
Gemilang memastikan seluruh keperluan sudah masuk ke dalam koper. Beberapa jam lagi ia akan berada di belahan bumi yang berbeda.
Setelah membalas email dari KFOI untuk melengkapi data menuju ke Qatar. Dua hari setelahnya paket berisi tiket, Visa dan beberapa berkas yang diperlukan tiba di rumahnya. Bagi Gemilang, perjalanannya menuju Qatar adalah pencapaian terbaiknya sebagai seorang food blogger. Meskipun Gemilang kali ini harus mentaati kontrak dari KFOI untuk Vlognya nanti.
"Hati-hati Gem, pokoknya selalu kabar ibu selama kamu di sana." Bu Norma melepaskan pelukannya.
Gemilang mengangguk merasakan kecemasan ibunya. Untuk pertama kali Gemilang pergi jauh tanpa ibu dan adiknya.
"Kak, ikutan!" seru Cerah kini bergantian memeluk Gemilang. Gadis 19 tahun itu masih memegang erat tiket milik Gemilang. Seolah tak rela Kakaknya pergi.
"Beli tiket sendiri sana!" ejek Gemilang.
"Kakak tega banget, untuk Bayar kuliah aja aku merengek ke Kakak!"
"Makanya bangun tuh harus pagi! Biar rejeki nggak di embat ayam!"
"Ih Kakak, aku sering begadang karena banyak tugas."
"Iya, iya doain saja Kakakmu Vlognya rame biar tahun depan bisa ajak ibu juga ke Qatar!"
"Amin! Eh Kak. Pasti di sana banyak Habibi-habibi ganteng bau duit ya Kak!"
Gemilang langsung menonyor kepala adiknya. "Kalau nggak cowok ganteng, ya duit yang ada di kepala kamu Ce!"
Cerah nyegir kuda. "Gimana Kalau nanti ada sultan Qatar yang khilaf naksir sama Kak Gemi."
"Tentu Kakak akan minta di nikahi, Kakak akan tinggal di Qatar. Biar Kakak tahu gimana rasanya jadi istri sultan," canda Gemilang sambil mengibaskan tangan mengibaratkan itu uang.
Cerah langsung memeluk lagi lebih erat kali ini hingga Gemilang susah ingin bernafas. "Jangan! Kakak harus pulang ke Indonesia! Meskipun Kakak bawel, aku belum rela Kakak di embat Habibie Qatar."
Gemilang tertawa lepas, "Ya, nggak usah pakai nangis! Ingusmu kena bajuku!"
Cerah langsung melepaskan pelukannya. Gemilang meraih kopernya, ia harus segera menuju pintu keberangkatan. Gemilang melambaikan tangan pada ibu dan adiknya yang mengantarkannya ke Bandara.
.
.
.
__ADS_1
.
Gemilang kegirangan setelah pesawat yang di tumpanginya selama delapan jam mendarat di Bandara Hamad di Doha, Qatar.
Ia merapikan pasmina yang sempat terburai ketika para penumpang sudah mulai diminta turun dari pesawat.
Gemilang mulai berjalan melewati eskalator bersama penumpang lain untuk mengambil bagasi. Matanya tak berhenti memandangi megahnya bangunan Hamad International Airport. Rasanya masih seperti mimpi ia sekarang berada di salah satu bandara terbaik dunia yang selalu menjadi impian para traveler.
Setelah mengambil bagasi ia menuju ke departemen hall. Saat memasuki departure hall pertama yang mencuri perhatian Gemilang adalah boneka Teddy bear gemuk yang duduk di bawah lampu hitam.
"Excuse Me Miss, can't you help me take my picture?" ucap Gemilang pada salah satu wanita barat yang juga berfoto di boneka itu.
"Sure," balasnya meraih ponsel Gemilang.
Gemilang tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen bersama Teddy bear raksasa. Sebelumnya wanita perawakan kecil itu hanya sekedar melihat foto liburan teman dan travel blogger yang terlebih dahulu disini.
"Help!" suara wanita di samping Gemilang yang membuatnya terkejut.
Wanita berumur dengan wajah khas kebaratan berlari tergopoh-gopoh membawa kotak kandang kucing.
"What happen madam?" Gemilang mencoba mengajak berkomunikasi Wanita tua yang panik itu.
"Kucingku lepas! Tolong kejar dia, aku harus mengejar penerbangan selanjutnya," ucap wanita itu mengunakan bahasa Inggris yang bisa Gemilang tangkap.
"Thanks you," ucap wanita sedikit tenang.
Gemilang meletakan kopernya. Ia mulai berlari kecil mencari kucing yang di maksud Wanita paruh Bayah itu. Entah seperti apa bentuk dan rupanya karena Gemilang tak menanyakannya tadi. Tapi Gemilang yakin hanya wanita itu saja yang melakukan perjalanan bersama hewan kesayangannya.
Mata Gemilang mulai mencari kesana kemari di setiap celah. Bahkan ia juga menunduk di setiap celah kaki orang untuk melihat makhluk kecil itu. Apakah ia bisa menemukan makhluk kecil di bandara Hamad yang luas ini.
"Itu dia sepertinya," ucap Gemilang semeringah. Seperti menemukan apa yang ia cari. Gemilang melihat kucing bulu tebal berwarna hitam berlari kecil menuju celah kaki empat pria berbadan besar memakai tuksedo hitam. Ia sangat yakin itu kucing wanita tua yang ia bantu.
Dengan langkah lari sedikit lebih cepat. Gemilang akan mengendap-endap agar kucing itu tak lari ketika di tangkap. Sialnya kucing itu berhasil melewati empat pria berbadan kekar. Gemilang tak ingin lagi kehilangan kesempatan. Ia menyelinap melewati empat pria berbadan besar yang berjalan beriringan. Tangannya langsung sigap menangkap kucing yang akan menerobos celah kaki pria di depan.
Seperti menemukan durian runtuh, ia langsung memeluk erat kucing itu.
"Aauuh!" pekik Gemilang kesakitan Ketika hendak berdiri.
Gemilang merasakan kedua lengan tangannya di tarik dengan kasar oleh tangan yang besar.
__ADS_1
Kedua pria yang menarik tangannya, ekspresi pria itu seperti memaki dirinya dengan bahasa Arab yang tak bisa di terjemahkan Gemilang.
Kedua pria itu terus berkata dengan keras di hadapan Gemilang yang hampir membuat nyalinya menciut.
"Maaf, aku tidak mengerti kalian bicara apa? Aku hanya mengambil kucing ini," ucap Gemilang dengan bahasa Inggris menunjukkan kucing gemuk dalam dekapannya.
"Apa yang terjadi!" suara yang membuat mata Gemilang menyorot ke arah pria memakai Hoodie putih dan masker itu.
Sejenak mata mereka saling bertemu. Matanya lebar dengan alis tebal khas pria timur tengah. Gemilang masih sempat mengangumi paras pria tinggi besarnya di depannya itu meskipun keadaan terdesak tangannya dicengkeram semakin kuat seolah dirinya seorang pencuri. Gemilang memastikan pria yang menatapnya itu pria Arab yang sangat tampan meski wajahnya tertutup masker.
"Kita akan bawa wanita ini ke kantor keamanan bandara," ucap salah satu pria tuksedo hitam yang di pahami Gemilang karena berbahasa Inggris.
Gemilang mengelengkan kepala karena tak tahu apa salah dan dosanya pada pria-pria itu.
Entah apa yang di ucapkan pria berhoodie putih hingga kedua tangan Gemilang dilepaskan begitu saja oleh dua orang berbadan besar menyeramkan itu.
"Thank's you," Gemilang menundukkan kepalanya pada pria berhoodie putih itu untuk menunjukkan rasa terima kasih meloloskan dirinya dari masalah.
Pria itu membalas menundukkan kepala.
Ia kemudian berbalik merangkul erat kucing itu. Ia harus segera mengembalikan hewan bulu halus yang sempat membuatnya dalam masalah itu pada pemiliknya.
Gemilang melihat dari kejauhan wanita paruh bayah yang bahagia karena dirinya berhasil membawa kucingnya.
Satu jam pertama menginjakkan kaki di Qatar yang penuh dengan ketegangan. Tapi beruntung ia bertemu dengan pria Arab baik bisa membuatnya terlepas dari empat pria berbadan tegap menyeramkan itu.
Siapa pria itu? Sudahlah masih banyak misi di kota ini. Gemilang menarik kopernya dengan penuh semangat ke luar dari bandara untuk melihat kemegahan Kota Doha.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.To Be continued......