A Choice

A Choice
Kekesalan Kiya


__ADS_3

...HAPPY READING...


...*****...


Caramel memalingkan wajahnya keluar jendela. Semenjak kemarin dirinya sakit, Rei sangat berubah 100 derajat Celcius bahkan lebih. Ia menghela nafas kasar memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Mel... kalau loe sakit seperti kemarin, kasihan Arzan. Dia masih butuh loe Mel. Loe tahu Arzan begitu dekat sama loe, dia pasti akan sedih bila mamanya sakit seperti kemarin",beo Rei yang masih fokus menyetir.


Ck...ternyata. Gue kira dia udah mulai peduli sama gue, tapi nyatanya kagak! batin Caramel kesal menatap ke arah Rei. "Lalu mengapa mas ngasih aku tumpangan ini?. Seharusnya aku naik mobil sendiri dan tidak merepotkan kamu, Mas!",kata Caramel menatap lurus kedepan.


"Gapapa. Nanti biar pulangnya gue jemput. Gue gak sibuk kok hari ini. Kalau perlu gue temenin meeting ya?",kata Rei mencoba menggoda.


"Jangan...jangan....!",tolak Caramel mentah-mentah. Gila apa, gue bawa suami pergi kerja!. Yang ada pasti teman-teman tahu bahwa suami gue Reizo Abisatya! batin Caramel kesal.


"Emangnya kenapa Mel?. Kok nolaknya seperti gak mau akui gue suami loe?",sahut Rei meminta penjelasan.


"Pokoknya jangan Mas!!!. Aku gak mau buat masalah lagi ya? Kemarin aja belum kelar, ini nambah-nambah lagi?. Kagak!", Caramel melarang keras Rei pergi ke kantornya.


"Loe gak bangga punya suami seperti gue?".


Caramel menoleh ke samping menatap sang suami dengan wajah datar. Menurut orang punya suami kayak loe, Mas, pasti bangga. Tapi ternyata, kagak!. Ia menatap ke arah depan. "Gak usah banggain diri gitu!. Itu jadinya sombong!".


Rei tertawa kecil. "Itu semua benar kok!. Gak ada yang salahkan!".


Caramel mencebikkan bibirnya maju. Ia kesal dengan kesombongan Rei.


Akhirnya sampai juga di perusahaan Caramel. Caramel turun di pinggir jalan depan perusahaannya. Ia tidak mau mengambil resiko lagi. Pokoknya aku turun disini aja!",ujar Caramel sambil membuka pintu mobilnya.


"Kenapa nggak sampe depan perusahaan aja sih?. Kan masih nyebrang loenya?",cegah Rei yang tidak di indahkan oleh Caramel.


Caramel menutup pintu mobil dan bergegas pergi dari mobil Rei sebelum seseorang melihatnya turun dari mobil mewah.


Rei membuka kaca mobilnya. "Kok kagak pamit dulu sih!" keluh Rei.


Caramel lupa karena tergesa-gesa. Ia segera mencium punggung laki-laki itu lewat kaca yang terbuka dan segera berlari ke perusahaannya. Rei hanya memandang punggung wanita itu.


Caramel sampai di lobby ia mengintip dari tembok kaca , ingin memastikan apakah Rei masih didepan kantornya atau tidak. Seseorang menyentuh bahunya dan Caramel terkejut menengok kebelakang.


"Loe ngapain ngintip-ngintip kayak tukang penguntit aja?",tanya Lili yang menatap ke arah depan tujuan Caramel.


"Eh loe Li.... Ngagetin gue aja!. Udah ayo masuk!",ujar Caramel melingkar tangan ke lengan Lili.


"Loe ngapain sih tadi?. Kayak ada sesuatu yang loe sembunyikan?",tanya Lili mengintrogasi.


"Udah, nanti gue ceritain. Kita langsung meeting atau apa?". Caramel mengalihkan pembicaraan. Mereka berdua masuk kedalam lift.


"Meetinglah. Bu Kiya udah nunggu loe dari tadi!".

__ADS_1


Caramel melepaskan tangannya. "Kenapa loe gak bilang dari tadi sih!". Ia merasa kesal setelah pintu lift terbuka ia segera menuju ruangannya dan mengambil berkas-berkas dokumen yang penting mengenai tendernya.


*****


Kiya sudah berada di ruang meeting bersama sekertaris. Ia berdiri di dinding tembok yang terbuat dari kaca. Ia melihat pemandangan seluruh taman kota, tetapi ia gagal fokus dengan mobil mewah yang terparkir didepan sana yang tak asing olehnya. Bukankah itu mobil Rei?. Kenapa dia berhenti didepan sana? batin Kiya mengamati setiap gerak-gerik yang terjadi diluar sana. Ia melihat seseorang keluar dari mobil tersebut, ia sudah bisa memastikan bahwa seseorang itu adalah Caramel. Sejak kapan mereka jadi dekat seperti ini?. Kata tante Donna, mereka bagaikan tikus dan kucing yang selalu bertengkar terus menerus!.


Caramel bercermin dari atas kepala sampai kebawah mengecek penampilan sambil menata ulang make up-nya.


"Udahlah, loe udah cantik Mel!",tegur Lili yang melihat penampilan Caramel dari dinding lift karena mereka berdua sedang berada didalam lift.


"Gue nerves Li. Loe tahu sendiri sekarang Bu Kiya udah tahu gue siapa!. Gue gak mau masalah pribadi kita di ungkit disini!".


Lili memegang bahu Caramel. "Udah, sekarang loe tarik nafas buang nafas. Gue yakin, loe pasti bisa kok!",ujar Lili memberikan semangat.


"Kalau sampai gue gagal Li, loe tahu sendiri gue akan turun pangkat!".


"Udah, gue yakin loe bisa!. Yuk bisa yuk bisa!",kata Lili yang sudah berdiri dibelakang Caramel.


Pintu lift terbuka mereka berdua menarik nafas dalam-dalam supaya lebih yakin, apa lagi Caramel yang hatinya saat ini tidak tenang.


Kiya dan sekertaris menyambut Lili dan Caramel penuh dengan senyuman yang ramah. Mereka bersalaman satu sama lain.


"Maaf Bu Kiya harus menunggu jadwal meeting kali ini!. Maaf kemarin saya tidak bisa datang karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan!",kata Caramel yang sudah duduk di kursinya yang berhadapan langsung dengan Kiya.


"Tidak masalah Bu Caramel. Saya mengerti",jawab Kiya santai.


Setelah beberapa menit presentase, Caramel duduk kembali dan mencoba menetralkan pikiran yang sedang berkecamuk. Ia meraih gelas yang berisi air putih, ia meneguknya dengan perlahan.


"Apakah ada yang ditanyakan lagi Bu Kiya?",tanya Lili mencoba mengerti situasi.


"Tapi itu sudah standar bukan harganya?. Soalnya mereka mau harganya terjangkau dan kualitas bagus",ujar Kiya menjelaskan permintaan konsumen.


Caramel langsung menjawab pertanyaan Kiya dengan sopan dan bijaksana. "Itu sudah harga standar yang kami tawarkan Bu. Kualitas bagus, karena kita mengedepankan kualitas produk dan barangnya. Kita sudah survei semua mebel-mebel dengan kualitas dan harga. Dan kami mengambil salah satu usaha UMKM yang terbaik!",jelas Caramel meyakinkan kepada perusahaan kahrisma supaya tander ini gol.


"Ok... Tapi tolong sedikit saran dan masukan, lemari di dapur itu tolong sedikit di perlebar, karena tidak semua orang mempunyai barang atau malah melebihi barang orang tersebut. Jadi lebih bermanfaat menggunakan barang-barang yang ada. Bagaimana?",ujar Kiya meminta pendapat.


"Ok Bu Kiya, kita akan merenovasi untuk lemari yang ada didapur. Lalu ada lagi?".


"Overall ok, hanya itu saja!".


Caramel dan Lili bernafas lega, karena tidak banyak yang harus di renovasi.


Kiya menyenderkan punggungnya dan melipat kedua tangannya didepan dada. Tidak bisa diragukan lagi keahlian Caramel untuk memecahkan masalah yang secara tiba-tiba, bahkan secara sepihak oleh koleganya.


Kiya dan sekertaris pamit mengundurkan diri dari acara meeting tersebut. Ia berjalan keluar dari ruangan yang diikuti oleh sekertarisnya. Mereka berdua menggunakan lift untuk turun ke bawah. "Gue nggak nyangka keahlian Caramel tidak lagi bisa diragukan!",ujar Kiya.


"Pantas saja, Tuan Rei selalu mementingkan bininya!",ujar sang sekertaris tak lain adalah Mira.

__ADS_1


Kiya menatap tajam sang sekertaris, ia tahu sekertarisnya itu adalah teman SMAnya plus sahabat karibnya.


"Ngapain loe menatap gue seperti itu!. Bukankah benar?",oceh Mira kesal dengan bosnya yang masih kesal dengan Reizo.


"Loe dipihak gue atau dia? Ha....?",tanya Kiya marah.


"Gue gak dipihak manapun. Gue ngomong apa adanya!. Loe jangan salah paham gitu dong!. Kalau Rei masih mencintai loe tulus, dia akan kembali lagi sama loe. Bukankah kemarin-kemarin loe udah nolak dia terus menerus?",ujar Mira.


Pintu lift terbuka dan mereka segera keluar dari lift. Mereka sudah dijemput oleh sopir Kiya.


"Jalan Pak!",ujar Mira yang duduk di samping pak sopir.


Kiya duduk di kursi penumpang. Moodnya hari ini sedang tidak baik-baik saja karena ia melihat tingkah Rei yang seakan-akan sudah mulai jatuh cinta kepada Caramel.


"Loe mau dikatakan sebagai pelakor?. Dia itu udah punya anak Ya. Lebih baik loe nggak usah macem-macem deh buat masalah. Memang ini tidak ada hubungannya dengan Caramel, tapi Caramel kena impasnya!",saran Mira.


"Loe tahu gimana nyokap gue. Nyokap mau gue bersanding sama Rei, tapi nyatanya dia udah benci sama gue".


"Loe gak ingat loe yang memulai untuk dia membenci loe?. Atau loe pura-pura lupa tentang loe yang sudah mempermalukan dia didepan umum?",oceh Mira.


Kiya sadar, pada saat pertama ia bertemu lagi di acara peluncuran produk baru. Ia mempermalukan Rei dengan secara tidak sopan didepan publik. Yang membuat Rei hilang kesadaran karena minum-minuman keras yang membuat dirinya mabuk berat.


"Loe nggak seharusnya ada di acara ini Rei?",ujar Kiya kesal melihat Rei ada di acara tersebut.


"Emangnya kenapa Kiya?. Kamu nggak mau aku ada disini?. Aku ada disini untuk kamu, Kiya?. Kamu nggak kangen dan rindu aku?",tanya Rei.


Kiya berjalan meninggalkan Rei, tetapi Rei selalu mengikutinya.


"Kamu nggak sadar kamu udah mengkhianati aku atas pernikahan kamu?. Atau jangan-jangan kamu mau aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru sayangku? Gitu... Ha....!",marah Kiya berhenti tepat dihadapan Rei.


Nafas Rei memburu mendengarkan kemarahan Kiya. "Kamu ingin bukti bahwa aku tidak mencintai perempuan itu!",tantang Rei.


"Apa yang mau kamu buktikan Rei?",tanya balik Kiya menatap tajam mata Rei.


Rei memegang pinggang ramping Kiya, tangan kanannya mulai menyentuh leher wanita itu.


"Loe jangan macam-macam Rei?". Kiya memberi peringatan.


Rei memaksa mencium Kiya didepan umum sedangkan Kiya terus memberontak tidak mau Rei melakukan ini semua didepan umum, Karena acara ini penting untuk dirinya.


Kiya memberontak dengan kuat atas tindakan Rei. Menampar pipi Rei dengan kasar. "Loe nggak seharusnya lakukan ini semua disini!",marah Kiya yang langsung pergi begitu saja di acara peluncuran produk terbarunya.


...*****...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...


...Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2