
°°°
Matanya kemudian melihat sosok anak laki-laki sedang menyebrangi jalan. Tak berapa jauh dari sana sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju kencang menuju anak itu. Lunna pun berlari dan berteriak, "Hey, kamu! Hati-hati! Ada mobil!"
Anak kecil itu tidak menggubris teriakan Lunna. Dengan sekuat tenaga, Lunna berlari dan menarik ke luar anak itu dari jalanan. Keduanya jatuh dalam keadaan berpelukkan. Sementara, mobil yang tadi tetap melaju kencang melewati mereka.
Lunna terengah-engah.
"Lepaskan aku!" teriak anak itu.
Lunna melepaskan pelukannya dan menatap anak itu, "Kau tidak apa-apa?"
Anak itu memandang Lunna dengan cemberut, lalu berdiri. Lunna juga mencoba berdiri dengan susah payah. kakinya lecet. Hak tinggi memang tidak di ciptakan untuk berlari, keluh Lunna dalam hati.
"Hei, anak kecil," kata Lunna lagi, "Kau tidak apa-apa?"
Anak kecil itu tidak menjawab, bahkan dia malah pergi meninggalkan Lunna.
Lunna kesal setengah mati. Dasar anak tidak tahu berterima kasih.
"Hei! Tunggu!" teriak Lunna, sambil berlari mengejar anak itu.
Lunna menyentuh pundak anak kecil itu, dan berkata dengan marah, "Hei! Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah menyelamatkanmu."
Anak kecil itu menyingkirkan tangan Lunna dari pundaknya. "Jangan sentuh aku!"
__ADS_1
Lunna mengambil napas dalam-dalam menahan amarah. "Oke. Oke, aku tidak akan menyentuhmu lagi. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja?. Tidak ada yang terluka, kan?"
Anak itu menoleh ke arah Lunna tanpa antusias, "Aku tidak butuh perhatianmu!" Kemudian, dia berjalan lagi.
Ini anak, kata Lunna dalam hati, Jutek abiss.
Lunna mengikuti anak itu dari belakang. Setelah lima menit berlalu, anak itu membalikkan badannya. "Kenapa kau mengikutiku?"
Lunna mendekat anak itu. "Kau punya nama, kan?" Anak itu menatap Lunna dengan tatapan curiga. "Aku tidak boleh memberitahukan namaku pada orang tidak dikenal."
Lunna geram. "Orang tidak dikenal? Aku baru saja menyelamatkan hidupmu."
Anak itu mengangkat bahu. "Aku tidak memintamu, kan?"
Amarah Lunna meledak. "Dasar anak tidak tahu berterima kasih! Tidak diajari sopan santun oleh orangtuamu ya?"
Lunna merasa bersalah. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku hanya ingin mengetahui apakah kau baik-baik saja."
Anak itu menatap Lunna dari atas ke bawah, lalu membalikkan badannya dan berjalan lagi.
Aku dicuekin? Batin Lunna tidak percaya. Saat hendak mengejar anak itu, perut Lunna keroncongan. Dia baru ingat , dia belum makan.
Anak itu berhenti setelah beberapa langkah, dan berdiri di depan salah satu rumah. Ketika dia akan membuka Pintu, Lunna mencegatnya.
"Hei," kata Lunna dengan manis. "Aku tahu kau marah padaku. Begini saja, kenalkan nama ku Delunna Gabrielina. Kau boleh memanggilku Lunna kalo kau mau. Bolehkah aku singgah sebentar di rumahmu? Aku benar-benar haus."
__ADS_1
Anak itu menatap Lunna lagi dengan tajam. "Rumahku bukan tempat orang terlantar."
Orang terlantar?! teriak Lunna kesal,dalam hatinya. Oke, cukup sudah!
"Kau harus mengizinkanku masuk!" teriak Lunna. "Aku benar-benar kelaparan. Kau berutang nyawa padaku!"
"Tidak!." kata anak itu tegas.
Tatapan Lunna berubah menjadi memohon. "Tolonglah. Ku mohon."
"Tidak!" kata anak itu cepat.
Lunna tertunduk menyerah, ia sudah tidak punya tenaga lagi. Dia berjalan ke depan gerbang dan duduk di sana. Air matanya keluar dan menangis keras.
"Aku benci semua ini!" teriak Lunna.
"Aku tidak tahu ada di mana. Aku tidak punya rumah. Aku tidak punya uang. Orang tuaku menghilang. Kakiku sakit karena berlari dari tadi. Aku disangka maling. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa nasibku sial sekali? Aku diputuskan pacar ku. Musuhku merebutnya dari tanganku. Aku hanya ingin kabur dari sana. Aku melihat sebuah lukisan konyol, dan tiba-tiba terjadi gempa bumi. Di sinilah aku sekarang. Entah dimana ini, aku tak mengenal siapa pun!"
Lunna akhirnya berhenti berteriak karena kelelahan. Ia memegangi lututnya dan menjatuhkan kepalanya di sana. Setelah itu yang terdengar hanya Isak tangisnya.
Anak itu memandang gadis di depannya tanpa suara. Dilihatnya lutut gadis itu terluka karena menyelamatkannya tadi. Dia lalu berjalan mendekat.
"Kau boleh tinggal di rumahku," kata anak itu perlahan.
Lunna mengangkat kepalanya."Benarkah?" secercah harapan muncul di hatinya. "Baiklah.. Aku akan melakukan apa pun untuk tinggal di rumahmu.!"
__ADS_1
••