
Suara ayam berkokok membangunkan Lunna. Matanya masih tertutup, namun mulutnya menguap lebar. Sejak kapan Papi pelihara ayam di rumah? Berisik sekali, keluhnya masih setengah mengantuk. Tunggu dulu...., pikirnya setelah alam dunia mimpi menjauhinya. Kasur ini keras sekali, bantalnya juga.. ini bukan tempat tidurku.
Lunna langsung membuka matanya, lalu melihat kalender di depannya. Angkanya masih menunjukkan 29. Lunna kembali menutup matanya dengan kesal. Ini bukan mimpi, katanya kesal, aku benar-benar ada di tahun 1998. Setelah berdiam diri beberapa saat, Lunna bangun dari tempat tidurnya. Ia baru tersadar saat melihat cermin di depannya, ternyata dirinya masih mengenakan baju pesta putihnya, yang berlepotan tanah. Aku harus ganti baju, tekadnya. Tetapi, aku tidak punya baju.
Lunna membuka pintu kamar dan melihat ke luar ruangan. Masih sepi. Ia melangkah menuju kamar Elios dan mengetuk pintunya perlahan. "Elios," panggilnya pelan-pelan. "Kau sudah bangun?"
Ketika beberapa saat tidak ada Jawaban, Lunna mencoba membuka pintu kamar Elios. "Psstt... pstt.. Elios," panggilnya lagi. "kau sudah bangun?"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Elios muncul dengan wajah tanpa ekspresi. "Ada apa?" tanyanya.
Lunna berdiri tegak, "Hmmm, begini... kau punya baju ganti untukku? kau lihat bajuku, kan? Kotor sekali. Aku tahu, aku merepotkanmu, namun aku tidak mungkin memakai baju ini lagi, kan?"
Elios keluar dari kamar, dan menyuruh Lunna mengikutinya ke kamar di lantai dua. Elios masuk ke kamar itu dan membuka lemari pakaian yang ada di dalamnya. "Pilih saja sendiri," kata Elios. "Ini baju-baju Almarhumah Mama."
Lunna memandang foto keluarga yang ada di kamar itu. Seorang pria yang tampan beserta istrinya yang cantik, lalu ada Elios yang tersenyum manis, diapit keduanya. Sayang sekali keduanya sudah meninggal, padahal kelihatannya mereka baik sekali.
__ADS_1
"Kau tidak keberatan aku memakai baju mamamu?" tanya Lunna hati-hati.
"Jangan bikin kotor," jawab Elios.
Lunna menarik napas. "Aku akan memakainya dengan hati-hati, Elios."
Setelah itu, Lunna di biarkan sendiri memilih baju yang ada di lemari. Setelah membolak-balik pakaian beberapa kali, Lunna mendesah. Benar-benar beda dengan pakaian di tahun 2008, katanya. Apa boleh buat, daripada tidak ganti baju.
Lunna akhirnya memilih sehelai rok panjang berwarna hitam dan blus yang memakai bisa di kedua pundaknya. Kemudian ia mandi dan mengenakan baju serta rok itu. Lunna menatap dirinya di cermin sambil mengernyit. Benar- benar tidak sesuai denganku, katanya sambil mencoba memperbaiki tatanan bajunya. Lunna mencoba memakai sepatu hak tingginya, namun ternyata kakinya masih lecet bekas kemarin. Ia masuk ke kamar orang tua Elios lagi dan mencari-cari sepatu. Ada sepasang sepatu sport usang di dalam lemari. Lunna memakainya, walaupun ternyata setelah di pakai sepatu sport itu kebesaran satu nomor. Ia tidak peduli, yang penting dia bisa bergerak dengan bebas.
Lunna memandang dirinya sekali lagi di cermin dan tertawa. Aku pasti akan menjadi bahan tertawaan jika mengenakan pakaian seperti ini di masaku.
Ketika Lunna memasuki ruang makan beberapa saat kemudian, Bi Ijah sedang menata lauk-pauk di meja. "Selamat pagi, Bi Ijah," kata Lunna.
"Selamat pagi, Non Lunna," kata Bi Ijah.
__ADS_1
"Ke mana Elios dan Tante Sarah?" tanya Lunna, sambil memandangi meja makan yang tidak ada penghuninya.
"Den Elios sudah pergi les," kata Bi Ijah. "Kalau Non Sarah belum bangun. Non Lunna ingin makan duluan?"
Lunna mengaangguk. Perutnya memang sudah lapar. Seusai makan, Lunna mulai memikirkan apa yang terjadi padanya.Ia sudah bisa menerima bahwa ia memang ada di masa lalu, namun tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia berhenti berpikir. Tentu saja, katanya dalam hati, lukisan di gedung itu. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku sedang berbicara di depan lukisan itu. Tiba-tiba terjadi gempa bumi, lalu aku ada di masa lalu. Aku harus pergi ke gedung itu lagi. Aku harus menemukan lukisan itu dan kembali ke masa ku.
"Bi Ijah... Apakah keluarga Elios punya mobil atau motor yang bisa saya pakai?"
"Cuma Non Sarah yang punya mobil... tapi.... ada sepeda bekas ayah Den Elios di depan."
Senang setelah mendapatkan jawaban dari Bi Ijah, Lunna bergegas ke luar ruangan. Sebuah sepeda tersandar di tembok tak jauh dari pintu gerbang. Lunna mengambil sepeda itu dan mencoba mengendarainya.
Setelah sempat sempoyongan beberapa kali karena sudah lama tak bersepeda, akhirnya Lunna bisa mengendarai sepeda itu dengan lancar. Lunna melihat Elios di kejauhan. Anak itu tampaknya sedang di kerumuni oleh segerombolan anak kecil. Salah seorang anak mengambil tas Elios dan menjatuhkannya, lalu anak itu merenggut pakaian Elios.
••
__ADS_1
bersambung