
"Kau memang pembunuh! Kau sudah membunuh kedua orang tuamu!"
"Dasar anak tak tau diri!"
"Kau itu seharusnya tidak pantas untuk hidup jika hidupmu kau gunakan untuk membunuh."
"Mati saja kau sana!"
Dalam tidurnya Aca tidak pernah tenang. Hari-harinya dipenuhi oleh makian dari setiap orang yang ia temui diluar sebelum dirinya ada didunia asing ini.
Sudah beberapa hari mimpi buruknya itu menghantui, Aca sangat takut, bahkan ia sempat tidak ingin tidur karena merasa takut dengan mimpi buruknya itu.
Aca terbangun dengan keringat yang sudah membasahi baju yang ia gunakan. Namun tanpa sepengetahuannya, sepasang mata sudah mengawasinya dari tadi.
"Kenapa nona? Ada masalah dengan tidurmu? Dari tadi aku melihat tidurmu tidak nyenyak sekali."
Mendengar itu Aca langsung terkejut dan menoleh. Sepasang matanya mendapati sosok lelaki tinggi dan tampan bersender diambang pintu. Itu adalah Jungkook.
"Siapa kau? Kenapa aku ada disini?" Tanya Aca dengan mata yang melihat sekeliling kamar.
"Seharusnya aku mendengar terima kasih dari mulutmu itu, nona. Kau pingsan setelah membelah Avec dan akulah yang membawamu kesini. Berterima kasihlah padaku karena kau tidaklah ringan." ucap Jungkook. Lelaki itu berjalan perlahan mendekati ranjang Aca.
"Avec?"
"Yup. Avec adalah makhluk aneh yang kau lihat kemarin. Yang dibawa oleh kakak. Wah, kemarin kau sangat keren saat membunuh makhluk itu." Jungkook terlihat semangat saat membicarakannya. Namun tidak dengan Aca.
Gadis itu langsung menundukkan kepalanya begitu mendengar bahwa ia telah membunuh.
"Terima kasih. Dan tolong tinggalkan aku sendiri sekarang."
Mendengar itu Jungkook langsung berbalik dan keluar. Ia tahu bahayanya berbicara dengan Aca. Jungkook mendengar dari kakaknya kalau gadis itu bisa melakukan apapun hanya dengan ucapannya. Itulah kehebatan kakak perempuannya. Jeon Mari bisa melihat kemampuan seseorang hanya dengan melihatnya.
__ADS_1
.....
Jungkook memasuki ruangan dimana di sana keluarganya sedang berkumpul dan disana ada Mari, kakaknya. Jungkook duduk disamping Mari yang tengah berbicara serius tentang Aca.
"Aku melihatnya, dialah manusia yang bisa menghancurkan dunia hanya dengan ucapannya. Dalam legenda yang kita ketahui, seorang manusia akan datang dan merubah segalanya. Dengan hanya satu kalimat, dia bisa mendatangkan sodara kita, ratu yang hilang." ucap Mari. Jungkook hanya mendengarkan dengan acuh sambil melirik setiap wajah keluarganya yang tidak kalah serius dengan Mari.
"Bukankah dia sangat cantik?" celetuk Jungkook dan langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya termasuk Mari. Kebiasaan Jungkook ini sangat buruk, dia akan berbicara apa adanya tanpa melihat situasi.
Mari dengan kesal memukul kepala Jungkook dan adik lelakinya itu langsung meringis kesakitan karena pukulan kakaknya itu tidak main-main.
"Dia bisa saja musuh yang bisa memanipulasi pikiranmu, Mari. Kita tidak bisa sepercaya itu kepada orang yang baru kita temui." ibu Mari berbicara. Wanita yang umurnya bisa dibilang sudah 100 tahun itu tetap tenang dengan wajah cantiknya.
Mari mengehembuskan nafasnya. "Hm aku tahu. Terus apa yang akan kita lakukan sekarang, bu? Jika memang benar kekuatannya itu, bisa berbahaya jika kita mengajaknya berbicara sekarang."
"Dan keadaan mentalnya sedang buruk sekarang." Jungkook lagi-lagi berbicara. Namun kali ini benar. "Aku mengawasinya saat dia tidur, dan sepertinya ada sesuatu yang membuatnya terpuruk. Entah apa itu, aku tidak tahu." lanjutnya.
.....
"Aku ingin keluar dari rumah ini."
Aca membuka matanya setelah mengatakan itu dan dirinya langsung berada diluar rumah, ah bukan. Mungkin bisa disebut sebagai istana yang sangat megah. Aca baru mengetahuinya.
Aca melirik sekitarnya yang ternyata hutan lebat. Istana didepannya terhalang dengan pagar baja yang menjulang tinggi dengan penjaga yang banyak. Aca tidak tahu dimana ia sekarang dan apa yang sebenarnya terjadi.
Aca memutuskan untuk bersembunyi didalam hutan, mungkin lebih tepatnya di pinggir hutan.
Dengan susah Aca naik ke salah satu pohon yang sudah ia periksa jika aman dari serangga berbahaya.
Aca melirik pedangnya yang masih ada disampingnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus bertahan hdup disini. Apa tidak apa jika aku membunuh? Tapi... ah sudahlah, jika untuk bertahan apa boleh buat." gumam Aca.
Tiba-tiba Aca refleks meloncat dari pohon itu dan mendarat dengan tidak baik. Tubuhnya melayang begitu saja saat merasakan ada sesuatu yang ingin meraih tubuhnya.
Aca bangun dan melihat ada 2 makhluk seram yang ia lihat sebelumnya. Namanya Avec.
Mungkin jika Aca tidak melompat, tubuh aca bisa saja terluka oleh cakar mereka yang sangat panjang.
Kedua Avec itu terlihat kelaparan saat melihat Aca.
"Apa yang harus ku lakukan? Apa aku akan mati sekarang? Apa aku akan bertemu dengan ayah dan ibu nanti?" tanya Aca pada dirinya sendiri.
Aca pikir dirinya harus bisa bertahan tanpa membunuh mereka. Aca tidak ingin melukai siapapun lagi
Tapi tubuhnya berkata lain, tangan Aca seketika meraih gagang pedangnya dan menariknya keluar. Suara khas terdengar ditelinganya. Kedua tangannya memegang erat pedangnya itu dan mengarahkannya didepan dada.
Aca melihat jika kedua Avec itu menyeringai. Salah satu dari mereka berlari dan menyerang Aca, namun dengan mudahnya Aca menghindar lalu menangkis cakar Avec itu yang hampir mengenai tangannya.
Aca terkejut. Bagaimana bisa ia melakukannya?
Avec yang satu lagi ikut menyerangnya. Saat Avec itu menyerang ke depan, yang satu laginya bangun dan bersiap menerkam dari belakang. dan sekali lagi tubuh Aca dengan refleks yang bagus bisa menghindarinya dengan melompat ke atas layaknya burung yang terbang saat ada ikan buas yang ingin memangsanya dibawah air.
Aca mendarat dengan baik kali ini.
"Aku tidak ingin melukai kedua makhluk ini. Aku mohon, buat mereka pingsan sekarang." Aca bergumam saat keduanya berlari menuju ke arahnya dan beberapa langkah lagi ke arahnya, kedua Avec itu terjatuh tidak sadar.
Aca menghembuskan nafasnya kasar. Untung saja dirinya bisa berfikir dengan tenang. Jika tidak, bisa saja kedua makhluk seram didepannya mati.
TBC
__ADS_1