
Hallo para pembaca saya pikir saya bakalan berhenti karna tidak ada peminatnya , saya gak minta banyak kok sama para pembaca saya cuman minta tolong hargai setidaknya dengann meninggalkan like dan komentar kalian untuk saya lebih bersemangat melanjutkan ini , sekian dari saya dan selamat membaca kembali...👋🏻
Happy readingggg✨
-------
Iqbaal membuka pintu rumahnya saat sudah menyelesaikan tugasnya mengantarkan (namakamu) pulang ke rumah, kalau tidak diantar pasti gadis itu akan berkeliaran dulu bersama dengan dua manusia yang sangat tidak bisa dikontrol tingkahnya, si Gery dan Zidny.
Iqbaal membuka pintu kamarnya dan melemparkan tasnya diatas bangku yang ada dipojok ruangan, sebelum mengganti bajunya rutinitas Iqbaal adalah mencuci mukanya terlebih dahulu, pria ini bersih, mangkanya tampan!
Seusai itu, ia mengganti bajunya menjadi kaos putih biasa dan celana kolor andalannya. Hari ini free, tidak ada yang harus ia urus dan tidak ada acara nongkrong siang ini, kalau malam... mungkin.
Iqbaal keluar dari kamarnya setelah menaruh handphone-nya diatas meja nakas dengan kondisi dicharge. Iqbaal duduk disofa dan menyalakan televisi, meski televisi itu menyala, pandangan Iqbaal hanya tertuju pada beberapa buku berserakan diatas meja. Itu pasti kerjaan adik perempuannya yang sangat rajin belajar, berbanding dengan dirinya.
"Abanggggg.."
Baru dibahas, seorang gadis dengan rambut dikuncir satu itu datang dengan membawa buku tebal ditangannya, gadis itu duduk dibawah dan mulai membuka kembali bukunya untuk menyalin pekerjaan rumah.
Iqbaal hanya diam, ia mengambil posisi tertidur diatas sofa dengan sesekali usil memainkan rambut hitam tebal milik adiknya yang paling cantik sejagat raya, katanya.
"Abanggg sekolah gak pernah ada PR ya?" Tanya Fahra, tanpa menoleh.
"Ada. Abang mah rajin."
"Heleh!" Cicit Fahra tidak percaya. Lalu ia menoleh menatap Iqbaal, "Bang, kok kak (Namakamu) gak pernah main kesini?"
"Tanya dianya dong, masa tanya Abang."
"Katanya Abang gak pernah mau ngajak dia kesini, Abang jahat banget sama pacar sendiri!" Dumel Fahra yang kembali berkutat dengan bukunya.
"Dih, kok Abang?! Emang dia ngomongnya gimana?"
"Katanya Abang gak mau ngajak dia kesini, Abang lagi marahan ya?"
"Kata siapa?"
"Kok snapnya kak (Namakamu) galau terus?"
"Snap apa?"
"WhatsApp-nya."
Iqbaal menyerit, perasaan selama ia buka aplikasi itu tidak pernah ada kiriman apapun dari (namakamu). Bahkan setau dia, gadis itu jarang membuat yang namanya snapwa. Apa dirinya disembunyikan?
"Kok di Abang gak ada ya?" Tanya Iqbaal bingung.
"Bukan buat Abang berarti." Jawab Fahra santai.
"Terus buat siapa dong?"
"Devano."
Plak!
Iqbaal menjitak pelipis adiknya itu dengan pelan, ia mendengus kesal. Kenapa harus nama itu yang dibawa-bawa?
"Ara ketemu Devano kemarin, sumpah! Dia lagi ke sekolah Ara, ketemu guru gak tau mau ngapain. Ara kaget pas liat kok anak-anak alumni banyak banget, eh salah satu diantaranya ada Devano! Ganteng!"
Iqbaal berdecih. "Gantengan Abang."
Fahra yang tadinya berbinar menceritakan kejadian itu, kini menjadi bergidig mendengar tanggapan Iqbaal. "Abang sampe detik ini belum ada kata 'makasih' sama Ara, padahal kalo bukan karena Ara juga Abang gak akan tau kalo kak (Namakamu) jalan sama Devano!"
Iqbaal meringis, adiknya bawel sekali. "Makasih Fahra cantikk, sayangnya Abang." Iqbaal duduk, ia mengacak rambut adiknya dengan gemas.
"Beliin HAUS dong yang didepan, pleaseeeee..." Mohon Fahra.
"Besok."
"Ih, yaudah, Fahra cepu-in juga sama kak (Namakamu)."
"Cepu-in apaan? Emang gue ngapain?" Tanya Iqbaal bingung.
"Itu.. yang waktu kak Steffi kesini."
"Dih? Itu mah Steffi yang kesini, bukan Abang yang nyamperin. Yeuuu!" Ucap Iqbaal menoyor kepala adiknya.
"Tapi tetep aja Abang berduaan sama Steffi didepan teras, Abang—"
"Apa sih, berisik banget uuuuuu anak kecil." Sorak Iqbaal heboh seraya mengacak-acak rambut adiknya sampai benar-benar terlihat seperti orang gila.
Fahra berdecak, ia memukul paha Iqbaal dengan kuat membuat laki-laki itu mengaduh kencang. "Sakit!"
"IQQQQBBBBAAAALLLLLLL!!!!"
Iqbaal maupun Fahra menutup telinga mereka masing-masing saat suara lantang terdengar dari kamar Iqbaal itu terdengar, seorang wanita paruh baya datang dengan wajah merah karena amarahnya meluap. Wanita itu menghampiri Iqbaal dan langsung memberikan jeweran kuat ditelinga sebelah kanan pria itu.
"Aws..aduh Bunda, sakit.." Ringis Iqbaal yang memegangi tangan Bundanya.
Fahra menahan tawanya melihat ekspresi wajah kakaknya, namun tidak berani tertawa karena melihat Rike yang sudah naik pitam.
"Siniiii kamu ikut!" Tanpa melepaskan jewerannya, Rike menarik anak laki-lakinya itu ke dalam kamar. Fahra yang kepo itu bangkit dan mengikutinya dari belakang.
"Ara gak usah ikut! Balik lagi sana, belajar!!" Suruh Rike terdengar seperti sentakan, ia sudah terlanjur murka dengan anak pertamanya.
"Aduh, Bunda, ada apa sih? Sakit, nanti kuping Iqbaal merah.." Lirih Iqbaal meringis kesakitan.
"Biarin!"
Rike baru melepaskan jewerannya saat sudah sampai dikamar pria itu, pintu ditutup rapat-rapat. Rike melemparkan sesuatu dengan kencang ke atas meja Iqbaal yang membuat pria itu memejamkan matanya. Rike galak, mungkin Iqbaal yang galak itu menurun dari Ibu-nya.
"APA APAAN?!" Bentak Rike kencang.
Iqbaal melihat apa yang dilempar Rike, pria itu melotot. Ia menelan salivanya susah payah, mulutnya mendadak kering. Kembali menatap Rike yang sudah habis sabar disana.
"Gila kamu! Mau jadi apa, hah?!" Sentak Rike.
"Bunda, dengerin Iqbaal. Itu bukan punya Iqbaal, itu punya—"
"Punya siapa, hah?! Jelas-jelas ini ada di tas sekolah kamu! Jangan bohongi Bunda, Iqbaal!! Kamu masih remaja, baru 17 tahun, Iqbaallll, ya Tuhan."
Iqbaal terdiam beberapa detik, kemudian menyahut. "Bunda itu bukan punya Iqbaal, Iqbaal gak begitu."
"Gak gitu gimana? Ini bukan punya kamu, terus kamu minjem sama orang buat kamu tonton?! Iya?!!" Sentak Rike galak.
Iqbaal meringis, "Bunda, Iqbaal gak begitu. Demi Tuhan Iqbaal gak minjem, Iqbaal juga gak nonton."
"Umur kamu baru 17 tahun jalan 18, kenapa tontonan kamu 21 tahun, Iqbaallll?!! Bunda selama ini percaya sama kamu, kamu mau nakal diluar rumah, bikin onar sana-sini, Bunda diem. Ini kelewatan, Bunda gak suka, kamu tau kalau kamu nonton ini ngerusak otak ama iman kamu, kamu tau itu?!"
Rike menunjuk kening Iqbaal saat berbicara 'otak' dan menunjuk dada Iqbaal saat berbicara 'iman'. Iqbaal hanya diam.
"Bunda, Iqbaal berani sumpah apapun asal Bunda percaya sama Iqbaal. Iqbaal gak nonton itu Bunda, Iqbaal juga gak tau kenapa itu ada sama—"
"Gara-gara pacaran kamu begini ya?!" Potong Rike cepat membuat Iqbaal bungkam. Pria itu menatap Rike yang terus menunjukkan tatapan tajam padanya.
"Enggak, Bunda." Jawab Iqbaal.
"Berapa lama kamu nonton ini?"
"Bunda, Iqbaal gak nonton itu." Ucap Iqbaal terus, ia jujur.
"Buang itu, patahin." Suruh Rike cepat, ia duduk bangku yang ada dengan tatapan tertuju pada lantai.
Iqbaal mengambil kaset itu, ia tahu itu punya siapa. Iqbaal berdecak dan langsung mematahkan kaset itu menjadi dua, lalu dipatahkan lagi menjadi beberapa bagian, ia membuangnya ditempat sampah dan kembali menatap Rike.
"Bunda."
"Bunda gak tau harus percaya apa enggak sama kamu, bukti ada didepan mata." Lirih Rike menunduk.
Iqbaal diam, ia pun ikut menunduk dan duduk dibawah berhadapan dengan Rike. Meski diluar sana Iqbaal terlihat dan terpandang sebagai jagoan, tetapi bila sudah masuk rumah ini, Iqbaal tetaplah Iqbaal anak seorang Rike dan Hery, anak kecil yang manja.
"Berapa lama kamu udah pacaran?" Tanya Rike datar.
Iqbaal masih menunduk. "Gak ngitungin Bunda, tapi Iqbaal pacaran dari kelas 11."
"Ngapain aja?"
Damn.
Iqbaal diam, ia langsung mendongak, menatap Rike yang menatapnya dengan wajah biasa namun menusuk ke hatinya. Iqbaal bingung harus menjawab apa, Iqbaal tidak mungkin jujur disituasi seperti ini, kan?.
"Bunda yakin Iqbaal gak pernah bohong sama Bunda," Ucap Rike pelan.
Iqbaal masih saja bungkam.
"Bunda juga pernah muda."
Iqbaal diam.
"Ayah gandeng tangan Bunda, Ayah rangkul Bunda, Ayah peluk Bunda, Ayah cium Bunda. Gitu nak?"
Iqbaal masih diam, beberapa detik kemudian mengangguk berulang-ulang dengan pelan. Rike menghela nafasnya pelan, ia mengusap rambut Iqbaal dengan penuh kasih sayang.
"Jangan lagi baal, Bunda takut. Sewajarnya aja, kalian masih muda, masih banyak yang harus kalian cari, kalian kejar, kalian raih. Bunda mau kamu lebih dewasa, berfikir panjang ya, baal?"
"Yaaa, Bunda."
Rike meraih anaknya itu, membawanya kedalam pelukan terhangat sedunia bagi Iqbaal. Iqbaal membalasnya dengan erat, ia sayang sekali dengan bidadarinya ini. Lebih dari apapun, bahkan lebih dari dirinya sendiri.
"Maaf, Bunda."
*****
Iqbaal berjalan ditemani Bastian dan Abidzar dibelakangnya. Laki-laki yang memakai seragam Pramuka itu mempercepat langkahnya saat melihat satu incarannya tengah bermain basket ditengah lapangan depan yang hanya sedikit murid keluar, pasalnya ini masih jam pelajaran ke-dua.
"Heh!" Tegur Iqbaal yang menangkap bola basket saat bola itu kebetulan terlempar ke arahnya. Iqbaal membuang bola itu asal, pandangannya tertuju pada pria yang memakai seragam olahraga disana menatapnya dengan kening menyerit.
"Lo yang kemarin masukin kaset bokep di tas gue kan?" Tuding Iqbaal langsung, pria ini berdiri sekitar satu langkah dari lawan bicaranya, tepat ditengah lapangan.
Baru seperti itu, sudah banyak murid yang langsung menghentikan aktivitas mereka untuk menatap ke arah lapangan. Bahkan, koridor lantai satu dan dua sudah ada beberapa murid yang mengintipnya.
__ADS_1
"Gue?"
"Gak usah ngeles, banyak buktinya. Maksudnya apa?!" Tanya Iqbaal mulai emosi, menatap Danu dengan tajam.
Ya, Danu Nugroho, salah satu siswa jurusan IPS kelas 12. Saingan Iqbaal dalam berlomba memajukan ekskul masing-masing dan yaa.... Iqbaal membenci jurusan IPS karena memang anaknya sangat tidak sopan dan gila hormat menurutnya, tidak semua sih hanya beberapa murid saja yang sudah ia tandai, kurang lebih 20 orang termasuk Jafar.
"Mana buktinya?" Tanya Danu.
Iqbaal menatapnya biasa, lalu tersenyum miring saat seseorang dari belakang datang dan membuat Danu diam.
"Lo nyuruh dia? Maksudnya apa?! Lo mau apa sih?! Kenapa dari dulu ngusik gue terus?!" Iqbaal memborong semua pertanyaan untuk Danu yang masih terdiam.
"Karena gue gak suka lo ada disini."
Iqbaal terdiam. Abidzar dan Bastian juga ikut terdiam mendengar jawaban yang simple namun memancing emosi. Bahkan Bastian yang tadinya asik mengunyah ujung sedotan kini membuang sedotan itu ke sembarang arah.
"Punya bibir kagak dijaga lo, pantesan rata-rata anak basket songong, ternyata ketuanya aja begini, menaruh rasa iri sama orang lain." Tutur Bastian santai.
Danu tersenyum miring, ia berdecih pelan. "Daripada menghalalkan segala cara demi masuk final, memalukan."
"Maksud lo apa?" Tanya Bastian emosi, pasalnya ia juga termasuk dalam ekskul futsal. Meski Danu menyindir Iqbaal, tetapi ia juga merasa tersindir.
"Kurang kerjaan deh lo, sirik banget jadi orang." Sahut Abidzar.
"Sirik? Cuih," Danu meludah. "Gak ada sejarahnya gue iri sama orang apalagi sama lo dan geng lo. Gue cuma sepet aja liat orang sok jagoan tiap hari disini, sok ganteng, caper!" Lanjutnya.
Iqbaal tersenyum miring. "Gue yang caper lo yang ribet."
Danu mengacuhkannya, "Ah ganggu lo, awas." Danu menabrakkan bahunya dibahu Iqbaal dengan kasar, lalu kedua matanya menatap tajam Bastian dan Abidzar, terlebih pada seorang yang telah ia suruh untuk menjebak Iqbaal, namun orang itu cepu ternyata. Dasar!
Iqbaal meredam emosinya, ia berjalan meninggalkan lapangan diikuti dengan kedua temannya. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba ia merasakan sakit dikepalanya saat sesuatu dengan kencang jatuh, ia meringis dan memegangi kepalanya.
Bastian dan Abidzar melotot. Mereka berdua langsung memutar tubuhnya ke belakang menatap benci Danu yang sepertinya sengaja melempar bola basket pada temannya. Cari perkara aja.
Iqbaal mengubah raut wajahnya menjadi merah padam, emosinya sudah diujung. Ia berlari mengejar Danu yang langsung kabur, hal itu sontak membuat Bastian dan Abidzar juga mengejar. Satu sekolah kembali heboh dengan hal itu, tunggu sebentar lagi pasti akan ada pertunjukkan yang menegangkan.
Tunggu saja.
*****
(Namakamu) berlarian kecil untuk menuju ruang BK dengan diikuti Gery dibelakangnya. Wajah gusar dan khawatir tak pernah luntur menghiasi wajahnya yang cantik, Gery berulang-ulang menenangkan (namakamu) yang sejak tadi menahan kesal saat mendengar kabar bahwa Iqbaal terlibat perkelahian di lapangan belakang sekolah bersama dengan Danu, pria yang sempat mendekatinya dulu kelas 10.
(Namakamu) berhenti didepan ruang BK, ia menunggu Iqbaal yang sedang diproses, entah sudah lama atau belum (namakamu) tidak mengetahuinya, karena sedari tadi gadis itu berada didalam kelas mengikuti pelajaran.
Gery merangkulnya, "Sabar mangkanya. Iqbaal aja belum keluar." Ucapnya menenangkan.
"Gimana mau sabar, ini udah yang keberapa kalinya Ger! Nanti kalo Iqbaal kena SP 2 gimana?" Ucap (namakamu) frustasi.
"Duduk dulu deh disana," Ucap Gery menuntun (namakamu) ke bangku panjang yang ada disamping pintu ruang BK.
(Namakamu) tidak pernah berpaling, pandangannya tertuju pada pintu itu, menunggunya terbuka dan menampakkan sosok Iqbaal. Ayo dong cepattt!
"Gak makan dulu aja (nam)? Nanti kantin penuh loh.." Bujuk Gery.
"Bawel anjing. Sono kalo mau makan, lagian ngapain sih ngintilin mulu, kayak Zidny lo lama-lama."
Gery menyerut. "Zidny gak masuk, jadi gue ngintilin lo deh."
"Kayak gak punya temen lain aja." Dumel (namakamu).
Sudah lebih dari 15 menit mereka berdua menunggu disana dengan saling berdiam diri, Gery sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan (namakamu) masih berharap agar Iqbaal cepat-cepat keluar dan menjelaskan kenapa dia bisa berkelahi dengan Danu? Apa masih soal berebut tahta? Atau saling mengejek?
(Namakamu) spontan bangkit dari duduknya saat pintu terbuka dan yang pertama kali keluar adalah Iqbaal. Pria itu keluar dengan beberapa luka dibagian tubuhnya, (namakamu) menyerukan namanya pelan, ia merasa iba dengan Iqbaal yang seperti itu.
Iqbaal menghampirinya, "Kok disini? Gak istirahat?" Tanyanya pelan, matanya melirik sejenak ke arah Gery yang ada dibelakang (namakamu).
"Kenapa sih?" Tanya (namakamu) panik, ia melihat pelipis Iqbaal yang ada luka baretan kecil, tulang pipinya juga memar dan beberapa luka lainnya dibagian tangan kiri, tidak parah sih tetapi pasti perih bila kena air.
"Jangan disini, yuk ah ke kantin belakang aja." Ajak Iqbaal yang disetujui (namakamu).
(Namakamu) yang berjalan disampingnya merasa terkejut saat Danu tiba-tiba keluar dari dalam ruang BK dan menatapnya. (Namakamu) berseger ke samping Iqbaal, takut dan sedikit iba dengan Danu yang memiliki luka lebih parah dari Iqbaal. Ya Tuhan, kekasihnya apa se-agresif itu dalam memukuli musuh?
Iqbaal cuek, ia tetap berjalan diikuti dengan (namakamu) dan juga Gery. Tanpa banyak bicara, ketiga orang itu pergi ke kantin, berbeda dengan Iqbaal dan (namakamu), Gery memilih membelokkan kakinya ke kantin sekolah dan berpisah disana dengan kedua temannya itu. Iqbaal dan (namakamu) masih berjalan ke arah kantin yang ternyata sepi. Tumben sekali, padahal kantin belakang adalah markas mereka untuk cabut dan selalu ramai saat istirahat. Tetapi saat ini hanya ada Bastian dan Shafa saja tengah makan disana.
"Gimana, baal?" Tanya Bastian yang melihat Iqbaal datang.
"Gak jelas, kalo gak gue skak dia gak mau ngaku." Jawab Iqbaal pelan-pelan karena rahangnya terasa nyeri.
"Gak dikasih hukuman kan?" Tanya Shafa kepo.
"Enggak."
"Syukurlah."
"Tapi ada surat pemanggilan orang tua." Balas Iqbaal pelan.
"Serius?!" Pekik Bastian.
(Namakamu) datang dengan membawa minum air putih untuk Iqbaal yang langsung ditegak habis oleh pria itu. (Namakamu) menatapnya kesal.
"Lagian kenapa sih bisa gitu?" Tanya (namakamu) yang mengambil tangan Iqbaal untuk membersihkan luka yang ada disana.
"Pelan-pelan." Ucap Iqbaal pelan, lalu ia menatap Shafa yang sepertinya sama kepo-nya dengan (namakamu).
"Tapi—"
"Bentar dah, Bi Wiwi ada?" Tanya Iqbaal pada Bastian.
Bastian mengangguk. "Ada."
Iqbaal menatap (namakamu). "Sebentar ya," cicitnya, lalu ia beranjak pergi masuk ke dalam warung kecil yang menjual banyak lauk dan nasi, seperti warteg tetapi kecil.
"Awalnya gimana sih, Bas?" Tanya (namakamu) penasaran.
"Danu cari gara-gara, dilabrak sama Iqbaal dilapangan, terus si Danu malah ngatain Iqbaal terus. Iqbaal gak kepancing disitu, dia biarin. Malah tadinya Iqbaal udah pergi dari sana, tapi pas mau pergi si Danu malah ngelempar Iqbaal pake bola basket, pas banget dikepalanya. Kasian deh," Tutur Bastian panjang lebar.
(Namakamu) melongo. "Kurang ajar sih Danu."
"Terus Iqbaal marah lah, jadi gitu deh."
(Namakamu) terdiam, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Iqbaal yang ada didalam warung itu. Iqbaal dengan pemilik warung ini sudah akrab, bahkan tak hanya Iqbaal, tetapi semua anak-anak geng-annya Iqbaal pun akrab dengan wanita tua yang bernama Wiwi Nurwiwi, biasa dipanggil Bi Wiwi/ Bi Uwi.
(Namakamu) melihat Iqbaal yang terduduk dibangku panjang dan besar dipojok, pria itu memegang air ditangannya dan menatap Bi Wiwi yang tengah menjelaskan sesuatu. (Namakamu) perlahan datang dan berdiri disamping Iqbaal.
"Kalo mau dipotek, potek aja." Ucap Bi Wiwi memberikan satu obat pada Iqbaal yang diterima lelaki itu. Lalu Bi Wiwi kembali ke dapur untuk memasak gorengan-gorengan.
"Itu apa baal?" Tanya (namakamu) yang duduk disamping Iqbaal.
"Obat sakit kepala doang."
(Namakamu) menatap kekasihnya iba, "Sakit banget emang?"
Iqbaal berdeham, sekali tenggakan ia memasukkan obatnya dan meneguk air sebanyak-banyaknya, jujur ini lah pertama kalinya Iqbaal meminum obat setelah 10 tahun lamanya. Terakhir ia meminum seperti ini saat masih kecil, itu pun tidak sebesar ini.
(Namakamu) memegangi kening Iqbaal, lalu menyibak poni Iqbaal kebelakang meski sedetik kemudian poni itu kembali turun menutupi kening kembali. "Gara-gara Danu?"
Iqbaal menaruh gelasnya diatas meja, ia menatap (namakamu) dan menyuruh gadis itu duduk disebelahnya. Tidak ada jawaban apapun saat (namakamu) sudah duduk disebelahnya.
"Apa pengaruhnya kalo abis minum obat?" Tanya Iqbaal yang benar-benar tidak mengerti efek samping obat-obatan.
(Namakamu) berfikir sejenak. Lalu menggeleng. "Gak tau, tergantung sih."
"Efek samping obat ini apa, Bi?" Teriak Iqbaal.
"Ngantuk."
"Iqbaal gak ngantuk."
"Yaudah kalo enggak."
"Gak ada lagi, Bi?"
"Suhu tubuhnya dingin kali, Bibi mana tau."
Iqbaal tersenyum jahil, "Iya Bi, dingin."
"Gak ada selimut Bibi mah."
"Peluk Bi."
(Namakamu) menyerit, ia bergidig dan menatap jijik Iqbaal. "Genit banget sih, ibu-ibu aja digodain."
Iqbaal terkekeh kecil, "Biar gak cemburu. Nanti kalo godain adik kelas cemburu lagi."
(Namakamu) berdecih, dibahas lagi astaga! Spontan, ia memukul tangan Iqbaal membuat laki-laki itu meringis sakit.
(Namakamu) melotot. "Yah, salah mukul. Sakit ya?" Tanyanya saat ia tidak sengaja memukul luka di tangan Iqbaal, ia mengelusnya dengan pelan sebagai tanda maaf.
"Sakit banget." Lirih Iqbaal pelan.
(Namakamu) terus mengusapnya, wajahnya menunjukkan rasa bersalah dan dirinya terus merutuki betapa bodohnya dia. Iqbaal yang melihat itu tersenyum, lucu sekaliiiii pacarnya. Iqbaal terkekeh dan membuat (namakamu) menatapnya, Iqbaal memegang tangan (namakamu) dan memberinya kecupan ringan disana.
(Namakamu) berdecak kesal, "Bohong ya? Dasar!! Ih, kesel."
(Namakamu) merajuk, ia membalikkan tubuhnya tidak mau menatap Iqbaal. Tetapi justru yang ia dapati adalah pemandangan Shafa dan Bastian tengah bermesraan berdua, dasar ABG dimabuk cinta! Hey, sadar (namakamu), kamu juga gitu!!!
(Namakamu) tersentak kaget saat Iqbaal memeluknya dari belakang, laki-laki itu terkekeh dan menenggelamkan wajahnya dileher (namakamu). (Namakamu) sebenarnya ingin senyum, tapi ia malu.
"Gampang ditipu, gampang diculik nanti." Ucap Iqbaal yang membuat (namakamu) merinding, Iqbaal berbicara tepat dikupingnya membuat deruan nafas pria itu berhembus pelan.
"Lo boong mulu, dosa lo numpuk!" Balas (namakamu) masih dalam mode merajuk.
Iqbaal terkekeh, ia menaikkan satu tangannya yang semula memeluk pinggang kini jadi memeluk leher. "Gue cekek lo!"
(Namakamu) terkekeh kecil, "Gak mau mati muda gue!"
"Ehh jadi nonton IT gak?" Tanya Iqbaal.
"Jadiiiiiiiiii." Pekik (namakamu) girang.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Yuuuuuuu."
"Pulang dulu gue."
"Ah, jangan pulang dulu. Kelamaan," Tolak (namakamu).
"Ikut aja ke rumah gue, Ara mau ketemu katanya." Ajak Iqbaal.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama," Ucap (namakamu).
Iqbaal mengangguk. Lalu ia kembali berucap, "Tapi males gue nonton sama lo. Setiap nonton sama lo tau gak sih kayak apa? Kayak bawa orang kampung ke kota. Norak abisss!"
(Namakamu) berdecak, ia menyerutkan bibirnya. "Enggaaakk."
"Iya!! Waktu itu orang lagi pada fokus ke film lo malah nunduk-nunduk nyari sendal, apa coba maksudnya? Malu-maluin gue!!"
(Namakamu) tertawa mengingat moment itu, "Lo sih nendang sendal gue beloon."
"Lagian ngapain coba buka sendal di bioskop, kayak mau masuk masjid aja. Kampuuung." Ledek Iqbaal.
(Namakamu) terkekeh geli, "Kenapa sih gak boleh, sombong amat."
"Baal, gue ada tugas lagi. Ke kelas duluan ya?"
Iqbaal merengek pelan, ia justru mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya dibahu (namakamu). Secara tidak langsung Iqbaal melarangnya untuk kembali ke kelas.
"Baal ih!" Ucap (namakamu) berusaha melepaskannya, namun Iqbaal semakin kencang memeluknya.
"Gue gigit nih."
Iqbaal mendongak, "Apanya?"
"Semuanya."
"Aduh ngilu."
(Namakamu) menahan senyumnya, kenapa sih Iqbaal ambigu banget?
"Baal ih, gue gigit beneran nih. Awasss." Ucap (namakamu) memberontak.
"Bibirnya aja nih gigit, rela gue mah—asdfj."
(Namakamu) awalnya mencium Iqbaal dibagian bibir, lalu gadis itu benar-benar menggigit bibir bawah Iqbaal dengan gemas karena..... Kalian tahu? Iqbaal memiliki bibir bawah yang kenyal. Ahhh memabukkan!
Lalu (namakamu) kembali menarik wajahnya dan menatap Iqbaal polos, Iqbaal langsung menarik kedua tangannya untuk menutupi mulutnya. Iqbaal menatapnya selama beberapa detik membuat (namakamu) mulai heran.
"Demi Tuhan sakit banget, (namakamu)." Lirih Iqbaal pelan.
Detik itu juga (namakamu) tertawa geli sekali, ia menatap Iqbaal yang mengulum bibir bawahnya sendiri.
"Ketawa! Agresif banget sih jadi cewek." Sinis Iqbaal.
(Namakamu) terkekeh, ia bangkit dari duduknya dan menatap Iqbaal dengan senyum manisnya. "Byeeee! Nanti jemput di kelas dong."
"Manja."
"Sekali doang, gigit lagi nih!"
"Enggak! Gue duluan yang gigit, gak bakalan gue kasih ampun, mau sampe merah kek bodoamat!" Ucap Iqbaal marah.
(Namakamu) terkekeh, ia mencubit hidung Iqbaal gemas. "Utuk-utuk, cayangku."
Iqbaal menarik tangan (namakamu) saat gadis manis itu ingin pergi keluar, karena tempatnya yang sempit itu membuat gadis ini menjadi terjatuh disebelah paha Iqbaal.
(Namakamu) berdecak, ia memukul bahu Iqbaal dan kembali bangkit, namun tangan Iqbaal kembali memeluk leher sekaligus menahan (namakamu) agar tidak pergi. Namun....
"Eh?" Iqbaal kaget sendiri, ia langsung menarik tangannya.
Tau kenapa? Tangan Iqbaal tidak sengaja hampir, baru hampir ya, HAMPIR, mengenai sesuatu paling sensitif yang dimiliki perempuan. Niatnya hanya ingin menahan, namun ternyata tidak pas.
"IIIIHHHH NAKALLLL!" (Namakamu) bangkit, ia memukuli bahu Iqbaal berulang-ulang. Laki-laki itu meringis.
"Gak sengaja, ya ampun."
(Namakamu) menatapnya tajam. "Modus! Dasar cabul."
"Gak kena."
"Yang ngerasain gue, bukan lo, cabulllll."
"Iya sih, gue juga ngerasa." Ucap Iqbaal pelan.
(Namakamu) berdecak, ia menjenggut rambut Iqbaal sebal. Iqbaal meringis.
"Sumpah sakit, (namakamu). Maaaff please," Ucap Iqbaal disertai ringisan pelan.
"Modus! Om-om mesum! Kesel ih!"
"Gak sengaja benerannnnn."
(Namakamu) melepaskan jenggutannya, ia melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap kesembarang arah dengan wajah marah.
Iqbaal merapihkan rambutnya, lalu ia menatap gadisnya. "(Nam), maaffff, gak sengaja. Maaf juga kemarin udah ngatain, ternyata gak tepos kok."
(Namakamu) melotot, ia ingin kembali menghajar Iqbaal. Namun laki-laki itu malah menghindar dan lari keluar, (namakamu) mengejarnya dengan wajah marah. Asik berlari untuk menghindar, Iqbaal sampai tidak sadar bahwa ia sudah berada dilapangan samping, (namakamu) juga masih mengejarnya.
Iqbaal berdiri dibelakang Gusti yang tengah bersandar digawang yang baru dibangun beberapa Minggu lalu, memantau murid yang tengah menghitung bola-bola yang baru dibeli beberapa hari lalu.
"Gus, macan lepasss!" Teriak Iqbaal dengan tawanya yang kencang.
(Namakamu) mendadak malu, entah mengapa semua tatapan menjadi menatapnya karena mendengar suara Iqbaal. Tidak banyak orang sih, hanya anak-anak futsal, termasuk Vanesha yang menatapnya sinis. (Namakamu) tidak perduli, ia menatap kesal ke arah Iqbaal.
"Setan!" Ketus (namakamu).
Gusti menghela nafasnya. "Pacaran terus, itungin tuh bola."
"Bola apaan?" Tanya Iqbaal yang menyerit.
"Yang kemarin dibeli, terus juga catet pengeluaran kemarin."
(Namakamu) menghampirinya, ia menatap Gusti dengan biasa. "Jangan nyuruh Iqbaal, gak becus dia."
Iqbaal menoleh ke samping. "Ih, siapa ya?"
(Namakamu) tidak mau menatapnya, "Gak kenal."
"Baal, lo Sabtu ikut nemenin kan final?" Tanya Gusti.
Iqbaal mengangguk. "Ikut."
"Lo ikut, (nam)?" Tanya Gusti.
"Iya."
"Enggak."
Iqbaal dan (namakamu) saling berpandangan saat mereka berdua menyaut secara bersamaan. Iqbaal menyerit bingung. "Kok gak ikut sih?" Tanyanya.
"Enggak, gue mau pergi."
"Lo udah janji."
"Kapan janjinya?" Tanya (namakamu).
"Ih, ikut. Kalo gak ikut gue pergi sama yang lain."
(Namakamu) berdecih. "Bodo."
"Udah jangan berantem disinii." Lerai Gusti.
Iqbaal menatapnya. "Ikut!"
"Jangan maksa!"
"Mangkanya ikut."
"Iya ih, udah ah gue mau ke kelas. Jangan lupa nanti jemput di kelas pokoknya gak mau tau!" Gantian, (namakamu) yang memaksa Iqbaal. Hidup harus adil.
Iqbaal merampas data ditangan Gusti, ia berjalan menghampiri Kipe yang tengah menghitung bersama dengan geng Vanesha disana, (namakamu) berdecak.
"Iqbaal ih!! Yaaaa apa enggak?!" Tanya (namakamu) sedikit berteriak.
Iqbaal menatapnya, lalu menunduk untuk membaca data itu.
"IQBAAALLL!" Teriak (namakamu) cukup kencang.
Iqbaal berdecak pelan, hanya orang-orang terdekatnya disana yang bisa mendengar decakannya.
"IYAAAA SAYANGG."
Seperti magnet, suara Iqbaal yang keras namun diiringi dengan senyum cerah itu membuat semua kaum hawa yang ada disana menatapnya, mengagumi betapa lucunya Iqbaal dan beralih menatap iri ke arah (namakamu), ingin juga ada diposisi (namakamu).
(Namakamu) menahan senyumnya, ia malu menjadi pusat perhatian semuanya tanpa terkecuali. Jarang Iqbaal seperti ini didepan umum kecuali didepan teman dekatnya saja, seperti Bastian, Kipe, Gusti, Abidzar, dll.
"Jangan gitu, banyak yang jomblo disini." Tegur Kipe.
"Masa bodo." Jawab Iqbaal enteng.
(Namakamu) kini harus berdiri dibelakang Gusti, menahan raut wajah malunya. Ada beberapa gadis disana yang melihatnya, namun ia hanya cuek, terlebih saat Vanesha menatapnya dengan tatapan sinis. Bodo amat. Kenapa? Sakit hati ya mbak? Hahaha.
(Namakamu) merasa puas melihat Vanesha yang terbakar api cemburu. Rasakan, waktu itu gadis itu mencoba membuatnya cemburu, tetapi sekarang? hahaha Mamam tuhh!!
Vanesha diam saja, kedua telinganya panas saat mendengar beberapa siswi membicarakan betapa lucu pasangan itu yang justru memuakkan bagi Vanesha. Vanesha berdecak dalam hatinya.
'Jijik.' Gumam Vanesha dalam hatinya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNGG...