•MY BOYFRIENEMY•

•MY BOYFRIENEMY•
PENSI & KAMU


__ADS_3

———————


(Namakamu) masuk ke dalam rumahnya, hari ini sudah berhasil ia lewati sendirian tanpa Iqbaal. (Namakamu) melempar tasnya asal dan duduk diatas sofa dengan kedua matanya tertuju pada layar ponsel, menampakkan chat singkat Zidny yang sangat bawel, katanya mau dandan agar saat pensi besok ia dapat menarik perhatian dari cowok-cowok ganteng.


(Namakamu) menaruh ponselnya dimeja, ia merubah posisinya menjadi berbaring dengan kedua matanya yang perlahan menutup. Suasana mendadak tenang, penglihatannya gelap, namun mampu membuatnya berimajinasi ada sosok Iqbaal didalam sana, membayangkan pria tampan itu sungguh membuatnya gila. Tak lama, gadis itu muncul membuat (namakamu) membuka matanya kembali.


Aduh, Vanesha!!


(Namakamu) berdecak, ia mengusap wajahnya kasar dan memutar tubuhnya menjadi menghadap punggung sofa, kedua tangannya memeluk guling dan kembali membayangkan sosok keduanya. Entah mengapa, ia mendadak takut kehilangan Iqbaal. Bukan hanya Vanesha, mendengar ucapan Zidny tentang Steffi juga membuat beban pikirannya semakin bertambah.


Punya gebetan yang disukai banyak orang itu memang sulit, tapi lebih sulit lagi saat pacar sendiri disukai lebih dari seribu makhluk hawa. Ampun deh!


(Namakamu) menggigit bibir bawahnya, sampai kapan ia harus menunggu Iqbaal pulang? Ia rindu, ingin bertemu, ingin peluk.


(Namakamu) menghela nafasnya pelan, rasa kesalnya bisa tergantikan dengan rasa rindu yang amat sangat meledak. Ia ingin marah, namun disisi lain ia juga ingin memeluk Iqbaal. Bingung jadinya.


(Namakamu) bangkit dari tidurnya, kembali menggendong tas dan membawa ponselnya ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, ia menaruh tasnya diatas meja belajar, duduk ditepi ranjang seraya membuka kerudung dan kembali memainkan ponselnya.


"Kak.."


(Namakamu) menoleh, menatap adik semata wayangnya datang dengan membawa sebungkus nasi didalamnya.


"Makan nasi padang enak, nih."


"Taruh aja diatas meja kakak." Jawab (namakamu) malas.


"Ada buku."


"Pindahin bukunya lah dodol."


Fajri menurut, ia memindahkan beberapa buku menjadi ke samping (namakamu) dan menaruh bungkusan itu diatas meja. Tanpa kata, anak yang masih memakai seragam TK langsung keluar.


(Namakamu) melihatnya beberapa detik, lalu mulai membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi tengkurap. Menggeserkan beberapa buku yang tadi dipindahkan oleh Fajri, hingga tangannya terhenti pada buku journey-nya. Ia mengambilnya dan perlahan kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.


(Namakamu) membuka buku yang berisi beberapa tulisan absurd dan juga fotonya dengan Iqbaal. Foto pertama adalah perjalanan mereka pergi ke Puncak, disusul ke tempat-tempat seperti Curug, Dufan, Monas, dll. Sampai saat mereka studi tour ke Bali pun ada.


(Namakamu) tersenyum, ini sangat lucu, masa-masa dimana Iqbaal masih bimbang antara memilih dirinya atau Steffi. Ya, Steffi adalah gadis yang pernah dekat dengan Iqbaal, yang membuat Iqbaal dulu pernah meninggalkan (namakamu) demi Steffi jauh sebelum mereka berpacaran. Lalu, Iqbaal kembali lagi untuk memilih (namakamu). Duh, kebayangkan galau-nya (namakamu) saat itu seperti apa?!


(Namakamu) membuka lembaran berikutnya, foto mereka nonton sebuah konser dari Sheila on 7 , dimana difoto itu Iqbaal merangkulnya dan dirinya tersenyum manis. Ah, gemash pokoknya.


Lembar berikutnya juga ada foto saat ulang tahun Iqbaal yang ke-17 kemarin. Difoto itu, (namakamu) tertawa dengan memegang kue seraya menatap Iqbaal yang candid dengan wajah kesal karena wajahnya penuh dengan cream. Duh, indah sekali. Kalau sampai putus... sayang banget.


(Namakamu) menyerutkan bibirnya saat melihat foto berikutnya dimana disana terdapat 2 foto, foto Iqbaal sendiri dengan cengiran yang membuat pria itu tambah manis. Sedangkan (namakamu) memasang wajah yang belum siap difoto. Yang membuat sebal adalah dibawah foto itu Iqbaal menuliskan seperti ini;;


'Iqbaal sempurna untuk (namakamu) yang jelek.


Iqbaal memperbaiki keturunan.'


(Namakamu) kembali membalikkan lembarannya, aduh... foto itu. (Namakamu) merasa pipinya merona sekarang, satu lembar itu berisi foto Iqbaal yang memeluknya dari belakang dan menempelkan pipinya pada kepala (namakamu). Ah, bukan itu yang bikin merona, tapi bawahnya..


(Namakamu) berpose memeluk Iqbaal dari samping dan Iqbaal memeluk lehernya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya digunakan untuk menopang dagu (namakamu). Tau kan gayanya gimana??? ...


Ya, mereka berciuman.


(Namakamu) terkekeh saat melihat tulisan tangan Iqbaal yang berbunyi;;


'Astaghfirullah, Iqbaal Dhiafakhri'


Itu lucu. (Namakamu) kembali membalikkan lembaran berikutnya, foto (namakamu) yang tengah candid dengan Iqbaal, candid (namakamu) tengah berbicara dan Iqbaal memperhatikan dengan seksama. Lagi lagi, Iqbaal menuliskan sesuatu disana dengan tulisan tangannya yang acak-acakan, begini;;


'Mendengarkan pidato (namakamu) ulala baby bala-bala cinta lope diudara cihuy ***** basah '


(Namakamu) menoleh ke arah samping, menatap ponselnya yang berdering menandakan panggilan masuk dari seseorang tidak dikenal. (Namakamu) mengangkatnya dan membiarkan orang itu yang berbicara.


'(Namakamu) ini gue Zidny, nomor gue ganti lagi.'


(Namakamu) berdecak. "Dasar jablay ganti nomor mulu."


'Yang lama udah kesebar luas seantero jagat raya, mangkanya gue ganti nomor. Nih gue beliin kartu buat lo, jadi ganti kartu gak?'


"Enggak deh, terong-terongan itu udah gak ngechat gue lagi."


'Besok ke pensi bareng gue gak ada acara nolak.'


"Gue gak ikut deh, males banget gak ada Iqbaal."


'Dikit-dikit Iqbaal, dikit-dikit Iqbaal, bucin banget sih lo!'


"Gue gak mau ah, gue maunya kalo ada Iqbaal."


'Iqbaal lagi asik sama Vanesha, lo jangan ganggu dia dong!'


"Kan, minta digetok mulutnya."


'Eh iya baru inget, Vanesha bikin snapgram lagi. Dia bikin screenshot-an chat LINE gitu, tapi ditutupin namanya terus dia manggil 'kak', gak mau souzon gue.'


"Kirim coba."


'Lo mana ngerti sih, (nam)? Gue aja gak ngerti.'


"Gue tau kok ketikan Iqbaal gimana, kali aja gue bisa tau siapa yang chattan sama Vanesha. Isinya apa?"


'ELAH BUCIN, AMPE TULISAN AJA APAL *****!! Isinya cuma nanyain futsal terus ada gombalannya sedikit sama emot lope uhhh.'


"Ih, apaan sih?! Kirim coba Zid!"


'Udah diapus sama Vanesha, tadi pas gue liat lagi gak ada.'


"Kurang ajar sih."


'Sabar. Udah ah, gue mau cari baju buat besok pensi, bye-bye.'


Tuttt..tutt..


(Namakamu) berdecak, melempar ponselnya dengan kesal. Bisa-bisanya ya?! Memang belum jelas siapa yang dimaksud oleh Zidny, tetapi kenapa (namakamu) jadi ketakutan sendiri gini?


(Namakamu) menunduk, menatap fotonya dengan Iqbaal cemberut. Lalu, memukul tepat diwajahnya Iqbaal.


"Ih, awas aja ya!! Kesel hiks!!"


*****


Malam ini, (namakamu) berjalan keluar dari komplek rumahnya untuk membeli cemilan, daripada galau gak jelas mending nyemil sambil maraton drakor.


Dengan cardigan panjangnya, (namakamu) berjalan menuju penjual pancong untuk membelinya. Malam ini baru malam Sabtu, tetapi sudah banyak pasangan-pasangan gemas yang berpacaran disekeliling taman yang tak jauh dari rumahnya membuat (namakamu) iri dibuat mereka.


(Namakamu) duduk disebuah bangku plastik saat sudah memesan, pandangannya tertuju pada jalanan yang cukup ramai. (Namakamu) menatap sekeliling, tidak ada yang ia kenal, semua pasangan rata-rata anak SMP. Huh, ada-ada saja.


"Nih, neng."


(Namakamu) bangkit dan menerima, setelah itu ia kembali jalan pulang ke rumah. Tidak ada yang menarik sepanjang jalan, hanya ada pemandangan anak bau kencur nongkrong dengan motor mereka yang dimodif. (Namakamu) mengabaikan mereka, ia tetap berjalan menyusuri jalanan kompleknya yang bisa dibilang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi pula.


TINN..


(Namakamu) tersentak kaget, ia spontan minggir kesamping dan langsung memegang dadanya.


"Ih, nga— loh?" Ucap (namakamu) tambah kaget saat melihat siapa yang ada diatas motor itu.


"Kok lo disini sih?" Tanya (namakamu) bingung.


"Emang harusnya dimana? Didalem botol? Emangnya gue jin."


(Namakamu) masih tidak percaya, ia menyerit. "Demi apa?"


"Apaan sih, (nam). Aneh lo."


(Namakamu) menepuk pipi orang itu, lalu berdecih. "Boongan ya?"


"Boongan gimana? Kok lo aneh banget sih jadi orang."


"Katanya lo seminggu, ini belum ada seminggu. Lo boongin gue ya, baal?!" Cerocos (namakamu) untuk menutupi rasa senangnya, duh akhirnya Iqbaal ada didepan mata.


Iqbaal, pria yang sekarang ada dihadapannya. Pria yang sukses membuatnya uring-uringan beberapa hari ini, pria yang membuatnya kalang kabut, pria yang tentunya sangat ia rindukan, pria yang membuatnya ketakutan setengah mati.


"Gue pergi beberapa hari aja pasti lo udah marah sama gue karena satu hal," Ucap Iqbaal menebak.


(Namakamu) terdiam sejenak, lalu memasang wajah asamnya yang membuat Iqbaal terkekeh kecil.


"Sini, naik."


(Namakamu) masih memasang wajah asamnya. "Jalan aja, deket."


"Dih, emang mau kemana?"


"Kerumah kan?" Tanya (namakamu) balik.


Iqbaal menyerit. "Kok di rumah sih?"


"Emangnya?"


"Masa kalah sama anak SMP." Ucap Iqbaal seraya matanya melirik sepasang anak SMP yang tak jauh dari tempat mereka duduk diatas motor dengan saling merangkul.


(Namakamu) berusaha keras dan ekstra untuk menahan senyumnya, ingat, ia sedang marah pada Iqbaal. (Namakamu) menarik nafasnya dalam.


"Udah malem, besok pensi."


"Tau, gue juga ikut kok." Jawab Iqbaal.


(Namakamu) memutar kedua bola matanya malas. "Mau apa sih?"


"Mau menjawab semua pertanyaan lo."


(Namakamu) terdiam beberapa detik, lalu berdecih. "Gue gak nanya apa-apa, gak jelas deh."


"Dimulut enggak, tapi dihati sama otak?"


"Enggak juga."


"Yaudah jalan kek, kenapa sih gak peka banget, bego." Ucap Iqbaal sebal sendiri.


"Gue juga mau jalan, lo ngapain ngajakin gue naik motor? Lo tuh yang bego!" Sahut (namakamu) yang juga sebal.


"Tolol banget sih, maksud gue ayo kita jalan memadu kasih dimalam yang indah cinta."


"Lebay. Gue mau makan, laper."


"Ya ampun, ayo, daripada gue jalan sama cewek lain nanti marah— eh, udah marah ya?"


"Bacot, sana pergi gak perduli. Mau sama cewek yang keberapa gue gak urus." Jawab (namakamu) sebal.


Iqbaal terkekeh, "(nam), astaga."


"Sekalian pergi aja sana gebetan barunya, gak perduli."


Iqbaal menyerit, ia menarik lengan (namakamu) saat gadis itu ingin pergi dari hadapannya. Iqbaal memberikan tatapan sinisnya, "Naik gak! Gue cium lo."


(Namakamu) juga memberikan tatapan super tajam. "Gak mau, lo duluan yang gue getok mulutnya!"


"Cepetan."


"Gak, jangan maksa!"


Iqbaal berdecak. "Maunya dikasarin dulu ya?"


(Namakamu) mendengus. "Sekali aja gak usah maksa bisa? Males gue sama lo, udah sana urusin dulu dedek-dedek gemes lo!"


"Dedek yang mana sih? Lo tuh suka ada-ada aja deh. 5 hari gak ketemu, gak ada kabar, orang mah kangen-kangenan, bukan cemburu cemburuan. Aneh lo," Dumel Iqbaal merajuk.


"Yang gak ada kabar itu siapa? Bukan gue."


"Iya gue tau, gue ilang. Mangkanya gue dateng, mau gue ceritain, mangkanya ikut gue ayo astaga ginian aja harus diperpanjang.." Gumam Iqbaal frustasi.


(Namakamu) mengerutkan bibirnya sebal seraya menatap ke lain arah, merajuk rupanya gadis ini.


"Ayo, sayang. Gak akan aku apa-apain, cuma jalan aja berdua, aku kangen sama kamu." Ucap Iqbaal lembut, kelewatan lembut. Ia menggenggam sebelah tangan (namakamu).


(Namakamu) menatapnya dengan malas. Masih tetap jual mahal walau sebenarnya ia ingin langsung naik ke atas motor dan memeluk Iqbaal dari belakang dengan diiringi hembusan angin malam.


"Apa mau (namakamu) yang bawa motor? Silahkan.." Tambah Iqbaal saat tidak mendapat jawaban apapun dari gadisnya.


"Yaudah deh, gue gak mau bawa motor nanti lo aneh-aneh lagi." Tolak (namakamu) yang langsung ke atas motor Iqbaal.


Iqbaal tersenyum. "Enggak, satu macem doang."


"Udah nih, mau kemana?"


"Mau makan, ke kedai." Jawab Iqbaal, pria itu langsung meng-gas motornya untuk pergi meninggalkan komplek rumah (namakamu).


(Namakamu) diam saja, Iqbaal pun begitu. Mereka berdua fokus pada kegiatan masing-maisng, Iqbaal yang mengendarai, sedangkan (namakamu) diam dan memakan pancong yang ia beli tadi.


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kedai langganan mereka. Keduanya sama-sama masuk ke dalam sana yang cukup ramai dipenuhi oleh remaja seusia mereka.


"Eh, baal, (nam)." Sapa seseorang yang menepuk bahu Iqbaal, lalu menoleh ke samping untuk tersenyum pada (namakamu).


"Eh, Shaf." Balas Iqbaal dengan senyum kecil dan (namakamu) juga.


"Kok lo udah pulang sih? Babas mana?" Tanya Shafa.


"Lah, cowok lo kok nanya ke gue." Jawab Iqbaal asal.


"Ish, lo cabut ya? Tumben banget cabut dari futsal, biasanya paling semangat."


"Ah, gila lo." Balas Iqbaal pendek.

__ADS_1


"Yaudah, gue duluan ah. Dahh.." Shafa pergi keluar dengan seorang teman gadisnya. (Namakamu) memperhatikannya dengan heran, Bastian belum pulang katanya? Terus Iqbaal?


"Ayo, jangan ngeliatin orang mulu." Ajak Iqbaal menarik lengan (namakamu) untuk duduk disebuah bangku yang ada disana.


"Baal, ada apa sih?" Tanya (namakamu).


Iqbaal tersenyum, ia mengacak pelan puncak kepala (namakamu). "Pesen dulu ya? Laperr."


(Namakamu) mengangguk saja. "Terserah, tapi gue enggak."


"Tadi katanya laper."


"Enggak jadi, udah ngemilin pancong tadi."


Iqbaal mendengus. "Yaudah, mau apa?"


"Kentang campur otak-otak."


Iqbaal bangkit dari duduknya dan pergi memesan, (namakamu) menyerit ia melihat diatas meja mereka kosong. Biasanya Iqbaal selalu menaruh ponselnya diatas meja, apa dibawa? Oh, atau takut (namakamu) check dan melihat chattannya dengan Vanesha? Aduh, mulai deh negatif thinking.


(Namakamu) masih diam, menatap Iqbaal yang kembali menghampirinya. Namun, baru beberapa langkah, seseorang kembali menyapa Iqbaal dengan senyum manis dan dibalas senyum tipis Iqbaal, mereka berdua berbincang sebentar sebelum Iqbaal benar-benar kembali dan duduk disampingnya.


"Apa? Tambah marah nih pasti." Tebak Iqbaal yang bisa membaca raut wajah jutek (namakamu).


"Kok ada Steffi sih?"


"Ini kedai umum, siapa aja bisa datang kesini." Jawab Iqbaal.


"Iya tau, baal. Kalian janjian?"


Iqbaal sontak langsung menoleh, kedua tangannya terangkat untuk mengusap pelipis (namakamu). "Buang-buang jauh pikiran negatifnya dong, ah." Gumam Iqbaal.


(Namakamu) berdecak kecil, ia menepis tangan Iqbaal dan menatap pria itu sebal. "Cuma tanya doang."


"Pertanyaannya aneh."


"Yaudah, tadi mau cerita apa? Ceritain semuanya, kenapa bisa gak ada kabar 3 hari terus dateng tiba-tiba padahal tadi kata Shafa Bastian belum pulang. Ada apa—"


"Yang mau cerita gue kok jadi lo yang gacor sih?" Tanya Iqbaal memotong.


(Namakamu) berdeham kecil. "Yaudah, cerita."


"Duh darimana ya, bingung." Gumam Iqbaal menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.


"Kenapa bisa gak ada kabar? Kok semua sosmed gak aktif? Padahal yang lainnya bisa tuh buka handphone sebentar." Ucap (namakamu) memancing.


"Nah itu, handphone gue kebanting, terus rusak."


"Kok bisa? Kenapa gak ngasih tau gue? Bilang kek lewat handphone-nya Gusti atau Kipe, Bastian gitu, gue kan...." (Namakamu) menggantungkan ucapannya, jujur ia malu ingin berucap ini.


"Khawatir." Gumamnya pelan.


Iqbaal tersenyum, ia mengambil sebelah lengan (namakamu) dan menggenggamnya, lalu menaruhnya diatas pahanya.


"Gue ada masalah lagi sama Jafar, tuh anak tengil berulah lagi. Gue gak kuat, terus gue ribut lagi dan Pak Hadi ngehukum gue, dia marah-marahin gue. Gue gak terima dan gue milih buat mundur, gue pergi. Disana, gue tinggal sebentar sama temen gue yang rumahnya di Bogor. Emosi gue gak stabil, gue emosi sama semua orang saat itu, mangkanya gue gak mau hubungin lo takut lo kena juga. Gue udah bilang sama Bastian juga dan ya.. dia juga bantuin gue buat ngongkosin gue ke rumah temen gue di Bogor."


(Namakamu) diam, ia hanya menatap lengannya yang digenggam Iqbaal, telinganya mendengar semua penuturan Iqbaal yang membuatnya seketika dihantui rasa bersalah.


"Tapi, waktu itu lo foto bareng sama Vanesha kan?" Tanya (namakamu) langsung masih dengan nada kesal namun, agak berkurang.


"Itu waktu sampe disana dan dia yang ngajak foto, bukan gue. Gue gak bisa nolak, cantik soalnya."


(Namakamu) berdecak, ia menarik tangannya dengan sebal dan digunakan untuk memukul lengan Iqbaal, respon pria itu hanya tertawa kecil.


"Kok lo tau?"


"Vanesha bikin snapgram tau, tulisannya 'semangat, kak' ew!"


Iqbaal menyerit. "Emang iya?"


"Iya. Seneng kan lo?! Nyebelin."


Iqbaal terkekeh. Tak lama, pesanan mereka datang. Iqbaal langsung menyantap makanannya dengan saos yang sangat banyak.


"Nanti sakit perut." Ucap (namakamu).


"Enggak."


(Namakamu) tidak mengajak Iqbaal berbicara, ia menyuruh Iqbaal untuk menghabiskannya terlebih dahulu. Kedua bola mata (namakamu) sedikit melirik Steffi yang terus menatap ke arah mejanya dan langsung menunjukkan wajah sinis saat (namakamu) meliriknya.


(Namakamu) mendengus pelan. Lalu, ia melihat Iqbaal yang tengah menyedot minuman setelah selesai menghabiskan makanannya.


"Steffi itu udah punya pacar belum sih, baal?"


"Jomblo." Jawab Iqbaal santai.


Duh, bahaya.


"Besok mau berangkat pensi jam berapa?" Tanya Iqbaal menatapnya seraya mengelap mulutnya dengan tissue.


"Mulai jam 9. Maunya?"


"Sore aja biar gak panas."


"Yaudah."


(Namakamu) melirik jam dinding, lalu kembali tak sengaja melirik Steffi yang tengah memakan cemilan dan sesekali menatap Iqbaal. Ih!


"Baal, ayo ah. Gue masih ada urusan," Ucap (namakamu).


"Pulang?"


"Iya, ngantuk. Besok lagi aja, kan besok juga ke sekolah." Jawab (namakamu) yang bangkit dari duduknya, diikuti dengan Iqbaal.


"Gue bayar dulu."


(Namakamu) berjalan keluar, menunggu Iqbaal diatas motor pria itu. (Namakamu) menyipitkan kedua matanya saat melihat Iqbaal yang tengah berdiri dimeja kasir, tiba-tiba Steffi datang dan kembali menepuk bahu Iqbaal, mengajak pria itu berbincang dan bercanda.


(Namakamu) berdecak sebal, tangannya mengepal bersiap untuk meninju Steffi. Kenapa sih gadis itu centil banget banget banget?! Dasar cabe.


(Namakamu) menyerutkan bibirnya sebal. "Gue bikin jelek aja sekalian si Iqbaal biar gak ada yang suka. Awas ajaaa!!"


*****


Hari ini, (namakamu) sudah rapih dengan baju kaos tangan panjang dipadukan rok jeans se-paha. Rambutnya masih dibuntel(?) dengan handuk, ia berjalan menuju meja rias untuk mempercantik dirinya sendiri.


(Namakamu) memoleskan bedak diwajahnya yang sebenarnya sudah putih tanpa harus memakai apapun, lalu ia mengambil sebuah penjepit bulu mata bersiap untuk membuat bulu matanya yang panjang agar lentik.


Cklek..


"(Namakamu)!!"


"Cepet banget lo dateng." Ucap (namakamu) tanpa menoleh, pantulan seorang gadis dicermin sudah cukup jelas memperlihatkan siapa gadis itu.


"Bego. Lo mau sama siapa kesananya?" Tanya (namakamu) merutuki kebodohan Zidny.


"Sama lo, lo bawa motor kek." Ucap Zidny seenak jidat dan langsung menarik kursi disamping (namakamu).


"Gue sama Iqbaal."


"Dih, emang udah pulang?" Tanya Zidny.


"Udah, semalem gue ketemu."


"Ah, ***. Gue sama siapa dong? Boti napa," Pinta Zidny seraya merebut bedak (namakamu) untuk ia gunakan.


"Ish, gak!" Tolak (namakamu) sarkas.


"Perginya doang. Gue ditengah, didepan juga gapapa gue iklas."


"Yeuuu! Lo telfon aja terong-terongan lo, suruh jemput lo dirumah gue." Suruh (namakamu).


"Gila." Gumam Zidny yang menepukkan bedak diwajahnya yang sebenarnya sudah putih.


(Namakamu) berdecih, ia berjalan keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sepatu yang akan ia pakai nanti. Ia membuka pintu utama rumahnya, Zidny emang asal nyelonong masuk saja sampai pintunya tidak ditutup rapat. (Namakamu) mengeluarkan sneakers berwarna putih, ia duduk dibangku dengan memangku sepatunya. Sepertinya harus dibersihkan dulu karena sedikit berdebu.


(Namakamu) mengambil lap kecil dan mulai membersihkannya. Beberapa menit, sampai sebuah motor datang dan berhenti didepan rumahnya.


"(Namakamu), kasih tau gue di rumah lo ada siapa?" Tanya orang itu yang buru-buru turun dari motor dan melepaskan kunci motor, ia membuka sepatu dengan gerakan cepat dan asal.


"Gak ada, ada Zidny doang."


"Mau pipis." Orang itu langsung masuk ke dalam dengan melemparkan kunci motornya ke arah (namakamu). Gadis itu berdecak, ia mengambil kunci motornya dan menaruhnya diatas meja sampingnya.


Ia tidak memperdulikannya, ia tetap membersihkan sepatunya. Setelah selesai, ia kemudian memasang tali sepatunya dan menaruhnya dibawah saat sudah selesai memasang.


"Huh, lega.."


(Namakamu) mendongak. "Kenapa sih kalo dateng tuh gak pernah santai, ada aja pasti."


"Panggilan alam, gak bisa ditolak." Jawab orang itu yang menyandarkan tubuhnya dipintu.


"Baal, tolong taruh ini diatas." Ucap (namakamu) menyerahkan kain kecil tadi.


Iqbaal mengambilnya dan menaruh diatas lemari kecil yang tertempel diatas rak sepatu. "Bogel amat sih lo, ginian aja gak nyampe."


"Berisik." Ucap (namakamu) yang masuk ke dalam, diikuti dengan Iqbaal juga.


"(Namakamu) kotak make-up lo mana?" Teriak Zidny dari dalam kamar.


(Namakamu) berdecak, ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Diatas lemari."


"Gimana ngambilnya? Tinggi banget," Ucap Zidny menatapnya.


"Naik bangku."


"Nanti jatuh."


"Lebay banget lo Bambang!" Seru Iqbaal yang berdiri dibelakang (namakamu).


Zidny tercengir. "Nah, ada Iqbaal. Tolong ambilin dong, lo kan tinggi."


Iqbaal berdecih. "Ambil aja sendiri, situ punya 2 tangan 2 kaki, gak ada yang cacat."


"Bangke!" Dengus Zidny, ia mau tak mau menarik sebuah bangku dan naik keatas sana untuk menggambil kotak berwarna pink.


(Namakamu) membuka handuk yang ada dikepalanya, menyangkutkannya didepan pintu kamar mandi. Ia berjalan ke arah meja rias yang sudah tersedia kotak make-up yang diambil Zidny tadi. Mereka berdua sibuk berdandan, sedangkan Iqbaal sudah sedaritadi membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap diatas ranjang. Kedua tangannya juga sudah memegang ponsel milik (namakamu).


(Namakamu) meliriknya sejenak, untungnya semua chat dan telfon yang berkaitan dengan Devano sudah ia hapus. Toh, Iqbaal juga paling memainkan games diponselnya, 11 12 dengan Fajri kalau sudah memegang ponselnya pasti memainkan games.


Sudah lebih 10 menit, (namakamu) rasa cukup untuk merias wajahnya. (Namakamu) mengambil catokannya dan membawanya mendekati Iqbaal. Ia mencolokkannya disamping ranjang sehingga ia bisa duduk ditepi ranjang dekat dengan Iqbaal yang terlalu asik dengan alat komunikasi itu.


"Abidzar suruh kesini, baal."


Iqbaal menoleh, "Mau ngapain? Dia pasti jemput ceweknya."


"Siapa kek gitu, itu si Zidny gak ada tebengannya."


Iqbaal menoleh ke arah Zidny. "Nyusahin aja sih lo Zid!"


"Apa sih!" Balas Zidny ketus tanpa menoleh.


"Suruh om-om lo jemput."


"Emang gue jablay apa punya om-om?!" Sewot Zidny.


"***** lo."


"Ih, anjing!!" Kesal Zidny menatap sinis nan tajam Iqbaal.


Iqbaal tak menjawab lagi, ia fokus dengan game-nya. Ia sedikit bergeser dan menaruh kepalanya diatas paha (namakamu) yang sibuk mencatok rambut sedaritadi.


"Terus lo sekarang gak punya handphone?" Tanya (namakamu) menunduk, menatap Iqbaal yang matanya terlihat fokus.


"Enggak."


"Sampe kapan?"


"Sampe beli baru."


"Iya tau, kapan?"


"Gak tau."


Selesai. (Namakamu) mencabut colokkan dan menggulungnya, membiarkannya sebentar karena masih cukup panas.


"(Nam)—


"Awas."


"Aduh, panas." Iqbaal spontan bangkit dari tidurnya dengan memegangi keningnya. (Namakamu) ingin tertawa tapi melihat Iqbaal kesakitan, ia malah jadi menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa.


"Sakit.." lirih Iqbaal mengusap keningnya.


(Namakamu) menaruh catokannya diatas meja nakas, ia terkekeh garing dan menarik tangan Iqbaal untuk melihat apakah kening pria itu luka atau tidak.


"Iqbaal, maaf. Lagian ngapain sih gak bisa diem." Ucap (namakamu).


Iqbaal menyerutkan bibirnya gemas, ia mengusap keningnya yang terlihat sedikit merah. (Namakamu) gemas, ia menarik Iqbaal ke dalam pelukannya, mengusap kepala pria itu yang hanya diam.


Zidny berdecih melihat pemandangan itu dari kaca. Ia mengelus dadanya pelan, "Sabar Zid, jangan sakit hati.." gumamnya.


(Namakamu) melepaskannya, menangkup pipi Iqbaal dan menyibak poni Iqbaal. "Aduh merah, gak bisa diem sih."

__ADS_1


"Cepetan ah berangkat," Ucap Iqbaal BT.


(Namakamu) terkekeh, mencubit pangkal hidung Iqbaal sebentar. "Poles dikit dulu biar cantik."


"Tadikan udah."


"Kurang."


"Cantik-cantik banget buat apaan sih? Dandan buat siapa sih emang?"


"Dih, apa sih. Gue tuh harus dandan, karena........" Ucap (namakamu) menggantung.


"Karena?"


"Saingan gue berat-berat."


Iqbaal berdecak, ia memasang wajah BT-nya. "Apaan sih."


"Belum yang itu, eh udah nambah lagi adik kelas satu."


Iqbaal memasang wajah datarnya. "Gila lo ya? Saingan dari mana sih? Gue aja udah hak milik lo."


(Namakamu) bergidig. "Berisik."


"Aneh-aneh aja, cantik juga gak ngaruh. Lo sama mereka kalo dijejerin juga sama cantiknya, meski cantikan Steffi dikit— dikit doang."


(Namakamu) berdeham. "Iya, cantik. Semalem udah liat kok, tambah cantik dari sebelumnya malah."


"Iya ya, makin sempurna."


(Namakamu) diam, ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas kecilnya. Lalu, mengalungkannya. Ia berjalan ke arah Zidny dan memasukkan liptint ke dalam sana.


"Ayo, gue udah ada yang jemput." Ucap Zidny bangkit dari berjalan keluar sebelum mengalungkan tasnya.


Iqbaal bangkit juga, ia berjalan keluar. (Namakamu) berdecak, ia juga ikut keluar dengan wajah kesal dan menutup pintu kamarnya.


Iqbaal tersenyum melihat wajah (namakamu) yang sangat jutek, ia mencolek dagu gadis itu membuat gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan datar. Namun, responnya hanya terkekeh kecil seraya berjalan duluan untuk menyiapkan motor.


"Apa sih, gak jelas."


*****


(Namakamu) maupun Iqbaal berjalan masuk ke dalam sekolah yang ramai oleh adik dan kakak kelas berdandan cukup beragam, ada yang natural, sedang, dan medok. (Namakamu) menatap mereka semua dengan datar, tidak ada senyum menghiasi padahal bila senyum aura kecantikannya bertambah seribu kali lipat. Iqbaal disampingnya hanya tersenyum tipis pada beberapa orang yang menyapanya dan ber-tos ala lelaki saja.


(Namakamu) merasa pensi ini cukup ramai dari sebelum-sebelumnya. (Namakamu) tidak menyangka akan semembludak ini antusias dari murid sekolah, ia juga tidak melihat tanda-tanda dari Zidny yang datang. Ah, modus dulu pasti.


"Baal."


(Namakamu) dan Iqbaal diam ditempat bersamaan saat suara gadis memanggilnya— memanggil Iqbaal.


Iqbaal menyerit. "Dih, Steff? Kok lo ada disini?"


"Mampir sebentar doang, ada urusan sama guru sini. Oh ya, nih duit lo, makasih ya." Ucap Steffi memberikan selembar uang berwarna hijau.


Iqbaal terkekeh kecil. "Yaila, santai sih. Gak usah digantiin."


"Gak enak gue, udah ambil aja. Duluan ya," Steffi menepuk pelan bahu Iqbaal dan sedikit melirik (namakamu) dengan senyumnya yang terpaksa.


(Namakamu) mengabaikannya, ia justru malah membuang mukanya. Iqbaal mengantungi duitnya lalu melirik (namakamu), "Jangan jutek dong. Katanya mau nonton pensi dengan happy."


(Namakamu) hanya diam, membuang nafasnya gusar. Timbul pertanyaan tentang 'duit' itu, apa sih maksudnya?! Kenapa Iqbaal selalu membuatnya berpikir setiap detik? Kesal.


"Lo nya bikin gondok tau gak!" Sengit (namakamu) yang langsung berjalan meninggalkan Iqbaal.


Iqbaal terkekeh, ia berjalan cepat untuk menyamakan langkahnya dengan (namakamu) yang ia tahu tengah merajuk. "Kok marah terus sih? Gue gak ngapa-ngapain padahal."


"Tau ah males."


"Kalo males pulang."


"Lo aja sana pulang."


Iqbaal terkekeh lagi. "(Namakamu) ya ampun, jangan ngambek terus. Jangan iri dong kalo Steffi lebih sempurna dari lo."


"Ahhh, berisik!" (Namakamu) menoyor pipi Iqbaal dengan sebal, melemparkan tatapan tajamnya.


Iqbaal mengusap pipinya, ia tersenyum geli. "Kok kasar sih."


"Berisik ah, udah sana pergi!" Usir (namakamu).


"Dih yaudah," Iqbaal memutar tubuhnya dan berjalan pergi.


(Namakamu) menoleh, ia berdecak sebal. Jauh bikin kesal, deket juga bikin darah tinggi dasar tidak peka!


"Zidny!" Seru (namakamu) berlarian menghampiri Zidny yang ingin naik ke atas.


"Dih lo gue cariin juga, Iqbaal mana?" Tanya Zidny.


"Tau ah, gue lagi ngambek dia malah pergi."


"Ngambek kenapa lagi?" Tanya Zidny seraya melanjutkan jalannya ke lantai dua.


"Tadi ada Steffi, terus dia pake segala bilang Steffi itu sempurna lagi didepan gue, kesel gue. Beda banget sih sama Devano," Ucap (namakamu).


"Kok disama-samain sih?"


"Lagian, Iqbaal bisanya jatohin gue mulu, beda sama Devano yang selalu muji gue."


"Yeuuu dasar cewek gila pujian!"


(Namakamu) menyerutkan bibirnya. "Bukan itu maksudnya."


'ekhemmm... Check.. check..'


(Namakamu) maupun Zidny terdiam, mereka berdua berpandangan sejenak sebelum berdiri ditepi dan menunduk melihat dari koridor lantai dua, pasalnya suara itu sama sekali tidak asing ditelinga mereka.


Dibawah sana, tepatnya diatas panggung sudah terdapat dua pria tampan yang duduk dengan memangku gitar, pria itu Abidzar dan Iqbaal. Keduanya sama-sama tertawa, entah menertawakan apa, dilihat dari atas mereka sangat tampan sekali.


"Ya, jadi.. apaan sih gue gak ngerti mau ngomong apa *****." Terdengar suara Iqbaal dengan mic seraya menatap Abidzar dan langsung tertawa lagi.


Abidzar ikut tertawa, kemudian ia mendekatkan mulutnya ke stand mic didepannya.


"Mau bucin dulu boleh gak?" Tanya Abidzar menatap semuanya yang sudah siap mengangkat handphone untuk merekam dua most wanted ini.


'Boleh, kak!'


'Aduh bucin.'


'Adduuuhhh kakakk!'


Iqbaal tertawa seraya meninju pelan bahu Abidzar. Lalu, Abidzar kembali berbicara.


"Gue mewakili para laki-laki yang sayang banget sama ceweknya, terus buat yang cewek hargai cowoknya ya!" Ucap Abidzar.


"Saling sayang, saling unch-unch, tapi jangan berlebihan!" Tambah Abidzar yang membuat semua tertawa.


Iqbaal? Pria itu fokus membenarkan senar gitarnya agar suaranya merdu.


"Sebenernya sih intinya gue mau nyanyiin lagu ini buat cewek gue hahaha." Ujar Abidzar jujur dengan tawa diakhirnya disusul dengan Iqbaal yang terkekeh pelan.


"Langsung aja ya, yang tau lagunya nyanyi aja gapapa."


Semua langsung terdiam saat alunan gitar mulai dipetik oleh jemari Iqbaal, begitu lihai membuat semua serempak mengangkat handphone diudara untuk merekam.


'Hanya dirimu yang kucinta..


Takkan membuat aku jatuh cinta lagi..


Aku merasa..


Kau yg terbaik untuk diriku..'


Part Abidzar dinyanyikan dengan mulus, bahkan membuat semua kaum hawa harus mengelus dada mereka yang berdegup sangat kencang. Mereka merasakan Abidzar menyanyikan ini untuk mereka, sangat menyentuh.


Abidzar langsung menyambar memainkan gitarnya dengan lihat sama halnya dengan Iqbaal.


'Walau ku tau kau tak sempurna..


Takkan membuat aku jauh darimu..


Apa adanya..


Ku kan tetap setia kepadamu..'


Part ini lebih sadis karena Iqbaal yang mengeluarkan suara emasnya, baru pertama kali Iqbaal bernyanyi didepan banyak orang membuat banyak orang cukup speechless dibuat pria itu. Iqbaal membawakannya dengan menutup mata, memperdalam lirik lagunya dengan membayangkan sosok (namakamu) didalam pikirannya, hingga membuat semua orang harus menahan nafas mendengarnya.


'Tuhan jagakan dia..


Dia kekasihku..


Kan tetap milikku..'


Ini masih part Iqbaal, Iqbaal membuka matanya dan mulai kembali memainkan gitarnya saat Abidzar ingin melanjutkan nyanyian mereka.


'Aku sungguh mencintai..


Sungguh menyayangi..


Setulus hatiku..'


Jangan tanya bagaimana ekspresi (namakamu) diatas sana, ia terus menatap Iqbaal dengan sedih, tidak tahu apa alasannya, tetapi ia merasakan bagaimana perasaan Iqbaal yang begitu dalam dan berhasil diwakili lewat lagu ini. (Namakamu) membalikkan tubuhnya, mengibaskan tangannya didepan wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca. Iqbaal Iqbaal, sudah tahu (namakamu) lemah, malah dibuat seperti ini.


"Sweet banget, (namakamu). Gue baper." Gumam Zidny yang menatap (namakamu) dengan gemas.


"Ah, gue gak kuat." Ucap (namakamu) yang berjalan ke arah kelasnya, sesekali menghapus air matanya yang ada diujung mata sebelum benar-benar jatuh membasahi pipi.


"(Namakamu) jangan nangis, aduh gemes banget sih Iqbaal. Suaranya bagus banget banget banget!!!" Puji Zidny bertepuk tangan.


"Gue salah paham tau soal Bandung itu, terus gue jadi ngerasa bersalah tiba-tiba karena jalan sama Devano." Ucap (namakamu) lirih seraya duduk dibangku dalam kelas, ia mengusap air matanya.


"Kan gue bilang apa, jangan nething dulu. Iqbaal tuh gak kayak gitu, meski banyak cewek-cewek tapi kan Iqbaal gak bejat, pinter banget Iqbaal milih liriknya tadi. Denger gak lo?"


"Aaahhh, gue mau ulang waktu, gue gak mau jalan sama Devano!!" Ucap (namakamu) terisak.


Zidny menggeleng kecil. "Udah, lebay!"


(Namakamu) menyandarkan kepalanya dimeja, ia seharusnya merasa beruntung memiliki Iqbaal. Iya memang, ia sayang beruntung dan ia tahu itu, maka dari itu ia tidak mau Iqbaal diambil atau jatuh ke tangan orang lain. Mangkanya sikap posesifnya sangat melekat dalam hubungannya dengan Iqbaal.


(Namakamu) tersentak saat ada yang menyolek pinggangnya, membuatnya kembali duduk dengan tegak. (Namakamu) berdecak, sekaligus merengek kesal.


"Kok tidur sih?" Tanya Iqbaal, ya Iqbaal.


"Bukan tidur, nangis itu dia." Kompor Zidny yang membuat (namakamu) menatap sinis gadis yang bergelayutan dipintu kelas dengan mengunyah permen gagang.


"Utuk.. sayang." Ucap Iqbaal gemas dengan menghapus sisa air mata yang ada disudut mata (namakamu).


(Namakamu) menepisnya pelan, lalu menghamburkan satu pelukan. Iqbaal tersenyum, ia membalasnya dengan memberi tepukan-tepukan kecil dipunggung (namakamu).


"Suaranya bagus." Puji (namakamu) yang menempelkan pipi kanannya didada bidang Iqbaal.


Zidny tersenyum kecil, ia berjalan keluar untuk memberi waktu kedua temannya saling melepaskan rindu dan bercinta.


"(Nam).." Seru Iqbaal pelan yang tepat sekali ditelinga (namakamu), (namakamu) hanya membalasnya dengan dehaman kecil.


"Iqbaal sayang (namakamu)."


Degh'


(Namakamu) tidak bisa berkata, air mata sudah mewakili semuanya. Hanya 3 kata yang berhasil membuat hatinya bergetar dan air matanya jatuh dengan sendirinya. Ia membalasnya dengan mengeratkan pelukannya. Iqbaal itu orang yang hebat, bisa membuat harinya begitu campur aduk. Senang? ada, sedih? ada, bahagia? sangat, terharu? iya, kesal? parah, nyebelin? Jangan ditanya. Itu lah sebabnya, tanpa Iqbaal hari-harinya menjadi datar saja.


Seperti beberapa hari lalu, ah, (namakamu) kembali meneteskan air mata saat momentnya dengan Devano terputar. Kenapa ia begitu bodoh bisa sempat menaruh rasa nyaman pada mantannya itu, padahal kan Iqbaal yang ada disampingnya selama ini, Iqbaal yang membelanya dari apapun, Iqbaal yang mendahulukannya dari apapun, Iqbaal yang merangkulnya saat jatuh. Betapa bodohnya dan ia sangat merutuki kebodohannya ini.


(Namakamu) menaikkan kedua tangannya menjadi memeluk dileher Iqbaal, menyembunyikan wajahnya dibahu Iqbaal. Iqbaal mengusap perlahan punggungnya, ia membiarkan moment ini selama beberapa menit sebelum ia melepaskannya dan menatap (namakamu) yang menunduk, mengusap sisa-sisa air mata.


Iqbaal menopang kedua pipi (namakamu), menghapus air mata gadisnya dengan ibu jarinya. Lalu, memberi kecupan lamat dikening gadis itu.


"Baal—"


"Gue minta maaf ya, udah bikin khawatir beberapa hari ini." Ucap Iqbaal dengan senyum tipis.


(Namakamu) menghela nafasnya pelan, mengangguk perlahan sebagai jawaban. "Jangan gitu." Lirihnya getir.


Iqbaal tersenyum, menyingkirkan rambut (namakamu) dan menyelipkannya dibelakang telinga. Menghapus air matanya sampai bersih dan memberi cubitan kecil dipipi chubby (namakamu).


"Gemesss." Ucapnya.


(Namakamu) terkekeh kecil mendengar nada suara Iqbaal, lalu tersenyum malu.


Iqbaal memberi kecupan kecil dipipi (namakamu), lalu sedikit nyolong di bibir. Iqbaal terkekeh dan membawa (namakamu) ke dalam dekapannya lagi.


Intinya, (namakamu) tidak akan mau bermain atau mengkhianati Iqbaal, membohongi pria itu, apalagi sampai berani berpaling. Ingatkan (namakamu), bahwa rasa sayang Iqbaal padanya bukan main-main. Tidak seperti beberapa laki-laki yang pernah ada, seperti Devano contohnya.


(Namakamu) sayang Iqbaal, sangat. Senyebelin apapun tingkahnya, sengeselin apapun ucapannya. Iqbaal tetap Iqbaal.


Tetap Iqbaal yang (namakamu) sayang. Iqbaal yang (namakamu) cinta. Iqbaal yang ada disisinya.


Dan tetap Iqbaal pacar (namakamu).


.


.


BERSAMBUNGG..

__ADS_1


__ADS_2