
"Siapa?" tanyanya bersamaan.
"Habiskan dulu makanannya baru aku kasih tau, aku takut nanti tidak enak makan setelah tau siapa yang cari" Ucap Tasya dengan santai.
"Oke" Jawab Kia tanpa curiga sedikit pun.
5 menit kemudian Cha dan Kia sudah selesai makan. Cha bersendawa saking kenyang.
"Ihhh perempuan kok gitu" Kia heran kepada Cha.
"Iya, kamu itu perempuan" Timpal Tasya mengingatkan Cha.
"Iya" Jawab Cha mengalah, "Siapa yang cari aku dan Kia?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Istrahat dulu lah, nanti mual setelah dengar namanya" Ucap Tasya lagi.
"Hmmm, habis itu disuruh tidur nanti sebentar malam tidak bisa tidur karena kepikiran" Ucap Kia kesal pada Tasya, "Ki sudah tidak sabar nih, suka gantung informasi di plafon sekolah" sambungnya.
"Kalau hanya di plafon sekolah itu gampang" Jawab Tasya lagi sambil ketawa diakhir kalimatnya.
Cha dan Kia saling lihat satu sama lain lalu geleng kepala. Cha menatap Tasya lalu mengangkat botol Aquanya ingin minum.
"Kalau kurang fokus, Aqua dulu" Ucap Cha minum.
"Ibu BK yang panggil" Ucap Tasya.
Seketika air dalam mulut Cha tersembur keluar.
"Uhuk uhuk"Cha batuk.
"Chaaaaaa" teriak Kia menyebut nama sahabatnya itu.
Sedangkan Kia malah teriak. Bagaimana tidak, wajahnya basah disembur air minum yang belum sempat Cha telan.
Cha menutup mulut dengan cepat sedangkan Kia masih menutup mata. Kia tidak bisa terima kenyataan kalau wajahnya basah karena semburan air minum dari sahabatnya.
"Ki, tisu basah, cepat" Ucap Kia dengan cepat dan tidak sabar untuk membersihkan wajahnya itu.
"Hahahaha.. makanya, gak sabaran sih mau dengar info dari aku, hasilnya gini kan.. Nih" Ucap Tasya dengan mendekatkan tisu basah kearah Kia.
Kia pun membersihkan wajahnya dengan menggunakan tisu basah.
"Udah sendawa, menyemburkan lagi air di wajah aku, Jangan-jangan Cha cewek jadi-jadian" tuduh Kia.
"Enak aja, itu bukan sembarang semburan, itu semburan anti penuaan dini tujuh turunan" Ucap Cha.
"Bagus itu Kia, minta sama Cha tiap pagi disemburkan air Aqua” timpal Tasya.
"Kenapa gak sekalian air zamzam saja, dan doanya ganti bukan tujuh turunan sampai kiamat sekalian" Ucap Kia lagi.
"Emang yakin hidup sampai kiamat nanti?" Tanya Cha.
"Gak juga sih" Jawab Kia, "Kita ke BK nih?" Tanya Kia kepada Tasya.
"Ya, kita ke ruangan BK sekarang, sudah ditunggu" Ucap Tasya.
"Mami Cha, diomelin lagi kalau pulang dari sekolah" Ucap Kia tiba-tiba ingat Maminya. Karena ia sudah tau kalau Maminya tau dipanggil di ruangan BK pasti dimarahi.
"Bukan hanya kamu tapi aku juga" Ujar Cha lagi.
__ADS_1
Cha dan Kia bukan lagi takut ketemu dengan guru BK melainkan takut jika orang tua mereka tau mereka bikin ulah lagi hari ini.
"Ki, kenapa kamu gak dipanggil sama guru BK?" Tanya Cha heran, karena sangat tidak masuk akal yang dipanggil hanya dirinya dan Kia sedangkan mereka memakai pakaian yang sama.
"Karena aku diamanahkan untuk mencari yang melanggar hari ini" Jawabnya santai sembari senyum, "Ayo, nanti hukumannya ditambahkan baru mengeluh lagi" Sambungnya.
Cha hanya menarik napas dengan kasar. ia bingung alasan apa kalau ditanya guru BK.
"Pusing aku Kia" Gumamnya sedangkan Tasya sudah duluan jalan diikuti oleh Kia dan Cha.
"Gimana kalau ganti dulu pakaian gitu, pakai seragam sekolah supaya hukumannya berkurang" Ujar Kia tiba-tiba.
"Benar juga tu" Cha membenarkan.
Tasya membalikkan badan, "Ini sudah setengah perjalanan, gak malu apa kita diperhatikan satu sekolah?"
"Bodoh amat kalau itu, wajah juga gak jelek-jelek aman kok, iya gak Cha?" Tanya Kia sambil menaikkan alisnya.
"Benar, makanya aku percaya diri aja lewat disamping siswa siswi tadi" Ujar Cha mendukung ucapan Kia.
"Terserah" Jawab Tasya begitu singkat.
Cha, Kia dan Tasya jalan menuju ruangan BK dan semua siswa dan siswi ada yang menertawai sebagian saling berbisik satu sama lain dan ada juga yang hanya geleng kepala.
"Aku rasa kurang kasih sayang, makanya bikin ulah supaya diperhatikan satu sekolah" Ucap salah satu perempuan yang tidak lain adalah teman-teman ketua OSIS.
"Panas nih dengarnya" Ucap Cha.
"Cha, lanjut jalan, tinggal beberapa langkah masuk ruangan BK" Kia mengingatkan, karena melihat perubahan diwajah Cha seakan tidak terima dikatain seperti itu.
"Tunggu disini, aku kasih pelajaran tu anak" Ucap Cha lalu pergi meninggalkan Kia dan Tasya.
Kia pun melihat Tasya lari mengejar Cha, ia tidak tinggal diam ditempat, dia menyusul Tasya.
Cha sudah sampai ditempat perempuan itu begitupun dengan Tasya dan Kia sudah disana juga. Kia dan Tasya jaga-jaga kalau Cha membentak maka jalan satu-satunya adalah ditarik paksa.
"Kamu bilang tadi kurang kasih sayang?, sok tau bangat tentang hidup aku.. Mau tinggal dirumah selama seminggu, supaya kamu tau bagaimana orang tua saya memperlakukan putri semata wayangnya ini, aku sih lebih kasian ke lho, apa gak ada kerjaan lain selain omongin orang, kok jadi perempuan tukang gosip" Ucap Cha tatapan tajam begitupun sebaliknya.
"Terus kenapa bikin masalah disekolah?, gak sadar kalau kita ini anak kelas tiga tidak lama lagi lulus sekolah dan tidak lupa juga kan kalau kita ini contoh bagi adik-adik kita" Ucap perempuan tersebut membuat Cha, Tasya dan Kia diam seribu bahasa.
"Benar, seharusnya kami malu" Batin Kia menunduk, ia merenungi ucapan seangkatannya itu.
"Iya benar apa yang kamu katakan tadi, tapi tidak semestinya mengatakan kalau teman saya ini kurang kasih sayang dari orang tuanya" Ucap Tasya tidak terima kalau temannya dikatain seperti tadi.
"Soalnya aneh saja, mana rambut sudah kuning kayak bulu jagung" Ucap perempuan itu dan jatuhnya sudah menghina fisik Cha.
Cha yang awalnya diam kembali bersuara, "Apa kamu bilang?, bulu jagung?" Ucap Cha meninggi dan Kia langsung memegang tangan Cha.
"Jangan terpancing, ikuti alurnya, bikin dia kesal" Bisik Kia, karena jujur ia juga sakit hati mendengar kalimat itu.
"Oke" Jawab Cha lebih tenang sekarang.
"Rambut aku ini memang seperti ini, aku mewarisi rambut kakek aku yang berdarah Jerman, sudah gak penasaran kan?" Tanya Cha, "Oh iya, kok rambut kamu sedikit bergelombang yaa, seperti gelombang laut gitu. Itu gelombang laut atau gelombang masalah, upss maaf yaa kadang suka keceplosan" sambungnya santai tapi bikin menohok ditelinga.
"Enak saja, ini model bukan gelombang laut ataupun gelombang masalah" Jawabnya tidak terima.
"Ohh, masuk salon atau buat sendiri tuh gelombangnya?" tanya Cha lagi.
"Masuk salon, emang kayak kamu" Ucap perempuan itu meremehkan Cha.
__ADS_1
"Salon mana tuh?, kok hasilnya tidak bagus ya menurut aku" Cha curiga.
"Salon yang paling bagus di kota ini" Jawabnya bangga dengan senyum meremehkan.
Cha mulai berpikir "Salon yang paling bagus, itu kan punya Mami, kalau begini hasilnya bisa-bisa pelanggan mami pindah salon dong" Batin Cha.
"Yakin?, kapan kesana? kok buruk hasilnya" Tanya Cha dengan jujur dan ia sudah kepikiran untuk menelpon Maminya memberitahukan hal itu sebagai masukan.
"Dua hari yang lalu" Jawabnya santai.
"Tapi benar kan ke salon itu, gak bohong?" Tanya Cha hanya untuk memastikan.
"Ngapain aku bohong sih" Perempuan itu mulai jengkel karena Cha terus bertanya dan seakan tidak percaya, "Kamu kira aku tidak mampu masuk salon bagus" Sambungnya.
"Bukan itu, tunggu sebentar" Ucap Cha mengangkat tangannya.
"Handphone aku mana?" tanya Cha kepada kedua sahabatnya itu.
"Dikelas, kita kan gak bawa tas mau menghadap" Ucap Kia.
"Kita udah ditunggu nih" Timpal Tasya.
"Sebentar" Jawab Cha kepada kedua sahabatnya itu dan kembali ke perempuan tersebut.
"Ada kertas dan pulpen?" tanya Cha kepada perempuan itu.
"Untuk apa?" tanyanya lagi.
"Tulis nama kamu, alamat dan nomor hp, nanti dijemput untuk perbaiki ulang rambut kamu. Datang saja di salon itu kalau mau komplain atau sama aku juga bisa. Soalnya itu salon Mami aku" Ucap Cha sembari senyum dan wanita itu langsung merah mukanya karena malu.
"Iya" Jawabnya lalu pergi.
Saat perempuan itu pergi, Kia kembali bunyi.
"Nah kan, dia pergi" Ucapnya sambil nunjuk perempuan itu, "Memang ide aku tu gak pernah meleset sedikit pun" Sambung Kia bangga.
Cha pun tersenyum mendengar ucapan Kia, "makasih lho, untuk diingatkan kalau tidak hampir aku jambak gelombang lautnya itu"
"Dapat istilah dimana tu gelombang laut?" tanya Tasya penasaran, "Sambil jalan ke ruangan BK" Sambungnya.
Mereka bertiga jalan beriringan sambil tertawa mengingat ucapan Cha tentang gelombang laut.
"Aku penasaran, pemikiran darimana tu rambut disamain dengan gelombang laut?" Kia ikut penasaran setelah menyimak tadi.
"Hahahaha, tapi seru kan?" tanya balik Cha.
"Jadi maksudnya pengen lagi seperti itu?" tanya Tasya setelah mendengar pertanyaan balik dari Cha.
"Kalau ada lawan" Jawabnya santai.
"Gak takut digantung sama Mami kamu, aneh aku rasa" Ucap Tasya lalu dia duluan.
Tasya tidak menyangka kalau Cha malah suka kejadian seperti tadi, ia sudah pusing putar otak bagaimana caranya untuk melerai yang lagi adu mulut antara sahabatnya dan teman seangkatan meskipun berakhir diam, tapi malah Cha sendiri suka.
"Ki tunggu" panggil Cha dan Kia lalu menyusul sahabatnya itu masuk diruang BK.
...SEMOGA SUKA...
...TERIMA KASIH 🙏...
__ADS_1