampai pulang nanti. Ia menatap Zidny yang tidak ada sejak tadi, apa gadis itu masih keliling untuk menjual tiket konser? Entahlah.
(Namakamu) menyalakan handphonenya, meng-upload snapgram keadaan kelasnya dengan iseng. Lalu menyusuri instagramnya, men-like foto-foto yang ada.
"(Namakamu)." Seru Zidny yang berlari dari luar kelas, ia duduk disamping (namakamu) yang kosong.
"Darimana aja lo—"
"(Nam), Iqbaal!! Iqbaal ketiban besi—eh ketiban gawang!!! Parah banget tangannyaaa luka— bukan luka deh, patah." Ucap Zidny belepotan.
(Namakamu) menyerit. "Apaan sih? Yang bener ngomongnya, tarik nafas dulu."
Zidny mengatur nafasnya, lalu kemudian kembali bercerita. "Iqbaal tangannya ketiban besi yang ada digawang itu loh, kena tangannya yang sebelah— gue gatau belah mana. Terus tadi dia bawa ke UKS sama anak cowok, kasian (nam). Gue mau nolongin tapi gue lagi jualan tiket."
"Ini serius gak sih?" Tanya (namakamu).
"Ben—"
"(Namakamu).." Gery masuk ke dalam dan langsung menghampiri meja (namakamu). "Iqbaal ditiban gawang!!!!!!" Ucapnya rempong sendiri.
__ADS_1
(Namakamu) mulai panik, ia menatap kedua temannya yang sama paniknya. "Kok bisa?!"
"Bisa—"
Baru ingin bercerita, seorang guru masuk dan membuat semua duduk di bangkunya. (Namakamu) duduk disebelah Zidny dan Gery langsung mengambil tempat duduk dibelakang (namakamu).
"Bisa, ini gara-gara Vanesha tau." Ucap Zidny.
"Kenapa?" Tanya (namakamu) kepo akut.
"Jadi, tadi tuh gawang pengen dibuat baru pake peralatan yang baru disuruh sama Pak Hadi. Nah, terus ada yang gak seimbang gitu jadi diganjel sementara pake baju bata. Terus— apa lagi tadi katanya Ger?"
"Terus si Vanesha lagi bercanda sama temen-temennya, dia nendang bola asal-asalan, akhirnya kena tiang besi yang diganjel itu. Jatuh deh, pas banget ada Iqbaal disana, Iqbaal udah ngehindar tapi kalah cepet jadi kena tangannya yang belah kanan." Lanjut Gery.
(Namakamu) berdecak. "Goblok. Awas aja." Gumamnya.
"Aduh, kalo mau labrak gue ikut ya.." Ucap Gery yang semangat, ya memang Gery sangat tidak mau ketinggalan gosip dan sesuatu yang berbau perkelahian. Dasar setan!
"Tadi pas gue liat tangannya ganti warna jadi warna merah, (nam)! Kasiannn.." Lirih Zidny pelan.
(Namakamu) menghela nafasnya pelan. "Tapi udah dibawa ke UKS kan?" Tanyanya.
"Udah tadi mah sama Kipe, Babas, Gusti. Pak Hadi juga ikut, panik semua tau." Jawab Gery.
(Namakamu) berdecak, ia menatap keluar dengan tatapan tajam yang hampir 11 12 miripnya dengan Iqbaal. Mungkin virus Iqbaal sudah menular pada dirinya.
(Namakamu) menoleh saat guru itu memberi tugas dan langsung keluar dengan alasan ada yang tertinggal di ruang guru. (Namakamu) bangkit, menoleh ke arah Gery.
"Gery ikut gue cepet." Ucap (namakamu) berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.
Gery tersenyum senang. "Asikkkk!"
"Gue ikuttt!" Tambah Zidny.
*****
Vanesha meringis saat tangannya ditepis dengan kasar oleh seseorang saat ia ingin membuka pintu UKS. Vanesha mengusap tangannya seraya mendongak, menatap gadis yang sudah memasang wajah sangar namun dimata lelaki gadis itu tetap cantik.
"Lo pergi aja mending, gak usah sok perhatian sama Iqbaal. Gue gak suka," Tuturnya dengan nada benci.
Vanesha mundur saat gadis itu mendekat ke arahnya. "Kak, gue cuma mau minta maaf sama kak Iqbaal. Gak ada maksud apa-apa, gue gak sengaja."
"Gak usah, gue gak suka lo deket-deket sama Iqbaal." Ucap (namakamu) tegas seraya menatap Vanesha sinis. Sedangkan dibelakangnya, ada Gery dan Zidny yang diam menyaksikan.
"Sumpah Kak, gue cuma mau minta maaf. Gue bener-bener gak sengaja, gue juga gak deket kok sama Kak Iqbaal."
"Kecerobohan lo tuh bikin Iqbaal jadi gini, awas aja sampe kenapa-napa sama Iqbaal!! Gak usah sok polos lo, gak deket sama Iqbaal? Iya gue tau, tapi lo coba buat deketin Iqbaal kan?!"
"Enggak Kak sumpah. Gue gak begitu, gue cuma mau minta maaf, sebentar doang Kak.."
"Gue gak ngizinin."
"Sebentar aja Kak.." Pinta Vanesha.
"Enggak! Jangan maksa." Sinis (namakamu).
Vanesha menatapnya tidak suka. "Posesif banget sih, gue juga gak mau deketin Kak Iqbaal sih."
(Namakamu) semakin tajam. "Kalo gue posesif kenapa? Salah? Gue juga ngejaga cowok gue kok, bukan cowok orang. Gue gak mau aja cowok gue deket-deket sama cewek kayak lo."
Vanesha bungkam. Ia tidak bisa melawan kalau sudah membawa status, karena ia pun bukan siapa-siapanya Iqbaal.
"Gue mau ke dalem," Ucap (namakamu) pelan pada Gery dan Zidny yang langsung mengangguk.
Gery melirik tajam Vanesha. Lalu berjalan untuk duduk dikursi panjang depan pintu UKS diikuti dengan Zidny.
"Ngapain lo masih disitu? Mau pesen tiket konser?" Tanya Zidny datar.
Vanesha tersadar, ia langsung pergi dengan wajah kecewa sekaligus menahan kesal pada sikap (namakamu) yang menurutnya terlalu berlebihan. Wajar? Kelewat wajar sehingga menjadi kurang ajar menurut Vanesha.
(Namakamu) masuk ke dalam, menatap datar Iqbaal yang terduduk diatas ranjang dengan tangannya dibalut kain oleh Bastian dan beberapa anak lelaki yang mengantarnya. Iqbaal menatapnya dengan tatapan seolah meminta perhatian, (namakamu) yang mengerti hanya bisa memutar kedua bola matanya malas.
"Salah siapa?" Tanya (namakamu) membuat Bastian menatapnya dan beralih menatap Iqbaal yang bingung.
"Salah si—"
"Diem." Ucap (namakamu) datar menatap Bastian yang langsung bungkam. Lalu beralih pada Iqbaal. "Siapa?"
"Gue." Jawab Iqbaal pelan.
"Karena?" Tanya (namakamu), lagi.
"Gak hati-hati."
"Lo yang gak hati-hati atau Vanesha?"
Iqbaal diam. Ia menatap (namakamu) yang memberikannya tatapan datar mematikan.
"Eit.. gue gak ikut-ikutan. Gue keluar aja kalo mau berantem." Ucapan Bastian membuat semua yang ada di ruangan ikut bangkit dan berjalan keluar secara bersamaan.
Iqbaal meneguk salivanya, ia menunduk. "Gak usah bawa-bawa dia—"
"Gak usah ngebela!" Ketus (namakamu).
Iqbaal mendongak. "(Nam), ini cuma cidera kecil doang. Gue—"
"Gue bilang gak usah ngebela ya jangan dibelain! Kenapa sih segitunya banget sama Vanesha?!" Kesal (namakamu) yang membuat Iqbaal bungkam.
"Centil banget kalo ngeliat yang cantik." Tambah (namakamu) yang masih membuat Iqbaal.
"Enggak.." Cicit Iqbaal pelan.
"Pokoknya gak boleh ikut futsal dulu, gak mau tau!"
Iqbaal mendongak. "Masa gitu, kan udah dikasih handphone sama Pak Hadi."
"Itu hadiah terima kasih, jadi lo gak usah bales lagi. Lagian kenapa sih mentingin futsal terus, tangan tuh pikirin." Ucap (namakamu) masih dengan nada kesal.
"Lagian yang lolos final juga team ceweknya doang, masih ada Gusti, Kipe sama Bastian, gak usah ribet deh Iqbaal." Tambah (namakamu).
"Kan gak enak—"
"Gak enak? Iya? Gak enak kalo gak ketemu Vanesha? Hm?" Tanya (namakamu) ngegas.
"Gak gitu."
"Masih ketemu kok, satu sekolah ini. Istirahat masih bisa ngobrol berdua juga," Balas (namakamu) sedikit menyindir.
Iqbaal diam, menghela nafasnya pelan. "(Nam), jangan marah-marah dong. Kan Iqbaal lagi sakit."
"Bodo." Celetuk (namakamu).
Iqbaal menyerutkan bibirnya. (Namakamu) diam dengan wajah masam, ia melirik jam dinding yang ada disana lalu berjalan keluar dengan langkah kesal. Iqbaal berdecak, ia turun dari ranjang, namun...
"Aw.." Pekik Iqbaal spontan saat tangannya terbentur sisi ranjang saat ia melompat tadi.
(Namakamu) menoleh, ia menghampiri Iqbaal dengan wajah sebal bercampur panik. "Ngapain sih? Udah duduk aja."
"Ya.. lo mau kemana?"
"Mau ke kelas, masih ada satu jam pelajaran lagi." Jawab (namakamu) seraya menatap Iqbaal yang kembali duduk, ia tadi sedikit membantu Iqbaal untuk duduk dengan memegang tangan kanannya yang diperban dengan hati-hati. Suhu tubuh laki-laki itu sedikit hangat.
(Namakamu) menatapnya iba, "Tiduran aja deh, lumayan tuh satu jam kurang buat tidur."
"Sakit ah." Ucap Iqbaal.
"Katanya kemarin kurang tidur, tidur aja sebentar."
"Tapi jangan ke kelas." Pinta Iqbaal manja.
"Masa bolos pelajaran sih?"
"Sekali."
(Namakamu) menatap Iqbaal yang sangat memohon, kasihan juga.. (namakamu) meng'iya'kan permohonan Iqbaal, ia keluar sebentar untuk memberitahu pada Gery dan juga Zidny, meminta bantuan juga untuk kedua temannya nanti membawakan tasnya kesini.
(Namakamu) kembali masuk, menatap Iqbaal yang sudah terbaring dengan tangannya yang ditaruh diatas meja. Kasihannnn dan gemas.
(Namakamu) menarik kursi disamping ranjang, menatap nanar ke arah tangan Iqbaal. Aih, gadis itu!! Gara-gara dia Iqbaal jadi begini, benci sekali.
"Apa katanya?" Tanya (namakamu).
Iqbaal menatapnya. "Kata siapa?"
"Soal tangan. Apa katanya?"
"Gak diperiksa, cuma diobatin sama diurut sebentar sama Pak Hadi." Jawab Iqbaal seadanya.
"Periksa dong, nanti kalo kenapa-napa gimana?"
"Nanti."
"Wajib ya? Jangan sampe enggak! Terus juga gak boleh futsal, inget!"
"Tapi Pak Hadi—"
"Gue yang ngomong sama Pak Hadi." Potong (namakamu) cepat.
Iqbaal diam sejenak, "(nam)—"
"Tidur aja."
Iqbaal menurut, ia sedikit memiringkan tubuhnya agar menghadap (namakamu) dan mulai memejamkan kedua matanya yang sudah 11 12 dengan panda.
"Nanti ketindihan tangannya. Sakit gak?" Tanya (namakamu) yang dihadiahi gelengan kepalanya pelan dari pria yang tetap memejamkan mata itu.
(Namakamu) hanya diam, ia membalas genggaman tangan Iqbaal yang sebenarnya sudah dari tadi memegang tangannya dengan tangan sebelah kiri. Lalu ia tersenyum kecil melihat Iqbaal yang tertidur, lucu sekali.
(Namakamu) mengusap pelan tangan kanan Iqbaal yang berwarna merah dan yang diperban mungkin itu goresan yang mengeluarkan darah karena besi yang tajam. Ah, kasihan sekali kesayangannya ini.
gws, sayang.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNGGG..