
Sepulang sekolah, putri merebahkan diri di kamarnya, tiba-tiba tom masuk kedalam kamar gadis itu sambil berdiri di samping ranjang putri.
"Kk, aku tadi melihat mu mengobrol akrab dengan steve, apa sekarang kalian sudah menjadi sahabat?"
Putri melihat ke arah tom dengan tatapan kesal pada pria itu.
"Hei, bukannya sudah ku suruh kau untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar ku?"
"Aku sudah mengetuknya, tapi kau tak menjawab jadi aku masuk"
"Kalau kau mengetuk dan orangnya tak menjawab itu berati dia tak ingin di ganggu, lagi pula jika tidak di jawab orang biasanya tak akan masuk" ucap putri kesal pada tom.
"Kk, bisa kah kau tak mempermasalahkan hal itu lagi?, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi, apa kau sekarang bersahabat dengan steve?"
"Jika aku di bayar 1 miliarpun aku tak akan mau berteman dengan orang itu, lagi pula sebaiknya kamu jangan berteman dengan anak itu, cari teman juga harus pilih-pilih, dia terlihat seperti pria yang suka membuat masalah, kau bisa saja terseret nanti"
"Aku tau, steve memang suka membuat masalah, dia juga suka berbicara sembarangan dan bertingkah seenaknya, tapi dia tak jahat kok" tom membela steve.
"Kalau pria itu bukan orang jahat, trus orang yang di anggap jahat itu orang seperti apa, hah?" Ucap putri kesal karna tom tak juga paham maksud baiknya untuk melindungi adik tirinya itu.
Sedangkan di tempat lain, steve sedang berkunjung ke rumah nick, pria itu sedang tersenyum gembira.
"Hei, steve. Kau tak pulang juga?, ini sudah malam tau" ucap nick
"Dasar pelit, aku akan pulang tapi sebentar lagi"
"Dari tadi ku lihat kau selalu tersenyum sendiri, apa ada hal baik yang terjadi pada mu?"
"Aku cuma senang karna sudah menemukan gadis itu, walaupun awalnya sulit buat ku mengenalinya karna malam itu dia terlihat seperti preman, tapi saat bertemu tadi, dia terlihat sangat manis, gadis itu terlihat sangat menarik" ucap steve sambil tersenyum penuh arti.
Pada pagi harinya saat semua siswa datang, putri merasa sangat terganggu dengan teman-teman sekalasnya yang punya rasa ingin tahu yang besar kepadanya, di rumahnya ia harus berhadapan dengan omanya yang tak pernah absen mengomeli tingakah lakuknya setiap hari dan di sekolah kedamaiannya harus terusik karna harus mengadapi gadis-gadis yang penasaran tentang hubungannya dengan tom dan juga steve, mereka tak hentinya bertanya, meski tak ada satupun jawaban keluar dari mulut putri.
Tapi saat steve masuk kedalam ruangan itu, para gadis yang penasaran pada putri pun otomatis membubarkan diri.
"Huft.....pagi begini mereka sudah ramai mengerubuni mu, padahal apa bagusnya diri mu?, wajah mu jelek, penampilan jelek, bahkan sifat mu juga jelek, dilihat dari sisi mana pun tetap saja tak ada bagusnya"
"Hanya orang bodoh yang menilai buku dari sampulnya, jadi aku tak perduli soal reputasi ku di kalangan orang bodoh seperti kamu" ucap putri sambil memalingkan mukanya pada steve.
"Hei, meski kau berkata seperti itu, kau sebenarnya menyukai ku kan?, saat kita bertemu malam itu kau berkata wajah ku tampan, jujurlah pada ku"
Meski mendengar apa yang steve katakan, tapi putri memilih untuk tak menggubrisnya, gadis itu malah sibuk mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya, steve yang merasa kata-katanya di abaikan pun menjadi kesal.
"Hei, kau mengabaikan omongan ku ya?" ucap pria itu kesal.
"Makanya kalau bicara pikir baik-baik, dalam mimpi mu pun jangan pernah menghayal kalau aku akan menyukai mu" ucap gadis itu dingin.
Jam pelajaran pun usai, putri kali ini tengah duduk bersama dengan steve, nick dan tom di dalam kantin sekolah, di hadapan putri terhidang semangkok mie.
Gadis itu duduk sambil menyilangkan tangannya di dada dan memandang tom yang telah duduk di dapannya.
"Kenapa aku harus makan mie ini?" tanya putri
"Karna mie ini rasanya sangat enak kk. coba deh sekali, aku yakin setelah itu kk akan ketagihan" jawab tom antusias
"Tapi aku tak suka makan mie" ucap putri dengan nada kesal
"Kalau kau tak suka, kenapa tadi kau mengikuti kami ke sini?" tanya steve pada gadis itu.
"siapa yang mengikuti kalian, bukannya tadi kau yang menarik tangan ku, padahal aku tak mau ikut bersama kalian? ucap putri sambil menunjukan wajah kesalnya pada steve.
"Masa sih?" ucap steve karna ia benar-benar tak sadar dengan apa yang di buatnya tadi.
__ADS_1
"Dasar orang aneh" umpat putri
"Kalau kau tak mau makan, yasudah pergi aja sana" balas steve.
"Woah, kau bener-bener berbakat buat darah ku mendidih, kau menyuruh ku pergi tapi kau menginjak kaki ku dari tadi, singkirkan kaki mu dari ku"
mendengar apa yang putri katakan membuat steve menundukan kepalanya ke bawah meja, untuk memastikan kebenaran kata-kata gadis itu.
"Kenapa kaki ku ada di situ?, padahal pemiliknya belum memberinya izin?" ucap steve karna grogi pada tingkahnya sendiri.
Melihat kekesalan putri membuat nick mencoba menenangkan gadis itu "putri, lebih baik kau mulai membiasakan diri dengannya, dia memang agak aneh tapi dia bukan orang jahat kok.
Mendengar apa yang dikatakan oleh nick membuat putri mengarahkan pandangannya pada steve sambil bergumam
"Benar sih, dia memang kelihatan aneh"
Saat mereka asik berbicara, terdengar suara langkah kaki menjuju ke arah meja mereka, seorang wanita tengah tersenyum manis ke arah tiga orang sahabat itu.
"Hari ini kalian makan mie ya?, kenapa kalian tak mengajak ku, padahal kalian tau kalau aku juga suka mie" tanya taylor sambil menatap sedih ke arah tiga pria itu.
"Kalau kau mau kau boleh bergabung bersama kami" tawar tom.
"Aku mau, tapi sekarang aku sedikit buru-buru jadi tak bisa ikut makan bersama kalian".
Setelah mengatakan hal itu, matanya tertuju pada putri yang duduk bersama tiga pria itu "kau yang bernama putri ya?, saudara tiri dari tom. Hallo aku taylor, senang bisa berkenalan dengan mu" ucap gadis manis itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Putri hanya terdiam sambil menatap bingung melihat uluran tangan taylor, karna merasa uluran tangannya tak di respon oleh putri taylor pun menurunkan tangannya
Melihat itu putri hanya bisa membatin "apa gadis ini berharap aku menyambut tangannya juga?, aku beci basa-basi seperti ini"
Ketiga pria itu cuma bisa menatap bingung ke arah putri yang menujukan wajah tidak berminat untuk berkenalan dengan taylor.
Tom pun akhirnya berusaha mencairkan suasan dengan berkata "maaf taylor, kk ku bukan tak suka pada mu, dia cuma susah untuk dekat dengan orang baru"
"Aku senang kau sadar diri, kau pasti tau bukan kalau tak ada yang senang melihat kehadiran mu disini, terutama steve" kata nick dengan begitu dingin ke pada taylor.
"Cukup nick" bentak steve pada temannya itu.
Ia kemudian mengarahkan pandangannya lagi pada taylor yang terlihat tak enak setelah mendengar ucapan terus terang dari nick.
"Taylor, bukankah kata mu, kamu sedang buru-buru?, pergilah sekarang dan jangan perdulikan ucapan nick tadi" ucap steve menenangkan taylor sambil tersenyum ramah pada gadis itu, senyum yang bahkan belum pernah di lihat oleh putri dari semejak pertama kali mereka bertemu dan memang steve hanya akan menujukan senyum lembutnya pada taylor seorang.
Gadis itu akhirnya pergi meninggalkan mereka berempat.
"Dasar bodoh!" Ucap nick sambil meninggalkan steve, dan tom pun mengejar nick.
Di meja itu hanya tinggal steve yang sedang melanjutkan makannya dan putri yang sedari tadi diam. Melihat putri hanya diam di tempat duduknya membuat steve akhirnya berbicara memecah keheningan di antara mereka.
"Apa kamu ingin menanyakan tentang apa yang barusan terjadi?"
"Kalau aku tanya, memangnya kau akan menjawab?"
"Tidak"
"Kalau begitu kenapa kau bertanya, kau ini memang benar-benar aneh ya"
Mendengar kata-kata putri membuat justin tersenyum dan bergumam "kau benar-benar gadis yang menarik"
Dalam perjalanan pulang, tom bertanya soal keadaan steve pada putri, dia takut kalau steve akan membuat masalah di kelas karna kejadian di kantin itu, karna steve selalu membuat masalah jika moodnya sedang buruk, tapi ternyata hal yang di takuti tom tidak terjadi, putri bercerita kalau seharian steve sangat tenang.
Putri sedikit merasa penasaran tentang taylor pun akhirnya bertanya pada adiknya "gadis yang bertemu kalian tadi, apakah dia salah satu teman kalian?"
"Ya, dia teman akrab kami, sampai beberapa hari yang lalu...." Tom pun menceritakan semua kejadian tentang steve dan juga taylor, tentang bagaimana steve memendam cinta cukup lama pada gadis itu, dan bagaimana gadis itu menghancurkan perasaan steve dengan berpacaran dengan stenli, pria yang sangat di benci oleh steve.
__ADS_1
Setelah menceritakan semua itu pada putri, tom meminta agar kknya itu merahasiakan tentang apa yang telah ia ceritakan, karna steve bisa saja membunuhnya kalau tau dia menceritakan hal itu pada putri.
Mendengar cerita tentang steve dari tom, putri hanya bisa membatin "jadi cintanya bertepuk sebelah tangan ya?, cerita lama, cerita yang tidak menarik, dan juga membosankan"
Ditempat lain di new york, noel tengah duduk di hadapan seorang pria paruh baya, pria itu bertanya alasan yang membuat anaknya memilih untuk kembali ke rumah, padahal sudah dalam waktu yang lama anaknya itu memilih untuk tinggal jauh dari orang tuanya, bahkan sekedar menanyakan keadaan orang tuanya dia pun tak sudi, meski sudah di paksa untuk kembali ke amerika pun ia tetap teguh pada pendiriannya, tapi kali ini dengan suka rela dia memutuskan untuk kembali tinggal di rumah orang tuanya.
"Ayah tak berhak bertanya tentang alasan ku untuk kembali" ucap pria itu dengan wajah dingin pada ayahnya.
"Dari kecil kamu memang suka membangkang, kau sadar betul bukan?, jika kau memilih untuk kembali ke rumah ini, berati kau harus siap dengan resiko ya, jadi jangan coba-coba untuk kabur lagi dari ayah" ucap pria tua itu dengan senyum penuh arti pada anaknya.
"Jangan khawatir ayah, karna itu tak akan pernah terjadi, tapi ayah harus menepati janji ayah pada ku, ayah harus mengabulkan permintaan ku, karna kita berdua mirip, jika sudah menginginkan sesuatu maka aku harus memilikinya" kata pria itu sambil menatap ayahnya.
Pada akhir pekan, putri sedang tidur malas-malasan di kamarnya, tiba-tiba ia mendapat telepon dari adiknya, tom meminta putri mengantar dompetnya ke salah satu kafe. meski kesal pada tom, tapi gadis itu tak tega membayangkan adiknya di marahi orang karna tak bisa membayar tagihan makananya.
Putri pun akhirnya pergi ke tempat yang di beritahukan oleh tom, tapi karna masih belum terbiasa dengan keramaian yang ada di new york gadis itu kembali tersesat.
Sedangkan di kafe, tiga pria itu asik mengobrol sambil menunggu kedatangan putri.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau rencanakan?, sehingga mengajak kami ke kafe ini, lalu menyuruh putri juga datang" tanya nick pada steve.
"Bukannya apa-apa, aku cuma berpikir gadis itu mungkin akan bosan jika ia melewatkan akhir pekan di rumah seharian, dia juga tak punya teman disini, jadi dia pasti bosan" jawab steve
"Ya, benar itu. Lagi pula kk ku cuma berdua bersama oma di rumah, dan mereka sama sekali tak cocok, kasian kk ku" ucap tom sedih memikirkan putri.
"Benarkah cuma karna itu?" Ucap nick kembali menggoda steve.
"Lalu menurut mu ada alasan lain apa lagi?, jangan menatap ku seperti itu" ucap steve kesal karna di tatap penuh curiga oleh nick.
Nick cuma tersenyum melihat tingakah steve "kau terlihat sangat lucu, dasar bodoh. Kau tak sadar kalau sedang menunjukan perasaan mu yang mulai tertarik pada putri" ucap nick dalam hatinya.
Sedang gadis yang lagi di bicarakan tengah tersesat di sebuah daerah sepi, daerah yang sama dengan waktu ia pertama kali bertemu dengan steve, dan gadis itu kembali melihat perkelahian tapi kali ini bukan steve yang tengah di hajar, tapi seorang pria tampan lainnya.
"Ya ampun, apa anak-anak di amerika semuanya pengecut?, kenapa mereka suka sakali bergerombol melawan seorang pria?, lagi pula apa tempat ini di buat khusus untuk memukuli orang?
Putri pun memutuskan untuk menonton perkelahian itu, pria yang di lawan anak-anak itu sebenarnya cukup kuat dan pintar berkelahi, tapi setelah lama menonton perkelahian tersebut putri pun akhirnya memutuskan untuk menolong pria yang sedang di serang itu.
"Hei kalian para pengecut, dasar tak tau malu. Kalian beramai-ramai melawan pria itu seorang diri, kalau kalian berani lawan aku juga" ucap gadis itu, lalu ia pun ikut bergabung bersama pria yang di serang itu dan mulai mengahajar satu-persatu para berandalan itu.
Setelah perkelahian itu selesai, segerombolan pria yang kalah itu pun memutuskan untuk kabur, putri pun akhirnya menghampiri pria yang di serang tadi
"Sekuat apa pun dirimu, kalau tangan mu cedera kamu harus menghindari perkelahian, karna akibatnya bisa lebih fatal lagi"
"Dari mana kau tau kalau tangan ku cedera? Aku bahkan tak memperlihatkannya, kok bisa kamu tau?"
"Aku sering berurusan dengan orang seperti mu jadi aku tau, kau mungkin bisa menahan rasa sakitnya tapi dari ayunan tangan mu tadi, terlihat jelas kalau tangan mu sedang bermasalah"
"Apa kau benar-benar seorang gadis?"
"Woah, pertanyaan mu sungguh tak sopan" ucap putri kesal dan ia pun berniat meninggalkan pria itu, tapi sebelum ia pergi tangannya terlebih dahulu di tahan oleh pria itu
"Jangan asal menyentuh tangan ku" ucap putri kesal sambil menarik tangannya dari genggaman pria itu
"Maaf, aku cuma ingin tau nama mu"
"Buat apa kau tau namaku?"
"Agar bisa balas budi"
"Kalau kau mau balas budi, cukup antarkan aku ke kafe haven, aku sudah berputar-putar dari tadi tak juga menemukan kafe itu"
Pria itu pun setuju dan ia pun menjukan arah bahkan menawarkan diri untuk mengantar gadis itu.
Bersambung.
__ADS_1