
...HAPPY READING...
...*****...
Caramel menikmati makan siang berdua yang tak terduga ini. Makanan siang dengan pelayanan yang khusus dan makanan yang bisa dikategorikan sangat lezat ini.
Rei mencuri pandang ke arah Caramel yang sedang menikmati sajian makan siang ini. "Hmmm... Hmmm...". Ia berdehem untuk mencairkan suasana.
Caramel melirik suaminya. Untuk memastikan Rei baik-baik aja.
"Meeting dimana tadi?",tanya Rei dengan nada yang lumayan tidak lembut sama sekali.
"Ada. Disuatu tempat yang begitu mistis dan horor",jawab Caramel menyindir.
"Mel.... Gue....",kata Rei yang tidak tahu harus memulai dari mana percakapannya.
Caramel meletakkan sendok dan garpu ya di atas piring. Lalu ia menyenderkan punggungnya supaya bisa leluasa melihat mimik wajah Rei. "It's ok mas".
"Mel....".
"Enggak perlu penjelasan lagi mas. Mungkin wanita itu adalah wanita simpanan mas",kata Caramel santai walaupun ada rasa hati yang tidak baik-baik.
"What?. Wanita simpanan. Maksud loe, gue selingkuh gitu?",kata Rei tidak percaya bahwa Caramel akan mengatakan seperti itu.
"Aku gak bilang mas selingkuh. Aku hanya bilang, mungkin wanita itu adalah wanita simpanan mas!".
"Stoppppp Mel!!!!!. Itu sama aja Mel!!!",kata Rei melemparkan sendok dan garpu dengan kasar di atas piringnya.
Caramel hanya melihat kemarahan Rei yang tak terduga ini. "Mas tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang wanita itu. Karena bagi mas, aku adalah wanita yang tidak penting buat mas. Aku tahu bagaimana posisiku di sini. Dan aku gak akan pernah ikut campur masalah mas".
"Mel, kalau ngomong jangan ngaco ya!!!. Gue sama Key gak ada hubungan apa-apa".
Caramel tersenyum meremehkan Rei. "Sampai-sampai mas punya nama panggilan buat dia. Key......". Caramel seperti mengingat nama itu baik-baik. Nama yang tidak begitu asing baginya. "Key....". Caramel lalu baru tanggap bahwa wanita tersebut adalah wanita yang bernama Key dan dia adalah mantan tunangan sang suami. "Dia...."
"Mel....."
"Dia Key mas. Jadi, kalian masih punya hubungan?. Dan ternyata selama ini yang mas sebut-sebut nama Key itu adalah Bu Kiya?",kata Caramel meracau kemana-mana. "Aku benar-benar gak paham apa yang sedang kalian sandiwarakan!!!",sambung Caramel yang tidak percaya sama sekali dengan perkata Rei. "Atau jangan-jangan, kalian sedang membuat sandiwara tentang tender yang aku jalankan saat ini",sambung Caramel lagi.
"Mel...."
Caramel meneteskan air matanya, hatinya sangat kecewa dan sakit merasakan penderitaan yang tidak ada henti-hentinya. "Aku gak nyangka, kalau mas melakukan hal seperti ini dengan mbak Kiya. Pekerjaanku gak ada hubungannya dengan kalian mas. Kalian gak perlu membuat alasan yang seakan-akan perusahaan ku gak ada prestasinya".
"Mel..."
"Sekarang aku lebih paham mas. Apapun yang aku genggam, suatu saat pasti akan lepas selama aku berada disamping kamu, mas. Mungkin sebentar lagi pekerjaanku yang selama 7 tahun yang aku kerjakan akan lepas begitu aja. Dengan tingkah laku suamiku sendiri dan mantan pacarnya".
__ADS_1
"Mel... Aku bisa jelaskan semuanya... Semuanya Mel. Tolong percaya sama aku!!!",mohon Rei mencoba memegang tangan Caramel, tetapi Caramel langsung menolaknya dengan cepat.
"Aku kira setelah mempunyai anak dari kamu, kamu akan berubah ke aku. Tetapi, sama sekali tidak mengubah apapun. Bahkan, mama Donna masih menganggapku sebagai sampah di keluarga Abisatya".
"Enggak Mel... Bukan seperti itu".
"LALU APA MAS!!!!",bentak Caramel. "Aku masih punya harga diri mas. Kalau seandainya 5 tahun yang lalu ingin aku ulang, aku gak mau menikah sama kamu mas!!!. Bahkan mengenal kamu pun aku gak sudi. Tetapi, takdirku bukan demikian. Aku harus mengabdi kepada kamu, suamiku yang gak pernah sama sekali menghargai perjuanganku. Menghargai perasaan ku. Menghargai aku sebagai istri kamu. Cukup mas..... Cukup....!!!!!.... Aku sangat lelah...!",sambung Caramel dengan perasaan yang menggebu-gebu. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan pergi dari meja makan. Tetapi baru beberapa langkah, Caramel merasakan mual dan pusing tujuh keliling. Ia berjalan sempoyongan. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi berdiri merasakan sakit hati yang teramat dalam.
Rei yang melihat Caramel dengan berjalan sempoyongan ia segera berlari mengejar Caramel. "Mel..."
Tubuh Caramel ambruk tepat Rei menolongnya. "Mel... bangun.... Mel....." panggil Rei dengan mengguncangkan tubuhnya. Ia membopong Caramel dan berlari segera ke ruang medis yang terdapat di restoran tersebut.
Seorang perawat sedang mengecek keadaan Caramel.
Rei mengusap wajahnya gusar. Ia sangat cemas melihat sang istri seperti itu. "Dimana dokternya?",tanya Rei yang sangat khawatir.
"Maaf tuan. Dokter sedang istirahat",jawab seorang perawat entah siapa itu namanya.
"Ya udah, biar saya pindah langsung ke rumah sakit terdekat!",jawab Rei cepat. Ia segera membopong Caramel lagi, padahal perawat tadi sempat menawarkan ranjang tetapi Rei tidak mau menunggu lama. "Gue mohon.... bertahanlah Mel....!!!",ucap Rei yang berlari ke arah parkiran.
Detik demi detik dirasakan oleh Rei yang mengkhawatirkan keadaan Caramel. Ia segera menancapkan gas dengan kecepatan kencang.
Caramel masih menutup matanya di jok belakang. Rei sesekali melirik kearah belakang.
Beberapa menit kemudian akhirnya sampai di rumah sakit besar. Rei segera membopong Caramel menuju ke IGD. "Tolong istri saya sus...!!",pinta Rei yang meletakkan Caramel di atas ranjang.
Rei berjalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa cemasnya, tetapi itu tidak berhasil. Mel, gue mohon sadarlah!!! pinta Rei tulus.
Rei menelepon sang sekertaris. "Mike, nanti loe jemput Arzan!!!. Bilang papanya gak bisa jemput siang ini",perintah Rei kepada Mike yang langsung mematikan ponselnya.
Beberapa menit kemudian dokter dan suster keluar dari ruangan. Rei dengan sigap berlari ke arah mereka. "Bagaimana kondisi istri saya Dok?",tanya Rei cemas.
"Keadaannya baik. Istri anda kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran. Dan istri tuan mengalami asam lambung masih tahap ringan. Jadi, saya sarankan untuk tidak terlalu memikirkan beban pikiran yang terlalu berat",jelas Dokter.
"Baik Dok. Saya boleh masuk sekarang Dok?",tanya Rei kepada dokter.
"Oh silahkan tuan!",kata Dokter dan suster mempersilahkan Rei untuk masuk kedalam.
Rei berjalan kedalam ruangan. Ia masih melihat Caramel tertidur pulas. Ia berdiri di pinggiran ranjang. "Maafin gue Mel... Gue yang selalu mementingkan ego gue sendiri. Gue yang selalu membuat loe kelelahan sepanjang hari. Gue yang selalu membuat tingkah yang buat loe jadi strees seperti ini!!!. Maafin gue Mel....",kata Rei.
*
*
*
__ADS_1
*
*
Rei tertidur di tempat kursi dekat ranjang. Ia menyenderkan kepalanya di atas ranjang sambil tangannya memegang tangan Caramel.
Caramel mencoba membuka mata karena hidungnya mencium bau yang sangat menyengat yaitu obat-obatan. Tangannya terasa ada yang mengganjal dan ia membuka mata dengan sempurna. Ia melihat Rei tertidur disana. Mas Rei......Loh kok gue ada di rumah sakit?. Lalu kenapa tangan gue sampe kena impus? pikir Caramel keras.
Rei merasakan tangan Caramel bergerak. Ia segera membuka matanya melihat perkembangan Caramel. "Mel, loe udah siuman?",pertanyaan pertama yang keluar dari Rei.
"Aku ada dirumah sakit mas?",tanya Caramel lemas.
Rei hanya menganggukkan kepalanya. Ia mengambil gelas dan menyuruh Caramel untuk minum supaya tenggorokan tidak kering.
Caramel melihat ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu kamar VVIP itu. "Jam 8 malam". Ia segera mencari tas yang entah ada dimana.
"Mel, loe cari apa?",tanya Rei yang melihat Caramel kebingungan.
"Ponselku mana?".
"Ponsel loe masih di mobil. Loe harus banyak istirahat dulu. Jangan mikirin kerjaan. Biar gue yang handel bos loe!!!",perintah Rei supaya Caramel tetap tenang.
"Gak bisa mas. Aku harus ngabarin Lili. Lili pasti khawatir sama aku. Aku mohon mas, tolong ambilkan ponselku!",mohon Caramel kepada Rei.
"Gak bisa Mel. Loe tetap harus istirahat. Biar gue urus semuanya. Ok!!!".
Caramel menggeleng kepalanya tidak terima dengan keputusan Rei. "Kalau mas gak mau ambilin ponselnya, biar aku aja yang ambil di parkiran!!!",ancam Caramel.
"Loe ngancam gue?",tanya Rei tidak percaya.
Caramel langsung menarik infus yang melekat di tangan kanannya. "Auuwwww......."
Caramel menahan rasa sakit bekas cabutan infus tersebut.
"Caramel....!!!!",teriak Rei panik melihat darah yang menetes. "Loe benar-benar gila ya Mel!!!",marah Rei yang membantu Caramel untuk tetap tenang ditempat namun Caramel memberontak.
"Biar saya gila, tapi saya tidak mau meninggalkan tanggung jawab yang sebenar ini mas!!!",jawab Caramel sambil memegang tangannya bekas infus. Ia merintih kesakitan karena darah tidak mau berhenti sama sekali.
Rei segera memanggil para suster yang berjaga malam ini. Dan dengan gerak cepat para suster langsung menenangkan Caramel sambil memperbaiki infus yang telah di rusak Caramel dengan paksa.
Rei masih syok melihat Caramel yang sangat ceroboh seperti ini. Ia segera pergi ke parkiran untuk mengambil tas milik Caramel.
...*****...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
__ADS_1
...Terimakasih ...