
...Happy Reading...
...*****...
"Loe ngancam balik gue, Mel?",tanya Rei tidak percaya.
Caramel menelan saliva dengan susah payah. "Iya. Apa yang saya harapkan dari pernikahan ini?".
Rei mengangga tidak percaya apa yang dikatakan oleh sang istri. Ia sadar diri karena selama ini mereka menikah, tidak ada yang istimewa kecuali kehadiran sang buah hati mereka.
"Mas tahu, saya selalu tidak pernah dianggap oleh keluarga besar Abisatya. Mereka selalu merendahkan harga diri saya. Saya sadar mas, saya tidak seperti mantan mas itu. Saya sadar, saya tidak punya kekayaan seperti keluarga Abisatya. Tapi, menikah dengan mas juga bukan pilihan saya. Lalu apa lagi yang saya handalkan dalam hidup dan diri saya ini?",air mata Caramel menetes di pipi cantiknya itu. Hatinya seperti teriris belati yang mengenai dengan tajam.
"Mel...."
"Cukup mas!", Caramel menangis sesenggukan. "Aku gak mau bunda dan Tiara tahu kalau kita sedang bertengkar, apa lagi Arzan. Aku gak mau kalau dia terluka!".
"Mel... Ok, gue minta maaf soal semuaaaanyaaa karena telah menyakiti hati loe!. Tapi, kali ini gue mohon, loe lebih baik istirahat dulu aja!. Gue kagak mau kalau loe sakit seperti kemarin. Biar kerjaan loe gue handal",pinta Rei memohon.
Caramel tersenyum getir. "Handal mas bilang?",ucap Caramel merasa direndahkan oleh Rei. "Apa ini tujuan mas dan mbak Kiya merencanakan sesuatu?".
"What?",Rei tidak percaya bahwa Caramel masih menyebut nama wanita itu. "Ini semua gak ada hubungannya dengan dia, Mel!",kata Rei penuh penekanan.
"Jelas ada. Satu, proyek ini gak akan tertunda bila mas ikut campur dalam urusan ini. Kedua, mas diam-diam bertemu dengan dia disaat jam kerja. Ketiga, mas belum move on dari dia!",ucap Caramel menggebu-gebu.
Rei langsung memegang lengan Caramel dengan kuat. Ia menggelengkan kepala tidak percaya bahwa Caramel mengatakan itu semua dihadapannya sekarang. Ia menunjuk jari telunjuk tepat dihadapan Caramel. "Dengerin gue ya Mel, itu semua kagak ada yang benar!. Gue sama dia udah tidak ada hubungan apa-apa!. PAHAM!!!",bentak Rei yang sudah tidak bisa mengontrol amarahnya.
Caramel memberontak ingin dilepaskan lengannya. Lengannya terasa sakit karena Rei mencengkram dengan kuat. "Lepasin Mas!!!. Sakit!!!",tetapi Rei tetap dia saja.
"Ini semua tidak ada hubungannya dengan gue ya Mel!. Gue sengaja ketemu sama dia, hanya kaget bahwa loe bekerjasama dengan perusahaannya. Hanya itu, sekedar itu. Gak lebih!!",jelas Rei yang langsung pergi begitu aja ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Caramel menatap lengannya dengan perasaan yang mendalam. Ini sakit dilengannya bisa disembuhkan, lalu bagaimana dengan hati ini yang selalu terluka.
Di meja makan Arzan, Bunda dan Tiara hanya memandang kosong kearah kamar Caramel. Mereka bertiga menanti sepasang suami istri itu segera keluar.
"Udahlah Bun, kita sarapan dulu aja!. Aku takut telat nih ke kampusnya!",kata Tiara memohon.
"Bentar dulu sayang. Kita harus menunggu mereka berdua keluar. Kita harus menghargai dong usaha kak Rei untuk membuat sarapan ini",saran Bunda.
"Tiara kagak yakin deh Bun, kalau makanan ini enak untuk di santap?",beo Tiara memandang makanan yang tersaji sempurna di atas meja.
__ADS_1
Arzan menopang kepalanya dengan kedua tangan. "Ar juga gak yakin tan, kalau ini buatan papa Rei. Soalnya papa Rei gak pernah masak sama sekali",titah anak kecil itu.
"Lah itu benar sayang!. Tante juga gak percaya dengan masakan papa kamu itu!",sahut Tiara mencari kebenaran. "Kalau seandainya kita keracunan bagaimana Bun?. Seharusnya dikasih micin tetapi malah ngambil gula?",sambung Tiara menebak.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya dengan perasaan was-was terhadap Tiara dan cucunya. "Sayang, kakakmu itu lulusan sarjana loh. Ya kali kakak kamu kagak tahu mana micin, mana gula?",kesal Bunda.
"Ya mana tahu Bun. Anaknya aja kagak percaya sama bapaknya?. Apa lagi kita Bun?".
"Udah jangan ngasal deh kamu, kamu jangan berburuk sangka sama kakak kamu itu. Udah pokoknya kita harus berpikir positif!".
"Mana sih mereka berdua?. Ya kali pagi-pagi buta seperti ini minta jatah!",beo Tiara yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang bunda. "Ya bunda. Maaf!".
Caramel keluar kamar setelah mengusap air mata dan membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Ia tidak mau sampai keluarganya tahu bahwa mereka sedang bertengkar.
"Lama banget sih kak?. Ngapain dikamar?",oceh Tiara yang tidak bisa mengerem perkataannya.
Caramel duduk didekat Arzan. "Gak apa-apa kok. Ya udah, kita sarapan yuk!",ajak Caramel mengambil roti sandwich dari piring yang sudah disusun rapi yang langsung mendapat cubitan pelan dari sang bunda. "Ckk, apaan sih Bun?. Sakit tahu!",keluh Caramel kesakitan.
"Eh, suami kamu aja belum keluar dari kamar. Kamu udah terimakasih belum sama suami kamu, Mel?",tanya Bunda.
Caramel mengenyitkan keningnya tidak mengerti. "Makasih buat apa Bun?. Nanti mas Rei juga keluar sendiri kan!".
"Kamu tahu yang masak ini siapa?. Kamu tahu suami kamu bangun jam berapa?. Kamu tahu gak?",tanya Bunda bertubi-tubi, tidak biasanya bunda bertanya sebanyak itu.
"Kak Rei",lirih Tiara memberikan jawaban yang tak terduga.
Caramel mengangga tidak percaya dengan jawaban sang adik. Ia menyapu seluruh pandangan untuk menatap sajian di pagi hari ini di atas meja. Sejak kapan dia peduli dengan keluarga gue? tanya batinnya bertanya-tanya.
Rei keluar dari kamar, ia berjalan ke arah meja makan dan Caramel mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang telah membuat sarapan di pagi hari ini. Rei melirik ke arah Caramel yang sedang menatapnya kembali yang membuat Caramel mengalihkan pandangannya. "Loh kok belum sarapan Bunda?".
"Kita nunggu nak Rei dulu. Bunda gak enak sama nak Rei. Nak Rei yang memasak untuk kita, masa kita gak nunggu",jawab Bunda. "Ya udah, kita mulai sarapan ya!",sambung Bunda.
Caramel mengambilkan sandwich ke atas piring untuk Rei, ia tahu bahwa ia sedang marah dengan suaminya tersebut, tetapi ia tidak lupa menjalankan tugas sebagai seorang istri. Ia lalu mengambilkan untuk Arzan. "Makan yang banyak ya sayang!",pinta Caramel kepada sang putra.
Rei tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Caramel, karena telah mengambilkan untuknya. "Thank's sayang!",pinta Rei yang kembali fokus ke makanannya tanpa sadar Caramel menatap Rei.
Apa?. Sumpah demi apa dia panggil gue sayang?. Dia salah minum obat apa? batin Caramel bergejolak
Tiara yang merasa kaget dengan tingkah kakak iparnya itu melirik ke arah Rei. Dia serius panggil kakak gue seperti itu atau hanya pencitraan semata ya?.
__ADS_1
"Iya, masama Mas", Caramel kembali fokus ke sarapan di pagi hari ini.
Mereka akhirnya berangkat bersama setelah perdebatan yang sangat panjang antara Caramel berangkat sendiri atau berangkat bersama. Dan Caramel mengalah supaya sang putra bahagia.
Sepanjang perjalanan ke sekolah Arzan, Caramel hanya diam seribu bahasa sambil melihat ke luar jendela. Ia enggan menatap mata Rei yang terlalu mengintimidasi. Setelah mengantar Arzan, mereka melanjutkan perjalanannya.
"Vitaminnya kagak lupa kan di bawa?",tanya Rei yang memecah keheningan dan fokus menyetir.
Deg, Caramel menutup mata sejenak mengingat apa saja yang ia masukan kedalam tas. Aduh, mampus gue!. Gue lupa lagi.
"Mel...."
"Lupa Mas. Maaf!",jawab Caramel singkat.
"Bisa-bisanya loe lupa bawa vitaminnya!. Bagaimana kamu menjamin kesehatan loe sendiri. Kita balik lagi ke rumah!",kata Rei.
Caramel menoleh kearah sang suami. "Jangan dong Mas!. Aku bisa terlambat meetingnya. Hari ini tuh ada meeting dan aku gak mau datang terlambat ya!",jelas Caramel.
"Lalu bagaimana dengan vitaminnya?".
"Biar nanti aku suruh tukang ojek online untuk ngambil vitaminnya".
"Loe percaya sama ojek online gitu?",kesal Rei.
"Atas dasar apa aku gak percaya sama ojek online mas?".
"Pokoknya kita balik pulang!",tekad Rei.
Caramel melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan setengah delapan. "Kagak bisa Mas. Aku harus segera sampai kantor. Kalau gak, proyek ini akan gagal!. Aku butuh proyek ini!".
"Lo gak butuh proyek ini mau gagal atau tidak. Itu gak ada urusannya sama Lo apa lagi kesehatan Lo, Mel!",bentak Rei.
"Apa kamu bilang mas?. Kalau aku gak sampe gol proyek ini, aku bisa saja lengser dari jabatan ku Mas. Aku gak mau itu. Aku butuh kerjaan ini buat adikku dan bundaku. Aku berjuang mati-matian supaya adikku bisa kuliah seperti aku. Dan mas dengan mudahnya bilang seperti itu!",marah Caramel menghela nafas kasar.
"Kalau Lo lengser maupun dikeluarkan dari perusahaan Lo, gak usah khawatir Lo mau kerja dimana. Kan ada perusahaan gue",kata Rei enteng lalu ia menyetir ke arah kantor Caramel.
Caramel melirik sekilas ke arah suaminya. Bisa-bisanya dia ngomong seperti itu?. Apa kabarnya mama Donna kalau gue sampai kerja disana juga?.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih...