
...HAPPY READING...
...*****...
Kring.... Kring.... Kring....
Jam alarm milik Caramel berbunyi membuat Rei terganggu tidurnya. Ia melirik sekilas Caramel yang masih tidur nyenyak di bantal kesayangannya itu. Ia mengambil ponsel milik Caramel lalu mematikan supaya Caramel tidak terganggu. Rei melirik sekilas ke arah sang istri mengelus puncak kepala Caramel dengan lembut kemudian ia bangkit dari ranjang tempat tidurnya.
Bunda setelah mengerjakan shalat subuh beliau langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia melihat Rei keluar dari kamar dengan cara mengendap-endap supaya tidak menimbulkan suara. "Nak Rei ada apa?", tanya bunda mengagetkan Rei.
Rei melihat bunda dengan perasaan yang canggung dengan mengelus dada karena keterkejutan. "Bunda... ngagetin saya aja!", titah Rei mendekati sang bunda mertua.
"Maaf nak Rei, bunda kaget saja, kenapa nak Rei berjalan mengendap-endap seperti itu. Memangnya ada apa nak Rei?", tutur Bunda.
Rei menggaruk leher belakang yang tidak gatal karena ia malu mengatakan sesuatu.
"Lalu Amel mana?".
"Gini loh Bunda, untuk pagi ini, biar saya ya yang menyiapkan sarapan ya?", jawab Rei cepat sebelum bunda tanya-tanya.
Bunda mengenyitkan dahinya bingung, karena biasanya Caramel yang akan membantunya membuat sarapan pagi. "Nak Rei serius?", tanya bunda tidak percaya permintaan Rei yang tidak masuk akal. Karena Rei adalah tuan muda dari keluarga yang terpandang.
Rei meraih pisau yang sudah terletak di meja makan. "Serius bunda. Sekarang bunda istirahat saja, biar ini menjadi tugas Rei pagi ini?",pinta Rei dengan tersenyum manis.
Bunda ragu mau meninggalkan Rei didapur, takut dapurnya akan menjadi kapal pecah atau malah hanya membuat berantakan saja. "Ok bunda akan pergi. Tapi, ingat ya kalau butuh bantuan tinggal panggil bunda aja!", pinta bunda yang serius meninggalkan Rei didapur.
Rei melihat kepergian bunda sambil memotong beberapa lembar roti tawar. Ia sangat mahir dalam mengolah bahan makanan dengan cekatan.
Bunda pergi ke teras depan rumah untuk menyiram tanaman-tanaman kesayangannya dengan hati-hati. "Tumben banget ya nak Rei memasak?. Lalu Amel dimana saat ini?. Masa dia masih tidur sih?",oceh Bunda sambil memikirkan yang aneh-aneh tentang sang putri.
__ADS_1
Disisi lain Tiara keluar dari kamarnya untuk mencari baju kemeja putih. "Bunda.... Bun....!", panggil Tiara sambil teriak-teriak. Ia berjalan menuju dapur karena setiap pagi bunda selalu stay didapur.
Rei yang merasa terganggu dengan panggilan Tiara langsung memandang Tiara yang baru saja muncul. "Bisa gak sih pagi-pagi gak usah teriak-teriak!", oceh Rei yang merasa risih.
Tiara kaget karena Rei yang ada didapur bukan sang bunda. "Ngapain kakak disini?. Lalu bunda mana?" Tiara memberikan pertanyaan yang beruntun.
Rei menghela nafas dengan tenang supaya perasaan dan moodnya tidak hancur gara-gara bocil ini. "Kamu tahu kan gue lagi apa?. Ngapain juga tanya lagi?",kesal Rei mencoba tenang.
"Hahahaha...." tawa Tiara sangat nyaring sekali membuat Rei menutup kedua telinganya. "Serius, Kakak Rei masak buat sarapan pagi ini?. Jangan-jangan kakak buat racun lagi buat kita?"tuduh Tiara tanpa penyaring suara.
"Astagaaaa nih bocah!!!. Eh...loe hina gue atau mau ngejek gue?. Loe pikir gue gak bisa masak apa?",kesal Rei sendiri.
Tiara mengangkat kedua bahunya tidak mau tahu. "Kalau sampai kita makan masakan kakak, dan terjadi sesuatu maka, kakak harus tanggung jawab!" pesan Tiara yang langsung pergi begitu saja.
Rei tidak percaya dengan ucapan Tiara. Bisa-bisanya dia mempunyai pikiran seperti itu. "Kalau loe bukan adik dari Caramel, udah gue bijek-bijek dari tadi" umpat Rei pelan.
Disisi lain Caramel mengerjap kedua matanya pelan. Rasanya ia sangat pulas dan nyaman dalam mimpi indahnya. "Astaga, ini udah jam berapa ya?" lirih Caramel melihat jam dinding yang agak samar-samar dalam pengelihatannya. "Haaaa.... jam setengah enam!" ia segera bangkit dan mengambil wudhu untuk melakukan kewajiban shalat subuh. Setelah itu ia membangunkan sang putra yang duduk di sampingnya.
"Enggak sayang. Mamel baik-baik saja!",elak Caramel sambil menyibukkan dirinya melipat selimut.
"Mamel. Arzan tahu mana yang sakit dan mana yang tidak. Mamel tidak usah membohongi Arzan. Mama pasti kelelahan ya bekerja seharian?",oceh sang putra sulung sambil membantu Caramel membersihkan tempat tidur.
Caramel memegang kedua bahu sang putra untuk meyakinkan sang putra bahwa dirinya baik-baik saja.
"Mamel, kalau Mamel lelah bekerja, lebih baik Mamel tidak usah bekerja. Ar janji, Ar tidak akan nakal dan tidak akan meminta sesuatu lagi dari Mamel dan papa Rei",tutur bocah cilik dengan lucunya ia mengatakan hal yang diluar nalar di hadapan orang dewasa.
Caramel tersentuh hatinya mendengar perkataan itu dari sang putra. Ia sebenarnya ingin sekali menikmati hidupnya dengan 24 jam penuh dengan sang putra sebagai ibu rumah tangga. Tetapi, karena keadaan yang tidak memungkinkan berada dirumah. "Sayang, suatu saat nanti bila kamu sudah dewasa, kamu akan mengerti kenapa Mamel melakukan semua ini demi apa. Mamel mohon pengertiannya. Dan jika suatu saat nanti Mamel janji akan berhenti bekerja bila sudah tibanya. Makanya, doakan Mamel supaya Mamel lebih kuat lagi untuk bekerja ya?" pinta Caramel meyakinkan sang putra.
"Baik Mamel. Tapi, Mamel harus janji kepada Ar, kalau Mamel akan baik-baik saja!" pinta Arzan menampilkan jari kelingking untuk meminta persetujuan dari sang Mama.
__ADS_1
Caramel dengan senang hati menyatukan jari kelingkingnya kepada sang putra. "Mamel janji sayang".
Rei menata makanan di atas meja dengan sempurna dan cantik. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk meyakinkan keluarga Caramel bahwa ia juga bisa memasak.
Caramel dan Arzan keluar dari kamar. Mereka sudah rapi dan siap untuk kegiatan di pagi hari ini. Rei yang melihat Caramel langsung menghentikan aktivitasnya karena Caramel sudah rapi padahal dia sedang sakit. Lalu ia berjalan menghampiri mereka berdua.
"Kalian mau kemana?"tanya Rei basa basi. Ia menatap Caramel dari atas sampai ke bawah.
"Aku mau kerja sekalian mau antar Arzan sekolah" Caramel santai.
Rei menatap keadaan yang ada. Ia melihat ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang melihat. "Ayo ikut aku!" ajak Rei yang langsung menarik paksa tangan Caramel dengan paksa lalu menyuruh Arzan untuk duduk di meja makan. Rei membawa Caramel masuk kedalam dan tidak lupa mengunci pintunya supaya tidak ada yang mendengar. "Kamu apa-apaan sih! Kamu sedang sakit! Gak seharusnya kamu egois seperti ini!" beo Rei marah besar.
"Kamu, aku?" Caramel hanya menatap datar ke arah Rei yang tidak mengerti mengapa Rei memanggilnya seperti itu.
"Mel, tolong dong ndengarkan aku untuk saat ini?".
Caramel menutup mata dan mengambil nafas dalam-dalam. "Mas gak salah makan sesuatu kan? Sejak kapan mas sangat perhatian seperti itu sama saya?".
"Mel, gue gak mau berdebat saat ini ya! Kondisi loe saat ini masih dalam pemulihan? Makanya, gue gak mau loe seperti kemarin. Gue gak mau ya Mel!" beo Rei yang sudah tidak mengerti sikap egoisnya sang istri.
Caramel tersenyum getir mendengar pernyataan dari sang suami. Ternyata sikap Rei yang peduli terhadapnya hanya karena merasa kasihan melihat dirinya sakit. "Udah Mas. Saya gak mau berdebat dirumah ini, saya hanya gak mau bunda tahu masalah ini".
"Oh ya, apa gue lebih baik kasih tahu bunda soal loe kemarin sakit? Biar loe gak masuk kerja saat ini!" ancam Rei yang melangkah kearah pintu.
Caramel menganga tidak percaya melihat Rei yang melangkah dari hadapannya saat ini. Ia lalu meraih tangan Rei. " Saya mohon jangan Mas!. Kalau mas sampai bilang, ini sama bunda, saya akan memberitahukan bunda bahwa pernikahan kita tidak baik-baik saja!" ancam balik Caramel yang membuat Rei terdiam di tempat.
Rei membalikkan badan untuk bisa menatap Caramel dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia tahu bahwa dulu ia menikahi Caramel tanpa dasar rasa cinta maupun sayang. Tapi, saat ini entah perasaan apa yang tumbuh didalam hatinya.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih ...