
Sejak tiga serangkai itu masuk di ruangan BK, ruangan itu tiba-tiba suasananya menyeramkan bagi mereka. Dengan langkah pelan dan pasti tiga serangkai semakin dekat dengan meja guru BK.
Terlebih dahulu mereka memandang satu sama lain dan menarik napas dalam-dalam karena mereka sudah tau kalau guru BK yang bernama ibu Tina ini tidak mikir-mikir hukum siswa yang melanggar aturan.
"Kita duduk" bisik Kia. Cha dan Tasya langsung mengangguk.
Dengan pelan menarik kursi sebelah meja guru BK itu dan langsung duduk.
Ibu Tina karena sedang mengetik, entah apa yang ia ketik di komputernya, yang pasti sejak Tasya, Cha dan Kia masuk di ruangan itu langsung mendadak sibuk.
Ibu Tina menurunkan kaca matanya sedikit kebawah menggunakan jari telunjuknya.
"Apa ibu sudah menyuruh duduk?" tanyanya dan spontan Cha, Tasya dan Kia kembali berdiri.
"Maaf bu" Ucap ketiganya bersamaan.
"Iya, silahkan duduk" Ucap ibu Tina mempersilahkan.
Tasya langsung tersadar, kenapa dirinya ikut duduk diantara dua temannya, sementara dia tidak dipanggil di ruangan BK.
"Maaf bu, ini saya sudah membawa dua teman saya, saya permisi keluar bu" Pamit Tasya dan hendak mau berdiri.
"Terima kasih, tapi kamu termasuk juga. Lihat baju kalian bertiga, kenapa seperti ini? ini baju Korea kan?" tanya ibu Tina sambil menunjuk baju muridnya yang selalu bikin ulah.
"Benar bu, tapi bagus kan bu?" tanya Kia spontan membuat ibu Tina langsung melototi Kia.
"Bagus jika pada tempatnya. Apa motivasi kalian berpakaian seperti ini?" tanya ibu Tina lagi.
"Jujur bu, itu hanya ide kami bertiga" Jawab Cha penuh yakin.
"Kalau kamu Tasya. Ibu panggil Tasya saja tidak masalah?" tanya ibu Tina dengan kacamata yang masih tertempel di hidungnya.
"Iya bu, hanya sekedar suka bu" Jawab Tasya.
"Kalau suka tidak mesti di sekolah, bisa pakai ke Mall atau pantai" Jelas ibu Tina lagi.
"Maaf ya bu sebelumnya" Ucap Kia dengan sopan dan saat itu Tasya dan Cha saling melihat, penasaran dengan apa yang diucapkan Kia kali ini.
"Kalau pantai bu,. biasanya bikini bukan hanbok. Bisa-bisa dikira salah kostum bu" Jawab Kia penuh yakin membuat ibu Tina hanya menghela napas.
"Jadi apa tujuan kalian pakai baju seperti ini, mana seragam kalian?" Tanya ibu Tina.
"Dikelas bu" Jawab Tasya.
"Jujur ibu heran sama kalian bertiga ini, insyafnya hanya sebentar apa gak bisa istikomah, supaya guru-guru disekolah ini senang terutama ibu sendiri dan wali kelas mu" Jelas ibu Tina.
"A am m.... "ucap Kia dipotong langsung oleh Tasya.
"Maaf ya bu, sekali lagi maafkan kami bertiga" Ucap Tasya.
"Iya bu, Maaf bu" Timpal Cha.
Tinggallah Kia dalam mode diam, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
Cha menyenggol lengan Kia. Kia menoleh ke arah Cha.
"Apa?" tanya Kia tanpa suara.
__ADS_1
"Minta maaf" Ucap Cha dengan sedikit mengeluarkan nada.
"Oh" Jawab singkat Kia.
"Maaf bu. Gara-gara ulah kami guru-guru disini malu" Ucap Kia penuh penyesalan.
"Ya sudah, keluar dari ruangan ibu langsung ganti dengan baju seragam. Jangan buat orang tua kalian sebagai donatur disekolah ini malu dengan tingkah kalian" Jelas Ibu Tina.
"Saya baru tau bu, sejak kapan itu bu?" Tanya Tasya.
"Rahasia" Jawabnya, "keluar sekarang, ganti baju kalian dengan seragam" sambungnya sambil menunjuk baju yang dikenakan Kia, Tasya dan Cha.
"Baik bu, terima kasih" Ucap mereka bersamaan lalu bangkit dari kursi sembari berkata kesenangan mendengar orang tua mereka salah satu donatur disekolah mereka saat ini.
"Kalau aku tua, mami salah satu donatur di sekolah ini, tiap hari aku ganti warna rambut" Ujar Cha.
"Gak nyangka ya Mami kita salah satu donatur di sekolah ini, pantas gak mau sekolah di tempat lain" Tinpal Tasya.
"Mami diam-diam jadi donatur disekolah ini, pantas setiap aku bolos selalu ketahuan. Pasti skongkol nih dengan guru-guru disini" Gumam Kia.
Meskipun hanya sebatas gumam semata telinga Cha dan Tasya masih bisa dengar dengan jelas.
"Benar banget Kia, meskipun kita selamat dari sekolah tetap tu mental kita dihajar habis-habisan di rumah" Ucap Cha setelah menyadari keanehan yang terjadi selama ini.
"Sama Cha" Timpal Kia, " Susah kalau punya koneksi di dalam kita bertiga hanya tau bolos bisa apa, iya kan?" Sambungnya berakhir dengan pertanyaan.
"Yaaahh" Jawab Tasya dengan mengangkat kedua tangannya seakan pasrah saja.
"Jadi ide selanjutnya?" tanya Tasya lagi.
"Haduhh, selama ini kita seperti bersembunyi dibelakang Mami. Pantas ya Mami bilang aku itu kentara kalau bohong" Ucap Kia baru menyadari maksud dari Maminya itu.
"Emang Mami mu tau dari mana kalau bohong?" tanya Cha penasaran.
"Sejak dalam kandungan Cha, parah kan?" Jawab Kia yang membuat Cha dan Tasya pecah ketawa.
"Hahahaha.. aduh perut aku sakit" Ucap Tasya disela-sela tawanya sambil memegang perutnya.
"Hahaha, mana ada sih Kia kayak gitu.. hahaha, aku gak tau siapa yang dikerjain disini" Ucap Cha tidak henti-hentinya ketawa.
Sedangkan siswa siswi yang lihat tiga serangkai itu malah heran, karena biasanya orang habis dari ruang BK itu diam atau tidak langsung masuk kelas, mereka malah ketawa seperti tidak ada masalah.
"Itu mereka ketawa karena stres gara-gara dari ruangan BK atau benar-benar mereka lagi senang?" Tanya salah satu siswi kepada temannya yang sedang duduk menunggu jam pulang.
"Gak tau juga" Respon salah satu dari mereka malas pusing.
"Menurut teman-teman yang lain?" Tanyanya lagi.
"Gak tau" Jawab salah satu siswa.
Berbeda dengan Tiga Serangkai, mereka masuk kelas mengambil tas dan menuju salah satu ruang ganti yang biasa mereka pakai saat mau olahraga.
"Singgah di rumah yuk" Ajak Kia.
"Ngapain?" tanya balik Cha.
"Yeee, emang harus ngapain baru singgah di rumah?" tanya balik Kia tanpa menjawab.
__ADS_1
"Maksudnya supaya ada alasan kalau ditanya Kia" Jelas Tasya.
"Oh ngomong ke, bilang kita mau karaokean. Mami aku yang ngajak tapi gak seru kalau hanya berdua" Ucap Kia.
"Sejak kapan ngajak karaokean?" tanya Tasya.
"Sejak kita ke taman kerja tugas" Jelas Kia.
"Ya udah kalau gitu, pahala kalau buat orang tua bahagia" Ucap Tasya sembari memasukkan kembali hanboknya dalam tas.
"Telepon Mami mu Kia" Ucap Cha.
"Sekarang?" tanya Kia.
"Sekarang, masa minggu depan" Jawab Cha.
"Iya-iya, ngegas aja.. hehehe" Ucap Kia lalu mencari kontak Maminya.
📞 Kia : Assalamualaikum Mi, Mami di rumah?" tanya Kia ti the point.
Terdengar diseberang telepon sedang bunyi orang menggoreng.
📞 Mami Kia : Iya, ini Mami lagi masak. Kenapa?" Tanya balik. Baru kali ini anaknya menelepon menanyakan dirinya di rumah, "Teman-teman Kia mau datang di rumah?" tanyanya lagi.
Kia langsung menjauhkan ponsel dengan dirinya, "Mami aku tau lho kalau mau datang di rumah" Ucapnya dengan nada kecil.
"Masa sih, berarti benar dong Mamimu itu tau keadaanmu meskipun jauh" Ucap Cha tiba-tiba teringat ucapan Kia dijalan menuju kelas tadi.
"Insting.. lanjut Kia, Mami mu masih menunggu lho" timpal Tasya.
📞 Kia : "Mi" panggil Kia.
📞 Mami Kia : Iya, ajak teman-teman kamu, kita karaokean di rumah. Mami tunggu. Assalamualaikum" Ucap Maminya diseberang telepon membuat Kia kebingungan sendiri.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Kia meskipun telepon sudah mati.
"Gimana?" tanya Tasya.
"Mami aku sudah tau" Jawab Kia.
"What.. yang benar saja" Timpal Cha kaget.
"Iya, Mami tunggu kita di rumah" Jawab Kia, "kita pulang, sudah jam pulang sekarang" ajak Kia.
"Benar" Jawab Cha sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Pokoknya jangan macam-macam sama Mami mu Kia, sepertinya Mami mu punya indra ke enam atau punya ilmu sesuatu yang bisa tau apa yang ada dipikiran mu" Ucap Tasya membuat Kia takut.
"Gitu yaa?" Tanya Kia.
"Iya" Jawab Tasya dan Cha sembari mengangguk.
Mereka pun pulang dengan Kia ngebeng dimobil Cha.
...SEMOGA SUKA😊...
...TERIMA KASIH 🙏...
__ADS_1