
"hei bro!" seru seseorang yang tak lain Fachren sang kakak tingkat. iqbal hanya menatap nya dan Fokus kembali pada Ponselnya.
"Gue ngomong sama lu!" nada fachren meninggi.
"iya apa bro?" iqbal dengan santai menjawab fachren.
"Gausah tengil deh lo! mentang-mentang lo udah dapetin Queen"
"gue tengil dari mana?"
"muka lo kayak ngetawain gue!!" fachren memanas
"lah muka gue emang begini, gue liat lo aja enggak" iqbal masih santai menghadapi kakak kelas yang benar-benar menyebalkan ini.
"gausah alesan deh" fachren ingin menepuk pundak iqbal, namun iqbal tepis.
"lah gue alesan gimana? liat lu aja engga. gue salah dari mana? wahai kakak tingkat"
"lu ngobrol sama Bani kakaknya queen tempo hari, lo pikir gue ga liat?"
"lah masalah nya gue ngobrol sama ka bani kenapa? dilarang?" iqbal mulai mejawab dengan nada yang menekan.
"di kampus ini mending lo so akrab sama Bani, gausah sombong di hadapan gue. dengar itu!" fachren menunjuk-nunjuk muka iqbal.
"kalo gue seneng sama Iqbal gimana?" sambung seseorang yang tak lain Bani, fachren terdiam.
"karna gue lebih kaya dari pada Iqbal, gue pantes temenan sama lo bani!"
"apa hubungannya?" bani menatap Fachren, iqbal yang di samping bani hanya terdiam.
"karna orang kaya berteman sama orang kaya" jawab fachren, membuat Bani tersenyum sinis.
"Letnan Adi bokap lo kan? masih bawahan bokap gue. lo tau iqbal anak siapa? ntar kaget lagi kalo dengernya." seru bani, Fachren terdiam karna selama ini ia selalu membangga-banggakan kalau dia orang berada tanpa melihat diatasnya masih ada orang yang lebih darinya. sebenarnya bukan urusan bani, tapi entah mengapa bani tak menerima teman barunya iqbal itu di hina.
"mending lo pergi, sekali lagi ganggu iqbal gue gue buka tentang si letnan yang hampir kehilangan kehormatannya" Ancam bani, sebenarnya ia tak tau apa nya ia katakan. hanya untuk mengancam fachren saja. mata fachren membulat mendengar perkataan Bani dengan kesal ia pergi dari hadapan Bani dan iqbal.
" lo gapapa bro?" tanya bani melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki iqbal.
"gapapa, gue engeh ko lu ada di balik tembok" iqbal tersenyum pada bani.
"haha ketauan, tadinya gue gamau keluar. tapi dia udah keterlaluan ngelarang orang berteman sama gue pantes gue gaada temen"
"haha bisa aja lo, lo kelar kelas ka bani?"
"hooh mau nongkrong? di rumah gue aje ajak temen."
__ADS_1
"boleh tuh, tapi ntar berisik ganggu Ayah ibu lu ka"
"ah santai, santai gue duluan nih udah gue kasih tau alamat nya di line" menepuk pundak iqbal lalu pergi dari hadapan iqbal.
Iqbal berencana mengajak Bayu dan Fadil.
namun Bayu tak bisa karna ada Urusan, sedangkan Fadil mengiayakan ajakan Iqbal.
Queen berlari kencang ke arah iqbal, ia mendengar dari OB fachren sedang berdebat dengan anak baru.
"oy anak baru lo gapapa kan? si aneh kating ga nonjok lu kan?" nada queen cukup khawatir, ia memegang dagu iqbal untuk mengecek bahwa muka iqbal ada luka atau tidak.
"yang aneh elu" batin iqbal. ia menepis tangan queen. "gapapa santai aja".
"huffft syukurlah, yaudah gue balik dulu di tunggu bang bani nih. byeee boleh kangen ko" queen merasa lega jawaban iqbal, ia pun pergu melambaikan tangan pada iqbal.
"90% aneh" gumam iqbal, berjalan menuju parkiran. ia menjemput Fadil lalu mengajak fadil kerumahnya untuk menganti pakaian.
Sebenarnya queen merasa karnanya iqbal jadi terseret Kasus Fachren.
-----
Kampus Fadil.
tringgg.. *notifikasi line
Bro, gue udah di depan kampus, mobil lo yang mane? taxi? part time lu supir taxi?
Iqbal menghela nafas, ia lupa memberi tahu warna mobilnya.
Iqbal menjawab pesan Fadil
harier item.
Tak sampai 5 menit fadil masuk ke mobil Iqbal.
"Bro main kemana nih?" tanya fadil.
"ke rumah kating, tapi gue ganti baju dulu" sembari fokus menyetir.
Setelah menganti baju iqbal langsung menuju Lokasi yang Bani beri.
"Lho masuk komplek TNI?" tanya fadil
"hooh, alamatnya gitu"
__ADS_1
"oh"
Sampai di rumah Bani, iqbal langsung memarkirkan mobilnya mengirim pesan pada Bani bahwa ia sudah di depan rumahnya. fadil hanya diam sudah jelas ia akan main di rumahnya.
tringgg.. *notifikasi line
Bani
masuk aja, bilang ke ajudan teman bani. gue lagi siapin makanan dulu nih.
"Gila dil ampe punya Ajudan" iqbal takjub.
"haha iya" jawab fadil kikuk.
"fix kalo ada ka yislam gue kena nih, main muli pasti" batin fadil.
mereka berdua pun masuk, disambut Bani di Ruang Keluarga. Bani heran kenapa Fadil Bisa dengan Iqbal.
"ka ini temen gue" ucap iqbal, bani hanya mengangguk.
Queen yang duduk di ruang tamu hanya melirik iqbal lalu fokus kembali pada film kartunya. namun pandangan ia ke fadil.
"wah lo ye ka fadil, jaket gue mana ih balikin dong itu baru di pake Sehari" seru queen pada fadil
"lhooo ko ka? kalian kenal?" tanya iqbal heran.
"Seperut malah" jawab bani.
"hah?" iqbal semakin bingung.
"kembar mereka" jelas Bani.
"lho ko lu gabilang gue dil? kenapa kaga bilang imi rumah lu?"
"gue kira mau ke tetangga sebelah dia anak Univ lu juga" jelas fadil
"oh gitu, gue asing banget ngumpul sama kaka beradik" gumam iqbal
"haha santai bro" fadil tertawa.
"ah iya iya"
"main Ps mau?" ajak Bani
"boleh" jawab iqbal.
__ADS_1
"yaudah ke kamar gue" ucap bani, berjalan ke kamarnya yang ada di lantai 3 di ikuti Iqbal dan Fadil.