7 Hari Menembus Waktu

7 Hari Menembus Waktu
Episode 8 Tiga 30 Juni 1998 Selamat Datang di Fashion '88 (bagian 3)


__ADS_3

Lunna melongo. Diana? Diana? itu kan nama Mami. Tunggu, tunggu... tidak mungkin! Lunna memperhatikan wajah gadis itu dari bangkunya. *Oh, tidak! Itu memang benar-benar Mami. Astaga!


°°°*


Gadis yang bernama Diana itu memandang pengendara sepeda motor dan berkata, "Dah," katanya. "Nanti pulang kuliah jemput aku lagi,ya." Diana tersenyum dan mengedipkan matanya.


Pengendara sepeda motor itu naik kembali ke motornya dan beranjak pergi. Diana dan teman-temannya berjalan ke dalam kampus. Seorang pria lewat di hadapan mereka, dan Diana bersiul keras di iringi teriakan, "Hai, cowok!"


Lunna ternganga saking terkejutnya. Ya, ampun! Mami kok centil banget. Dua tahun yang lalu, ketika Lunna sembunyi-sembunyi memakai kosmetik, Mami marah besar. Sekarang, ternyata Mami malah pakai kosmetik yang berlebihan. Benar-benar jauh dari gambaran Mami yang dia kenal.


Diana dan teman-teman wanitanya duduk tak jauh dari bangku yang diduduki Lunna. Sampai saat itu, Lunna masih belum bisa mengatasi rasa terkejutnya. Ia memandang Mami dengan rasa tidak percaya.


Tiba-tiba pandangan mata Diana bertemu dengan Lunna. Lunna mencoba tersenyum, namun Diana malah tertawa lebar. Ia lalu berkata kepada teman-temannya, "Ya, ampun! Cewek di depan kita itu selera pakaiannya aneh sekali. Benar-benar tidak cocok."


Diejek seperti itu, Lunna cemberut kesal. Tidak dulu tidak sekarang. Komentar Mami soal caraku berpakaian tetap tidak berubah. Aku harus mendekatinya dan membuat Mami percaya kepadaku.


***


Ferry tidak pernah bosan memandang Diana. Dia sudah mencintai Diana sejak SD, dan perasaan itu tidak pernah berubah. Hari ini melihat Diana berboncengan dengan pria lain, hatinya sedikit cemburu. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena setiap kali dia ada di dekat pujaannya itu, dia tidak bisa berbicara. Hari ini Diana mengenakan baju baru. Ferry mengakui bahwa Diana memang cantik menggunakan baju apa pun.


Suara palang besi yang jatuh membuyarkan pandangan Ferry dari Diana. Ferry melihat seorang gadis sedang duduk tepat di bawahnya. Ia langsung berlari ke arah gadis itu dan menubruknya. Ia menarik tangan gadis itu agar terhindar dari tertimpa palang besi.


Lunna baru saja akan mendekati Mami, saat seseorang menubruknya dan menarik tangannya hingga jatuh. Lunna melihat sebuah palang besi jatuh menimpa bangku yang tadi dia duduki.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pemuda yang menubruknya.


Lunna menelan ludahnya dan mengangguk. "Terima kasih," kata Lunna. Tatapannya tertuju pada pemuda yang telah menyelamatkannya. Dia mengenakan celana jins dan kemeja yang di gulung hingga siku.


Diana berjalan ke arah mereka. "Hai, Ferry."


Ferry? ungkap Lunna dalam hati. Itu berarti, pemuda ini ... Papi?


Lunna kini memandang pemuda itu dengan cermat. Memang benar Papi.

__ADS_1


Papi membantu Lunna berdiri. Wajah papi tertunduk malu, lalu menjawab dengan tergagap-gagap, "Ehmm... Ha...lo, Di...Di...Diana."


Diana tersenyum manis. "Kau benar-benar hebat sudah menyelamatkannya."


Mendengar pujian Diana, wajah Ferry semakin memerah. "Te.. te... terima kasih, Diana."


"Aku masuk kelas duluan," kata Diana. "Sampai jumpa."


Ferry tersenyum gugup. "Sampai jumpa."


Lunna memandang Papi dengan setengah jengkel. Papi kok jadi pemalu seperti itu? Bukankah Papi paling jago berdebat di pengadilan? Masa ngomong sama Mami saja gelagapan seperti itu?


"Aku senang kau tidak apa-apa," Kata Ferry kepada Lunna. "Maaf, aku harus kuliah."


"Hei, tunggu! Papi!" teriak Lunna. Papi sudah berlari menuju ruang kuliahnya.


Lunna kembali berjalan menuju parkiran sepeda.


Perut Lunna keroncongan lagi. Ia teringat pada Elios. Astaga, aku hampir lupa, aku kan harus menjemput dia.


Lunna bergegas mengendarai sepedanya, dan pergi ke tempat les Elios.


***


Elios baru saja keluar dari depan pintu, saat sepeda Lunna memasuki area tempat les. Perjalanan bolak balik dari tempat les ke kampus dan sebaliknya membuat Lunna kecapekan.


"Elios," katanya, sambil terengah-engah. "Kita makan dulu, yuk!"


Elios menatap Lunna dengan curiga. "Kakak ke mana saja sih?"


"Aku akan menceritakannya kepada mu setelah makan," kata Lunna.


Mereka makan mie bakso di warung dekat situ.Lunna terkejut mengetahui Betapa murahnya harga makanan di tahun 1988. Dua mangkuk mie bakso hanya lima ratus rupiah.

__ADS_1


"Benar-benar murah," kata Lunna. "Di masa ku, Elios, dengan uang lima ratus tidak cukup untuk membeli satu mangkuk mie bakso. Mumpung murah, bagaimana kalau aku nambah satu mangkuk lagi!"


Elios hanya mendesah melihat kerakusan Lunna.


Usai makan mie bakso, Lunna mengajak Elios melewati rumahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Elios. "Arah jalan pulang bukan lewat sini."


"Aku tahu," kata Lunna. "Aku mau menunjukkan sesuatu kepadamu."


Mereka tiba di depan sebuah rumah. Elios menatap Lunna penuh tanda tanya? Jari telunjuk Lunna menunjuk rumah itu. "Kau lihat rumah dengan gerbang hijau itu?" tanyanya. "Itu rumahku, rumahku di masa depan."


"Kalau itu rumahmu, mengapa kau tidak pulang saja?" tanya Elios.


"Aku, kan sudah katakan," Gerutu Lunna. "Itu rumahku di masa depan. Di masa ini, tidak ada seorang pun yang mengenalku. Terakhir kali aku kesana, aku di sangka maling oleh kakek. Aku rasa itu kakek. Kakek mencoba mengejar ku dengan pemukul bola. Kau tidak percaya, ya?"


Elios menggeleng. "Aku rasa kakak hanya mengarang saja."


Lunna menarik napas, "Kau tahu gedung baru yang akan dibuka di jalan raya itu?"


"Gedung Albatross?" tanya Elios.


Lunna mengangguk. "Aku rasa aku ada di tahun ini karena lukisan yang ada di dalam gedung itu. Aku sendiri sulit mempercayainya. Di masa depan saat aku ada di gedung itu, aku melihat lukisan aneh dan mendekatinya. Di situ tertulis bahwa lukisan itu bisa mengabulkan sebuah permintaan. Tanpa sadar aku mengucapkan keinginanku. Aku tadi ke sana, lukisan itu belum di pasang. Aku yakin lukisan itu akan dipasang tanggal 6 Juli, saat pembukaan gedung itu. Itu artinya, aku akan pulang enam hari lagi."


Suara sepeda motor mendekati rumah itu. Lunna tersenyum.


"Kau lihat pengendara sepeda motor itu?" katanya kepada Elios. "Itu ayahku. Aku baru saja bertemu dengannya di kampus. Aku bertemu ibu ku juga. Mereka tidak seperti yang ku harapkan, namun aku benar-benar merindukan mereka. Hari ini Papi telah menyelamatkanku. Tadi aku nyaris tertimpa palang besi. Aku rasa dimana pun aku berada, Papi selalu melindungi ku. Ayo kita pulang!"


Lunna menatap rumahnya sekali lagi, lalu mengayuh sepedanya. Di belakangnya, Elios memperhatikan rumah itu dan si pengendara sepeda motor yang sedang masuk ke dalam rumah. Elios tidak tahu apakah yang di katakan oleh Lunna benar atau tidak. Akan tetapi, ekspresi Lunna tadi benar-benar meyakinkan..


•••


bersambung

__ADS_1


__ADS_2