
°°°
Diana memandang pria di hadapannya dengan bosan. Sepulang kuliah, Jimmy, pacarnya selama tiga bulan itu, menjemputnya dan langsung membawanya ke tempat latihan Breakdance. Sudah dua jam berlalu, Jimmy dan teman-temannya masih terus menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Semakin lama Diana semakin merasa kesal. Saat latihan Breakdance berlangsung, Jimmy sana sekali tidak mempedulikannya. Akhirnya ia bergegas mendekati Jimmy dan menarik jaket jins yang di kenalannya. "Jimmy, aku lapar!" teriaknya. "Bisakah kau berhenti?"
Jimmy menatap Diana dengan kesal. "Aku belum selesai."
Diana juga tidak mau kalah. "Aku benar-benar lapar. Lagi pul, apa pentingnya latihan 'konyol' seperti ini?"
"Konyol?!!" teriak Jimmy. "Apa kau tidak tahu ini sedang *trend?"
Aku tahu*, kata Diana dalam hati, namun melihatmu dan teman-temanmu latihan Breakdance seperti melihat segerombolan binatang liar yang bergerak tak karuan. Tadinya aku pikir Jimmy terlihat keren dengan motor hitamnya, namun sekarang... Argh!
"Ya sudah," kata Diana akhirnya. "Kalau kau tidak mau makan, ya sudah. Aku makan sendiri saja."
"Terserah!" bentak Jimmy. "Silahkan saja. Aku belum lapar. Lagi pula, aku belum selesai latihan."
"Aku benci kau, Jimmy!" teriak Diana sambil berlari.
Jimmy sekarang benar-benar menyesal karena telah membentak Diana. Tiga bulan yang lalu, saat dia mengenalkan Diana kepada teman-temannya, dia merasa sangat bangga. Teman-temannya mengakui bahwa pacarnya memang benar-benar cantik.
Jimmy lalu berlari menyusul Diana. "Diana, tunggu!" serunya.
"Apa?!" teriak Diana kesal.
"Aku akan menemanimu makan." katanya, sambil merayu. "Setelah itu, aku akan menemanimu pergi ke toko musik yang kau inginkan, bagaimana?"
Diana memandang Jimmy dengan kesal. Akan tetapi, akhirnya dia luluh juga oleh tatapan pemuda itu. "Baiklah. Kau tidak boleh ingkar janji, ya. Kau harus menemaniku malam ini, oke?"
"Oke," kata Jimmy sambil tersenyum lebar.
***
Hari sudah menjelang sore ketika Lunna dan Elios tiba di rumah. "Sebaiknya kakak mandi," kata Elios. "Nanti kita akan pergi ke toko kaset."
"Kau ingin beli kaset?" tanya Lunna.
"Apakah kakak tidak tahu?" tanya Elios. "Hari ini adalah hari terakhir harga kaset Rp 2.750,00. Besok sudah naik jadi Rp 4.500,00. Aku akan membeli kaset Megaloman."
Lunna bergegas masuk ke rumah, "Oke," katanya. "Aku akan mengantarmu ke toko kaset."
Di kamar mandi, dia merasa pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Elios tadi. Akan tetapi, benaknya tak mampu mengingat. Sore itu dia mengenakan celana jins ibu Elios dan blus warna bergaris-garis.
Mereka pergi ke toko kaset naik bus kota. Sesampainya di depan toko kaset, sudah banyak orang. Elios berlari dan berusaha masuk ke dalam toko kaset itu.
"Elios, tunggu!" kata Lunna, sambil berlari mengejarnya.
Di dalam toko, kerumunan orang semakin banyak. Berjalan diantara mereka sungguh bukan hal yang mudah. Karena Elios masih kecil, dia dapat dengan mudah bergerak kesana-kemari.
__ADS_1
Tiba-tiba Lunna melihat Mami yang sedang memilih-milih kaset tak jauh dari sana. Apa yang Mami lakukan di sini? tanyanya. Lunna beringsut- ingsut diantara rak kaset dan bersembunyi di sebuah rak dekat Mami.
"Diana," kata Suara bernada kesal. "Sampai kapan aku harus di sini?"
Lunna mengintip dari balik rak dengan hati-hati. Ya, ampun! itu kan pemuda berjaket kulit hitam di kampus siang tadi, yang memboncengi Mami.
Lunna menatap Mami dan pemuda berjaket kulit itu dengan saksama. Pikirannya membeku. Mami seharusnya datang kemari dengan Papi, katanya dalam hati. Itulah sebabnya, mengapa perkataan Elios soal toko kaset tadi mengusikku. Mami pernah berkata bahwa kencan pertama kali dengan Papi adalah antre di toko kaset. Mami juga berkata bahwa semua orang menyerbu toko musik karena harga kaset akan naik. Akan tetapi, mengapa sekarang Mami malah bersama pemuda itu? Bukan dengan Papi? Seharusnya Mami kencan dengan Papi hari ini. Tunggu.... tungguu... aku harus mengingat perkataan Mami lagi. Mami berkata bahwa siangnya sebelum kencan pertama kali, Papi menyelamatkannya, kan? Tapi tadi siang Papi.... Ya, ampun! Papi menyelamatkanku, bukan Mami. Seharusnya Mami yang duduk di bangku kampus tadi siang, bukan aku. Papi seharusnya menyelamatkan Mami, bukan aku. Astaga! Aku menghancurkan kesempatan Mami dan Papi untuk bersama. Kalau Mami dan Papi tidak bersama, itu artinya aku tidak akan ada.
Lunna menggeleng-geleng. "Aku harus menyatukan keduanya," katanya perlahan. "Ini semua kesalahanku. Besok aku harus membantu Papi mendapatkan Mami kembali."
Di depan rak tempat Lunna bersembunyi, Diana mendengus kesal ke arah pasangannya. "Jimmy," katanya, "Tadi kau berjanji akan menemaniku ke sini, kan? Aku sudah menemanimu latihan Breakdance siang tadi selama berjam-jam. Sekarang giliranmu menemaniku antre."
"Diana," kata Jimmy, "Kakiku sudah pegal."
Diana berkata sinis, "Kau tidak pegal saat latihan Breakdance. Pokoknya, kau tunggu di situ!"
Diana meninggalkan Jimmy sendirian untuk memilih-milih kaset. Lunna menundukkan tubuhnya menyembunyikan diri. Lalu menatap Jimmy dengan kesal. Perlahan-lahan ia mendekati pemuda itu dari belakang. Desakan pengunjung yang ramai membuat Lunna agak sulit berjalan ke arah Jimmy, namun akhirnya ia berhasil mendekati Jimmy dari belakang.
Lunna mengepalkan tangannya, ia sudah gatal ingin memukul punggung pria itu. Setelah berpikir beberapa saat, ia mengurungkan niatnya. Berani-beraninya kau membuat Mami kesal. Lihat saja, rasakan akibatnya!
Tanpa rasa bersalah, Lunna menyenggol Jimmy dengan sengaja, lalu berlari menjauh secepat kilat. Ia mendengar suara kaset berjatuhan dan sebuah teriakan. "Siapa yang barusan mendorongku, hah?"
Lunna tersenyum puas. Kemudian, dilihatnya seorang pria mendekati Jimmy.
"Hei, anak muda," kata pria itu, "Kau sudah menjatuhkan kaset-kaset ini. Jadi, kau harus membereskannya."
"Tetapi, pak......." sanggah Jimmy.
Melihat itu, Luna terkikik geli. Itulah akibatnya kalau kau membuat Mami ku kesal. Tidak boleh ada seorang pun yang menyakiti keluargaku. Aku tidak rela kau jadi pacar Mami. Bagaimanapun juga, Mami harus jadian dengan Papi.
Kemudian, tersadar dirinya sudah agak lama meninggalkan Elios. Lunna berusaha mencari Elios di keramaian. Ia menemukannya sedang antre di kasir untuk membayar.
"Elios," kata Lunna, berusaha curhat. "Aku bertemu Mami. Aku rasa aku mengacaukan sejarah pacaran Mami dan Papi."
"Hah? Apa? Kakak omong apa?" tanya Elios, di sela hiruk-pikuk musik yang keras. "Aku tidak bisa mendengar Kakak."
Tatapan Lunna jatuh pada sebuah kaset di tangan Elios. Lunna berteriak keras, "Astaga, Elios! Kau capek-capek datang ke sini hanya untuk beli satu kaset?"
Orang-orang yang antre di belakang Elios terdiam mendengar teriakan Lunna. Lunna tertunduk menahan malu. "Maaf," katanya kepada Elios dengan manis. "Kau antre saja, ya. Aku tunggu di luar."
Lunna membalikkan punggungnya dan keluar dari toko kaset. Di belakangnya, Elios menatap punggung Lunna. Di bibirnya tersungging seulas senyum.
***
"Aku harus pergi ke kampus dan bertemu dengan Papi besok," tekad Lunna. Ia dan Elios sudah pulang dari toko kaset dan kini sedang ada di kamarnya. Dari tadi Lunna mondar-mandir terus. "Aku hai membantu Papi," katanya lagi. Lunna menjatuhkan badannya ke tempat tidur dan berusaha tidur. Ketika akan menutup matanya, terdengar sebuah lagu dari kaset di penjuru rumah, diikuti suara Elios yang menyanyi dengan keras.
Yuke yuke yuke megaloman
__ADS_1
Doko mademo susume
....
Megalon FIRE
Megaloman wa yukuze
Megaloman hono no senshi
Lunna mengambil bantal di kepalanya, dan melemparnya ke pintu kamar. "Eliiiiiooossssss!" teriaknya. "Beriiisssiiik! Aku mau tidur!"
Lunna mengambil bantal yang satunya lagi dan meletakkannya di atas kupingnya. Setelah bolak balik di tempat tidur selama satu jam dan rasa kantuk tidak juga kunjung datang, Lunna akhirnya berjalan keluar kamar.
Ia berjalan ke arah pekarangan rumah dan melihat langit di atasnya. Jutaan bintang bertebaran di sana. Apakah Mami dan Papi juga sedang menatap langit yang sama di masa depan? keluhnya dalam hati. Aku benar-benar ingin pulang. Akan tetapi, tidak sebelum aku menyatukan Mami dan Papi kembali. Waktunya hanya enam hari. Lunna mendesah. Apakah aku sanggup melakukannya dalam waktu sesingkat itu?
Tiba-tiba sebuah jari menusuk punggungnya.
"Arrgghhh!" teriak Lunna kaget.
Di belakangnya, Elios menutup kupingnya dengan kesal. "Teriakan kakak keras sekali."
Lunna mengusap-usap dadanya untuk meredakan kekagetannya. "Salahmu sendiri, tiba-tiba membuatku kaget. Bukankah kau sedang bernyanyi di kamarmu? Untuk kau ke sini?"
Elios mendengus kesal. "Aku melihat ada orang di pekaranganku. Aku kira rumahku kemalingan."
"Heh, kau sangka aku maling?" tanya Lunna kesal.
"Sebenarnya apa yang kakak lakukan di sini malam-malam begini?" tanya Elios bingung.
"Aku sedang menatap bintang," sahut Lunna. "Aku rasa langit di masa kini ataupun di masa depan pasti tidak berubah, ya kan?"
Elios mengangkat bahunya, seakan tidak peduli.
Tiba-tiba Lunna memukul pundak Elios dan berteriak, "Hei, ada bintang jatuh! Ayo ucapkan keinginanmu!"
Elios hampir saja tersungkur jatuh oleh pukulan tangan Lunna di pundaknya. Ia lalu memandang cewek di depannya dengan kesal. "Itu kan cuma takhayul saja. Mana ada bintang yang bisa memenuhi keinginan orang?"
"Masa bodoh," kata Lunna. "Pokoknya, aku berharap aku bisa kembali ke masa depan, dan tidak perlu berurusan denganmu lagi. Oh ya, aku juga ingin punya pacar yang ganteng banget, pintar, baik hati, perhatian, mengerti aku apa adanya."
"Oi!" teriak Elios, mengingatkan Lunna. "Bintangnya sudah tidak kelihatan lagi. Sepertinya keinginan kakak tidak akan terpenuhi. Lagi pula, mana ada cowok sempurna seperti yang kakak inginkan? Permintaan kakak tidak masuk akal. Pasti bintangnya juga kecapekan mendengar permintaan kakak yang panjang begitu."
Lunna menarik napas dengan kesal. "Namanya juga permintaan. Bukankah kita harus berharap yang setinggi-tingginya? Ya, sudah. Kalau kau tidak percaya, kau kan tidak perlu menggangguku membuat permintaan. Nah, sekarang aku harus menunggu bintang jatuh lagi."
Setelah itu, Elios terdiam seribu bahasa. Dulu dia percaya bahwa ia bisa mengajukan permintaan ketika ada bintang jatuh. Sekarang sudah tidak lagi. Dua tahun yang lalu, ia meminta kepada sang bintang agar orang tuanya kembali kepadanya. Ternyata, permintaan itu tidak pernah terkabulkan. Akhirnya, ia berhenti meminta.
Di tatapnya Lunna yang sedang mencari bintang jatuh berikutnya di langit. Elios menunduk, lalu melangkah masuk ke rumahnya perlahan-lahan..
__ADS_1
•••
bersambung