
Entah berapa lama Lunna tertelungkup. Lantai gedung sudah tidak bergetar lagi. Perlahan-lahan Lunna membuka matanya. Hal pertama yang disadarinya adalah seluruh gedung gelap gulita. Lunna mencoba memakai kacamatanya untuk melihat keadaan, namun kacamatanya sudah retak, tidak bisa digunakan lagi. Dengan putus asa Lunna menyusuri gedung dengan perlahan-lahan.
"Halo!" teriaknya dengan ragu. "Ada orang disini?"
Interior gedung tampak berbeda. Pintu ke ruang masuk acara tertutup. Lunna lalu membukanya. Keadaan di dalamnya gelap gulita. "Halo!" teriaknya lagi. "Mami! Papi! Kalian ada di dalam?!"
Dimana semua orang?! teriaknya dalam hati, dengan putus asa. Kenapa gedung ini gelap gulita? Apakah semua orang sudah keluar dari gedung? Hatinya bertanya-tanya.
Lunna memutuskan untuk keluar dari gedung, ia menuruni tangga. Di depan pintu masuk hanya satu lampu neon yang berpijar.
"Halo!" teriaknya lagi, dengan lebih keras.
Tiba-tiba ada cahaya senter dari kejauhan mendekati Lunna. Suara anjing menggonggong mengikuti cahaya senter itu. Lunna ketakutan.
"Siapa di sana?" tanya suara di balik kegelapan. "Jangan bergerak!"
Suara anjing menyalak semakin kencang, dan terdengar semakin mendekati tempat Lunna berada. Tanpa berpikir panjang, Lunna lari sekencang-kencangnya keluar dari gedung. Di luar tampak kawat tinggi, yang mengelilingi gedung. Tanpa memandang lagi ke belakang, Lunna terus berlari menuju pintu yang juga terbuat dari kawat, dan membukanya. Seketika tatapan Lunna tertuju pada papan putih di depannya, dengan tulisan besar-besar :
GEDUNG ALBATROSS
__ADS_1
AKAN DIBUKA TANGGAL 6 JULI 1998
Kening Lunna berkerut. Hah? Ada apa ini? Apakah ini hanya sebuah lelucon? mimpi buruk? Tubuhnya merinding.
Lunna mempercepat langkahnya sampai ke jalan raya. Napasnya terengah-engah.
Lebih baik aku pulang ke rumah, kata Lunna dalam hati. Untung saja rumah Lunna dan Gedung Albatross memang tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan yang dilaluinya, Lunna kebingungan. Mobil-mobil yang dilihatnya tidak seperti biasanya.
Aku ada di mana? teriaknya dalam hati. Perlahan tapi pasti, Lunna menyusuri jalan utama, lalu dia berbelok menuju jalan ke rumahnya. Hari masih sore, Lunna melihat anak-anak perempuan sedang bermain lompat tali. Aneh, katanya dalam hati. Mengapa banyak anak-anak di sini?
Lunna meneruskan perjalanannya. Tak berapa lama kemudian ia melihat lapangan luas terbentang di sampingnya. Lunna semakin bingung.
Beberapa anak laki-laki tampak tertawa sambil bermain kelereng di tanah lapang. Lunna menggeleng-geleng.
Apakah pikiranku menjadi kacau sejak gempa bumi tadi?
Lunna menahan napas, lalu berjalan lagi menuju rumahnya. Hatinya lega melihat rumah yang amat Familier baginya. Ketika sampai di depan gerbang Lunna mencoba memencet bel, namun bel itu tidak ada di tempatnya. Ia mencoba masuk, namun sebuah gembok mengunci pintu. Apakah Papi dan Mami belum pulang? Tanyanya dalam hati. Lunna semakin bingung. Lunna akhirnya berjalan memutar ke samping rumah dan menemukan lubang yang tersembunyi di balik pepohonan. Ia menemukan lubang itu ketika berusia 10 tahun. Sejak itu ia sering kabur untuk pergi bermain melalui lubang itu, ketika orang tuanya tidak mengizinkannya keluar rumah.
Ketika merangkak masuk ke dalam lubang itu, Lunna tidak memperhitungkan tinggi badannya. Kini dia bukan lagi gadis kecil berusia 10 tahun. Di usianya yang beranjak dewasa, tinggi badannya pun telah bertambah.
__ADS_1
Setengah badan atas bisa masuk dengan mudah. Namun ia mengalami kesulitan ketika mendorong masuk tubuh bagian bawahnya. Lunna membalikkan badannya, dan telentang di atas tanah, lalu menggunakan tangannya untuk maju. Beberapa saat kemudian, akhirnya dia berhasil berdiri di depan rumah itu. Alhasil baju pesta putihnya sudah kotor berlepotan tanah.
Lunna memandang rumahnya. Rasanya ada yang beda?! tanyanya dalam hati. Bentuk rumah masih sama, namun catnya berbeda, pekarangannya juga berbeda.
Terdengar suara anjing besar menggonggong dari dalam rumah. Ya, ampun! keluh Lunna dalam hati. Masa aku harus berurusan dengan anjing galak dua kali?!!
Lampu depan rumah dinyalakan. "Siapa di luar?" teriak sang penghuni rumah.
Astaga, pikir Lunna panik, itu bukan suara Papi. Sepertinya aku masuk ke rumah orang, bukan rumahku.
Jeritan keras penghuni rumah terdengar sampai ke halaman. "Papi!" teriak seorang wanita. "Sepertinya ada maling di depan rumah kita!"
Arrghhh! Lunna ketakutan dan semakin panik. Aku disangka maling?!!
"Mami diam saja di rumah!" Terdengar suara seorang pria dari dalam rumah. "Mana pemukul bola? Sini.... berikan pada Papi!"
Gawat! Aku harus kaburrr!! Lunna berlari ke arah lubang yang tadi dimasukinya. Setelah keluar dari san, dia berlari sekencang-kencangnya.
Setelah setengah jam berlari tak tentu arah, Lunna berhenti untuk mengambil napas dalam-dalam. Aku harus kemana lagi? tanyanya dalam hati. Mengapa semuanya begitu berbeda? Di mana rumahku?
__ADS_1