A Sentence

A Sentence
4. Night


__ADS_3

Aca meninggalkan kedua Avec itu disana lalu dirinya pergi ke dalam hutan. Dimana suara hewan semakin terdengar.



Sebenarnya Aca ketakutan. Ia takut jika mulutnya berbicara diluar kendalinya. Ia takut jika ia membunuh lagi, hatinya berkata tidak namun entah kenapa tubuhnya berkata lain.



Dan saat ini, dirinya tengah berdiri ditengah hutan, lingkungan yang baru pertama kali ia lihat, kegelapan ada disekelilingnya. Karena hari sudah gelap, maka suasana mencekam semakin terasa.



Aca tidak tahu apa saja yang akan ia hadapi didalam hutan ini. Mungkin hewan buas, atau bisa saja Avec, atau mungkin orang jahat yang bisa saja membunuhnya.



Aca diam, tidak ada pergerakan yang Aca lakukan. Hal itu sedikit membuatnya terasa nyaman agar tidak mengundang hewan ganas atau orang jahat.



"Hilangkan bau badan ku agar tidak tercium oleh siapapun atau hewan." gumamnya pelan.



Aca melirik sekitar. Entah mengapa pendengarannya sangat peka saat ini, dan pengawasan matanya begitu luas dan tajam.



Kepekaan telinganya seketika menangkap sebuah suara ranting pohon yang terincak oleh sesuatu. Entah apa itu, yang jelas suara itu semakin mendekat.



"Samarkan tubuh fisik ku dengan alam." gumamnya sangat pelan dan seketika terjadi.



Tubuhnya terlihat samar tidak terlihat.



Aca melihat ada sebuah cahaya yang berwarna terang diantara gelapnya hutan, Aca terkejut saat melihat seorang lelaki tengah membawa sesuatu yang kecil ditangannya. Berjalan dengan bahagia.



"Tunggu, itu peri? Tapi... Terlihat sangat kesakitan." pikir Aca.



Lelaki itu terlihat bahagia dengan menggenggam seorang peri kecil yang tengah kesakitan.





Aca diam. Lelaki itu melewatinya begitu saja tanpa menyadari kehadiran Aca yang tengah ketakutan disana.



Lelaki itu berhenti persis disamping Aca.



"Apa ada orang disini ya? Kenapa aku mencium bau manusia? Hm, hey periku yang cantik, apa kau melihat seorang manusia disini?" tanya lelaki itu lalu mengangkat peri malang tersebut dan membuat mereka bertatap mata.

__ADS_1



Peri itu terlihat melirik Aca, sepertinya dia bisa melihat Aca.



Peri itu kemudian menggeleng.



"Apa si Chiko itu menyembunyikan sesuatu?" ia bertanya pada dirinya sendiri.



Aca menyadari jika sepertinya sebentar lagi kehadirannya akan diketahui. Aca melangkah pelan untuk menjauh, namun sepertinya Aca sedang tidak beruntung.



Suara daun kering terincak terdengar dengan jelas. Hal itu membuat lelaki itu dengan gesit mengeluarkan pedangnya lalu mengibaskannya ke arah Aca.



Jika saja Aca tidak menghindar, bisa saja badannya tergores, mungkin bisa saja terbelah.



Tubuh Aca seketika bersinar, entah apa yang terjadi. Badannya terangkat ke udara lalu kembali mendarat dengan baju yang berubah.





Kini tangannya menggenggam busur dan warna rambutnya sedikit berubah.




Sebuah bisikan terdengar. Aca melirik peri kecil itu dan melihat peri itu tersenyum dan seketika Aca tahu yang membisikannya tadi adalah peri kecil itu dan bajunya yang sudah ganti ini juga berkat peri itu. Tapi masalahnya Aca tidak bisa menggunakan busur panah.



Dan jika dilihat-lihat, busur yang digenggamnya ini adalah busur es, tapi kenapa tidak terasa dingin sama sekali? Itulah yang ingin Aca pertanyakan.



Aca berpikir cepat saat ini. Ia tidak boleh menggunakan mulutnya untuk menyerang, dia akan menggunakan skillnya yang tidak bisa apa-apa itu untuk menyerangnya. Mungkin sambil belajar sedikit menggunakan panahan.



Jarak jauh juga sedikit menguntungkan untuknya.



Aca melihat lelaki itu memasukkan peri kecilnya kedalam sebuah kotak berwarna emas yang tiba-tiba muncul entah darimana ditangannya lalu menyimpannya di kantung celananya.



"Aku tidak tahu ternyata dihutan ini ada manusia, mungkin lebih tepatnya di Pandora ada manusia. Apa Pan sialan itu tidak menyadarinya atau bagaimana? Berani sekali mereka membiarkan manusia memasuki Pandora. Tapi apa yang kau lakukan sehingga aku tidak menyadari kehadiranmu ya? Apa kau bukan manusia? Tapi baumu seperti bau manusia." lelaki itu berbicara sendiri dan Aca hanya melihat gerak geriknya yang sesekali mengusap rambutnya.



Mendengar nama Pan disebut sepertinya Aca pernah mendengarnya. Ya, itu adalah nama kerajaan utama di Pandora. 

__ADS_1



Sepertinya lelaki didepannya ini terlihat tidak menyukai Pan dari gaya berbicaranya seperti tadi.



Saat ini Aca benar-benar bingung harus bagaimana. Dan saat Aca berpikir, tiba-tiba saja lelaki bertelinga runcing itu menyerang dengan gesit dan Aca refleks menghindar. Namun ada yang aneh, Aca terbang?



Aca terbang dengan sendirinya saat lelaki itu menyerang. Lalu busurnya terangkat dan terarahkan dengan sendirinya didepan wajah Aca.



Anak panah pertama berhasil terbang dengan kecepatan penuh dan dilapisi oleh es terarah kepada lelaki itu. Tapi dengan sekali gerakan lelaki itu terhindar dari anak panah Aca.



"Kau harus mengingat namaku, nona. Namaku Tie. Senjatamu boleh juga. Sepertinya aku akan membeku jika terkena itu." setelah mengenalkan dirinya, Tie langsung menyerang Aca ke udara dan serangannya berhasil menggores paha Aca.



Tie kembali mendarat. "Apakah sakit? Ah maafkan aku. Tapi aku tidak boleh membiarkan ada manusia disini." ucapnya dengan tenang.



Aca terjatuh dengan darah segar mengalir dibagian pahanya yang tergores oleh pedang Tie.



"Tapi aku tidak akan mati begitu saja disini." sebuah permintaan Aca sebutkan dan sudah jelas, Aca tidak akan mati saat pedang Tie menusuk sekalipun. 



Lalu luka Aca menutup dengan sendirinya dan hal itu tentu saja membuat Tie membelakakan matanya terkejut. Bukankah gadis didepannya ini manusia? Batin Tie.



Tie tiba-tiba ada didepan Aca dan Aca tidak bisa menghindar, Tie mendorong Aca sampai tubuh gadis itu menghantam tanah dan Tie berada diatasnya dengan pedang yang terangkat ke atas.



Ujung pedangnya mengarah kearah kepala Aca.



Saat ujung runcing pedang Tie hampir mengenai kepala Aca, tiba-tiba sebuah pedang lainnya berhasil membuat pedang Tie terlempar jauh.



Tie langsung loncat menjauh saat tahu ada seseorang yang datang membantu Aca.



Aca sendiri langsung berdiri dan memeriksa lukanya yang ternyata sudah menghilang.



Tie sedikit terkejut saat tahu siapa yang ada didepan Aca.




TBC

__ADS_1



__ADS_2