3 Serangkai

3 Serangkai
14. Menari


__ADS_3

Salah satu teman sekelas 3 Serangkai itu kembali masuk dalam kelas dan memberi pengumuman. Saat itu suasana kelas memang ribut karena guru untuk pelajaran terakhir berhalangan hadir karena lagi sakit dan sebagian guru-guru pergi menjenguk guru tersebut.


"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar" Ucap perempuan itu.


Seketika suasana dalam kelas hening, mereka mengira ada penyampaian informasi tentang pelajaran terakhir.


Ketua kelas pun maju didepan menghampiri teman sekelasnya itu.


"Ada informasi apa?" tanyanya penasaran.


"Bukan informasi penting sih, hanya saya meminta waktunya sebentar" Ucapnya lagi.


Teman sekelasnya pun mengangguk meng-iya-kan.


"Sebelumnya terima kasih atas waktunya" Ucap Gina. Perempuan itu yang bernama Gina.


"Formal banget, sebenarnya ada apa sih ini?"


Teman-teman sekelas bertanya-tanya termasuk ketua kelas pun ikut penasaran.


"Cepat Gina, ada apa sebenarnya" Ucap ketua kelas.


"Baik, kita sambut 3 sahabat kita yang akan mempersembahkan sebuah tarian untuk teman-teman sekelasnya, DIPERSILAHKAN"


3 Serangkai pun masuk dengan kaki jinjit dan kedua tangan memegang sisi hanbok yang mereka kenakan. Dengan senyum di wajah mereka sekali-kali mereka berputar membuat orang sekelas ada yang bertepuk tangan dan sebagian malah menanyakan nama tarian mereka.


"Cha itu tarian apa?, dari daerah mana?, aku baru lihat" Tanya salah satu dari tema sekelasnya.


"Iya, aku juga baru lihat tarian seperti itu, bisa diceritakan sedikit?, jujur aku penasaran dan suka dengan tarian kalian" Timpalnya membuat Tasya langsung berhenti menari dan memperhatikan teman sekelasnya itu yang habis memuji tarian yang menurutnya sangat berantakan.


"Hmmm, matanya sedikit bermasalah, aku aja muter-muter sampai pusing masa dibilang bagus" Gumam Kia yang masih di dengar oleh kedua sahabatnya itu.


"Ide mu Cha bikin pusing kepala, mataku sampai berkunang-kunang lho" Timpal Tasya.


"Aku kira kita sepemikiran" Jawab Cha.


Dan sekarang mereka sudah berhenti menari dan teman-teman menunggu jawaban dari pertanyaan salah satu teman sekelas mereka.


"Maaf ya teman-teman, tarian tadi itu ide kami bertiga sebelum masuk dalam kelas" Jawab Cha dengan senyum semanis mungkin.


"Wah, hanya beberapa menit hasilnya sebagus itu" Pujinya lagi yang membuat Tasya dan Kia tercengang mendengarnya.


"Kurasa matanya rabun Ki" bisik Kia kepada Tasya.


"sepertinya, tapi bodoh amat yang terpenting sekarang adalah aku mau istrahat sambil nunggu jam pulang" Ucap Tasya sedikit berbisik kepada Kia dan Kia pun mengangguk paham.


"Benar tu, aku pun mau istirahat juga" Jawab Kia.


"Terima kasih teman-teman kalau tarian kami bertiga bagus" Ucap Tasya lalu membungkuk tanda hormat.


"Sok sok, kayak diatas panggung saja, ayo kembali ke kursi" Ucap Kia sudah tidak sabar untuk kembali duduk di kursinya.


3 Serangkai pun duduk dikursi masing-masing lalu mengeluarkan kipas manual dalam tas mereka dan tidak lupa Kia mengeluarkan cerminnya.


"Wajah aku jadi kusam" Ucap Kia sambil memperhatikan wajahnya lewat cermin.


"Kusam dari dulu kali" Timpal Tasya.


"Iya, kenapa sekarang baru sadar" Cha pun ikut bersuara.


Kia mendengar kedua sahabatnya membenarkan ucapannya, membuatnya kepikiran dan terus memperhatikan wajahnya untuk meyakinkan diri, apakah ucapan temannya itu serius atau hanya sebatas candaan.


"Aku harus telepon mami nih" batinnya.


Mereka larut dalam kesibukan masing-masing tanpa mengganti hanbok dengan seragam sekolah. Beberapa menit kemudian, Cha kepikiran minuman favoritnya di kantin sekolah.


"Ehh, guys apa kalian gak ke kantin?" tanyanya sambil pukul meja.


"Astaghfirullah bikin kaget aja Cha" Ucap Tasya dengan nada suara sedikit meninggi mengekspresikan dirinya yang kaget dan kesal pada sahabatnya itu.


"Kayak preman saja kamu Cha bicara pakai mukul meja segala, kalau haus pergi sana" Ucap Kia yang tidak kalah kaget dari Tasya, "Tapi jangan lupa belikan aku dan Ki juga" sambungnya sambil memainkan alisnya sembari senyum.

__ADS_1


"Enak saja, kalau haus pergi beli sendiri" Jawab Cha tidak mau kalah, "By" Sambungnya dengan cuek lalu pergi dengan menganggap sedikit hanboknya itu.


"Cha kita sahabat lhoo, saling membantu Cha dalam kesempitan" Teriak Kia agar bisa didengar Cha yang sudah berlalu dari pintu kelas.


"Ki, gak mau nyusul Cha" Ucap Kia lagi.


"Malas ah, nanti dilihat guru baru dihukum lagi" Ucap Tasya membuat Kia seketika berpikir dengan mulut sedikit terbuka, "awas nanti masuk lalat" sambung Tasya lagi dengan santai.


"Sadar gak sih Ki kalau Cha pakai Hanbok ke kantin" Ucap Kia.


"Bodoh amat, kenapa sih pintar-pintar oon" Ucap Tasya lagi malas pusing.


"Dia lupa pasti Ki" Ucap Kia lagi, "Aku rasa kita harus susul Cha takutnya nanti dilihat guru, ngumpet dimana coba, iya kan?"


"Benar tu, yukk selamatkan Cha demi kita bertiga agar aman dan tentram" Ucap Tasya lalu berjalan cepat dengan menarik tangan Kia, "Cepat" seru Tasya lagi.


"Kalau ditarik seperti ini, aku gak bisa jalan" Ucap Kia.


Tasya langsung melepas tangan Kia dari genggamannya, "Manja amat sih" Ucap Tasya lalu masuk dalam kantin mencari keberadaan Cha.


"Lihat Cha" tunjuk Tasya.


"Astaghfirullah,Cha.." panggil Kia.


"Ayo sahabat aku, kita foto-foto dulu" Ucapnya seakan tidak masalah kalau ketahuan guru.


"Kita syok lho Cha, kamu malah foto-foto, terus..." Ucap Tasya berhenti setelah melihat Gina disamping Cha.


"Aku traktir karena bagaimanapun dia sudah bantu kita tadi dikelas" Ucap Cha seakan tau maksud dari sahabatnya itu.


"Gak masalah, mau traktir siapapun tapi sekarang masalahnya adalah kenapa ke kantin Cha?" tanya Tasya gemas dengan tingkah Cha siang ini.


"Gak masalah, lagian tinggal tunggu jam pulang" jawab Cha santai.


"Justru itu Cha, kalau sudah pulang gak masalah tapi ini masih jam sekolah" Timpal Kia.


"Gak ketahuan, percaya sama Cha" Jawab Cha santai dan melambaikan tangan memanggil pelayan kantin itu.


"Baik Cha, ditunggu yaa" Ucap pelayan itu dan hendak membalikkan badannya ditahan oleh Tasya.


"Mbak, makanan paling mahal disini"


"Minumannya juga" Timpal Kia.


pelayan bingung antara ikutin sesuai pesanan Cha atau ucapan Tasya dan Kia.


"Berarti ganti menu yaa, bukan seperti yang Cha pesan?" tanya pelayan memastikan.


"Betul sekali" Jawab Kia.


"Yang makan dan minum kan kami mbak bukan Cha" Timpal Tasya lagi.


"Baik, ditunggu yaa" Ucap pelayan dan berlalu pergi.


"Siap-siap jadi pelayan disini bantu si mbak yaa" Ucap Cha setelah selesai minum.


"Enak saja" jawab Tasya lalu ia duduk depan Cha disamping Gina dan Kia duduk disamping Cha tepat berhadapan dengan Tasya.


"Uang aku gak cukup" Kilah Cha.


"Kamu kira aku percaya, gak" Ucap Kia.


"Terserah kalau gitu, by" Ucap Cha lalu ia cepat lari keluar dari kantin itu.


"Heee" Ucap Kia sambil menunjuk Cha yang lari menuju kelas.


"Kejar Kia" Ucap Tasya.


Kia pun keluar dengan sedikit lari dan mengangkat sedikit hanboknya agar mempermudah langkahnya.


"Awas kamu Cha" Teriak Kia sambil berjalan cepat dan saat itu guru yang dari rumah sakit baru pulang dan menyaksikan Kia dan Cha lari menuju belakang sekolah karena saat itu Cha lagi kabur dari Kia.

__ADS_1


Berbeda dengan Tasya, ia menikmati makanannya sebelum kembali mencari Kia dan Cha. Selesai makan Tasya memberi tahu pemilik kantin itu, kalau Cha temannya yang bayar sedangkan Gina pun hanya mengikuti sesuai apa yang dikatakan Tasya karena memang seperti itu, semua biaya makan siang kali ini Cha yang tanggung.


"Baik Tasya" Ucap pemilik kantin itu. Pemilik kantin sudah mengenal 3 serangkai itu, jadi tidak ragu mengiyakan apa yang dia ucapkan salah satunya.


Tasya keluar dari kantin langsung menuju kelas dan tiba disana tidak ada kedua sahabatnya itu.


"Kemana Cha dan Kia" batin Tasya sambil celingak-celinguk.


"Ekhh" tiba-tiba ada yang berdehem.


Tasya pun menoleh ke sumber suara tepat dibelakangnya, dengan senyum terpaksa untuk menutupi rasa takutnya, Tasya pun menjawab.


"Mana kedua temanmu?" tanya guru BK.


"Itu dia bu, Tasya juga cari Cha dan Kia bu" Jawabnya senormal mungkin dan berharap ibu Tina tidak memperhatikan kostum yang ia pakai saat ini.


"Sudah telepon atau WhatsApp?" tanya Ibu Tina.


"Tidak bu, Cha dan Kia tidak bawa ponsel. Ponsel keduanya dalam tas, ini tasnya" Jawab Tasya sambil mengangkat tas Cha dan Kia memperlihatkannya kepada ibu Tina.


"Ibu tunggu diruangan, cari temanmu sampai dapat dan langsung ke ruangan saya, ibu tunggu" Ucapnya lalu pergi.


"Iya bu, nanti aku sampaikan kepada Cha dan Kia" jawabnya tapi ibu Tina sudah tidak dengar jelas ucapan siswanya itu.


"Dilarang malah pergi, ketahuan kan jadinya. Untung aku gak ikut-ikutan" batin Tasya, merasa dirinya aman karena ibu guru BK hanya menanyakan kedua sahabatnya.


Tasya pun kembali mencari keberadaan dua sahabatnya itu sampai ia kepikiran untuk ke belakang kelas dan begitu kagetnya Tasya melihat kedua sahabatnya itu lagi asyik makan di kantin sebelah yang memang posisi kantin tersebut belakang kelas Anak IPS jadi kalau berkeliaran disekitar kantin tersebut tidak dilihat oleh guru.


"Ohh enak juga perasaan Cha dan Kia ini, aku cari kemana-mana ternyata lagi makan disini" Tasya mengomel sendiri sambil jalan menuju kantin tersebut.


Sedangkan disisi lain, Cha dan Kia malah asyik makan sambil cerita seperti tidak memiliki beban hidup. Bercerita sambil diselingi dengan tawa.


"Cha menurut kamu, kira-kira tadi dilihat guru gak?" tanya Kia.


"Semoga tidak" Jawan Cha.


"Hanya itu responnya?" tanya Kia lagi.


"Terus apa lagi Kia?" Tanya balik Cha.


"Maksud aku..." Ucap Kia terpotong karena merasa ada seseorang yang memperhatikannya.


"Bagus yaa, aku keliling cari ternyata disini lagi makan" kesal Tasya.


"Ingat, nanti penuaan dini lho Ki" Respon Kia mendengar ucapan Tasya itu.


"Terserah, apa gunanya perawatan kalau masih muda tapi sudah terlihat tua, ada yang cari" Ucap Tasya lagi lalu ia duduk kursi kosong disamping Cha.


"Siapa?" tanya Cha dan Kia bersamaan.


Salmon Panggang Saos Lemon (Tasya)



Chicken Katsu Curry (Kia)



Chicken Cordon Blue (Gina dan Cha)



Orange Juice (Tasya dan Kia)



Le mineral (Cha dan Gina)



...SEMOGA **SUKA😊...

__ADS_1


...TERIMA KASIH 🙏**...


__ADS_2