
Suara kicauan burung diluar serta sinaran cahaya yang semakin meninggi membuat pagi itu begitu indah. Sinar yang mampu menyilaukan mata menandakan bahwa hari ini begitu cerah.
Cahaya itu masuk di sela-sela gorden kamar Kia, bunyi alarm mulai bunyi menandakan sudah pukul 6 pagi. Alarm itu mampu membangunkan Kia yang masih tidur.
"Udah pagi" kaget Kia lalu bangkit dari tempat tidur mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Cara mandi Kia pagi ini sangat singkat, bahkan bisa dibilang kalau dalam hitungan tiba sekitar 5 timba air. Kia keluar dari kamar mandi dengan kaki yang masih basah lari-lari dalam kamar mencari baju seragamnya, membuka lemari mengambil baju seragamnya.
"Aku punya seragam baru, kok aku bisa lupa ya" gumam Kia lalu mengambil baju tersebut dan tidak lupa memasukkannya dalam tas.
"Kia, Mami tunggu di meja makan yaa, sarapan sama-sama dengan papi" Teriak Maminya dibalik pintu kamar.
Kia mendengar itu langsung keluar dengan rambut yang masih dibalut dengan handuk.
"Belum siap lagi?" Tanya Maminya
"Mi kapan Papi sampai? kok Kia gak tau" Ujar Kia lagi
"Sekitar jam 12, Kia sudah tidur. Cepat ke ruang makan" Ucapnya lalu pergi dan Kia mengangguk lalu kembali dalam kamar mengerikan rambutnya menggunakan hairdryer.
setelah beberapa menit sudah selesai dan sekarang sudah duduk di kursi meja makan.
"Papi gak bangunin Kia pas tiba?" protes Kia sambil menyendok nasi goreng.
"Gak mungkin papi bangunin, kan papi tau pagi ini ke sekolah" jawab Papinya lembut, "nanti kalau cari calon suami kayak Papi" Sambung Kia yang membuat orang tuanya diam seketika lalu saling memandang.
"Pi, anak kita udah dewasa" ujar Mami Kia
"Iya Mi" jawab Papi Kia
"Eh, gak salah dong kalau Kia berpikir seperti itu?" tanya Kia setelah menyadari ucapannya dan ucapan orang tuanya itu.
Kedua orang tuanya hanya mengangguk tanpa jawab sambil mengunyah makanan mereka.
Papi Kia malah sedih jika putri yang selalu memanggilnya setiap hari, teriak an Kia yang membuat rumah itu lebih hangat, pemikiran seperti itu membuat pria tua ini yang menghela napas lalu membuangnya dengan perlahan.
"Papi kenapa?" Kia menyadari itu.
"Gak, hanya berpikir nanti gimana kalau Kia menikah Mi, pasti rumah ini sunyi" Ujar Papi Kia. Ia terlalu ambil hati ucapan putrinya pagi ini yang membuat Kia tertawa cekikikan.
"Hahaha, Papi aneh. Kia tetap tinggal dengan Papi dan Mami. Dan Kia udah selesai makan nih, pasti Pak Mang sudah lama nunggu" ucap Kia lalu mencium tangan Maminya dan Papinya.
"Papi yang antar" Ujarnya sambil menarik kursi kebelakang lalu berdiri dan mengambil kunci mobil.
"Mami, kami pergi dulu ya, assalamualaikum" pamit Kia kedua kalinya.
wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan" petuah seorang istri dan ibu.
Sedangkan Cha. Cha sudah siap dalam tinggal menjalankan mobilnya, ia merasa ada yang kurang hari ini tapi tidak tau itu apa. Mulai kembali dalam rumah sambil mengingat barangnya seperti penting dibawa di sekolah tapi cha sendiri bingung.
"Kenapa balik lagi, nanti terlambat Cha" Ucap Maminya itu.
"Ada barang yang Cha lupa Mi, tapi apa gitu?, Cha rasa ada yang dilupa tapi bingung lupa Mi" jawabnya sambil menuju kamarnya.
"Anak sekarang membingungkan" gumam Mami Cha lalu ia pergi dari ruang tamu itu.
Cha masuk dalam kamar dan matanya langsung bertemu dengan hoodie yang sudah di modifikasi dengan seragam sekolah nya seperti logo.
"Untung aku kembali" Ucapnya seorang diri sambil mengambil hoodie nya lalu keluar dari kamarnya itu menuju pintu utama.
"Mami, Cha ke sekolah dulu ya" pamitnya untuk kedua kalinya.
"Iya" jawab Maminya yang lagi melihat tanaman bunganya.
Disisi yang berbeda dengan Tasya. Tasya sudah memakai hoodie nya ke sekolah. Ia merasa ribet kalau harus memakai seragam seperti biasa dan dilapisi dengan hoodie lagi. Hoodie mereka pakai sama, mereka beli dan sekaligus mereka minta dijahitkan logo dan tulisan SMA mereka juga.
__ADS_1
Dengan tas ransel yang sudah dipakai dan kunci mobil ditangan kanannya jalan melewati maminya yang sedang ngeteh pagi-pagi.
"Tasya kenapa pakai seperti itu?" tanya Maminya sambil menaruh cangkir tehnya diatas meja.
"Sini dulu, Mami mau bicara" Ucap nya sambil melambaikan tangan memanggil putri itu.
"Iya Mi, Tasya buru-buru nih" jawab Tasya
"Kenapa pakai hoodie kesekolah?" tanya Maminya lagi
"Ini menandakan kreatifitas anak bangsa Mi" jawab Tasya sambil memperlihatkan tulisan-tulisan di bajunya itu, "Bagus kan Mi?" sambungnya sambil putar-putar badan memperlihatkan kepada Maminya itu.
Maminya sambil menghela napas lalu bertolak pinggang, "Jangan bandel Tasya, baru saja Mami tenang"
"Maaf Mami, Tasya harus pergi, Assalamualaikum" pamitnya
"Hmmm. wa'alaikumussalam" jawab Maminya dan Tasya tau kalau Maminya pasti kesal tadi
🌺
Semua siswa dan siswi kumpul depan sekolah tanda apel pagi akan dimulai. Kia, Tasya dan Cha pun ada dalam barisan dengan santai penuh percaya diri bergabung dengan yang lain.
Ketua osis mengarahkan bahwa setiap ketua kelas merapikan barisan teman-temannya. Kia mendengar suara itu langsung maju dibaris depan sambil menarik kedua temannya itu.
"Cha, Ki bukan itu yang di kantin sekolah" Ucapnya sambil menunjuk dimana ketua osis itu berada
Dengan cepat Cha menurunkan tangan Kia, "Jangan nunjuk-nunjuk, nanti kita lihat baru dihukum. Mau dihukum?" tanya Cha
"Iya nih, masa gak tau kalau itu ketua osis. Memang waktu pemilihan ketua osis kamu dimana?" tanya Tasya.
"Mimpi kayaknya" Jawab Kia lagi, "Ehh masa nunjuk doang dihukum?, gak mungkin" Kia tidak percaya dengan ucapan Cha itu.
Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama ketua osis sudah terdengar,
Kia, Cha dan Tasya kaget dan teman-teman yang lain spontan menoleh kearah mereka bertiga.
"Bergaya sih" cibir dari salah satu kelas lain.
Kia, Cha dan Tasya malah santai dengan ucapan itu, karena mereka bawa seragam lain kalau kena teguran.
Apel dimulai dan penyampaian terakhir dari kepala sekolah dan kemudian ditutup oleh ketua osis itupun hanya mengingatkan tentang Hoodie tersebut.
Semua bubar dari barisan yang tersisa tinggal mereka bertiga dan ketu osis tersebut datang,
"Dipanggil ruang BK" Ucapnya dengan dingin dengan menoleh ketempat lain.
Kia yang tidak biasa dicuekin seperti itu dan biasa orang menyerah padanya dan memilih pergi tapi ini malah sebaliknya, cuek iya tapi pergi tidak.
"Apa dengan hoodie kami harus dihukum?" tanya Kia setelah ia diam.
"Apa kamu lihat yang pakai hoodie disekolah?" tanya balik ketua osis itu.
Kia menatap tajam ketua osis itu, "Maaf, apa kalau berkomunikasi dengan lawan bicara menghadap ditempat lain?" tanya Kia lagi
"Heee.." Ucapnya dengan senyum mengejek, "Bukan yang terpenting masih bisa dengan suaramu dan kamu bisa dengar suara aku" Sambungnya.
"Hahaha..." Kia tidak bisa menahan tawa mendengar itu, "Aku, kamu" Sambung Kia sambil menunjuk dirinya bergantian dengan menunjuk ketua osis.
"Jadi kapan aku dan kamu jadi kita?" tanya Kia sambil menaik turunkan alisnya.
Seketika wajah ketua osis itu merah mukanya karena malu, dan Kia kali ini menatap ketua osis itu dengan sedikit senyum.
Tasya dan Cha hanya diam namun dalam hati loncat-loncat ingin ketawa cekikikan. Tasya dengan sedikit berdehem sebelum membuka suara.
"Sebenarnya kami ini ke ruang BK diantar atau jalan sendiri?" tanya Tasya lagi kepada ketua osis itu lagi.
__ADS_1
"Iya, atau kami dituntun?" tanya Cha.
Ketiga gadis itu jika hanya satu orang yang mereka hadapi maka akan diganggu sampai orang itu malu sendiri. Ditambah wajah mereka yang cantik-cantik, jadi siapapun yang lihat dari dekat pasti akan menaruh hati namun kecantikan itu kadang ditutupi dengan sifat bandel mereka.
Ketua osis langsung melambaikan tangan memanggil sekretarisnya, dan tidak lama sekretarisnya itu datang.
"Ada apa?" Tanyanya to the point setelah sampai dan melihat orang didepannya itu yang pakai hoodie, "Lhoo.. kenapa pakai seperti ini?" sambungnya dengan pertanyaan kepada Kia, Cha dan Tasya.
"Ini Kreatif anak bangsa harus dihargai" Jawab Cha.
Kreativitas anak bangsa pasti dihargai tapi tidak ditempat yang salah" jelas sekretarisnya ketua osis itu.
"Salah tempat gimana? logi ada, sama sekolah juga ada jado salahnya dimana?" tanya Tasya.
"Sekolah tidak ada yang pakai hoodie hanya kalian bertiga" jawabnya sambil nunjuk Kia, Cha dan Tasya.
"Kalau masalah hoodie ini bisa kok kami ganti, karena memang kami bawa seragam lain" Jawab Kia
"Kenapa kalian tidak pakai itu tadi waktu apel" jawab ketua osis lagi.
"Kami hanya ingin memperkenalkan tren baru dari kami, siapa tau ada yang suka" jelas Kia lagi, "Ini sebenarnya kami ke ruang BK atau tidak, kami bukan kambing atau sapi diluar sana yang selalu berdiri" Sambungnya dengan kesal
Seketika sekretaris ketua osis ketawa dan Ketua osis langsung menoleh ketempat lain agar tidak ketahuan ketawa.
"Ketawa saja, kita seangkatan kok tidak akan lama lagi tamat dan mungkin kita ini tidak akan bertemu lagi" Ujar Kia menjalankan aksinya lagi.
"Gak tau kami tiga serangkai yang membuat malu sendiri, salah cari lawan bos" Batin Kia dengan senyum penuh makna
"Ohh kita seangkatan?" Respon sekretaris itu sambil menunjuk Kia, Cha dan Tasya.
Mereka spontan mengangguk lalu menjawab, "Iya hanya kami tidak mau menonjolkan diri" Ujar Tasya lagi
"Ohh, Ada seragam lain kan? pergi ganti secepatnya sebelum ditau guru lain" Arahnya kepada Cha, Kia dan Tasya, "Dan kamu, tumben cari masalah, ada apa?" sambungnya dengan pertanyaan lalu pergi.
Tasya, Cha dan Kia seketika langsung saling melirik satu sama lain sambil senyum.
"Let's go teman-teman" Ucap Kia lalu ke arah ketua osis itu, "Kapan jadi kita?" tanyanya lalu pergi.
"Hoodie kok direpotkan, kreatif anak bangsa tidak didukung penuh jadi pola pikir kita itu yahh situ-situ aja gak berkembang" Kia mengomel sambil ganti baju itu.
"Susah Kia" jawab Cha.
"Makanya kita tidak menghadirkan karya baru yang busa membanggakan" Kia belum terima.
"Sudahlah, kapan jadi kita?" Tanya Kia kepada Cha
Seketika mereka ketawa mengingat ucapan Kia itu, Kia pun tidak habis pikir kenapa kalimat itu keluar dari bibirnya begitu mudah.
"Aku tidak sadar lho bilang seperti itu tapi ketua osis merah mukanya" Ujar Kia lagi yang membuat Cha dan Tasya geleng kepala heran dengan sahabatnya ini.
"Moga aja jodoh ya" Timpal Tasya.
"Heee... Jangan, gua mau oppa oppa Korea yang ganteng" ucap Kia lagi
"Gak mau kayak nya oppa Korea sama kamu" Timpal Cha
"Aku gak jelek-jelek amat kok jadi aman, yukk kita keluar nanti terlambat masuk kelas.
Saat mereka keluar berpapasan dengan ketua osis yang baru keluar dari ruang ganti laki-laki karena ruang gantinya bersebelahan.
"Ngapain keruang ganti tapi bukan urusan aku juga sih" gumam Kia.
...**SEMOGA SUKA ❤️...
...TERIMA KASIH 🙏**...
__ADS_1