7 Hari Menembus Waktu

7 Hari Menembus Waktu
Episode 1 Satu, 6 Juli 2008, Kabur!!!


__ADS_3

Lunna memandang jalanan dari kaca jendela mobil tanpa antusias. Hari ini papi dan Mami mengajaknya pergi ke pesta, padahal dia lebih suka ada di rumah. Mobil Papi memasuki sebuah gedung dan tak berapa lama kemudian berhenti.Terdengar suara pintu mobil dibuka dari arah depannya. Lalu ketukan di jendela mobil membuyarkan lamunannya.


" Kau tak mau turun?" tanya Papi. " Kita sudah sampai".


Lunna memandang Papi sambil mendesah. Dengan malas di bukanya pintu mobil.


"Bisakah Unna pulang saja?" tanya Lunna, setengah memohon.


Mami langsung berkata dengan kesal, "Lunna, kita sudah membicarakan hal ini di rumah. Acara ini penting untuk Papi".


Papi menyentuh pundak Lunna. " Papi tahu kau tidak ingin ada disini, kau tidak ingin bertemu mereka. Tapi mengurung diri di kamar tidak akan memperbaiki keadaan. Cepat atau lambat kau harus menghadapi mereka. Bukankah lebih cepat lebih baik?"


Alasan utama Luna tidak mau menghadiri pesta ini karena dia akan bertemu dengan Rechard dan Lidia. Satu bulan yang lalu Rechard memutuskan dirinya.. Deluna tak habis pikir mengapa Rechard tega melakukannya, padahal mereka sudah berpacaran selama tiga tahun. Rasa sakit hati Deluna semakin parah ketika Rechard malah jadian dengan Lidia, musuh terbesarnya selama ini.


Hari ini Lidia pasti akan menghadiri Pesta bersama orang tuanya. Sebagai sesama pengacara, papi dan papa Lidia mereka sering bertemu dan berteman baik.


Akan tetapi tidak demikian halnya dengan anak-anak mereka. Deluna dan Lidia sudah tidak menyukai satu sama lain saat pertama kali bertemu. Lidia terlalu sombong, mau menang sendiri,dan sering mengolok-oloknya. Yang lebih menyebalkan, Lidia pandai sekali berbohong tanpa rasa bersalah.


Saat pertama kali jadian dengan Rechard, Deluna senang sekali melihat Lidia cemburu padanya. Kini tiga tahun kemudian Lidia membalas rasa cemburu itu.

__ADS_1


Pandangan Deluna beralih pada sebuah papan karangan bunga di depan gedung. Dia membaca tulisan yang tertera di papan itu. Selamat atas dua puluh tahun berdirinya Gedung ALBATROSS.


Mami menengok ke belakang dan memandang putrinya dengan putus asa. "Deluna, ayo masuk!"


Dengan langkah berat, Deluna memasuki gedung. Mereka naik lift menuju lantai tiga. Di dalam lift Mami menatap anaknya dengan lembut. " Mami tahu kau tidak ingin bertemu mereka. Akan tetapi, apa yang papi katakan benar, Deluna. Kau harus menghadapi mereka. Lagi pula Mami dan Papi tidak membesarkan seorang pengecut, kan?"


Mami mengelus rambut anaknya penuh kelembutan. "Mengurung diri di kamar bukan jalan keluar."


"Aku tahu," kata Deluna akhirnya.


Pintu lift terbuka, ketiganya keluar dari lift dan berjalan menuju hall. Sesaat setelah Deluna melangkah ke dalam tempat acara, matanya menatap Lidia dan Rechard tak jauh di depannya. Deluna mendesah kesal. Lidia sengaja datang lebih awal untuk menghinanya, padahal biasanya dia selalu telat.


Aku benar-benar benci dia! Desah Deluna dalam hati.


"Mami," katanya kemudian. "Aku mau ke toilet dulu."


Setengah berlari, Deluna meninggalkan tempat acara dan masuk ke toilet yang berada tak jauh dari sana. Di dalam toilet, air mata Deluna jatuh. "Aku benar-benar benci mereka!" bisiknya sambil menangis. "Aku membencimu Rechard. Tega sekali kau melakukan ini padaku."


Selama beberapa menit hanya tangis Deluna yang terdengar di dalam toilet, lalu isakan itu mereda. Deluna menatap wajahnya dalam cermin. Ia mengambil tisu dari toilet dan menghapus air matanya. Mata dan hidungnya memerah. Aku tak sekuat yang papi bayangkan. Aku tidak bisa melakukan ini, aku harus pergi.

__ADS_1


Dengan tekad bulat,Deluna keluar dari toilet dan berjalan ke arah tangga di hadapannya. Dia ingin pulang dan menangis sepuasnya di rumah. Di lihatnya jam dinding besar di aula gedung menunjukkan pukul enam sore. Pandangannya lalu tertuju pada lukisan di dekat tangga. Deluna berjalan mendekat. Lukisan sebesar satu kali satu meter itu hanya berupa lingkaran-lingkaran merah dengan latar belakang berwarna hitam.


Dia membaca keterangan di bawahnya.


Judul lukisan : Menembus waktu


Tahun dibuat : Tidak di ketahui, diperkirakan abad 17-18


Pelukis : Tidak di ketahui


Keterangan :


Konon, lukisan ini dipercaya bisa mengabulkan permohonan.


Deluna tertawa pendek. "Mengabulkan permohonan?" katanya, tidak percaya. "Tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Saat ini aku sebal padaPapi dan Mami. Apakah mereka tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang remaja dan sakit hati? Tidakkah mereka mengerti bahwa aku butuh waktu untuk sembuh? Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam hatiku. Pacarku meninggalkanku. Sangat menyakitkan. Sekarang aku tidak punya pacar."


Suara Deluna sudah mendekati histeria. "Aku benci Rechard!, aku benci Lidia! Aku benci tempat ini! Aku harap tempat ini di tutup saja, sehingga aku tidak perlu menghadiri acara ini, dan bertemu dengan orang-orang yang menyakiti hatiku!"


Nafas Deluna terengah-engah, lalu akal sehat merasukinya. "Apa yang baru saja ku lakukan?" tanyanya perlahan. "Aku berbicara pada sebuah lukisan. Tampaknya pikiranku sudah benar-benar kacau."

__ADS_1


Deluna membalikkan badannya, dan melangkah menuruni tangga. Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar hebat. Ada apa ini?! Deluna panik. Getaran itu semakin lama semakin kuat. "Ya, ampun!" teriaknya dalam hati. "Gempa bumi!"


Deluna terjatuh, kacamatanya terlepas. Deluna memandang langit-langit di atasnya dengan ketakutan. Secara refleks diangkatnya tangannya untuk melindungi kepala, lalu dua menutup matanya.


__ADS_2