
Gemilang menyipitkan matanya, cahaya yang masuk dari cela jendela sukses mengusik tidur lelapnya.
Matanya langsung melebar. Sudah berapa lama ia tertidur? Setelah sholat subuh Wanita itu ingin mengistirahatkan tubuh sebentar.
"Apa!" teriak Gemilang melihat ponselnya. Dengan gesit mengambil handuk.
Diluar dugaan ia sudah tertidur lebih dari lima jam. Padahal ia harus merivew menu sarapan yang bisaanya di jual tepat jam 7 pagi waktu Doha.
Meskipun sangat terlambat untuk memperkenalkan menu sarapan. Gemilang berusaha tetap tenang merias tipis wajahnya. Meskipun baru pukul 10 pagi, udara di Qatar sudah mencapai 35 derajat saat musim seperti ini.
Ia membongkar isi koper untuk mencari abaya hitam yang akan di kenakan di hari pertama meriview di Qatar. Tak lupa ia juga menggunakan pasmina panjang seperti wanita Qatar yang ia temui di hotel dan jalanan Doha.
Gemilang memperhatikan lagi tampilan di cermin. Sudah seperti orang Qatar meskipun pakaian ia kenakan dibeli di pasar tanah Abang.
Gemilang meraih kamera Canon Eos. Biasanya jika merivew makanan di sekitar Jakarta, ia pasti akan mengajak Cerah untuk jadi juru kamera. Tapi di Doha, ia harus menjadi host sekaligus cameraman.
Gemilang membuka ponsel bermaksud menghubungi Ameera untuk meminta mengantar ke lokasi foodstreet pertamanya.
Belum sempat menghubungi wanita Arab itu, Ameera sudan mengirim voice note sejak pagi.
"Gemilang, I'm so sorry, aku nggak bisa antar kamu pagi ini, suamiku mendadak sakit perut setelah coba sarapan oleh-oleh sambel cumi dari kamu. So sorry, kamu bisa pergi sendiri kan, selalu pakai map ya, dan hubungi aku kalau ada masalah."
Gemilang menghembuskan nafas kasar. Sambal cumi buatan ibunya memang nggak ada lawan. Gemilang menyesal memberikan sambel yang berlevel iblis pada Ameera.
Dia sendiri akhirnya yang repot harus menjelajah sendiri di negeri orang. Pertama kali pula. Tapi dia tidak perlu khawatir. Di Doha, kota yang aman bukan, tak mungkin di sini ada jambret seperti di Jakarta.
Lihat saja kendaraan mereka, mobil-mobil Supercar yang lalu lalang di jalanan seperti kacang. Apa mungkin penduduk akan mencopet tas buluk miliknya.
"Let's go! Doha I'm coming!" seru Gemilang dalam hati menyemangati dirinya keluar dari Lobby hotel.
Ia pun masuk ke mobil yang dipesan dari aplikasi Uber.
Tak berapa lama Gemilang tiba di salah satu kawasan foodstreet di kota Doha. Semacam gang lebar yang dibuat khusus untuk area makanan. Lokasinya memang tak terlalu jauh dari salah satu stadion untuk gelaran Piala Dunia.
Gemilang masuk dalam area foodstreet dan mencari makanan pertama yang di rekomendasikan olehnya KFOI.
Foodstreet di Doha bukan seperti di Jakarta yang berjualan di piring jalan. Tapi mereka punya tempat khusus dalam sebuah gang untuk menyesuaikan beberapa makanan murah.
__ADS_1
Lokasinya malah justru mirip Cafe yang berjajar. Gemilang akhirnya menemukan tempat yang ada dalam listnya.
"What is the most popular menu here for breakfast?" ucap Gemilang ketika di sambut pegawai Cafe. Padahal saat ini mungkin waktu lebih menunjukkan jam makan siang.
"Chapati, Shawarma, Pani Puri, crepe. What do you want?" ucap pria itu dengan logat Arab.
"Oke Sir, I want you to make all of them for me," ucap Gemilang.
Pria itu mengangguk ramah dan mempersilahkan Gemilang untuk duduk di kursi yang di sediakan di cafe.
Gemilang menyiapkan kamera sambil menunggu makanan datang. Repot juga harus mengambil video sendiri seperti ini. Tapi semuanya akan terbayar jika nanti viewernya akan naik. Gemilang harus membuat video terbaik untuk Vlog pertamanya meriview makanan di kota Doha.
"Shawarma, chapati, Pani Puri, crepe," ucap pelayan cafe yang menghidangkan makanan didepan gemilang.
"Thanks you," balas Gemilang ceria.
Didepannya kini sudah terhindang makanan yang ia pesan. Aroma rempah yang tercampur asap mulai menguar di hidungnya. Beruntung tadi pagi ia hanya sarapan susu dan kurma untuk mengosongkan perut. Menu timur tengah ini terlihat mengenyangkan.
Gemilang mulai membuka bungkusan kertas putih Shawarma. Mungkin Shawarma makanan yang tidak terlalu asing baginya.
Wanita cantik itu langsung melahap dengan gigitan besar yang menjadi ciri khasnya menjadi food bloggers.
"Tapi dagingnya benar-benar berasa rempahnya and very juicy banget, sayuran juga banyak banget kalian bisa lihat," Gemilang menunjukkan lagu makanan pada kamera.
Setelah melahap habis Shawarma ia pun beralih ke makanan lain yang seperti selebar kulit kebab tipis dengan kuah ayam kari.
Kali ini ia tak yakin bisa menghabiskan makanan ini. Tapi demi kebutuhan konten Gemilang selalu berusaha memperlihatkan di depan kamera ia bisa menghabiskan makanan yang di riview. Padahal ia sering membungkus makanan yang tak habis karena mubazir.
Hingga menu terakhir yang bisa di bilang menjadi dessert. Gemilang meriview kepingan kulit tepung tipis yang sudah di olesi Nutella dan di berisi topping kacang.
"Crepe disini gak pelit topping guys," ucapnya sambil mengelap coklat yang belepotan di ujung bibirnya.
Gemilang mematikan kamera. Makanan yang tidak mengecewakan meskipun hanyalah sekelas Foodstreet. Ia harus segera mengosongkan perutnya lagi untuk mencoba tempat makan selanjutnya.
...****************...
Gemilang masih berdiri di depan Cafe. Cuaca panas di kota Doha cukup membuatnya mudah lelah.
__ADS_1
Tempat selanjutnya yang di rekomendasi KFOI memang tak jauh dari tempatnya sekarang jika di lihat dari Map. Mungkin jalan kaki solusi terbaik meksipun cuaca panas di kota Doha sangat tidak mendukung.
Ia mulai berjalan keluar area kafe. Berjalan menyusuri kios-kios foodstreet yang menghidangkan makanan yang hampir sama.
Langkah Gemilang menyusuri jalan hingga tak menemukan lagi orang yang menjajakan makanan.
Buru-buru ia meraih ponsel yang tak menunjukkan arah lagi.
Gemilang meremas tangannya saat tahu ponselnya mati. Saat tertidur tadi pagi ia lupa mengisi daya ponselnya.
Bagaimana ia akan menghubungi Ameera.
Ia melihat sekeliling untuk memastikan arah kembali ke tempat semula saja.
Namun nampaknya sia-sia. Pikiran yang kacau di tambah tubuhnya yang letih karena kehausan, membuatnya tak bisa berpikir. Yang dia tahu sekarang, ia berjalan terlalu jauh hingga tak tahu harus pergi kemana karena terkepung bangunan yang di batasi empat jalur.
Gemilang tak ingin putus asa, ia berusaha bertanya pada penduduk sekitar. Bertanya pun tak banyak membantu untuk menolongnya. Penduduk di gang ini banyak yang tak bisa berbahasa Inggris.
Tenggorokannya semakin kering. Andai ia di Jakarta pasti tak sesusah ini mencari penjual air mineral di pedagang asong yang bisa buka 24 jam.
Semakin langkahnya berjalan menyusuri gang, Gemilang merasa semakin aneh.
Apa ia tersesat?
Entah sudah berapa jam ia berjalan masih saja tak bisa kembali ke cafe pertama yang ia datangi. Ia ingin kembali ke hotel saat ini. Tapi sangat sulit berkomunikasi di tempatnya sekarang.
Gemilang melihat dari kejauhan ada semacam Resto yang banyak di datangi seperti wisatawan. Ia harus mendatangi untuk mencari bantuan sebelum hari gelap. Tapi kenapa pakaian pengunjung wanita begitu minim bahan. Bukan kah itu tak sesuai dengan aturan berpakaian yang berlaku di negara ini.
.
.
.
.
To Be continued.....
__ADS_1