A Choice

A Choice
Kepepet Marah


__ADS_3

...HAPPY READING...


...*****...


Mike yang baru saja keluar dari kafe seperti sedang mencari sesuatu dan berbicara sama seseorang yang memakai jaket hitam dan kaca mata hitam.


"Maaf tuan!!!. Ini benar-benar diluar kendali saya!",ucap Budi salah satu utusan dari Mike.


"Lalu kenapa loe gak bilang pada saat kita masuk kedalam kafe ini!!!. Seharusnya loe nyegat kita buat ngasih tahu kalau nona Caramel ada didalam sana!!!",marah Mike kepada utusannya. "Dasar kerja gak becus loe!!!",umpat Mike yang langsung meninggalkan Budi sambil membuang amplop coklat. Sebelum dia menghilang dari hadapan Budi. "LOE, GUE PECAT!!!!",sambung Mike dengan amarah yang membara. "Enyahlah dari hadapan GUE!!!!",kata Mike dengan mata yang tajam.


"Baik.... baik...tuan...". Budi berlari tergopoh-gopoh meninggalkan kafe tersebut.


Rei keluar dari kafe melihat Mike yang berdiri disana. "Kamu ngapain disini Mike?",tanya Rei.


Deg. Mike langsung menoleh ke sumber suara. "Tuan Rei",kaget Mike.


"Ada apa ini?. Sepertinya kamu baru saja marah-marah sama orang?",tanya Rei bingung melihat Mike pucat seperti kepergok selingkuh.


"Tuan.... saya benar-benar minta maaf soal ini. Ini diluar kendali saya tuan?",ucap Mike ketakutan mengatakan yang sebenarnya.


Rei hanya mengenyitkan keningnya tidak mengerti. "Maksud kamu apa Mike?. Kayaknya kamu baru saja melakukan kesalahan yang fatal, tidak biasanya kamu seperti ini?",tebak Mike.


"Hukumlah saya tuan. Saya benar-benar minta maaf!",ucap Mike pasrah dan menundukkan kepalanya.


"Katakan Mike!. Kamu melakukan kesalahan apa?",tanya Rei tidak sabar.


"Tadi nona Caramel ada di kafe ini tuan",ucap Mike to the point.


Dhuarrr...


Rahang Mike mengeras dan matanya merah menyala, seperti sedang kesetanan.


"Maafkan saya tuan!!!. Maafkan saya!!!",ucap Mike pasrah. "Saya tidak becus mencari seseorang yang memata-matai nona Caramel",sambung Mike.


Rei hanya memandang Mike dengan kemarahan yang memuncak.


"Saya pantas untuk di hukum tuan!",sambung Mike sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Tunggu saja hukuman dari saya!!!",ucap Rei yang langsung mengambil kunci mobil di saku baju Mike. Ia ingin segera pergi dari hadapan Mike sebelum amarahnya keluar begitu saja.


Mike hanya melihat kepergian Rei dengan mobil sport. Tumben tuan Rei gak marah-marah seperti biasanya. Hukumannya hanya seperti ini, meninggalkan gue di cafe ini aja! batin Mike bahagia. Semenjak Rei berdamai dengan masalahnya, semenjak itu emosi Rei mudah di kontrol.


*

__ADS_1


*


*


*


*


Caramel menyenderkan punggungnya di jok mobil. Ia melihat keramaian diluar sana. Kendaraan berlalu lalang. Tetapi hatinya terasa seperti ada sesuatu yang sangat berbeda.


Lili melirik sekilas ke arah samping, dimana Caramel sedang duduk manis. "Loe lagi gak kesambet kan Mel?",goda Lili yang fokus menyetir.


Hanya helaan nafas Caramel yang terdengar.


"Loe masih kepikiran suami loe sama Bu Kiya?",oceh Lili. "Akhir-akhir ini banyak kasus loh Mel di dunia keartisan. Banyak perselingkuhan yang terjadi. Dan keluar masuk sidang perceraian lagi!!!",sambung Lili.


"Apaan sih Li, ini itu bukan di dunia keartisan. Dunia keartisan itu banyak gimmicknya. Loe masih percaya aja sama hal seperti itu",keluh Caramel kepada sang sahabatnya karena membandingkan dunia keartisan dengan dunianya.


"Bukannya gue percaya soal itu. Tetapi banyak kok Mel, bahkan istrinya sendiri yang bongkar aib sang suami",sahut Lili.


"Ya kalau sang istri tahu kebusukan sang suami, kalau sang istri gak tahu bagaimana. Kita gak boleh seperti itu Li. Bagaimana pun dia adalah suami kita".


"Helllooooo.... suami loe kali Mel. Bukan suami gue!!!",goda Lili.


"Ya mungkin suatu saat nanti loe juga punya suami Li. Oh... ya, bagaimana sama teman loe itu yang ketemuan di kafe tadi?",tanya Caramel antusias.


Caramel mengalihkan memandang keluar jendela. Ponselnya berdering, ia mengecek dari layar ponselnya. Tuan Rei. Oh... bagaimana ini, kalau dia tahu kalau gue ada di kafe tadi. Oh Tuhan, angkat gak ya!!!.


Ponsel Caramel selalu berdering menandakan panggilan masuk. Ia berdebat dengan hati dan pikirannya, antara di angkat atau dibiarkan saja. Akhirnya, ia akui ia kalah. Ia mengangkatnya tanpa sepatah kata pun.


"Dimana?",tanya Rei yang langsung bertanya tanpa sapaan dari Caramel.


"Ada di kantor".


"Jangan boong!!!".


Caramel mengenyitkan dahinya. "Buat apa saya boong".


"Temui gue atau gue akan ke kantor loe!",ancam Rei dengan marah.


Caramel tercengang mendengar ancaman dari Rei. Oh no,,, itu tidak akan mungkin. Bisa-bisanya satu kantor tahu kalau gue adalah istri dari tuan Reizo. "Jangan!!!... Saya akan temui mas",jawab Caramel pasrah.


"Ok. Gue sharelok!!!".

__ADS_1


Tut... Tut... Tut...


sambungan ponsel terputus secara sepihak.


"Ihhhhhh.....!!!",teriak Caramel kesal.


"Siapa sih Mel?",tanya Lili yang masih fokus menyetir.


"Siapa lagi kalau bukan tuan Reizo Darma Abisatya!!!".


"Ngapain dia telepon loe disaat loe kerja?".


"Tau deh.... Lebih baik loe menepi dulu Li. Gue kayaknya naik taksi aja Li".


"Loe serius?. Gue anterin loe aja!!".


"Gak usah. Gue gak mau ngerepotin loe, Li".


Lili segera menepikan mobilnya. Ia tahu saat ini Caramel sedang dalam masalah. "Ok Mel. Nanti kalau loe kenapa-kenapa hubungi gue ya?. Gue gak mau loe kenapa-napa",pesan Lili.


Caramel menganggukkan kepalanya. "Dia suami gue Li. Gak mungkin dia akan nyakitin gue!".


"Jangankan suami Mel, orang yang paling dekat sama kita aja kadang-kadang nyakitin kita kok. Udah, pokoknya kalau ada apa-apa loe segera kabari gue!. Akan siap sedia langsung meluncur ke TKP!",pesan Lili.


"Apaan sih!!!. Udah deh, jangan ngaco gitu ngomongnya!",sahut Caramel yang langsung keluar dari mobil Lili. Ia tidak lupa melambaikan tangan setelah Lili pergi dari hadapannya. Kemudian ia menghentikan mobil taksi dan masuk kedalam mobil.


Disisi lain Rei sedang duduk-duduk santai di restoran yang dipesan oleh Rei. Ia menunggu Caramel yang sedang dalam perjalanan. Gimana ya cara jelasinnya?. Gak mungkin gue langsung to the point gitu aja sama dia soal Key. Terus ngapain juga dia makan siang ditempat jauh dari kantornya?. Aneh. Rei sudah berpikir macam-macam tentang Caramel. Tidak lama kemudian Caramel datang menghampirinya. "Lama banget sih!",oceh Rei yang dibuat sengaja marah karena menunggu terlalu lama, padahal kenyataannya bukan begitu.


"Maaf mas. Tadi......".


"Tadi apa?",sahut Rei yang belum sempat Caramel menjelaskan satu kata pun.


"Gak apa-apa",jawab Caramel pasrah.


"Ya udah duduk. Loe mau berdiri terus menerus seperti itu!".


Caramel patuh. Ia langsung duduk yang berhadapan Rei. Bukannya yang marah seharusnya gue?. Lalu ngapain dia marah-marah gak jelas seperti ini?. Kayak anak perawan yang sedang PMS aja. Gue curiga kayak ada udang dibalik bakwan. Rei sepertinya sedang menutupi sesuatu hal yang sangat penting dari gue. Apa ya kira-kira?.


Dan tumben banget dia ngajak gue makan siang di restoran semewah ini. Ada apakah ini?.


Pelayan menyiapkan hidangan yang sudah dipesan oleh Rei. Sedangkan Rei dan Caramel saling tatap-tatapan dengan penuh tanda tanya. Mereka berperang dengan perasaan mereka masing-masing.


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...


__ADS_2