
Gemilang keluar dari kedatangan. Matanya mendadak pusing melihat banyak penjemput yang mengangkat papan tulisan dengan bahasa Arab. Mata Gemilang langsung tertuju pada dibarisan paling ujung wanita tinggi yang mengangkat tinggi iPad dengan tulisan huruf kapital.
'Gemilang Alisya Putri'
Gemilang langsung penuh semangat menyeret kopernya mendekati Wanita itu.
"Gemilang?" tanyanya dengan logat bahasa Arab.
"Yes?"
Wanita berwajah cantik khas timur tengah itu tertawa. "Pakai bahasa Indonesia saja, aku bisa kok meskipun tidak terlalu lancar."
"Ameera," Wanita itu mengulurkan tangan.
"Terimakasih sudah datang menjemput," balas Gemilang merasa senang seperti memiliki saudara baru.
"Itu sudah tugasku sebagai travel Agen. Mobil suamiku disana, ayo kita pergi." Ameera menarik koper Gemilang.
Gemilang mengekor saja langsung Ameera. Ramah, satu kata yang bisa di ungkapkan Gemilang untuk pertemuan pertama dengan Ameera berbeda dengan kejadian menegangkan di Gate kedatangan bandara tadi.
"Welcome to the Doha," ucap Suami Ameera ketika masuk ke dalam mobil.
Ameera bercerita suaminya tidak bisa sama sekali berbahasa Indonesia. Berbeda dengan dirinya yang menguasai beberapa bahasa untuk kepentingan travel agen.
Sepanjang jalan Gemilang hanya mendengar cerita suami Ameera dengan bahasa Inggris ala kadarnya.
"Gemilang, Indonesia is wonderful country, it have beautiful sea," ucap Suami Ameera bernama Bashir.
Gemilang hanya mengucapkan terimakasih. Karena dia tahu yang di maksud Bashir adalah Bali. Indonesia bukan hanya Bali, coba dia berkunjung ke Jakarta pasti pujian yang di berikan akan beda cerita.
Ameera juga begitu antusias menunjukkan pada Gemilang gedung-gedung tinggi di Doha. Atribut - atribut piala dunia yang mulai terpasang di sepanjang jalan. Gemilang pun melongo dari balik jendela mobil. Ia tak berhenti kagum bisa menginjakkan kaki di salah satu kota terkaya.
Ameera juga memberitahukan pada Gemilang aturan yang berlaku untuk WNA selama di Qatar. Salah satunya aturan berpakaian yang cukup ketat di negara ini. Gemilang tidak terlalu panik masalah itu, ia sudah berhijab sejak lama, meskipun outfitnya masih mengikuti fashion ala hijabers.
Tapi Gemilang sudah mempersiapkan semuanya, ia sudah membawa beberapa abaya yang ia beli di tanah Abang untuk busana selama di Qatar.
"Ayo kita ke kamar kamu." Ameera mengandeng tangan gemilang setelah mobil berhenti di salah satu hotel.
Gemilang menyapu matanya memandangi sekeliling tempatnya akan tinggal. Hotel yang lumayan bagus meskipun hanya bintang 4 tapi ini setara bintang 5 jika di Jakarta.
"Gemilang, kamu bisa hubungi aku jika butuh sesuatu," Ameera menyerahkan kartu id card yang juga menjadi kartu acces selama berada di Qatar.
"Syukron Ameera," ucap Gemilang.
__ADS_1
"Selamat beristirahat karena besok kamu harus menjelajah kuliner enak di Doha," ucap Ameera. Wanita itu melambaikan tangan perlahan berjalan menjauh dari lorong hotel.
Gemilang langsung membuka pintu, ingin segera melepaskan pakaian Menganti dengan baju tidur tipis. Kata Ameera sekarang di Qatar memasuki musim panas. Pantas saja Gemilang merasa sangat haus meskipun aktivitas hanya berada di mobil.
Ia merebahkan tubuhnya, memberi kabar pada adik dan ibunya sekarang ia sudah berada di Qatar. Setelah itu, ia mulai membaca makanan dan tempat yang akan ia kunjungi besok sesuai dengan yang di rekomendasikan KFOI.
Ia harus istirahat sekarang, mempersiapkan tenaga untuk besok mulai menjelajahi Doha di musim panas.
.
.
.
.
.
.
Fahd menegakkan badan ketika melihat Tuan Khalid berjalan menuju pintu kedatangan khusus. Ia dengan semangat menyambut kedatangan tuannya yang kembali lagi ke Qatar setelah sembilan bulan.
"Selamat datang di Doha Tuan," pria berumur itu sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
Tuannya nampak lebih baik dari sembilan bulan lalu saat berada di kota ini.
"Disebelah sana Tuan." Dengan sigap Fahad mengarahkan Khalid menuju mobil yang terparkir sedikit jauh seperti keinginan Tuannya.
"Maaf atas kejadian kurang menyenangkan di gate tadi Tuan," Fahad lagi - lagi menunduk. Ia merasa kecolongan mendapatkan informasi membiarkan wanita menyelinap menghalangi langkah Tuan Khalid.
Khalid hanya menepuk pundak Fahad merasa tak keberatan. Ia masuk ke dalam Rolls-Royce Royce putih yang terparkir di depannya.
Khalid membuka penutup Hoodie dan kacamatanya ketika sudah berada di mobil. Fahd duduk di sebelah Tuannya.
Fahd bisa melihat ada rona wajah yang berbeda dengan Tuannya saat di dalam mobil. Khalid terlihat lebih sering melamun nampak memikirkan sesuatu.
Fahad orang yang paling terdekat dengan Khalid sangat mengerti tuannya. Mungkin ia masih teringat sang tunangan Jazeera saat kembali lagi ke kota ini. Tentu ia tak punya keberanian untuk menanyakan keresahan Khalid.
Berbeda dengan dugaan Fahad, Khalid memejamkan matanya lagi. Rasanya sangat menyenangkan ketika mengingat wanita pemilik dua mata indah yang ia temui di Gate tadi.
Dia wanita Asia yang mampu membuat jantung berdebar hanya dengan tatapan matanya yang indah.
Siapa dia?
__ADS_1
"Fahad! Aku ingin data wanita membawa penangkap kucing yang menghalangi langkahku."
"Baik Tuan, apa ada ingin membuat pelajaran dengan wanita itu," Fahad mulai panik, apa Tuannya masih marah dengan kejadian itu.
"Lakukan saja apa yang aku perintah!
"Baik Tuan,"
Rolls Royce sudah berhenti di halaman mansion keluarga Al Khair. Pintu besar dibuka lebar-lebar oleh dua pelayan. Pria paruh bayah yang menjadi pemimpin keluarga Al Khair bernama Kareem, menyambut sendiri kedatangan anaknya.
"Anakku," sambut Kareem memeluk putranya.
Dengan tergopoh-gopoh wanita paruh bayah juga ikut menyusul meninggalkan jamuan pesta di rumahnya. Ya, Khalid sudah menduga keluarga akan mengadakan pesta penyambutan untuknya.
"Ibu sangat merindukanmu nak," pelukan Wanita bernama Fatimah.
"Aku juga sangat merindukan ibu," balas Khalid memeluk wanita berbadan gempal itu.
Fatimah menyeka air mata harunya.
"Khalid. Ayo Nak, bergabung dengan kerabat kita, ada banyak kerabat yang ingin bertemu denganmu," sahut Zaenab, istri kedua sang ayah.
"Kemarilah saudaraku pilih wanita yang akan kau jadikan istri," sapa Hakeem saudara tiri Khalid yang langsung mendapat sorotan tajam dari pria itu.
"Jangan dengarkan omong kosong adikmu Nak," ucap Kareem mencoba mencairkan suasana. Ia tahu Khalid keras kepala dan gampang terpancing emosi.
"Tidak ada yang salah dengan yang di katakan Hakeem, kita semuanya yakin sembilan bulan waktu yang cukup untuk Khalid menata hati lagi," ucap Fatimah.
Khalid melempar senyum singkat karena yang berbicara adalah sang Ibu. Bagi Khalid untuk saat ini, dirinya tak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun, kecuali.....
Ia tersenyum reflek mengingat wanita dengan mata indah itu.
Fatimah memperhatikan putranya yang berbeda kali ini. Apa yang membuat pria yang sembilan bulan lalu pergi dari rumahnya dengan perasaan yang hancur, sekarang pulang dengan senyum yang sesekali menghiasi bibirnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To Be continued.......