
Makan malam di rumah Kia bersama dua sahabatnya. Sejak dulu Kia hanya makan bertiga dengan kedua orang tuanya dan sekarang makan bertiga lagi tapi dengan ke dua sahabatnya.
Sedangkan orang tua mereka ada disebelah ruangan, mereka memilih untuk ngobrol santai. Persahabatan mereka bertiga terjalin bukan hanya sebatas mereka, tapi sampai ke orang tua mereka juga.
"Rencana Kia, mau di kuliah di mana?" tanya orang tua Cha.
"Tergantung dia, saya tidak mau membatasi anak, biar bagaimanapun dia anak saya satu-satunya" Jawab ayah Kia itu dengan santai.
"benar, kalau Cha harus kuliah yang dekat-dekat saja, kita tau kan ana-anak kita masih labil" Respon ayah Cha.
"Iya pak, aduh setiap hari maminya di bikin pusing oleh Tasya" timpal ayah Tasya.
Ayah Kia kembali berpikir untuk membiarkan anaknya memilih sendiri universitas untuk melanjutkan studinya nanti.
Sementara di ruangan sebelah dimana tiga sejoli ini bersenda gurau tidak penting. Kia menawarkan kembali kepada kedua sahabatnya untuk makan pizza yang ia pesan tadi.
"Harus coba pizza langganan aku" Ucap kia berlalu pergi mengambil pizza pesanannya sama kurir yang sudah menunggu depan rumah.
"Heee, tunggu. Masih kenyang Kia" Teriak Cha sambil berlari sedikit mengejar Kia.
Tasya pun bangkit dari kursinya dan ikut Cha sambil bergumam pelan, "Ada-ada saja, sudah makan masih dipaksa makan lagi"
Diruangan sebelah orang tua Cha geleng kepala mendengar suara anaknya menggelegar dalam rumah orang lain meskipun rumah sahabat sendiri.
"Maaf ya, Cha suka begitu dirumah" Ucap Mami Cha tidak enak hati pada ke dua orang tua Kia.
"Gak masalah, biar ada suara juga dalam rumah ini" Jawab Mami Kia dengan santai, "Kami jeng, kalau bertiga sunyi kecuali Kia kumat itu baru ribut menyanyi sana sini. Untung papinya ini tidak siapkan toa dalam rumah, kalau ada mungkin tiap malam Kia orasi, itu saja suara musik seakan mau terbang benda-benda dalam rumah" sambungnya lagi dengan heran mengingat tingkah anak semata wayangnya itu.
"Kalau Tasya gak terlalu mungkin karena ada adiknya kali" Timpal Mami Tasya.
"Tasya ada adiknya? Tasya berarti udah dewasa, dia takut nanti adiknya ngikut jadi dia harus jaga sikap" Ucap Mami Cha, "Tapi kalau Cha sama dengan yang jeng ceritakan tadi, hanya dia gak nyanyi tapi kalau ribut seperti itulah teriak gak tau tempat" Sambungnya lagi.
"Kalau bahas anak memang gak akan ada habisnya" Ucap Papi Tasya ikut menimpali ucapan para ibu-ibu itu.
"Iya, hehehe" Respon ke tiga ibu ibu itu.
Sedangkan disebelah anak mereka masih menikmati pizza pesanan Kia.
"Enak juga ya Kia pizza langganan mu ini" Ucap Cha sambil mengangkat kaki.
"Gak sopan depan makanan kakinya satu diangkat dan satu dijuntaikan" Nasehat Tasya.
__ADS_1
"Ki, kaki aku sampai lantai lho hanya satu ini kenapa aku angkat?" Cha menunjuk lututnya yang sejajar dengan dada, "Ini karena terlalu menikmati" sambungnya lalu kembali memasukkan potong pizza ditangannya.
Kia melihat itu hanya senyum, "Gimana kita makan aja dulu sampai habis, mubazir kalau gak habis" Ucap Kia setelah lama memperhatikan kedua temannya.
"Tumben waras" Jawab Tasya lagi kepada Kia.
"Kamu kira aku gila?. Eeiitss aku hampir lupa" Ucap Kia lagi yang membuat Cha dan Tasya saling memandang.
"Lupa apa lagi?, kamu ini belum tua sudah pikun" Ucap Cha dan Kia hanya meresponnya dengan ketawa.
"Santai dong, kalau yang ini wajar dong kalau aku lupa karena prosesnya panjang untuk mendapatkannya" Jelas Kia yang membuat Tasya dan Cha penasaran.
"Apa?, penasaran tau" Ucap Tasya dan Cha bersamaan.
"Gak baik penasaran tau, nanti muncul lipatan dibawah mata kamu berdua" Ucap Kia sambil menunjuk ke dua temannya itu.
"Penuaan dini maksudnya?" Ucap Tasya dan setelah itu garpuk melayang di kepala Kia.
"Galak amat neng, bercanda kali. Tapi memang benar ini surprise buat kita" Jelas Kia sembari senyum-senyum dan sesekali mengedipkan matanya kepada ke dua sahabatnya itu.
"Ku rasa obatmu habis Kia, dimana-mana surprise itu belum ada yang tau. Oke lah aku dan Ki gak tau tapi surprise untuk kita itu berarti kamu juga belum tau" Jelas Cha dan bikin gregetan tingkah Kia malam ini, "Air minum Ki, panas aku rasa hawanya disini" Sambungnya lagi.
"Hee, sok panas lagi, bilang aja suka surprise" Ucap Kia lagi.
"Tinggal sepotong" Jawab Tasya dan mengangkat pizza yang sepotong itu memperlihatkan kepada Cha.
"Tugasnya tuan rumah itu" Ucap Cha dan tidak lama Cha bersendawa.
"Iihhh gadis kok gitu" Ucap Kia.
"Gak masalah yang penting disini" jawab Cha malas pusing.
"Mana baiknya" Tasya menengahi Cha dan Kia, "Tapi Kia, surprise apa untuk aku dan Cha?" tanya Tasya penasaran.
"Surprise kita bertiga" Ulang Kia.
"Dari siapa?" tanya Tasya lagi.
"Dari aku" Jawab Kia sambil menyipitkan matanya melihat Tasya, "Penasaran kan?" Sambungnya dengan pertanyaan.
"Aku Lebih ke heran, bagaimana bisa surprise kita bertiga tapi itu dari kamu" Tasya pun heran.
__ADS_1
"Perempuan kan suka kejutan" Ujar Kia lagi.
"Sudah Kia, pusing kepala aku" Ucap Tasya lagi.
"Nah kan" Timpal Cha.
"Yang penting besok aku bawa di sekolah dan pasti kalian suka" Ucap Kia lagi.
"Terserah kamu, ngikut aja" Jawab Cha dan Tasya mengikut dari pada tambah pusing.
Kunjungan teman-teman Kia kali ini paling lama dari biasanya, karena ditemani dengan kedua orang tua mereka. Bercengkerama dengan sahabat memang seru meskipun kadang pikiran tidak sejalan. Cerita malam ini cukup menguras emosi Cha dan Tasya, sedangkan Kia merasa terhibur ketika sahabatnya pusing. Aneh memang tapi itu lah Kia.
Orang tua Kia datang dimana anak dan sahabat-sahabatnya berada memberitahu kalau orang tua mereka akan segera pulang ditambah melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Cha dan Tasya, Papi dan Mami kalian udah mau pulang" Ucap Mami Kia.
"Iya Tan. Pamit dulu ya Kia, sampai ketemu besok di sekolah, by" Ucap Tasya dan Cha, lalu mereka menyalami tangan Mami Kia, "Kami pulang dulu tan, assalamualaikum" Pamit Cha dan Tasya.
Orang tua Cha dan Tasya sudah jalan menuju pintu utama rumah Kia sembari cerita dengan pemilik rumah yaitu papinya Kia.
Cha dan Tasya pun sudah bersama orang tua mereka, dan kembali pamit untuk kedua kalinya Cha dan Tasya serta ke dua orang tua mereka kepada pemilik rumah dan saat bersamaan Kia dan maminya juga datang.
"Cha, Ki, datang lagi yaa" Ucap nya sembari senyum.
"Iya, itu gampang" jawab Cha.
"Kapan-kapan datang lagi ya jeng" Ucap Mami Kia.
"Iya, bagus bikin arisan kali ya" usul Mami Cha tiba-tiba terlintas dibenaknya.
"Bagus juga, tapi nanti kita bahas, gimana?" tanya Mami Tasya yang tidak kalah gaul.
"Mi, ini sudah jam 10 malam lho, nanti disambung lagi ceritanya" Ucap Papi Tasya.
"Kalau perempuan sudah bertemu dan ceritanya nyambung, yaah begini" Timpal Papi Cha.
"Hahahaha" Suara tawa mereka bertiga.
"Kami pulang dulu, para bapak-bapak sudah protes. Assalamualaikum" Pamit orang tua Cha dan Tasya yang diikuti oleh Cha dan Tasya sendiri.
...Semoga Suka ya guys😅...
__ADS_1
...Terima kasih 🙏...