Accidentaly Met The Prince

Accidentaly Met The Prince
You're annoying again


__ADS_3

Meskipun Khalid baru tiba di Doha kemarin. Pria muda tak membuang waktu untuk berlama-lama di mansion keluarga Khair. Sejak pagi ia sudah berada di kantor seperti sebelum ia pergi ke Los Angeles.


Ia begitu sibuk dengan pekerjaan yang tak terjamah selama sembilan bulan. Hampir setiap jam ia mengadakan meeting yang sempat tertunda.


Meskipun asisten pribadinya sudah mengambil alih pekerjaan Khalid. Ia tetap mengkoreksi ulang kinerja perusahaan selama ia tak di Qatar.


"Sebaiknya Anda istirahat dulu Tuan," ucap Fahad ikut duduk di sebelah Khalid.


"Tidak perlu, kita ikuti jadwal berikutnya."


"Baik Tuan,"


Khalid sangat paham jika Fahad mencemaskan dirinya. Sembilan bulan menghabiskan waktu di hotel tanpa terbebani masalah pekerjaan memang membuat otaknya sedikit bekerja keras. Kepala sedikit pusing ketika menginjakkan lagi kakinya di kantor.


Khalid tak punya pilihan selain membuat dirinya sibuk untuk menghindari keluarganya. Keluarga selalu menawarkan perjodohan untuk mengobati sakit hatinya.


Ayolah! Khalid tak semeyedihkan itu, dirinya sudah jauh lebih baik sekarang. Itu sebabnya ia kembali ke Qatar. Ia bisa mencari pasangan sendiri nanti jika waktunya tepat.


"Tuan, lahan pertambangan minyak kita mulai mengalami peningkatan 7 persen dibandingkan tahun lalu."


"Benarkah?"


Fahad menyerahkan iPad pada Khalid yang berisi laporan perusahaan.


"Qatar berhasil memperebutkan beberapa jalur pipa Tuan. Sepertinya Pangeran Hamdan bekerjasama dengan Dubai untuk memperluas wilayah bisnis."


"Biarkan saja selama perusahaan kita tetap aman."


Fahad menundukkan kepala ikut setuju dengan keputusan Tuannya.

__ADS_1


Khalid tak mau berurusan lagi dengan putra raja itu. Melihat saja ia sungguh tak ingin. Jika bukan karena perusahaan yang berkerja sama dengan keluarga kerajaan, Ia ingin memutus semua hubungan dengan pangeran itu. Pangeran yang hanya memanfaatkan gelar dan kekuasaan keluarganya tak pantas bersaing dengan dirinya.


"Dan proyek hotel bintang lima kita di dekat internasional Khalifa stadium sudah 90% selesai Tuan. Empat bulan sebelum gelaran Piala Dunia hotel sudah bisa beroperasi," jelas Fahad lagi.


Khalid mengangguk-angguk kepala mengapresiasi kerja Fahad.


"Tapi maaf Tuan," ucap Fahad terbata.


"Ada apa?" Khalid menatap serius Fahad karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Putri Jazeera salah satu investor proyek ini dengan mengatas namakan Pangeran Hamdan."


Mata Khalid melebar tajam, urat syarafnya menegang mendengar nama itu.


"Dia menelpon ingin bertemu Anda untuk membicarakan masalah ini?" ucap berat seorang Fahad tapi ia harus tetap profesional.


"Jika dia menelpon lagi dan meminta hal yang sama. Katakan aku sibuk!"


"Tapi Tuan, putri Jazeera akan terus menelpon hingga bisa bertemu dengan Anda?"


"Katakan saja apa yang ku bilang!" Tegas Khalid geram.


Fahad meraih ponsel menghubungi nomor yang sejak pagi sibuk meneleponnya.


"Assalamualaikum Putri," sahut Fahad mendengar suara sahutan. Seketika Fahad menyalakan pengeras suara di ponsel agar Khalid ikut mendengarkan percakapannya.


Khalid malah berusaha bersikap acuh tak memperdulikan Fahad yang menghubungi Jazeera.


"Wa'alaikumusalam Fahad, bagaimana kapan aku bisa bertemu Khalid?"

__ADS_1


"Maaf Putri sepertinya Tuan Khalid tidak bisa memenuhi undangan Anda hari ini karena banyaknya meeting."


"Dia sibuk atau sengaja menghindariku? Katakan padanya aku akan tetap ingin bertemu dengannya malam ini di Doha Tower,"


"Akan saya sampaikan Putri.


Sambungan telepon terputus setelah mengucapkan salam.


"Putri Jazeera ingin menemui Anda malam ini di Doha Tower Tuan," ucap Fahad dengan ragu tapi tetap harus bersikap profesional.


Khalid mengepal tangannya geram. Saat menyebutkan tempat yang sering di kunjungi dulu.


Ia tak memberi kepastian jawaban untuk Fahad. Baginya ia tak perlu meluangkan waktu untuk seorang wanita yang sudah menikah. Lagi pula, jika wanita itu menemui karena bisnis bukan dengan maksud lain. Fahad pun bisa saja mewakilinya. Ia tak akan menjatuhkan harga dirinya lagi meskipun yang meminta itu adalah wanita yang dulu sangat di cintainya.


"Siap mobil Fahad. Aku ingin ke Saffron," ucap Khalid.


"Baik Tuan," sahut Fahad meskipun tahu ini waktu yang terlalu dini untuk makan malam.


.


.


.


.


.


To be continued........

__ADS_1


__ADS_2