A Choice

A Choice
Sebuah Kekhawatiran


__ADS_3

...HAPPY READING...


...*****...


Caramel diberikan obat penenang didalam infusnya, supaya Caramel lebih tenang lagi. Setelah Rei mengambil tas milik Caramel, lelaki itu duduk didekat ranjang. Ia memandang lekat wajah cantik sang istri.


Bunyi ponsel Caramel yang menyadarkan lamunan Rei. Ia mengambil ponsel dan mengangkat telpon entah dari siapa karena ia tidak melihat layar ponsel. "Hallo....", Rei menjawab asal yang ia letakkan didekat telinga sebelah kiri, karena ia mengingat sang istri tadi yang ingin mengambil barang pipih ini.


"Siapa ini?. Dimana Caramel?",tanya seseorang yang membuat kuping Rei panas sehingga sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Eh..loe jangan macam-macam ya sama Caramel, gue gak akan rela kalau Caramel kenapa-kenapa!. Loe tahu gak Caramel itu istri dari siapa?",oceh Lili yang ceplas-ceplos.


"Gue suaminya!",jawab Rei telak.


Lili menganga tidak percaya menutup mulutnya dan merutuki dirinya sendiri. "Dimana Caramel?",tegas Lili.


"Dia sedang tidur. Apa perlu bukti?".


"Dia gak kenapa-kenapa kan?", Lili menyelidiki sang suami dari sahabatnya.


"Dia istri gue. Buat apa gue nyakitin dia!".


"Ok... ok....!", Lili pasrah dengan jawaban Rei. Lalu Rei mematikan ponselnya secara sepihak karena Lili sudah mengganggu ketentramannya.


Rei membela rambut Caramel penuh kelembutan. Ia tidak tahu lagi harus memberikan kabar seperti apa kepada sang Bundanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sore hari. Arzan yang sedang menunggu sang Mama pulang kerja tak kunjung datang. Ia menelepon sang papa dengan rasa penasaran. "Pa, mama mana?. Kenapa mama dan papa belum pulang?",tanya Arzan yang disampingnya terdapat Bunda dan Tiara.


"Sebentar ya sayang. Kita masih ada meeting malam ini, jadi gak bisa pulang cepat!. Bilang sama Oma dan tante Tiara ya?",pinta Rei yang berbicara menjauh dari ranjang.


"Iya pa. Tapi janji cepat pulang ya Pa!" rengek Arzan.


"Iya sayang. Jangan lupa belajar ya sama tante".


"Mana Mamel?. Ar mau ngomong sama Mamel?".


Rei terperanjat permintaan Arzan. "Sayang, Mamel gak bisa di ganggu. Mamel sedang meeting sayang" alasan Rei.


"Lalu papa kenapa bisa bicara sama Arzan. Sedangkan Mamel tidak?".

__ADS_1


Pertanyaan yang masuk akal Arzan. Tapi, maaf papa harus bohong kali ini batin Rei. "Karena mamel sedang menjelaskan presentase perkembangan perusahaan sayang. Jadi gak bisa diganggu. Nanti papa sampaikan aja kalau Ar udah rindu sama Mamel?" kata Rei beralasan.


"Ya sudah pa. Pokoknya Ar tunggu telepon dari Mamel".


"Iya sayang. Ya udah papa tutup dulu ya!" Rei mematikan sambungan telepon sepihak. Ia terdiam membayangkan bila Caramel tak kunjung sadarkan diri, lalu ia harus beralasan apa lagi terhadap sang putra. Ia keluar menemui sang dokter yang menangani Caramel, karena sang dokter bertugas pada malam hari. Sang dokter menjelaskan bahwa Caramel tidak boleh terlalu stres memikirkan apapun, sang dokter takut bila akan berdampak pada lambung Caramel yang akan semakin buruk.


Rei keluar dari ruangan sang dokter. Ia berjalan menuju ruangan dengan langkah yang gontai memikirkan kesehatan Caramel dengan perasaan bersalahnya. Karena selama ini ia hanya memikirkan perasaan dirinya sendiri daripada orang lain. Sifat yang angkuh dan egoisnya yang menguasai diri. Ponsel Rei berdering memecahkan lamunan pada malam hari ini. Ia mengangkat telepon dengan sangat malas dengan siapa ia berbicara. "Iya ma. Rei akan secepatnya pulang kerumah. Dan akan berbicara baik-baik dengan Arzan. Karena Arzan belum mau diajak pulang kerumah utama" jelas Rei beralasan.


"Makanya kamu harus tegas dong sama Arzan. Dia itu cucu pertama mama. Harusnya kamu ngerti dong Rei!" oceh Donna.


"Iya ma. Nanti kalau Arzan udah mau pulang, Rei akan langsung ajak dia pulang".


"Jangan nanti dong!. Sekarang!. Mama maunya sekarang Rei. Atau mama jemput Arzan dan memaksanya?" ancam Donna.


"Jangan gitu dong ma. Mama sama aja memaksa Arzan untuk selalu mengikuti keinginan Omanya. Arzan ingin kehidupan yang baik ma. Mama ingin Arzan menginginkan apa?. Mama tahu apa yang ingin Arzan mau?",marah Rei terhadap Donna menggebu-gebu.


"Mama tahu sayang. Mama tahu apa yang ingin cucu Oma mau dan apa yang terbaik buat Arzan".


"Memang apa ma yang cucu mama mau?",tanya Rei memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu keinginan anaknya kecuali dirinya.


"Arzan ingin hidup bahagia dan sempurna bersama keluarga Abisatya. Apa lagi Arzan bersama mama saat pergi berdua",jawab Donna santai mencari jawaban yang masuk akal.


"Rei, kamu jangan macam-macam ya?. Kamu itu pewaris tunggal keluarga Abisatya. Apa yang nanti orang katakan bahwa kamu tinggal dirumah yang kumuh itu. Mama gak setuju Rei!",marah Donna tidak terima.


"Ma...."


"Rei, apa yang dibuat sama Caramel sampai-sampai anak mama bertekuk lutut sama wanita ****** itu!. Apa Rei?" Donna meninggikan suara satu oktaf yang membuat Rei memutuskan ponselnya secara sepihak.


Rei malas menanggapi sang Mama. Ia memilih untuk masuk ke ruangan Caramel. Ia melihat Caramel sudah terjaga melihat ke arah pintu masuk. "Eh... kamu udah bangun?" Rei duduk didekat ranjang.


"Kamu?. Mas tadi memakai sebutan kamu?" Caramel tidak percaya.


Rei hanya menganggukkan kepala. "Ada yang salah?".


"Tidak. Aneh aja" singkat Caramel menjawab. Ia menatap kedua mata Rei yang terasa sayup.


"Bagaimana kondisi kamu?. Udah mendingan?".

__ADS_1


"Alhamdulillah lumayan mas".


"Ya udah, aku panggilkan dokter dulu ya?. Biar kita cepat pulang. Soalnya Arzan dari tadi ingin mendengarkan suara kamu" jelas Rei yang mendapat anggukan setuju dari Caramel. Ia segera memanggil dokter untuk mengecek kesehatan sang istri. Setelah beberapa menit akhirnya Caramel sudah diperbolehkan untuk pulang tetapi Caramel harus banyak istirahat penuh.


Sesampainya dirumah Arzan langsung menghamburkan pelukan kepada sang Mama. Arzan sang mencemaskan sang Mama karena perasaannya tidak menentu.


Caramel dan Arzan masuk kedalam kamar sedangkan Rei ingin menuangkan bubur ayam yang ia beli tadi untuk makan malam Caramel.


Rima melihat Rei sedang sibuk berkecimpung didapur. Ia melihat Rei yang sangat telaten. "Perlu bantuan nak Rei?" Rima menawarkan diri bila Rei mulai bingung mencari alat-alat dapur.


"Tidak perlu Bun. Rei akan cari sendiri. Bunda mau bubur?" Rei menawari.


"Enggak usah. Buat kalian aja. Bunda dan Tiara tadi udah makan malam".


"Iya bunda. Ya udah, bunda segera istirahat. Hari mulai malam Bun" pesan Rei menengok kebelakang.


"Iya nak Rei. Kamu, Amel dan Arzan juga cepat istirahat ya...!".


"Iya bunda" Rei berlalu pergi masuk kedalam kamar membawa dua mangkok bubur ayam. Ia melihat Caramel masih lemas ditempat tidur.


"Pa, Mamel sakit ya?" tanya Arzan berbisik didekat sang papa.


"Enggak sayang. Mama kurang istirahat dan kelelahan. Makanya pucat. Nanti setelah minum vitamin, mama juga cepat sembuh kok!" alasan Rei supaya sang putra tidak khawatir. "Ya udah, bantu mama yuk untuk makan malam!",ajak Rei yang menyodorkan sebuah piring ke depan Arzan.


"Apaan sih mas, aku masih kuat kok untuk makan sendiri" malu Caramel yang membuat Rei tersipu malu.


Rei mengelus kepada Arzan lembut. "Kamu mau kan sayang?" tanya Rei kepada sang putra.


"Mau banget pa!" semangat Arzan yang membara. Arzan menyendokkan sedikit bubur kedalam sendok lalu menyodorkan ke dekat mulut sang Mama.


Caramel tersenyum manis mengelus puncak kepala Arzan penuh sayang. "Thanks honey" ucap Caramel menerima suapan pertama.


Rei tidak tahu mengapa ia tersenyum secara mendadak. Hatinya menculas rasa yang belum pernah ada sebelumnya.


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...

__ADS_1


...Terimakasih ...


__ADS_2