Accidentaly Met The Prince

Accidentaly Met The Prince
Different girl


__ADS_3

"Apa perlu, kita bawa saja wanita ini ke rumah sakit?" Fahad masih tak setuju dengan keputusan Khalid membawa wanita dari depan club. Ia tak ingin tuannya ada masalah.


"Bawa saja dokter pribadiku ke the pearl."


"Baik Tuan," balas Fahad.


Khalid hanya tak ingin memancing media jika melihatnya membawa wanita asing ke tempat umum. Bisa saja media menuliskan berita sesuka hati mereka yang tak sesuai dengan dengan fakta. Meskipun ia sangat tertarik dengan Gemilang, ia masih bisa berpikir jernih untuk tak mengambil resiko yang bisa merusak reputasinya. Ia baru saja kembali ke Qatar, ia tak ingin membuat publik kembali berpikir buruk tentangnya setelah kegagalan pernikahan.


Khalid menolak tawaran Fahad untuk membantu mengangkat Gemilang. Khalid mengendong sendiri Gelimang yang masih terkulai lemah setelah mobil berhenti di kawasan the pearl. Ia membawa wanita itu ke huniannya, griya tawang yang paling mahal di Doha.


Dengan pelan Khalid membaringkan tubuh mungil itu ke atas tempat tidur. Seperti mimpi rasanya melihat Gemilang sekarang di hadapannya.


.


.


.


.


.


Gemilang mecoba untuk membuka mata setelah enam jam tak sadarkan diri. Tubuhnya terasa nyaman seperti berbaring di atas awan yang sangat empuk.


Hal pertama yang Gemilang lihat saat membuka mata adalah lampu gantung kristal yang sangat indah di plafon yang berdominasi warna emas.


Hidungnya yang bangir juga terusik dengan aroma ruangan kamar yang sangat wangi menenangkan.


Gemilang masih membuka tutup matanya memastikan ia sedang tak bermimpi. Tak jauh dari matanya memandang, ia melihat pria berparas tampan memakai terusan putih duduk sofa menatap jendela.


Siapa itu? Apa itu bayangan malaikat? aku masih hidupkan?


Ketika tersadar terakhir dirinya berada, Gemilang langsung mendudukkan tubuhnya menyibak selimut. Sejenak ia tertegun melihat kemegahan interior tempatnya sekarang.


Kamar tempatnya berada saat ini bukanlah hotelnya. Sangat jauh berbeda. Selimutnya tak selembut ini. Kasurnya pun juga jauh lebih empuk dan nyaman.


Kamar siapa ini? Siapa yang membawaku ke tempat ini?


Mendengar suara yang ribut dari ranjangnya. Khalid yang sempat mengalihkan pandangan ke gedung pencakar langit di sebelah beralih melihat wanita yang sejak tadi ia perhatikan.


Gemilang menyadari ada suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya.


"Kau sudah sadar?" suara berat pria yang sungguh mengejutkan Gemilang.


Dengan refleks Gemilang memeriksa tubuhnya yang masih berpakaian lengkap dengan pasminanya.


Belum sempat turun dari tempat tidur, cahaya lampu berubah menjadi lebih terang. Pria dengan baju jubah putih sudah duduk di hadapan Gemilang.


Pria tampan menatap lekat Gemilang yang membuat wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia tak pernah sekamar dengan pria manapun sebelumnya. Wajar Gemilang sangat waspada.


Tapi hal itu justru membuat Khalid menyunggingkan senyum karena kelakuan Gemilang di anggap lucu.

__ADS_1


Setelah mengamati dengan teliti, Gemilang baru menyadari itu pria yang ditemui terakhir kali sebelum ia tertidur disini.


"Kau yang berjanji akan mengantarku ke hotel, tapi ini bukan hotel tempatku menginap?"


Khalid tak menjawab justru malah membuatnya tersenyum singkat lagi.


"Berapa?" tanyanya Khalid.


Gemilang mengerutkan keningnya heran," berapa apa?" tanyanya masih belum memahami perkataan Pria itu.


"Berapa aku harus membayar untuk menghabiskan malam denganmu?"


Gemilang masih berusaha mencerna perkataan Khalid. Setelah sudah bisa menyimpulkan dalam otaknya yang lemot. Gemilang langsung menatap tajam ke arah Khalid.


"Apa maksudmu!" ucapnya dengan nada tak seramah pertama kali bicara.


Khalid menatap Gemilang heran. Apa yang salah dengan ucapannya. "Kau sendiri yang berdiri di depan club untuk menjajahkan diri, kau harusnya bersyukur aku datang untuk membawamu!"


Plakk!


Belum sempat meneruskan kalimatnya tangan mungil wanita itu cukup membuat pipinya panas. Untuk pertama kali selama ia hidup, ada seseorang yang berani menamparnya. Matanya langsung menatap tajam ke arah Gemilang. Tapi wanita itu dengan cepat menyingkirkan selimut dan berdiri dengan tergesa.


Gemilang melihat kesana kemari mencari barangnya. Ia langsung menarik tas selempang dan karena yang ada di atas meja.


Mata Gemilang masih mencari-cari dimana sepatunya. Tapi sia-sia! Ia tak bisa menemukan flat shoes buluknya di ruangan yang mewah ini.


Per-setan! Tanpa alas kakiku pun ia masih tetap bisa berjalan kan. Ia hanya ingin segera pergi dari orang yang sudah menjatuhkan harga dirinya.


"Katakan saja dimana pintu keluar kamarmu yang aneh ini!" ucap Gemilang kesal karena tak tahu mana pintu keluar kamar yang besar itu.


"Tunggulah sebentar!" Khalid berusaha mencegah Gemilang. Gemilang menoleh ke arah Khalid.


"Apa kau pikir orang kaya sepertimu bisa membayar Wanita manapun yang kau inginkan! Maaf Tuan, aku masih bisa berkerja tanpa harus menjual diriku!" Gemilang menoleh lagi. Tapi langkahnya terhenti Ketika tangan besar memegang tangannya.


Mata Khalid membulat. Sejak kapan ada wanita yang bisa menolaknya.


"Aku tak pernah bilang akan membayar wanita manapun yang ku inginkan. Kau sendiri yang berdiri malam hari di depan club, apa yang salah jika aku berpikir kau juga ikut menjajahkan diri seperti wanita di tempat itu."


"Club?" ucap Gemilang binggung.


Khalid melepaskan tangan Gemilang yang terlihat binggung. "Ya, kau berdiri di gang tempat para wanita malam. Apa yang sedang kau lakukan disana!"


"Aku tersesat! aku ingin mencari resto yang menjual machboos."


"Kau tersesat hanya untuk mencari makanan?"


Gemilang mengangguk. "Jika tidak meriview makanan itu maka aku bisa terkena penalti dari KFOI."


Khalid berkacak pinggang mengelengkan kepala. Bagaimana bisa ia berpikir Gemilang yang polos dan berpakaian sangat sopan adalah wanita malam. Ia sungguh menyesal pernah memikirkan hal itu.


Gemilang berbalik bermaksud melanjutkan niatnya mencari pintu keluar ketika Khalid terdiam.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" lagi-lagi tangan besar menghalangi langkah Gemilang.


"Tentu saja aku akan kembali ke hotelku," banyak yang harus dilakukan Gemilang, terutama mengirim hasil rekaman pada KFOI.


"Itu tidak mungkin. Ini sudah sangat larut. Aturan di negara ini tidak membiarkan wanita berkeliaran pada malam hari sendiri."


Gemilang menghentikan langkahnya. Sejenak ia berpikir, hukuman di negara ini juga tak main-main. Ia tak mau paspornya menjadi daftar blacklist karena melanggar di suatu negara.


"Tinggallah di sini sampai besok pagi. Aku akan mengantarmu ke hotel tempatku menginap besok?"


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"


Khalid tak percaya ada seorang yang mempertanyakan keputusannya. Bagaimana bisa seorang wanita membuat seorang bangsawan keluarga Khair berpikir sebuah alasan untuk keputusannya.


"Kau kunci pintu kamar ini sampai aku aku datang padamu lagi besok. Jika kau masih berpikir aku akan berbuat macam-macam. Kau bisa menghubungi dengan telepon di dekat tempat tidurmu. Apa kau masih tidak percaya?"


Gemilang melihat ke arah layar yang di maksud Khalid telepon itu. Bagaimana ia bisa percaya itu. Siapa tahu itu hanya telepon yang tidak berfungsi? Itu hanya bagian dari interior rumah?


Khalid berjalan menuju layar. Ia mengetik tombol darurat dan tersambung dengan baik dengan pria yang menjawab bahasa Arab lalu berlanjut menerjemahkan bahasa Inggris.


"Kau percaya?" ucap Khalid hampir kehabisan kesabaran.


Gemilang mengangguk kali ini. Khalid berjalan menuju pintu yang di cari Gemilang.


"Tunggu Tuan," Gemilang mengejar Khalid ketika membuka lift yang tenyata adalah pintu keluar.


"Apa lagi?" tanya Khalid sedikit kesal.


"Apa kau punya charger untuk ponsel ini, aku belum mengabari ibu dan adikku sejak tadi." Gemilang menampakkan wajah polos dengan senyum manis.


Khalid memijat pelipisnya. Apa ia tidak salah tertarik dengan wanita di depannya ini. Sejak kapan ia harus memikirkan masalah charger.


"Hubungi saja tombol 5, mintalah apapun yang kau butuhkan!"


"Terimakasih, sekarang kau boleh pergi," Gemilang mempersilakan Khalid masuk ke dalam lift.


Khalid menghubungi Fahad agar memastikan semua keperluan Gemilang terpenuhi selama di apartemen.


.


.


.


.


.


.


To Be continued......

__ADS_1


__ADS_2