A Bad Cinderella And Four Knights

A Bad Cinderella And Four Knights
part 2


__ADS_3


Keesokan harinya, putri tengah duduk di ruang tamu bersama neneknya, mereka sedang menunggu kedatangan ibu putri. Gadis itu awalnya berniat untuk kabur dari rumah, karna tak ingin tinggal di amerika bersama ibunya, tapi nenek mengancamnya, jika ia pergi neneknya tak akan pernah mau bertemu dengan dia lagi sampai kapan pun, ini membuat putri luluh dan mengurungkan niatnya, putri tau meski neneknya begitu keras tapi sebenarnya neneknya itu begitu sayang padanya.


Setelah berpamitan pada nenek, ibu dan anak itu berangkat bersama ke bandara.


"Putri kamu anak gadis, tapi lihat penampilan mu, bisakah kamu berpakaian selayaknya anak gadis?"


Putri terbiasa berpenampilan tomboy, ia hanya menggunakan kaos oblong yang longgar di badan di padukan dengan jaket dan celana jeans ripped, dia tak pernah menggunakan gaun atau rok dan sejenisnya, kalau pun dia menggunakan rok hanya untuk pergi ke sekolahnya saja.


"Ma, hubungan kita tidak begitu dekat sampai mama perlu membahasa soal penampilan ku segala, lagi pula mama jangan salah paham, saat ini aku ikut dengan mama hanya karna aku tak punya pilihan lain."


"Sifat buruk mu benar-benar persisi dengan papa mu"


Putri hanya bisa menahan kekesalannya dengan mencengkram ujung jaketnya, dia begitu sedih harus meninggalkan nenek dan teman-temannya di bandung.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang merokok di taman sebuah sekolah mewah, dia duduk bersama dua teman pria lainnya, temannya yang pertama tengah sibuk memegang kalender dan menyilangkan tanggal-tanggal di kalender itu, sedangkan yang seorang lagi sedang memejamkan mata sambil menyandarkan badannya di sebuah pohon di taman itu.


"Sudah hari keberapa sekarang?" tanya nick pada temannya.


"Woah, sudah tepat sebulan bro" ucap tom


"Anak-anak pasti pingsan jika tau steve anak paling nakal di sekolah bisa berhenti merokok selama satu bulan hanya karna seorang wanita, ku rasa mereka pasti tidak akan percaya hal ini" ucap nick.


"Kata taylor, ia akan mengabulkan satu permintaan mu jika kamu berhasil berhenti merokok dalam sebulan kan?, memangnya apa permintaaan mu sampai kamu berusaha sekeras itu?" Tanya tom pada steve


"Entahlah, aku sebenarnya belum memikirkan permintaannya"


"Gimana kalau kau gunakan kesempatan ini untuk membuatnya menerima perasaan mu?" saran tom antusias.


Saat mereka tengah mengobrol seorang gadis cantik menghampri mereka, gadis pirang bermata biru yang sangat indah di pandang itu tersenyum kepada mereka.


"Wah, taylor. Kamu benar-benar hebat kami baru saja membicarakan tentang mu dan sekarang kamu sudah ada disini" ucap nick


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Sudah sebulan ini steve berhenti merokok, lihatlah" ucap tom sambil menujukan kalender yang telah ia tandai pada taylor.


"Ku pikir aku yang akan menang, padahal aku sudah mempersiapkan permintaan ku. Jadi apa permintaan mu steve? Ucap taylor pada steve.


"Nanti saja, ku beritahukan permintaan ku. pasti ada hal lain kan, yang ingin kamu bicarakan sampai kamu datang kesini segala". Tebak steve.


"Maaf steve, tapi aku memutuskan untuk berpacaran dengan stenli, ku tau hubungan kalian berdua buruk tapi aku benar-benar mencintai pria itu" ucap taylor ragu-ragu.


Tom dan nick cuma bisa diam mematung mendengar pernyataan taylor, mereka begitu kesal pada gadis itu, karna gadis itu sebenarnya sudah tau steve sangat membenci stenli. tapi mengapa gadis itu malah memilih berpacaran dengan stenli?, bahkan melihat steve dengan bodohnya menenangkan taylor agar tidak merasa bersalah padanya membuat dua pria itu makin meradang.


"Kau kan berjanji mau mengabulkan permintaan ku, aku ingin menagihnya sekarang. permintaan ku jangan merasa bersalah pada ku, dan kau harus bahagia bersama dengannya. sekarang aku ingin istirahat, kamu masuklah ke kelas mu" ucap steve sambil mengusap lembut puncak kepala taylor.


"Trus kalian tidak masuk ke kelas?"


"Ha..ha.ha.ha...kami sudah pintar jadi tak perlu lagi masuk kelas" ucap steve sambil tertawa.


Begitu taylor meninggalkan mereka, steve langsung di marahi oleh nick.


"Dasar bodoh, sok keren. Bagaimana mungkin kamu memintanya agar bahagia bersama stenli?, tak bisa ku percaya. Wanita itu juga sangat keterlaluan bagaimana......."


belum sempat nick menyelesaikan ucapannya tom terlebih dahulu menginjak kaki nick dan mengisaratkan dia untuk diam, karna wajah steve saat ini terlihat sedang kacau, steve kemudian mengajak dua temannya itu untuk minum-minum bersamanya.


Sedang di tempat lain, putri telah sampai di amerika bersama ibunya. begitu mereka duduk di dalam mobil, ibu putri menyuruhnya untuk memperbaiki dandannya di sebuah salon agar dia terlihat lebih baik, karna keluarga barunya tak akan pernah suka bila melihat penampilan putri yang urakan.

__ADS_1


Saat ibunya ingin mengantar putri ke salon, putri merengek pada ibunya agar dibiarkan pergi sendirian, ia berjanji kalau sudah selesai ia akan menghubungi ibunya lagi agar meminta sopir menjemputnya, dan ibu putri pun percaya saja pada ucapan anaknya itu.


Setelah ibunya pergi, bukannya ke salon putri malah berkeliaran melihat beberapa jejeran toko-toko yang begitu ramai di pusat kota amerika itu, ia lalu mulai sibuk dengan pikirannya. "mama dan nenek berjanji kalau aku bersikap baik selama setahun di amerika aku bisa pulang kembali ke bandung. lihat saja, kali ini aku tidak akan lagi membuat masalah agar bisa secepatnya kembali ke bandung lagi"


Tanpa ia sadari, ia telah berjalan sangat jauh dari daerah pertokoan. dia tersesat di sebuah gang yang begitu sepi, namun saat ingin pergi dari tempat itu dia mendengar suara seseorang sedang di pukuli.


"Aku harus buru-buru meninggalkan tempat ini, jangan sampai aku terlibat masalah disini, kalau sampai kena masalah lenyap sudah angan-angan ku untuk kembali ke bandung" tekat putri dalam hatinya.


Gadis itu buru-buru pergi dari tempat itu, tapi beberapa saat kemudian tekatnya runtuh lagi, dia berbalik kembali ke arah sumber suara perkelahian tadi.


"Kali ini aku hanya akan menonton tanpa ikut campur. ya, kali ini cuma benar-benar mau nonton saja kok" ucapnya sambil meyakinkan dirinya sendiri lagi.


Sesampainya di tempat perkelahian ia melihat seorang pria mabuk tengah dikeroyok oleh tujuh orang pria.


pria-pria itu memukuli steve karna pacar mereka memutuskan hubungan dengan mereka hanya untuk mengejar pria itu. steve memang sangat tampan dan kaya, wajar jika wanita-wanita itu sangat menggilainya.


"Ayo kita pukul saja wajahnya biar dia tidak bisa sombong lagi"


"Hentikan, dasar pria-pria pengecut, karna itulah kalian di putuskan, apa kalian tak punya rasa malu menyerang seorang pria mabuk yang tak berdaya?" Ucap putri kesal melihat tingkah pira-pria itu.


"Cewek ini punya nyali juga. kamu cukup cantik, nanti kami akan bermain dengan mu, tapi tidak sekarang, karna kami lagi sibuk jadi pergilah". Ucap salah seorang dari mereka.


"Yah, kita lihat siapa yang lebih bernyali sekarang." Kata putri sambil mengambil mengepalkan tangannya.


"Kami tak mau memukul wanita jadi pergilah sekarang" ucap salah seorang dari gerombolan itu.


"Kalau kau tak mau memukul wanita, ya sudah kalau begitu terimalah pukulan dari wanita." Jawab putri sambil mulai memukuli mereka satu per satu.


Dalam sekejap mata putri berhasil melumpuhkan semua pria yang tadinya memukuli steve sampai babakbelur. karna kalah pria-pria itu berlari mundur dengan tertatur meninggalkan putri dan steve yang telah terkapar tidak berdaya di jalan.


Setelah pria-pria itu pergi putri bejongkok mengahadap ke arah pria itu, ia mengusap wajar steve dengan tangannya.


"Kenapa pria ini tersenyum padahal wajanya sudah babakbelur begini?. wajahnya tampan meski tak setampan noel. hei, kau sudah sadar?, apa yang kamu lakukan sampai babak belur seperti ini?" Tanya putri.


"Hei. Singkirkan tangan mu dari wajah ku, aku tak meminta bantuan mu"


"Dasar pria yang tak tau balas budi, bikin kesal saja"


Purti bangun dari duduknya, ia mengarahkan padangannya dengan kesal kepada steve yang masih terkapar di jalan.


"Karna sudah menyelamatkan mu tadi, jadi sekarang tak apa kalau aku mencelakai mu bukan?, lagi pula tadi kamu udah babak belur kan?" Kata putri


"Apa maksud mu?" tanya steve bingung


Putri mengangkat kakinya dan dengan sekuat tenaga ia menendang perut steve yang ada di bawahnya, pria itu begitu kesakitan, sedangkan putri yang masih kesal pada kata-kata steve tak perduli melihat pria itu meringis, ia pergi meninggalkan steve yang terkapar kesakitan di jalan.


"Aku melanggar janji ku demi menolongnya, malah orang yang ku tolong ternyata sangat brengsek" ucap gadis itu kesal.


Sesampai putri di rumah ibunya. putri menarik napas berat, sulit baginya untuk kembali memasuki rumah itu, saat masih kecil ia sempat tinggal beberapa bulan bersama ibunya di tempat itu, tapi karna tak tahan dengan keluarga baru ibunya maka ia memilih untuk tinggal bersama neneknya di bandung.


Ibu putri yang melihat kedatangan anaknya sibuk mengomeli putrinya itu, dia tadi meninggalkan putri di sebuah salon dan dekat dengan toko baju, dia juga telah memberi putrinya itu uang untuk merubah penampilannya tapi saat anaknya itu pulang, tak ada perubahan sama sekali pada anaknya.


"Putri sebelum kamu masuk ke kamar mu, sapa oma mu dulu di ruangannya"


"Mama, mama tau kan kalau oma tak akan pernah mau melihat ku, apa lagi di sapa oleh ku?"


Karna di paksa terus oleh ibunya, akhirnya putri pun menghampiri ruangan omanya, ia mengetuk pintu dan memberi tahu tentang kedatangannya pada omanya itu, tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam ruangan itu.


Ibu putri hanya bisa menatap sedih ke arah anaknya.

__ADS_1


"Mama, jangan menatap ku seperti itu, apa mama pikir oma akan menyambut kedatangan ku?, oma masih sama seperti dulu, dia akan terus mengacuhkan ku, aku sih tak masalah dengan sikapnya. Kamar ku masih sama seperti dulu kan ma?"


Ibunya hanya bisa menganggukan kepala, dan melihat kepergian anaknya dengan sedih dan rasa bersalah.


Sesampainya dikamar, putri menatap baik-baik kamarnya itu, ruangan itu tampak rapih dan bersih karna selalu di bersihkan setiap hari.


"Mama pasti selalu membersihkan kamar ini, semua masih terlihat sama seperti dulu, apa mama tau aku akan kembali lagi?, ini sangat menyebalkan"


Karna lelah, putri membaringkan tubuhnya di kasur, ia menutup matanya untuk menenangkan pikirannya, tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh seorang pria, dengan semangat pria itu berlari ke arahnya.


"Tom?" Ucap putri sambil membuka matanya.


"Ya, ini aku tom, apa aku boleh masuk?" ucap pria itu dengan senyum yang lebar


"Kamu kan sudah masuk." Ucap purti sambil duduk diatas tempat tidurnya


"Kk, lama kita tak bertemu, kamu terlihat makin cantik, aku pulang lebih awal hari ini khusus untuk menemui mu loh."


"Aku tak peduli" ucap putri cuek pada adik tirinya itu.


"Sifat cuek kk tak hilang juga, dari kecil kk sama sekali tak berubah" ucap tom sambil melihat kknya.


"Sifat bodoh mu juga tak berubah" jawab putri pada adiknya itu.


"Meski begitu aku sudah menjadi pria dewasa tahu!"


Tom akhirnya mulai bercerita tentang bagaimana ia membujuk gurunya agak bisa sekelas dengan kk tirinya itu, tapi tetap tak juga di bolehkan oleh kepala sekolah mereka. Karna untuk sementara putri akan bersekolah di sekolah elit yang ada di amerika bersama adik tirinya itu, putri begitu malas mendengar ocehan tom. Ia kemudian memotong ocehan adiknya itu.


"Tom bisakah kamu tak memanggil ku kk?, kita sebaya, cuma beda beberapa bulan, lagi pula kita tidak sedarah"


"Aku, pikir walau tak sedar kita sudah menjadi keluarga, jadi aku memanggil mu kk. tapi, kalau kk tak suka bagaimana kalau kk saja yang memanggil ku kk?" Tawar tom.


Membayangkan dia harus memanggil tom kk, membuat bulu kuduk purti berdiri.


"Adik kecil, kk capek sekali, bisakah kamu keluar sekarang?" Ucap purti dengan wajah datar


"Tuh kan, apa ku bilang, aku lebih cocok jadi adik" ucap tom kegirangan mendengar putri mengakuinya dia sebagai adik.


Sementara mereka masih berbicara hp tom berbunyi, panggilan masuk dari nick yang mengabarkan kalau steve sedang berada di rumah sakit.


"Hei tom, kalau tolong terima telepon mu di luar sana" usir putri.


Tom tak juga menggubris ucapan putri sama sekali. Dia sibuk berbicara dengan nick di telpon.


"Apa steve di pukul seorang cewek sampai harus di rawat?, ok aku akan pergi kesana"


Mendengar hal itu purti hanya bisa membatin "pria macam apa, yang di pukuli oleh seorang wanita saja sampai harus di rawat?".


Setelah menutup teleponnya tom melihat sedih ke arah kknya.


"Kk, sekarang aku harus pergi."


"Aku senang mendengarnya" ucap putri bahagia karna memang sedari tadi dia ingin istirahat.


"Padahal aku masih ingin bersama mu, aku juga ingin memberi langsung seragam untuk mu yang telah ku persiapakan" rengek tom pada kknya.


"Makasih tom, tapi teman mu lebih membutuhkan mu, cepat pergilah tom" buru-buru putri mengusir adiknya itu keluar dari kamarnya.


Bersambung.....

__ADS_1


Note:


Bagi pembaca yang suka novel ini, jangan lupa klik like dan juga kalau bisa komen ya...😊....untuk menambah semangat buat author. trimakasih..😘😘😘


__ADS_2