
-------
Hari ini (namakamu) pergi ke sekolah dengan membawa motor sendiri, ayahnya tengah ada urusan diluar kota sehingga tidak bisa mengantar (namakamu) dalam beberapa hari ke depan. Sedangkan Iqbaal, pria itu tengah mengalami cidera tangan jadi tidak mungkin bisa membawa motor sendiri. Hari ini (namakamu) pun tidak tahu apakah Iqbaal masuk atau tidak, biasanya pria itu mencari kesempatan untuk bolos sekolah kalau begini.
(Namakamu) sudah disuguhkan pemandangan tidak mengenakan saat melewati koridor lantai satu, segerombolan anak futsal tengah berkumpul didepan ruang rugu seraya memegang masing-masing selembar kertas. Entahlah, semenjak ada Vanesha ia jadi tidak suka dengan geng anak futsal.
(Namakamu) melewati mereka, ia hanya terfokus pada Abidzar yang berdiri dengan kedua matanya fokus pada map coklat ditangannya. (Namakamu) berdiri disebelahnya.
"Iqbaal mana?" Tanya (namakamu) langsung, suaranya pelan namun mampu membuat beberapa orang menoleh ke arahnya, mungkin karena pertanyaaan yang mengundang beberapa orang menoleh saat mendengar nama 'Iqbaal'. Hebat ya pria itu, mampu menjadi pusat perhatian, padahal hanya namanya saja yang disebut.
"Gak sekolah bukannya?" Tanya Abidzar balik, hanya sekilas melihat wajah (namakamu).
"Sekolah kok, katanya bareng sama lo." Jawab (namakamu).
"Gue gak tau, dia gak ngomong apa-apa sama gue."
(Namakamu) berdecak, ia memilih meninggalkan Abidzar dan melanjutkan jalannya ke kelas. (Namakamu) menyusuri koridor lantai dua sekarang, sebelum benar-benar sampai kelas, ia melihat temannya yang tengah bersandar didinding seraya bercengkrama dengan seorang gadis cantik yang belum ia kenali sebelumnya.
"Gery.." Seru (namakamu) pelan.
Gery menoleh, adik kelas itu ikut menoleh dan tersenyum ramah pada (namakamu) yang membuat gadis itu membalasnya.
"Eh, udah dateng." Ucap Gery basa-basi.
"Kalo gitu, ke kelas dulu ya gue. Makasih Kak Ger!" Adik kelas itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan (namakamu) dan Gery.
"Dih, Gery... Itu siapa?" Tanya (namakamu) menggoda.
"Cantik gak? Ih, dia tuh adik kelas yang waktu itu gue tabrak pas mau naik tangga."
"Kapan lo nabrak cewek? Kok lo gak pernah cerita sama gue?" Tanya (namakamu) kepo.
"Waktu ada kejadian Iqbaal kena gawang, kan lo nemenin dia tuh. Mangkanya jangan sibuk sama Iqbaal terus," Tutur Gery.
"Emang kenapa?"
Bukan. Bukan suara (namakamu) itu. Keduanya sama-sama menoleh ke belakang.
"Emang kenapa kalo gue melulu? Lo mau juga?" Tanya Iqbaal, ya Iqbaal yang datang dengan membawa tentengan ditangan sebelah kiri yang berisikan sepatu futsal.
"Ish!" Gery mendelik geli, lalu berjalan meninggalkan (namakamu) dan Iqbaal dengan sedikit terburu-buru. Ia takut sebenarnya dengan Iqbaal, jujur.
"Cucok banget sih," Gumam Iqbaal pelan.
"Hus! Jangan begitu! Dia sebentar lagi punya pacar." Jawab (namakamu) yang mendengar gumam-an Iqbaal.
"Siapa?"
"Kepo amat. Baru dateng?" Tanya (namakamu).
Iqbaal mengangguk. "Baru dateng, mau ke Adi, ada gak dikelas?" Tanyanya.
"Gak tau, baru juga dateng, belum ke kelas." Ucap (namakamu).
"Bawa power bank?" Tanya Iqbaal seraya berjalan pelan mengikuti langkah (namakamu).
"Bawa lah, gue mau pergi nanti, kerkom."
"Buat gue napa, handphone gue lowbat." Ucap Iqbaal memelas.
"Ih, kebiasaan." Kesalnya. Lihat, masih pagi begini saja Iqbaal sudah membuatnya kesal.
"Gue nanti mau futs—"
"Futsal terus. Dibilangin jangan futsal, batu banget."
"Mau anterin Kipe maksudnya, souzon aja jadi cewek." Balas Iqbaal ngeles.
"Anterin futsal, terus nanti bosen, eh ikutan deh futsal." Sindir (namakamu) pada Iqbaal si gila bola.
"Enggak, (nam). Nganterin doang, nanti gue pap deh lo takut banget sih."
(Namakamu) bergidig. "Awas aja ya!"
"Iya sayang."
(Namakamu) berdecih pelan, entah berapa siswa/i yang menoleh ke arahnya saat Iqbaal berucap seperti itu dengan nada cukup kencang. (Namakamu) berbelok, wilayah koridor yang ini sudah tidak terlalu banyak murid, biasanya pagi-pagi begini mereka rata-rata ngumpul dikoridor depan.
"Mana handphonenya?" Tanya (namakamu) mengangkat tangan kanannya diudara.
"Nanti aja istirahat," Jawab Iqbaal yang justru malah menaruh tangannya untuk merespon tangan (namakamu) yang tadi diudara. Ia menggenggamnya dan sama-sama berjalan menyusuri koridor, hanya tinggal beberapa kelas saja padahal.
"Nanti pulang jam berapa?" Tanya (namakamu).
"Jam—"
"Pokoknya gak boleh lama-lama, jangan sampe malem." Peringat (namakamu) yang hanya mendapat tatapan dan senyum tipis dari Iqbaal. "Mau bareng siapa?" Tanyanya.
"Sendiri." Jawab Iqbaal.
"Tadi katanya mau anterin Kipe, kok sendiri sih? Boong ya?" Terka (namakamu) menatapnya sebal, ia memberhentikan langkahnya untuk menatap kekasihnya.
Iqbaal menghela nafasnya pelan, ia mencubit gemas pipi (namakamu). "Kipe bawa motor, gue bawa motor. Maksudnya mau anterin Kipe tuh nanti, buat beli bola baru."
(Namakamu) menyerit. "Udah bawa motor? Emang udah bisa itu tangannya?"
"Udah dong. Udah diobatin sama bunda Rike," Jawab Iqbaal bangga.
"Seharusnya gak dulu, baal. Seminggu aja gitu bareng sama siapa kek, biar sembuh dulu." Ucap (namakamu) yang kembali melanjutkan langkahnya diikuti dengan Iqbaal yang masih disebelahnya.
"Gak enak kalo numpang, gak bisa mampir." Jawab Iqbaal asal.
"Mampir mulu."
"Sesekali doang."
"Kalo bawa motor sendiri udahlah mending gak usah anter-anterin Kipe segala. Kipe nyuruh orang aja, masih ada Babas kok. Repot banget lo."
"Yang nyuruh gue Pak Hadi." Jawab Iqbaal santai.
"Yaudah gue bilang sama Pak Hadi—"
"Jangan, dih."
"Tuh kan!!" Kesal (namakamu) menatapnya tajam dan kembali menghentikan langkahnya. Iqbaal memang susah ditebak, banyak bohongnya— atau banyak rahasianya?
"Udah (nam), diem-diem aja napa. Gak bakalan kenapa-napa kok, jangan khawatir terus dong, aku bisa jadi diri baik-baik kok." Ucap Iqbaal dengan nada yang sok imut.
(Namakamu) menatapnya serius, sebal tapi sayang.
"Gue gak mau denger berita aneh-aneh lagi pokoknya!! Jangan kayak kemarin, lagi anteng-anteng di kelas tiba-tiba Zidny sama Gery bilang katanya lo ketiban gawang!" Dumel (namakamu) sebal.
"Iya, enggak. Ihhhhh gemesss!" Iqbaal merangkul bahu (namakamu) dan memeluknya dengan gemas membuat (namakamu) meronta, antara kesal dan malu. Untung koridor tidak ramai.
"Apaan sih——ihh!"
(Namakamu) menatap jengkel Iqbaal yang langsung berlarian kecil masuk ke dalam kelasnya. (Namakamu) menatap sekeliling, lalu tersenyum malu, pipinya merona merah.
Kalian tahu apa yang Iqbaal lakukan?
Iqbaal menciumnya. Mencium dengan cepat tepat dipipinya, pipi kanannya dan langsung berlari. (Namakamu) menghela nafasnya pelan, lalu bersikap biasa saja sebelum masuk ke dalam kelasnya.
Memang, Iqbaal gak ada otak.
Ayo, lakukan lagi!!!! wkwkw.
*****
Setelah beberapa jam pelajaran berlanjut, kini masuk ke dalam pelajaran terakhir. (Namakamu) berbaring, menaruh kepalanya diatas perut Zidny yang juga tertidur dengan berbantal tasnya dan (namakamu) yang ditumpuk. Mereka berdua asik memainkan handphone masing-masing.
(Namakamu) sibuk menonton youtube sedaritadi, sedangkan Zidny seperti biasa, VidCall cowok. Gery? Ah, pria itu sudah tertidur sejak tadi disamping (namakamu). Pria itu tertidur berbantal tasnya sendiri dan berposisi meringkuk menghadap (namakamu).
"Zid abis ini episode berapa lagi yang seru?" Tanya (namakamu) yang menoleh ke arah Zidny yang tengah senyum-senyum dengan ponselnya.
"Zid ih, jangan kayak orang gila apa." Ucap (namakamu) menyindir.
"Hah? Apa?" Tanya Zidny yang tersadar.
"Tau ah males." Ucap (namakamu), ia menatap layar ponselnya. Rasa bosan mulai menyeruak didalam dirinya, satu pesan masuk membuatnya menyerit. Nama seseorang yang pernah membuatnya menyesal karena telah membohongi Iqbaal itu muncul, dengan pesan singkat berupa nama (namakamu).
(Namakamu) membalasnya dengan singkat juga. Entah mengapa tidak bisa menolak kalau sudah Devano yang ngechat, maunya cepet aja gitu wkwk.
Beberapa menit, chat antara (namakamu) dan Devano semakin panjang. (Namakamu) tersenyum saat Devano membalas. Tidak ada yang spesial sebenarnya, hanya membahas tentang kado yang waktu itu mereka beli dan sudah diserahkan pada Salsa-kakak Devano- dan ternyata diterima dengan senang hati sampai terharu. Devano juga mengucapkan terima kasih pada (namakamu), (namakamu) terkekeh kecil membacanya.
"Sekarang malah lo yang kayak orang gila." Sindir balik Zidny yang menoyor kening (namakamu) pelan.
(Namakamu) tertawa, "Apa sih?! Wleee!"
"(NAMAKAMU)!"
(Namakamu) langsung bangkit dan duduk ditempat saat seseorang yang ia tahu itu siapa memanggilnya. (Namakamu) menaruh handphonenya dibelakang tubuhnya, menyembunyikannya karena chat dari Devano masih berlangsung dan belum dihapus. Sudah tahu siapa orangnya??
Iqbaal. Pria itu berlari kecil menghampiri (namakamu) dan berdiri ditempat tepat depan (namakamu). "Cash." Katanya seraya melempar handphonenya sembarang ke (namakamu), untungnya jatuh diriku gadis itu.
Tanpa berucap, Iqbaal segera berlari pergi keluar. (Namakamu) menyerit, ia mengambil handphone Iqbaal dan bangkit dari duduknya. "Repot banget sih." Gumamnya.
(Namakamu) duduk di bangkunya, mengeluarkan kabel data dan mencolokkannya dihandphone Iqbaal, lalu menaruhnya masuk ke dalam tasnya. Merasa aman, (namakamu) kembali melanjutkan chat dengan Devano berdua.
(Namakamu) membereskan semua bukunya, memasukkan ke dalam tas karena beberapa menit lagi jam pelajaran sudah habis untuk hari ini dan ia pun bisa langsung pergi ke rumah Gery untuk kerja kelompok. (Namakamu)
1 2 3 .. tettttttt!!!!
Bell pulang sudah berbunyi, seluruh siswa/i ada yang sudah keluar lebih dulu tadi, disusul dengan beberapa murid yang akan dikelas hingga semua sudah keluar menyisakan (namakamu), Zidny, Gery, Ilham, dan Rara.
"Cepet Ger, kita ke rumah lo." Ucap Zidny yang bangkit dari duduknya dan membangunkan Gery.
Gery mendongak, ia mencoba mengembalikan nyawanya yang sempat hilang. "Jadi ke rumah gue?" Tanyanya seraya bangkit dengan mengusap kedua matanya.
Rara berdeham. "Ayo, biar pulangnya cepet."
"Gue nebeng lo, Ger." Timpal Ilham.
Gery berdeham dan bangkit, "Ayo deh."
(Namakamu) mengambil tasnya. "Ayo, gue tunggu parkiran." Ucap (namakamu) yang berjalan keluar dari kelasnya.
"Gue nyusul ya ke rumah Gery, nanti gue bawain makanan deh." Ucap Zidny.
"Yang banyak!!" Seru Rara.
"Mejeng mulu nih cabe." Sindir Ilham.
Zidny tersenyum. "Maklumin lah, penganten baru." Katanya bercanda.
Ilham bergidig. "Dasar!"
"Cepet Zid, jangan lama-lama tapi." Ucap Gery.
Zidny mengangguk. Ia berlari keluar untuk menyusul (namakamu), namun ternyata (namakamu) masih ada diluar kelas dan tengah menerima telfon dari seseorang. Zidny menghampirinya.
"Siapa?"
(Namakamu) menjauhkan handphone-nya dari telinga lalu tersenyum. "Devano *****." Katanya pelan, lalu ia menempelkan handphone-nya kembali ditelinga.
Zidny menggeleng pelan. "Gila ya?"
(Namakamu) terkekeh kecil, ia menimpali Devano sesekali. Lalu mematikan saluran telfonnya saat sudah berada dikoridor lantai satu.
"(Namakamu)."
(Namakamu) menoleh, begitu pun dengan Zidny.
"Handphone." Ucap Iqbaal, ya itu Iqbaal. Iqbaal yang sudah siap untuk pergi dengan tas serut dipunggungnya.
"Baru ngecas sebentar padahal." Ucap (namakamu) yang merogoh tasnya.
"Gue—"
"Duluan ya, (nam), baal." Zidny pamit pergi.
Iqbaal menatap Zidny sekilas sebelum kembali menatap gadisnya yang memberi anggukan kecil untuk Zidny.
"Ih, mana sih." Kesal (namakamu) yang mencoba mencari handphone Iqbaal didalam tasnya. Kesel sendiri mbaknya.-.
"Mau bawa PB nya dong," Ucap Iqbaal.
(Namakamu) berdecak. "Tardulu, ini aja susah diambilnya."
Suara dering ponsel (namakamu) terdengar menunjukkan satu panggilan masuk dari seseorang. (Namakamu) berdecak, situasi seperti ini siapa sih yang menelfonnya.
Iqbaal mengambil alih handphone milik (namakamu), membaca nama orang yang tertera disana. Ia langsung menunjukkan tatapan tak biasa untuk (namakamu).
"Devano?"
Damn.
(Namakamu) terbelakak, "Hah?"
Iqbaal diam sejenak, sebelum ia mengangkat telfon itu dan menempelkan handphone-nya ditelinganya. (Namakamu) terdiam, mati sudah dia sebentar lagi.....
"Oh, sama-sama Dev!"
(Namakamu) meneguk salivanya susah payah saat Iqbaal membalas ucapan Devano yang entah apa itu. (Namakamu) terdiam dengan 1000 perasaan yang bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
"Baal—"
"Mana hp nya?" Tanya Iqbaal langsung mengubah nada bicaranya menjadi dingin. Aih..
(Namakamu) menyerahkannya beserta power bank dalam keadaan handphone itu masih dicas. Iqbaal mengembalikan ponselnya dan langsung pergi, ih!
Ini yang (namakamu) takuti, Iqbaal marah. Jarang memang Iqbaal seperti ini, tapi apabila sudah begini, ampuuun tidak ada obatnya! (Namakamu) sudah membangunkan macan tidur.
(Namakamu) mengejarnya, menggapai tangan Iqbaal. "Baal, ih." Ucapnya pelan, namun Iqbaal masih berjalan saja seperti tidak perduli.
"Baal, dengerin dulu.." Ucap (namakamu) mencoba menghentikan langkah Iqbaal dengan menahan lengan pria iu yang sangat amat kuat.
Iqbaal berhenti, menatapnya datar. "Apa sih? Katanya mau kerkom, yaudah sana. Gue udah ditunggu Kipe." Ucapnya datar.
"Iqbaal jangan marah," Ucap (namakamu) yang sangat merasa bersalah dan takut.
"Siapa yang marah?" Tanya Iqbaal yang justru membuat (namakamu) semakin yakin bahwa Iqbaal marah besar padanya.
"Iqbaal—"
"Udah ah," Iqbaal menepis tangan (namakamu) dan kembali berjalan meninggalkan gadis malang itu.
(Namakamu) berdecak, ia kembali berlari mengejar Iqbaal sampai ke parkiran. Ah, pria itu cepat sekali langkahnya.
"Iqbaal." Seru (namakamu) yang sekarang malah menarik ujung baju Iqbaal membuat Iqbaal berdecak dan kembali menepis tangan (namakamu).
"Baal, jangan gitu. Devano—"
"Terus? Gue gak ada urusan."
"Ahelah, waktu itu cuma nganterin beli kado doang buat Kak Salsa, udah."
"Yaudah." Jawab Iqbaal simple.
(Namakamu) mendengus. "Baal, ih!"
Iqbaal kembali melanjutkan langkahnya, ia benar-benar marah. (Namakamu) berdecak, ia kembali mengejar Iqbaal.
"Baal, maaf deh kalo salah."
"Kalo?" Tanya Iqbaal tidak percaya, dipikirannya (namakamu) sudah pasti salah, tapi kata gadis itu 'kalo salah' ? Hmm, membuat Iqbaal naik pitam.
(Namakamu) merutuki dirinya, bodoh juga ya dia. "Maksudnya—"
"Gila ya, gak ngerti lagi gue." Potong Iqbaal.
"Baal. Iya, maaf maksudnya. Gue tau gue salah, minta maaf. Gak ada maksud, itu juga kan mendadak dia minta temenin nyari kado masa gue tolak—"
"Iya lah jelas gak akan ditolak," Samber Iqbaal cepat seraya membuka jok motornya untuk menaruh tas berisikan jersey miliknya.
"Bukan gitu, baal. Gue waktu itu juga mau minta izin, mau ngomong, tapi lo kemana? Lo aja gak ada kabar waktu di Bandung." Tutur (namakamu) membela diri.
"Terus pas gue udah balik lo kemana? Gak ada tuh cerita-cerita sama gue." Balas Iqbaal santai namun mampu membuat (namakamu) terdiam.
"Ya kan gak penting." Sahut (namakamu) cepat.
"Bagi lo." Balas Iqbaal, lagi.
(Namakamu) mendengus. "Lagian juga kan gak ada apa-apa, gak penting juga diceritain."
"Nunggu ada apa-apa dulu baru mau cerita?" Tanya Iqbaal santai seraya menutup kembali jok motornya.
"Ya gak gitu juga, Iqbaal. Iqbaal dengerin dulu," Ucap (namakamu) menarik tangan Iqbaal, pria itu sudah duduk diatas motor dan ingin menyalakan motor.
"Dengerin apaan sih? Daritadi juga udah didengerin kan? Lo ngomong cuma muter disitu-situ doang." Tutur Iqbaal menatap (namakamu) jengah.
(Namakamu) menyerut kesal. "Udah inci itu, mangkanya jangan baper dulu."
Iqbaal berdecih. "Itu tujuannya, mau cari kado. Selebihnya? Gak tau deh ngapain." Sindirnya.
(Namakamu) terdiam.
"Udah ah, gue ditunggu Kipe." Ucap Iqbaal yang sudah ingin menyalakan motornya, namun lagi lagi ditahan oleh (namakamu).
"Baal, maafffff.."
Iqbaal menatapnya. "Itung coba dari awal sampe akhir, berapa kali lo boongin gue?"
"Ya maaf gak cerita," Lirih (namakamu) pelan, ia takut.
"Gue diem bukan berarti gue gak tau apa-apa, gue nunggu lo cerita sama gue tapi sayangnya enggak sama sekali. Gue gak marah—mungkin marahnya gak akan kayak gini kalo dari awal lo cerita, kan enak daripada gue tau dari mulut orang lain, kan lebih gak enak."
(Namakamu) terdiam, ia masih melingkarkan tangannya ditangan Iqbaal untuk menahan pria itu agar tidak pergi.
Seharusnya (namakamu) memang mengikuti nasihat Zidny dan seharusnya ia tahu bahwa mata-mata Iqbaal sangat banyak sekali, ahhhhhh menyesal.
"Waktu itu pulang jam berapa?" Tanya Iqbaal.
"9."
"Jam berapa?!" Tanya Iqbaal lagi, pelan namun sinis.
"Setengah 10."
"Jam berapa, (namakamu)?" Tanya Iqbaal lagi, kali ini sudah ketus.
"11." Jawab (namakamu) pasrah.
"Masalah jam aja masih boong, gimana sama yang lainnya?"
"Iqbaallll..." Rengek (namakamu) yang benar-benar frustasi, sulit melawan Iqbaal asal kalian tahu.
Iqbaal menatapnya datar, "Ngapain aja pulang malem begitu? Inget gak cewek gak boleh pulang malem?!"
"Udah izin sama Mama, kapan lagi—"
"Kapan lagi jalan gitu kan? Mumpung gak ada Iqbaal gila seneng banget bebassss." Sindir Iqbaal sinis.
"Gak gitu, baal." Samber (namakamu) cepat.
"Gak gitu gimana? Lo aja mau jalan sama dia karena lagi kesel kan sama gue?"
Ugh.
(Namakamu) lagi lagi dibuat diam karena pertanyaan Iqbaal, Iqbaal tahu darimana?!
"Udah lah ah," Iqbaal berdecih, ingin sekali pergi dari sini, sakit hati Iqbaal.
TINNN..TINN..
(Namakamu) dan Iqbaal sama-sama menoleh ke arah 2 motor yang lewat, satu motor dibawa oleh seorang gadis dan satu lagi oleh kedua pria.
"Ayooo!" Teriak Gery sekilas menatap (namakamu) dan Iqbaal.
(Namakamu) hanya diam, begitupun dengan Iqbaal.
"Udah sana," Ucap Iqbaal terkesan mengusir.
(Namakamu) mundur, membiarkan Iqbaal mengeluarkan motor dan pergi meninggalkannya. (Namakamu) berdecak kesal, memegangi keningnya dan merutuki dirinya sendiri.
Bodoh sekali kau, (namakamu).
*****
Satu jam setengah berada di rumah Gery dengan perasaan kacau, (namakamu) hanya bisa diam seraya bersandar didinding. Ia menatap kosong ke arah depan, menatap Rara dan Ilham yang tengah mengetik diatas keyboard laptop milik Gery. Tidak selesai-selesai karena sedaritadi hanya bercanda dan makan saja, ditambah Gery yang terus nyerocos gibah tiada henti. Belum lagi Zidny yang tidak kunjung datang.
Masa bodo, sekarang mah pikiran (namakamu) cuma Iqbaal aja.
__ADS_1
(Namakamu) menatap layar handphone yang menampilkan chat dari Zidny yang katanya sudah otw ke rumah Gery. Lama sekali sih dia, (namakamu) butuh dia sekarang! Mau curhat!!
"Assalamualaikum..."
Semua menoleh dan sama-sama menjawab salam dari Zidny yang datang dengan membawa sebungkus plastik isi makanan ringan. Zidny tercengir dan melemparkan plastik itu ditengah-tengah.
"Tuh makanan buat lo para kaum kelaparan." Ucap Zidny.
"Lama banget lo, udah mau selesai ini." Seru Ilham.
"Santuy!!! Kalo udah selesai ya bagus dong." Balas Zidny yang langsung mengalihkan pandangannya pada (namakamu).
"Eh, gimana-gimana, si Iqbaal kenapa? Lagian lo sih goblok banget!" Ucap Zidny mulai bacotnya.
(Namakamu) berdecak, ia menoyor pipi Zidny pelan, bacotnya itu membuat semua langsung menatap ke arah (namakamu).
"Ada gosip apa nih?" Tanya Gery semangat.
"Ini nih, temen lo goblok banget Ger! Masa jalan sama mantannya, ketauan deh sama Baby Iqbaal, berantem deh!!!" Ucap Zidny rempong sendiri.
Gery melotot. "Pantes aja daritadi diem terus, udah di talak tilu?" Tanya Gery menatap (namakamu).
(Namakamu) berdecak. "Iya putus. Puas?!"
"HAAH?!" Semua terkejut, Rara dan Ilham pun ikut menoleh dan kaget. Pasalnya, semua tahu IqNam adalah couple terbombastis di sekolah, terus tiba-tiba putus? Gosip panas bukan?
"Beneran putus?" Tanya Gery kaget.
"Kok putus?" Tanya Rara.
"Bisa gitu," Gumam Ilham.
"Pantesaannn......" Ucap Zidny menggantung membuat semua menatapnya dengan penasaran, begitu pun dengan (namakamu).
"Apa?" Tanya (namakamu).
"Gak jadi. Ini udah belum tugasnya?" Tanya Zidny menatap Rara dan Ilham.
"Udah, tinggal salin doang." Jawab Rara yang menyalin tugas itu dan menyimpannya kembali.
"Ini tugas tinggal pindahin flashdisk, mana flashdisk lo, Ger?" Tanya Ilham.
"Itu bego samping lo." Jawab Gery seraya membuka makanan yang dibawa Zidny tadi.
"Lo beneran putus gak sama Iqbaal? Lo kan ngomong doang putus tapi masih suka peluk-peluk." Ucap Zidny seenaknya.
"Ih, apa sih!"
"Kayak waktu itu ya Ger, bilangnya putus tapi pas sampe sekolah lagi ngapain mereka???" Ucap Zidny.
"***." Jawab Gery asal.
(Namakamu) melempar Gery dengan buku tulis yang ada, "Enak aja! Mana pernah gue begitu!!" Omelnya.
"Masa sih?" Balas Gery tidak percaya.
"Enggak. Gue enggak putus, masalah doang nih gara-gara Devano nelfon terus yang jawab Iqbaal."
"Lah *****, terus?" Tanya Gery kepo.
"Gue gak tau apa yang diomongin, tapi muka Iqbaal langsung asem, terus berantem deh diparkiran tadi. Pas lo lagi manggil gue Ger, itu gue lagi kena skakmatnya Iqbaal tau mangkanya gue diem aja." Tutur (namakamu).
"Pantesan lo diem aja tadi." Balas Gery.
"Tapi tadi masih gandengan aja," Seru Ilham menimpali.
"Yaa itu gue nahan, kalo enggak nanti udah pergi dia. Guekan gak mau dia pergi," Ucap (namakamu) melemah diakhir.
Zidny menoyor kening (namakamu) pelan, "Gak mau pergi tapi kelakuan lo bejat banget."
(Namakamu) tertawa kecil. "Udah ah, gue gak mau ketawa. Ini gimana dong Iqbaal marah," Ucapnya pada Zidny.
"Cium." Balas Zidny asal.
"Otak lo mesum banget sih Zid, pantesan cowok-cowok pada mau sama lo!" Samber Gery seraya menendang kaki Zidny dengan kakinya.
"Hehhh anda punya mulut dijaga ya!!" Ucap Zidny sinis.
"Eh, ini udah selesai. Gue balik duluan ya, mau les." Ucap Rara.
"Eh iya Ra." Jawab Gery.
Rara bangkit dan pergi keluar dari rumah Gery. Disaat Rara pergi, Zidny baru mendekati (namakamu) dan menepuk-nepuk bahu (namakamu) pelan.
"Lo tau gak, tadi gue ketemu Iqbaal lagi boncengan sama cewek." Ucap Zidny pelan membuat (namakamu) menatapnya serius, begitupun dengan Gery.
"Ceweknya si Vanesha.." Lanjut Zidny yang membuat (namakamu) menyerit.
"Lo jangan ngada-ngada Zid!" Tegur Gery.
"Enggak, gue serius. Mangkanya pas lo bilang putus, gue kira beneran." Ucap Zidny pada (namakamu).
"Lo ketemu dimana?" Tanya Gery.
"Pas belokan mau masuk Gang samping masjid itu loh, pas mau tanjakan." Tutur Zidny detail.
"Bener? Dia bilang sama gue mau futsal," Ujar (namakamu) mulai kesal.
"Ya mungkin aja emang mau futsal." Jawab Ilham seraya membereskan laptop kedalam tasnya.
"Yaa tapi dia bilangnya mau futsal sama Kipe *****, kenapa jadi sama si centil itu?!" Balas (namakamu) membanting handphonenya pelan.
"Santaiiii..." Ucap Gery mengelus pelan bahu (namakamu) yang naik turun.
"Mau bales dendam kali dia sama lo," Celetuk Zidny yang disertai kekehan kecil.
"Nah bisa jadi." Timpal Ilham.
"Bisa sih, dia kan cemburu tuh sama mantan lo. Siapa tau aja dia balesnya lewat Vanesha buat bikin lo cemburu juga, soalnya dia tau lo cemburuan sama Vanesha." Tambah Gery.
"Wah bener-bener, awas aja besok." Gumam (namakamu).
"Eeee lo jangan marah sama Baby Iqbaal gue." Ucap Zidny tak setuju.
"Gimana gak marah? Masa gitu sih, gue udah minta maaf dia malah bales dendam!" Kesal (namakamu).
"Yaa lo mikir lah tolol, Iqbaal aja lagi marah sama lo masa tiba-tiba lo juga marah sama dia, gak ada jalan tengahnya dong kalo sama-sama gede ego mah." Tutur Zidny menasihati.
"Yaa harusnya—"
"Lo jangan ngarepin Iqbaal yang ngalah terus (nam). Kan gue udah pernah bilang, gak selamanya Iqbaal bakal begitu. Lo juga sesekali lah ngertiin Iqbaal, kalo lo gak mau ngertiin Iqbaal yaudah, gue aja sini yang ngertiin dia," Potong Zidny yang berujung sebuah toyoran dipipi dari Gery.
"Ya logika dong, berapa kali gue bilang sama dia gue gak suka dia deket-deket Vanesha masa begitu lagi? Maksudnya apa coba, gak jelas!!" Balas (namakamu) emosi.
"Lo emosi, Iqbaal juga emosi. Yaudah, solusinya mending langsung talak tilu aja biar gak ribet." Celetuk Ilham enteng.
"Talak tilu mulu daritadi, gue gak mau. Apapun asal jangan pisah, kalo cuma pisah ranjang gapapa deh." Ucap (namakamu) frustasi.
"Mangkanya nurut kalo dibilangin sama Iqbaal, baru ditinggal gak ada kabar aja udah jalan sama mantan. Gimana Iqbaal mau betah punya bini kayak lo?" Sindir Zidny.
"Laknat ah, dibahas mulu, gue kan khilaf."
"Khilaf kok keterusan."
"Ihhhhh, cukuppp!"
-------
(Namakamu) menghempaskan tubuhnya diatas ranjang setelah mengganti pakaiannya dengan piyama pendek, mandi di jam 7 malam menyegarkan dan dibutuhkan untuknya untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya, meski ia tahu itu tidak baik dan mengundang penyakit. (Namakamu) membuka handphonenya, menaik turunkan jemarinya disana untuk menyusuri beranda instagramnya. Memang tidak ada yang menarik, tapi ia suka saja melihat postingan teman-temanya bersama— kekasih mereka.
(Namakamu) mengingat-ingat kapan terakhir kalinya ia mem-posting foto bersama Iqbaal, uumm... kira-kira 5 bulan lalu dan itupun foto culun yang ia edit sedemikian rupanya. Aih, malu. Untungnya foto itu sudah ia arsipkan dan— ya, tidak ada foto dirinya bersama Iqbaal diakun instagramnya.
Mengingat Iqbaal, pria itu sama sekali belum mengabarinya sampai malam ini, apa pria itu marah beneran? Duh, (namakamu), mana ada boongan sih?! Kamu keterlaluan soalnya.
(Namakamu) beralih membuka Line dan langsung menekan chat dengan nama kekasihnya, ia tidak malu lagi untuk men-chat Iqbaal duluan beda waktu zaman pdkt, gengsiiiiii.
(Namakamu) men-spam chat sampai kira-kira ada 10 lebih dan dibalas hanya dengan satu kata dari Iqbaal, yaitu 'ha'
(Namakamu) membalasnya lagi dengan menanyakan keberadaan Iqbaal sekarang dimana, dalam kurun waktu 10 menit pria jangkung berhidung mancung itu sudah membalasnya lagi. Katanya dia sedang di rumah.
(Namakamu) menggigit bibir bawahnya, meyakinkan hatinya 100% sebelum menghubungi Iqbaal lewat panggilan suara. Jujur ia bingung harus kembali meminta maaf atau harus marah karena kekasihnya itu pergi dengan Vanesha. Saat sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba suara Iqbaal dari sebrang sana mengejutkannya.
"Baalllllll," Panggil (namakamu) pelan, masih takut sebenarnya, tapi... Gimana ya..
'Apaan?'
"Iqbaal masih marah ya?" Tanya (namakamu) dengan hati-hati.
Iqbaal disana diam, sebelum hanya berdeham pelan saja.
(Namakamu) menepuk jidatnya pelan, ia bodoh sekali melontarkan pertanyaan itu. "Iqbaal.. (namakamu) udah minta maaf, masa gak dimaafin sih.." Ucapnya masih dengan nada pelan.
'Terus?'
"Baal, waktu itu kan dia cuma ngajakin—maksudnya minta anterin beli kado buat Kak Salsa, udah. Terus gue dijajanin sebagai tanda terima kasih udah gitu, masa ditolak kan sayang." Tutur (namakamu), jemari lentiknya memainkan case handphonenya yang ia lepas sebelumnya.
'Sayang orangnya?'
"Dih, kok orangnya sih?" Ucap (namakamu) cepat dengan nada sedikit bingung.
'Ya.. terus?'
"Udah, baal. Gue gak bisa cerita inci, kalo masih gak percaya tanya aja nanti gue jelasin."
'Tadi aja ditanya jawabannya ngawur.' Iqbaal berucap, terdengar seperti sindiran bagi (namakamu).
"Enggak deh.." Lirih (namakamu).
'Makan dimana?'
"Yaa disana, difood—"
'Minumnya?' Tanya Iqbaal cepat.
"Ya disana juga. Iqbaal nanyanya yang bener," Protes (namakamu), hal yang tidak penting saja dipertanyakan, heran.
'Bukannya mampir ke Starbucks dulu?'
Damn.
(Namakamu) memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya kuat. Astaga, siapa sih mata-matanya Iqbaal?! Rasanya mau ia bakar sekarang juga!!
(Namakamu) menelan salivanya susah payah, "Baal, itu cuma mampir sebentar, cuma mau—"
(Namakamu) berdecak. "Enggak, jangan souzon!"
'Jangan bohong!'
(Namakamu) berdecih pelan, ia mengusap wajahnya kasar. "Baal, lo—"
'Gue ngantuk ah, mau tidur.'
"Baru jam setengah 8 kurang." Jawab (namakamu) spontan saat melihat jam yang ada diatas layar handphonenya.
'Terus ngantuk harus nunggu jam berapa? Udah ah.'
"Baal—"
Tutt...tutt..
(Namakamu) berdecak sebal saat Iqbaal mematikan saluran telfon itu secara sepihak. (Namakamu) merutuki sifat Iqbaal yang satu itu, jarang Iqbaal seperti ini. (Namakamu) ingin mengangkat bendera putih saja rasanya, tidak kuat dan tidak mengerti cara membujuk Iqbaal yang sudah terlanjur marah, bukan marah mungkin, lebih ke kecewa.
(Namakamu) membawa handphonenya untuk men-charge, setelah itu ia bangkit dari duduknya untuk keluar dari kamar menghampiri keluarganya yang tengah menonton salah satu acara lawak di televisi dengan posisi Fajri—adiknya, yang tertidur diatas sofa memeluk bantal sofa.
"Kamu udah makan belum?" Tanya Ayah (namakamu) yang mendapat gelengan lemas dari (namakamu).
"Mama tadi dikasih bingkisan dari acara pernikahan temen Mama, diatas meja dapur, kalo mau buka dibuka aja ya, (nam)." Tutur sang Mama yang sibuk dengan buku resep masakan.
(Namakamu) berdeham seraya menjatuhkan bokongnya diatas sofa. "Iya, Ma."
*****
(Namakamu) berlarian kecil ke arah kamar mandi sekolah, sejak tadi perutnya sangat tidak bisa diajak kompromi, selalu saja melilit. (Namakamu) seharusnya tidak memaksakan masuk hari ini, tadi pagi ia tiba-tiba mendapat jatahnya datang bulan dibulan ini, diluar dari jadwal biasanya. Pantas semalaman tadi ia merasa tidak enak pada perutnya.
(Namakamu) menatap dirinya sendiri dikaca yang ada, membenarkan rambutnya yang tergerai itu. (Namakamu) menghela nafasnya dan memegangi perutnya yang sebentar reda, lalu beberapa menit kemudian nyeri lagi. Kenapa PMS itu menyiksa? Ih.
(Namakamu) bersikap sewajarnya saat beberapa anak gadis kelas 10 masuk untuk pergi ke kamar mandi dan ada juga yang hanya sekedar berkaca membenahi penampilan, mereka sedikit jaga jarak dengan (namakamu) karena mungkin minder, (namakamu) ternyata dari dekat sangat cantik!
(Namakamu) menguncir rambutnya dengan kunciran berwarna pink yang sejak tadi ia jadikan gelang. Disaat sedang membenahi rambutnya, tiga orang gadis dari kelas 11 datang, satu diantara mereka membuat (namakamu) mengubah raut wajah menjadi sinis.
"Eh, kak, kebetulan."
(Namakamu) menoleh saat gadis itu mengajaknya berbicara, (namakamu) menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Punya kak Iqbaal." Katanya seraya menyerahkan jam tangan berwarna hitam dengan senyum sedikit miring.
(Namakamu) berdecih dalam hati.
"Ketinggalan semalem, mau balikin tapi kayaknya kak Iqbaal gak masuk. Nih, ambil." Ucapnya, lagi.
(Namakamu) mengambilnya—oh, atau lebih tepatnya merampas secara kasar dari tangan gadis itu dan pergi meninggalkannya bersama dua orang temannya yang hanya mampu melihat. (Namakamu) menggenggam erat jam tangan Iqbaal sehingga tangannya sekarang berbentuk kepalan yang siap ia layangkan untuk Iqbaal.
Tunggu, apa kata gadis itu? Iqbaal tidak masuk? Jelas-jelas Iqbaal ada di sekolah dari tadi keluyuran, mata gadis itu tidak berfungsi ya?! Atau sengaja ingin membuat (namakamu) cemburu dan berkelahi dengan Iqbaal? Ahhhh, masalah yang kemarin saja belum selesai, sudah tambah lagi yang baru.
(Namakamu) berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat, kedua matanya terus mencari-cari keberadaan Iqbaal, biasanya mendekati istirahat Iqbaal selalu ada di lapangan belakang untuk bermain sepak bola.
Nah kan benar!
(Namakamu) berdiri dipinggir, menyerukan nama Iqbaal berulang-ulang sampai pria itu menoleh. Iqbaal menyerit dan menghampiri (namakamu) yang sudah memasang wajah sebal.
"Apaan sih?"
"Nih, punya lo?!" Ucap (namakamu) cepat seraya menyerahkan jam tangan itu secara kasar.
Iqbaal menyerit. "Kok—"
"Kenapa?! Gila ya, lo gila, super gila!!" Ucap (namakamu) sinis.
Iqbaal semakin menyerit. "Apaan sih? Gila apaan? Lo kali tuh gila dateng-dateng langsung marah!" Balasnya.
"Itu jam punya siapa?" Tanya (namakamu) tegas.
Iqbaal diam beberapa detik mendengar suara (namakamu). "Gue." Jawabnya.
(Namakamu) menghela nafasnya gusar. "Ini tuh ceritanya apa sih? Lo mau bales dendam sama gue karena gue jalan sama Devano diem-diem terus lo mau juga gitu?! Gue kan udah minta maaf, udah gue jelasin juga gue gak ngapa-ngapain, lo kenapa sih kayak gitu?" Tanyanya emosi.
Iqbaal melihat sekeliling, Bell akan bunyi beberapa menit lagi tetapi murid sudah banyak yang keluar untuk menuju kantin. Iqbaal menatap (namakamu) yang sangat terlihat emosi, lalu menarik lengan (namakamu) menuju sebuah kelas yang tidak terlalu didekat lapangan belakang.
"Ih, apaan sih, jawab dulu!!" Bentak (namakamu) sepuas hatinya karena sudah jauh dari khalayak orang. Hanya ada dirinya dan Iqbaal disana.
"Apaan sih? Jawab apa?!" Tanya Iqbaal terheran-heran.
"Lo jalan kan sama Vanesha kemarin?" Tanya (namakamu) tidak santai.
Iqbaal menyerit, kaget dan kebingungan. "Ngaco!"
"Emang! Banyak buktinya."
"Apa? Mana?"
"Ada banyak yang ngeliat lo boncengan sama cewek itu pulang sekolah, pantes aja kemarin buru-buru terus sampe ninggalin gue diparkiran. Ternyata mau pergi sama dia?!" Sengit (namakamu).
Iqbaal mendesah sebal, ia menatap (namakamu). "Lo salah soal itu, dengerin nih—"
"Au ah bodo," Ketus (namakamu) yang mau pergi meninggalkan Iqbaal. Namun laki-laki itu menahan lengannya dengan spontan.
"Aw sakit!" Ringis (namakamu) memukul tangan Iqbaal.
Iqbaal berdecak. "Dengerin dulu kenapa sih!"
"Gak mau, basi." Balas (namakamu) terlanjur marah.
"Tuh lo mah begitu, kalo ada apa-apa maunya didengerin tapi gak pernah mau dengerin gue, ngambil kesimpulan sendiri." Tutur Iqbaal yang masih biasa, belum terlalu terpancing emosi.
(Namakamu) hanya berdecih, ia melipat kedua tangannya didepan dada, pandangannya tertuju pada pintu yang setengah terbuka menampilkan pemandangan lapangan yang masih ada teman-teman Iqbaal bermain bola disana.
"Masalah Vanesha, lo tau kan.. gue juga udah bilang kalo mau pergi beli bola buat—"
"Tapi kemarin bilangnya pergi sama Kipe," Potong (namakamu) cepat menatap jengkel Iqbaal yang langsung mendesah frustasi.
"Diem dulu." Ucap Iqbaal gregetan.
Iqbaal membuang nafasnya pelan saat sudah melihat (namakamu) kembali memasang wajah merajuk dengan melihat kesembarang arah.
"Gue kira sedikit, ternyata banyak barang yang harus dibawa. Akhirnya Pak Hadi nyuruh Vanesha ikut buat bantuin bawa barang, udah gak ada lagi."Tutur iqbaal menjelaskan
"Terus abis itu pergi kan pulang malem sampe jam aja ketinggalan?! Padahal waktu gue telfon lo, lo bilang lagi di rumah mau tidur!" Cerocos (namakamu) menimpali.
"Masalah jam, itu yang pake sama Gusti. Jam gue dipinjem sama Gusti, gue mana tau. Lo berapa lama sih kenal sama gue? Lo tau kan gue gak suka pake jam tangan, itu aja jam tangan boleh dikasih sama sepupu gue bukan gue beli." Jawab Iqbaal panjang lebar.
(Namakamu) bungkam. Seharusnya ia percaya karena cukup masuk akal jawaban Iqbaal yang ia tidak bisa memastikannya benar atau tidak, atau setengah benar dan setengah salah? Ih.
(Namakamu) menatapnya. "Vanesha sendiri yang bilang katanya—"
"Percaya Vanesha apa gue?" Tanya Iqbaal langsung.
(Namakamu) kembali bungkam. Ia menyerutkan bibirnya, jelas ia lebih percaya Iqbaal, tapi Vanesha? Apa gadis itu mengarang? Apa gadis itu pura-pura untuk membuat (namakamu) cemburu? Gila, berani sekali gadis bau kencur itu.
"Mangkanya kalo ada apa-apa itu cari tau dulu, jangan asal ambil keputusan sendiri aja." Ucap Iqbaal biasa, namun (namakamu) bisa merasakan rasa kesal tertahan dari seorang Iqbaal.
"Segala bilang gue mau bales dendam lah, gak salah?" Tanya Iqbaal yang membuat (namakamu) menoleh ke arahnya.
"Lo sengaja ya bawa-bawa Vanesha biar disini kesannya gue yang salah? Masalah kemarin aja belum selesai, mau nambah lagi?" Tanya Iqbaal curiga.
(Namakamu) menyerit. "Ih, apaan sih? Lagian ngapain sih deket-deket sama dia? Tau kan gue gak suka?"
"Nah lo tau kan gue gak suka sama Devano, ngapain masih jalan?" Tanya balik Iqbaal membuat (namakamu) diam beberapa detik sebelum bibir tipisnya kembali menimpali.
"Kan udah dibilangin, gue cuma nganterin doang ngapain harus diperdebatin lagi sih?" Tanya (namakamu) kembali tersulut.
"Yaudah lo juga stop dong masalahin Vanesha terus," Balas Iqbaal berusaha mengontrol nada bicaranya.
(Namakamu) berdecak. "Jauhin pokoknya!"
Iqbaal mengusap wajahnya kasar, kenapa ia harus memiliki kekasih dengan sifat yang sangat posesif? jujur, ia suka, tapi tidak harus berlebihan seperti ini.
"(Nam), udahlah.." Ucap Iqbaal memegang kedua bahu (namakamu) seraya menatapnya sendu.
(Namakamu) masih memasang wajah garang, tidak luntur. Iqbaal harus bisa bertanggung jawab karena sudah membuat (namakamu) cemburu, hahaha rasakan!!
"Gue aja gak pernah protes kalo lo mau jalan sama siapa aja asal lo ngomong sama gue, masa masalah ginian aja harus banget pake emosi?"
"Siapa suruh gak pernah mau protes?" Tanya balik (namakamu) ketus.
Iqbaal kembali menarik tangannya, namun masih tetap menatap (namakamu) meski tatapan itu berubah menjadi datar. "Bisa lo ngadepin gue kalo gue posesif?"
(Namakamu) diam, ia tidak yakin sih..
"Udah lupain, jangan diulangin lagi, apapun itu." Ucap Iqbaal berubah menjadi lembut yang membuat (namakamu) luluh, (namakamu) melunturkan wajah sangarnya, sebenarnya jauh dalam hatinya ia ingin menangis.
Iqbaal menatap (namakamu) penuh kelembutan, namun sayang gadis itu memilih menatap ke arah pintu. Meski ekspresinya datar, Iqbaal yakini kedua mata itu sudah tidak kuat menahan air yang ingin terjun. Iqbaal paham, sudah sangat paham soal itu.
(Namakamu) merasakan dirinya ditarik ke dalam sebuah pelukan hangat, (namakamu) terdiam saat Iqbaal mulai mendekapnya. (Namakamu) tidak kuat, beberapa menit menahan akhirnya cairan bening itu terjun bebas, bukan membasahi pipinya, tetapi membasahi seragam Iqbaal dibagian bahu.
(Namakamu) merasakan hatinya kini tengah diaduk-aduk, semua perasaan ada didalam sana bercampur menjadi satu. Intinya ia harus banyak-banyak bersyukur karena ia memilih Iqbaal yang meski sedikit kasar, laki-laki itu tidak pernah ringan tangan dan selalu menjaga tutur katanya.
"Maafffff.." Bisik Iqbaal pelan, laki-laki itu bahkan mengucap maaf padahal bukan sepenuhnya salahnya, ini juga ada salah (namakamu) yang terlalu cepat termakan api cemburu.
(Namakamu) terisak, ia menggeleng pelan dan baru membalas pelukan Iqbaal itu, mengangkat kedua tangannya untuk dilingkarkan dipinggang pria itu.
"Maaafff," Balas (namakamu) juga dengan pelan.
Iqbaal tersenyum, ia mengusap rambut (namakamu) yang terkuncir itu, perlahan turun ke punggung (namakamu) memberi usapan untuk menenangkan gadisnya.
"Udah, jangan nangis." Ucap Iqbaal merenggangkan pelukannya, ia mengusap sisa air mata yang ada disudut mata (namakamu) dengan ibu jarinya.
Cklek..
(Namakamu) maupun Iqbaal sama-sama menoleh ke arah pintu, seorang pria memakai topi hitam terlihat terkejut, lalu menghampiri keduanya dengan membawa map berwarna merah.
"Aduh, ganggu gak?" Tanyanya.
Iqbaal menggeleng. "Gak. Ada apa sih, Gus?" Tanyanya.
Gusti, pria itu menyerahkan map yang ia bawa. "Nih, strategi buat team cewek, menurut lo gimana?"
(Namakamu) berpindah posisi menjadi dibelakang Iqbaal, ia malu dengan Gusti kalau sampai Gusti tahu ia habis menangis. Dibelakang sana, (namakamu) menghapus air matanya dan kembali merapihkan penampilannya, tidak begitu buruk juga sih penampilannya.
"Jadi gini—"
"Duduk aja, pegel berdiri." Ucap Iqbaal yang duduk dibangku panjang dan menaruh map itu diatas meja, disusul dengan (namakamu) yang duduk disamping Iqbaal.
__ADS_1
Gusti menarik bangku kecil disamping Iqbaal, lalu kedua matanya tertuju pada map juga. Sesekali ia melirik (namakamu) yang hanya diam, ada apa sih? Gusti jadi merasa bersalah sudah masuk tadi.
Gusti sekarang fokus pada map, sesekali ia menjelaskan apa yang tidak Iqbaal mengerti. Tak jarang Iqbaal mendengar decihan kecil dari (namakamu) saat nama Vanesha disebut oleh Gusti. Ya, Iqbaal dapat mendengarnya, karena sudah dari beberapa menit lalu (namakamu) menyandarkan kepalanya di bahu Iqbaal dan memeluk pria itu dengan satu tangannya saja yang melingkar di pinggang belakang Iqbaal.
"Gustiiiiiiiii"
"Disini."
Iqbaal mendongak saat Kipe datang dengan membawa bola ditangannya, pelipis, kening, bahkan wajah dan bagian belakang kaosnya sudah basah dengan keringat. Kipe tersenyum lalu berucap, "Menang lawan adik kelas, hadiahnya mending bayar parkir apa bayar minum?" Tanyanya.
"Bayarin uang kas." Celetuk Iqbaal asal.
"Wah boleh juga tuh, asikkk!" Ucap Kipe senang. Namun pandangannya kini beralih pada (namakamu), kemudian bertanya. "Kenapa nih anak? Tumben amat."
Kipe menyerit saat (namakamu) menjawabnya dengan tatapan sinis padanya. "Sinis banget lo, PMS?" Ledek Kipe seraya mengelap keringatnya dengan tangannya, lalu dengan iseng memeperkannya pada tangan (namakamu).
"Ahhhhh!" Kesal (namakamu) yang mengelapnya langsung diroknya. "Iqbaal," Rengeknya pelan.
"Kipe ah!" Ucap Iqbaal menatapnya tajam.
Kipe terkekeh. "Rewel banget sih cewek lo, udah ah gue mau keluar." Ucap Kipe yang kembali keluar dengan menari kemenangan ala Kipe.
Setelah si perusuh itu keluar, datang lagi beberapa anak kelas 11 yang masuk, lebih tepatnya yang akan mengikuti lomba. Ah, pasti ada Vanesha!! (Namakamu) menggerutu didalam hatinya.
(Namakamu) tetap pada posisinya, bersandar pada Iqbaal. Namun bedanya, ia langsung membalikkan wajahnya menatap tembok dengan cat yang luntur dengan tetap menyandarkan kepalanya di bahu Iqbaal.
Biar saja semua lihat, biar saja sekalian Vanesha lihat! Biar saja semua tahu! Iqbaal miliknya, hanya miliknya. Ia tetap bersandar, bahkan kedua tangannya memeluk leher Iqbaal. Tidak apa kan? Ya tidak apa! Ia melakukan ini pada pacarnya kok, pacarnya selama 1 tahun lebih ini, pacar asli! Bukan pacar sewaan, pacar bayaran, apa lagi pacar orang, bukan!
Tidak berlangsung lama, Iqbaal mencolek tangannya lalu berbisik. "Ada Pak Hadi.."
(Namakamu) spontan langsung melepaskannya dan duduk tegap, ia melihat didepannya sudah ada beberapa gadis yang akan mengikuti lomba nanti. (Namakamu) melihat Vanesha yang menatapnya tidak suka, huh!
"Mau main hp," Ucap (namakamu) berbisik pada Iqbaal.
Iqbaal merogoh saku celananya dan memberikan handphone miliknya pada (namakamu). (Namakamu) mulai anteng memainkan handphone Iqbaal detik itu juga, membiarkan Iqbaal dan Gusti memberi arahan pada anak-anak, cie anak-anak.
(Namakamu) terfokus pada beberapa sosial media yang dimiliki Iqbaal, dari mulai instagram, Line, dan beberapa yang lainnya. Sedangkan Iqbaal terus bersuara memberi arahan untuk strategi nanti, sih kalau sedang begitu terlihat sekali berwibawa dan tampan, tampannya naik seratus kali lipat. Tak jarang memang yang mendengarkannya salah fokus dengan wajahnya! uwwwuuu.
(Namakamu) mendongak saat Iqbaal beranjak dari duduknya dan menuju ke depan kelas, menulis sesuatu asal dipapan tulis dengan spidol milik Gusti. Gusti beralih menjadi duduk disamping (namakamu) agar leluasa melihat apa yang Iqbaal akan gambar. Sedangkan semua murid kelas 11 sudah mengambil posisi duduk dibangku yang ada, (namakamu) sedikit risih saat ada Vanesha yang duduk bersebrangan dengannya, seperti sengaja gadis itu ada disana.
(Namakamu) tidak perduli, ia tetap terfokus pada handphone Iqbaal. Ia membuka group Line Futsal yang diberi nama 'Futsal Campuran' yang artinya semua anak yang mengikuti ekskul ini ada disana termasuk Pak Hadi. Disana Iqbaal tidak banyak menanggapi, ia lebih menjadi pembaca saja. (Namakamu) melihat isi dari semua anak futsal, penasaran cuy. (Namakamu) mengeluarkannya saat tidak ada yang aneh, semua masih biasa saja.
"Yaaa, semuanya liat sini bentar deh.."
(Namakamu) bisa mendengar jelas suara Iqbaal yang berat menginstruksikan kepada seluruh yang ada disana, semua terfokus pada Iqbaal sekarang. (Namakamu) bangkit dari duduknya, ia pergi keluar dari dalam sana dengan wajah datar. Iqbaal melihatnya sebentar, lalu mulai kembali melanjutkan ucapannya sampai habis.
*****
(Namakamu) memasang wajah malas saat setelah bell istirahat berbunyi Aldo, ketua kelasnya, memberi pengumuman untuk segera berkumpul di lapangan depan karena ada acara penyuluhan sebentar. Ya, walau sebentar tetapi dengan mood yang tidak baik seperti ini mana mungkin ia ingin.
(Namakamu) saja sudah dari tadi mengeluh sakit perut pada Zidny, sekarang malah disuruh berbaris di lapangan dengan sinar matahari jam 10 yang sudah mulai terasa panasnya.
(Namakamu) duduk disebuah bangku panjang didepan kelas IPS, ia dapat mendengar jelas beberapa dari anak OSIS sudah menyuruh untuk turun dan segera berbaris. Bukan tanpa alasan (namakamu) tiba-tiba duduk, tetapi rasa nyeri dipinggangnya membuat dirinya tidak sanggup untuk berjalan.
(Namakamu) melihat sekeliling, koridor sudah sepi. Sekuat tenaga (namakamu) bangkit dari duduknya dan bersandar pada tembok, matanya tertuju pada arah lapangan yang sudah terdapat beberapa barisan sesuai kelas disana. Matanya mencari ke arah kelas IPA yang selalu berbaris paling pojok, ya, itu kelas Iqbaal. Itu kelasan Iqbaal, tetapi dimana Iqbaal-nya?
"Hey, turunn!"
(Namakamu) tersentak saat seseorang menepuk bahunya pelan dari belakang, ia membalik tubuhnya dan menatap orang itu.
"Gue boleh gak ikut gak? Perut gue sakit," Jawab (namakamu) melirih pada orang yang ternyata adalah seorang pria dengan almamater berwarna maroon, bisa dipastikan bahwa dia itu anak OSIS.
"Kenapa?" Tanyanya santai.
"Gue baru PMS, sakit banget."
"Duduk aja dipinggiran nanti," Suruh orang itu dengan senyum tipis.
(Namakamu) berdecak dalam hati, kenapa sih gak mau ngerti?! Ah kan, sensi lagi dia.
"Yaudah gue turun." Jawab (namakamu) ketus, ia berjalan dengan wajah menggerutu, menuruni satu per satu anak tangga.
(Namakamu) mencari barisan dimana kelasnya, namun sepertinya ini berbaris mengacak. (Namakamu) berjalan menghampiri orang yang ia kenal saja.
"Cait," Serunya.
Caitlin, gadis yang tengah bercanda ria dengan temannya itu menoleh. "Eh, (nam), kenapa?" Tanyanya.
(Namakamu) menghampirinya dengan berjalan pelan, tiba-tiba saja perutnya tidak beres lagi. "Liat Zidny?"
"Zidny? Bukannya pergi ke McD depan ya sama Gery? Liat aja snapwa-nya." Jawab Caitlin.
(Namakamu) terbelakak. "Hah? Demi apa?"
"Coba chat aja."
"Hp gue ada di kelas, huh kurang ajar banget sih tuh orang." Dumel (namakamu) kesal.
"Kenapa emang?" Tanya Caitlin.
"Gapapa, cuma gak enak aja."
"Kenapa? Lo sakit?"
"Biasa Cait, PMS hari pertama."
Caitlin mengangguk paham, sebagai perempuan ia mengerti rasanya.
"(Namakamu)!"
(Namakamu) dan Caitlin menoleh ke arah suara yang memanggil (namakamu). Disana ada Iqbaal yang mengalungkan handuk kecil istimewanya yang sudah menjadi ciri khas dari pria itu sejak kelas 10. Pria itu berdiri tak jauh dari tempat (namakamu) berdiri.
"Tuh dipanggil." Goda Caitlin.
(Namakamu) tersenyum simpul, sebelum akhirnya menghampiri Iqbaal bersama teman-temanya yang berkumpul dibawah pohon kecil. Setelah sudah berdiri disebelah Iqbaal, pria itu justru masih asik mengobrol dengan Abidzar mengenai kaos, entah kaos apa yang mereka bahas.
"Disini aja, jangan kesana-sana." Ucap Iqbaal berbisik, tidak tahu mengapa, Iqbaal sangat tidak suka dengan anak-anak dari jurusan IPS 3, 4 dan 5. Tengil semua.
"Ke Caitlin doang." Balas (namakamu) pelan.
(Namakamu) berjalan menuju tepi untuk duduk berderetan bersama teman-teman sekelas Iqbaal yang ia tidak begitu kenali, tak jauh kok jaraknya dari tempat Iqbaal berdiri, hanya sekitar 3 kaki. (Namakamu) duduk disana dengan tetap memandangi Iqbaal yang tampak fokus mendengarkan Abidzar, tampan sekali..
(Namakamu) melirik teman-teman Iqbaal yang kembali ke barisan saat disuruh oleh salah satu guru. Semua sudah berbaris kembali dengan rapih, ia tidak sanggup berdiri kayaknya.
"Bangun," Suruh Iqbaal.
(Namakamu) berdecak, lalu menggeleng. "Sakit perut," Ucapnya tanpa suara, dengan raut wajah seakan kesakitan.
Iqbaal menyerit. Ia menghampiri gadisnya itu, "Kenapa?"
"Sakit perut, gak mau baris." Ucap (namakamu) mendongak, menatap Iqbaal yang tinggi saat ia dalam posisi duduk.
"UKS aja yuk?" Ajak Iqbaal.
"Gak boleh."
"Sama?"
"OSIS."
"Boleh..."
"Gak boleh ih, tadikan udah coba terus katanya gak boleh."
Iqbaal menatap sekeliling, ia mundur beberapa langkah untuk melihat koridor, sepi. "Ayooo." Ajaknya.
(Namakamu) bangkit, ia mengikuti Iqbaal saja. Iqbaal menyusuri koridor dengan diikuti (namakamu) dibelakangnya, keduanya sama-sama berjalan sampai ke UKS yang hanya ada satu orang disana, itu pun adanya diluar UKS.
"Hey, mau kemana? Baris dulu."
Iqbaal dan (namakamu) menoleh, itu anak OSIS. Iqbaal menatapnya sengit, "Bacot." Katanya.
"Anjing lo, cepet baris dulu." Suruh anak OSIS yang memakai almamater dengan tangan digulung sampai sesikut. Ia menghampiri Iqbaal dengan wajah datar.
"Ah nyuruh doang bisanya, lo aja masih keluyuran," Ucap Iqbaal seraya membuka sepatunya dan menaruhnya dirak sepatu.
"Tugas gue kan cuma nyuruh bocah," Balas Carlos, biasa dipanggil Arlos, anak OSIS yang masuk OSIS karena ingin bisa menegur murid, itu lah tujuannya. Idiot memang.
"Gue bukan bocah." Balas Iqbaal.
"Baris dulu baal, sebentar doang. Lo jangan ngajarin cewek lo nakal napa," Ucap Carlos melirik (namakamu) yang duduk dibangku samping rak, ia memperhatikan Iqbaal dan Carlos berbincang, (namakamu) tahu Carlos tetapi tidak akrab, yang itu tahu pria itu adalah teman satu SMP Iqbaal.
"Biarin sih dia lagi sakit, tega banget lo jadi orang." Ucap Iqbaal men-drama.
"Oh gitu, yaudah dia mah gapapa. Lo baris sana!" Suruh Carlos.
"Gak, panas."
"Heeeuu lebayy."
Iqbaal terkekeh, ia menatap (namakamu). "Masuk aja sana, tiduran."
(Namakamu) hanya mengangguk, ia membuka sepatunya dan masuk ke dalam UKS.
"Baris lo."
"Enak aja!! Gue harus ada disana nemenin dia, nanti kalo dia butuh apa-apa gue harus siap sedia! Gue kan suami cekatan."
"Halu ***!" Kesal Carlos, namun lelaki itu terkekeh kecil mendengar Iqbaal yang terkadang lebay dan alay berlebihan.
"Sekali doang, bawel banget lo."
Carlos menghela nafasnya pelan. "Awas ya sampe zina didalem, gue kawinin lo."
"Kaga," Jawab Iqbaal meyakini. "Kalo gak khilaf," Lanjutnya pelan.
"Kan!"
"Enggak Carlos ganteng. Udah sana, jangan ganggu ah orang mau berduaan juga." Ucap Iqbaal yang sudah membuka pintu UKS.
Carlos menggeleng pelan, ia membalikkan tubuhnya untuk pergi. Namun baru dua langkah, Iqbaal kembali memanggilnya membuatnya harus kembali menoleh menatap pria itu.
"UKS gak ada CCTV kan?"
Carlos melongo. "Gila anjing. Rusak lo!"
Iqbaal tertawa, kemudian masuk ke dalam dengan sisa tawanya pelan. Ia menghampiri (namakamu) yang justru malah duduk diatas ranjang dengan bersandar menatap Iqbaal yang menghampirinya.
"Kenapa?" Tanya (namakamu) heran.
Iqbaal menggeleng. "Kepo lo."
(Namakamu) berdecih.
"Masih sakit?" Tanya Iqbaal menatapnya.
(Namakamu) menggeleng, "Gak sakit sih, cuma gak enak aja. Sakitan pinggang," Ucapnya.
Iqbaal menyerit. "PMS ya?"
(Namakamu) mengangguk. "Yaa, gak enak banget."
Cklek..
"Astaga (namakamu), gue nyariin juga!"
"Kenapa ada disini?!"
(Namakamu) dan Iqbaal menoleh, menatap dua manusia terlaknat yang datang tanpa mengetuk pintu. Siapa lagi kalau bukan Zidny dan Gery.
Zidny menghampirinya. "Kenapa?"
(Namakamu) menatap keduanya dengan tajam. "Gak usah sok perhatian, lo berdua kemana ninggalin gue sendirian? Malah ke McD, ngapainnnn?!!"
"Makan dong. Eh, tapi tadi gue mau ngajak lo tapi lo ilang gitu aja, terus ditelfon ternyata handphone lo ada ditas. Jadi yaudah berdua aja," Tutur Gery menjelaskan.
(Namakamu) menatap Gery sinis. "Emang dasarnya gak mau ngajak! Jahat!"
"Mau ngajak juga, yaudah sih maaf. Kalo mau lagi ya pulang sekolah ayo kesana lagi." Ucap Zidny santai.
(Namakamu) berdecak kesal, ia memilih diam. Kedua temannya itu masih gacor saja membuatnya pusing begitu pun dengan Iqbaal yang hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Gery yang benar-benar rumpi seperti ibu-ibu, perasaan kekasihnya saja tidak seperti itu.
Gery dan Zidny pindah ke ranjang yang satunya, tepat disamping ranjang (namakamu). Gery mengambil posisi tidur, sedangkan Zidny duduk menghadapnya dan masih sama-sama saling curhat dan menggosip!
"Kenapa sih dia?" Tanya Iqbaal menatap Gery bingung.
(Namakamu) terkekeh. "Namanya juga Ibu Gery, rempong."
Iqbaal menggeleng pelan, "Ada-ada aja milih temen begitu."
"Seru tau!" Jawab (namakamu), ia bergeser sedikit saat Iqbaal ikut duduk disampingnya. Pria itu ikut bersandar dipunggung ranjang.
"(NAMAKAMU), GERY PUNYA CEMCEMAN TAU DI KELAS IPS 1. IH CANTIK TAPI TERNYATA JABLAY HAHAHA!" Ledek Zidny tertawa menyindir.
Gery menutup mulut Zidny dengan bantal yang ada disana. "Punya bibir dijaga ya anjing!"
(Namakamu) terkekeh, "Yang kemarin, Ger?"
"Bukann! Zidny mah ngada-ngada, gue mah nyarinya gak yang kayak gitu."
"Yeuuu lo bilang sendiri mau nyari cewek yang gede montok katanya, bahenol depan belakang biar bisa dipake siang malem!" Ucap Zidny se-frontal itu membuat Gery bangkit dan menutup langsung mulut Zidny dengan telapak tangannya.
Iqbaal menoleh, ia tersenyum kecil. "Tipe lo boleh juga, Ger."
Gery menggeleng. "Enggak baal, gila aja."
"Terus maunya?" Tanya (namakamu).
"Apa aja asal perawan." Jawab Gery asal.
Iqbaal terkekeh kecil, "Kenapa? Bukannya enakan yang udah jebol?"
Ucapan Iqbaal itu mendapatkan satu bogeman langsung dari (namakamu) dipaha pria itu, tidak sopan ih, terlalu dewasa untuknya yang masih anak-anak! :)
Zidny tertawa kencang. "Iya ya, cari sama yang Tante! Nanti lo bisa sepuasnya terus dikasih duit lagi."
"Boleh juga si.." Ucap Gery. "Tapi sorry ya gue masih punya harga diri, gue mau dikejar bukan mengejar!" Tambahnya sok jual mahal seraya kembali berbaring diranjang.
"Mana ada laki-laki dikejar?! Adanya mengejar. Oh iya lupa, Gery kan bukan laki, lupa gue." Ucap Zidny nyinyir.
"Lah emang perempuan doang yang bisa milih? Laki-laki juga kali." Balas Gery.
Suasana kembali hening, sama-sama terfokus pada handphone masing-masing. (Namakamu) menatap layar ponsel Iqbaal yang menampilkan permainan mobile legend disana, dengan kedua ibu jari Iqbaal yang gesit menyerang musuhnya. (Namakamu) bosan!!
"Baal."
Iqbaal berdeham, kedua matanya masih terfokus pada game-nya.
(Namakamu) merangkul bahu Iqbaal, jemari lentiknya memainkan rambut halus milik Iqbaal. Jujur, meski seperti brandal, Iqbaal adalah orang yang bersih. Ia selalu menjaga tubuhnya mangkanya dia ganteng! Berbeda dengan temannya kebanyakan.
"Sabtu jadi nonton?"
"Jadi kalo mau."
(Namakamu) kini merangkul leher Iqbaal, ia memiringkan duduknya untuk menatap Iqbaal dari samping. "Kita nonton IT yang kedua yuk? Udah tayang."
"Kayak berani aja, yang pertama aja buat lo jadi phobia badut."
"Ih kan penasaran, nonton ahhh ayoo." Ajak (namakamu) terkesan merengek.
"Belum mulai."
"Udah dari kemarin, mangkanya gue ngajak."
"Jangan Minggu ini."
"Ahelah, sok sibuk banget sih." Rajuk (namakamu).
"Bukan gitu, emang gak ada waktu. Senin aja deh pulang sekolah."
"Keburu abis." Ketus (namakamu).
Iqbaal terkekeh, ia menatap (namakamu) dan mencubit hidung gadis itu. "Baru muncul, jangan lebay deh."
"Mangkanya ayooo."
"Sama yang lain aja."
"Gak mau, nanti kalo takut gak bisa peluk peluk." Ucap (namakamu) dengan diakhiri senyuman gemas.
Iqbaal berdecih. "Emang tujuan lo itu mau modus, udah khatam gue cewek yang begini-gini."
"Ahhh, ayooo!" Ajak (namakamu) memohon, ia menyatukan kedua tangannya dan memohon didepan Iqbaal.
Iqbaal berfikir-fikir.
"Baal, gak usah sok mikir. Gue tau lo gak ada otak," Ucap (namakamu) sebal.
Iqbaal berdecak, "Iya."
"Yeayyyy!" Senang (namakamu) yang membuat Zidny dan Gery menoleh ke arahnya yang tiba-tiba memeluk Iqbaal dan memberi kecupan sedikit dipipi pria itu.
"Tapi gak ada yang namanya mau pipis ditengah-tengah film ya? Sebelum film mulai pokoknya harus ke kamar mandi!"
(Namakamu) tersenyum dan mengangguk. Hal itu itu membuat Iqbaal tersenyum dan memberi kecupan dipelipis (namakamu). Pria itu memeluk pinggang (namakamu) dan menyandarkan kepalanya di bahu (namakamu) membuat rambutnya yang wangi langsung tercium dihidung gadis itu.
"Pengen pisang yang didepan deh, Ger.." Ucap Zidny tiba-tiba seraya mencolek perut Gery.
Gery berdeham. "Pisang gue aja nih."
"Najis!" Ucap Zidny spontan namun membuat Iqbaal tertawa, mungkin hanya Iqbaal, Zidny dan Gery yang mengerti. (Namakamu) tidak.
"Pisang lo alot, lembek." Balas Zidny dengan kesal.
Iqbaal menatap Gery yang mulai lagi bersuara cempreng. "Heh! Hati-hati lo kalo ngomong, sekali coba juga lo nagih." Ucap Gery.
Zidny bergidig. "Najis, gak enak! Paling cuma segede kelingking gue doang."
"Yahh gila, gue gini-gini juga gentle Zid!! Sekali coba juga lo bakalan kebayang-bayang." Balas Gery.
"Pisang Gery kecil." Ucap Zidny asal.
"Ayo sini liat anjing."
Iqbaal tertawa. "Mampus, kasih aja tuh Zidny. Sikattt Gerrr"
"Anjing lo, baal!" Balas Zidny.
"Ihhhhh, gak ngerti!" Ucap (namakamu) kesal dengan omongan mereka yang feeling-nya mengatakan pasti sudah obrolan dewasa.
"Jelasin baal." Suruh Gery.
"Nanti aja praktek." Jawab Iqbaal langsung gercep.
Zidny tertawa. "Gila sih.."
"Eh udah selesai, ayo ah ke kelas ambil tas terus pulang." Ucap Zidny yang bangkit dari duduknya.
Iqbaal ikut beranjak, diikuti (namakamu). Keduanya menatap Gery yang masih tertidur dengan memainkan ponselnya.
"Gerry si pisang kecil, ayoo bangun nak kita pulangggg." Ucap Zidny menarik seragam Gerry.
Gerry bangkit, ia turun dari ranjang. "Bacot lo ngatain gue kecil mulu!! Dasar.... Tepos!"
Zidny menyerutkan bibirnya, ia menoyor kepala belakang Gery. "Bangkeee!"
(Namakamu) menggeleng kecil melihat pertengkaran kedua temannya yang tidak ada usainya. Iqbaal hanya diam, ia merangkul bahu gadisnya.
"Cepetan tepos!" Teriak Gerry diambang pintu.
Zidny berdecak. "Pala lo! Emang gue (namakamu) apa," Gumamnya.
"Apa sih!" Sahut (namakamu) kesal yang mendengarnya.
Iqbaal tersenyum, ia menatap gadisnya. "Jangan marah dong, Zidny bener." Ucapnya.
(Namakamu) berdecak, ia mencubit pinggang Iqbaal. Iqbaal meringis, namun tetap tertawa diakhirnya.
"Ulululu.." Iqbaal menangkup pipi (namakamu) sebelah tangannya, membuat bibir (namakamu) menjadi seperti ikan koi. (Namakamu) memukuli tangan Iqbaal namun Iqbaal tetap tidak melepaskannya.
"Gemesss." Ucap Iqbaal lucu.
Iqbaal menciumnya, hanya 2 detik saja dibagian bibir yang berbentuk seperti ikan koi itu. Lalu melepaskannya dan mendapat satu pukulan dibagian punggung. (Namakamu) mengelus pipinya yang merah. Merah karena Iqbaal yang terlalu kencang mencubitnya dan juga merah karena menahan malu..
Untungnya Zidny dan Gerry tidak melihat. Kalau melihat pasti mau, wkwkwk.
Mereka berdua kan pelakor.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNGGG.