
Kelas hari ini berjalan dengan lancar, seperti biasa. Kia, Cha dan Tasya sudah tidak buat masalah lagi yang membuat orang tua mereka dipanggil oleh pihak sekolah.
Pelajaran terakhir masih menunggu guru, entah masuk atau tidak. Siswa/Siswi mulai bosan dalam ruangan saking lamanya menunggu.
Kia yang berada dalam ruangan pun sudah berkali-kali menguap. Rasa kantuk yang ia rasa sulit untuk dilawan.
"Rasa ngantuk kali ini kenapa gak bisa aku lawan ya" batinnya sambil bertopang dagu.
Kia lama dalam mode diamnya, tiba-tiba kepikiran dengan tas yang bawa dari rumah, sedangkan saat itu kedua sahabatnya lagi asyik cerita dengan teman sekelas mereka.
"Ki, Cha" panggilnya.
"Iya" Jawab Cha tanpa menoleh.
"Kesini dulu" panggil Kia lagi.
"Lagu seru-serunya cerita ini Kia" jawab Tasya kali ini.
"Iya nih, Kia gabung dengan kami disini" Ajak salah satu teman cerita Cha dan Tasya.
"Aku ngantuk" Jawab Kia dengan mata sayu.
"Makanya kesini supaya tidak mengantuk" Ucap Cha.
"Kesini dulu, kenapa sih punya sahabat susah banget dipanggil" Ucap Kia dengan kesal.
"Dasar" Ucap Cha sambil bangkit dari kursinya, "teman-teman aku hampiri dulu si anak bandel itu" Sambung Cha kepada teman-teman ceritanya.
Kia yang mendengar itu tidak terima, "Kamu juga bandel Cha, bukan hanya aku" Jawabnya sambil teriak dalam kelas membuat orang satu kelas menoleh kepada Kia.
Kia yang keceplosan itu membuatnya malu, "Maaf ya teman-teman, aku khilaf tadi" Ucapnya dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Dasar tidak waras" Ucap Cha lagi yang sudah duduk di depan Kia.
"Jangan pancing emosiku Cha, bisa-bisa meledak aku disini" Ucap Kia lagi.
"Dapet?" tanya Cha.
"Sudah tau masih tanya juga" Jawab Kia sambil memutar bola matanya dan dengan malas mengangkat tas yang simpan dilantai menaruhnya diatas meja.
Cha yang melihat itu bingung dengan tas besar yang ia bawa Kia disekolah, kebingungan Cha tergambar jelas diwajahnya saat itu
"Aku sudah bawa kejutannya" Ujar Kia seakan tahu kebingungan Cha sahabatnya.
"Kejutan, untuk satu kelas?" Tanya Cha lagi yang masih kebingungan
"Kasih kejutan satu kelas?" ulang Cha lagi.
"Gila kamu, mau traktir satu kelas. Dapat dari mana uang untuk traktir teman-teman?" tanya balik Kia dengan sedikit berbisik.
"Hasil ngepet" jawab Cha dengan santai dan Kia seketika berhenti membuka tas yang ia bawa itu, sembari menatap Cha karena tidak menyangka sahabatnya bisa berkata seperti itu.
"Ohh, emang sih api neraka itu tidak membakar hanya mengademkan" respon Kia tidak kalah santai menjawab ucapan Cha.
__ADS_1
"Ki sini" Panggil Kia kepada Tasya sambil melambaikan tangan, "Ini juga teman satu susah dipanggil" sambungnya dengan gumam.
Tasya pun langsung menghampiri Kia.
"Ada apa? itu dalam tas apa Kia?" Tanya Tasya.
"Ini kayak gak punya mata saja, masih sementara buka" Jawab Kia.
"Kelamaan" Ucap Tasya lalu mengambil alih tas tersebut, "Cha eksekusi" Sambungnya.
"Oke" Respon Cha dan Kia hanya duduk pasrah melihat kedua temannya itu.
Tasya dan Cha tidak sabar untuk melihat isi tas yang Kia bawa disekolah hari ini.
"Banyak plastiknya" Ucap Cha sambil mengeluarkan plastik paling atas.
"ini ada bungkusan Cha" Ucap Tasya dengan pandangan masih dalam tas tersebut, "Makanan Kia?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Kalian yang buka, kenapa aku yang ditanya" Jawab Kia dengan ketus.
"Yeee" Respon Tasya dan saat itu teman-teman mereka dalam kelas ikut menyaksikan isi tas yang sudah dikeluarkan oleh Cha dan Tasya dalam tas Kia.
"Ini baju Kia?" tanya Tasya lagi.
"Buka pembungkusnya supaya gak penasaran" Respon Kia lagi.
Tanpa berpikir panjang Cha dan Tasya langsung mengambil satu barang yang terbungkus plastik itu dan memaksa dengan merobek plastiknya. Awalnya sedikit susah untuk membukanya, sampai Tasya dan Cha melakukan kerja sama untuk mengeksekusi satu satu.
"Kia, lihat muka kita penuh keringat betapa susahnya perjuangan ini, tapi kenapa disekolah membawa baju seperti ini, Ya Allah" Ucap Tasya. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Kia hari ini.
Jujur Cha kesal dengan Kia hari ini, susah paya untuk membuka bungkusan itu ternyata isinya gamis.
"Gamis Cha" Ucap Tasya dengan wajah lesu dan pasrah dan Cha pun tanpa menjawab langsung membuka lipatan baju yang ia pegang untuk memperlihatkan kepada Tasya.
"Nih" Ucap Cha tanpa memperhatikan model gamis itu.
"Cha, Negeri ginseng Cha" Ucap Tasya seketika dengan wajah ceria karena senang sehingga membuat Cha memperhatikan gamis itu.
"Gak salah liat Ki?" tanya balik Cha kepada Tasya seakan tidak percaya, "Kia, ini benar?" sambungnya dengan pertanyaan lagi untuk meyakinkan diri dan kali ini pertanyaan itu ditujukan kepada Kia sahabatnya.
"Kapan sih aku bohong. Makanya lihat dulu baik-baik baru protes. Kembalikan dalam tas, sepertinya gak cocok buat untuk kamu berdua"
"Kia, aku suka. Ini salah satu impian aku tau" Ucap Cha sambil memeluk baju itu.
"Sama, meskipun aku gak terlalu suka drama Korea tapi kalau baju korea aku suka" Timpal Tasya senang.
"Aku juga satu dalam tas itu, sengaja aku simpan paling atas untuk kamu berdua" Jawab Kia.
Dan saat itu teman-teman dalam kelas sudah bubar sambil berbisik-bisik diantara mereka.
"Enak yaa kalau anak orang kaya, minta apa saja pasti dibelikan" Ucap salah satu dari mereka.
"Iya, apalagi Kia dan Cha itu anak tunggal, kemana coba uang orang tuanya kalau bukan untuk dia" Ujar satu orang lain.
__ADS_1
"Benar. Hanya Tasya yang punya adik, tapi orang tuanya juga kaya" timpal salah satu diantara mereka lagi.
Sementara Kia, Cha dan Tasya malas pusing dengan ucapan teman-temannya dalam kelas. Saat ini mereka kembali memasukkan hanbok itu dalam tas seperti semula dan pergi menuju kamar mandi khusus wanita untuk menukar baju seragam sekolah dengan hanbok yang Kia bawa.
Tidak membutuhkan waktu lama, 3 serangkai itu keluar dari toilet wanita. Karena posisi ruang kelas mereka berada diujung maka memutuskan untuk lewat belakang kelas agar tidak dilihat oleh guru-guru.
"Yakin Kia lewat disini?" tanya Cha kurang yakin.
"Yakin lah" Jawab Kia.
"Cha, duluan nanti aku dan Kia mengikuti dari belakang" Timpal Tasya.
"Iya, kalau aku duluan pasti you dan you" Ucap Cha sambil menunjuk Tasya dan Kia, "ada dibelakang aku, masa di depan" sambungnya.
"Iya, cepat tapi kalau lewati jendela harus tunduk nanti dilihat guru" Ujar Kia lagi.
Memang kalau masalah ide biasa dari Kia, yang mulai menjalankan ide Cha dan didukung oleh Tasya.
"Benar, percuma sembunyi-sembunyi kalau ujung-ujungnya ketahuan juga" Timpal Tasya.
"Jalan Cha, kapan sampai kelas kalau bicara terus" Ucap Kia.
"Oke, siap-siap dan jangan lupa angkat sedikit bajunya nanti ke injak baru jatuh" Ucap Cha lalu jalan setelah diangguki oleh kedua sahabatnya.
Cukup sulit melewati dua kelas dan seakan pinggang mau patah, ditambah mereka jalan bebek kalau melewati jendela kelas agar tidak ketahuan.
"Oh Tuhan, kenapa siksa diri seperti ini" Batin Tasya sambil lap keringat di dahinya setelah sampai depan kelas.
Dalam kelas terdengar jelas suara orang cerita tanda guru tidak masuk jam terakhir.
Dengan mengatur napas lalu mereka bertiga masuk dalam kelas dengan jalan seanggun mungkin. Seketika teman-teman sekelas heboh.
"Kia, kenapa ganti seragam?" tanya dari salah satu teman dalam kelas.
"Guru tidak jadi masuk kan? jadi kami gak salah dong mencoba hal baru, lagian hanya dalam kelas" bela Kia.
"Tapi kalau dilihat guru, pasti dihukum lagi" Ucap yang tegur mereka, "Pasti gak mau kan?" sambungnya dengan bertanya.
"Iya" jawab Kia lagi sambil menoleh kearah Tasya dan Cha, "Makanya kita kerja sama" Sambungnya dengan senyum ramah.
"Sini, aku bisik" Ucap Tasya. sambil melambaikan tangan. kepada orang yang menegur mereka.
Orang tersebut mendekat kearah Kia, Cha dan Tasya, "Ada apa?" tanyanya setelah ia mendekat.
Cha langsung berbisik ke telinganya dengan santai tapi cepat dan orang tersebut hanya mengangguk sembari senyum.
"Setuju?" tanya Cha.
"Setuju, aku kembali dulu di kelas" Ucapnya lalu kembali dalam kelas sedangkan 3 serangkai ini masih istrahat sebelum masuk dalam kelas.
Note : Ambil baiknya buang buruknya
...SEMOGA SUKA...
__ADS_1
...TERIMA KASIH 🙏...