7 Hari Menembus Waktu

7 Hari Menembus Waktu
Episode 4 Dua, 29 Juni 1998?!! Yang Benar Saja! (bagian 4)


__ADS_3

°°°


"Benarkah?" tanya anak itu.


Lunna mengangguk. "Apa pun yang kau inginkan."


"Kau bisa masak?" tanya anak itu lagi.


Lunna menggeleng cepat. "Aku tidak bisa dekat dekat dengan kuali panas."


"Bagaimana kalau mencuci?" tanyanya lagi.


"Tanganku tidak bisa kena deterjen," sahut Lunna lagi sambil menelan ludah.


"Bersih-bersih?" tanya anak itu dengan kesal.


"Aku alergi debu," kata Lunna sambil menutup matanya.


Anak itu mendesah kesal. "Dasar tidak berguna!" katanya. "Tadinya ku pikir kau bisa membantu Bi Ijah. Sekarang..."


Lunna bangkit berdiri. "Aku bisa belajar... Sungguh..... Aku bisa membantunya. Tolong bantu aku!"


Anak itu menarik napas, dan akhirnya mengangguk. "Baiklah kau boleh tinggal. Akan tetapi.. kalau kau membuatku marah, kau harus keluar."


Lunna tersenyum lega. "Oke." Ia memeluk anak itu dengan antusias.


Anak itu berusaha melepaskan diri. "Jangan peluk aku!" katanya kesal. "Aku tidak suka disentuh!"


Lunna langsung melepaskan pelukannya. "Maaf, tidak akan aku ulangi. Terima kasih. Aku sudah tidak tahu mau ke mana lagi..."


Anak itu membuka pintu gerbang rumahnya, dan Lunna mengikutinya dari belakang.


"Den Elios baru pulang?" tanya seorang wanita tua di depannya.


"Ya , Bi Ijah," kata anak itu yang ternyata bernama Elios. "Tante Sarah ada di rumah?"


Bi Ijah mengangguk. "Sepertinya mau pergi lagi, Den."

__ADS_1


Elios menoleh kepada Lunna. "Ikut aku!"


Elios membuka pintu depan rumahnya, lalu masuk.


"Elios," kata seorang wanita, "Kau baru pulang?"


Elios menjawab,"Ya , Tante."


Seorang wanita tinggi semampai berjalan ke hadapan Elios dan Lunna.


Lunna menatap wanita itu. Dandanannya sangat tebal. Anting-anting besar nyantel ditelinga nya. Ia mengenakan celana jeans pudar dan kaus berwarna-warni.


Dandanan wanita ini benar-benar norak, kata Lunna dalam hati.


"Siapa ini?" tanyanya, menunjuk kepada Lunna.


"Tante Sarah,"kata Elios. "Kenalkan ini Lunna, dia anak teman Mama dari Panti Asuhan. Dia baru saja datang di Jakarta, dan akan tinggal di sini selama liburan."


Lunna terkejut dan merasa heran mendengar perkataan Elios. Rupanya anak kecil yang dia tolong ini benar-benar pintar berbohong. Selain itu, ucapan-ucapannya tidak mencerminkan layaknya anak berusia delapan tahun. Kalau saja Lunna tidak berhadapan langsung dengan Elios, mungkin ia akan mengira bahwa anak yang berbicara itu seumur dengan dirinya.


Tante Sarah memandangi Lunna dari atas sampai bawah.


Elios menatap tantenya dengan tenang. "Dia kan dari kampung, Tante. Apa yang bisa Tante harapkan?"


Lunna harus mengakui Elios benar-benar meyakinkan dalam berbohong.


"Ya, baiklah. Terserah," kata Tante Sarah, kehilangan minat. "Kau tempati saja kamar tamu."


Tante Sarah lalu membungkuk, dia mencubit kedua pipi Elios dengan gemas. "Tante pergi dulu. Kau jangan nakal, ya."


Elios memalingkan wajahnya, berusaha melepaskan pipinya dari jemari tantenya.


Tante Sarah hanya tersenyum, dan berlalu dari hadapan Elios. Tak lama kemudian, suara mobil dari halaman depan terdengar, menandakan kepergian Tante Sarah.


Perut Lunna keroncongan lagi. kruyukkruyuk


"Bi Ijah....," kata Elios, lalu menoleh kepada Lunna, "Ini Lunna, anak teman Mama dari Panti Asuhan."

__ADS_1


Bi Ijah mengangguk perlahan ke arah Lunna. Lunna balas mengangguk.


"Sepertinya Lunna kelaparan," kata Elios lagi.


"Tolong siapkan makanan untuk dia ya, Bi."


"Ya, Den," kata Bi Ijah, sambil berlalu masuk ke dapur.


Elios menyuruh Lunna duduk menunggu di ruang makan. Lunna mengambil gelas yang ada di meja makan dan menuangkan air ke dalamnya. Ia minum hampir dua gelas penuh.


Tak berapa lama kemudian, Bi Ijah datang membawa makanan. Wajah Lunna berseri-seri melihatnya. Ia mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk serta sayur mayur yang ada di depannya. Ketika akan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, Lunna melihat Elios memperhatikannya.


"Kau tidak makan?" tanya Lunna heran.


"Aku tidak lapar," kata Elios perlahan.


Lunna makan dengan lahap tanpa memedulikan tatapan Elios. Seumur hidupnya ia belum pernah merasa kelaparan seperti saat ini. Saat nasi di piringnya habis, Lunna menambah lagi, namun lauk pauk dan sayur mayur di hadapannya sudah hampir habis.


"Em,Elios," kata Lunna serba salah, "boleh minta bi Ijah masak sayurnya lagi tidak?"


Elios melihat ke arah piring Lunna sambil mendesah. "Kakak rakus sekali," komentarnya.


Dikatai demikian, Lunna sedikit tersinggung. Makannya dari dulu memang banyak. Akan tetapi, baru kali ini dia dibilang rakus, terlebih lagi oleh seorang bocah. Lunna berusaha bersabar, ia tidak boleh melawan karena takut diusir dari rumah ini. Ia tersenyum manis pada bocah itu. "Aku memang makannya banyak."


Elios terdiam beberapa saat, namun akhirnya dia menyuruh bi Ijah memasak lagi. Setelah perut Lunna kenyang, Elios mengajaknya ke kamar tamu.


"Kakak bisa tidur di kamar ini." kata Elios.


Lunna masuk ke kamar itu. Di sana terdapat satu ranjang, lemari dan meja rias. Terima kasih," kata Lunna, lalu dia memandang ke luar jendela. Sebuah mobil terparkir di luar. Lunna tahu itu mobil keluaran lama. Ia pernah melihat foto mobil itu. Rasa ingin tahunya tergelitik karena ia merasa keluarga Elios cukup berada, tapi kenapa mobilnya keluaran tahun lama.


"Elios," katanya, sambil mengernyit. "Hari ini tanggal berapa?"


Elios menunjuk pada kalender yang terpasang di dinding kamar. "Hari ini tanggal 29 Juni..."


Pandangan Lunna tertuju pada kalender di dinding. Matanya menatap tanggal yang disebut Elios dengan rasa tidak percaya


"1988," lanjut Elios lagi.

__ADS_1


"29 Juni 1988?!" teriak Lunna. "29 Juni 1988?Yang benar saja! Tidak mungkin!


__ADS_2