
°°°
Elios memandang Lunna dengan penasaran.
"Terakhir kali aku ada di tahun 2008," lanjut Lunna lagi. "Tepatnya tanggal 6 Juli 2008."
"Kakak ngomong apa sih?" tanya Elios bingung.
Lunna akhirnya menatap Elios.
"Tidakkah kau mengerti, Elios? Aku terlempar ke masa lalu, dua puluh tahun dari masa tempat ku berasal."
"Tidak ada yang namanya perjalanan waktu," kata Elios menegaskan.
"Hal itu terjadi padaku!" teriak Lunna putus asa. "Aku bukan berasal dari tahun ini.. Aku malah belum lahir di tahun ini..."
Elios tidak memercayai satu pun perkataan Lunna.
"Aku rasa kakak perlu istirahat."
Lunna mendesah. "Kau tidak percaya, kan? Aku sendiri pun bahkan tidak mempercayainya. Tunggu... Aku bisa membuktikan bahwa aku berasal dari tahun 2008."
Sedikit timbul di hati Elios. "Oh, ya?" tanyanya. "Bagaimana?"
Lunna terlihat berpikir keras. "Hmm, di masa depan mobil yang di parkir di halaman depan rumahmu sudah menjadi barang langka. Orang-orang di masa ku mobilnya lebih canggih."
Elios menggeleng tidak percaya. "Kakak akan mengatakan bahwa mobilnya bisa terbang?"
Lunna menelan ludah. "Tidak."
"Kalau begitu, apa bedanya dengan mobil tahun ini?" tanya Elios.
__ADS_1
"Pokoknya, modelnya beda!" teriak Lunna ngotot. "Di masa ku juga ada internet, IPod..."
"Ai pot?" tanya Elios bingung. "Pot bunga?"
"Bukan," kata Lunna tidak sabar. "iPod itu semacam alat untuk mendengarkan lagu. Alat ini bisa di bawa kemana-mana. Bentuknya ringan dan kecil."
"Di masa ini juga ada alat yang kami sebut Walkman, untuk mendengarkan lagu. Alat ini bisa di bawa kemana-mana juga," kata Elios, memberi penjelasan.
"Itu berbeda," kata Lunna putus asa. "Walkman-mu itu perlu Kaset, bukan? Nah, di masa depan kita tidak akan memerlukan kaset lagi, kita hanya menyimpannya dalam fil-file MP3."
"Kakak bisa saja mengarang hal-hal itu," kata Elios, masih tidak percaya.
Lunna tidak putus asa. "Tunggu, di masa depan ada yang namanya komputer."
Elios mengajak Lunna ke ruang tamu. Di sana ia membuka kain yang menutupi sebuah benda.
"Sekarang, aku juga punya komputer," kata Elios.
Pandangan Lunna tertuju pada komputer di depannya.
"Komputer ini sudah termasuk yang paling canggih," kata Elios tidak mau kalah. "Ini keluaran terbaru. Sudah empat warna, tidak hanya satu warna seperti dulu."
Lunna tertawa. "Komputer di masa ku punya jutaan warna."
"Itu kan hanya kata kakak," sanggah Elios. "Tidak membuktikan apa pun."
Lunna menepuk kepalanya kedua tangannya, sebagai tanda frustasi.
Elios melihat hal itu sambil tersenyum kecil. Saat Lunna melihatnya senyum itu sudah hilang dari bibirnya.
"Mengaku saja, kak," kata Elios. "Kakak kabur dari rumah,kan?"
__ADS_1
"Tidak!" sanggah Lunna, "Aku tidak kabur dari rumah."
Ya ampun, keluhnya dalam hati. Apa pun yang aku katakan, Elios pasti tidak percaya. Mana mungkin dia percaya bahwa barang-barang yang aku sebutkan belum ada di masanya? Lagi puka, apa yang aku lakukan? Memberi penjelasan tentang benda-benda masa depan pada seorang anak kecil? Mana mungkin dia mengerti?
Tiba-tiba pandangan Lunna tertuju pada televisi di depannya, lalu dia tersenyum. "Elios, aku akan membuktikan bahwa aku memang datang dari masa depan," katanya yakin. "Kau lihat televisi di depanmu? Di masa kakak, gambar televisi sudah berwarna. Tidak hitam putih lagi."
Elios mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.
"Wow," katanya kemudian. "Kakak sepertinya memang datang dari masa depan."
Lunna tersenyum lebar. Nah kan, apa kataku? kata Lunna, penuh kemenangan dalam hati.
Elios melangkah menuju televisi, dan menghidupkannya. Lunna melihat gambar di televisi dan terkejut.
"Kami sudah punya televisi berwarna dari kapan-kapan," kata Elios tenang, dan menatap Lunna seakan dirinya adalah manusia paling beloon sedunia.
Arghhh sial! kata Lunna kesal. Aku dipermalukan oleh anak kecil.
"Elios!" kata Lunna kesal."Berapa umurmu? 30?"
"Umurku delapan tahun!" kata Elios galak.
"Umurku delapan belas tahun!" kata Lunna, tidak kalah galak. "Aku lebih tua darimu sepuluh tahun. Jadi, pastinya aku lebih berpengalaman dan lebih tahu tentang segala hal. Kau harus mendengar kata-kata ku!"
Elios menguap, "Hoamm.. Ah, aku capek," katanya malas. "Aku mau tidur dulu. Lebih baik kakak juga istirahat. Siapa tahu besok pagi pikiran kakak sudah kembali normal."
Ini anak benar-benar menyebalkan. Kalau bukan karena aku tinggal di rumahnya, sudah pasti aku beri dia pelajaran. Lunna cemberut melihat Elios masuk ke kamarnya, tanpa memperhatikan dirinya lagi.
Malam itu Lunna berusaha memikirkan semua kejadian yang dialaminya. Tetap saja dia merasa yang dialaminya tidak masuk akal. Lunna meringkuk di atas ranjang dan memejamkan matanya. Ini semua pasti cuma mimpi, katanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Besok pagi saat aku terbangun... Semuanya akan kembali seperti semula.
Dengan pikiran seperti itu, Lunna tertidur pulas..
__ADS_1
••
bersambung