
"Pagi Mi, pagi Pi" Sapa Kia setelah sampai di Meja makan.
"Pagi" Jawab Papinya.
"Pagi juga Kia, sarapan nanti terlambat ke sekolah" Timpal Maminya.
"Iya Mi" Jawab Kia lalu sarapan dan terakhir minum air putih, meskipun disediakan susu diatas meja.
"Susunya?" tanya Maminya.
"Gak Mi" tolak Kia.
"Gak bisa dong, Mami udah buat capek capek masa gak diminum" protes Maminya.
Kia menarik napas mendengar ucapan Maminya itu dan melihat Papinya. Saat itu Papi Kia langsung menyuruh anaknya melalui sorotan mata dengan memainkan bola matanya. Kia pun mengerti maksud dari tatapan Papinya itu.
"Iya Mi, tadi kenyang sekarang udah longgar sedikit karena habis berdiri" Kilah Kia agar maminya tidak marah.
"Gitu dong" ucap maminya sambil senyum.
Sarapan di keluarga Kia pun selesai dan Kia menunju rak sepatu untuk memakainya sembari menunggu tukang kebunnmengantarnya ke sekolah seperti biasa..
Disisi lain, Tasya. Dia masih dalam kamar mengambil tas dan menuju meja makan untuk sarapan pagi disana. Sang adik sudah menunggu, karena kebiasaan di keluarga mereka kalau makan harus bersama-sama.
"Kakak lama" Protes Sang adik.
"Biasalah dek, kakak sudah besar pakai bedak sedikit jadinya agak lama" jelas Tasya kepada adiknya itu.
"Hmmmm, tapi disini sudah pada lapar kak" Ucap sang adik lagi
"Iya, Maaf dek" ucap Tasya dengan mengatupkan tangannya.
"Iya, dimaafin" Ucap adiknya dan mereka pun makan bersama lalu orang tua mereka mengantar kedua anaknya itu ke sekolah.
Sedangkan, Cha dirumahnya tinggal menunggu Papi untuk mengantarnya ke sekolah.
"Papi, Cha udah siap nih" Teriak Cha.
"Cha, Mami dan Papi masih busa dengar biar gak teriak" Ucap Maminya dengan kunci mobil ditangannya lalu memberikan kunci itu kepada suaminya.
Kunci mobil berpindah tangan lalu mereka pamit pergi.
"Assalamualaikum Mami ku sayang, mmuuaaach" Pamit Cha lalu cium jauh pada Maminya itu.
"wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan" Jawab Mami Cha.
"Mi cium jauh Cha gak di balas?" tanya Cha sembari senyum-senyum.
"Mami sudah tua" Jawabnya lalu mengarahkan pandangannya ke suaminya, "Pastikan Cha masuk kelas baru pulang Pi" Sambungnya.
"Segitunya Mi?" tanya Cha heran dengan ucapan maminya itu.
"Iya, memastikan saja" Ucap Maminya lagi dengan santai.
"Tapi parkiran mobil dengan ruang kelas Cha kan jauh" Ucap Cha lagi. Dia tidak habis pikir jika Papinya benar-benar mengikutinya sampai depan kelas, bisa-bisa dipanggil anak Papi.
"Papi sampai depan gerbang saja, jangan terlalu didengarin Pi kata Mami" Bisik Cha kepada Papinya.
Papinya ini sudah tahu karakter anaknya itu, maka ia mencoba untuk mengikuti alurnya.
"Gampang" Respon Papi Cha sambil mempertemukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O dan seketika Cha mengangguk senang karena direspon baik oleh papinya.
"Kenapa bisik-bisik ini?" tanya Mami Cha lagi.
"Biasa mi, pembahasan anak muda" jawab papinya sambil menaik turunkan alisnya, "Iya kan sayang?" sambungnya kepada putrinya.
"Iya Mami, benar kata Papi" jawab Cha membenarkan ucapan Papinya.
"Oke lah, hati-hati" Ucap Mami Cha lalu masuk dalam rumah begitupun dengan Cha dan Papinya menuju mobil.
🌺
Dalam perjalanan ke sekolah, ketiga gadis ini memiliki keseruan berbeda dalam mobil. Dimana, Kia malah asyik menyanyi dengan Papinya dengan spidol sebagai pengganti Mic.
"Musik di tambah dikit folumenya yaa" Izin Kia sambil mengarahkan tangannya untuk memutar tambah volume.
__ADS_1
"Gini udah pas, lanjut nyanyi lagi" Ucap papinya dengan menyuruh anaknya lanjut nyanyi.
"Ekhem ekhem" Kia berdehem sebelum lanjut nyanyi.
"Pi, ganti lagi baru Pi" Ucap Kia lagi.
"Oke" Ucap Papinya lalu kita mencari lagu baru untuk dinyanyikan berdua dengan Papinya dalam mobil tersebut.
Begitulah keseruan ayah dan anak jika sudah bertemu, meskipun jarang bersama karena sibuk tapi Papi Kia jika pulang rumah menyempatkan waktunya untuk mengatar anaknya ke sekolah.
"Pi, lagu yang lagi nge hitz pi judulnya itu Sang Dewi" ucap Kia.
"Papi gak tau lagu itu" jawabnya.
"Kia aja yang menyanyi yaa" Ucap Kia lagi sambil mencari lagu tersebut di ponselnya sendiri karena di mobil Papinya butuh waktu lagi.
"Ok Pi, mulai" Ucap Kia sambil mendengar musik lewat hp nya itu.
*Wa**laupun jiwaku pernah terluka
Hingga nyaris bunuh diri
Wanita mana yang sanggup hidup sendiri di dunia ini*?
Walaupun t'lah ku tutup mata hati
Begitupun telingaku
Namun bila di kala cinta memanggilmu, dengarlah ini
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya....
"Pi, kok berhenti, udah sampai ya?" tanya Kia setelah menyadari mobil ayahnya sudah tidak bergerak lagi.
"Iya, liat itu" Tunjuk Papinya kearah gerbang.
"Pi, Papi" panggil Kia, "Gerbang udah mau tutup" Sambungnya lalu menarik tas yang ia simpan dibagian belakang.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati jangan terlalu buru-buru" Papinya mengingatkan anaknya itu.
"Iya Pi" Jawabnya sembari lari menuju gerbang sekolahnya dengan rambut yang sedikit berantakan karena ia urai.
Satpam melihat Kia yang sedikit ngos-ngosan dengan nyengi kuda.
"Kamu lagi yang terlambat" Ucap satpam.
"Maaf pa" Jawab Kia dan melangkah masuk dan satpam pun hendak menutup gerbang itu.
Dari kejauhan terdengar suara teriak dan bunyi sepatu yang sedang lari.
"Pak, jangan dulu ditutup kami belum masuk" Ucap Cha dengan napas ngos-ngosan, "Iya pak" timpal Tasya.
"Cepat, itu temanmu kan?" tanya satpam sambil menunjuk Kia yang sedang jalan dengan pegangan tasnya.
Tasya dan Cha mengikuti arah telunjuk satpam tersebut dan ternyata benar kalau itu sahabat mereka yang Kia.
Seketika Cha dan Tasya lari mengejar Kia sembari memanggil namanya.
"Kia" panggil keduanya
Kia menoleh ke sumber suara dan begitu senang melihat sahabatnya. Kia, Tasya dan Cha jalan sejajar bertiga dengan santai meskipun mereka sudah lihat kalau teman-teman yang lain sudah berbaris ikut apel pagi.
Pengurus OSIS sudah bertolak pinggang melihat kelakuan tiga cewek seangkatannya itu.
"Berikan contoh yang baik untuk adik kelas, jangan jalannya masih santai" tegur ketua OSIS.
"Ini belum dimulai, kalau sudah mulai pasti langsung masuk barisan" jawab Kia dengan muka malasnya.
"Ini anak, gak bisa diam satu menit" batin Tasya.
"Hmm, ketua OSIS, kita ini seangkatan" Timpal Cha sambil maju sedikit menghampiri ketua OSIS mereka itu.
Tasya menepuk jidat melihat kedua temannya pagi ini.
__ADS_1
Ketua OSIS melihat Kia dan Cha bergantian, lalu menghela napas.
"Cepat bawa tas kalian di kelas lalu ikut apel pagi, cepat" Ucap ketua OSIS dengan tegas.
"Ok pak ketua OSIS" Ucap Kia sebelum jalan melewati depan ketua OSIS dengan tentengan tasnya.
"Eehh tunggu" Kata ketua OSIS tersebut setelah memperhatikan tas Kia, "Kenapa membawa dua tas disekolah?" Sambungnya sambil jalan menghampiri Kia yang sudah berhenti.
Kia yang awalnya tidak ingin bicara soal tasnya itu karena ini memang untuk dirinya dan kedua temannya, tapi ketua OSIS mereka menanyakannya.
Cha langsung memberi tahu Tasya.
"Ki, ini ketua OSIS suka cari gara-gara" Ucapnya lalu menghampiri ketua OSIS dan Kia dengan sedikit berjalan cepat. Sesampainya dibelakang ketua OSIS, Cha langsung menegurnya, "Saya kira pak ketua OSIS ini hanya menyuruh kami untuk cepat-cepat bawa tas dalam kelas dan ikut apel pagi ini" Ucap Cha lalu jalan kesamping menghampiri Kia temannya, "Jangan menatap sahabat aku seperti itu, kami bertiga tidak pernah saling mengintimidasi" Tegur Cha lagi dengan mata sedikit melotot melihat ketua OSIS mereka itu.
Kia yang mendengar itu, awalnya ingin sudah jujur tapi ia urungkan, pikirannya kembali untuk mengerjain ketua OSIS tersebut untuk kedua kalinya.
"Iya, tatapannya itu lho" Ucap Kia membuat Tasya yang baru sampai langsung menegurnya dengan nada pelan.
"Kia jangan buat ulah lagi" Tasya mengingatkan sahabatnya itu.
Cha menoleh sedikit melihat Tasya lalu kembali melihat ketua OSIS tersebut, "Ku buat kejutan, agar kapok" Batinnya.
"Ekhem, apa kamu sebenarnyaa...." Cha menggantungkan ucapannya.
"Sebenarnya apa?, Kalian bertiga ini suka membuat kekacauan disekolah ini.
Tasya mendengar itu tidak terima, "Apa kamu bilang, ke kacaun?, jangan asal menuduh tanpa bukti. Kamu sudah menunda kami untuk masuk kelas lalu kamu mengatakan kami buat ke kacauan. Kekacauan apa yang kami buat?"
Teman-teman ketua OSIS itu datang, teman satu piketnya hari ini.
"Ada apa ini?" tanya salah satu perempuan yang baru datang menghampiri mereka berempat.
"Tanya temanmu, kalau dia suka temanku bukan bukan begini caranya" Timpal Cha dan seketika Kia dan Tasya melihat Cha.
"Cha, aku tahu kadang otak mu sedikit tergeser tapi bukan begitu juga" Ucap Kia dengan lembut tapi masih bisa didengar oleh orang-orang di dekatnya.
Ketua OSIS itu sebenarnya marah tapi mendengar ucapan Kia merasa lucu sehingga menoleh kesamping untuk menahan tawa.
"Hhmmmm, gak usah menoleh ke tempat hanya untuk tidak diketahui kamu tertawa" Tegur Cha lagi
Ketua OSIS itu menatap Cha dengan mengerutkan keningnya, "Teliti juga perempuan ini" Batinnya.
Cha menatap ketua OSIS itu, "Kenapa, diam karena tebakanku benar?, jangan main-main dengan sahabat saya ini nanti ku hajar kamu"
Tasya langsung menarik tangan Kia dan Cha, "Yuk masuk kelas".
Mereka bertiga menuju kelas sedangkan ketua OSIS dan teman satu piketnya itu kembali melanjutkan tugas mereka pagi ini.
"Cha, memang bisa kamu hajar tu ketua OSIS?" tanya Tasya dengan sedikit senyum.
"Bisa, satu kali tendangan terbang tu" Jawab Cha dengan enteng.
"Cha, dia cowok kamu cewek, biar bagaimanapun tenaga laki-laki itu lebih kuat" Timpal Kia.
"Hmmm, memang untuk apa ada otak kalau tidak digunakan Kia, sudahlah kita ikut apel pagi nanti ketua OSIS datang disini baru kita dimarahi lagi" Ucap Cha dan tiba-tiba menoleh seketika kearah pintu yang diketuk keras.
"Keluar, tinggal kalian bertiga yang belum ada dibarisan" tegur ketua OSIS itu lagi.
"Hmmm, apa aku bilang, kesal lama-lama sama ketua OSIS ini" gumam Cha.
"Jangan diambil pusing, kita lewati saja dia" Jawab Kia dan jalan menuju pintu diikuti oleh Cha dan Tasya.
"Kalian ini" Ucap Ketua OSIS lagi dan langsung dipotong oleh Tasya.
"Sudah ya, yang memperlambat kami itu anda" Ucap Tasya lalu mereka pergi.
"Iya nih, gak capek apa berurusan dengan kedua temanku" Timpal Kia.
"Kia sudah, hanya dia yang paling sibuk pagi ini. Lagian kami bukan anak kecil yang harus dikasih tau berulang kali dalam hitungan menit" Ucap Cha lalu dia pergi meninggalkan kedua temannya.
Tasya dan Kia hanya geleng kepala mendengar ucapan Cha, tapi namanya juga emosi kadang susah dikendalikan. Kia dan Tasya pun jalan menuju barisan begitupun dengan Ketua OSIS yang berada dibelakang mereka.
...Semoga Suka 😊...
...terima kasih 🙏...
__ADS_1