
...HAPPY READING...
...*****...
Tiara sedang berada di kampus. Ia saat ini duduk di taman kampus sambil membaca buku. Aida datang yang langsung ikut duduk disamping Tiara. "Sendiri aja loe?",sapa Aida.
"Biasa nanti ada kuis, makanya gue baca buku!",jawab Tiara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Loe di cari tuh sama Daffa?".
Tiara menutup bukunya dengan kesal. "Ngapain dia cari gue? Kayaknya nggak ada masalah gue sama dia",jawab Tiara menatap lurus kedepan.
"Siapa tahu dia ngajak ngedate loe, Ra?".
Tiara menoleh ke samping menatap tajam Aida.
Aida dengan santainya masih tetap menatap kedepan. "Semua orang tahu Ra, kalau dia udah suka sama loe lama. Loe tahu sendiri itu!".
Tiara menghela nafas kasar. "Kalau dia suka sama gue, yang seharusnya bilang itu dia! Bukan loe ataupun orang lain!".
"Dia itu terlalu takut Ra sama loe. Loe aja jadi cewek garang banget sama cowok!",jawab Aida, kemudian ia menggeser posisinya untuk berhadapan dengan Tiara. "Loe sadar nggak sih, kalau loe itu nggak punya temen cowok! Temen loe rata-rata cewek!".
"Ih... siapa bilang? Jangan sok tahu ya!",elak Tiara tidak terima.
"Buktinya?".
"Banyak ya temen cowok gue ditempat kerja! Gue ogah aja temenan sama cowok di kampus! Orangnya nggak asyik-asyik! Apa lagi tuh cowok playboy kampus yang katanya anaknya pengusaha. Apaan tuh!",jelas Tiara.
"Emangnya loe udah tahu siapa cowok playboy plus anak pengusaha itu?".
Tiara dengan santai menggeleng kepalanya pelan. "Belum sih! Tapi itu nggak penting kok buat gue! Mau dia ganteng kek, kaya raya kek, gue nggak peduli. Hidup gue kan bukan dia yang nanggung, ngapain juga gue peduli itu!".
"Bukannya gitu Ra. Loe sih belum pernah lihat cowok itu. Tapi gue yakin, sekali loe lihat dia, gue yakin seyakin-yakinnya bahwa loe akan jatuh cinta pada pandangan pertama!",goda Aida.
"Gue nggak yakin! Itu nggak akan ngaruh dihidup gue!".
"Nggak percaya gue!". Aida menyenggol lengan Tiara keras yang membuat Tiara meringis. "Loe sekarang pindah kerjaan?. Kemarin gue habis ke supermarket tempat loe kerja itu, tapi loe nggak ada disana?",tanya Aida.
"Iya gue pindah. Tuh gara-gara kakak ipar gue, yang bikin gue pindah dari tempat kerjaan gue! Padahal disana gue udah mulai tertarik. Tapi, takdir berkata lain!",jelas Tiara sambil mengingat kejadian ia bertemu dengan Reizo, kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Lalu?".
"Ya udah, gue sekarang di kafe. Ya, semoga gue betah disana!. Yang penting cowok resek itu nggak ngangguin gue terus!".
"Cowok resek siapa?".
"Ada lah. Gue cerita, loe juga kagak kenal sama tuh bocah!",elak Tiara.
"Ciehhh... pakai kata bocah segala. Awas aja entar loe jatuh cinta sama dia, baru tahu rasa loe...!!",goda Aida.
*
*
*
Caramel sedang berada di kamar mandi. Ia bercermin di depan wastafel sehabis mencuci wajahnya. Perasaan wajahnya sedikit pucat karena terlalu lelah untuk hari ini.
Angel masuk kedalam toilet, ia melihat Caramel sedang berdiri di depan wastafel. "Pucet amat loe!",sindir Angel melirik ke arah Caramel yang masih fokus memandang wajahnya. "Lagi kurang darah ya? Atau jangan-jangan loe bunting lagi dengan suami misterius loe itu!",ujar Angel menohok. Ia bercermin sambil mengusap wajahnya dengan sabun cuci muka.
Caramel menghela nafas kasar. Ia melirik ke arah Angel dengan kesal dan marah. "Sebenarnya masalah loe sama gue apa sih Ngel?. Loe ikut campur masalah gue, gue nggak ada masalah. Tapi, kali ini kesabaran gue sama loe, udah habis Ngel!!!",oceh Caramel menatap tajam ke arah samping.
Angel masih tetap tidak merespon perkataan Caramel. Ia hanya tersenyum sinis sambil melanjutkan ber-make up ria. "Gue nggak suka aja, loe cari muka didepan Pak Dendi!!",ujar Angel yang langsung menoleh ke arah Caramel dengan sorotan yang tajam.
"Maksud loe?. Loe ngehina gue?",kesal Angel.
"Bukan menghina lagi sih, itu menurut kenyataan yang ada!!!. Udah dulu ya Bu Angel, saya lelah berdebat sama tembok seperti Bu Angel ini... Bye...Bye...!",cicit Caramel yang langsung keluar dari toilet itu. Ia tidak betah berlama-lama dengan makhluk aneh itu.
Angel menghentakkan kakinya merasa di hina dan diejek oleh Caramel. "Awas aja Caramel!!!. Gue pastikan loe bakal malu pada saat acara pesta nanti!",ancam Angel murka.
Caramel masuk kedalam ruangannya. Hari ini sangat banyak tugas menumpuk di atas mejanya. Ia mengerjakan satu persatu tugas yang tertunda.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu menghentikan aktivitas Caramel. "Masuk!".
Seseorang office boy masuk kedalam ruangan Caramel dengan membawa paper bag. "Permisi Bu!".
Caramel mengenyitkan keningnya tidak mengerti karena ia sama sekali tidak memesan sesuatu. "Ada apa ya?".
__ADS_1
"Ini Bu, ada paketan buat ibu",ujar office boy itu meletakkan beberapa paper bag.
"Paketan!",tanya Caramel pada dirinya sendiri. "Saya sama sekali nggak ada paketan atau menerima paketan. Mungkin kamu salah kali namanya?".
"Benar kok Bu. Atas nama Ibu Caramel Diandra Atmadja".
Caramel menatap office boy itu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ya udah. Terimakasih ya!",ucap Caramel dengan senyum manisnya.
"Sama-sama Bu. Kalau gitu saya permisi dulu Bu!",pamit Office boy itu meninggalkan ruangan Caramel.
Lili melihat office boy itu keluar dari ruangan Caramel, ia langsung menghentikan langkah office boy yang bernama Budi itu. "Mas Budi tumben banget keluar dari ruangan Bu Caramel?",tanya Lili penuh selidik. "Bu Caramel pesan apa?",sambungnya.
"Aduh mbak Lili. Saya mau jantungan mbak masuk ke ruangan Bu Caramel. Baru kali ini saya berbicara langsung sama beliau. Kirain saya Bu Caramel orangnya galak plus judes. Ternyata tidak. Untung saya udah banyak stok!!",beo Budi.
Lili hanya tersenyum lebar mendengar ocehan dari Budi. "Siapa yang bilang Bu Caramel itu galak plus judes?. Galakkan gue daripada dia tahu!".
"Iya Bu Lili. Galakkan ibu Lili daripada Bu Caramel".
"Terus tadi Bu Caramel pesan apa?".
"Bu Caramel dapat paketan Bu. Tadi saya di panggil di pos satpam untuk memberikan paketan itu kepada Bu Caramel. Kemungkinan makanan Bu. Soalnya dari baunya sangat enak dan lezat. Mungkin makanan mahal dengan paper bag yang khusus di buat oleh restoran ternama".
Belum sempat Budi menjelaskan secara terperinci, Lili langsung meninggalkan begitu saja untuk segera masuk kedalam ruangan Caramel. Ia tidak mau meninggalkan momen paling bersejarah dan romantis saat ini.
"Ada apa Li?",tanya Caramel yang tidak mengalihkan perhatian kepada kertas berkas di depan matanya.
Lili tersipu malu. Ia berjalan dengan gaya khas kemayu yang membuat orang melihatnya mungkin merasa jijik. "Eh... Bu Caramel dapat paketan ya?",goda Lili mendekat ke arah paper bag itu.
"Jangan sentuh apapun yang bukan milik kamu!",sindir Caramel yang langsung mendapat lirikan dari Lili.
Lili mencebikkan mulutnya kesal. "Iya... iya... mentang-mentang sekarang makan siang ada yang antar, sekarang lupa ya sama teman sendiri!!!",sindir Lili.
"Gue nggak tahu siapa orang yang peduli sama gue!. Tapi yang jelas bukan orang jahat!",guman Caramel sambil menerka-nerka pengirimnya.
Lili mendekati Caramel, ia berdiri di belakang Caramel. "Menurut gue sih, si pelakunya itu adalah suami loe sendiri. Suami dengan watak kaya raya, ganteng, berkarisma dan satu lagi, suami yang galak ya minta ampun!!!. Itu sih menurut gue!",tebak Lili dengan yakin.
Caramel menatap ke arah depan. Mana mungkin dia begitu peduli sama gue?. Dia aja acuh tak acuh sama gue. Apa lagi pakai acara kirim makanan segala lagi!. Lalu kalau bukan dia, siapa lagi ? batin Caramel memikirkan hal-hal yang mustahil baginya.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...