Accidentaly Met The Prince

Accidentaly Met The Prince
Best Morning with you


__ADS_3

Gemilang masih mengerjapkan matanya. Setelah sholat subuh, wanita cantik tak membuang kesempatan untuk tidur kembali di kasur terenak yang ia coba selama hidup.


Ternyata Gemilang baru menyadari, kasur yang mahal mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Ia merasa semalam adalah tidurnya yang paling nyenyak.


Ia menyibak selimut mendudukkan punggungnya.


"Good morning miss!"


Gemilang yang asyik merenggangkan tangannya sambil terpejam seketika terkejut.


Ia membuka matanya lebar dan mendapati di depannya wanita berwajah Asia menunduk padanya.


"Morning," balas Gemilang canggung. Wanita yang memakai seragam pelayan itu menaikan kepalanya.


"Jika ada ingin mandi, saya sudah menyiapkan handuk bersih, air hangat beraroma tetapi yang sudah di campur dengan minyak mawar," ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih.


"Ya, aku ingin mandi," balas Gemilang. Seistimewa itukah kulitnya, biasanya cukup mandi dengan sabun dan gayung sudah cukup segar.


"Baju Anda sudah ada di atas meja rias. Setelah Mandi dan berpakaian, saya akan mengantar menemui Tuan yang menunggu Anda untuk sarapan."


Gemilang hanya mengangguk.


Gemilang memperhatikan sekitar kamarnya. Tenyata pria Arab baik hati itu menepati ucapannya agar tak menganggu. Kamar masih terlihat sama seperti semalam sebelum ia tidur.


"Panggil saya jika Anda membutuhkan sesuatu," ucap pelayan menunjuk layar di atas nakas. "Permisi Nona," Wanita Asia itu menunduk dan pergi dari hadapan Gemilang.


Gemilang menuju kamar mandi. Mengikuti saran pelayanan tadi untuk berendam di bathup yang sudah di beri aroma yang menenangkan. Selain tidurnya yang pulas, ini juga pertama kali Gemilang rasanya ingin berlama-lama di kamar mandi. Tapi tak baik jika membiarkan seseorang yang sudah menolongnya itu menunggu.


Gemilang mengenakan abaya hitam yang sudah di lebarkan di atas ranjang. Ranjangnya juga seketika langsung bersih dan rapi. Sungguh luar biasanya pelayan di apartemen mirik pria Arab tampan itu.


Entah seperti apa cara mereka mengira-gira berat dan tinggi badannya. Abaya berbahan kain hitam yang sangat halus ini, begitu pas di badannya. Padahal wanita Arab terkenal dengan postur tubuh yang tinggi dan berisi.


Gemilang membetulkan sedikit riasan seadanya dari bedak dan lipstick yang selalu ia bawa di tas.


"Maaf Nona, apa saya perlu panggilkan makeup stylish untuk membantu merias wajah Anda?" Pelayan itu kembali berdiri di belakang Gemilang.


"Aku rasa tidak perlu," balas Gemilang santun. Ia rasa penampilan begini saja lebih dari cukup.


Gemilang memperhatikan tampilannya di kaca besar. Abaya yang sangat indah ini memang sangat tak senada di padukan riasannya yang sederhana. Ia hanya akan sarapan kan, bukan pergi ke kondangan.


"Antar saja aku untuk sarapan," ucap Gemilang membetulkan letak pasmina hitam berbahan sutra itu.


Dengan sigap pelayan mengarahkan jalan untuk Gemilang. Gemilang dengan cekatan mengambil semua tas andalan dan kamera miliknya, lalu mengikuti pelayan itu. Ia membuka pintu lift pribadi di kamar itu dan mempersilahkan Gemilang masuk.

__ADS_1


Gemilang masih tak berhenti kagum dengan kamar pria Arab itu.


Apa sih kerjanya bisa sampai punya apartemen sekeren itu.


Pintu lift terbuka, Gemilang di hadapan ruangan mewah lagi yang berbeda. Ruangan sangat lebar dengan interior nuansa emas, tapi hanya ada satu orang yang berada di meja makan yang tak jauh dari jendela.


"Tuan menunggu anda di sebelah sana Nona," pelayanan itu menunjuk arah dekat jendela. Kemudian berpamitan dan masuk kembali ke dalam lift.


Langkah kaki Gemilang, mengejutkan pria yang sejak tadi menunggunya.


"Duduklah mari kita sarapan," ucap Khalid pada Gemilang yang kini ada di hadapannya.


Khalid menyunggingkan senyum, wanita yang ada di hadapannya terlihat lebih segar dan cerah daripada semalam. Wajahnya sangat natural alami kecantikan wanita Asia.


Gemilang masih mematung. Pria yang ada di hadapannya kini berbeda. Pria itu tak memakai lagi baju gamis putih khas pria Arab. Tapi ia mengenakan tuxedo berwarna navy. Tentu pria itu jadi semakin tampan. Tenyata ujian itu bukan hanya kesusahan. Tapi juga berupa ujian kenikmatan.


"Aku sudah berjanji akan mengantar kembali ke hotelmu. Tapi setelah kita sarapan," ucap tegas Khalid. Khalid melihat raut Gemilang seperti tak yakin padanya.


Gemilang seketika mengambil tempat duduknya. Ia bisa melihat aneka makanan yang sudah terhidang di depan matanya. Dan kenapa ia mendadak canggung, berhadapan dengan pria Arab ini.


"Ini machboos, kau tersesat hanya karena ingin membeli makanan ini." Khalid menyodorkan piring berisi nasi dengan potongan daging di atasnya.


Gemilang tertawa sekilas. Terlihat megiurkan untuk si riview. Tapi, Mana mungkin ia akan meriview makanan dengan gaya alaynya di depan pria tampan dan kaya itu.


Gemilang mulai menyuap makanan yang membuat tersesat. Rasanya memang enak, seperti nasi kebuli tapi berasnya sedikit keras dengan rasa rempah yang memenuhi mulutnya.


Ini sarapan terbaik dan tercangung yang pernah Gemilang rasakan. Menikmati makanan di atas puncak kota Doha berdua dengan seorang pria tampan yang ada di hadapannya.


Apa doa ibunya sehingga ia dilayani seperti seorang putri di Qatar meskipun hanya sehari. Pikir Gemilang.


Khalid tak banyak bicara saat makan. Ia hanya ingin menikmati pagi terbaik yang pernah ia rasakan.


"Maaf, kau sangat baik padaku dari kemarin. Tapi aku, bahkan tidak tahu siapa namamu," ucap Gemilang usai menyelesaikan makanan penutup makan bubur gandum khas Qatar.


Khalid tak langsung menjawab. Ia malah dengan lekat memandang Mata Gemilang.


Adakah wanita yang tak mengenalnya?


Sedetik kemudian ia tertawa. Gemilang bukanlah wanita Qatar, dinegaranya mungkin wanita itu juga malas membaca majalah bisnis.


"Khalid, kau bisa memanggilku Khalid."


"Khalid, Ok."

__ADS_1


Gemilang akan segera mencari tahu tentang pria Qatar itu.


Usai menyelesaikan sarapannya, Khalid mengajak Gemilang turun. Sudah menyambut di depan mobil Fahad. Khalid sendiri yang membuka pintu mobil untuk Gemilang yang membuat Fahad terkejut.


Gemilang dengan canggung masuk kedalam mobil yang mungkin hanya bisa di miliki para konglomerat jika di Indonesia.


Khalid mengambil duduk di sebelah Gemilang. Sedangkan Fahad duduk di depan bangku kemudi.


"Tuan, pagi ini Anda ada rapat penting dengan tiga investor," ucap Fahad dalam bahasa Arab.


"Mundurkan semua pertemuan pagi ini sampai urusanku dengan Gemilang selesai,"


Fahad mengangguk. Gemilang hanya bengong karena tak mengerti apa yang kedua pria itu bicarakan dalam bahasa Arab.


Ia lebih senang mencuri pandang Khalid yang enak di pandang dari sudut manapun. Pria dengan kumis tipis dan jambang yang menambah kesan macho. Sangat Menly!


Tapi buru-buru Gemilang mengelengkan kepalanya. Ia harus ingat misinya ke Qatar dari KFOI.


Tak lama berselang, mobil berhenti di depan lobby hotel yang di kenali Gemilang.


"Terimakasih untuk semuanya," Gemilang mengangguk kepalanya sebelum turun dari mobil.


"Istirahatlah," balas Khalid.


Gemilang mengangguk lalu keluar dari mobil. Khalid memperhatikan Gemilang sampai menghilang dari balik pintu kaca. Ia sengaja tak turun dari mobil demi menghindari Media. Ia sangat tahu mata media selalu ada dimana-mana.


"Fahad, pastikan Gemilang mendapatkan fasilitas terbaik dari hotel ini," ucap Khalid.


"Baik Tuan," ucap Fahad semakin yakin jika ada yang berbeda dengan Tuannya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To Be continued .........


__ADS_2