7 Hari Menembus Waktu

7 Hari Menembus Waktu
Episode 7 Tiga 30 Juni 1998 Selamat Datang di Fashion '88 (bagian 2)


__ADS_3

°°°


Melihat masalah yang akan di alami Elios, Lunna mempercepat laju sepedanya. "Hei!" teriaknya pada segerombolan anak di depannya. "Lepaskan dia!"


Anak-anak itu langsung bubar ketika melihat ada orang dewasa di depan mereka. Lunna turun dari sepeda dan mendekati Elios. "Kau tidak apa-apa, Elios?"


Elios mengambil tasnya, dan memakainya kembali. "Aku tidak apa-apa."


Lunna prihatin. "Ayo, aku antar kau ke tempat lesmu!" kata Lunna, sambil memegang tangan Elios. Tatapan Lunna tertuju pada lebam-lebam di tangan Elios.


"Ya, ampun!" serunya kaget. "Mereka memukulmu. Aku akan memperingatkan mereka!" Lunna hendak mengejar anak-anak nakal itu, namun Elios menarik bajunya dan menghentikannya.


"Biarkan saja," kata Elios.


"Tetapi....," protes Lunna.


"Aku tidak mau telat ke tempat lesku." kata Elios, sambil memandang Lunna.


Lunnna membungkuk hingga matanya sejajar dengan Elios. "Aku akan menemanimu les setiap hari. Kau tidak perlu khawatir lagi pada mereka, Elios".


"Kakak tidak perlu melakukannya," kata Elios perlahan.


"Hei, aku sudah makan dan tidur gratis di rumahmu," kata Lunna, sambil tersenyum kecil. "Setidaknya aku bisa membalas kebaikanmu dengan melakukan ini untuk mu. Ayo, aku boncengi kau."

__ADS_1


Dengan ragu Elios naik ke boncengan sepeda. Elios memberitahu arah ke tempat lesnya, dan Lunna mengayuh sepedanya dengan cepat. Setibanya di tempat les, Elios turun dari sepeda.


"Aku akan menjemputmu lagi," kata Lunna. "Pukul berapa kau selesai les?"


"Pukul dua belas," kata Elios.


"Elios, tunggu! Sebenarnya aku segan memintanya dari mu. Bolehkah aku minta uang? Siapa tau aku lapar dan butuh beli makanan."


Elios berhenti melangkah, lalu mendengus kesal.


"Kalau begitu, apa bedanya kakak dengan anak-anak tadi tadi?"


Lunna merasa sedikit bersalah. "Aku, kan memintanya dengan manis, boleh ya? Tidak usah banyak-banyak."


Lunna menerima uang dari Elios. Seribu rupiah? Bisa jajan apa dengan seribu rupiah? Beli minuman doang. Ini anak pelit banget. "Hmm, Elios, apakah kau tidak terlalu pelit? Maksudku, uang ini hanya cukup untuk membeli minuman," katanya kemudian.


Elios mendengus kesal."Dengan seribu rupiah, kau bisa membayar bensin motor selama seminggu."


Lunna tercengang mendengar penjelasan Elios. *Oh, ya. Aku ada di tahun 1988, pasti semua harga juga beda dengan di masaku.


"Ya...ya," kata Lunna mengakui. "Aku lupa aku sekarang ada di tahun 1988. Maaf deh, Elios."


Elios mencibir, lalu berlari memasuki gedung.

__ADS_1


Lunna menarik napas, dan melanjutkan perjalanannya ke Gedung Albatross. Hati-hati dia memarkir sepedanya tak jauh dari gedung itu, lalu berjalan perlahan sambil memperhatikan petugas keamanan yang ada di sana. Saat petugas itu sedang lengah, Lunna menyusup masuk. Ia berlari ke lantai tiga, dan mencari lukisan yang pernah dilihat di masanya. Ternyata lukisan itu tidak ditemukannya dimana-mana di dalam gedung itu. Lunna mencari sekali lagi dengan putus asa. Hasilnya tetap sama. Kelelahan, Lunna duduk di lantai dan menutup matanya.


Ayo berpikir, Lunna! katanya pada diri sendiri. Mengapa lukisan itu tidak ada di sini? Tunggu.. waktu itu di bawah keterangan lukisan terdapat catatan tanggal... 6 Juli 1988. Ya, itu dia... lukisan itu baru akan dipasang tanggal 6 Juli 1988, tepat dengan pembukaan gedung ini. Hari ini tanggal 30 Juni 1988, berarti enam hari lagi lukisan itu akan ada di sini. Itu artinya, enam hari lagi aku baru bisa pulang.


Lunna tersenyum sendiri. Ia tidak sabar ingin mengatakan hal ini pada Elios. Akan tetapi, katanya lagi, Elios tidak percaya bahwa aku datang dari masa depan. Tidak ada seorang pun yang memercayaiku. Tunggu dulu... mungkin Papi dan Mami percaya padaku kalau aku mengatakannya. Aku harus pergi menemui Papi dan Mami. Tahun 1988, berarti Papi dan Mami masih Kuliah, kan? Aku bisa menemui mereka di kampusnya. Mami dan Papi pasti akan mempercayaiku.


Dengan ide itu di kepalanya, Lunna menuruni tangga dan keluar dari gedung dengan hati-hati. Ia mengendarai sepedanya Kembali dan bergegas menuju kampus orang tuanya.


Lunna sampai di depan kampus setengah jam kemudian dengan keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Setelah memarkir sepedanya di samping motor-motor bebek yang berjajar di sana, ia pun melaksanakan niatnya mencari Papi. Ia memasuki Fakultas Hukum, dan melihat ke ruang-ruang kuliah yang ada di sana. Papi tidak ada dimana mana. Lunna lalu beranjak mencari Mami di Fakultas Ekonomi, lagi-lagi dia gagal menemukan Mami di sana.


Apakah mereka berdua tidak kuliah hari ini? tanyanya dalam hati, sambil berjalan. Ia melihat sebuah gedung yang sedang di renovasi, palang- palang besi terbentang dari bawah hingga atas gedung. Ada sebuah bangku tak jauh dari sana. Lunna duduk di sana untuk beristirahat terlebih dahulu.


Tiba-tiba sebuah sepeda motor hitam memasuki area kampus. Pengendaranya menghentikan sepeda motornya tak jauh dari tempat Lunna duduk. Suara decitan rem membuat semua orang melihat ke arah pengendara motor itu. Di belakangnya, sang penumpang turun dari boncengan dengan tenang. Sekilas Lunna melihat seorang gadis dengan celana jeans hijau dan kaus kuning tersenyum kepada pengendara sepeda motor itu. Rambutnya panjang sebahu, dan memakai poni. Kedua telinganya memakai sepasang anting besar. Kosmetik tebal dengan eye shadow biru menghiasi parasnya.


Ada apa sih dengan cewek-cewek di tahun 1988? tanya Lunna, sambil memperhatikan gadis itu dan gadis-gadis yang lain. Model rambut mereka hampir sama. Terutama selera berpakaian yang norak. Celana jeans hijau dan kaus kuning.... benar-benar tidak cocok.


Para gadis yang lain bergegas menghampiri gadis tadi.


"Hai, Diana! Wah, baju baru , ya?"


Lunna melongo. Diana? Diana? itu kan nama Mami. Tunggu, tunggu.... tidak mungkin! Lunna memperhatikan wajah gadis itu dari bangkunya. Oh, tidak! itu memang benar-benar Mami. Astaga!...


••

__ADS_1


bersambung


__ADS_2