A Sentence

A Sentence
1. Aca Kim


__ADS_3

Aca Kim namanya. Aca adalah anak keturunan ayah dari Korea Selatan dan ibu dari Indonesia. Gadis manis nan cantik yang sudah mulai berpikir nyata di umurnya yang masih belia.



Mereka sekeluarga tinggal di Jakarta Pusat.



Sejak kejadian kucing mati itu, segala hal yang dikatakannya dengan sungguh-sungguh akan terjadi.



Contohnya, disaat Aca kesal dengan bibinya yang terus saja mengejek nilai matematikanya yang kecil. Aca berkata dengan yakin, "Bibi Tira akan kehilangan kaki bibi sebentar lagi dan bibi tidak akan bisa berjalan ke rumahku untuk melihat dan mengejek nilaiku lagi." ucapnya.



Selang beberapa menit, keluarga Aca mendengar jika bibi Tira kecelakaan dan kedua kakinya terlindas sehingga harus diamputasi.



Tentu saja hal itu bukanlah kebetulan. Disaat Aca berkata sungguh-sungguh, maka akan terjadi.



Ani, ibu Aca. Wanita cantik itu membawa Aca kedalam kamar dan duduk berhadapan.



"Apa yang Aca lakukan hm?" tanya Ani.



Aca dengan polosnya berkata "Aca hanya berbicara bu, ibu tahu kalau Aca sedari tadi diam dirumah bersama ibu. Aca tidak melakukan apapun." jawab Aca santai.



Ani mengusap wajahnya pelan.



"Sayang, sekarang ibu harap kamu jangan berbicara yang aneh-aneh tentang ibu ya? Cukup dengarkan apa kata ibu. Hm? Jangan pikirkan apapun, fokus terhadap ibu."



Aca mengangguk pelan sambil mendekatkan posisi duduknya dengan Ani.



"Sudah keberapa kalinya ibu melihat, disaat Aca berbicara untuk berbuat sesuatu atau ingin sesuatu, Aca selalu mendapatkannya. Disaat Aca menangis ingin es krim cup besar yang tiba-tiba ada didepan pintu seperti mimpi Aca, saat itu juga esnya ada didepan pintu. Itu bukanlah sebuah kebetulan sayang. Dan semua yang kamu ingin pasti ada, dan hari ini disaat Aca kesal dengan bibi Tira Aca berbicara seperti itu, mendoakan hal yang sangat buruk terhadap bibi, bibi langsung mengalaminya." Ani menarik nafas. Lalu melanjutkan.



"Ibu dan ayah tidak pernah mengajarkan Aca untuk mendoakan hal buruk untuk orang lain, terutama untuk keluarga Aca. Tidak ada yang mengajarkan kelakuan buruk terhadap Aca. Apa ibu pernah mendoakan hal buruk untuk Aca?" tanya Ani, Aca langsung menggeleng.



"Dan sekarang, ibu harap Aca tidak berbicara hal buruk, mungkin untuk sekedar makanan tidak apa, tapi untuk melibatkan seseorang, ibu harap Aca menahannya. Coba belajar untuk bisa mencerna apa yang akan Aca ucapkan terlebih dahulu ya? Jika Aca tidak menurut, ibu akan sangat sedih."



Aca tanpa berbicara langsung memeluk ibunya.



"Maaf ya bu. Aca janji Aca tidak akan seperti itu lagi."



13Th

__ADS_1



Sekarang. Umurnya menginjak ke 15 tahun. Kesendirian sudah memakan hidupnya saat menginjak 13 tahun dirumahnya yang berada di Jakarta Pusat ini.



Sangat disayangkan, kenapa? Aca Kim adalah gadis pintar dan manis, di umurnya yang 15 tahun harusnya Aca sudah memasuki kelas 10 di SMA yang terbilang cukup bagus.



Tapi, 2 tahun lalu. 3 kata yang diucapkannya dengan kesal telah membuat semuanya menjadi kelabu.



Disaat itu, Aca tengah kesal dengan segala masalahnya dan saat itu juga ayah dan ibunya tengah bertengkar hebat karena masalah bisnis.



Sebelumnya Aca sudah menurut kepada ibunya tentang cara berbicara yang baik dan memikirkan segala sesuatu yang akan diucapkan. Dan Aca berhasil mengaturnya dan tidak pernah membahayakan orang-orang yang membuat pikirannya kacau.



Dan saat itu Aca sudah mati-matian untuk tidak marah saat dirinya sedang menenangkan diri dan diganggu oleh perdebatan kedua orang tuanya.



Entah apa yang merasuki pikirannya. Aca lepas kendali dan 3 kata meluncur begitu saja dengan lancar tanpa dipikir “Ayah ibu mati.”



Setelah mengatakan itu tidak ada lagi suara debat yang berisik dari luar kamarnya. Aca segera sadar sudah mengatakan apa dan langsung mematung seperti batu.



Jantungnya seketika terasa berhenti berdetak dan air mata langsung mengalir. Ketiga kata itu meluncur begitu saja lewat mulutnya, Aca tidak pernah berharap akan mengatakan itu.




Mungkin dia adalah manusia paling berdosa.



Aca tidak mau keluar untuk memastikan keadaan kedua orang tuanya.



“Ayah, ibu. Aca minta maaf. Aca menghancurkan semuanya. Maaf.” Aca terus berlinang air mata.



Aca bergumam. “Kubur ayah dan ibu sekarang di samping makam kakek dan nenek.” Aca bergumam sambil menutup mata dengan air yang masih berjatuhan ke pipi mulusnya.



Aca menghapus pelan air matanya dan berjalan mendekati pintu kamar lalu membukanya dengan perlahan. Ruangan keluarga sangat sepi. Tidak ada tanda ayah dan ibunya lagi disana.



“Sekali lagi, ayah ibu Aca minta maaf.”



15Th



Aca Kim, gadis yang sudah dijauhi oleh seluruh kerabatnya karena kejadian meninggalnya Ani dan Juna, kedua orang tua Aca.

__ADS_1



Singkat cerita, saat kerabat mengetahui jika Aca yang menyebabkan Ani dan Juna menghilang secara dadakan, mereka semua menganggap Aca sebagai pembunuh dan mereka berpikir mereka bisa saja langsung lenyap sekarang juga karena Aca.



Bukan hanya kerabat, bahkan beberapa tetangga memutuskan untuk pindah jauh dari rumah Aca karena takut. Alhasil sekarang area perumahan dekat rumah Aca sangat sepi.



Tidak apa, Aca pikir itu lebih baik dari pada dirinya harus menjatuhkan korban lagi.



Puji syukur karena kejadian itu tidak tersebar kemanapun selain orang-orang yang tahu langsung.



Dan sekarang, sudah 2 tahun lewat Aca tidak pernah berbicara apapun selain mendatangkan makanan untuknya. Aca tidak pernah keluar.



Aca hanya menggunakan kemampuan anehnya itu untuk makanan, segala hal lainnya ia lakukan sendiri.



Rambut pirang yang sudah panjang Aca biarkan terurai dengan rapi dan Aca terlihat manis dengan dress berwarna biru yang ia pakai.



Hari sudah menunjukkan jam 10 malam. Aca memutuskan untuk tidur. Sekarang Aca hanya merebahkan tubuhnya di depan televisi, Aca terlalu malas untuk berjalan ke kamarnya. Jadi Aca memutuskan untuk tidur di sofa.



.....



Aca terbangun karena merasa dingin. Namun matanya langsung terbuka lebar karena melihat ia bukan berada di sofa tempat sebelumnya ia tidur. Seingat Aca, Aca tidur di depan televisi, lebih tepatnya di atas sofa.



Entah dimana ia bangun sekarang. Dress yang Aca gunakan sudah terganti dengan pakaian terbuka dengan bawahan rok yang baru pertama kali ia pakai. Dan lagi, Aca memakai kalung yang entah sejak kapan melingkar di lehernya, dan juga gelang yang baru ia lihat sekarang. Terutama tempat, Aca tidak mengenali dimana dia sekarang.





Matanya melihat-lihat sekeliling. Reruntuhan bangunan tua di sekelilingnya membuat kening Aca berkerut. Tempat ini benar-benar asing.



“Aku ingin kembali ke rumah.” Aca berbicara. Namun tidak ada yang terjadi, tetap sama. Aca masih duduk di sana dengan reruntuhan bangunan tua di sekelilingnya.



Aca terkejut. Gadis itu memutuskan untuk berdiri terlebih dahulu. Lalu tidak lama maniknya menangkap siluet seseorang yang mendekat ke arahnya.



Seorang wanita dengan pakaian khas seorang ratu berwarna emas dan orange menghampiri Aca. Wanita itu sangat cantik dan terlihat sangat berwibawa.




__ADS_1


TBC



__ADS_2