
Happy readingggg✨
-------
(Namakamu) turun dari motor Iqbaal saat mereka sudah sampai ditujuan yaitu rumah Iqbaal. (Namakamu) sudah lama tidak berkunjung kesini, hampir 2 bulan lamanya tidak menginjakkan kakinya di rumah yang sudah ada perubahan sedikit dibagian halaman depan. (Namakamu) mengikuti Iqbaal yang membuka sepatu dan masuk ke dalam rumah berukuran cukup luas itu.
"Assalamualaikum..." Salam Iqbaal dengan suara cukup kencang agar seisi rumah mendengarnya dan tidak lama ada yang menjawab salamnya dari arah kamar depan.
(Namakamu) masih setia berdiri dibelakang Iqbaal, rada sedikit gugup bila harus bertemu dengan Rike, meskipun sudah bukan hal baru lagi bertemu dengan wanita itu, bahkan ia sempat mengobrol dan curhat tentang Iqbaal.
"Bundaaaa! Besok ke sekolah ya." Teriak Iqbaal yang duduk dibangku dengan memainkan rambutnya sendiri.
(Namakamu) ikut duduk disamping Iqbaal, belum membuka suara sama sekali. Justru ia malah asik memandangi beberapa foto baru yang ditempel di ruang tengah rumah ini.
Rike keluar dengan membenarkan kerudungnya. "Kenapa lagi?" Tanyanya, lalu sedikit menyungging senyum saat ada (namakamu) yang langsung berdiri dan menyaliminya.
"Astaghfirullah muka kamu kenapa lagi itu, Iqbaal?!" Tanya Rike kaget.
"Nanti Iqbaal ceritain. Bunda mau kemana?" Tanya Iqbaal melihat penampilan Rike sudah rapih dengan celana kulot hitam dan baju yang longgar panjang.
"Ke rumah Paman Iwan dulu, kalian mau pergi?"
"Iya, bunda." Jawab Iqbaal.
"Si Ara tuh katanya mau les nanti, anterin dulu apa gimana itu, baal? Nungguin kamu itu dia."
"Ah, gampang Ara mah." Sahut Iqbaal enteng.
Iqbaal menatap (namakamu). "Ganti baju dulu ya, bentar."
Iqbaal bangkit dari duduknya setelah (namakamu) mengangguk.
"(Namakamu), bunda mau tanya deh sama kamu." Ucap Rike pelan dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan (namakamu).
Iqbaal menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya seraya meringis pelan. "Pasti mau ngomongin soal kaset nih, anjirrrr, matiiiii gue!" Gumamnya pelan.
Rike tersenyum. "Maaf ya kalo sedikit pribadi, kamu tau kan Bunda ini posesif banget sama Iqbaal?"
(Namakamu) mengangguk, sungguh ia merasa degdegan.
"Kamu kalo pergi sama Iqbaal biasanya pulang jam berapa?" Tanya Rike.
(Namakamu) diam, ia lalu menjawab dengan yakin dan jujur. "Tergantung Bunda, paling jam 7 an."
"Bunda sayang banget sama Iqbaal, sama kamu juga. Jadi kamu jangan takut-takut ya kalo Iqbaal kelewatan, laporin ke Bunda aja. Bunda gak mau Iqbaal nyakitin pacarnya, Bunda gak mau Iqbaal nyakitin kamu, dia punya adik perempuan dan Bunda gak mau adiknya itu nanti disakitin cowok. Kamu ngerti kan maksud Bunda?"
(Namakamu) mengangguk. "Ngerti Bunda."
"Jangan kelewatan juga kalo pacaran, Bunda selalu ngelarang Iqbaal bawa keluar pacarnya malem-malem, Bunda cuma takut ada hal-hal yang gak seharusnya terjadi. Bunda tau Iqbaal, dia laki-laki dan diusia remajanya dia pasti masih sangat labil. Intinya Bunda cuma gak mau kamu diapa-apain sama Iqbaal, kamu disakitin. Sebagai seorang Ibu, Bunda sangat was-was banget, apalagi Bunda tau pergaulan Iqbaal itu gimana," Tutur Rike.
(Namakamu) paham. Tapi, ia bingung kenapa Rike tiba-tiba membahas soal ini setelah satu tahun lamanya ia menjalin kasih dengan Iqbaal?
"Bunda mau pergi, kamu nanti kalo pergi sama Iqbaal jangan pulang malem-malem ya? Kalo Iqbaal macem-macem aduin Bunda, jangan takut sama Iqbaal."
(Namakamu) tersenyum. "Iya Bunda," Cicitnya kecil.
Rike tersenyum, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Ara untuk pamit pergi, lalu tak lama wanita itu keluar dari rumahnya.
(Namakamu) menyerit, aneh sekali Rike menurutnya. Kenapa wejangan itu baru diberikan? Telat! Kan Iqbaal sudah macem-macemin dia WKWK.
"Kak!"
(Namakamu) mendongak, ia menatap Fahra yang keluar dari kamarnya. Fahra masih memakai seragam Pramukanya, ia menyuruh (namakamu) masuk ke dalam kamarnya.
"Akhirnya Kakak kesini," Ucap Fahra senang.
(Namakamu) tersenyum, "Eh ini punya siapa, Ra?" Tanyanya saat melihat sebuah kutek berwarna hitam.
"Punya Ara, Kakak mau?" Tanya Fahra, terdengar seperti tawaran.
"Mau donggg. Kakak nyari ini susah banget gak pernah ketemu," Ucap (namakamu) excited.
"Sini Ara pakein, Ara gabut."
(Namakamu) duduk ditepi ranjang Ara dan menyerahkan tangan kirinya pada Ara yang langsung memakaikan kutek dijemari lentik (namakamu) dengan posisi gadis itu yang tertidur.
Cklek..
Pintu terbuka dan menampakkan sosok Iqbaal yang sudah berganti pakaian menjadi celana panjang dan juga hoodie hitam miliknya.
"Ayo ih, malah kutekan." Ucap Iqbaal yang menghampiri (namakamu).
"Sebentar," Jawab (namakamu).
"Abang ih, Ara les gimana?" Tanya Fahra tanpa menatap Iqbaal, ia masih fokus pada jemari (namakamu).
Iqbaal duduk dibelakang (namakamu), ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan membuka handphonenya. "Tinggal les aja ribet, minta anterin cowok lo." Ucapnya.
"Apaan sih!" Ucap Fahra malu.
(Namakamu) terkekeh. "Ara udah punya pacar?"
"Bel—"
"Udah!" Jawab Iqbaal cepat memotong ucapan Fahra.
"Apa sih Abang sok tau! Enggak punya," Ralat Fahra.
"Jangan, Ra. Masih kecil." Nasihat (namakamu).
"Gapapa, Ra. Abang juga dulu pacaran pas SMP." Celetuk Iqbaal yang menatap Adiknya yang hanya bisa senyum-senyum.
(Namakamu) memutar bola matanya, "Jangan, Ra. Kalo pacaran pas masih SMP nanti susah move on, kayak Abang tuh."
"Dih?" Sahut Iqbaal spontan.
Fahra mendongak. "Ara gak pacaran."
"Iya, jangan dulu." Ujar (namakamu).
"Tangan satu lagi, kak." Pinta Fahra yang langsung diangguki (namakamu), gadis itu mengganti tangannya dan menatap kuku cantiknya yang sudah berwarna hitam.
"Les jam berapa, Ra?" Tanya Iqbaal.
"Sebentar lagi, abis ini selesai.. Abang anterin Ara dulu, gapapa kan?" Tanya Ara menatap (namakamu) yang mengangguk.
"Ah, ribet. Boti aja," Ucap Iqbaal asal.
(Namakamu) berdecak, "Apa sih boti-botian!"
"Ara duduk didepan." Ucap Iqbaal.
"Apa sih! Emang Ara anak kecil."
"Belagu lo!"
Fahra hanya berdecih saja menanggapi ucapan Abangnya.
"Tadi diapain sama Bunda?" Tanya Iqbaal pelan, Meksi pelan Fahra dapat mendengarnya karena suasana mendadak hening.
(Namakamu) menoleh ke belakang. "Gitu doang, dinasihatin, dilarang pulang malem."
Iqbaal mengangguk paham. "Itu doang kan?" Tanyanya wanti-wanti.
"Iya.. emang ada apa sih sebenernya?"
"Bunda marah kemarin," Jawab Iqbaal.
"Soal?"
"Abang nonton bokep."
"ASTAGHFIRULLAH ARRAAA!!" Iqbaal spontan menoyor kepala Adiknya yang sangat polos dan jelas akan menjerumuskannya pada masalah dengan (namakamu).
(Namakamu) terbelakak, ia langsung menatap Iqbaal yang menggeleng kuat. Entah harus percaya dengan siapa, tetapi Fahra tidak pernah berbohong padanya.
"Kok bisa?" Tanya (namakamu).
"Jadi tuh—"
"Diem lo, Ra!" Kesal Iqbaal yang menatap Adiknya sinis.
Fahra bangkit dari tidurnya, selesai sudah mengkutek kuku (namakamu). Ia duduk dan menatap Iqbaal dengan tatapan meledek, "Jadi gini kak—"
"Ara!" Sebal Iqbaal.
(Namakamu) berdecak, ia menutup mulut Iqbaal. "Gimana, Ra?" Tanya (namakamu).
Fahra ingin menjelaskan, namun tatapan mata Iqbaal membuat nyalinya ciut. Fahra menggeleng, "Tanya Abang aja. Ara mau ganti baju siap-siap les."
(Namakamu) menarik tangannya, ia menatap Iqbaal seolah meminta penjelasan dengan inci. Iqbaal hanya diam dan masih menatap Fahra sebal.
"Iqbaal, kok bisa sih?" Tanya (namakamu).
"Enggak, (nam). Itu salah paham, Bunda udah emosi aja kemarin."
"Kok bisa ketauan? Lagian ngapain sih nonton begituan, idiot!"
"Enggak nonton, ah susah jelasinnya."
__ADS_1
"Gak nonton tapi punya kasetnya!" Kompor Fahra yang tengah asik memilah baju, (namakamu) dan Iqbaal sama-sama menatapnya.
"Iqbaal!" Kesal (namakamu) yang menatap Iqbaal tajam.
Iqbaal berdecak frustasi, "Sini deh!" Iqbaal menarik lengannya keluar dari kamar Fahra, sebelum keluar ia sempat menjitak kepala Adiknya membuat Fahra memekik kesal.
"Abang gila!"
*****
(Namakamu) berjalan masuk ke dalam teater 2, tempatnya akan menonton bersama dengan Iqbaal yang sudah membawa satu minuman dan pop corn dalam ukuran besar. Sedangkan dirinya hanya membawa satu minuman lemon tea untuk dirinya.
"Gue gak mau dipojok." Ucap (namakamu) berbisik saat mereka menaiki tangga untuk duduk di seat B.
"Iya gue aja." Jawab Iqbaal pasrah.
(Namakamu) memegang ujung baju Iqbaal saat ingin melewati beberapa bangku yang sudah diisi dengan para gadis-gadis dengan tatapan mata liar saat menatap kekasihnya. Oke, (namakamu) memang harus posesif sepertinya dengan Iqbaal, banyak cabe-cabean disini.
(Namakamu) duduk dengan memangku tote bag miliknya, ia sesekali mencomot pop cornnya dan melahapnya begitu juga dengan Iqbaal. (Namakamu) menatap Iqbaal yang membuka handphonenya.
"Mau cobain minuman Iqbaal," Pinta (namakamu) lucu.
Iqbaal mengambil minumnya dan menyerahkannya pada (namakamu) yang langsung meminumnya tanpa memegang, minum itu masih dipegang Iqbaal.
"Susah emang ngajak anak orok jalan-jalan," Gumam Iqbaal melihat (namakamu) yang manja.
(Namakamu) tercengir. "Enak! Mau tukeran gak?"
"Gak, makasih."
(Namakamu) menyerut, ia mulai menyandarkan tubuhnya disandaran bangku. Tatapannya juga terfokus pada handphone, melihat pesan berderet dari Zidny tentang curhatannya yang katanya mengalami masalah, pantas saja gadis itu tidak sekolah!
(Namakamu) membalasnya, ia mematikan handphone-nya setelah itu karena lampu sudah mati. Ia memasukkan handphone-nya ke dalam tas. (Namakamu) menatap ke arah Iqbaal yang sudah dengan anteng menatap ke layar.
Selama film mulai, ia masih biasa saja sampai akhirnya ia spontan berteriak saat merasa terkejut. Itu membuat Iqbaal menoleh ke arahnya dan menoyor keningnya dengan pelan.
(Namakamu) terkekeh, ia mendekati Iqbaal dan bersandar dibahu pria itu. Iqbaal hanya diam, bahkan ia masih diam saat (namakamu) mengambil tangannya untuk menutupi matanya saat ada adegan yang menyeramkan dan mengejutkan baginya.
"Aaaa!"
"Aduh!" Ringis Iqbaal pelan saat (namakamu) berteriak, kepala (namakamu) terjedot dengan pipi Iqbaal yang mengalami luka.
(Namakamu) mendongak, ia terkekeh. "Maaaff." Gumamnya seraya mengelus pipi Iqbaal pelan.
"Mangkanya diem apa, cuma film aja heboh."
"Kaget."
"Lebay."
(Namakamu) menyerut, ia bergeser untuk membenarkan posisi duduknya. Ia yang tidak mau mengganggu Iqbaal kini menutup matanya dengan satu tangannya, seraya memiringkan tubuhnya kesamping membuat Iqbaal berdecak.
Iqbaal menarik tangan (namakamu) agar gadis itu mendekatinya. "Gak usah modus, nyet!" Kesal Iqbaal.
(Namakamu) menatapnya, lalu melirik ke bangku sampingnya yang ternyata seorang pria memakai kemeja, cukup tampan. Lalu kembali menatap Iqbaal dengan cengiran.
"Gak tau." Jawabnya asal. Iqbaal memutar kedua bola matanya malas.
(Namakamu) duduk seperti biasa, tangannya entah sejak kapan sudah saling mengait dengan Iqbaal. (Namakamu) yang fokus dengan film dan teriakannya itu membuat Iqbaal berinisiatif untuk menyuapinya pop corn itu, terlebih saat (namakamu) teriak, Iqbaal dengan usil memasukkan dua pop corn sekaligus dan tertawa saat melihat (namakamu) tersedak.
"Nakal!" Ketus (namakamu) yang langsung meminum airnya.
Iqbaal merangkulnya, mengelus rambut hitam milik gadisnya yang terurai dengan lembut. Pandangannya tertuju pada layar yang tengah menampilkan badut itu, (namakamu) hanya diam dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Iqbaal. Hanya satu kata, takut.
Dua jam lebih film itu dimulai dan sekarang sudah berakhir dengan ending yang menyedihkan, (namakamu) tidak beranjak dari tempatnya— dari posisinya lebih tepatnya. (Namakamu) menatap semua orang yang berjalan keluar dari bioskop, hanya sisa beberapa saja.
(Namakamu) menegakkan tubuhnya, melirik jam yang ada di handphonenya menunjukkan pukul 18.15 wib. (Namakamu) menatap Iqbaal yang sudah berdiri dan berjalan keluar, ia mengikuti Iqbaal.
"Kita mau langsung pulang?" Tanya Iqbaal yang menyamakan langkahnya dengan (namakamu).
"(Namakamu) mau makan." Jawab gadis itu menggemaskan dengan menggembungkan pipinya.
Iqbaal terkekeh, ia merangkul bahu (namakamu). "Mau apa?"
"Mau pecel lele."
"Uuuu ngidam?"
(Namakamu) terkekeh geli, "Pengen banget dari semalem."
"Yaudah cari yuk, nanti dedenya ngiler."
(Namakamu) menyerutkan bibirnya. "Gak hamil ih!"
Iqbaal hanya tertawa kecil.
*****
(Namakamu) berlari begitu cepat mengejar Zidny yang sudah naik pitam dengan seseorang. Jauh didepan sana sudah ada Gery yang berlari dengan kencang, tidak, (namakamu) tidak bisa mengandalkan Gery untuk menahan emosi Zidny, yang ada Gery malah seneng melihat Zidny berkelahi.
(Namakamu) tidak perduli harus membolos pelajaran, toh habis itu juga bell istirahat berbunyi. (Namakamu) berdiri disebuah meja kantin yang terdapat beberapa gadis tengah bercengkrama, Ia terkejut saat Zidny dengan enaknya mengguyur salah satu anak gadis disana dengan air mineral yang ada dimeja.
"Kak, lo apa-apaan sih?!" Ucap Adik kelas itu tidak terima.
"Apa?! Lo kecentilan banget jadi cewek, nyadar dong lo itu siapa?!" Bentak Zidny garang.
(Namakamu) meringis, jujur Zidny itu galak kalau hidupnya sudah diusik. Zidny itu paling tidak suka ada yang mengacaukan hidupnya, terlebih soal hubungannya. Sama seperti (namakamu), mereka posesif dengan pasangan mereka.
"Yaa.. gue ngapain emang?!" Tanya Adik kelas itu bingung.
"Ngapain? Lo masih nanya ngapain?! Kemarin lo jalan kan sama Rendo?! Lo tau gak Rendo itu cowok gue?!" Tanya Zidny sinis.
Adik kelas itu terdiam.
"Bukan sekali, dua beberapa lo gue liatin. Bukannya mikir malah kesenangan lo! Lo pikir gue takut sama lo?!" Sentak Zidny diiringi menggebrak meja kantin membuat semua mata tertuju padanya.
(Namakamu) menarik tangan Zidny untuk menjauh sedikit dari Adik kelas itu. "Zid udah!" Bisiknya.
"Gak punya muka, malah cari muka!! Kurang belaian banget apa lo sampe cowok gue lo sikat?! Murahan!!"
"Cukup, kak!! Kenapa Kakak nyalahin gue? Kenapa gak salahin cowok Kakak?"
"Malah nyalahin cowok gue, jelas lo yang gatel." Sentak Zidny lagi dengan tajam.
"Cowok lo yang gatel!" Teriak Adik kelas itu murka.
"Songong lo *******!" Balas Zidny.
"Eh,udah dong! Lagian lo udah tau salah malah ngelak, pikir kek kan sama-sama perempuan!" Kali ini (namakamu) yang bersuara mewakili Zidny.
Adik kelas itu bungkam.
"Gak punya otak." Sinis Zidny.
(Namakamu) melihat sekeliling, kondisi kantin semakin ramai. Ada banyak siswi yang masuk, pandangan (namakamu) tidak sengaja bertemu dengan Vanesha yang menatap aneh ke arah Zidny.
"Udah tau cowok orang, jangan digangguin." Ucap (namakamu) memperbesar suaranya sekalian menyindir Vanesha.
"Perusak lo!" Bentak Zidny.
"Lo tanya cowok lo sekarang, gue gak pernah ngajak jalan dia—"
"Kenapa lo terima? Ngotak dong!! Kita sama-sama cewek, kalo cowok lo jalan sama cewek lain gimana? *****." Teriak Zidny kencang.
"Apa sih lo, kak?! Gila!!" Sengit Adik kelas itu.
(Namakamu) menatap tak menyangka pada gadis itu, setebal itu mukanya sampai tidak tahu malu? Astaga! Sempat-sempatnya mengatai Zidny gila pula, dasar.
"Lo!" Zidny mendorong bahu gadis itu dengan murka, hingga gadis itu mundur dua langkah ke belakang. Semakin panas saja keadaan kantin.
Gadis itu mengambil pop mie yang sedang makan, lalu dengan spontan menyiram Zidny dengan kuahnya yang panas. Hal itu juga mengenai (namakamu) karena jaraknya dekat dengan Zidny.
"STRESSS!" Teriak Zidny merasakan tangannya panas, begitu juga dengan (namakamu).
Gery yang sedari tadi diam langsung mengelap tangan Zidny dengan sapu tangan miliknya. (Namakamu) mengusap tangannya pelan, ia menatap tajam gadis itu yang mendadak ciut karena (namakamu).
"Ih, jangan gitu dong! Awas aja sampe temen gue kenapa-napa, gue cincang lo!" Kesal (namakamu) menunjuk gadis itu dengan jarinya.
"Gue gak maksud ke elo." Ucap gadis itu pelan.
"Dia temen gue, gue gak suka ya lo begitu. Ih gue tabok lo!" (Namakamu) berdecak kesal, rasanya tangannya sudah gatal sekali ingin mendarat dipipi gadis yang sudah berani membuat Zidny kepanasan.
"HEEH!"
(Namakamu), Zidny, Gery, Adik kelas itu, bahkan seluruh murid yang ada di kantin langsung menoleh ke arah suara yang terdengar cukup keras. Disana datang gerombolan siswa yang tampan menggelengkan kepala mereka, sedangkan yang tadi berteriak langsung menatap tajam (namakamu). (Namakamu) diam, ia mundur dan menunduk.
"(Namakamu) ikut gue sekarang!"
(Namakamu) mendongak. "Baal—"
Iqbaal, ya, pria itu langsung pergi lagi keluar dari kantin. Ah, mati lah (namakamu) sekarang. (Namakamu) langsung pergi, tidak mau menahan malu saat semua yang ada disana menatapnya. Sebelum pergi, ia sempat berbisik pada Zidny untuk menyudahinya, tetapi tidak tahu bagaimana responnya nanti. Akan berhenti atau masih lanjut sampai babak belur.. Zidny kan sadis.
(Namakamu) berjalan dibelakang Iqbaal yang terus melangkahkan kaki panjangnya menyusuri koridor, sampai akhirnya pria itu berhenti di koridor yang sepi dan jarang dilewati murid.
"Ngapain sih kayak tadi? Gak malu apa?" Tanya Iqbaal dengan raut wajah kesal.
(Namakamu) diam.
"Dijadiin tontonan, keren gitu kalo abis ngelebrak orang? Biar hitz?"
__ADS_1
"Enggak, Baal. Itu Zidny yang punya masalah—"
"Ngapain ikutan?"
"Kan dia temen gue." Balas (namakamu) cepat.
"Gak jauh-jauh pasti masalah cowok." Tebak Iqbaal, ya, Iqbaal bisa menebaknya karena Zidny menurutnya adalah gudangnya para pria, mangkanya Iqbaal rada was-was membiarkan (namakamu) dengan Zidny. Nanti kekasihnya dikasih cowok lagi.
"Kan gue udah pernah bilang jangan bully anak orang, apalagi masalah cowok. Lagian itu kan cowoknya Zidny, kok lo yang repot?"
(Namakamu) mendongak. "Ih, bukan gitu ceritanya. Gue juga dari tadi diem, tapi pas Zidny disiram pake air panas ya gue gak terima. Waktu gue kena air panas di kantin juga Zidny yang belain gue," Tuturnya.
Iqbaal tersenyum miring. "Gue liat lo ikut ngatain, gak usah ngelak."
(Namakamu) diam, "Kesel Baal.." lirihnya.
Iqbaal paham, oke. Dia tahu rasanya bagaimana sebagai perempuan yang posesif dan pencemburu, karena ia juga menjadi korbannya, korban dari (namakamu) yang posesif parah dan pencemburu kuadrat. Iqbaal mungkin bisa merasakan rasanya menjadi laki-laki yang dipacari Zidny.
"Tapi gak gitu, jangan di kantin."
"Zidny yang kesana, gue udah nahan tapi tau sendiri kalo orang emosi itu susah ditahannya." Tutur (namakamu). "Kayak lo gak pernah aja.." Lanjut (namakamu) pelan.
Iqbaal berdecak. "Jangan sama-samain! Beda masalah, gue gak pernah ribut cuma gara-gara cemburu buta."
(Namakamu) menatapnya tajam, terdengar seperti sindiran. (Namakamu) menatap kesembarang arah. "Yaudah, kan cowok sama cewek itu beda cara nyalurinnya."
"Cewek emang se-lebay itu."
(Namakamu) kembali menatapnya dengan tidak suka, sembarangan aja itu bibir!
"Kalo lebay mau apa? Biarin dong, suka-suka. Lagian ngapain sih ribet banget, gak usah kaget gitu kayak baru pertama kali aja liat beginian." Ketus (namakamu).
"Tapi kalo Bunda yang liat, mau taroh dimana muka lo?"
Pertanyaan Iqbaal itu membuat (namakamu) bungkam. Gadis ini menatapnya.
"Bunda kesini, udah ada di ruang BK sekarang. Jangan lakuin hal-hal konyol yang buat restu jadi terhambat." Ucap Iqbaal menjelaskan, karena tatapan mata (namakamu) seolah meminta penjelasan.
Iqbaal menggapai tangan (namakamu). "Dua kali cuma gara-gara hal kecil, tangan ini keguyur air panas. Sekali kali keguyur, bisa dapet hadiah piring cantik lo." Ucapnya seraya mengelus tangan (namakamu) lembut.
(Namakamu) menyerutkan bibirnya. "Kenapa sih? Biarin aja. Lagian bantuin temen kan gapapa, tengil Adik kelas zaman sekarang, suka banget nikung Kakak kelasnya."
Sindirrrr terus, saling menyindir.
Iqbaal menghela nafasnya, ia mencubit bibir (namakamu). "Itu bibir kalo udah nyinyir pedes banget sih."
"Ih! Bodo amat, emang pantes digituin biar tau diri."
Iqbaal berdeham. "Jangan ikut gitu-gituan lagi, kalo emang gak penting. Bantuin temen boleh, tapi liat dulu kondisinya gimana," Tuturnya. Aduh, Iqbaal ini sudah berpengalaman sekali.
"Nyebelin tapi. Sumpah ya tadi tuh si Adik kelasnya itu kayak gak ada rasa bersalah Iqbaal. Dia malah ngebela diri padahal udah salah, terus juga ya dia ngatain Zidny kayak orang gila."
Iqbaal mengangguk kecil saja, "Terus bisa diambil kesimpulan dari mananya kalo cewek itu yang salah?"
"Lah dia jalan sama Rendo. Rendo kan pacarnya Zidny."
Iqbaal tersenyum simpul. "Biarin sih, punya kaki ini dia, kalo mau jalan ya jalan aja, asal jangan digendong-gendong."
"Kok malah belain dia sih?"
"Ya lo ngapain belain Zidny? Cerita aslinya gimana?"
(Namakamu) menggeleng. "Kurang tau sih, tapi kan ngedengernya aja bikin emosi. Gue juga sebenarnya cuma gak suka aja, sekalian lah nyindir sedikit, lagian mana ada sih yang suka digituin."
Iqbaal terdiam, ia menatap (namakamu) dengan senyum kecil. "Gue nanya cerita aslinya gimana, bukan malah curhat." Ledeknya.
(Namakamu) menggembungkan pipinya, ia menatap sebal Iqbaal. "Sekalian.."
Iqbaal terkekeh, mengacak rambut (namakamu) gemas. "Iqbaal baik kok," Katanya dengan percaya diri.
(Namakamu) berdecih. "Males ah bahas ginian, pasti ujung-ujungnya nyindir gue."
"Dih, lo yang mulai."
"Lo mancing."
Iqbaal terkekeh geli, "Mau ketemu Bunda lagi?"
"Udah selesai emang? Btw kok lo gak ikut ke ruang BK?"
"Baru mau masuk ke dalem tadinya, tiba-tiba udah ada aja laporan lo berantem. Herann," Jawab Iqbaal enteng.
"Siapa yang ngasih tau?"
"Kepo. Nanti lo acak-acak lagi orangnya," Ucap Iqbaal bercanda.
(Namakamu) berdecak. "Jadi ngerasa buronan, banyak banget pengintainya."
"Mangkanya hati-hati kalo mau berbuat apapun," Ucap Iqbaal mencolek hidung (namakamu).
"Ehh tau gak.." Ucap Iqbaal tiba-tiba membuat (namakamu) menatapnya penasaran.
"Waktu Bunda nemuin kaset bokep itu, Bunda nanyain lo."
"Kok?" Tanya (namakamu) bingung, kok jadi dia sih dibawa-bawa?
"Iya. Pokoknya Bunda ngiranya yang aneh-aneh, dia nanya berapa lama kita pacaran, terus ngapain aja," Jawab Iqbaal.
"Lo gak jawab yang—"
"Ih, gue gak bisa bohong sama Bunda."
(Namakamu) menatapnya dengan heran, maksudnya apa?
"Gue bilang udah setahun pacaran, terus gue jawabnya udah peluk-peluk, udah gandengan, gitu deh standar."
(Namakamu) mengangguk saja, meski wajahnya bersemu malu. "Bunda gak marah?"
"Kalo itu mah enggak, tapi Bunda sempet mabok gue pas gue bilang kita pernah ciuman."
PLAK!
"IQBAAL!"
Iqbaal terkejut, memegangi pipinya dan mengelusnya pelan. Ia menatap (namakamu) yang marah padanya detik itu juga.
"Kenapa sih gobloknya murni banget." Kesal (namakamu).
Iqbaal masih meringis dan mengelus pipinya, baru kena luka kemarin, sudah ditampar lagi. "Sakit.." Lirihnya pelan.
"Nyebelin banget, nanti kalo Bunda ngira aneh-aneh gimana?"
"Yaa.. gimana, gue harus jujur."
"Tapi jangan dibilang yang itunya! Ah, tau ah, males."
"Masih mending dong daripada gue bilang kejadian kemarin yang gak sengaja itu."
(Namakamu) sudah melayangkan tangannya diudara, namun niatnya terhenti saat melihat Iqbaal yang sudah memejamkan matanya dan mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri.
(Namakamu) berdecak. "Mesumm banget sih om-om gila!"
"Mesumin bini sendiri mah gapapa." Gumam Iqbaal pelan.
(Namakamu) menjewer telinga Iqbaal sebal, "Apa?! Bini bini aja, belum tentu gue mau sama lo, mesumm!"
"Masa gak mau sih, munafik banget." Ucap Iqbaal diiringi ringisan pelan.
(Namakamu) melepaskan jewerannya. "Kalo tau se-mesum ini gak akan mau, gila aja gak kebayang nanti kalo sah nanti— ah!" (Namakamu) yang membayangkan, ia juga yang geli sendiri.
Iqbaal mengusap wajah (namakamu). "Jangan dibayangin, sini kalo mau ayoo!"
"Jijik. Semakin membulatkan tekad gue buat gak jadiin lo laki gue, mesum."
Iqbaal tertawa geli melihat (namakamu) yang level kekesalannya sudah mencapai batas maksimal. Ia mengacak rambut (namakamu).
"Ah, gemes. Gue cekokin lo."
(Namakamu) meninju tangan Iqbaal, "Awas lo macem-macem gue aduin Bunda Rike."
"Cekokin cinta maksudnya, idih kotor banget otaknya."
(Namakamu) melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap tajam Iqbaal. "Pokoknya gue marah sama lo, titik!"
Iqbaal tersenyum, "Yakin marah?"
"Ngapain harus ragu-ragu?" Tanya (namakamu) sinis.
"Yaudah, gue aduin aja sama Bunda, minta maaf sama Bunda udah bikin Bunda kecewa. Terus ngomong deh 'Bunda, Iqbaal gak maksud, tapi kebablasan. (Namakamu) hamil Bunda.' — Aaaaa!"
Iqbaal langsung mengambil langkah kaki seribu saat melihat (namakamu) yang emosi dan ingin memukulnya, (namakamu) mengejar laki-laki itu sepanjang koridor yang ramai oleh siswa/i tengah beristirahat.
(Namakamu) benar-benar kesal! Iqbaal bilang mulut (namakamu) selalu nyinyir, sedangkan dia sendiri punya mulut sangat tidak bisa jaga.
Dasar!!
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNGGGG..